Chapter 8

"I'M YOURS"

Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.

.

.

.

A fanfiction for Ichiruki

I love their characters

MANGA BLEACH

DISCLAIMER BY TITE KUBO

JUST FF NO MORE

by

Nicky

.

.

.

Laki-laki itu menguap lagi. Dalam setiap uapan yang ia keluarkan keluar asap berwarna putih salju. Kesepuluh jarinya saling menggenggam satu sama lain. Sesekali ia letakkan genggaman jari jemarinya di depan mulut dan meniupnya dengan maksud agar kebekuan di jari jemarinya berkurang.

Sesekali ia melirik tulisan yang terbingkai tetap di handphonenya. Tulisan itu merangkai angka waktu, yang menunjukkan jam berapa sekarang.

Laki-laki itu menggumam tak jelas. Bukan bosan hanya saja kenapa dia rela berdiri di sini. Di depan sebuah Café kecil bernuansa timur tengah. Café tersebut sudah tutup sejak satu jam yang lalu dan laki-laki itu harus mau berdiri di luar café tepatnya teras café agar tubuhnya tidak langsung menerima hembusan angin sejuk di musim gugur ini.

Jam sebelas malam. Sebenarnya ia ingin menelepon seseorang yang sedang ia tunggu sekarang ini. Tapi niatan itu langsung urung dilakukan. Pernah beberapa kali setelah pengakuan cinta di taman kampus itu. Ichigo sangat amat protektif terhadap gadisnya.

"Rukia, kenapa lama sih." Ichigo menggumam sebal. Seharusnya gadisnya keluar dari tempat kerjanya –sebagai waitress- di tempat karaoke yang sekarang kokoh berdiri di seberang jalan bangunan tempat Ichigo berdiri setengah jam yang lalu tapi ini sudah lebih dari tiga puluh menit.

"Apa dia diganggu seseorang?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Inilah salah satu perasaan khawatir Ichigo kepada gadisnya – Rukia.

Dia seorang gadis mungil yang bekerja di tempat karaoke setiap akhir pekan. Terkadang sampai tengah malam atau hampir pagi menjelang. Dan jangan salahkan si laki-laki ini jika ia rela menunggu di luar karaoke itu sampai keluarnya sang gadis dari tempat kerjanya.

Aura matanya terlihat tidak suka. Itu disana sosok sang gadis violet sedang melewati pintu utama tempat karaoke ia bekerja. Disampingnya ada sosok lain. Tinggi dan berpenampilan dewasa.

Ichigo berjalan sedikit berlari. Untung jalanan yang ia terjang sudah sepi. Dasar over jealous man.

"Terima kasih Hisagi-nii, oh ya minggu depan kita rayakan hari ulang tahun Kaien-nii bersama. Mungkin aku bisa masak beberapa masakan kesukaan nii-chan untuk merayakannya. Pasti Kaien-nii sangat suka disana." Ujar Rukia sambil tersenyum lirih.

"Mau dirayakan dimana?" Tanya Hisagi –sang manager.

"Ehm, Kaien-nii dulu sangat suka merayakan hari ulang tahunnya di taman kota. Dulu taman kota Karakura tapi karena sekarang kita di Tokyo lebih baik kita merayakannya di - "

"Dirumahku … "

Kalimat yang Rukia ucapkan terputus. Seseorang dengan jaket hoddie berwarna coklat lembut menghampirinya dan menautkan kelima jemari tangan kirinya ke jemari tangan kanan milik Rukia. Terasa hangat jemari milik Rukia keadaan terbalik dengan jemari milik sang kekasih –Ichigo- yang sudah gemetaran dingin.

"Ichigo .." Pekik kecil Rukia kaget. Secara spontan genggaman di jemarinya terpaut kuat.

"Kita rayakan dirumahku. Di apartemenku, ayo pulang. Terima kasih sudah menjaga kekasihku hari ini Hisagi-san. Nanti aku kabari lebih lanjut tentang waktu dan alamatnya." Ujar Ichigo lalu sedikit menarik Rukia pergi dari pandangan sang manager.

"Rukia, hati-hati dengan pria orange-mu ya."

Ucap Hisagi setengah berteriak. Tertawa geli melihat ekspresi dan intonasi kalimat yang Ichigo ucapkan. Selalunya terlihat cemburu jika melihat Rukia berdekatan dengannya.

"Kau tidak memberitahuku kalau kau menjemputku."

Ujar Rukia pelan, nada tanyanya agak sedikit berbau takut karena sejak dari tempat karaoke sampai setengah perjalanan menuju apartemen kecilnya Ichigo hanya diam dan erat menggenggam jemarinya.

"Kau marah?" Tanya Rukia lagi.

Ichigo berhenti. Membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan wajah sang gadis violet. Karena saat Rukia bertanya padanya apakah dia marah atau tidak Rukia berhenti berjalan.

"Menurutmu?" Jawab Ichigo sekaligus bertanya.

"Marah," Ucap Rukia pelan sambil menunduk melihat eratan manis genggaman jemari sang kekasih

"Tidak. Hanya cemburu karena Hisagi mengenalmu lebih dulu dariku." Kata Ichigo sambil menarik tubuh mungil sang gadis agar bisa mengendalikan emosi yang sedang meluap-luap.

"Kau gemetaran." Ucap Rukia lirih dalam pelukan hangat sang kekasih.

"Aku kedinginan karena menunggumu." Jawab Ichigo

Dekapannya semakin erat. Entah ini sudah ke berapa kali sifat cemburu dan keposesifan Ichigo muncul. Rukia memang sedikit risih pada awalnya tapi ia bertekad untuk ingin mengenal Ichigo.

"Kan aku sudah bilang kalau Hisagi-nii itu hanya aku anggap sebagai kakak. Dia teman Kaien-nii dulu saat di Karakura. Mereka bersahabat dan sejak aku hidup di Tokyo dia lah yang selalu membantuku." Ucap Rukia yang sekarang memposisikan wajahnya agar bisa melihat wajah sang kekasih orange Ichigo sedangkan dekapan erat tangan sang kekasih masih melingkar manis di pinggang sang gadis.

