A/N: Happy New Year, guys! Hope this you have a wonderful life this year. So please enjoy this chap and I hope you'll find the answer of your question.
I own nothing, I swear to God. I just own the plot. Everything belong to JK Rowling
Chapter Four
Buku ini sudah terlihat terlalu usang dan aku masih terus membuka tutupnya sampai aku tak tahu kapan. Lampu kamarku sudah diredupkan, tapi mataku tetap tak mampu terpejam. Aku gelisah. Tetapi, bukan karena bayang-bayang yang selalu menghantuiku selama ini. Aku gelisah karena pria itu. Pria yang berhasil mengacaukan pikiranku. Ia mengatakan bahwa aku yang mengacaukan pikirannya selama ini, tapi dia nyatanya juga berhasil mengacaukan pikiranku. Kuletakan Wuthering Heights itu dan menarik selimutku. Baru sebentar aku di dalamnya, aku kembali membukanya dan duduk bersandar di tempat tidurku. Pikiranku kembali kepada Draco Malfoy di balkon ballroom tadi.
"Be mine and it'll be yours, Stranger."
Aku masih menatapnya pongo. Mungkin udara dingin sedikit membekukan otaknya. Menatap wajahnya yang serius akupun tertawa dan menggeleng. "I don't do date, Draco Malfoy. Kau tahu hal itu," balasku kembali serius menatapnya.
Kini ia yang tertawa dan ikut menggeleng. "Aku tak memintamu untuk berkencan," ujarnya tenang.
Aku masih memperhatikan dirinya dan menunggu ia untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku memintamu untuk menjadi milikku."
Kuhela napasku sejenak. Lalu dimana letak perbedaanya? Ia masih memandangku dan demi Tuhan aku tak tahu apa yang kini berada di pikirannya. Tatapannya tak lepas dariku meski ia kini kembali menyesap wine di tangannya. "You're distracting me, Granger. Every single time. So, I have to have you. Just be mine," ujarnya lalu mengecup lembut pipiku.
Ia mengusapnya dengan ibu jarinya kemudian menyeringai. "Aku harus kembali ke dalam. Pikirkan tentang hal ini, Granger."
Lalu ia kembali ke dalam sementara aku masih terpana dengan kepergiannya. Tak lama setelah ia kembali ke dalam, tirai yang tadi menutupi balkon ini terbuka dan aku melihat Nikki melambai kepadaku.
Kali ini aku benar-benar meletakkan Wuthering Heights itu dan mematikan lampuku. Semoga kali ini aku benar-benar dapat memejamkan mata.
000
Hotel sudah ramai sejak pagi tadi, dari House Keeping Department, Banquet Department, sampai Restaurant. Kedatangan tamu VIP bukanlah hal yang baru bagi hotel ini, tetapi kedatangan 300 orang tamu VIP delegasi dari satu negara benar-benar membuat semua karyawan menjadi gila. Aku sudah berada di hotel ini sejak pukul 6 pagi untuk kembali memeriksa ruang pertemuan, kamar-kamar yang mereka gunakan, sampai makanan yang akan disajikan sejak coffee break hingga makan malam nanti. Saat aku rasa semua sudah aman terkendali, aku kembali ke ruanganku dan memulai semua pekerjaanku. Ada beberapa berkas yang harus kuperiksa dan jadwal dari Nikki yang harus kulihat untuk kegiatanku besok.
Sebuah chat masuk yang menyampaikan bahwa tamu-tamu itu sudah berada di dalam ruang pertemuan dan acara mereka segera digelar. Beberapa direktur sudah datang untuk menjamu para tamu atau hanya untuk sekadar menampakan wajah agar dikenal dan memiliki banyak koneksi. Dari pantauan Nikki yang kini mungkin sedang berada di dekat ruang pertemuan itu, Draco Malfoy sama sekali tak menampakan wajahnya. Mungkin dia bukan seperti kebanyakan orang yang akan menjilat para pejabat demi kelangsungan hidup hotelnya.
