A/N:Thank you guys! I thought you already forget about me haha. I warn you, this chapter contains with some adult scenes and strong language. That's why I rate this story with M. Please enjoy this chapter and I hope you like it.

I own nothing except the plot, trust me

Chapter Two

"Hello, stranger."

Aku terpaku di tempat dengan Draco Malfoy yang tengah berdiri tepat di hadapanku dengan senyumannya. Kucoba untuk merelaksasikan pikiranku dan menanggapinya senormal mungkin. Aku Hermione Granger dan aku tak akan pernah mempermalukan diri di depan siapapun termasuk pria ini. "Well, hello Mister Malfoy," jawabku setenang mungkin.

Kucoba sekuat tenaga untuk mengembalikan diri seperti semula, seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya satu bulan lalu di Vegas. "Kejutan sekali bisa melihatmu di hotel ini," ujarnya dengan tenang.

Aku masih memperhatikan dirinya. Tak ada satupun yang berbeda darinya dengan saat pertama kali aku melihatnya. Setelan mahal dari kepala sampai kaki yang kini di tambah dengan mantel musim dingin yang berani kutaksir berharga ratusan ribu dollar. "Melihat dari caramu menatapku di ruangan tadi, aku tak melihat raut terkejutan sama sekali, Mister Malfoy," balasku padanya.

Ia menggeleng. "Tentu aku terkejut, namun bukan berarti aku harus menunjukannya pada semua orang, bukan begitu Miss Hermione Granger? Oh atau haruskah aku tetap memanggilmu Stranger?"

Saat kata stranger keluar dari mulutnya, matanya langsung berbinar yang aku tahu hal itu mengandung sejuta makna di dalamnya. Jujur saja saat ini aku sama sekali tak mau mengangkat sedikitpun topik mengenai apa yang terjadi dengan kami di Vegas. It's just sex, isn't? Tak ada yang lebih dan tak akan pernah menjadi lebih. Aku sengaja melirik jam tangan yang melingkar di pergelanganku dan mengedikan satu bahuku. "Well, bila tak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, aku rasa jam kerjaku sudah berakhir beberapa menit yang lalu."

"Selamat sore, Mister Malfoy."

Baru saja aku membalikkan tubuh dan mencoba untuk membuka pintu dari mobilku, tangannya dengan cepat kembali membalikan tubuhku dan menariku ke sudut ruangan di parkiran ini yang tak jauh dari mobilku. Wajah kami hanya berjarak beberapa centi dan lagi-lagi aku merasakan deru napasnya di wajahku. Harum tubuh serta hangat tubuhnya masih serupa dengan petama kali kami bertemu. Ia menyeringai kepadaku. "Apa yang kau lakukan?" tanyaku tak percaya dengan apa yang ia lakukan.

Demi Tuhan, kami berada di lingkungan kerja sekarang, apa yang tengah ia pikirkan. Aku bisa saja menuntutnya dengan tuduhan sexual harrashment lalu karier dan seluruh bisnis akan seketika tumbang karenanya. Bukannya melepaskan tangannya dari pundakku ia semakin mendekat dan berbisik padaku. "Kau lihat di sudut sana?"

Refleks aku mengikuti gerakan tangannya. "Kau aman disini," ujarnya dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan.

Mataku menatap horror ke arah benda yang ia tunjuk. CCTV. Aku menelan ludah yang sebenarnya tak perlu kutelan saking terkejutnya. This's mental. Ia semakin mendekatkan dirinya padaku dan mendorongku perlahan hingga terjebak di antara dirinya dengan dinding. "Aku bisa menututmu dengan sexual harrasment, Draco Malfoy," ucapku dengan suara yang hampir tercekat karena harum tubuh serta napasnya yang memabukkan.

Helaan demi helaan napasnya sangat terasa di setiap jengkal kulit leherku. Ia tersenyum sesaat untuk melihatku. Tetiba saja ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang parkir ini dan menggeleng. "Tak ada saksi yang akan mendukung tuntutanmu dan CCTV itu sama sekali tak merekam apa yang akan kita lakukan?"

"Memang apa yang akan kita lakukan?" tanyaku menantangnya.

Ia mengedikan bahu dan kembali mendekatkan dirinya kepadaku. Bibirnya sudah berada di kulitku perlahan menyusuri setiap lekuk leherku. Darahku berdesir karenanya. "Well, hello again, stranger."

"Hell," gumamku saat tangannya berada di bokongku dan mulai meremasnya.

