A/N: Hey hey thank you for the reviews, alerts, and favorites. And btw, Happy Christmas! So excited to celebrate this Christmas with my big Carlo and my new family member, lil Khal:)) So, please enjoy this chap and happy holiday:))
I own nothing, unless the plot
Chapter Three
Aku berjalan lebih cepat dari biasanya dengan perasaan yang awas akan keadaan sekitar. Waktu memang sudah menunjukan lewat dari tengah malam, tapi tak ada yang tahu apakah masih ada karyawan yang berkeliaran di lantai kantor ini. Langkahku terhenti saat aku sudah berada di depan lift yang masih tertutup dan dengan harapan penuh aku menekan tombol itu agar segera terbuka. Kutatap sosok yang berdiri di sampingku dan yang sedari tadi kuhindari. "Berhenti mengikutiku, Draco."
Ia hanya membalas tatapanku tanpa sepatah katapun untuk kemudian menggeleng. "Aku baik-baik saja," ujarku yang seakan menjawab pertanyaan tak tersiratnya.
Kembali ia menggeleng. "Aku masih ingat bagaimana kau histeris tadi dan napasmu masih belum normal sepenuhnya, kau tak baik-baik saja."
Kali ini aku yang tak memedulikannya dan langsung melengos masuk saat pintu lift ini terbuka. Kami berdiri dalam diam. Tak ada kegiatan erotik yang mengharuskannya meminta Pierce untuk membereskan sesudahnya. Ia berdiri di belakangku dengan siaga, mungkin karena takut aku kembali histeris, kejang-kejang, dan mati mendadak.
"Kau salah arah," ujarnya kepadaku saat kami sudah berada di basement tempat aku biasa memarkir mobil.
Aku menatapnya dengan tanya. Ia berjalan ke arahku dan mengambil remote control kunci mobilku dan melemparkannya kepada Pierce yang kehadirannya bahkan tidak kuketahui. Kembali aku menatapnya, bukan dengan pertanyaan namun dengan kekesalan. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan mengantarmu pulang, sementara Pierce akan membawa mobilmu."
Tanpa tedeng aling-aling lagi ia menarik tanganku dan mendudukanku di kursi penumpang mobilnya lalu dengan sangat cekatan memakaikanku seat bealt untuk kemudian menutup pintu mobilnya dan sekarang ia sudah berada di sampingku, di kursi kemudinya. Aku menatapnya tak percaya. Rahangku seakan ingin jatuh dari tempatnya melihat tingkah diktaktornya terhadapku.
"What's wrong with you?" tanyaku yang langsung mencoba untuk membuka seat belt yang langsung di tahannya.
"No, what's wrong with you?" ia berbalik tanya.
Kuhela napasku sedalam mungkin untuk kembali berargumen dengannya. "Yang kau lihat tadi di kantor bukan urusanmu, jadi kau tak perlu mencampuri dengan berlagak bak pahlawan yang.."
Kalimatku terputus saat ia membungkamku dengan bibirnya. Aku dapat merasakan kehangatan seluruh tubuhnya dari bagian tubuh kini tengah melekat di bibirku. Ia mengecupku kemudian melepaskannya dan kembali duduk lalu memakai seat bealt-nya. "Sit down and try to relax."
Tanpa perlu mendapatkan jawab dariku lagi, ia langsung menginjak gas dan memacu kendaraannya keluar dari basement. Jauh dalam hati ini, aku bersyukur dengan Draco yang memaksa untuk mengantarku pulang karena kakiku benar-benar lemas tak berdaya. Ia menatapku sesaat dan menyerahkan botol air mineral dari sisi mobilnya kepadaku. "Minumlah. Kau aman bersamaku."