Lewat tengah hari saat para delegasi itu akan makan siang aku turun ke ballroom yang seketika disulap menjadi restaurant bintang lima untuk menyapa dan melihat suasana yang ada disana. Suara dentingan garpu serta sendok dan mungkin juga pisau yang beradu dengan piring terdengar di seluruh penjuru ruangan ini. Tamu-tamu itu tengah menikmati hidangan yang beberapa minggu lalu telah Luca presentasikan kepadaku dan aku benar-benar menyukainya.
"Hello, Señor," sapaku pada Albert pria dari konsulat yang telah berkorespondensi denganku sebelum acara ini diadakan.
Ia menengadah dan mendapatiku lalu tersenyum setelah menyeka bibirnya dengan serbet. "Hello, Miss Granger."
"Bagaimana makan siangnya?" tanyaku setelah menjabat tangannya.
Ia tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Enak sekali. Apakah chef kalian berdarah Spanyol?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Sayang sekali Chef Luca berdarah Italia," jawabku.
"Dia pasti chef yang hebat sampai bisa memasak dengan rasa seautentik ini."
Aku hanya tersenyum lalu mengundurkan diri dari hadapannya. Beberapa kali aku menyapa para delegasi negara ini dan mendengar kepuasaan mereka atas tempat dan makanan dari The Regency. Baru saja aku akan keluar dari ruangan ini, sosok pemimpin baru hotel ini menampakan batang hidungnya dengan Pierce yang selalu mengekorinya. Ia berjalan ke arahku lalu sedikit menyunggingkan senyumnya. "Kau datang," ujarku.
"Kau merindukanku?" tanyanya sangat pelan.
Aku mengedik. "Permisi, Mister Malfoy," lalu berjalan menjauh dari dirinya yang kini terdengar tengah bercengkrama dengan salah satu delegasi itu dengan menggunakan bahasa Spanyol yang terdengar sangat lancar. Draco Malfoy dan semua keahliannya.
Menjelang sore hari para delegasi itu sudah berada di kamar mereka masing-masing, sementara aku juga baru saja selesai meeting dengan beberapa klien di restaurant saat Luca terlihat keluar dari dapurnya. Ia melihatku kemudian melambaikan tangannya. Aku menghampirinya untuk sekadar berterima kasih atas makan siang yang dipuji semua orang itu.
"Kau tahu aku genius, Madam," kekehnya.
Kami berdiri di beranda balkon restaurant ini dan aku mengangguk-angguk untuk mengiyakan perkataan Luca di hadapanku. "Kau sibuk?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Hampir semua kegiatanku sudah selesai," jawabku yang disambut dengan anggukan olehnya.
"Tunggu disini," ujarnya yang langsung masuk kembali dan aku melihat dia berjalan ke arah dapurnya.
Beberapa saat kemudian ia kembali dengan sebuah gelas cantik di tangannya dan dua buah sendok kecil di tangannya yang lain. Ia menyodorkan gelas itu padaku. Aku mengernyitkan alis dan harum dari makanan di tangganya kini menyeruak di penciumanku. "Tiramisu in cup?" tanyaku yang disambut dengan anggukan olehnya.
"Cobalah," ia menyodorkan sendok kecil yang dipegangnya.
Sensasi mascapone dan lady finger serta pahit kopi yang melumer di mulutku benar-benar lezat dan aku mengangguk-angguk karenanya. "Delicious, huh?"
"You're genius," pujiku dan kami tertawa.
Ia ikut menyendok isi dari gelasnya dengan obrolan-obralan kecil antara kami. Obrolan itu terintrupsi dengan suara dehaman dari belakangku. "Mister Malfoy," sapa Luca.
Aku berbalik dan mendapatkan sosok itu tengah menatapku intens. "Chef Dimarco, Miss Granger," ia berbalik sapa.
Aku hanya mengangguk untuk membalasnya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih atas makan siang hari ini untuk para delegasi tadi," ujarnya.
Luca tersenyum. "Miss Granger juga sudah mengucapkan hal itu padaku tadi. Sudah menjadi pekerjaanku, Sir."
