All characters belong to JK Rowling, unless the plot

Chapter Six

Mungkin salah satu syarat untuk memiliki izin membuka praktek sebagai psikiater adalam memiliki aroma terapi di dalam ruangannya. Sejak aku dulu hingga sekarang, setiap ruangan praktek yang aku datangi pastilah memiliki harum yang serupa. Untuk proses relaksasi begitulah kata Harry. Aku sudah 10 menit berada di ruangan ini menunggu Harry yang baru saja berpamitan dengan pasiennya yang lain. Asistennya lebih memilih menghidangkan peppermint tea dibandingkan dengan secangkir kopi yang lebih kubutuhkannya sekarang. Harry's order, kira-kira seperti itulah ujar dari asistennya saat aku meminta untuk segelas kopi saja.

"Hello, Mione," sapa Harry saat memasuki ruangan ini.

"Hey," balasku yang langsung bangkit dari sofa nyaman miliknya lalu mengecup pipinya.

Dia duduk tepat di seberangku dengan kacamata yang selalu membingkai wajanhya dari tahun ke tahun. "Bagaimana kabarmu?"

Aku diam. Bukannya tak mau menjawbanya, melainkan bingung untuk menjawabnya. Bahkan aku tak tahu apa yang tengah aku rasakan sekarang. Saat ini wajah Draco yang terbayang di pikiranku dan semua ucapan manis dan nakalnya. "Kau sedang bahagia," tandas Harry.

"Siapa sosok yang dapat membuat dirimu seperti ini?"

"Draco Malfoy," ujarku.

Satu hal yang aku sukai dari Harry adalah dia psikiater yang tak pernah berlaku seperti psikiater terhadapku, namun satu hal yang pasti aku tahu bahwa aku berada di tangan yang tepat. "Sebelum aku mengetahui lebih lanjut Mister Draco Malfoy ini, maukah kau bercerita tentang mimpi-mimpimu lagi?"

Aku mengangguk. Setelah menyesap teh yang disediakan asistennya aku mulai bercerita tentang apa yang menjadi mimpi dan halusinasi serta ingatan-ingatan yang kualami tentang masa laluku.

"Kau tahu bahwa ayahmu masih berada di rehabilitasi, bukan?"

Kembali aku mengangguk. "Kau tahu bahwa sosok yang kau lihat saat itu bukanlah dirinya. Kau hanya kelelahan dan bayang-bayang itu biasanya normal untuk datang," jelas Harry.

Stefan Granger, ayahku kini masih berada di rehabilitasi untuk para ketergantungan alkohol tingkat tinggi. Meskipun seperti itu, bayang-bayang dirinya akan mencariku sampai negara ini tak pernah lepas dari pikiranku. Aku selalu berpikir bahwa suatu saat ia akan berada di hadapanku untuk membalas dendam akan segalanya.

"Lalu kapan terkahir kali kau meminum pil yang kuberikan?" tanyanya.

"Minggu lalu."

"Karena?"

Adegan-adegan saat Brown berteriak padaku di lorong itu seakan terulang lagi. Semua itu seakan menduplikasi setiap detail adegan saat kepolisian London menangkap ayahku beberapa minggu setelah ibuku menghembuskan napas terakhirnya.

Aku tahu gagal organ dalam yang menimpa ibuku adalah dampak dari semua perlakuan Stefan terhadapnya. Hampir seluruh tubuh ibuku dipenuhi lebam di akhir hayatnya. Aku begitu takut setengah mati saat itu, aku tahu bahwa hanya ibu yang kumiliki di dunia ini. Tetapi, aku tak mau kematiannya sia-sia. Pada satu malam, aku lari dari rumahku dan melaporkan semua yang terjadi kepada kepolisian. Umurku sudah sangat cukup untuk meyakinkan mereka bahwa ini bukan hanya ketakutan belaka. Aku menunujukan bekas luka yang kuterima dan meminta mereka untuk menyelidiki kematian ibuku, meski semua itu berarti harus menggali kembali makamnya untuk proses otopsi. Setelah semua proses itu terlalui, akhirnya surat penahanan turun untuk menangkap Stefan Granger dan aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ia ditangkap di rumah kami dengan setengah sadar. Dengan matanya yang merah ia menatapku. Jantungku seakan berhenti saat ia tiba-tiba meronta dan berusaha untuk menerjang. "Kau yang melaporkan semua ini?" teriaknya

Polisi langsung memeganginya dan membawaku menjauh darinya. Ia masih meronta dan berteriak-teriak. "Little whore! Pergi kau dari kehidupanku! Tak ada satupun orang yang menginginkan dirimu dalam hidupnya. Tak ada satupun!"