Tanpa mengucapkan terima kasih aku menerimanya sambil merogoh tas untuk mencari pil penenangku. Kuambil dua butir dan menenggaknya bersama air yang diberikan olehnya. Ia memerhatikan yang kulakukan namun sama sekali tak berkomentar akan hal itu. Sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit ini, aku menghindari kontak mata bersamanya. Kualihkan pandanganku pada pemandangan luar yang masih di tutupi salju tipis sepanjang jalan. Ia memarkirkan Audi S8-nya tepat di depan lobi apartemenku. Dia melepaskan seat belt-nya lalu menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Aku baik-baik saja. Terima kasih," ujarku menatapnya dengan sendu karena sekarang aku bagai tak memiliki energi lagi.
Ia hanya mengangguk dan aku keluar dari mobilnya setelah Pierce memberikan kunci mobilku. Sesampainya di apartemen, aku langsung membasu wajah untuk kemudian memaksa diriku tidur sambil berharap bahwa mimpi buruk itu tak lagi kembali.
000
Pagi hari setelah menyesap kopiku, aku bergegas memakai mantel serta sepatu boat untuk menenangkan pikiran sebelum aku harus menghadiri Inauguration Night nanti malam. Fotografi adalah salah satu caraku melarikan diri dari kenyataan dan juga merupakan hobiku sejak aku masih berada di bangku sekolah dulu. Tas berisi kamera dan peralatannya sudah berada nyaman di jok belakang mobilku dan aku siap berburu. Tujuanku adalah Chelsea Market yang terletak di 9th Avenue. Tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi ada begitu banyak makanan lezat dan beragam manusia yang saling beriteraksi disana. Setelah berkendara kurang lebih 20 menit dari apartemen, aku berhasil mengambil banyak gambar disana. Mulai dari segala macam makanan dengan para pembelinya sampai lorong-lorong yang terbuat dari batu bata dan terlihat sudah sangat tua. Arsitektur tempat ini mengingatkanku pada stasiun kereta api di London. Aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain dengan tas berisi peralatan memotretku yang beratnya sanggup membuatku terdampar di salah satu toko fish taco saking laparnya. Aku tersenyum sendiri saat melihat ekspresi-ekspresi yang tertangkap di kamera ini sambil menguyah makan siangku.
"Apakah kita akan selalu bertemu saat kau sedang menyantap makan siangmu?"
Aku menengadah dan tertawa mendapati sosok itu. "Kali ini kau juga akan take away taco untuk makan siangmu?" tanyaku.
Ia menggeleng. "Sayangnya tidak. Aku membeli ini," ia membiarkanku untuk mengintip apa yang ada di balik tas belanjaannya.
"Lobster."
"Untu riset menu baruku," jawab Luca.
Aku mengangguk-angguk mendengarnya. Setelah ia menemaniku makan siang sementara ia hanya meminum teh hangatnya, kami berjalan menyusuri lorong pasar ini sambil Luca yang masih melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari bumbu yang dicarinya.
"Kau sudah menyiapkan jas untuk nanti malam?" tanyaku padanya yang disambut dengan tatapan sebal darinya.
"Jangan mengingatkanku dengan acara itu, bila bukan karena management team yang memaksaku aku pasti tak akan pernah datang ke acar seperti itu."
Aku mengernyitkan kening . "Jangan seperti itu, kau lupa bila aku juga berada dalam management team."
"Pasti ini idemu yang berusaha menjebakku," candanya.
Aku tertawa lalu menggeleng dan kembali melanjutkan langkahku. "Kemarikan tasmu," ujarnya tetiba.
"Ini tidak berat," elakku yang sebenarnya sudah tak sanggup lagi menahan beban kamera dan peralatan di dalamnya.
Luca tertawa. "Tak ada karyawan disini, kau boleh sedikit bersandar padaku," ujarnya yang langsung mengambil tasku.
"Apa isinya?" tanya Luca yang penasaran dengan isi dari tasku.
"Kamera," jawabku cepat.
Ia menatapku lalu tersenyum sambil menggeleng untuk kemudian membenarkan tasku yang sedikit melorot dari pundaknya. "Kau suka memotret?" aku mengangguk untuk menjawabnya.
"Aku tak tahu hal itu."
Aku tertawa sesaat. "Tak banyak orang yang tahu tentang diriku, Chef."