Draco mengangguk. "Apa aku mengganggu kalian?"
Kali ini aku yang membuka suara. "Ada yang bisa kubantu, Sir?"
Ia kembali menatapku. Aku dapat melihat kilatan di matanya dan itu bukanlah pertanda bagus bagiku. "Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
Aku menatap Luca dan ia menjentikan sebelah alisnya. "Thanks for the desert, Chef."
"You're most welcome, Hermione."
"Permisi, Chef," ucap Draco yang memimpin jalan keluar dari restaurant ini.
Lagi-lagi aku terjebak bersama Draco Malfoy di lift dengan ia yang tak mengeluarkan satu patah katapun. Kami keluar di lantai 7 dan aku masih tak tahu ia akan membawa diriku kemana. "Sore, Sir. Miss Granger," sapa beberapa house keeper yang baru saja keluar dari kamar-kamar di lorong ini.
"Apa hubunganmu dengan Dimarco," tanyanya yang masih berjalan di depanku.
Alisku berkerut. "Aku pernah mengatakan padamu bahwa kami berteman."
"Caranya menatap dirimu, bukan tatapan seorang teman, Granger."
Aku menghela napas di belakangnya. "Walaupun kami memiliki hubungan itu bukan urusanmu, Mister Malfoy."
Langkahnya terhenti dan dia berbalik menatapku. Tatapannya dapat membuat napasku tercekat sesaat, namun aku tetap menatapnya karena tak ada alasan untuk takut kepadanya. "Tentu itu urusanku," tanpa perlu menungguku untuk meresponnya ia menarik tanganku sambil mengeluarkan keycard dari sakunya dan membuka salah satu kamar di lorong ini.
Begitu kami sudah berada di salah satu kamar di hotel ini, ia mendorongku ke dinding tepat di samping pintu kamar ini. Deru napasnya benar-benar terasa di kulit wajahku. "Katakan kalau kau tak memiliki hubungan apapun dengan Dimarco," desisnya.
"Draco," aku hanya sanggup mengucapkan hal itu karena sesaat kemudian aku sudah merasakan bibirnya telah berada di bibirku dengan sangat tergesa-gesa.
Satu tangannya memegang kepalaku dengan tangan lainnya sibuk meremas bokongku. Lidahnya melesak masuk dan membuatku tak sanggup bernapas seketika. "Katakan kalau kau tak memiliki hubungan dengannya, Granger," ucapnya sambil menelusuri leherku.
Aku dapat merasakan hangat dari bibir dan lidahnya di kulitku. Napasku menderu semakin kencang saat tangannya ikut menelusuri seluruh tubuhku. "Granger."
Suaranya membuatku sedikit kembali pada realita dan aku menggeleng. "Tidak. Aku tak memiliki hubungan dengan Luca."
Aku dapat merasakan senyuman di wajahnya sebelum aku merasakan ia telah membawaku atau lebih tepatnya mendorongku ke ranjang kamar ini. Aku terhempas disana sementara ia berada tepat di atasku dengan seringaian di wajahku. "Great," ujarnya lalu kembali menunduk untuk menciumku.
Kutarik dasinya hingga ia berada tepat di hadapanku. "You're crazy, Malfoy."
"Thanks to you."
Lalu dengan cepat dia membuka blazerku dan melemparkannya entah ke sudut mana ruangan ini. Beberapa kancing kemejaku sudah terbuka dan begitu juga dengannya. Aku mendesah saat bibirnya sudah berada di dadaku. Aku pernah merasakan sensasi ini Vegas dan demi apapun aku ingin sekali mengulangi pengalaman itu. Dia telah berada di antara diriku dengan kedua kakiku yang sudah melingkarinya. Bibirnya masih berada di leherku dan aku benar-benar tak sanggup lagi menolak dirinya. Harum serta hangat tubuhnya membuatku gila. Malfoy is my private drugs.
"Do it, Draco," desahku saat ia menggigit lembut puncak dadaku dan aku langsung menggengam rambutnnya.