Kumiringkan sedikit leherku untuk memberikan akses termudah untuknya. Saat ini, hanya bibirnya yang membakar di kulitku yang dapat kupikirkan. Tak ada yang lain. Setiap kecupannya bagai melemahkan satu demi satu saraf di tubuhku. Ia sangat sadar akan hal itu saat ia dengan cepatnya mengangkat sebelah kakiku untuk melingkari pinggangnya dan mengalungkan tanganku di lehernya. Dia melepaskan ciumannya dari tubuhku dan menatapku untuk kemudian menyeringai. "Kau butuh banyak asupan gizi untuk kuat bersamaku."

Kugelengkan kepala untuk menjawab. "Untuk bersamamu?" tanyaku tak percaya.

Dan dia hanya tersenyum dan kembali menciumku. Setelah ia atau lebih tepatnya kami kehabisan napas, ia melepaskan bibirnya dari tubuhku sementara aku masih terengah-engah dibuatnya. Draco Malfoy membelai pipiku dengan mata kelabunya yang tak lepas menatapku yang masih berusaha menangkap oksigen di ruangan ini. "Pulanglah. Dan hati-hati di jalan."

Belum sempat aku menjawabnya, pria itu telah berjalan masuk ke mobilnya dan meninggalkanku yang masih berusaha mengerti apa yang baru saja terjadi.

000

Mataku tak dapat terpejam meski waktu sudah menunjukan tengah malam. Aku bangkit dari ranjangku dan mengambil botol wine yang diberikan Luca sebagai hadiah Natal kemarin, kemudian membuka lalu menyesap isinya perlahan setelah menuangkannya di gelas. Adegan demi adegan yang terjadi di tempat parkir sore tadi bersama Draco Malfoy terus menerus terputar di kepalaku. Apa yang sebenarnya yang ia inginkan dariku?

Hal ini semakin membuatku menjadi gila secara perlahan. Aku tak pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar sex dengan seorang pria. Semua yang kulakukan dengan pria-pria di sekelilingku tak lebih dari hubungan fisik semata karena aku tak akan pernah mempercayai pria untuk memberikan perasaanku pada mereka. Semuanya hanya sekadar bercinta dan melupakan keesokan harinya. Tetapi, Draco Malfoy terus menerus berputar di pikiranku, layaknya chart yang berisi fluktuasi penjualan kamar hotel dan kinerja para karyawan. Dan sekali lagi percayalah hal ini membuatku gila.

Kusesap kembali wine yang tersisa di dasar gelasku lalu mengambil dua butir pil penenangku untuk berusaha kembali ke pikiran warasku.

000

"Jadi, maksudmu Malfoy Group merupakan pesaing yang datang di menit-menit terakhir proses akuisisi hotel kita?" tanyaku pada Nikki yang hanya mengangguk-angguk sedari tadi.

Aku tak percaya hal ini. Tetapi, tak mungkin Draco Malfoy membeli hotel ini hanya untuk bermain-main denganku, walaupun aku juga tak yakin apa motiv sebenarnya. Memang tak ada yang salah dengan keadaan kepemimpinan The Regency sebelumnya sehingga harus berganti pemimpin, hanya saja pemilik asli hotel ini sudah merasa tak lagi sanggup atas tugas pengelolaan serta pajak yang meningkat serta alasan lain dan melelangnya di usia senjanya dengan. Isu pengakuisisian hotel ini sudah merebak sejak lama, tapi aku tak tahu siapa saja kandidatnya. Dan secara mengejutkan Malfoy Group memenangkannya di menit-menit terakhir setelah malamku bersama CEO grup itu di Vegas. "Mengapa kau seketika tertarik akan hal ini?" tanya Nikki curiga padaku.

Aku mengedik. "Hanya penasaran," ucapku yang kemudian menutup layar laptopku.

Nikki tetiba saja tersenyum sumeringah. Dengan sangat otomatis aku menjentikkan sebelah alisku. "CEO kita tampan sekali, kau sadar akan hal itu?" matanya semakin berbinar saat mengutarakan hal itu.

Aku seakan ingin terbatuk saat mendengarnya. Mungkin bila ia tahu tentang apa yang telah aku lakukan dengan CEO idolanya itu di Vegas dan di ruang parkir beberapa hari yang lalu ia akan berteriak super histeris. Aku bangkit untuk mengambil mantel yang tersangkut rapih di sudut ruangan ini. "Kau mau makan siang?" tanya Nikki yang pandangannya mengikuti gerak-gerikku yang aku jawab dengan sebuah anggukan.