"Dia juga seorang laki-laki. Bisa menyukaimu dan berbuat sesuatu kepadamu." Jawab Ichigo sambil melepaskan pelukannya dan masih menatap lekat wajah gadis violetnya.

"Dia sudah bertunangan .. "

"Dan dia belum menikah .. " jawab Ichigo hampir berbarengan " Itu yang sering kau ucapkan. Jangan memancingku dengan membicarakan seorang laki-laki yang lebih dulu mengenalmu, aku cemburu." Ujar Ichigo sambil melanjutkan langkah kakinya menuju apartemen kecil milik Rukia.

"Kau jujur sekali." Ucap Rukia terkikik pelan.

"Kau tidak percaya?" Tanya Ichigo

"Bukan,.. maksudku … "

Ucapannya terputus. Tangan kanan mungilnya tertarik oleh telapak tangan besar milik kekasih. Meletakkan telapak mungil tangan kanan sang gadis violet tepat di dada sebelah kirinya. Agar ia tahu bahwa si pria orange – Ichigo Kurosaki sangat mencintai gadis violetnya – Kuchiki Rukia.

"Kau bisa merasakannya? Inilah detak jantungku. Pusat hidupku. Ia bisa berdetak hidup saat berada di genggamanmu. Ia akan berdetak cepat tak beraturan saat aku cemburu atau merindukanmu. Disaat aku disampingmu ia akan berdetak berirama seolah kau memainkannya dengan lembut." Ujar Ichigo lirih sambil menangkup lembut jemari mungil sang gadis yang menyentuh detak jantungnya.

"Aku … " Rukia merasakannya. Detakan itu berpacu cepat dan terkesan ingin meledak.

"Maaf, bukan maksudku untuk meragukanmu." Ucap Rukia pelan.

Ichigo hanya terdiam. Langkahnya kembali berlanjut sambil menarik pergelangan tangan sang gadis agar sampai cepat ke apartemennya. Karena cuaca semakin dingin.

"Ayo pulang." Ajak Ichigo sambil berjalan.

.

.

.

.


.

.

.

.

"Kau mengurus Ichigo dengan baik Grimm." Ujar Isshin terkekeh." Bahkan kau juga mencarikan seorang gadis untuknya. Apa kau tahu kalau Ichigo harus menikah dengan seorang gadis yang aku pilih. Dia pewaris tunggalku. Dia harus menuruti semua rencanaku."

Grimm berusaha mengendalikan emosinya. Mereka seharusnya tidak bertemu. Isshin sedang mengadakan rapat pemegang saham sebuah perusahaan yang bergerak di produk kesehatan. Mereka bertemu di lobi hotel berbintang Seoul.

Setiap bertemu dengan Kurosaki Isshin –ayah Ichigo hanya emosi yang bisa ia berikan. Sebejat-bejatnya seorang ayah tak mungkin dia akan setega itu terhadap anaknya.

"Jangan menyentuh mereka atau kau akan menyesal." Jawab Grimm menahan amarahnya.

"Kau terlalu berani denganku, Grimm. Aku tidak akan mengusik mereka untuk - sekarang. Rencanaku belum sampai ke tahap itu. Untuk sekarang aku biarkan anakku untuk menikmati gadis itu. Dia akan bosan sendiri."

"Ichigo mencintainya. Kau jangan pernah anggap dia main-main dengan gadis itu." Geram Grimm tertahan.

"Biar waktu yang menjawabnya. Biarkan mereka tertawa untuk sekarang. Mereka masih punya banyak waktu. Jagalah dia sebelum aku mengambilnya kembali." Ucap Isshin sambil berlalu pergi.

"Kau brengsek." Teriak Grimm yang sudah meluap emosinya.

"Itulah aku. Jangan lupa rapat minggu depan akan diadakan di Venice untuk perusahaan Masaki yang ada di Italia. Jangan lupa untuk merekomendasikan cabangmu yang ada disana. Siapa tahu ada investor yang tertarik." Kata Isshin yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik." Aku bisa membantumu, kau juga kuanggap sebagai anakku."

Isshin berlalu pergi. Grimm menyesal kenapa Ichigo mempunyai ayah seperti dia, Kurosaki Isshin.

"Cih, kau anggap sebagai anak. Sampai matipun aku tidak bersedia." Ucap Grimm pelan.

Grimm tahu rencana apa yang akan diambil Isshin. Dia sudah bisa membacanya. Sekarang Grimm sedang disibukkan oleh kegiatan cabang perusahaannya. Ia akan terlalu sibuk untuk empat bulan mendatang. Entah sampai kapan bayangan Isshin akan terus menghantui Ichigo.

"Seharusnya, aku membunuhmu sejak dulu kambing tua." Ujar Grimm pada dirinya sendiri.

.

.

.

.


.

.

.

.

"Siang kuliah, sore bekerja. Malam kau tidak bisa diganggu. Terus kapan ada waktu untukku?" tanya Ichigo sambil merajuk. Ia heran kenapa gadis dengan tubuh mungil seperti ini bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam sehari.

"Kan sudah aku bilang, hari minggu besok aku libur bekerja di tempat karaoke itu. Kita bisa jalan-jalan." Jawab Rukia mencoba membujuk agar si kekasih tidak marah lagi padanya.

"Hari minggu aku ada seminar sampai jam tiga." Lirih Ichigo dengan nada kecewa.

"Malamnya kan masih bisa. Sore sampai malam kita bisa jalan-jalan di taman kota. Lalu nonton film atau makan malam romantis. Aku juga mau candle light dinner seperti di film-film itu." Ujar Rukia sambil tersenyum manis membayangkan seandainya sang kekasih – Ichigo benar-benar mengajaknya makan malam romantis.