Sesaat kemudian suaranya lenyap ketika ia sudah berada di dalam mobil tahanan. Namun, tak lama kemudian, suara decitan antara ban dan aspal terdengar. Aku melihat Aunt Valerie turun dari mobilnya dan menangis histeris saat melihat Stefan ditangkap. Saat melihat kakak kandungnya ditangkap. Tangisnya berubah amarah saat menatapku. "Kau penyebab semua ini!" bentaknya padaku.

Aku semakin mencoba bersembunyi di belakang salah satu petugas kepolisian. "Tenang, Maam."

"Kau melaporkan ayahmu sendiri?" tanyanya tak percaya.

Aku tak mampu menjawab satu katapun. Hal yang kutahu bahwa seluruh tubuh bergetar hebat. petugas kepolisian masih memegangi dirinya agar tak ikut menyerangku. "Kau tak punya perasaan! Kau anak kecil paling tak berperasaan yang pernah kutemui!"

"Mione."

"Hermione.

Aku seakan kembali dari semua kenanganku saat Harry memanggilku untuk kedua kalinya. Aku menceritakan padanya apa yang terjadi di lorong sore itu dan kenangan yang kembali seketika karena kemiripannya.

"Kau sudah menenangkan diri dengan menarik napas secara perlahan dan memikirkan hal terindah dalam hidupmu?"

Aku mengangguk. "Berhasilkah?"

Aku mengedik sesaat. "Tetapi kau hanya memakan satu butir, Mione. Seharusnya itu kombinasi yang sempurna."

"Cara bernapas itu dan mengingat akan kenangan indah juga tak membantuku. Draco membantuku."

Harry menulis sesuatu dalam catatanya. "Menarik."

"Kau keberatan untuk menceritakannya?"

Aku menceritakan kehadiran Draco yang dapat mengalihkan pikiranku minus dengan apa yang kami lakukan. Senyum bahagia terpulas di wajah Harry. "Aku ingin bertemu dengannya."

Tatapan horror langsung terlempar untuk Harry dari mataku. "Kau gila. Dia bahkan bukan kekasihku."

Harry terkekeh. "Aku juga tak mengatakan bahwa ia adalah kekasihmu. Aku hanya ingin bertemu dengannya."

"Untuk apa?" tanyaku defensive.

Harry tersenyum. "Karena menjadi pelarian yang sehat bagimu. Kau bisa mulai berhenti merokok atau minum bila ada dia di sampingmu."

Tak ada yang salah dengan perkataan Harry, tapi bukan hubungan seperti itu yang aku jalani dengan Draco. Aku bahkan tak tahu apakah ia masih mau tidur denganku bila aku menceritakan masa lalu, bila aku menceritakan apa yang menjadi mimpi burukku, atau bila aku menceritakan bahwa aku yang memenjarakan ayah kandungku sendiri.

"Bila ia dapat membantumu, berceritalah padanya."

Aku tersenyum sarkastik. "Dia akan meninggalkanku sedetik setelah mendengar bagaimana kehidupanku dulu."

Harry mencatat kembali. Aku tak peduli apalagi yang ia simpulkan dari percakapan sore ini. "Apakah ia meninggalkanmu setelah mendapatimu berteriak dalam tidur karena mimpi itu?"

Aku menggeleng. "Apakah ia meninggalkanmu setelah tahu kau mengonsumsi anti-depressant?"

Kembali aku menggeleng. "Ceritakan padanya dan aku tak sabar ingin bertemu dengannya."

Aku menatap Harry pongo sementara ia hanya tersenyum senang.

000

"Really, Granger?" tanyanya padaku dengan fokus terbagi antara aku dan pekerjaan di smartphone-nya.

Aku masih mondar-mandir di ruanganku dengan berkas yang sedang kubereskan. "Really, Malfoy," balasku yang berkacak pinggang di hadapan mejaku sambil berpikir berkas apa saja yang perlu kubawa untuk ke konvensi besok.

"Kau yakin akan kesana?" tanyanya lagi.

Kini fokusnya sudah benar-benar tertuju padaku setelah ia meletakkan smartphone-nya di mejaku. "Ini perintah hotelmu. Kau lupa konvensi tahunan para GM Malfoy Group?" tanyaku.

Ia mengerucutkan bibirnya dan terlihat sangat menggemaskan. Pria berusia 30 tahunan mana lagi yang masih terlihat menggemaskan saat melakukan hal itu?

"Aku bagian dari grupmu sekarang," tambahku lagi dan ia mengangguk-angguk mengiyakan.

