Everything belong to JK Rowling unless the plot, Pierce, and Nikki

Chapter Five

Hujan baru saja reda saat aku berdiri menyandar pada breakfast tools milik Draco Malfoy ini. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, namun cuaca di luar masih kurang bersahabat. Suhu di bulan Maret masih sekitar 0 sampai 10 derajat celcius di kota ini, memang tidak semenggigit saat February lalu namun tetap saja akan membekukan tulang-belulang bila kita keluar tanpa mengenakan mantel. Suhu dingin di luar sana sama sekali tak terasa di ruangan ini meski aku hanya mengenakan kemeja putih milik Draco yang tergeletak begitu saja di lantai. Terima kasih atas siapapun penemu penghangat ruangan. Aku masih berdiri menatap embun-embun sisa hujan yang menempel di kaca besar ruangan ini dengan menyantap yoghurt yang kutemukan di lemari pendingin milik Malfoy. Saat ia mengatakan bahwa aku harus kuat bila akan bersamanya, aku pastikan bahwa ia tidak bercanda. Perutku sangat keroncongan saat terbangun pagi ini. Setelah mimpi buruk itu kembali dan Draco berusaha menenangkanku, kami kembali bercinta hingga aku seakan lupa dengan semuanya dan jatuh terlelap saking lelahnya. Mungkin aku akan mengatakan pada Harry bahwa aku menemukan hal lain untuk menenangkanku selain obat penenang darinya, yaitu sex with Draco Malfoy.

"Aku kira kau kabur," ujar Draco dari tangga dengan suara parau saat melihatku.

Aku menatapnya lalu menggeleng. "Aku lapar. Aku memakan yoghurtmu," ujarku padanya yang berjalan ke arahku seraya membuka lemari dan menenggak air mineral dari dalamnya.

"Makan apapun yang tersedia," ujarnya yang hanya mengenakan celana pendek dan sweater abu-abu yang aku lihat tergeletak di sofa kamarnya serta rambut yang masih acak-acakan.

Kukedikan bahu dan kembali menyuapkan suapan terakhir yoghurt di tanganku sebelum ia meletakan dagunya di puncak kepalaku. Aku terkejut dibuatnya. Dengan gestur yang sangat nyaman ia melingkarkan tangannya di perutku. "Kau mau mandi?" dengan nada 10 persen mengantuk dan 90 persen lainnya menggoda.

Aku tertawa dan geli di saat yang bersamaan ketika bibirnya menuruni leherku. Aku berbalik badan dan menatap dirinya lalu mengerucutkan bibir. Sedikit berjinjit aku mengecupnya lembut. Kuhela napasku sebelum perlahan kubuka satu per satu kancing kemeja yang kupinjam dari dirinya. Dia hanya memerhatikanku tanpa mengutarakan satu patah katapun. Aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Kulepaskan kemeja itu dan sengaja menjatuhkannya dengan dramatis di sampingku yang langsung mengekspos bagian atas tubuhku. Aku masih tak melepaskan tatapan darinya. Ia masih tak bergerak. "Dimana kamar mandimu?" tanyaku menggodanya.

Sebelum ia sempat menjawab aku mengalihkan pandangan pada tangga yang akan langsung membawaku ke kamar utamanya. "Ah yaa disana," ujarku yang langsung meninggalkannya.

"Little minx," ujarnya saat aku mengintip dari balik pundakku.

Ia berjalan cepat ke arahku dan dalam sekejap ia mengangkatku ke pundaknya yang kusambut dengan tawa. "Kau akan membayarnya beberapa saat lagi," ucapnya kemudian menepuk pantatku dan aku kembali tertawa.