"Kau mengujiku?" Tanya Ichigo yang masih setia mengekor di belakang Rukia.

Sebenarnya Rukia saat ini sedang bekerja di minimarket milik Urahara. Untung sang pemilik tidak ada. Kalau ada pasti Ichigo sudah diusir oleh paman berjenggot tipis itu. Dari Rukia masuk untuk bekerja Ichigo sibuk memperhatikan gerak-gerik Rukia saat bekerja atau terkadang menggoda Rukia dengan mengobrak abrik letak makanan atau minuman yang sudah Rukia susun rapi.

"Berhentilah mengekoriku. Malu dilihat oleh pelanggan." Ujar Rukia lirih.

"Aku akan pergi sebentar lagi. Aku ada janji." Jawab Ichigo sambil memainkan lembut surai hitam rambut Rukia yang berada di tengkuk lehernya.

"Kemana? Dan ada temu janji dengan siapa?" tanya Rukia spontan.

"Kau jadi posesif sekarang, heh? Aku pergi." Ucap Ichigo lalu mengecup lembut bibir sang gadis pelan.

Rukia terkaget. Hei, ini di tempat umum. Mau diletak dimana muka Rukia jika pelanggan melihat aksi romantis sang kekasih.

"Ichigo.." Pekik Rukia sambil mendorong lembut dada Ichigo.

"Jangan pulang malam. Mungkin aku tidak bisa menjemputmu."

"Tanganmu berkeringat. Kau tidak apa-apa?"Tanya Rukia cemas sambil menggenggam lembut telapak Ichigo yang memang sudah berkeringat.

"Cium aku nanti aku akan beritahu.." Ucap Ichigo lembut tepat di telinga sang gadis.

"Ichigo …" teriak Rukia.

"Aku pergi." Ujar Ichigo sambil meletakkan kedua bibirnya lembut menyentuh kening sang gadis agak lama.

Rukai tidak boleh tahu ini. Ia tidak boleh tahu jika Ichigo sedang menahan rasa inginnya sekarang. Sudah seminggu ini barang yang ia pesan kosong. Sabtu sore ini pria yang selalu memberinya barang itu berjanji akan memberi barang yang Ichigo butuhkan. Ia sudah menahan karena selama dua minggu ini dia sibuk dengan kegiatan Rukia dan kuliahnya.

.

.

.

.

.

"Aku juga sudah berusaha senpai, bahkan kemarin sampai kejar-kejaran dengan pihak kepolisian. Sepertinya mereka sudah curiga denganku. Mungkin untuk sementara, aku akan menghilang dulu. Nanti kukabari lebih lanjut jika senpai ingin memesan barang itu." Pria itu mengambil nafas sebentar "Hanya ini yang aku punya. Ini yang terakhir."

Pria botak itu menyerahkan beberapa botol kecil berisi cairan haram. Pria tanpa rambut itu langsung berlari setelah menyerahkan botol-botol itu kepada Ichigo.

Pintu apartement miliknya tertutup sempurna. Ternyata tujuan pria tadi ingin bertemu dirumahnya karena sekalian memberi informasi kalau dirinya tengah dicurigai pihak kepolisian.

"Hanya tiga botol .. " Ucapnya pada dirinya sendiri.

Kecanduannya pada barang haram itu belum terobati. Meskipun dia selama hampir dua bulan ini menyembunyikan rasa kecanduannya di depan Rukia. Ia tetap tak bisa menahan rasa sakau nya lebih lama. Kepalanya akan berdenyut parah. Semua tulang akan terasa ngilu. Jantungnya berpacu semakin cepat dan satu lagi segala memori buruk tentang Kaa-san nya akan berputar dalam otaknya.

Rasa gelisah yang Ichigo rasakan semakin cepat terjadi. Dia memang mengurangi pemakaian heroin itu pada tubuhnya sejak Rukia mulai menerima sosok Ichigo dihidupnya. Tapi rasa sakau dan sakit saat jeda tidak menyuntikkan obat itu ke tubuhnya semakin cepat terjadi. Ia bisa saja meramu obat sendiri. Dengan berbagai obat yang bisa Ichigo beli di apotik. Tapi sekali lagi rasanya tidak senikmat saat memakai heroin.

Obat haram yang berbentuk cairan itu bernama heroin. Ichigo sudah mulai merasakan efeknya sekarang. Ia terduduk di sofa depan televisi. Satu botol sudah ia suntikkan ke dalam tubuhnya lewat sebuah suntikan. Tepat ia suntikkan di jaringan nadi tangan siku tangan kirinya.

Ia terbang. Tepatnya melayang, pikirannya jauh melambung ke kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Disana ada Kaa-san nya. Terduduk manis disebuah taman memakai dress selutut berwarna pink lembut. Kaaa-san nya tersenyum, mengajak Ichigo untuk duduk disampingnya agar mereka bisa bercengkerama bersama.

Tapi uluran tangan seorang wanita cantik berambut jingga lembut itu semakin jauh. Jika Ichigo ingin mendekat untuk menggapainya, tangan itu menjauhinya. Semakin jauh, bahkan ketika Ichigo berlari sekuat tenaga ia semakin jauh padahal Kaa-san nya masih tersenyum lembut padanya.

"Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku, ijinkan aku hidup bersamamu. Kaa-san"

Lirihan itu terdengar nyata. Mengisi kekosongan suasana hampa yang kini terjadi di apartement milik Ichigo. Matanya masih menutup, perlahan kedua matanya mengeluarkan cairan bening yang turun perlahan membasahi kedua pipi milik pria tampan tersebut.

"Kaa-san … Kaa-san …"

Tangan kanan Ichigo seperti ingin menggapai sesuatu tapi entah apa. Yang dihadapannya hanyalah udara kosong dan tidak ada siapapun. Akhirnya uluran tangan itu perlahan menghilang dari dunia yang ia ciptakan. Ichigo menangis. Hanya itukah yang bisa ia lakukan ketika ia sangat ingin bertemu dengan seorang wanita yang sudah melahirkannya.