Kami kembali berjalan menuju luar tempat ini sambil sesekali menghindari orang-orang yang mulai memadati tempat ini untuk makan siang atau berbelanja seperti yang aku dan Luca lakukan. Langkahku terhenti ketika aku melihat sosok yang selama ini menghantui hidupku di tengah keramaian tempat ini. Ia memandangku dengan mata sayunya. Napasku seakan ikut terhenti bersamaan dengan langkahku. Jantungku seketika memompa lebih cepat dari biasanya dan aku seperti merasakan ada air panas yang mengalir di pembuluh darahku. "Hermione," ujar Luca.
Kucoba untuk menghela napasku dan kembali memandang ke arah sosok yang tadi tertangkap penglihatanku dan ia tak ada. Sosok itu menghilang. "Kau baik-baik saja?" tanya Luca yang ikut berhenti di sampingku.
Aku mengangguk perlahan setelah memastikan bahwa sosok itu telah menghilang dari jarak pandangku. "Kepalaku sedikit pusing," bohongku.
"Kau mau kita duduk terlebih dahulu?"
Refleks aku menggeleng. "Aku baik-baik saja," ujarku kemudian melanjutkan langkah untuk keluar dari kerumunan ini.
Luca dan aku berpisah di area parkir. Aku langsung masuk ke dalam Range Rover Evoque-ku sambil terus menghela napas. Kubuka dashboard di hadapanku dan mencari obat penenangku dan langsung menenggaknya. Kuambil iPhone yang terletak di tasku dan menekan nomor sosok yang selama ini mengetahui segala rahasia hidupku. "Hey Hermione," sapanya dari ujung sana.
"Sepertinya kau butuh menambah dosis obat penenangku dan mungkin menambahkan resep penghilang halusinasi atau mungkin aku harus menelpon tempat rehabilitasi di London," ujarku.
"Apa maksudmu?" tanya Harry.
"Aku melihat dia di pasar, di New York. Aku melihat ayahku tadi."
000
Harry Potter adalah teman merangkap psikiater yang telah kukenal selama bertahun-tahun ini. Hanya ia yang mengetahui sejarah kelam hidupku dan karena hanya ia yang kupercaya akan hal itu. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus menarik napas dan menenangkan pikiranku. Harry meyakinkanku bahwa Dad tak mungkin datang mencariku, ia meyakinku bahwa Dad masih berada di London di tempat rehabilitasinya. Harry mengatakan bahwa aku hanya kelelahan dan butuh istirahat yang lebih. Kucoba segala anjuran Harry ketika sampai di apartemen. Menenangkan pikiran dan beristirahat. Tetapi, suara bel apartemen ini berbunyi dan menginterupsi pikiranku. Perasaan was-was itu kembali hadir. Kuhela napasku dan meyakinkan diri bahwa ia tak mungkin berada di New York, bahwa Dad tak mungkin mengganggu hidupku saat ini.
"Paket untukmu, Miss Granger," ujar Lionel si penjaga apartemen ini saat aku membuka pintu ini.
"Dari siapa?"
Ia menggeleng. "Seorang pria berjas rapih yang membawakannya," ujar pria setengah baya di hadapanku ini.
"Tunggu, aku ingat namanya. Tuan Pierce, yaa namanya Pierce."
Aku langsung mengangguk dan menutup kembali pintu ini. Kutatap kotak besar bewarna biru tua berbahan beludru di tangaku. Draco Malfoy.
Kubawa paket itu ke kamar dan membukanya. Ada selembar kertas bewarna lilac di atasnya
For The Inauguration Night
Malfoy
Kubuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun bewarna hitam perpaduan antara lace dengan chiffon dengan detail V neck super rendah pada kerahnya. Aku tersenyum saat memandangnya. Aku tak tahu bila seleranya begitu bagus dan sangat elegan, tapi melihat latar belakangnya aku juga tak mungkin meragukan seleranya dalam jam yang berada di samping nakasku dan bergegas mandi untuk pesta nanti malam.