000

Setelah steamy hot shower Draco dan aku yang mungkin menguras separuh tenaga kami di pagi ini, Draco dan aku memutuskan untuk keluar untuk brunch karena melihat waktu untuk sarapan sudah berakhir kira-kira satu jam lalu. Draco mengatakan Stella – pelayan di penthouse itu – selalu membuatkannya sarapan di akhir pekan. Tetapi, mengingat keberadaanku dan kegiatan kami yang dapat dipastikan terdengar di seantero penthouse ini, ia meminta Stella untuk tidak datang pagi ini. Jadilah kami berakhir di Sarabeth's untuk mengisi perut yang berjarak beberapa blok dari penthouse Draco di daerah Madison Avenue. Aku mengenakan kemeja putih berkerah Eton dan flarred skirt bewarna biru tua selutut yang telah berada di kamar Draco setelah kami selesai 'mandi' tadi lengkap dengan stocking hitam dan mantel senada yang membuatku menatap pria itu tak percaya sementara ia hanya melengos untuk berpakaian. Pagi ini Draco memilih untuk duduk di sebuah meja yang langsung menghadap jendela dengan para New Yorker sebagai pemandangannya, ia mengatakan bahwa ini tempat favoritnya. Ia memesan Apple-Cinnamon Frech Toast dan secangkir English Breakfast Tea sementara aku memesan Buttermilk Pancake with Fresh Strawberries dan secangkir kopi.

"Berikan aku nomor rekeningmu," ujarku setelah menyesap kopi dan memasukan potongan strawbery segar ke mulutku.

Ia hanya menatapku dengan tatapan bertanyanya. "Aku tahu brand ini dan tahu seberapa dalam kau merogoh kantongmu untuk satu pasang baju seperti ini."

Draco meletakkan cangkir tehnya dan mendekat padaku. "Bahkan seratus pasang baju seperti ini tak akan membuatku bangkrut. Jadi, simpan saja uangmu."

Aku hanya mendengus dan kembali melanjutkan mengisi perut. Kutatap makanan yang ia pesan dan aku tahu ia melihatnya. Dipotongnya french toast dan apel di piringnya lalu mengarahkannya padaku. "Buka mulutmu," ujarnya sementara aku menggeleng .

"Aku bisa sendiri."

Ia semakin menedekatkan garpu yang sudah berada di ujung mulutku. "Buka, Hermione."

Kubuka mulutku dan rasa garing dari roti serta manis apel dan harum kayu manis bercampur menjadi satu di mulutku. "Aku menyesal memesan makananku," ucapku pelan.

Ia hanya tertawa renyah lalu menukar piringku dengan piringnya. "Itu kesukaannku. Makanlah."

Aku menatapnya pongo sementara ia sudah memasukkan potongan strawberry dengan pancake itu ke mulutnya. Saat kami telah menghabiskan seluruh pesanan tadi, keheningan menyelubungi kami. Mungkin ia sibuk dengan pikirannya serta iPhone yang beberapa saat berada di genggamannya begitupula dengan diriku. Suara yang menghiasi kepalaku hanya dentingan dari alat makan dan percakapan dari sekitar atau suara rintik hujan ketika seseorang masuk ke restaurant ini. Akhirnya ia meletakkan smartphone-nya dan menatapku. "Ada apa, Hermione?"

"Sejak kapan kau menjadi penguntit?"

Dia tersenyum. "So straight to the point, Miss Granger."

"Aku serius, Mister Malfoy."

Dia bersedekap lalu menyeringai padaku. "Sebut saja aku punya Pierce."

Aku masih menatapnya dan menunggu agar ia melanjutkan kalimatnya. "Aku meminta Pierce melacak siapa penghuni kamar dimana kau meninggalkanku lalu menemukan identitasmu dan betapa beruntungnya diriku kau berada di dunia yang sama denganku," ucapnya.

"Lalu?"

"Aku melihat ada potensi besar dalam The Regency, sebagai hotel bintang lima terbesar di New York sangat disayangkan bila aku tak mengambil kesempatan untuk mengambil alihnya. Dan aku mendapatkan dua. The Regency dan dirimu."

Ia menyeringai di akhir kalimatnya dan jantungku seakan ingin loncat dari rongga dada. Ia tahu efek yang dihasilkan dirinya terhadapku. Ia mendekatkan dirinya kepadaku lalu berbisik perlahan. "Let's get back to home. I would like to fuck you all day long."

