Chapter 9

"YOUR LOVE IS MY SIN"

Takdir itu misteri, sejauh apapun kau berlari sekuat apapun kau menghindar. Ia akan selalu menghampirimu seperti udara. Tak berwujud tapi kau selalu membutuhkannya.

.

.

.

A fanfiction for Ichiruki

I love their characters

MANGA BLEACH

DISCLAIMER BY TITE KUBO

JUST FF NO MORE

by

Nicky

.

.

.

.


.

.

.

Rukia memandang cemas ke arah pintu. Ichigo terduduk tepat di dinding samping pintu kamarnya. Ichigo hanya duduk tertunduk dengan menumpu kepalanya pada kedua tangan yang ia letakkan dikedua lutut kakinya. Setelah menarik Rukia dari apartementnya tadi Ichigo membawa Rukia masuk ke kamar apartementnya. Tidak satupun kata yang keluar dari mulut Ichigo sejak dia bertemu Rukia sampai sekarang dia bersama gadisnya.

Rukia belum berani mendekat ataupun bertanya kepada Ichigo. Pintu apartement dan kamar terkunci dan kunci masih berada digenggaman tangan kekasihnya. Rukia sengaja duduk menjauh dari Ichigo karena Ichigo seperti tidak ingin diganggu. Setelah cengkeramannya terlepas Ichigo hanya berjalan pelan ke arah pintu dan duduk seperti itu. Tanpa mengucap apapun. Inilah sisi Ichigo yang terlihat lain di mata Rukia.

"Kapan kau pulang? Kau tidak memberitahuku jika kau sudah pulang." Tanya Rukia halus. Dia tahu dia tidak harus bertanya kenapa Ichigo menariknya paksa saat ini. Dia hanya ingin mengalihkan situasi yang sangat dingin di ruangan ini.

Ichigo menatap Rukia sendu. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi entah dia bingung harus bertanya yang mana dulu.

"Kau mencintaiku?" tanya Ichigo dengan tegas. Dia memang ingin tahu apakah Rukia mencintainya atau hanya mengasihani. Ichigo masih disitu. Duduk dengan memandang jauh gadisnya.

"Setelah semua yang terjadi selama ini. Kau masih menanyakan hal itu? Apa yang terjadi denganmu? Kau tidak pernah menghubungiku selama kau di Jerman. Setelah pulang kau menanyakan hal itu. Aku menerimamu. Dan ingin mencoba menjalani hubungan ini agar kau tidak sendirian lagi." Jawab Rukia lugas. Apa yang ada di dalam otak kekasihnya ini!

"Berarti memang benar …" Ichigo menarik nafas." Kau hanya mengasihani aku karena permintaan Grimm." Pandangan mata Ichigo mengalih ke langit-langit kamarnya."Maaf, membuatmu terjebak dalam masalah-masalahku. Kau boleh pergi."

Ichigo berdiri. Berjalan lambat dengan menunduk menatap dingin lantai kamarnya. Membuka pintu kamar apartementnya dengan lambat seakan dia tidak sanggup untuk melakukannya.

Rukia hanya termenung. Tidak berani bertanya apapun mengenai kalimat Ichigo yang terlontar terakhir kali. Ichigo tidak menatapnya. Itulah yang membuat Rukia tidak berani bertanya apapun.

Ichigo keluar dari apartementnya. Pintu apartementnya terbuka lebar. Memberi kesempatan untuk gadisnya keluar dari apartementnya sekaligus kisahnya. Rukia tidak pernah bahagia berada disampingnya. Itu yang dirasakan Ichigo. Sebenarnya perasaan itu sudah muncul lama. Rukia hanya bersabar dengan dirinya.

.

.

.

.

Dan apa yang dilakukan Rukia sejak kejadian itu. Dia kembali normal dalam kesehariaannya. Bekerja, kuliah dan bekerja. Semakin hari dia rajin mengambil kerja part time. Dia sengaja membuat dirinya lelah. Agar pikiran tentang keputusan Ichigo hari itu tidak lagi kembali menghantuinya.