Sesaat kemudian aku tak lagi merasakan dirinya di tubuhku. Ia bangkit dengan senyuman di wajahnya. Aku menatapnya penuh tanya sementara ia hanya menggeleng. "Kita tak akan melakukan hal ini di hotelku."
Aku menatapnya tak percaya dan kesal dan semua perasaan yang bercampur aduk. Aku ikut bangkit dan mendorongnya untuk menyingkir dari hadapanku. Aku masih diam sambil memungut blazer yang dengan seenak jidatnya dibuang begitu saja lalu mengancing kembali kemejaku. Aku tahu bahwa ia juga sedang merapihkan dirinya. Rambutnya betul-betul berantakan akibat kegiatan singkat kami di ranjang tadi. Aku berdiri menatap cermin sambil terus berusaha untuk merapihkan diri dengan terus berharap agar diriku tak meledak karena Draco Malfoy telah bermain-main dengan libidoku seenak hatinya.
Tetiba saja ia memelukku dari belakang sambil mendaratkan kecupan di leherku yang membuatku sedikit terkejut. "I know you want me too, Granger. Say that you'll be mine."
Aku berdiri tanpa sedikitpun menggerakan tubuhku untuk meresponnya. Tatapan kami bertemu di cermin dengan tangannya yang melingkarnya nyaman di perutku. "Fine. But I'm not your lover," ucapku setelah menghela napas.
Senyumnya mengembang. "Alright, we're not lovers. Just say that I'm your fuck buddy."
Kalimatnya menggelitikku dan aku tertawa karenanya. "Kau cantik saat tertawa," ucapnya yang membuat tawaku terhenti.
Kulepaskan pelukannya dan memakai sepatuku kembali. "Datanglah ke rumahku besok malam dan habiskan akhir pekanmu bersamaku."
"Text me your address."
Dia menggeleng. "Pierce akan menjemputmu dari kantor"
Aku menatapnya dan ikut menggeleng. "Aku punya mobil dan aku akan berkendara ke rumahmu."
"I'm very protective with my property," ujarnya sambil mengelus pipiku.
Aku tertawa sarkastik mendengarnya. "I'm your property now, huh?"
Ia mengangguk sambil terus menatapku. Ia mengeluarkan iPhone-nya dan aku tahu bahwa ia tengah menelepon Pierce. "Bereskan kamar 704 dan CCTV yang ada di sekitarnya," seperti sebelumnya pula ia menutup telepon itu yang kuyakini sebelum Pierce mampu meresponnya.
"Apakah Pierce semacam pembersih semua dosamu?"
"Semacam itu," balasnya yang menunduk dan mengecupku untuk kemudian mengelusnya dengan ibu jarinya.
Ia berjalan ke ambang pintu. "Keluarlah setelah lima menit," ia lalu keluar dan menghilang dari pandanganku.
000
Hujan turun deras di luar sana sementara aku masih mendengar laporan awal bulan dari para manager di ruangan ini. Kadang aku mengutuk Nikki yang suka sekali meletakkan jadwal meeting di sore hari walaupun dengan alasan manager-manager ini baru bisa melakukannya.
Hari sudah benar-benar gelap saat meeting ini usai dan aku berhasil kembali ke ruanganku untuk sekadar meluruskan otot yang keram akibat kegiatanku seharian ini. Kualihkan pandanganku pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku lalu menghela napas. Aku harus menemui Draco Malfoy sekarang.
Ada sebuah ketukan dari balik pintu dan sosok Nikki menyembul dari sana. "Miss Granger," ujarnya.
"Aku kira kau sudah pulang," jawabku saat merapihkan meja.
Ia berjalan mendekat ke arahku. "Tuan Pierce datang untuk menemuimu," ujarnya.
Aku tahu ada nada bingung serta curiga di suaranya. Semua orang satu jagad The Regency tahu siapa Pierce. Pria yang menjadi tangan kanan dari CEO hotel ini kini datang ke ruanganku di saat jam kerja telah usai, apa yang harus aku katakan pada orang-orang?