"Kau tak mau aku belikan atau kupesankan saja?" tanyanya lagi.

"Ada beberapa hal yang ingin kubeli," jawabku cepat setelah mengenakan mantel itu dan mengambil oversized clutch hitamku.

Nikki masih menatapku kemudian tertawa kecil dengan senyum sumeringah yang masih menghias wajahnya. Oh God, aku benci senyuman sumeringah ala bocah taman kanak-kanak yang baru saja dibelikan boneka oleh orang tuanya atau seperti remaja yang baru saja diajak untuk datang ke pesta prom oleh lelaki yang disukainya. "Apa lagi?"

"Kau mau berkencan dengan Chef Luca," tembaknya langsung padaku

Wajahku hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Mind your business, Nikki," ujarku.

Ia tahu betul bahwa aku tak menyukai sedikitpun kehidupan pribadi dicampuri oleh siapapun termasuk Nikki walapun notabene ia adalah sekretaris merangkap asisten pribadiku selama dua tahun ke belakang ini.

Nikki langsung bangkit dari duduknya. "Maafkan aku, Miss Granger," balasnya yang langsung keluar dari ruanganku.

Aku hanya menatap kepergiannya dari ruanganku dan ikut keluar untuk melakukan niat awalku.

Lalu lintas Manhattan siang ini tak terlalu menggila seperti biasanya. Hawa Januari yang begitu menggigit membuat orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya untuk segera sampai ke tujuannya. Aku baru saja keluar dari salah satu toko buku di kawasan Houston Street untuk kemudian berjalan menuju restoran penyedia pastrami kesukaanku di kota ini. Kat'z Delicatessen adalah restoran peyedia pastrami yang sudah kukunjungi sejak bertahun-tahun lalu dengan cita rasa yang tak pernah berubah. Aku menikmati makan siangku sambil memeriksa beberapa e-mail yang masuk ke iPhone-ku.

"Hot Turkey Sandwich, huh? Aku tak tahu bahwa wanita dengan tubuh serampingmu memakan makanan seperti ini."

Aku menengadah dan mendapati Luca berdiri di sisi mejaku. "Well, hai Chef, wanita sepertiku jga membutuhkan asupan protein," sapaku.

"Kau mau makan siang juga?" tanyaku padanya.

Ia mengangguk. "Sebenarnya aku mampir untuk take away lalu menuju hotel, tapi melihat dirimu disini, keberatan bila aku bergabung?"

Aku tertawa menanggapi akting formalnya kepadaku. "Sure, Luca, sure," kekehku

"Kau tahu? Bila para karyawan itu melihat kau terkekeh seperti ini panggilan Poisonous Bitch tak mungkin ada untukmu."

Aku tersedak mendengarnya. Aku tahu mereka memanggilku seperti itu, tapi aku tak tahu bahwa Luca juga mengetahuinya. "Kau tahu akan hal itu juga?" tanyaku tak percaya.

Luca tertawa mendengarnya. Setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarkan sandwichnya dan mulai memakannya kami kembali berbincang. "Tentu aku tahu akan hal itu. Kau adalah General Manager kejam yang dapat memakan para karyawan hidup-hidup bila mereka melakukan kesalahan," candanya.

Aku hanya mengangguk kemudian menenggak air mineralku. "Tersenyumlah, Hermione."

Aku kembali menatapnya. "Jangan memulainya, Luca."

Dia tertawa. "Aku serius. Kau sangat cantik saat kau tersenyum."

Kini aku memaksakan senyum terlebarku padanya lalu tertawa dan kembali meminum air mineralku. "Sudah?"

"Sudah," kekehnya.

Bila Nikki melihat apa yang tengah kulakukan dengan Luca sekarang, mungkin ia akan benar-benar berpikir bahwa aku berkencan dengan pria berdarah Italia di hadapanku ini. Kutatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku dan menyadari bahwa aku harus kembali ke hotel. "Kau sudah mau kembali?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan.

"Aku harus mencari taksi terlebih dahulu dan di jam seperti ini sangat susah mencari taksi kosong," jawabku saat merapihkan oversized clucth yang kubawa,

Luca hanya memandangku. "Kau tak bawa mobil?"

Aku menggeleng. "Aku malas menyetir tadi karena kukira jalanan akan macet di jam makan siang seperti ini dan tentunya sangat susah mencari parkiran di kota ini."

Baru saja aku hendak bangkit, Luca juga ikut bangkit dan memakai jaketnya. "Ayo bersama, aku juga harus kembali ke hotel untuk dinner preparation."