Datang ke sana dan menemuinya langsung pun percuma. Kaa-san nya sama sekali tidak mau menatap muka atau bersua dengannya. Bahkan memanggil namanya. Padahal Ichigo sangat merindukan pelukan hangat itu. Belaian lembut jemari sang Kaa-san yang bermain-main di rambut orange nya.

Kesadarannya perlahan terkikis digantikan oleh jatuhnya sang pria orange ke alam tidur.

Lebih baik daripada ia harus selalu menangis demi masa lalunya.

.

.

.

.

.

Acara seminar yang di prakarsai oleh Fakultas kedokteran Tokyo of University berlangsung meriah. Bahkan peserta tidak hanya berasal dari mahasiswa kedokteran juga. Karena seminar ini bersifat umum dan membahas permasalahan yang sedang menghangat seantero Jepang.

Drugs.

Rukia mengikuti seminar ini pada saat sesi tanya jawab. Tadi malam ia pulang jam dua pagi dari tempat ia bekerja. Ia pulang sendiri. Ichigo tumben tidak menunggunya diluar atau meneleponnya sekedar menanyakan kapan ia pulang bekerja.

"Sudah dapat, Momo." Rukia meminta bantuan kepada Momo untuk mencari sosok pria berambut orange di aula Fakultas Kedokteran ini.

"Apa dia tidak bisa dihubungi? Mungkin dia tidak ikut acara ini, Ru?" Kata Momo yang masih asyik mencari sosok Ichigo di kerumunan mahasiswa.

"Sejak tadi malam handphone nya tidak aktif."

"Apa dia sakit?" Tanya Momo sekilas menghentikan kegiatan mencarinya.

Rukia terdiam. Ia ingat kemarin saat mereka berada di minimarket. Keadaan Ichigo memang sedikit aneh. Berkeringat dan mukanya sedikit pucat.

Rukia akui memang selama ini dia jarang memperhatikan apa saja kegiatan kekasihnya itu. Selama ini Ichigo selalu berada dekat dengannya. Menemani hari-harinya tapi Ichigo jarang membicarakan kesibukan yang selama ini Ichigo geluti atau apapun tentang dirinya.

"Ishida-san .. "

Momo menjerit keras. Pria dengan kacamata dan setelan baju seperti dokter itu menolehkan wajahnya ke belakang.

"Momo … astaga .. ini masih diaula." Ucap Ishida menahan malu. Tidak menyangka jika adik kelasnya saat junior school ini punya rasa malu yang minim.

"Maaf … maaf … tenang saja mereka sudah melupakannya." Jawab Momo enteng sambil mengibaskan tangan kirinya ke arah orang-orang yang memandangnya.

"Ada apa?" Tanya Ishida

"Rukia sedang mencari Ichigo-san. Senpai tahu dimana Ichigo-san?"

"Kurosaki? Sudah hampir seminggu ini aku tidak melihatnya. Meskipun sama-sama satu kelas. Eh, Rukia kau bertengkar dengannya?" Tanya Ishida setelah melihat Rukia yang mendekati tempat berdirinya mereka berdua.

Rukia menggeleng, " Tidak, kami ada janji setelah acara seminar ini tapi sejak tadi malam dia susah untuk dihubungi. Ishida-san tahu dimana Ichigo?"

Ishida mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi. Jarang bertemu dikelas ataupun di area kampus. Handphone nya tidak aktif. Mungkinkah Ichigo .. –

"Sudah jam empat Ru, aku ada janji dengan Shiro-kun. Maaf tidak bisa menemanimu mencari Ichigo-san. Aku pamit dulu, senpai titip Rukia ya. Tolong dia." Kata Momo sambil berlalu pergi menuju pintu gerbang aula.

Suasana tercipta hening setelah Momo pergi. Ishida yang sibuk dengan pikirannya sendiri mulai lupa dengan sosok yang sekarang berdiri di sampingnya.

"Maaf, Ishida-san. Apakah Ichigo menghubungimu tadi malam. Kemarin siang aku bertemu dengannya keadaannya memang sedikit tidak sehat. Aku tidak tahu alamat apartementnya." Ujar Rukia dengan nada sopan. Aura seorang Ishida memang bisa membuat lawan bicaranya hormat menunduk padanya.

"Kau belum pernah ke tempatnya Kurosaki?" Tanya Ishida keheranan.

Mereka sudah saling menerima satu sama lain hampir dua setengah bulan ini dan Ichigo belum pernah mengundang Rukia untuk masuk ke apartementnya.

"Belum," Jawab Rukia sambil menggeleng." Apakah hal buruk sedang terjadi? Dia tidak pernah bercerita kepadaku tentang dirinya."

"Dia pasti punya alasan kenapa dia belum menceritakan dirinya kepadamu. Aku bisa saja memberitahumu sekarang. Tapi itu bukan kewajibanku untuk memberitahumu." Ujar Ishida sambil memencet layar datar handphone miliknya.

"Grimmjov-san dulu pernah bilang dia juga sangat ingin melihat Ichigo tersenyum kembali. Tapi aku bingung dan tidak bisa menentukan sikapku ke Ichigo. Dia terlalu menutup diri. Bahkan dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya." Lirih Rukia dengan nada kecewanya.

Keadaan aula sudah sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang bertugas sebagai panitia yang masih sibuk membereskan peralatan-peralatan seminar.

Rukia dan Ishida duduk di samping panggung yang tadi di gunakan untuk acara seminar.

Dari tadi Ishida juga sudah mencoba menghubungi pria orange itu lewat nomor handphonenya. Tapi sungguh benar kata Rukia. Nomornya tidak aktif.

"Rukia, kau mau ke tempat Kurosaki?" tanya Ishida pelan.

Rukia mengangguk setuju.