Aku duduk di hadapannya sementara ia berjalan ke arahku dan memilih duduk di tepi mejaku. Ia menyeringai saat memandangku. "Kita di kantor, aku tak ingin kejadian minggu lalu terulang kembalu," ujarku.

Ia tertawa lalu mengecupku kemudian mengusap bibirku dengan lembut. "Kau yang menggodaku. Kau ingat itu."

Aku ingat hal itu. Aku juga ingat bahwa aku yang menggodanya dan aku juga yakin bahwa hal itu tak akan terulang lagi. Namun hambatan terbesar adalah saat ia tampak sangat menggiurkan di hadapanku. Hanya dengan duduk dan menatapku membuatku ingin bercinta dengannya di meja ini. Aku bangkit dan berdiri di hadapannya. Kubelai wajahnya. "Why're you so irresistable?" tanyaku padanya.

Ia tersenyum dan menarik pinggangku semakin mendekat kepadanya. "The same question for you, Stranger," ujarnya yang mencium leherku dengan bibirnya yang hangat.

Aku tertawa saat ia memanggilku seperti itu. Kukalunngkan tanganku di lehernya dan kami tak bergerak. Ia masih menatapku dan begitupula dengan diriku kepadanya. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan akan diriku sekarang, hal yang aku tahu ia hanya menatap lekat diriku dan tak ada yang pernah menatapku seperti ini sebelumnya. "Where've you been all this time, Hermione?"

Aku tersenyum dan menggeleng. "Somewhere over the rainbow," balasku.

"Funny," ucapnya lalu kembali mengecupku.

Suara ketukan membuatnya melepaskan kecupan itu. Baru saja aku ingin mendorongnya ia sudah menahanku. "Itu pasti Pierce."

"Masuk," jawabku

Nikki muncul dari baliknya dan kembali terlihat terkejut. Tangan Draco masih melingkari pinggangku. "Selamat malam, Miss Lewis."

Suasana canggung tampak di antara kami. "Selamat malam."

Ia menatap keberadaan tangan Draco yang masih melingkar nyaman di pinggangku. "Maaf aku mengganggu."

Draco menggeleng dan melepaskanku. Kini pria itu ikut berdiri tepat di sampingku dengan tangan yang perlahan turun ke bokongku. Aku mengerling kepadanya sementara ia hanya menyeringai dan justru meremasnya dan aku langsung menelan ludah karenanya. "Aku kira kau sudah pulang, Nikki."

"Aku lupa ini," ia menunjukkan sebuah amplop di tangannya.

Ia perlahan menghampiri kami dengan kecanggungan yang luar biasa. "Tiket penerbangan untuk besok."

Nikki langsung berbalik saat tiket itu sudah berada di tanganku, namun langkahnya terhenti saat suara berat Draco memangilnya. "Miss Lewis."

"Yaa, Mister Malfoy."

"Bagaimana mobil barumu?"

Aku tahu napas Nikki tercekat saat mendengar pertanyaan pria di sampingku ini. "Sangat nyaman," ujarnya pelan.

Draco menampakan seringaiannya sesaat lalu menunjukan tatapan datar ala dirinya. "Aku harap kau menyukainya."

Nikki hanya mengangguk. "Terima kasih, Mister Malfoy," dan Draco hanya mengangguk untuk menjawabnya.

000

Kini setidaknya ada tiga orang yang mengetahui hubunganku dengan Draco. Pierce, Harry, dan Nikki. Harry dan Pierce sudah pasti tak akan menceritakannya pada siapapun, sementara Nikki? Setidaknya Draco sudah menutup mulutnya dengan BMW M3. Bukannya aku tak mau orang-orang tahu apa yang terjadi dengan diriku dengan pria kaya raya yang terkadang gila ini, hanya saja aku tak suka menjadi bahan gunjingan bagi orang-orang. General Manager dengan CEO perusahaannya? Aku tak suka kombinasi itu. Terkesan tidak baik.

Draco Malfoy masih duduk dan terhanyut dengan pikiran dan pekerjaan di tangannya. Aku mengintip sekilas dan mengetahui bahwa ia sedang memeriksa file-file digital dan e-mail dari smartphone-nya. Sementara aku hanya melihat jalanan kota ini yang perlahan mulai bersih dari salju dari balik mobil yang sedang melaju saat ini. Aku sedikit terkejut ketika ia mengambil tanganku untuk digenggamnya. Aku menatapnya sementara ia masih sibuk menatap layar di hadapannya. Aku masih menatapnya saat ia memandangku sekilas dan semakin memperat genggamannya tanpa bersuara. Aku tersenyum dan membiarkannya sampai Audi ini menepi tepat di lobi apartemenku. "Good night," ujarku lalu mengecup pipinya.