Jalanan benar-benar lengang saat ini dan kami berkendara dalam diam. "Kau datang ke Inauguration Night CEO baru kita?"

"Tentu," jawabku.

"Datanglah bersamaku, aku terlalu canggung berada di acara itu seorang diri."

Aku tersenyum sesaat lalu menggeleng. "Cukup poisonuos bitch saja yang mereka julukan kepadaku, aku tak mau mereka menyebar gossip bahwa aku berkencan denganmu."

"Mereka berpikir seperti itu?" tanya Luca yang baru saja berhasil memarkir Hummer H2-nya di ruang parkir khusus karyawan hotel ini."

Aku menganguk. "Setidaknya Nikki berpikir seperti itu."

Dia tertawa. "Baiklah aku tak akan menambahkan julukan baru lagi kepadamu."

Kami berjalan menuju elevator saat tatapanku terhenti pada pria yang berhasil membajak pikiranku beberapa hari belakangan ini. Luca tersenyum lalu mengangguk sopan pada Draco Malfoy begitupula dengan diriku. Kami menaiki elevator yang sama dengan asisten dari Malfoy yang menekan tombol lantai tertinggi gedung ini dimana Malfoy berkantor. Keheningan menyelimuti ruangan ini sampai akhirnya Luca sampai di lantainya. "Pierce, aku meninggalkan beberapa berkas di mobil yang kuperlukan saat ini."

"Aku akan mengambilnya sekarang, Sir," ujar pria yang dipanggilnya Pierce itu.

"Bye, Hermione," ujar Luca tersenyum padaku sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan kepada Draco lalu mengangguk. "Mister Malfoy," ujarnya dan keluar dari elevator ini.

Tersisa kami berdua di ruang sempit ini. Aku punya perasaan tak baik akan situasi ini. Ia masih berdiri tegap beberapa centi di depanku sambil menatap pintu yang sudah tertutup sebelum ia mulai membuka suaranya. "Chef itu kekasihmu?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling kepadaku.

"Bukan urusanmu," ujarku.

Ia tak menanggapinya. Saat ini aku merutuki kecepatan lift ini yang tetiba terasa super melambat. Tetiba saja Draco Malfoy berbalik dan ia berdiri tegak menatapku. "Ada apa, Miss Granger? Kau merasa tak nyaman dengan situasi kita saat ini atau kau merasa deja vu dengan keadaan kita berada di elevator seperti ini?"

Aku menelan ludah. Aku masih mengingat dengan betul apa yang kami lakukan di lift saat berada di Vegas sebulan yang lalu. Ia perlahan mendekatkan wajahnya kepadaku. "Apa yang akan kau lakukan, Draco?" tanyaku gugup dengan gesturnya.

"Menciummu," bisiknya.

Aku berusaha menghindarinya. "Kau sadar kalau sekarang tak ada tempat bersembunyi dari CCTV di sudut sana," balasku.

Ia memegang daguku untuk membawaku menatapnya. "Biar aku yang mengurusnya," ucapnya cepat dan langsung melumat bibirku dengan rakus.

Seketika kakiku langsung lemas dan aku sangat mengutuk diriku yang tak bisa menolak godaan dirinya. "Shit," umpatku pelan sebelum membuka mulutku dan membiarkan dirinya menginvasi diriku.

Tangannya sudah berada di bokongku dan dengan cepat ia membawaku ke sisi lain ruangan elevator ini dan dengan cekatan pula menekan tombol lock di ruangan ini. Kontan ruangan kotak ini berhenti. Ia mencium lekuk di wajah, leher dan dadaku. Aku mengerang sementara aku membiarkan apa yang ingin ia lakukan. "Bloody hell, I want to fuck you. Hard. Now," ucapnya berbisik dengan napas yang masih menderu di telingaku.

Aku kehilangan kata-kata saat mendengar ucapannya. Napasku masih tercekat, tapi aku juga ingin melakukan apa yang baru saja ia katakan. "Do it," tantangku padanya.

Ia melepaskan dirinya dari diriku dan menggeleng setelah membelai lembut bibirku dengan ibu jarinya. "You're still my naughty girl, but no," jawabnya.

"Aku tak akan melakukannya di sini. Wanita sepertimu harus diperlakukan dengan tepat," ia kembali merunduk dan aku sudah siap bila ia akan kembali menciumku, tapi tidak.

Bibir lembutnya tak kembali menjelajahi wajahku. Ia hanya berbisik padaku. "Aku akan membawamu ke kamarku dan kita akan bercinta semalaman sampai kau tak mampu berjalan dengan benar keesokan paginya."