"Tapi aku punya beberapa syarat dan setelah kau tahu semua ini kau jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk meninggalkan Ichigo. Kau bisa memegang janji ini?" tanya Ishida dengan nada serius. Berharap Rukia akan tetap berada di pelukan Ichigo jika Rukia tahu siapa Kurosaki Ichigo.

"Aku janji." Jawab Rukia mantap. Mencoba menepis keraguan yang ada di benak Ishida jika ia tahu tentang sesuatu yang disembunyikan oleh kekasihnya.

Mereka berdua berjalan keluar dari gedung aula milik Fakultas Kedokteran Tokyo of University tersebut dengan seribu pertanyaan di benak masing-masing.

'Apakah aku sudah gila? Jika Rukia meninggalkan Ichigo karena dia pengguna, matilah aku."

Batin Ishida berteriak tidak tenang. Dia harus mengambil sebuah keputusan yang menyangkut Ichigo. Jika Grimmjov berani mengambil apa yang benar bagi Ichigo tanpa bertanya dulu kepada Ichigo. Ishida lain, dia masih takut dengan amukan pria orange itu.

'Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh.'

Pikiran Rukia pun tidak jauh berbeda dengan kekalutan pikiran yang terjadi dengan senpai yang memakai kacamata itu. Kenapa dia begitu bodoh dan lugu. Lebih kasarnya acuh tentang keadaan kekasihnya sendiri.

.

.

.

.

Hampir setengah jam Ishida mengotak-atik kombinasi empat digit angka agar bisa masuk ke apartement Ichigo. Dan sudah lima kali gagal. Tanggal lahir Kurosaki sulung. Tanggal kelahiran ibunya. Termasuk tanggal kapan adik kembar Ichigo terlahir. Dan tanggal dimana ibunya meninggalkannya.

Sudah lima kali Ishida salah memasukkan password apartement milik Ichigo.

"Apa kita tidak bisa memencet bel saja Ishida-san?" Tanya Rukia polos yang tidak bisa menangkap raut tegang wajah milik senpai- nya.

"Percuma. Kurosaki tidak akan mau membuka pintu ini jika dia sudah begini. Sialan kau Kurosaki berapa nomornya, ha!" Teriak Ishida sudah diambang batas kesabaran.

Rencana ingin menelepon Grimmjov. Tapi dia ingat si rambut biru itu tengah sibuk dengan pembukaan cabang baru yang ada di Eropa. Jika ia memberitahunya, Grimmjov akan langsung mengambil penerbangan pertama untuk pulang ke Jepang. Demi Ichigo.

Ishida berpikir keras. Setahu dirinya, Ichigo selalu mengkombinasikan nomor password apartementnya dengan tanggal lahir milik orang-orang yang Ichigo sayangi.

"Rukia, kapan berapa kau ulang tahun?"

"Ha,," Rukia terkejut. Bukan karena melamun tapi dalam situasi seperti ini kenapa senpai- nya malah bertanya tentang tanggal lahirnya."Untuk apa?"

"Cepatlah, kau mau Kurosaki mati didalam."

"Mati." Rukia membatin." Empat belas Januari." Ucap Rukia tergagap.

Ishida langsung memasukkan empat digit angka yang disebutkan oleh Rukia. Dan bingo, pintunya terbuka.

"Aku yakin sekarang kalau Ichigo cinta mati denganmu, Rukia."

Ujar Ishida sambil masuk ke apartement Ichigo.

Bau alkohol. Pengap. Dan gelap.

Ishida langsung berlari lurus ke ruang yang berada tidak jauh dari tempat Rukia berdiri. Ichigo tergeletak lemas di lantai dengan menggenggam botol kosong di tangan kanannya. Tubuhnya berada diantara kursi dan meja sofa di depan televisi.

Beberapa botol masih berkeliaran dimana-mana. Meja dapur, di atas lemari es, di lantai dan beberapa terlihat masih tersegel tutup.

"Apa yang terjadi?" Rukia menggumam ketakutan. Bertanya pada udara kosong yang selalu setia menemani dirinya.

"Cepat, Rukia. Bantu aku mengangkat Kurosaki ke kursi ini."

Rukia terlonjak. Teriakan Ishida menyadarkan Rukia bahwa dia sudah berjanji untuk menerima apapun kondisi Ichigo.

Rukia hanya membantu mengangkat Ichigo. Sedangkan sebagian besar Ishida lah yang sanggup mengangkat tubuh seorang pria dewasa itu.

Sejenak Rukia berhenti gemetar dan terdiam berdiri tepat disamping tubuh Ichigo. Matanya lurus memandang wajah sang kekasih yang terlihat memucat dan lelah. Rukia memberanikan dirinya untuk mendekat dan duduk tepat di sebelah kanan tubuh Ichigo. Tangan kanan Rukia terangkat, membelai lembut pipi dan mata sang kekasih yang tergambar putih pucat.

"Ichi .. go" Lirih Rukia. Air matanya perlahan menetes. Berharap bahwa ini adalah yang pertama kali dan untuk terakhir kalinya dia melihat sosok Ichigo yang rapuh.

"Maaf, selama ini aku .. aku … tidak pernah memperhatikanmu."

Rukia terisak. Jemari tangan kanan Ichigo ia genggam erat dengan kedua telapak tangannya. Rukia menyesal. Selama ini, sejak mereka mulai bisa menerima satu sama lain. Rukia memang jarang atau bahkan tidak pernah mengenal Ichigo lebih dalam.

Ichigo memang tertutup. Sejak Masaki meninggalkannya. Ia punya dunianya sendiri. Grimmjov dan Ishida yang kenal sejak Ichigo kecil memang punya tempat khusus di dalam perjalanan hidup Ichigo.

Ishida memberitahu Rukia tentang keadaan Ichigo saat perjalanan mereka menuju apartement Ichigo. Hanya sebagian besar saja tidak secara detail. Hanya memberitahu kalau Ichigo adalah pengguna dan sebab ia menggunakan barang haram itu Ishida tidak mau menjelaskannya.