Sesekali memang ia bertemu dengan Ichigo di kampus. Ichigo selalu terlihat di kampus setiap hari. Entah di perpustakaan, di kantin, di taman atau secara tidak sengaja mereka bertemu di lorong kampus. Tapi sejak Ichigo meninggalkannya tanpa keputusan apa-apa, Ichigo sama sekali tidak menegurnya. Bahkan terkesan tidak mengenal Rukia. Rukia tidak mengerti, sungguh tidak mengerti sama sekali. Apa yang salah pada dirinya dan yang paling penting apa yang sedang terjadi dengan pemilik hatinya. Ichigo.

.

.

.

.

"Kurosaki.." Ishida memanggil dengan suara lantang. Sedari tadi, Ishida berusaha memberi penjelasan tentang tugas kuliah yang harus mereka selesaikan minggu ini.

"Ada apa?" jawab Ichigo pelan. Setelah seharian mencari sumber dan wawancara untuk tugas. Dia ingin pulang dan tidur.

"Kau melamun lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya. Menyesal aku satu tim denganmu. Akhir minggu ini aku harus ke Sereitei untuk menghadiri pernikahan kolega ayahku. Cepat selesaikan." Perintah Ishida yang sambil membereskan buku-buku yang berserakan dimana-mana.

Mereka masih di perpustakaan dan perlu banyak sumber untuk mengisi tugas kuisioner dari dosen mereka.

"Selesaikan yang ini. Aku harus pulang. Ibuku mengunjungiku malam nanti. Ah, jangan lupa kau emailkan tugas ini sebelum diberikan besok. Aku juga harus mempelajarinya." Ucap Ishida Uryuu sambil melenggang keluar dari ruangan perpustakaan. Sebenarnya tugasnya hanya tinggal merangkum beberapa materi sebagai pelengkap kuisioner.

Ichigo termenung lagi. Laptop yang berada di depannya memantulkan sinar wajah seseorang. Dia sangat merindukannya. Gadis violetnya. Selama ini dia selalu berusaha untuk melukai diri sendiri. Dengan berusaha menghindar, melupakan ataupun memaksa pikirannya agar jauh dari mengingat Rukia. Tapi apa hasilnya, semuanya sia-sia. Setiap waktu dia tidak bisa terlepas dari bayang Rukia. Rukia adalah candunya. Obat bagi kesendiriaannya. Penyiram bagi hatinya. Dan penyembuh bagi lukanya yang tak kunjung sembuh.

.

.

.

.

.

Bulan ini kampus memasuki masa liburan. Meskipun masih ada beberapa mahasiswa yang mengambil semester pendek mereka ataupun menghadiri beberapa kelas. Rukia salah satunya. Dia mengambil kelas semester pendek pada semester ini. Karena dia ingin lulus tepat waktu. Semakin lama dia kuliah semakin besar biaya yang dia akan keluarkan nantinya. Dua semester lagi di sudah harus melakukan praktek kerja lapangan. Otomatis dia sudah tidak bisa mengambil kerjaan lembur lagi.

"Rukia…"

"Rukia…"

"Oi Rukia…."

Hinamori Momo berteriak keras untuk memanggil Rukia yang sedang duduk disampingnya.

"Aku tidak tuli, Momo." Bela Rukia. Telinganya berdenging karena teriakan Momo.

"Kita sedang membahas kasus. Kau malah-…" Ucapan Momo terputus saat sorotnya menangkap cepat seseorang yang sedang melewati lorong kelas laboratorium.

Ya dia. Yang membuat Rukia berubah. Bukan berubah dalam artian ke arah negative. Tapi perubahan cara berfikir Rukia. Rukia memang baik-baik saja. Dia terlihat selalu ceria. Tertawa dan melakukan aktifitas seperti biasa. Bekerja, istirahat dan kuliah. Tapi Momo tahu, Rukia hanya sedang menunggu dalam kecemasan.

"Kau tidak ingin menemuinya, Ru?" Tanya Momo serta merta melihat raut muka Rukia yang masih menatap Ichigo berjalan.

"Aku takut." Helaan nafasnya terkesan berat." Dia tidak pernah menatapku lagi seperti dulu." Terang Rukia yang violetnya masih mengekor ke arah mana Ichigo berjalan.