Wajahku langsung memanas saat mendengar perkataannya. Aku yakin sekarang wajahku sudah berubah semerah udah rebus. Aku melihat ke sekeliling sambil berharap tak ada yang mendengarnya. Setelah ia mengeluarkan kartunya kami keluar dari tempat ini dengan Pierce yang sudah menunggu di luar. "Kami akan berjalan kaki saja," ucap Draco

"Kuharap kau tak lelah berjalan beberapa blok dari sini," ujarnya.

Pierce mengangguk dan memberikan sebuah payung kepada kami. Kami berjalan beriringan di bawah payung dengan rintik hujan yang menghiasi siang ini. "Dingin sekali," ucapnya lalu menarikku untuk kemudian melingkarkan satu tangannya di pinggangku.

Aku menatapnya sementara ia hanya mengedikan bahu dan tersenyum singkat.

000

"Kau pasti bercanda?" ujarku tak percaya melihat figura-figura yang menghiasi bufet dan perapiannya.

Ia hanya berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding sambil bersdekap lalu menggeleng. "Kau pemain futball sekaligus pemenang olimpiade fisika di sekolah menengah atas?"

Ia kembali mengangguk. "Tidak mungkin."

"Percaya padaku, itu sangat mungkin."

"Lalu mengapa kau berakhir di dunia perhotelan."

Ia berjalan dari tempatnya menuju sofa ruang tengahnya. "Setiap kerajaan membutuhkan seorang penerus begitupula dengan Malfoy Group."

Aku tak membalasnya karena tak percaya akan semua ini. "Anggap saja hal ini adalah kompromi terbesar dalam hidupku."

Aku ikut duduk di seberangnya. Sekali lagi aku akan mengatakan hal ini sangat di luar nalarku. Duduk berdua dengan tertawa akan cerita masa lalu seorang pria setelah bercinta tak pernah menjadi bagian dari hidupku. Senyum tipis itu masih berada di wajahnya saat menatapku. "Apa yang kau pikirkan?"

Aku menggeleng. "Kenapa kau selalu bertanya tentang apa yang aku pikirkan?"

"Entahlah. Mungkin karena kau sangat susah untuk kubaca," ucapnya.

"Maksudmu?"

Ia beranjak dari sofanya kepadaku. Ia duduk tepat di sampingku dan memainkan anak rambutku yang terlepas dari ikatannya. "Tak ada wanita yang berpikir dua kali untuk bersamaku. Bahkan mereka menawarkan dirinya padaku saat mengetahui siapa aku sebenarnya. Dan kau Hermione Granger? Aku tak dapat membacamu."

Aku tertawa saat mendengarnya. "Aku memiliki pekerjaan yang mapan, tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang melebihi dari kata layak, serta tabungan untuk hidupku, Draco Malfoy. Kekayaan seseorang bukan alasan utama untuk aku tidur dengannya."

Kudekatkan wajahku padanya untuk merasakan harum napasnya serta derunya yang dapat membakar kulitku perlahan. Kutangkup wajahnya dan melumat lembut bibirnya. "I'm not a gold a digger. The reason I slept with you, because you're my favorites drug now. And I addicted to have sex with you," ucapku lalu kembali mengecup lembut bibirnya.

Sesaat kemudian kulepaskan dan mengusap bibirnya dengan ibu jariku persis seperti yang sering ia lakukan dengan seringaian di wajahku. "My little minx," ujarnya yang membuatku tertawa. Ia mendorongku dan mulai menciumi leherku. Kuberikan akses semudah mungkin padanya karena setiap sentuhannya benar-benar kugilai. Tangannya membuka satu per satu kancing bajuku dan menciumnya dari dada lalu kembali ke leherku. Aku tertawa lalu menangkup wajahnya. "Aku harus memakai turtle neck atau scarves bila kau terus meninggalkan hickey di leherku."

Ia ikut tertawa lalu bangkit dan menarikku untuk kembali duduk bersamanya. Sisa tawa masih berada di wajahnya sebelum ia mengusap lembut pipiku dan aku memejamkan mata untuk menikmati hangat sentuhannya. "Apa yang kau mimpikan semalam?"