Kuhela napasku sejenak dan berusaha untuk tak terlihat gugup menghadapi hal ini. "Kau bisa menyuruhnya masuk, Nikki. Dan kau bisa pulang sekarang."
Nikki mengangguk dan menghambur keluar dari ruanganku. Kini Pierce yang berjalan ke arahku dengan setelan lengkapnya seperti biasa. "Miss Granger, aku diperintahkan untuk menjemputmu dan mengantar ke kediaman Mister Malfoy."
"Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku dapat berkendara," balasku.
Pierce menggeleng. "Sayangnya ia memerintahkan hal berbeda kepadaku."
Untuk kesekian kalinya dalam hitungan menit yang berdekatan aku menghela napas. "Baiklah tunggu aku di ruang parkir."
Ia mengangguk. "Aku akan berada di ruang parkir yang biasa kau pakai."
Setelah mengucapkan hal itu dan mengangguk padaku dia meninggalkan ruangan ini. Aku kembali duduk di kursiku dan kembali membereskan apa yang perlu ku bereskan. Saat ini pikiranku dipenuhi oleh wajah dari Draco Malfoy, dari tatapan tajamnya, senyum, sampai seringaiannya. Aku menggeleng untuk menghilangkan dirinya dari pikiranku sekarang karena aku yakin dalam beberapa jam ke depan aku akan sepenuhnya menyerahkan diri kepadanya.
Kuperiksa kembali riasan wajahku dan memakai kembali parfumku sebelum turun menuju ruang parkir itu. Sesampainya disana, Pierce telah berdiri di samping Audi S8 milik Draco. "Aku kira kau akan mengantarku dengan mobilku."
Pierce menggeleng. "Mobilmu akan diurus orang lain," seraya membuka pintu mobil ini dan memintaku untuk menyerahkan kunci mobilku untuk 'diurus orang lain'.
Tak memakan waktu yang lama aku telah sampai di gedung dimana apartemen milik Draco berada. Pierce memimpinku dengan memasukkan empat kode angka pada lift-nya. Sangat eksklusif. Kami sampai di lantai tempat Draco bertempat tinggal. "Silahkan Miss Granger," ujar Pierce yang mempersilahkan aku untuk masuk.
Tatapanku langsung mencari keberdaan pria itu namun tak menemukannya. "Mister Malfoy berada di lantai 2. Kau dapat menemuinya disana."
Mataku langsung mencari keberadaan tangga di penthouse ini dan meninggalkan Pierce yang terlihat pergi ke sisi lain lantai ini. Langkahku terhenti di anak tangga teratas saat mendapati Draco Malfoy tengah berdiri di hadapan kaca yang super besar yang seakan menjadi dinding di satu sisi penthouse ini. Tak ada setelan lengkap yang biasa kutemui, hanya kemeja putih yang telah di gulung sampai sikunya dengan trouser bewarna hitam. Ia sedang menelepon, setidaknya hal itulah yang terlihat olehku. Aku masih menunggunya di tempatku berdiri sampai ia menyadari keberadaanku. Saat pandangannya jatuh padaku ia tersenyum. "Selamat datang, Miss Granger," ujarnya yang dengan tenang menghampiriku.
Draco langsung membantuku membuka jaket yang kupakai dan meletakkannya di atas sofa di ruangan yang kupastikan adalah ruang tengah dari penthouse ini. "Wine?" tanyanya sambil berjalan kepadaku setelah kembali dari dapur dengan sebotol wine dan dua gelas cantik di tangannya.
Aku hanya meangangguk. Kami duduk di salah satu sofa ruangan ini dengan pemandangan kota New York di malam hari di hadapannya. Ia telah memberikan gelas berisi wine itu kepadaku dan aku sudah menyesap separuh isinya dengan ia yang tak lepas memandangku. "Kau tampak tegang," ucapnya.
Aku tertawa mendengarnya. "Aku tak pernah berada di situasi seperti ini," jawabku dan kembali menyesap habis wine di tangan.