"Bukankah kau mencintainya?" tanya Momo.

Rukia terdiam. Tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Ichigo juga bertanya hal yang sama sebelum drama perpisahan ini terjadi.

"Kita bahas kasus itu nanti malam. Aku harus bekerja. Maaf, untuk pertanyaanmu aku belum bisa menjawabnya."

Rukia berdiri. Memberesi buku dan tas yang ia letakkan di rumput taman kampus. Membelakangi Momo agar sahabatnya itu tidak tahu apa yang ia bingungkan.

"Kejarlah dia sekarang. Dia menunggumu, Ru. Kau jangan bersembunyi lagi. Jangan mencintainya karena kasihan. Tapi cintailah dia sebagai seorang laki-laki." Momo menarik nafas." Mungkin kau bisa bersembunyi dari orang-orang tapi tidak denganku. Aku tahu kau mencintainya. Kau mencintai Ichigo. Kau hanya takut jika orang-orang yang kau cintai akan pergi meninggalkanmu. Itulah kenapa kau takut untuk memulainya kembali."

Momo yang melangkah pergi dari tempat itu lebih dahulu. Menyampaikan apa yang sebenarnya ia ingin sampaikan lama sejak dia tahu perpisahan Rukia dengan Ichigo. Momo sangat tahu apa yang terjadi dengan Rukia. Sangat paham dengan kediaman Rukia.

"Ichigo…" Sebut Rukia.

Untuk pertama kalinya setelah kejadian di apartement Ichigo, Rukia memanggil nama kekasih hatinya. Rukia juga merindukannya. Sangat.

Apa yang Rukia lakukan selama ini hanya untuk membentengi dirinya dari rasa takut. Takut untuk memiliki. Dan takut untuk kehilangan.

.

.

.

Ichigo berjalan pelan. Pandangan matanya semakin kabur. Kakinya semakin berat untuk melangkah. Dia harus cepat sampai rumah. Dia tidak membawa obat yang diresepkan oleh Nell. Padahal obat itu akan mengurangi rasa sakit seperti yang sekarang Ichigo rasakan. Akhirnya dia lelah sendiri. Ia duduk dibangku depan ruang praktikum biologi. Mencoba mengatur nafasnya agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Di dada dan juga di kepalanya. Seperti terhantam batu yang runcing.

.

.

.

Rukia berlari. Mengejar langkah sang pemilik hatinya, Ichigo. Setelah mendengar apa yang Momo ucapkan di taman kampus tadi. Ia bertekad untuk mengejar takdirnya. Sudah cukup dia menunggu. Dia harus jujur dengan perasaannya.

'Aku tidak boleh melukainya lebih dari ini lagi'

Suara hati Rukia menjerit keras memanggil nama sang pemiliknya. Rukia melihat Ichigo duduk disana, dengan mata terpejam dan memegang beberapa buku yang ia letakkan di pangkuannya. Rukia berhenti. Mengambil nafas dan mengatur debaran jantungnya sendiri. Dia harus melakukannya. Bersembunyi dan takut dari rasa mencintai serta memiliki harus ia buang jauh-jauh. Rukia ingin berubah. Dan dia ingin mencintai Ichigo, Kurosaki Ichigo.

"Ichi…"

Nafas Rukia tertahan saat bibirnya mengucap nama prianya. Ichigo masih duduk dan memejamkan mata dengan erat.

Rukia semakin mendekat. Memandang lekat wajah sang kekasih dengan sorotan kerinduan. Haruskah dia memanggil dengan keras atau malah harus teriak. Atau Rukia harus membangunkannya dengan sentuhan.

"Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Rukia."

Ya. Bibir tipis sang kekasih mengucap kata sakral itu.

"Suaramu, tawamu, wajahmu selalu menghantuiku setiap waktu."

Lagi. Air mata Rukia tidak terbendung lagi saat mendengar kalimat kedua keluar dari orang yang dia pandangi sekarang.

Cukup. Rukia tidak mampu untuk tidak melakukannya lagi.

.

.

.

.

.