Sontak mataku terbuka. "Nothing," jawabku cepat.

"I'm serious."

"You' re really across the boundary, Draco Malfoy," ucapku.

"But that wasn't normal, why are you take an anti-depressant?"

"And now you checking on my pills, Malfoy?"

Aku bangkit lalu menghela napas panjang. Aku tahu cepat atau lambat topik ini akan naik ke permukaan, khususnya melihat dengan siapa aku berbicara.

"Aku peduli padamu," ucapnya cepat.

Aku tertawa sarkastik kepadanya. "Apakah kau selalu peduli pada wanita yang kau tiduri?" tanyaku yang tak dijawabnya.

"Kau lupa bahwa kita bukan sepasang kekasih?"

"Granger."

"Aku harus pergi, Draco."

Aku bergegas naik ke kamarnya dan merapihkan semua barangku selama berakhir pekan disini. Aku berada di ambang lift penthouse-nya lalu menatapnya sesaat. "Sampai jumpa di kantor, Mister Malfoy."

000

Awal pekan merupakan saat tersibuk bagi setiap perusahaan dan hal itu juga berlaku pada duniaku. Pengecekan reservasi kamar, banquet, dan segala macam hal yang dapat membuat nestapa menerpa hidupku dalam sekali waktu. Seseorang dari bagian human resources baru saja keluar dari kantor setelah meminta persetujanku untuk melakukan pemutusan hubunghan kepada Brown. Aku sudah menduga bahwa pria itu bermasalah. Aku tak tahu apalagi yang ada di pikirannya sehingga ia melepaskan dua puluh kamar di bawah batas normal penjualan tanpa persetujan aku atau Director of Sales di departmentnya.

Setelah meeting singkat itu, aku keluar bersama Nikki untuk melakukan kunjungan ke beberapa corporate pemerintah yang sudah menjadi klien kami sejak bertahun-tahun lalu. Hari sudah menjelang sore saat aku akhirnya mendarat empuk di kursiku. Kuperiksa lagi hal-hal yang terlewat dari pemeriksaanku hari ini sebelum mendengar ketukan dari pintuku dengan Nikki yang menyembul di baliknya.

"Ada apa?"

"Mister Brown ingin bertemu denganmu," jawabnya.

Aku hanya mengangguk untuk mempersilahkan pria itu menemuiku. "Selamat sore, Miss Granger," ujar Jhon Brown saat masuk ke ruanganku.

Kuberikan gesture untuk mempersilahakannya duduk. "Ada yang ingin kau diskusikan?" tanyaku saat mendapati dirinya tengah duduk di hadapanku.

Ia membalasku dengan dengusan dan tawa sarkastiknya. "Tak perlu berlagak baik dan tak tahu apa yang aku alami, Granger."

Aku terkejut mendengarnya. Tak ada lagi Miss Granger, di matanya aku Granger sekarang. Aku tersenyum tipis padanya. "HRD sudah memanggilmu?" tanyaku

"Mereka sudah dengan resmi memecatku dan semua itu berkatmu."

Aku menggeleng. "Itu semua berkatmu, Mister Brown. Karena kau pemalas dan inkompeten. Bahkan aku tak tahu apa yang kau pikirkan hingga semua penjualanmu kacau. Kau sama sekali tak memiliki niat bekerja disini."

"Tapi aku seorang manager," bentaknya padaku.

Suaranya sampai membawa Nikki masuk ke ruangan ini. Aku mengisyaratkannya untuk tetap di tempatnya. Mata Brown terlihat buas saat melihatku sementara aku hanya menghelas napas. "Maka bersikaplah sebagai seorang manager."

Aku bangkit dari kursiku. "Bila kau sudah selesai aku akan keluar, ada banyak hal yang harus kukerjakan."

Baru saja aku berada di ambang pintu kantorku, aku mendengar ia mengaum bak singa yang kekurangan makan. "Aku punya keluarga yang harus dihidupi!" teriaknya.