Ia menggeleng. "Not yet."

Draco memaksa untuk ikut ke dalam aparetemenku dan hal ini membuatku berkeringat saking gugupnya. Seumur hidupku atau selama aku memiliki tempat tinggal pribadi tak ada satupun yang pernah berkunjung ke kediamanku, bahkan Harry sekalipun. Saat lift ini sudah sampai di lantai apartemenku berada, jantungku semakin berpacu. Bodoh memang, tapi ini realita dan aku sangat gugup menghadapinya. Kami berdiri tepat di hadapanku saat Draco menungguku untuk membuka pintunya.

"Why?" tanyanya.

Kuhela napasku sejenak. "I've never bring anyone to my home."

Ia tersenyum tipis kepadaku. "There's always the firts time."

Kalimat itu membuatku memasukan kode keamanan untuk membuka pintuku. Ia masuk dengan anggun ke dalam apartemenku sementara aku hanya mematung melihat dirinya yang langsung melakukan tur pribadi. Ia kembali kepadaku saat merasa sudah cukup. "Aku menyukai tempat ini. Sangat hangat dan aman."

Alisku mengerut. "Ada alasan mengapa seluruh pintu dan jendela di apartemenmu memiliki kode keamanan?" tanyanya.

Aku tersenyum tipis padanya. "Alasan pribadi."

"Suatu hari aku akan membuatmu menceritakannya."

Seketika perkataan Harry dipertemuan kami terakhir terlintas di pikiranku. Aku mengangguk. "Suatu hari," jawabku.

Senyum itu kembali terpulas di wajahnya saat ia menunduk untuk menciumku. Ia melumat lembut bibirku dengan tangan yang perlahan menyelusup ke rambutku. Aku menikmati setiap inci sentuhannya. Aku mulai mendoronya untuk perlahan membawanya ke kamarku namun ia tak bergerak. Kulepaskan ciuman kami dengan tatapan penuh tanya. "Aku harus pergi."

Aku tak menjawabnya. "Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini."

"Kau tak akan bertemu denganku tiga hari ke depan atau satu minggu ke depan bila aku memutuskan mengambil cuti dan menghabiskan akhir pekan di New Orleans."

Ia mengusap lembut pipiku dan mengecupnya. "Aku tahu, baby. Dan percayalah aku tak menyukai berjauhan dengan waktu yang lama darimu, tapi aku harus bekerja."

Aku mendengus. Ia tahu aku tak menyukainya dan kembali menciumku. Baru saja aku berpikir bahwa aku akan memenangkannya malam ini, suara ponselnya menginterupsi kami. Ia melepaskanku dan menjawabnya. "Aku akan segera turun, Pierce."

Ia menatapku yang terlihat kesal. Ia melingkarkan tangannya di pinggaku. "Kau tetap menggemaskan bahkan saat merajuk seperti ini."

"Aku tak merajuk. Pergilah," balasku.

Ia mengecup puncak kepalaku. "See you really soon, baby."

Kemudian ia meninggalkan apartemenku. Aku menatap ke sekeliling dan sadar bahwa aku kembali sendiri.

000

Restaurant ini tampak ramai oleh para General Manager dari seluruh Malfoy Group. Masing-masing dari mereka saling bercengkrama sambil menikmati makan siang yang disajikan secara buffet ini. Hari ini adalah hari terakhir konvensi atau lebih sering disebut rapat akbar diselenggarakan dan para peserta sudah saling menyesuaikan diri. Ada yang baru saja bertemu kemudian menjadi akrab atau ada yang sudah saling mengenal sejak masih berada di bangku kuliah dulu. Aku duduk di sebuah meja dengan beberapa wajah yang ku kenal sejak beberapa tahun yang lalu. Seperti Will yang kukenal saat kami menjadi junior di salah satu hotel di Atlanta dulu. Atau Thalia yang kukenal sejak berada di tahun kedua kuliahku di Swiss.

"Jadi, The Regency sudah berada di bawah Malfoy Group?" tanya Will disela santap siangnya, setelah tiga hari baru hari ini kami berada di satu meja yang sama.

Aku mengangguk. "Dan bagaimana hasil penjualannya?"

Setelah mengelap mulut aku membuka suara. "Meningkat."

Mata mereka masih mengawasi. "Drastis," tambahku yang membuat tawa di meja ini pecah.

"The power of name," balas Thalia.