Bibir keduanya semakin erat bersatu ketika bibir Rukia semakin tak sabaran untuk segera menuntaskan rasa haus kerinduannya. Mereka berdua masih dibangku lorong itu. Ichigo masih terduduk dan Rukia mendekap erat leher sang kekasih dengan kedua tangan mungilnya. Rukia duduk diatas pangkuan Ichigo. Mendekap erat bibir dan tubuh prianya. Setelah dua kalimat terucap dari bibir Ichigo tadi. Rukia tidak tahan untuk mendengarkan apa yang akan terucap lagi dari kekasihnya. Dia langsung memutuskan untuk mengunci semua kata-kata yang akan keluar itu dengan bibirnya.

Ichigo hanya terdiam. Matanya masih menutup erat. Dia tahu Rukia duduk di pangkuannya. Dia juga tahu dia sedang meneguk dengan cepat rasa kerinduannya dengan memeluk erat pinggang mungil milik kekasihnya. Mengelus pelan tubuh yang sangat ia rindukan.

Bibir Rukia menjauh sejenak. Menatap bibir tipis sang kekasih yang masih sedikit terbuka karena ulahnya. Rukia tersenyum simpul. Jemari tangan kanannya membelai pelan kedua bibir milik kekasihnya. Dia ingin menyatakannya. Menyatakan rasa cintanya.

"Jangan meninggalkanku lagi."

Rukia sudah mengungkapkan rasa yang ia pendam selama ini. Rasa cinta dan ingin memiliki.

Kedua tangan Ichigo bergerak. Membungkus erat wajah mungil kekasihnya. Dalam. Ichigo semakin menciumnya dalam. Tidak ingin melepaskan dan terus membelai kedua bibir mungil itu dengan luapan kerinduannya. Ichigo tidak akan pernah kehabisan nafas jika harus mencium bibir gadis violetnya ini tanpa jeda. Disaat Rukia menjauh. Itulah saat-saat dia kehilangan nafasnya.

"Aku mencintaimu."

Kalimat itu. Kalimat itu yang selalu bisa membuat hari Rukia terbang entah kemana.

"Kau merindukanku?" tanya Rukia. Mata mereka hanya saling memandang. Setidaknya ciuman panas tadi tidak menjadi tontonan di kampus.

"Kau masih bertanya padaku setelah ulahmu tadi?" Ichigo tersenyum mengejek manja. Dia tidak pernah menyangka jika Rukia bisa seberani ini.

"Kau membuatku gila." Jawab Rukia dengan tertunduk malu dan masih berada di pangkuan Ichigo.

"Dan kau Rukia. Membuatku menjadi orang gila." Pengakuan Ichigo membuat Rukia bungkam." Dan aku butuh seorang psikolog untuk menyembuhkanku."

Ichigo tertawa lebar dengan sorot mata yang hangat. Candunya sudah terobati. Obatnya sudah berada dalam pangkuannya.

"Aku sangat merindukanmu."

Pelukan erat terjadi. Dan disanalah terjadi pengakuan cinta yang kedua dalam kisah Rukia dan Ichigo.

.

.

.

.

.

**WARNING**

(JUST FOR 18+)

IF YOUR AGE UNDER 18+ PLEASE SKIP THESE PART

JUST MY IMAGINE NOT MY REAL CHARACTER

.

.

.

"Grimm…ah… kau terlalu cepat."

Nell mengerang keras saat Grimm sudah memasukinya lima menit yang lalu. Grimm masih mencoba untuk lebih dalam mengobati rasa rindunya.

"Ah,.."

Nell mendapatkan rasa nikmatnya sekali lagi Entah sudah berapa kali dia mengeluarkan rasa nikmatnya. Nell hanya memeluk erat bahu kekasih birunya dengan kedua tangannya.

Grimm mencium dalam. Dia tidak akan pernah mengeluarkan suara kenikmatannya saat seperti ini. Dia akan melepaskan geraman nikmatnya dengan mencium Nell membabi buta.

Grimm berhenti. Menghentikan ciuman panas dan menatap wajah Nell.

"Puaskan aku.." Ucapnya sambil mengangkat punggung Nell agar bisa merubah posisi. Milik Grimmjov masih terbenam disana. Tempat terhangat dan ternikmat untuk Grimmjov.