Aku berbalik untuk menatapnya. "Aku tahu itu, oleh karena itu kau memiliki 1 bulan untuk mencari pekerjaan baru dan pesangon untuk kelangsungan hidupmu sementara."

"Kau wanita paling tak berperasaan!"

Aku berhenti menatap pintu kantor dan menahan untuk tak berbalik meledak ke arahnya. "Kau tahu semua orang tak ada yang menyukaimu, Poisonous Bitch! Tak ada satupun yang menginginkanmu di hidupnya!"

"Panggil keamanan, Nikki," ucapku lalu keluar dari ruangan.

Aku sangat sadar saat dia mengkutiku keluar dengan semua amarahnya. "Medusa sialan!" teriaknya lagi.

Kuhela napasku sesaat dan pergi meninggalkan lorong itu namun langkahku terhenti saat melihat Draco berada di lorong ini juga. Ia memperhatikan semua kejadian tadi. Aku mengangguk padanya. "Permisi, Mister Malfoy."

Dia hanya mengangguk dan aku melengos pergi dari hadapannya.

000

Ruanganku sudah gelap saat aku kembali setelah usahaku untuk menenangkan diri di rooftop hotel ini. Aku sudah tak peduli dengan hawa yang menggigit. Aku hanya membutuhkan ruangan terbuka untuk membakar beberapa puntung rokok dan mengalihkan pikiranku. Aku duduk di tepi mejaku setelah meminum sedikit whisky dari lemari penyimpanan di ruanganku. Kata-kata Brown kembali terngiang di pikiranku.

Aku wanita tak berperasaan

Semua orang tak menyukaiku

Tak ada orang yang menginginkanku dalam hidupnya.

Kutenggak whisky ini dan wajah Dad-lah yang terbayang di pikiranku. Ia mengatakan hal yang sama padaku. Apakah semua itu benar? Apakah tak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkan aku di hidupnya? Tanpa sadar air mataku meleleh dan aku tertawa sarkastik karenanya sambil kembali menenggak isi dari gelasku dengan tangan yang bergetar. Screw this feeling!

Pintu kantorku terbuka dan Draco Malfoy berdiri di ambangnya. Ia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku. "Kau menangis dan minum di sore hari," ujarnya yang mengambil gelas itu dari tanganku.

"Karena karyawan tadi?" tanyanya lembut.

Aku tak menjawabnya dan hanya menghela napas sesaat. Aku bangkit dari bersandar pada tepi meja itu dan mengalungkan tanganku pada lehernya. Kuletakkan wajahku di lekuk lehernya dan mencoba untuk membauinya sebagai usahaku yang lain untuk mengalihkan pikiran. Sementara Draco membelai lembut rambutku. Kulepaskan dirinya untuk mencium lembut bibirnya. Kutatap lekat iris kelabunya. "Distract me," bisikku.

"Hermione," ucapnya lembut.

"Distract me, Draco," ujarku di telinganya dengan nada berbisik dan membelai lembut bagian depan celananya.

Dia sedikit tersenyum lalu menciumku. Ciuman itu berawal dengan lembut lalu berubah menjadi liar, ganas dan bergairah. Aku sudah melucuti jas dan dasi miliknya. Ia mendorongku ke tepi meja dan dengan ganasnya menjatuhkan semua benda yang ada di atasnya dan menaikkan aku ke atasnya. Kami tertawa sesaat ketika melihat apa yang kami lakukan. "We're in the office," ucapnya di sela ciumannya di dadaku.

"Don't you dare to sue me for a sexual harassment," tambahnya lagi dengan seringaian di wajahnya.

Aku menggeleng. "Aku akan menganggap ini insentif di awal tahun."

Kami terkekeh dan seketika tubuhku menegang saat ia memasukan jarinya ke tubuhku. "Draco," desahku.

"Feel me, Hermione."

Aku tak dapat berbicara lagi dan hanya memejamkan mataku dengan tangannya yang bermain di dalamku. "Kau siap?"

Aku mengangguk dan dapat merasakan ia memasuki. "Oh God, Draco!"