000
Tepat pukul 8 malam lobby The Regency berubah menjadi seperti aula kerajaan dengan tuan puteri-tuan puteri lengkap dengan pangerannya yang baru saja keluar dari kereta kudanya. Semua pengusaha, senator, orang-orang penting pemerintahan, dan para sosialita tak habis silih berganti keluar dari sedan jutaan dollarnya dengan gaun malam rancangan terbaik dan jas-jas elegan yang melekat di tubuhnya. Malam ini juga aku sengaja tak membawa Range Rover-ku dan meminta salah satu sedan kantor untuk menjemputku malam ini, karena gaunku terlalu rumit bila aku harus tetap berkendara dari apartemen ke hotel ini. Aku melihat Luca tengah bercengkrama dengan tamu-tamu lainnya. Baru kali ini aku melihat ia mengenakan suit and tie, tanpa apron atau jaket kulitnya. "You look good," ujarku saat sudah berada di sampingnya.
"And you seriously stunning," ujarnya yang tak lepas menatapku.
Kuambil segelas champange dari serorang pelayan dan menyesapnya perlahan. "Baru tadi siang aku melihatmu di pasar membawa tas super berat berisi peralatan fotomu dan sekarang kau tampak seperti puteri kerajaan. Are you Cinderella, woman?"
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Terima kasih akan kuucapkan kepada Malfoy nanti bila kami sempat bertemu karena telah menjadi ibu periku dalam semalam. Setelah keraguanku, aku akhirnya memutuskan untuk mengenakan gaun malam yang ia berikan padaku. Kutata rambutku dengan messy bun dan hanya menambahkan anting sebagai perhiasannya serta memakai riasan wajah smokey eyes dan lipstick merah sebagai pelengkapnya.
"Miss Granger," ujar salah satu rekan kerjaku yang tengah bersama para klien hotel ini dan pemilik-pemilik hotel lainnya.
Aku pamit pada Luca untuk bercengkrama dengan para tamu yang datang.
"Hello, Hermione Granger, General Manager dari The Regency," balasku kemudian menjabat tangan mereka satu per satu.
Seorang pria yang kutaksir berumur tak jauh dariku tak lepas menatapku untuk kemudian tersenyum. "Aku tak tahu bahwa The Regency memiliki aset secantik dirimu."
Aku hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya. "Bila aku tahu hal ini, mungkin aku akan mempertaruhkan semua asetku demi memenangkan hotel ini," tambahnya lagi.
"Carlos, kau bisa saja," ujar salah satu temannya yang disambut dengan tawa renyah dari lainnya.
Aku ikut tertawa sopan dan mengundurkan diri dari kelompok kecil itu. Tak lama kemudian, Draco Malfoy memasuki ballroom ini dengan beberapa orang yang mengekorinya. Ia melempar senyum ke semua tamu yang berpapasan denganya. Aku melihatnya disela-sela kegiatan mingle-ku sebagai GM dan bagian dari malam perayaan ini. "Kau percaya Malfoy Group akan membawa The Regency ke masa keemasannya?" tanya salah seorang istri senator negara bagian ini yang telah menjadi klien kami dari tahun ke ke tahun.
Aku mengangguk. "Tentu, dia memiliki kapasitas untuk membawa hotel ini lebih jaya dari sebelumnya," balasku yang masih memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Ketika pembawa acara malam ini mengatakan bahwa acara akan segera dibuka oleh CEO baru hotel ini seluruh mata langsung tertuju pada Draco Malfoy yang telah berdiri di tengah ballroom ini. Ia tampak lebih tampan dari biasanya. Ia mengenakan suit lengkap dengan dasi kupu-kupu putih bak para bangsawan yang sering kulihat di Inggris dulu.
"Terima kasih telah datang di Inauguration Night ini. Saya rasa, saya tak perlu memperkenalkan lagi siapa diri saya," ujarnya dengan sedikit seringaian yang membuat wanita-wanita di ruangan ini mati bahagia atau orgasme seketika.