"Aku harus berada diatas?" Tanya Nell manja. Tubuhnya sudah mulai bergerak. Memuaskan milik Grimm dengan miliknya yang basah.

"Ah… kau memang nik…mat Nell." Akhirnya Nell mendengar suara kenikmatan yang terucap dari bibir tunangan birunya. Nell masih bergerak dengan kecepatan yang sangat pelan. Dia tahu Grimm sangat menyukai posisi yang seperti ini. Nell diatas. Memanjakan miliknya dengan tubuhnya. Grimm bisa bebas memandang tubuh polos dan seksi sang tunangan.

"Lebih cepat Nell." Erangan Grimm tertahan saat Nell menciumnya dengan dalam. Gerakan dibawah perutnya berhenti sebentar.

"Boleh aku memuaskanmu lebih dulu?" tanya Nell manja didepan bibir Grimm.

"Sesukamu.."

Nell mulai beraksi. Bibirnya mencium Grim dengan rakus. Nell juga rindu. Sebulan tidak mendapat belaian hangat di tubuhnya juga akan menimbulkan efek rindu. Bibir Nell menggigit pelan leher Grimm. Menciptakan hiasan merah indah di kulit leher Grimm.

"Ah, aku ada meeting besok pagi Nell." Ucap Grimm dengan nada halus saat kedua bibir Nell melanjutkan aksinya. Mencium setiap sudut titik sensitive di tubuh sempurna miliknya.

"Kau melupakanku selama satu bulan. Tidak bolehkah aku menghukummu?"

Lidah Nell menjilat manja setiap sudut dada bidang milik Grimm. Erangan Grimm semakin terdengar. Kedua tangan Grimm memegang kencang bagian tubuh milik Nell yang bergelayut manja menggesek tubuh bidangnya.

"Bukankah aku bilang, aku yang akan memuasakanmu lebih dulu?" Ucap Nell sembari mencium kembali bibir Grimm.

"Berikan ini padaku." Ucap Grimm sambil mengangkat tubuh sang kekasih untuk duduk di pangkuannya. Grimm menjilat halus sudut tubuh paling sensitive milik Nell. Mereka sudah hafal dengan tempat-tempat ternikmat milik masing-masing. Mulut dan lidahnya masih berjuang untuk melahap rakus milik Nell yang sebelah kanan. Dan tangan Grimm masih memijat keras milik Nell yang satunya. Bibir Nell menggigit menahan erangan. Tangannya mendekap erat kepala dan rambut milik kekasih birunya.

"Milikmu ini sungguh membuatku gemas." Mulut Grimm menjelajahi satunya. Tangan kirinya membelai lembut bekas-bekas gigitan yang ia lakukan tadi di kembarannya. Suara kenikmatan Grimm terdengar merdu tertahan di milik Nell yang sebelah kiri. Nell sudah berteriak pelan menahan rasa nikmatnya.

"Oh.. Grimm… puaskan aku." Ucap Nell tanpa terkendali. Lidah Grimm masih sibuk membelai indah kulit milik wanitanya. Menjilat geram dan nikmat dalam satu sapuan.

Grimm melepaskan jilatannya. Membaringkan kembali tubuh sang wanita agar tetap berada dalam wilayahnya. Grimm mulai memperkerjakan lidahnya dengan segera. Semakin kebawah dan semakin mendekati tempat terhangat dan terbasah milik Nell.

"Teriaklah. Aku ingin memuaskan mulutku."

Lidahnya mulai menjilat tempat itu. Tubuh Nell tergerak sendiri menahan geli saat miliknya tersentuh lidah Grimm. Grimm sangat pelan dan halus ketika memperlakukan Nell seperti ini. Lidahnya sibuk menjilat dan mengobrak abrik agar semakin basah. Surai milik sang biru terjambak erat saat bibir Grimm mengigit geram milik Nell. Kedua kaki Nell tertahan dengan tangan-tangan berotot milik sang kekasih.

"Grimm…ah…..Grimm…" bibir Nell mulai mengucap hal-hal yang semakin membuat Grimm gemas dengan milik Nell yang basah. Nell semakin ngilu dan geli. Mengangkat tubuhnya sendiri dan mulai meremas surai milik sang kekasih.