Mataku seakan ini keluar dari kelopaknya saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulutnya. Tetapi, aku segera mengatasinya dengan secara perlahan mendorong dirinya dan merapihkan diri yang untuk sesaat berhasil diporak-porandakan oleh dirinya. "Sorry, Mister Malfoy. I don't do date," jawabku.

Ia menyeringai menatapku. "Neither do I, Miss Granger," jawabnya masih menatapku.

Kemudian ia berbalik sambil merapihkan sedikit rambutnya yang berantakan akibat cengkaramanku. Ia menekan unlock pada tombol itu dan elevator ini kembali bergerak ke atas. "But trust me, Hermione, I really like to fuck you and I think the feeling is mutual."

Aku lemas mendengar perkataannya karena aku tahu semua itu adalah benar. Baru saja ia membuatku hampir mati karena lemas ia mengeluarkan iPhone-nya dan mulai berbicara. "Pierce, aku butuh kau ke ruang kendali saat juga. Aku mau kau membereskan rekaman CCTV di west wing elevator. Hapus rekaman sejak aku masuk ke dalamnya hingga aku keluar dari dalamnya."

Lalu ia mematikan sambungan itu. Tak ada basa-basi dan terima kasih. Kami masih diam sampai akhirnya aku sampai di lantai dimana kantorku berada. "Happy working, Miss Granger," ujarnya dengan seringaian khas miliknya saat aku sudah berada di luar elevator itu.

000

New York, Las Vegas, Atlanta, San Francisco, Los Angeles, New Orleans, London, Paris, Milan, dan Monte Carlo adalah segelintir kota dimana properti milik Malfoy Group berada. Dan selama dua minggu ke belakang ini pula Draco Malfoy hinggap dari satu kota ke kota yang lain untuk memantau aset-asetnya yang berharga. Dan selama dua minggu ke belakang ini pula aku merasa dapat bernapas dengan lega saat berada di hotel dimana aku bekerja. Dan selama dua minggu itupula secara perlahan membuatku berubah menjadi seorang stalker. Aku mulai membuka profilnya di dunia maya. Latar belakang sampai list teman kencan dan mantan pacarnya. Semua hal yang berhasil kudapatkan di search engine itu dengan sukses membuatku terperangah.

Draco Lucius Malfoy. Anak serta cucu tunggal dari keluarga Malfoy yang telah merintis usaha perhotelan sejak puluhan tahun yang lalu. Lahir dan besar di London. Menempa pendidikan di Amerika Serikat serta mendapatkan gelar masternya di Inggris. Setidaknya aku tahu bahwa aksen yang ia miliki adalah asli sama dengan yang kumiliki dan aku juga tahu bahwa ia benar-benar di luar jangkauanku. Di tambah melihat track record hubungan percintaanya, dia benar-benar bukan husband's material bagi siapapun. Bukan berarti aku ingin menikahinya, hanya mencegah terjadi pertumpahan darah antara sesama mantan yang pernah ia tiduri saja. Karena aku pernah memiliki pengalaman buruk tidur dengan seorang player. Aku dapat mengakui kalau mereka menakjubkan di ranjang, tapi aku tak sanggup hidup dengan wanita-wanita penuh drama yang pernah ia tiduri juga.

Cukup intermezo mengenai Malfoy di dalam hidupku. Aku menelpon Nikki melalui intercom untuk memintanya membelikanku cafe latte dengan bubuk kayu manis di atasnya berukuran venti karena aku akan menghabiskan separuh malamku disini.

Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, kopiku sudah habis hampir satu jam yang lalu dan mungkin, Nikki sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu dan mungkin sekarang ia sedang bergembira di club malam karena besok adalah akhir pekan. Sementara aku sudah duduk di lantai yang berlapiskan carpet di kantorku dengan segala macam berkas yang harus aku periksa dan aku tangani hari ini juga. Rambutku sudah kuikat tinggi sementara blazerku sudah tergantung di sudut ruangan ini sejak berjam-jam yang lalu. Dengan bermodalkan penghangat ruangan dan sisa cafein yang tadi aku dapatkan, aku masih berusaha untuk menghabiskan malam di ruangan. Aku sedikit menghela napas saat akhirnya pekerjaanku selesai. Aku masih terduduk di lantai bersandarkan meja kecil untuk menerima tamu di ruangan ini. Kerlap-kerlip lampu dari kota ini tampak menghiasi malam berpadu dengan salju yang turun secara perlahan. Mataku sudah sangat lelah, tapi aku masih terus memandangi butir demi butir salju yang turun dari langit itu. Aku benci salju, aku benci hujan, dan aku benci udara dingin. Ingin sekali aku langsung sampai ke apartemenku, tapi aku tak sangup. Mataku terlalu berat dan tubuhku terlalu lelah untuk mengemudi. Akhirnya aku menguap. Sepertinya aku benar-benar tak sanggup lagi menghabiskan malam ini dengan terjaga. Kurebahkan tubuhku dan sesaat kemudian aku mulai terpejam.