"The Regency adalah hotel yang telah memiliki reputasi baik hampir di seluruh penjuru negeri dan sebagai pemimpin baru hotel ini, saya akan berusaha penuh untuk meningkatkannya. Di bawah Malfoy Group saya berjanji untuk membawa hotel ini kemasa gemilangnya. Karena percayalah, kepuasan tamu adalah segala-galanya bagi kami."
Dan kalimat terakhirnya langsung saja mengundang tepuk tangan meriah dari seluruh tamu yang datang malam ini. Aku hanya mengedikan bahu dan kembali ke para tamu lainnya sampai sosok yang baru saja menjadi pusat perhatian semua orang itu berada di sampingku. "Hallo, Tuan Black," ujarnya pada pria yang tengah berbincang denganku tadi.
"Tuan Malfoy, apa kabar Anda?" tanya pria yang datang bersama istri mudanya ini.
Draco Malfoy tersenyum padanya. " Sangat baik, kita harus bermain golf di akhir pekan kembali saat aku berkunjung ke Los Angeles nanti.
"Tentu, tentu saja Tuan Malfoy. Aku sangat menantikan hal itu," balas Tuan Black lagi.
"Jika kau tak keberatan, bolehkah saya meminjam General Manager saya terlebih dahulu?" tanyanya dengan nada super sopan pada pengusaha bernama Tuan Black ini yang merupakan klien The Regency yang berdomisili di Los Angeles itu.
"Shall we, Miss Granger," ujarnya.
Kami berjalan beriringan di antara para tamu. "Kau tampak di luar ekspektasiku," ujarnya padaku dengan segelas champagne di tangannya.
"Thank you for the gown, my fairy god mother," ujarku yang dibalas dengan serigaiannya.
Selama beberapa menit aku bersamanya ada puluhan mata wanita yang tak lepas memandangnya dan ada beberapa dari mereka yang langsung menyapanya. "Draco, senang bertemu denganmu lagi," ujar seorang supermodel pakaian dalam yang acaranya ditonton di hampir seluruh penjuru dunia itu.
"Sara, apa kabarmu?" balasnya yang berusaha sopan.
"Aku tak pernah mendengar kabarmu lagi," balas model itu.
Draco hanya mengedik pelan. "Kau dapat mencari tahunya di dunia maya, bukan? Permisi," ujar Draco yang langsung memberi jalan kepadaku.
"Really, Draco? Apakah kau akan selalu bertingkah seperti itu dengan wanita yang telah kau tiduri?" tanyaku tak percaya saat kami berjalan pelan di tengah kerumunan.
"Aku tak pernah mengataka bahwa aku telah tidur dengannya"
"Tetapi, hal itu tetbaca dari cara wanita itu berbicara denganmu."
Dia hanya tersenyum dan kami tetap berjalan menerobos para tamu yang sedang bersosialisaai satu sama lain."Ada berapa banyak dari mereka yang telah kau tiduri?" tanyaku saat kami hendak keluar menuju balkon dari ballroom ini setelah melewati wanita-wanita yang memandangku bagai singa yang memandang mangsanya.
Ia tersenyum. "Apa maksudmu?" tanyanya berpura-pura.
"Kau tahu dengan jelas maksudku," balasku.
"Ditambah denganmu, jari tanganku tak cukup untuk menghitungnya."
Aku menatapnya sesaat. "Funny Malfoy."
Baru saja kami akan keluar dari ballroom ini, langkah Draco terhenti oleh tamu lainnya. "Hallo Draco Malfoy."
"Hey Hans."