Kali ini ia yang tertawa. "Situasi kau mengujungi rumah seorang pria? Kau harus membiasakan diri, Hermione. Karena kau akan melakukannya lebih sering dari yang kau bayangkan."
Mendengar perkataannya, wine yang sudah berada di lambungku seakan ingin keluar lagi dan kusemburkan padanya. Darimana ia mempunyai kepercayaan diri sebesar ini. Draco meletakkan gelasnya lalu menyilangkan kakinya di sofa lain. "Karena kita bukan kekasih, aku akan langsung saja kepadamu. Apakah kau meminum pil birth control?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan.
"Thank God, because I hate condom," balasnya.
Kali ini aku yang ikut menyilangkan kaki seperti yang ia lakukan tadi. Ia menyeringai karena tahu aku sedang melakukan hal yang sama dengannya. Kuletakkan juga gelas tadi lalu bertanya kepadanya. "Lalu apakah kau bersih dari berbagai penyakit?"
"Tak perlu kau ragukan. Pierce akan memberikan salinan riwayat kesehatanku padamu jika diperlukan."
Aku tersenyum mendengarnya. "Kau sudah makan?"
"Kita bukan kekasih, jadi kau tak perlu menanyakan hal itu padaku," balasku.
Seringaian itu muncul di wajahnya lalu ia bangkit untuk duduk tepat di sampingku. Ia membelai lembut pipiku. "Memang bukan, tapi aku perlu kau kuat untuk bisa bersamaku," ucapnya yang langsung menunduk untuk menciumku.
Ia menangkup wajahku dengan kedua tanggannya dan sekejap saja tubuhku melemas di setiap sentuhannya. Ia melepaskan diriku dan menatapku lekat-lekat. "Your smell is so good as always," ujarnya lalu mengecup leherku dan kali ini ia benar-benar bangkit dari sofa ini.
Ia menjulurkan tanggannya padaku. "Ayo."
Kuambil tangannya dan ia menggenggam tanganku untuk menuntunku ke kamarnya. Aku memerhatikan tangan kami yang bertaut. Belum ada satupun pria di dunia ini yang kubiarkan untuk menggenggamku seperti ini. Hangat dan sangat protektif. Kami sampai di kamar utama yang terletak di ujung lorong lantai tiga penthouse ini. Sebuah pintu ganda bewarna putih telah menyambut diriku dengan Draco. Kami disambut dengan kingsize bed dengan kamar yang sangat besar. Aku tak tahu bahwa seseorang membutuhkan kamar pribadi sebesar ini di hidupnya. Tak ada kata yang keluar dari mulutku atau Draco. Hal yang tersisa hanya helaan napas lembut milikku dan dirinnya. Kami saling berhadapan dengan Draco yang memegang ujung daguku dalam diam. Kemudian ia menyelipkan rambut ikalku ke balik telinga. "You're the most beautiful woman I've ever met," ucapnya lembut yang hampir terdengar seperti bisikan sementara aku tak mampu menjawabnya.
Keberadaannya di hadapanku benar-benar sudah melumpuhkan saraf dan otakku. "We're gonna fuck slowly, passionately. Untill you beg me for more, Hermione."
Setelah kalimat erotis yang keluar dari mulutnya, tangan Draco mulai membuka setiap kancing yang berada di blouse putih yang kukenakan dengan bibir lembutnya yang mengikuti. Dia melepaskan rokku dan kini aku hanya menggunakan bra dan celana dalam serta sangat terekpos di hadapannya. "Cantik sekali," ucapnya lalu mendorongku perlahan hingga aku terjatuh di ranjangnya.
Aku hanya memerhatikan dirinya saat Draco mulai melepaskan satu persatu baju yang terpasang di tubuhnya. Baru kali ini aku menyadari betapa indah tubuhnya. Perut serta dada bidangnya membuatku ingin melompat ke arahnya tanpa berpikir panjang. Aku menelan ludah saat ia berdiri di hadapanku tanpa sehelai benangpun. Perlahan ia menaiki ranjang ini dan wajah kami hanya berjarak beberapa centi. "Are you ready, Hermione?"