Awalnya Rukia juga kaget. Ichigo tidak terlihat seperti seseorang yang menggunakan narkoba. Ishida menjelaskan bahwa terkadang Ichigo menyuntikkan barang haram tersebut ke tubuhnya sama seperti ia mengkonsumsi obat-obatan suplemen. Setiap hari atau tiga hari sekali dan berbeda dosis. Ichigo mengontrol rasa kecanduan dalam tubuhnya dengan mengkonsumsi heroin itu secara rutin dan jarang telat. Ia selalu punya stok yang teratur.

Tapi lihatlah Ichigo sekarang. Sekarat tak berdaya. Tunduk kepada rasa cintanya kepada Rukia. Dia tidak ingin Rukia tahu tentang sakitnya. Sakit kecanduan.

Nell tadi sudah memeriksa Ichigo sebentar. Nell pacar Grimmjov memang sudah lama tahu tentang kondisi Ichigo. Dia sering meminta dan menyarankan Ichigo untuk masuk rehabilitasi tapi selalu di tolak. Awalnya Nell menyarankan untuk rehab di rumah dan dengan beberapa perawat pribadi yang bisa menjaga privasi tapi lagi-lagi Ichigo menolak. Proses rehab itu mengalahkan rasa senangnya jika ia berada di dunianya sendiri.

"Kau Rukia?"

Nell mencoba memecah suasana. Keadaan di ruang tengah apartemen ini sungguh menegangkan. Rukia dari tadi hanya duduk disamping Ichigo dan menggenggam kuat telapak tangan kanan milik kekasihnya.

Rukia mengangguk. Air mata masih sesekali turun dari iris violetnya. Mencoba untuk tegar di saat seseorang yang memiliki hatinya tidur lemah tak berdaya.

"Aku Nell. Kita akan berjumpa di semester enam atau tujuh nanti. Aku akan menjadi dosenmu." Jelas Nell pelan sambil menyuntikkan beberapa suplemen ke tubuh Ichigo.

"Anda mengenalku? Maaf aku … aku … " air mata Rukia turun lagi.

"Jangan terlalu dipaksakan aku tahu kalau kau sedang kaget dengan keadaan si kepala labu ini. Dia beruntung kau ada disampingnya saat sakit menyerangnya. Biasanya dia hanya melampiaskan semua rasa sakitnya ke obat-obat tan sial itu dan minuman keras. Tapi cukup hebat dia masih bisa memiliki bentuk tubuh yang proposional kan?" Ujar Nell sembari tersenyum mencoba untuk menghibur Rukia yang sedari tadi diam dan menangis.

Tangan Ichigo yang Rukia genggam bergerak. Mencoba untuk membalas dekapan hangat genggaman milik gadisnya yang tertancap kuat.

"Ru .. kia …''

Bibirnya – Ichigo mengucap sebuah nama. Selalu terpatri di dalam setiap sudut ingatannya.

"Jangan tinggalkan aku … ku mohon … tetaplah disini … tolong … jangan tinggalkan aku."

Matanya masih tertutup sembari menggumamkan sesuatu yang membuat deras air mata Rukia turun.

"Ichigo .. ini aku .. aku disini …. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku … janji." Jawab Rukia terisak. Sambil mencium punggung tangan milik kekasihnya secara intens. Mencoba membangunkan Ichigo dari mimpi buruknya. Sudah, cukup sudah Rukia tidak tahan melihat Ichigo yang terluka seperti ini.

"Ichigo … bangunlah ini aku .. kekasihmu .. Rukia … aku disampingmu sekarang." Bisik Rukia pelan di samping telinga kanan Ichigo.

Perlahan mimik wajah Ichigo kembali tenang. Nafasnya teratur. Genggaman kuat ke jemari Rukia perlahan melemah. Ichigo kembali tenang.

Ishida dan Nell hanya bisa melihat haru. Inikah seseorang yang selama ini ditunggu oleh Ichigo. Seseorang yang bisa menemani dirinya saat ia butuh bahu untuk bersandar.

Nell dan Ishida pulang setelah keadaan Ichigo tenang. Mereka memberitahu Rukia bahwa Ichigo mungkin akan tidur sampai enam jam ke depan. Tubuhnya lemah dan dia butuh istirahat yang cukup dan tenang.

Rukia masih tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Kesepuluh jemari tangannya masih erat dan setia menggenggam kuat telapak tangan milik kekasihnya.

"Ichi … jangan lakukan ini lagi … aku tidak sanggup melihatmu terluka seperti ini lagi."

.

.

.

.

.

Mata Ichigo pelan mengerjap. Matanya masih terlalu berat untuk membuka. Suasana di apartementnya masih selalu sama. Sunyi dan sendiri.

Sambil mengingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur panjang. Ia seperti mendengar suara milik gadis violetnya yang pelan menenangkan.

"Rukia .. " ia memanggil pelan nama kekasihnya. Matanya masih awas memandang ke atas sembari membayangkan wajah manis sang kekasih yang selalu menemani dunianya.

"Hm."

Seseorang bergerak menggeliat tak nyaman di samping tubuh Ichigo. Kepala mungilnya ia letakkan di lengan sang pria orange nya. Genggaman dijemarinya tidak pernah terlepas sejak tadi. Rukia tertidur tepat didekapan lengan hangat sang kekasih. Ini pertama kalinya Rukia dan Ichigo menghabiskan malam bersama.

"Kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?" Rukia langsung tersadar dan wajahnya cemas sesaat setelah namanya terucap di bibir tipis Ichigo.

Ichigo menggeleng pelan."Kau ada disini?" tanyanya dengan suara serak.

Ichigo mencoba untuk duduk. Rukia sejak tadi duduk di lantai dan tidur dengan terduduk.