Ia seakan memompaku dengan gerakannya sementara aku berusaha menyeimbangkan diri agar tak jatuh dari meja ini. Kugenggam rambutnya dengan satu kaki melingkari pinggangnya. Aku hanya melenguh dengan keringat yang mulai mengucur dari tubuh kami berdua meski cuaca di luar masih terlalu dingin. Sex bersama Draco tak akan pernah mengecewakan.

"Come, baby," ucapnya yang lebih terdeagar seperti memerintah.

"God!"

Dan aku menjatuhkan kepala di pundaknya. Aku masih mendengar napasnya yang masih menderu. "Datanglah kepadaku kapanpun yang kau mau," bisiknya.

Aku tak menjawabnya karena masih belum sanggup melepaskan diri darinya. Kakiku masih melingakarinya dengan tangannya yang masih mengusap lembut lengan atasku. Dia sedikit bergerak dan aku menahannya. "Jangan bergerak. Aku masih membutuhkanmu," ucapku yang dengan lembut mencium tengkuknya.

"Miss Granger."

"Hermio.."

Suara itu terhenti saat aku mengalihkan pandangan ke pintu, aku melihat Nikki mematung disana. Wajahnya memerah melihat apa yang aku lakukan, namun siapa yang tak malu saat mendapati atasannya dalam keadaan sepertiku. Setengah telanjang dengan ruangan penuh dengan hawa bercinta.

"Nikki," ucapku turun dari meja yang dibantu Draco dengan tubuhnya yang masih menutup separuh tubuhku yang terbuka.

"Shit!" ujar Draco pelan sebelum melemparkan pandangan pada asisten pribadiku.

Nikki menatap horror ke arah kami. "Holy shit," ucapnya.

"Maaf, Mister Malfoy."

Draco hanya tersenyum pada Nikki. "Tunggu sebentar, Miss..."

"Lewis. Nichole Lewis, Sir."

"Miss Lewis. Aku dan Miss Granger ingin berbicara padamu," ucapnya tenang.

Aku tak percaya saat mendengarnya. Bagaimana ia dapat setenang ini dengan semua yang baru saja terjadi. Aku menyesal bukan kepala karena menggodanya di kantorku dan aku juga merutuki karena Draco tak mengunci kantor ini. Saat aku melihat Nikki menghilang dari balik pintu kuhela napasku dan kujatuhkan kepalaku di bahunya sementara Draco terkekeh. "Berpakaianlah dan kita akan menutup mulutnya."

Beberapa saat kemudian, Nikki sudah berada di hadapakan kami dengan Draco yang duduk di kursiku sementara aku berdiri di sampingnya dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Apa yang dipikirkan Nikki tentangku saat ini? I'm the perfect boss or I was the perfect boss for her.

"Miss Lewis, aku yakin kami tak perlu menjelaskan padamu apa yang terjadi di antara kami tadi."

Nikki hanya mengangguk. "Dan aku juga yakin bahwa kau tak akan mengatakan apapun tentang hal ini kepada siapapun."

Ia kembali mengangguk. "Bagus," ujar Draco.

"Tetapi, bila ada rumor yang tersebar mengenai hubunganku dengan Miss Granger aku tahu siapa yang harus aku cari."

Aku melihat Nikki menelan ludahnya. "Sir, apakah aku dipecat?"

"Aku bukan orang semacam itu, Miss Lewis."

Kelegaan tampak muncul di wajahnya. Saat Nikki pergi dari ruangan ini aku kembali menghela napas. Mungkin sudah kesejuta kalinya aku menghela napas hari ini. Kusanggah kepalaku dengan tanganku dan berusaha untuk tak mengacak-acak rambutku. "Ingatkan aku untuk tak memintamu mengalihkan pikiranku saat kita di kantor."

"Aku tak janji," jawab Draco.

"Ayo pulang," tambahnya lalu meninggalkan aku yang masih berdiri memandangnya tak percaya.