"Yes," jawabku.
Ia menyeringai dan mulai menciumku. Wajah, leher, tulang selangkaku, dan bermain-main dengan puncak dadaku. Tanganku meremas lembut rambutnya saat ia menggigit area-area sensitifku yang kini tak lagi terhalang bahkan dengan pakaian dalam sekalipun. Suara-suara lenguhan keluar dari mulutku saat ia berada di bagian bawah tubuhku. Aku merasakan lidahnya membakarku. "Draco," desisku.
"Not yet," balasnya yang sekilas memandangku dari bawah.
Aku tahu ia menyeringai mendengar aku memohon kepadanya. Dan saat ini aku benar-benar merasakan bahwa ia tengah mengeksplorasi setiap jengkal tubuhku. "Oh God, Draco," desahku saat ia menggodaku dengan lidahnya.
Kutarik lehernya dan aku berusaha membalikan keadaan dengan membuat ia berada di bawahku, namun dengan sangat tanggap ia menahan tanganku. "No, Granger. I told you I'll make you beg me for more," ujarnya dengan nada seduktif tepat di wajahku.
Aku menghela putus asa. "I want you."
Ia mengangguk. "I know," jawabnya.
"I want you inside me now, Draco. Please," ujarku.
Ia tersenyum kemudian langsung mengangkangiku. Ia menarik kakiku dan meletakkannya di pundaknya. Diciumnya sesaat lalu ia menyeringai kembali padaku. "As you wish."
Dalam satu gerakan lembut ia sudah berada di dalamku. Gerakannya sangat perlahan dan lembut jauh berbeda saat pertama kami melakukannya di Vegas dulu. Tak ada kesan tergesa-gesa. Dia benar-benar membuktikan kata-katanya tadi bahwa ia akan bercinta dengan sangat lembut malam ini. Tatapannya tak lepas dari diriku dan aku selalu menghindarinya. Seumur hidupku aku tak pernah berhubungan intim seperti ini dengan lelaki manapun. "Tatapan mataku, Hermione," ujarnya dengan desahan dan dengan ritme gerakan yang sama dan secara perlahan membuatku gila untuk meminta lebih.
Kualihkan perhatiannya dengan mengalungkan tanganku dilehernya dan menarik Draco untuk menciumnya. "Harder," bisikku.
Ia hanya tersenyum dan mengabulkan permintaanku. "Come, Hermione," ucapnya saat ia merasa sudah waktunya.
Kami mencapai puncaknya di saat yang hampir bersamaan. Draco menjatuhkan tubuhnya di atasku. Napasnya menderu lalu kembali menatapku yang juga sudah berpeluh keringat. "Thank you," ucapnya untuk kembali mengecupku dengan lembut.
Aku terkekeh dan mendorongnya. "Ready for another round?" godaku yang disambut hangat olehnya.
"Till we die," balasnya yang kembali
Kami bercinta hampir semalaman. Dia di atasku, aku di atasnya, ia memasuki dari belakang, dari ranjang sampai sofa di kamarnya. Kami seakan menggila dengan tubuh satu sama lain sebelum akhirnya tertidur.
000
Aku dapat merasakan seseorang mendekap tubuhku dari belakang karena aku masih setengah mengantuk. Mungkin itu Mum yang sudah pulang dari kantornya pikirku. Tetapi, sesaat kemudian aku tersentak karena aroma yang menyengat di penciumanku. Aroma alkohol itu terasa membakar hidungku. Aku langsung meronta saat tangan yang terasa sangat dingin itu mulai menjelajahi kakiku yang tak tertutupi selimut.
Aku berteriak sekuatnya sementara pria itu berjalan gontai ke arahku. "Kemari, little sunshine. Kau benar-benar cantik seperti ucapan Stefan yang selalu memuji puterinya."
Aku tersudut saat itu dan berdoa agar pria mabuk di hadapanku ini tersandung lalu mati. Doa itu memang tak terkabul, tapi setidaknya aku tertolong karena Dad membuka kamarku di waktu yang tepat. "Apa yang kau lakukan, Patrick!" teriaknya.