"Tidurlah disini." Ujar Ichigo yang sudah terduduk sembari menyuruh Rukia untuk meletakkan kepalanya di pangkuan pahanya.

Mereka masih berada di sofa di depan televisi. Terduduk bersama dengan pikiran masing-masing.

"Kau yang harus tidur, Ichi. Kau sedang sakit." Ujar Rukia pelan

"Dari tadi kau tidak tidur dengan nyaman. Tidurlah disini aku ingin membuatmu nyaman. Aku ingin melihat wajah tenangmu saat tertidur."

Rukia menurut. Wajah kekasihnya masih pucat walaupun tidak terlihat dengan pasti. Jemarinya masih dingin. Penghangat diruangan ini belum bisa membuat tubuhnya menghangat.

Kepala mungilnya ia letakkan di pangkuan hangat Ichigo. Wajahnya menghadap lembut ke perut sang kekasih. Surai rambut hitamnya terbelai lembut oleh jemari dingin tangan kanan Ichigo.

"Kau yang seharusnya tertidur di pangkuanku. Kau sakit." Ujar Rukia sambil menutup matanya. Ia tidak bisa bohong. Ia memang mengantuk. Meskipun ia menyandarkan kepalanya di lengan sang kekasih tadi. Kesadarannya masih awas jika Ichigo terbangun.

"Aku sudah sehat. Tidurlah. Aku disini."

Belaiannya semakin melembut. Hingga membuat kedua mata Rukia berat untuk membuka. Ichigo menatap hangat wajah manis sang gadis violetnya tertidur. Ia ingin selamanya mendekap wajah ini agar terus disampingnya.

.

.

.

Sejak saat itu Rukia rutin mengunjungi apartement Ichigo. Bahkan hampir setiap hari. Bangun lebih pagi dan datang ke apartement Ichigo untuk membuatkannya sarapan yang lebih sehat. Lebih sering memperhatikan suasana hati Ichigo yang sering tidak menentu.

Rukia sekarang lebih sering memeluk Ichigo. Memberinya dekapan hangat. Memberi tahunya bahwa Rukia akan selalu ada disampingnya. Dan selama ini Ichigo tidak mengatakan apapun. Dia hanya menerima semua hal yang dilakukan Rukia setelah semalaman mereka lalui bersama.

Setelah Rukia terlelap di pangkuan Ichigo dengan nyenyak. Pada akhirnya Rukia terbangun di kasur besar milik Ichigo. Ia terbangun sendiri dan mendapat sebuah pesan jika Ichigo berangkat ke kampus.

Ichigo tidak pernah menanyakan apapun ke Rukia tentang apa yang Rukia tahu tentang dirinya setelah malam itu. Dia memang menghindar karena takut jika Rukia akan meninggalkannya.

Hampir sebulan Rukia rutin menjaga Ichigo. Bahkan pekerjaan di tempat karaoke ia tinggalkan demi menemani akhir pekan Ichigo di apartementnya. Selama itu Ichigo juga sering tersenyum. Ada perubahan sedikit dalam kesehariannya kali ini. Ada Rukia disampingnya yang menemani hari-hari kelamnya. Rukia baru menyadari kalau Ichigo memiliki sifat yang begini tertutup saat dibelakang Rukia.

Sesekali rasa itu memang menyerang dan Rukia dengan cekatan memberikan obat yang sudah diresepkan oleh Nell. Ichigo masih aktif masuk kampus. Bahkan beberapa kali ikut praktikum bersama Ishida.

.

.

.

.

"Aku harus pergi untuk beberapa hari." Ucap Ichigo sembari memasukkan beberapa baju dan perlengkapan lain ke dalam kopernya.

Pagi ini Ichigo mendapat kabar dari Jerman kalau Kaa-san nya masuk rumah sakit lagi. Memang selama hampir tiga bulan ini Ichigo belum mengunjungi keluarganya di Jerman. Dia masih khawatir jika Rukia seketika akan pergi darinya.

"Berapa lama?" Tanya Rukia sekali lagi mencoba untuk menghilangkan rasa tidak enaknya. Ichigo sedang masa rehab dan jika dia pergi siapa yang akan menjaganya.

"Aku belum tahu ..." ucap Ichigo pelan."Mungkin seminggu atau paling lama sepuluh hari."

Mereka berada dikamar Ichigo. Rukia masih sibuk memandang sosok yang sedang sibuk mengemas barang-barangnya. Entah, Rukia hanya merasa kalau kali ini Ichigo akan kehilangan kehangatannya lagi.

"Telepon aku jika kau merasa tidak nyaman." kata Rukia pelan teredam punggung kekar sang kekasih sambil memeluk Ichigo dari belakang.

Tentu sikap Rukia yang begini bisa membuat jantung Ichigo berkali-kali lipat cepatnya.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu." jawab Ichigo pelan sambil memegang erat dua tangan mungil yang melingkar manis dipinggangnya.

Ichigo selama ini memang tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya. Sama sekali tidak cerita apapun.

.

.

.

.

.

Selama beberapa hari ini Ichigo sama sekali tidak mengirimkan kabar atau sekedar menelepon Rukia. Sejak mereka berpisah di bandara tidak satupun pesan atau paling tidak voice mail yang masuk ke nomer Rukia. Bukannya Rukia tidak mencoba. Dia juga menelepon Ichigo dari Jepang tapi nomor itu tidak aktif. Ingin bertanya kepada Ishida atau Nell tapi selama beberapa hari ini tidak satupun dari mereka terlihat di kampus.

Ini sudah lebih dari seminggu. Ichigo tidak memberi kabar apapun. Selama Ichigo pergi ke Jerman Rukia mengambil kerja lembur di tempat karaoke -nya. Ini untuk membayar biaya kuliah Rukia semester depan yang akan banyak praktikum.