"Ah… Grimm" kenikmatan Nell terlepas. Bersama dengan sapuan hangat lidah sang kekasih.

.

.

.

Dorongan itu semakin cepat. Menyusul suara kenikmatan yang terucap bersahutan. Grimm terus melancarkan tubuhnya untuk maju mundur agar miliknya terpuaskan. Grimm belum puas. Karena miliknya belum terlepas. Setelah aksinya memanjakan milik Nell tadi. Nell sempat mengulum miliknya. Grimm memang suka cara Nell memanjakan miliknya dengan bibir dan lidahnya. Menggigit kecil miliknya yang terasa nikmat seperti disurga.

"Aku… keluar." Nell mendekap Grimm erat saat Grimm sudah melepaskan cairan miliknya.

Suara nafas bersahutan terdengar dalam kenikmatan. Milik Grimm masih disana. Tempat itu adalah tempat ternyamannya.

"Kau tahu sayang, aku harus menyelesaikan proyek itu selama satu minggu agar aku bisa menikmatimu."

Nell tersenyum manja mendengar pengakuan kekasihnya. Mencium cepat bibir milik Grimm.

"Ichigo sudah mendapatkan gadisnya kembali." Ucap Nell." Uruslah kambing tua itu. Ichigo akan mengambil praktek di Seiretei nanti. Disana ada calon tunangan Ichigo."

"Ternyata kau sudah tahu sejauh itu, sayang." Jawab Grimm sembari melepaskan miliknya dan berbaring mendekap erat kekasihnya.

"Tentu saja. Aku tidak ingin Ichigo kehilangan Rukia lagi. Tidak untuk yang kedua kalinya."

.

.

Rukia masih mencoba mengingat semua bahan untuk membuat kari kesukaan Ichigo. Tadi pagi sebelum Ichigo pergi ke Seireitei. Rukia bertanya tentang makanan kesukaan Ichigo. Dan Ichigo hanya memberitahu kalau dia suka kari.

"Kari yang bagaimana maksudnya?"

Gerutu Rukia kepada dirinya sendiri. Dia sedang membaca beberapa resep di laman blog masakan. Dan bingo, dia bingung. Rukia tidak pernah memasak masakan berat. Termasuk kari.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seseorang dengan suara baritone di ujung sana. Rukia tersenyum malu pada bahan-bahan makanan yang ada di meja dapur apartemen Ichigo.

"Berbicara denganmu." Jawab Rukia dengan nada manja. Mencoba untuk menggoda Ichigo.

"Sayang, kau tidak sedang mencari resep membuat kari kan?" Tanya Ichigo sambil tertawa di seberang sana." Kita makan diluar saja, aku akan sampai Tokyo setengah jam lagi." Ichigo berujar. Berharap Rukia tidak perlu repot-repot memasak makanan untuk makan malamnya nanti.

Dan wajah Rukia langsung berubah masam. Niatnya ingin membuatkan masakan kesukaan Ichigo. Tanpa bumbu instan atau beli.

"Darimana kau tahu kalau aku sedang mencari resep membuat kari?" Tanya Rukia dengan sedikit menekankan kata kari. Usahanya sia-sia kan.

"Bukankah tadi pagi kau tanya makanan kesukaanku. Dan biasanya ya-." Ichigo tertawa lagi mendengar nafas Rukia yang terdengar marah di telinganya."-Seorang wanita akan berusaha membuat masakan kesukaan pria yang dicintainya setelah bertanya hal itu."

Rukia itu polos dan lugu. Semua hal yang Rukia pikirkan selalu terbaca oleh Ichigo meskipun tidak bertemu.

"Menyebalkan."

Rukia sebal. Bukan pada Ichigo tapi pada kepolosannya sendiri.

"Mau makan dimana, hm?" Tanya Ichigo membuyarkan rasa penyesalan Rukia tentang usahanya."Aku akan mengajarimu memasak kari nanti. Jangan terlalu dipikirkan. Aku menyukai semua makanan yang kau masak, sayang. Meskipun gosong." Ichigo mengejek Rukia lagi. Membuat suasana hati Rukia jadi bertambah ke mode bad mood.