000

New York Times pagi ini benar-benar menyita perhatianku. Tak lain dan tak bukan karena wajah dari Draco Malfoy-lah yang menghiasi profile of the week dengan headline The Bachelor with His New Baby

Draco Abraxas Malfoy (30) atau yang lebih dikenal sebagai Draco Malfoy kini telah menjadi perbincangan hangat di kalangan para hotelier dengan keputusannya untuk mengambil alih The Regency, salah satu hotel terbesar di New York City walaupun ia sudah memiliki cukup banyak properti di bawah naungan Malfoy Group. Pria yang kini menetap di Manhattan, New York ini mengaku harus fokus pada baby-nya, sebutan Draco pada The Regency. Pria kelahiran Wiltshire yang sebelumnya berdomisili di Las Vegas ini mengaku bahwa keputusannya untuk mengakuisisi The Regency adalah keputusan terbaik di dalam sejarah karirnya di dunia perhotelan ini. Ia mengutarakan bahwa The Regency memiliki prospek cerah di masa depan melihat klien dan para pelanggannya. Pria yang sampai saat ini masih melajang walaupun sering sekali tertangkap kamera tengah bersama para wanita, namun ia tak pernah secara gamblang mengungkapkan kisah asmaranya ini mengaku masih terlalu fokus untuk mengurus his new babies di kota ini. Saat ditanyakan siapa lagi yang menjadi kesayangan barunya selain The Regency, Draco Malfoy hanya tersenyum seraya menyilangkan kaki dan bersiap untuk melanjutkan pertanyaan berikutnya.

Aku juga tersenyum saat membacanya his new babies in this city, huh? The Regency dan diriku maksudnya? Namun, kegiatan pagiku terintrupsi oleh Nikki yang sudah berada di hadapanku. "Miss Granger," ujarnya.

"Bisa aku berbicara padamu sekarang?"

Aku mengangguk kepadanya dan Nikki langsung mengambil tempat di hadapanku, tipikal Nikki. Aku menatapanya dan mengisyaratkannya untuk mengutarakan maksud dan tujuannya pagi ini. "Aku tak tahu harus berterima kasih atau justru takut akan hal ini," ujarnya.

Alisku bertaut saat mendengarnya. "Maksudmu?"

"Seseorang dari dealer mobil datang ke rumahku sore kemarin dan Tuan Pierce menelepon lalu mengatakan mobil itu hadiah untukku dan aku tahu untuk apa hal itu," jelasnya.

Draco Malfoy dengan segala kekayaan dan ide-ide gilanya. "Lalu tujuanmu mengatakan hal ini padaku?"

"Holy shit, Miss Granger," dia terkejut sesaat karena mengumpat di hadapanku yang tak kupedulikan.

Nikki terlihat gugup saat melihatku kembali. "Tenanglah," jawabku cepat.

"Maksudku kau, ah bukan maksudku kalian. Kau dan Mister Malfoy tak bermaksud memecatku karena mengetahui bahwa kalian berpacaran, bukan? Dan mobil itu adalah kompensasi atas hal ini."

Kusandarkan tubuhku sejenak dan merutuki kegilaan pria itu. Apa yang ia pikirkan sebenarnya? Menyogok setiap karyawan yang mengetahui hubungannya dengan diriku. "Mungkin kau harus komplen langsung pada Mister Malfoy."

"Oh no, Miss Granger. Aku masih cinta dengan pekerjaanku."

"Nikmatilah jika begitu."

Dia terdiam sesaat lalu kembali menatapku. "Kau yakin tak akan memecatku?"

"Aku yakin kau tak akan membeberkan hal ini."

Ia sangat mengerti akan maksud perkataanku dan pamit undur diri dari hadapanku. Langkahnya terhenti di ambang pintuku. "Kau sangat beruntung, Miss Granger. Bila aku jadi dirimu aku tak akan pernah sedikitpun melepaskannya dari radarku," cerocosnya panjang lebar.

Nikki is back. Ketakutannya tadi seakan sirna seketika digantikan dengan ocehan ceriwisnya. "Really, Nikki? Go," balasku.

Cengirannya merekah. "Sorry," lalu ia menutup pintu itu.