Malam ini Rukia pulang jam dua dini hari. Rukia besok ada kelas jam sebelas jadi dia masih bisa mengambil jatah tidurnya sampai jam sembilan. Hisagi -sang manajer mengantar Rukia pulang ke apartement kecilnya yang ia tempati bersama Hinamori Momo.

"Kekasih orange-mu belum memberi kabar juga, Rukia?" tanya Ishida sembari membukakan pintu mobil untuk Rukia.

"Belum. Mungkin Ichigo banyak hal disana. Entah Hisagi-san. Dia orang yang sulit ditebak."

"Terlihat kok. Kalau kekasihmu itu sulit dimengerti. Tipe pencemburu berat dan protektif seperti itu biasanya sok misterius. Bisa-bisanya kau menjadi kekasihnya, Rukia." Ucap Hisagi sambil mengacak-acak rambut Rukia.

"Jangan Hisagi-nii. Jadi berantakan kan rambutku. Aku masuk dulu. Hati-hati dijalan. Salam untuk calon istri dirumah. Selamat malam."

.

.

.

.

Jika seseorang tahu apa yang akan dilakukan oleh pria orange ini jika sesuatu yang mendidih didalam otaknya sekarang mungkin bisa membuat sebuah kamar hancur berantakan tanpa satu barangpun terlewat selamat. Ichigo melihat gadisnya pulang diantar oleh seorang laki-laki dewasa yang selalu membuat gemuruh cemburu timbul di hatinya.

Ichigo sudah menunggu kepulangan Rukia sejak sore tadi. Dia duduk didepan kafe seberang tempat Rukia bekerja. Dia sudah kembali ke Jepang sejak dua hari lalu. Dia memang tidak memberitahu Rukia tentang kepulangannya. Karena dia tidak ingin Rukia melihat sosoknya yang begitu mengenaskan sejak pulang dari Jerman.

Seorang anak yang tidak pernah disambut kedatangannya.

Seorang anak yang tidak pernah mendapatkan balasan rindu dari seseorang yan melahirkannya.

Ichigo mencintai mereka semua. Kaa-san nya, Yuzu, Karin dan seseorang yang telah menawan seluruh jiwanya Rukia. Tapi kenapa semua orang yang Ichigo cintai tidak pernah sudi berada disisi Ichigo. Apa salahnya. Kenapa dia harus terlahir jika semua orang tidak pernah mencintainya.

Sejak Rukia masuk ke mobil Hisagi. Ichigo langsung menghentikan taksi yang lewat didepannya. Dia mengikuti kemana arah mobil Hisagi pergi. Dan ternyata beginikah sikap Hisagi ke Rukia jika Ichigo tidak ada. Atau mereka memang pernah punya kedekatan lebihh selain yang dibilang oleh Rukia.

Langsung saja setelah mobil itu berhenti tepat di depan sebuah flat sederhana. Ichigo langsung berlari keluar dari taksi untuk menarik paksa gadisnya agar menjauh dari tatapan seorang pria dewasa itu. Tapi saat hampir tiba di halaman flat itu Ichigo bisa melihat jelas sikap manja Rukia ke pria yang menjadi manajernya itu.

Tidak. Rukia tidak pernah bersikap seperti itu ke Ichigo. Wajah yang nampak menandakan kebahagiaan. Dan wajah itu tidak pernah Rukia lukiskan ketika bersama Ichigo.

Ichigo hanya berdiri membatu. Nafasnya sudah tersengal hebat karena menahan nyeri dan sakit yang memukul kepalanya serta di dadanya.

Apakah Rukia juga mencintainya?

Atau selama ini Rukia hanya kasihan?

Tanpa pikir panjang. Ichigo berlari menuju tempat Rukia berjalan dan Hisagi masih menatap lembut sosok gadisnya -Ichigo masuk.

Ichigo tanpa permisi langsung menarik pergelangan tangan kanan milik sang gadis dan menjauh dari apartemennya.

Hisagi sempat berteriak kencang melihat Rukia ditarik paksa oleh Ichigo.

Sebenarnya Rukia juga kaget dan sempat menolak. Tapi apa daya. Cengkeraman telapak tangan dingin ini membelitnya posesif.

Rukia meronta-ronta dan ingin terlepas. Berteriak memanggil nama kekasihnya pun ternyata tak mampu membuat langkahnya terhenti.

"Ichigo ... lepaskan!" Rukia terus meronta disepanjang langkahnya.

Tanpa sepatah katapun. Ichigo membawa masuk gadisnya -Rukia masuk secara paksa ke kamar apartemennya.

Dengan tatapan mata yang seolah ingin membunuh dirinya sendiri sekarang.

.

.

.

.


N/A

Ternyata oh ternyata saya kehabisan alur minna-san ...

Do'akan bisa terus lanjut.

Viselle - berkat dirimu juga Ann, sedikit demi sedikit aku memperbaiki tulisanku. Thanks supportnya

.777 - masalahnya malah tambah semakin kompleks nanti. Kemungkinan ini chapter panjang cz nanti Rukia hamil dan konflik perasaan mereka masih terlanjut. makasih sudah mau membaca fic abal bgt ini.

Mabby chan - Hisagi ya? ada rasa kok ma Rukia. Dijawab dichapter depan ya. Isshin memang jahat. Dialah yang membuat hidup ichigo hancur disini. Mhon do'anya, semoga ide lancir ...

Sedikit bocoran - - - Rukia akan betul-betul meninggalkan Ichigo. Rukia akan hamil dan melahirkan anak kembar. Rukia tidak menyelesaikan kuliahnya. Ichigo akan menjadi dokter dan bertunangan dengan orang lain. Grimm berusaha untuk menjauhkan Isshin dari Rukia. Byakuya akan muncul di chap depan. Sosok Hisagi bagi Rukia akan muncul di chap sembilan. Siapa wanita pelacur yang sudah menghancurkan keluarganya Ichigo.

Semua masih terajut sempurna dalam susunan benag mister yang bernama kehidupan ...

Thanks anyway ... Jaa-ne Minna-san