Aku hanya meliriknya kemudian mengedik dan keluar dari ruangan ini. Ia menatapku kemudian kembali menatap kepada pria yang ia panggil Hans itu. Aku melihat keraguan di tatapannya, antara tetap ingin bersamaku atau bersama pria yang aku taksir merupakan orang penting yang dapat menyokong masa depan perusahaannya. Tak lagi menunggu Draco, aku keluar menuju balkon ballroom. Aku berdiri di sudut balkon yang jauh dari sorotan banyak mata. Hawa New York di Februari masih sangat menggigit walaupun sudah tak ada lagi salju yang menyambangi. Aku melihat lanskap kota ini yang bersatu dengan kerlap-kerlip lampu malam. Sesekali aku mengintip ke dalam hanya untuk sekadar ingin tahu. Nikki sedang tertawa bersama beberapa karyawan hotel ini sementara aku tak lagi melihat penampakan dari Luca. Mungkin ia benar-benar bukan sosok yang dapat diandalkan dalam acara seperti ini.
"Kau bisa hipotermia dicuaca 2 derajat celcius seperti ini," ujar Draco yang memakaikan aku mantel dari belakang dan ikut berdiri di sampingku saat ini.
"Aku pernah merasakan yang lebih buruk," ujarku perlan yang kuyakin ia tak mendengarnya.
Ia menatap lurus lanskap kota ini bersamaku sambil menuangkan isi dari botol yang dibawanya ke dalam gelas yang baru saja ia berikan kepadaku. "Very prepare," ucapku yang disambut dengan senyum tipisnya lalu secara perlahan ia menyesap isi dari gelasnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya tanpa menatapku.
Tatapannya masih lurus menuju malam kota ini sambil sesekali ia menyesap isi gelasnya. "Tak ada."
Kini aku yang penasaran tentang apa yang sebenarnya ia pikirkan sekarang. Ia tengah berdiri di balkon ballroom di acara Inauguration Party-nya bersamaku, apa ia tak takut rumor buruk akan menyebar tentang dirinya. "Kau tak takut orang-orang melihat ke arah sini?" tanyaku tanpa berpikir panjang lebar lagi.
Ia menggeleng dan hanya mengisyaratkanku untuk melihat ke arah pintu dari balkon ini. Rahangku seakan ingin jatuh dari tempatnya saat melihat pintu itu telah tertutup dan jendela-jendela itu juga telah terhalangi oleh tirai. Aku menatapnya tak percaya dan ia hanya menyeringai. Draco Malfoy sedikit membungkuk untuk kemudian berbisik padaku. "Restricted area."
Aku semakin memandangnya tak percaya. "Bagaimana mungkin?" tanyaku yang masih belum dapat menutupi keterkejutanku.
Seringaian masih terpancar di wajahnya. "I own this place," ucapnya lalu kembali menyesap wine di tangannya.
Aku akhirnya diam karena tahu bahwa dia akan memiliki banyak argumen untuk menyanggahku. Kusesap kembali wine yang ia tuangkan kepadaku dan sesekali mengusap lengan atasku saat angin bertiup dengan seenaknya. Ada sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku mengenai dirinya, tapi tak sanggup aku keluarkan. Dan aku memilih untuk menghabiskan sisa wine yang berada di dasar gelas ini untuk kemudian meletakkannya di pinggir balkon ini. Kali ini ia ikut meletakkan gelasnya di pinggir balkon ini lalu menatapku. "Apa yang kau pikirkan saat ini, Miss Granger?" tanyanya padaku.
Alisku berkerut saat akhirnya aku memutuskan untuk menatapnya. "Aku tahu kau tengah berpikir sesuatu tentangku. Tanyakan sekarang atau kau tak akan pernah mendapatkan jawabannya selamanya."
Aku tertawa mendengar dirinya yang tetiba berubah menjadi seorang cenayang. "Aku serius," tambahnya lagi.
"Baiklah," ujarku.
"Kenapa kau membeli hotel ini?" tanyaku langsung kepadanya.
Matanya mengerling kepadaku. Serigaian itu muncul kembali dan ia mengusap sesaat dagunya yang terlihat bersih setelah bercukur. "Karena The Regency memiliki potensi yang besar dan sangat sayang bila jatuh di tangan yang salah."
"Jadi, kau merasa Malfoy Group merupakan tangan yang tepat untuk menangani hotel ini?" tanyaku kembali.