"Hanya bermain-main," ujar kawan Dad itu.
Dad langsung menghampirinya dan menghajarnya hingga babak belur sehingga ia pontang-panting keluar dari kamarku. Aku menatap Dad dan bersyukur akan keberdaannya, namun aku salah. Mata merahnya menatapku ganas. "Kau menggodanya, Hermione?" teriaknya padaku.
Aku beringsut ke sudut ruangan kamarku dengan terus menggeleng. "Tidak. Ia masuk ke kamarku lalu mendekapku dengan liar," ucapku dengan bergetar.
"Tidak mungkin! Kau pasti menggodanya, pelacur kecil!"
Dan dalam satu gerakan ia menarik rambutku dan menyeretku ke kamar mandi. "Mati saja kau disana," dengan sekali dorong aku terjerembab di samping bathtub.
Ia menutup pintu itu dengan satu bantingan dan mengunciku disana.
Aku terbangun dan langsung meloncat dari ranjang saat mendapati sebuah tangan memelukku dari belakang. Keringatku bercucuran dan jantungku berdetak dengan sangat cepat. Kucoba untuk menghela napas perlahan dan mengatakan pada diriku bahwa pria itu adalah Draco Malfoy.
Kuambil kemeja putih miliknya yang berserak di lantai dan mengenakannya untuk turun menuju dapur penthouse ini. Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi saat aku berusaha mencari obat penenangku di tas yang tak kunjung kutemukan. Aku hanya terduduk di sofa lantai 2 dengan tangan yang masih bergetar akibat mimpi tadi sambil berusaha menyesap wine agar sedikit menenangkanku.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Draco yang menatapku dengan bertelanjang dada.
Aku tak ingin menatapnya. Aku tak ingin ia mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku tak ingin ia mengetahui semua mimpi burukku yang menjadi kelemahan terbesarku. "Hermione."
"Aku hanya tak bisa tidur," jawabku yang kembali menyesap wine dengan tangan yang masih bergetar.
Aku tahu ia menatap tanganku dan aku siap bila Draco tak lagi ingin bertemu denganku karena menganggap aku aneh. Tanpa berbicara ia duduk di sampingku. "Kau bermimpi buruk lagi?" tanyanya.
"Bukan urusanmu," balasku cepat.
Tangannya lagsung memegang tangangku saat aku akan membawa gelas wine itu ke mulutku. Ia mengambil gelas itu dan meletakannya di meja. Akhirnya aku berani menatapnya. Ia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Hangat.
"Lepaskan aku, Draco," ujarku saat ia mendekap tubuhku dengan erat.
Ia menggeleng. "Mulai sekarang kau harus melepaskan diri dari obat penenangmu dan alkohol saat mimpi-mimpi itu datang. Kau memilikiku sekarang, Hermione."
Aku terdiam saat mendengarnya.
"Kau memilikiku, Hermione."
000
to be continued
How's this chap? I hope you like it and please leave me your thought:))
And btw, I have a problem. Saya tidak bisa membaca review dari situs fanfiction ini. Pada icon review di sudut cerita sudah ada perubahan jumlah review, tapi saya tidak bisa membaca review baru itu terhitung sejak tanggal 28 Dec. Saya sudah mengirim email ke fanfiction namun belum ada tanggapan. Mohon bantu saya bagi yang tahu akan masalah seperti ini. Terima kasih (sorry for the babbling, just ignoring it if this annoys you hehe)
And for mrs. delacour: semangat untuk uasnya:))
ch09: Yes, I'm love with reading and I have the tons of books in my house. The latest book I read is Me Before You by Jojo Moyes published in 2012 but I just knew this book a couple days ago. I suggest you to read that, because that was really great. I cry over the river for Will Traynor (oh my God poor that man). Thank you for leave the review:)
Once again, please leave your review, because you're my mood booster (of course after my boys and my man hehe).
Thank you