Saat ia sudah menghilang dari pandangan, kuambil iPhone-ku dan mengirimkan pesan pada Draco yang kini sedan berada di antah berantah mengurusi 'anak-anaknya'.

H: Mobil untuk Nikki? Really, Malfoy?

Kutekan tombol send sambil menunggu balasan dari dirinya. Beberapa saat kemudian suara 'ping' terdengar dan aku membukanya.

D: Really, Granger. Aku tahu cara memperlakukan karyawan yang memegang rahasiaku.

Dengan membelikannya mobil? Malfoy sakit jiwa. Kudiamkan pesan itu dan kembali memeriksa kontrak-kontrak yang berada di hadapanku. Ada beberapa kontrak yan terbengkalai belakangan ini dan perlu kukaji ulang dengan sangat teliti. Hampir satu jam kemudian suara 'ping' kembali terdegar dan nama Malfoy menghiasinya.

D: Apa yang sedang kau lakukan?

H: Mencari nafkah

D: Ha ha funny, Granger?

Aku tertawa saat membacanya dan saat ini aku memikirkan bahwa ia pasti ia tengah menyeringai sekarang dan aku rindu untuk melihat hal itu. Kuketik kembali pesan untuknya.

H: Kapan kau kembali?

D: Kau merindukanku?

Damn it! Dia kini dapat membaca pikiranku meski dalam jarak jauh sekalipun. Dimana semua perkatannya bahwa ia tak dapat sama sekali membaca pikiraku? Kubalas kembali pesannya dan kembali hanyut ke dalam pekerjaanku.

H: You wish, Mister Malfoy

000

Sudah lebih dari seminggu jika aku tak salah menghitungnya. Sudah lebih dari satu minggu Draco Malfoy menghilang dari radarku. Aku tertawa saat menggunakan kata radar ala Nikki. Terakhir kali aku mendengar ia masih berada di Vegas, entah sekarang ia berada dimana.

Hujan masih turun di luar sana. Tak lebat memang namun tak juga hanya rintik belaka. Aku duduk di meja yang sama dengan pemandangan yang sama serta menu yang sama pula seperti pertama kali Malfoy mengajakku kesini. Apple-Cinnamon French Toast. Terbangun di pagi akhir pekan membuat ideku muncul untuk berkendara ke tempat ini serta memesan dengan apa yang ia pesan saat itu. Entah apa yang ada di pikiranku, tapi aku merindukan kehadirannya. Merindukan seringaian dan tatapan kelabu tajamnya. Kuhela napasku dan memotong kembali roti dan apel di hadapanku sebelum memasukannya ke mulut. Suara hujan di luar kembali terdengar saat seseorang memasuki tempat ini dan aku tak memedulikannya. Namun, sesaat kemudian aku menengadah karena kehadiran sosok yang berdiri tepat di sampingku. Seringaiannya mengembang dan ia menarik kursi untuk duduk di sampingku.

"Apple-Cinnamon French Toast," ujarnya yang kujawab dengan anggukan tak percaya.

Ia berada disini. Di sampingku. Aku baru saja memikirkannya dan ia kini berada di samping. That's tottaly insane.

Diambilnya potongan roti itu dengan tangannya dan menyuapkan ke mulutnya dengan tatapan yang tak lepas dariku. "Kesukaanku," ujarnya dan aku kembali mengangguk kali ini dengan senyuman.

"Kau pasti sangat merindukanku."

Senyumku masih mengembang. "Yes," ujarku yang langsung mengecup lembut bibirnya.

"Yes, Malfoy."

000

to be continued

Hey. how's this chap? I hope you like it. And for the typos, yeah I'm sorry for a thousand times hehe. And for some of you who ask me in review or private message why I keep writing about New York, first I've lived in New York for a year when I was a student exchange in high school. Second, my brother lives in that city so I constantly visit him. And third, I'm in love with this city over and over. I like to write the things that I do really know, so New York is the best place that I choose to every fanfict that I made. I hope I can write about Jakarta, but it's gonna be weird if they, I mean Draco and Hermione live here hehe. Btw, sorry for babbling.

Please leave your thoughts in my review and see you in next chap. Thank You!