"Kau menyebalkan!" Nah, kan. Rukia akhirnya marah. Ya, dia ingat. Rukia ingat. Saat itu dia membuat kue kering untuk Ichigo. Kue muffin kecil dengan taburan choco chips coklat diatasnya. Dan hasilnya. Gosong.

Ichigo masih tertawa. Dia selalu suka saat menggoda Rukia. Sebelum ini dia jarang mau terbuka dengan Rukia. Tapi semenjak pengakuan kedua di bangku lorong itu. Ichigo bertekad untuk sembuh dan menjalani rehabilitasi secara mandiri. Dibantu Rukia dan Nell.

"Datanglah ke stasiun lima belas menit lagi. Aku akan mengajakmu makan malam di tempat favoritku. Pakailah pakaian yang hangat." Ucap Ichigo.

"Kau tidak pulang bersama Ishida-san, sayang?"

"Ishida masih ada hal di Seireitei. Aku pulang dengan kereta. Aku butuh obatku saat ini." Ichigo kau mesum.

"Bukankah aku sudah menyiapkan obat sebelum kau pergi tadi. Sepertinya cukup untuk dua hari." Tanya Rukia polos. Dia sama sekali tidak tahu arti lain dari 'obat'.

"Obat yang lain. Sentuhanmu dan sikap nakalmu ketika berciuman."

Wajah Rukia memanas. Malu. Mengingat beberapa kali dia memang sering bersikap nakal ketika bersentuhan dengan Ichigo. Sering memancing Ichigo. Dengan hisapan dan jilatan lidah serta bibirnya. Dan itu membuat Ichigo sering terpancing. Ichigo sering membuat tanda kepemilikan ditubuh mungilnya. Bahkan setiap hari. Mengajari Rukia untuk bermain lidah serta memanjakannya. Dan Rukia sangat menyukai semua sapuan bibir tipis milik kekasih orange-nya di setiap inci kulitnya.

.

.

.

.

.

.

.

Ternyata makan malam yang mereka rencanakan tadi hanya di kedai pinggir jalan. Tempat makan favorit Ichigo. Bahkan kedainya tidak punya nama.

"Aku baru tahu kalau kau suka tempat yang seperti ini." Kata Rukia yang sudah menghabiskan satu porsi mie kuahnya.

"Enak dan murah." Jawab Ichigo." Waktu awal kuliah aku sering bersama Grimm disini. Makan lalu mabuk. Tapi setelah Grimm lulus. Aku jarang ke sini."

Rukia hanya ber 'oh' ria. Satu sisi dunia Ichigo akhirnya terbuka lagi.

"Kau yang bayar."

"Heh…" Rukia kaget."Kok aku?"

"Aku tidak bawa uang cash." Jawab Ichigo sambil mengeluarkan isi dompetnya."Disini tidak ada mesin ATM atau mesin gesek kartu kredit." Ichigo menjawab pertanyaan yang ada di kepala Rukia sebelum Rukia bertanya.

"Kenapa tadi tidak ambil di stasiun?" Gumam Rukia sambil mengambil dompet kelincinya di tas mungilnya.

"Karena aku ingin cepat menjilat obatku." Wajah Ichigo tersenyum nakal."Duh sakit… Rukia."

"Mesum." Kata Rukia setelah memukul sayang kepala kekasih orange-nya dengan dompet."Kasirnya dimana?"

"Oh. Kasir. Tidak ada kasir disini. Kita harus memanggil pelayan dan minta tagihan. Sebentar."

Ichigo memanggil salah satu pelayan. Sepertinya Ichigo baru melihat pelayan ini. Wajahnya seperti tidak asing. Rambutnya hitam panjang terkucir kuda dan sehitam milik kekasih mungilnya. Awalnya Ichigo ragu setelah memanggil. Tapi lelaki ini memakai seragam pegawai kedai. Wajahnya angkuh dan berwibawa.

"Ada yang bisa saya bantu. Tuan?'' kata pelayan itu dengan ramah meskipun guratan wajah angkuh terpasang.

"Ah, ya. Saya ingin meminta tagihan meja ini." Jawab Ichigo.