Ia menatapku sesaat lalu mengangguk. "Kau dapat melihat hasilnya, bukan?"
Aku tahu ia tengah menyombongkan properti milik Malfoy Group yang tersebar di berbagai negara. Aku juga tahu bahwa tak ada satupn hotel miliknya yang tak sukses dan di bawah standard perhotelan dunia. Aku masih menatapnya begitu juga dengan dirinya. "Ada alasan lain lagi karena kau adalah pesaing terkahir yang datang untuk membeli The Regency?" tanyaku lagi padanya
Rasa penasaran akan hal ini benar-benar berkecamuk di kepalaku. Apakah ada hal lain yang memicu ia membeli hotel ini di menit-menit terakhir? Senyumnya terpulas setelah mendengar pertanyaanku itu. Ia mendekat kepadaku dan menyentuh ujung daguku dengan jarinya. Ia mendekat kepadaku dan mencium bibirku dengan lembut. Sesaat aku terbuai dengan ciumannya namun sesaat kemudian aku mendorongnya. "Ada begitu banyak mata yang dapat melihat tadi, Draco," ujarku yang langsung awas akan keadaan sekitar.
Ia tersenyum. "I told you, this's the restricted area. No one can see us."
Aku menggeleng. "Tapi tingkahmu tak dapat menjawab pertanyaanku," tandasku.
Kali ini ia yang menggeleng. "Tentu, hal tadi dapat menjawab pertanyaanmu dengan mudah, Hermione Granger."
Aku masih menatapnya karena tak tahu arah percakapannya. "Kau alasanku membeli The Regency," ucapnya lugas.
Aku refleks mundur saat mendengarnya. Tak mungkin hal seperti itu dapat terjadi. Apa yang ia pikirkan sampai mengeluarkan jutaan dollar dengan aku sebagai alasannya? Hotel tak sama dengan gaun yang tadi siang ia kirimkan padaku. Ia tak mungkin melakukan hal yang tak masuk akal, bukan?
"I want you since the first time we met in Vegas, Stranger."
Aku menelan ludah saat mendengar kata itu kembali keluar dari mulutnya. Stranger.
"Kau mengacaukan pikiranku sejak saat itu dan tak ada yang pernah mengacaukan pikiranku seperti yang kau lakukan. Dan membeli hotel ini adalah keputusan tepat untuk dapat bersamamu."
Aku masih menatapnya tak percaya. Pikirannya pasti benar-benar kacau. "Kau tak mungkin serius?"
Dia tertawa mendengarku. "Aku tak pernah tak serius dalam melakukan hal apapun di hidupku."
"And I serioulsy wanted you to be mine, Hermione."
Aku menggeleng. "Aku bekerja untukmu dan hal itu sama sekali tidak etis. Aku tak akan mungkin mejadi milikmu," ujarku yang mengalihkan pandangan dari dirinya kepada pemandangan New York di malam hari.
Dia berjalan sedikit untuk kembali berada di sampingku. "Aku memiliki sesuatu yang dapat merubah pikiranmu."
Aku masih tak mau menatapnya saat ia mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya. Dengan sangat penasaran aku kembali melihatnya dan kali ini ia sangat berhasil membuatku terkejut kembali. "Darimana kau.."
Aku tak sanggup melanjutkannya saat ia menyeringai kepadaku. Gelang peninggalan ibuku kini berada padanya. Gelang perak berbentuk sulur-sulur itu terurai indah di tangannya. Aku baru saja ingin mengambilnya, namun ia mundur untuk menghindariku.
"Kau menginginkan benda ini?" tanyanya.
"Itu milikku," jawabku.
"Aku menemukan benda ini dan aku rasa kini telah menjadi milikku."
"Jangan bercanda, Draco. Kembalikan gelang itu padaku."
Ia menggeleng dengan tatapan yang tak pernah lepas dariku. "Be mine and it'll be yours, Stranger."
000
to be continued
How's this chap? Keep leave your review guys. Keep rock and I love you. Thanks!