"Mum," teriakku saat aku baru saja menginjakan kaki di teras rumah kami.

Aku sudah tak sabar bertemu dengan Mum dan menyantap makanan khas Natal kesukaanku buatannya. Aku berlari begitu koper dan tasku sudah berada di ruang tamu rumah kami. Semerbak harus daging panggang menyeruak hampir ke seluruh penjuru rumah ini. "Mum," teriakku sekali lagi untuk memberi tanda bahwa aku sudah berada di rumah.

"Sweetheart," balas Mum saat melihatku berdiri di ambang pintu dapur kami.

Mum berdiri dengan apron bernuansa pohon cemara dan rusa dengan warna dasar hijau tua sambil tersenyum kepadaku. Ia membuka kedua tangannya untuk menangkapku ke dalam pelukannya. "Apa kabarmu?"

"Aku lapar," candaku yang langsung disambut dengan jawilan di pipiku oleh Mum.

Kehangatan itu seketika musnah saat sosok yang sangat aku antisipasi keberadaanya berjalan gontai ke arah kami. "Hello Hermione, my little sunshine," ujarnya dengan suara parau dan wangi alkohol yang menyeruak dari tubuhnya.

"Dad," ujarku dengan nada bergetar.

Mum tahu akan hal itu. Dengan sigap ia menarikku untuk berlindung di belakangnya saat Dad berjalan semakin mendekati kami. "Stefan" ucap Mum.

"Kau sudah pulang, little sunshine?" tanyanya kepadaku dengan mata merah bak ikan yang sudah berhari-hari di dalam pendingin dan akan membusuk dalam kejapan mata.

Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya. "Naiklah, sayang. Mandi dan kita akan makan malam."

Aku ragu mengikuti permintaan Mum, tapi aku menurutinya. Aku langsung berlari namun berhenti di anak tangga ketiga yang kunaiki saat aku mendengar Mum mulai berbicara dengan Dad. "Sadarlah, Stefan. Ini malam Natal, kita harus merayakannya dengan Hermione."

Suara tawa menggelegar lalu dilanjutkan dengan bentakan yang keluar dari mulut Dad, sementara aku hanya mampu terpaku menatap mereka dari balik jerjak tangga. "Kau tak berhak mengaturku!" bentaknya.

"Bila begitu jangan dekati anak kita," balas Mum yang langsung disambut dengan tamparan di wajahnya dan aku mendengar ia terjatuh.

Aku langsung berlari ke arah mereka dan ikut berlutut di samping Mum. "Jangan pernah berani menyuruhku."

Aku mulai terisak. "Mum."

Dad langsung menarik kuncir kudaku dengan tatapan mengerikannya. "Menyingkir kau darisana."

Aku terjatuh dan kepalaku terantuk salah satu kaki meja sementara Dad langsung menarik kaki Mum dan menyeretnya pergi menjauh dariku. "Lari Hermione. Lari."

"Mum."

"Mum," isakku.

"Mum!" aku berteriak.

"Hermione."

Aku merasa badanku terguncang. "Bangunlah."

Perlahan aku membuka mataku dan mendapati seorang pria di hadapanku, sontak saja aku langsung menghindarinya. "Jangan pukul aku," ucapku sambil menghindari sentuhannya.

Seperti meloncat aku sudah berada di sudut ruangan ini dengan napas yang masih terengah-engah. "Hermione, ini aku," ujarnya lagi.

Perlahan aku memfokuskan mata. Pria itu bukan Dad. Napasku terasa sangat lega saat mengetahuinya. "Hermione," untuk kesekian kalinya ia memanggilku.

Ia semakin mendekatiku dan ikut berlutut di hadapanku. "Draco."

"Draco Malfoy," ujarku lirih

Ia menghela napas dan menarikku ke dalam pelukannya. "Thank God."

000

to be continued

How's this chapter? Please leave the review, so I know what you think. Thank you