Telinga Rukia menangkap suara yang sangat tidak ingin ia rekam dalam ingatannya. Selama sepuluh tahun dia tidak pernah mendengar suara angkuh ini. Suara yang sama sekali tidak ingin ia dengar lagi setelah kejadian itu.

Rukia mendongak. Menatap takut pada wajah seorang pelayan yang sedang berdiri disamping kekasihnya. Sang pelayan masih mencatat tagihan makanan yang mereka pesan. Dan Ichigo sedang berusaha mengingat apa saja yang mereka makan.

"Otou-san..." Kata itu terucap dari bibir mungil Rukia secara spontan. Ichigo menoleh ke wajah Rukia setelah merasakan genggaman di jemarinya menguat.

"Ada apa?" tanya Ichigo.

Rukia semakin ketakutan. Setelah wajah pelayan lelaki itu menatap mata violetnya. Mata lelaki itu terlihat buas dan menyeramkan. Bibirnya melengkung ke atas mengukir sebuah kejahatan. Rukia semakin ketakutan setelah sang pelayan memberikan kertas tagihan pesanan mereka. Tangan Rukia gemetar. Itu yang dirasakan Ichigo.

.

.

.

.

.

"Bagaimana kabarmu, Kuchiki Rukia?"

Pertanyaan yang membuat darah Rukia membeku untuk seketika.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

Seperti dikejar deadline tugas kuliah. Itu yang aku rasakan ketika menulis cerita ini.

Maaf untuk typo, OOC, kesalahan dalam alur serta pengulangan kalimat yang tidak perlu. Saya baru proses belajar. Berusaha menulis yang terbaik dan menjadi lebih baik lagi.

.

.

.

.

Balasan para sahabatku di Review :

eenzzichiru - ini sudah diupdate, maklum ide gak nongol. Saya hanya mencoba dan belajar menggali serta mengotak atik kisah cinta para pejuang cinta ( gubrak ). Dan jadilah bumbu di pairing Ichiruki. Berusaha keras memang. Ini diluar kebiasaanku menulis cerita fiksi. Happy Ending kok ^-^. Thanks anyway for review. Makasih...

.

.

baramjji - masih dilanjutkan. Jika ide terus bermunculan. I hope. Byakuya sudah nongol di last paragraf. Buat penasaran dulu. Ini sudah diupdate. Makasih buat reviewnya. ^-^

.

.

Izumi Kagawa - maklum saya pemula disini T T. Siap, akan saya sunting lagi sebelum publish. Gak ada kata2 yang menyinggung. Itu kan memang manfaatnya review. Makasih ya. Baby-nya cakep... ^-^

.

.

3nd4h - makasih. This is next chapter.

.

.

Abby Mabby - bocoran akan membuat lebih nyesek menunggu next chapter ( kejam ). Hisagi ya. Ah, masih dirahasia in. Thanks anyway...

.

.

Azura Kuchiki - Makasih. BYAKUYA JAHAT disini. But, semoga alur sesuai rencana dan ide lancar. Thanks.

.

.

.

.

.

'BOCORAN' CHAPTER 10

.

YOUR LOVE IS MY SIN ( PART 2 )

.

.

.

Ichigo sangat hafal dengan nama marga itu. Nama marga yang menghancurkan keluarganya. Tapi entah dia hanya bisa memeluk gadis violetnya sekarang. Pelukan erat. Karena Rukia terus menangis tanpa menceritakan penyebabnya.

.

.

.

Byakuya mulai mencari tahu. Sosok yang ia jumpai di tempat kerjanya seminggu yang lalu. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Kurosaki di negeri ini. Sangat mudah untuk mencari tahu. Tapi tidak untuk keberadaan putrinya. Kuchiki Rukia.

.

.

.

Hisagi mencoba menenangkan Rukia yang syok setelah mendengar Ichigo mendapat kecelakaan. Kencan mereka batal karena Ichigo secara sengaja ditabrak oleh truk.

.

.

Kurosaki Isshin mulai curiga dengan sosok gadis mungil dengan iris violetnya. Dan nama marganya yang membuat darahnya berdesir.

.

.

.

Thanks buat waktunya. Yang mau dan sudi membaca fic ini. Thanks…

Wait next chap…

.

.

.

Nicky