Mereka masih tertawa. Aku tak tahu mana yang lebih mendominasi kekuatan namanya atau kekuatan dari pemiliknya. "Aku dengar Draco Malfoy sekarang berkantor di tempatmu?" tanya Will kembali.

Aku menggangguk untuk mengiyakan. "Kau tak membaca New York Times minggu lalu? Malfoy menyebut The Regency kesayangan barunya. Dia pasti akan berada disana untuk memastikan kesayangannyai tu berkembang dengan baik," balas Darren, GM dari salah satu Malfoy Group di Los Angeles.

Aku tersenyum mendengarnya. "Dan ketika The Regency sudah stabil, dia pasti akan mencari baby baru yang butuh sentuhan profesional tangannya."

Aku langsung tersedak mendengarnya. "Kau tak apa-apa, Hermione?" tanya Thalia yang duduk di sebelahku.

"Tak apa," jawabku langsung menggeleng dan membersihkan sisa air di sekitar mulutku.

Draco Malfoy akan mencari yang lain. Benar-benar tipikal dirinya. Makan siang itu kembali berjalan dengan tenang saat orang-orang di meja mulai mengambil makanan penutupnya. Aku mengambil tiramisu in cup dan Luca yang terbayang di pikiranku. Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Mata Will menangkap objek di belakang diriku begitu pula dengan yang lain dan aku ikut berbalik badan untuk mengetahuinya. "Selamat siang semuanya."

"Damn it," desisku pelan yang hanya aku dan Tuhan yang dapat mendengarnya.

Ia memandangku sesaat lalu tersenyum tipis. Demi Tuhan aku dapat melihat alisnya yang sedikit terangkat saat menatapku. "Mister Malfoy," ujar Darren.

"Senang bertemu denganmu," tambahnya.

Draco mengangguk. "Senang bertemu dengan kalian juga. Boleh aku bergabung?"

"Tentu," balas Thalia.

Draco mengambil tempat di samping dengan Pierce yang membawakannya secangkir kopi. Pierce mengangguk sesaat kepadaku sebelum pergi. "Aku tak tahu bahwa kau akan datang, Mister Malfoy," ujar Will.

"Aku ingin melihat bagaimana jalannya konvensi tahun ini. Dan ada sesuatu yang harus kuurus disini," balasnya yang mengejutkanku dengan tangannya yang memegang pahaku.

Aku memerhatikan sekitar dan berharap-harap cemas agar tak ada yang menyadari keberadaan tangannya dan perubahan warna di wajahku. Thalialah yang menyadari perubahan pada air mukaku. "Kau tak apa-apa, Hermione?" tanyanya

Aku langsung mengangguk. "Aku tak apa-apa."

Suasana yang cair tadi tetiba berubah menjadi sangat formal. Masing-masing dari mereka sangat menjaga kelakuannya di hadapan 'big boss' perusahaan yang menaungi mereka. "Santai saja, anggap aku teman kalian. Aku hanya ingin berbincang ringan dengan kalian," ujar Draco yang menyesap minumannya sementara tangannya yang lain sudah mulai bergerilya di pahaku.

Konsentrasiku sama sekali tak berada di meja itu. Seluruhnya tercurah pada jari-jari Draco yang mulai bermain-main di bawah rokku. Sesekali aku memastikan bahwa tangan nakalnya masih tertutup di balik taplak meja ini sementara ia terlibat obrolan seru dengan Will dan beberapa lainnya. Tanganku mengepal dan napasku tercekat saat tangannya menyentuh bagian tersensitifku yang ia hapal betul letaknya. "Kau yakin baik-baik saja, Hermione?" tanya Thalia lagi.

"Wajahmu merah sekali, kau sakit Hermione? Mau kuantar ke kamarmu sebelum acara dimulai kembali?" tambah Will

Aku hanya menggeleng sambil menggenggam tangan Draco dan melepaskannya dari tubuhku. "Kau sakit, Miss Granger? Kau butuh dokter untuk ku kirim ke kamarmu?" Draco memandangku dengan seringai tipisnya.

"Aku baik-baik saja, hanya butuh udara segar. Aku permisi," jawabku dan langsung menghambur keluar dari restaurant itu.

Kuhela napasku dan merutuki kelakuan orang gila itu.

Beberapa saat kemudian aku kembali dan mendapati Draco yang sedang bercengkrama dengan para General Manager-nya. Will menghampiriku. "Sudah selesai mencari udara segarnya?"

"Aku rasa seperti itu," balasku yang masih mengawasi setiap gerak-gerik Draco Malfoy.

"Kau masih cantik seperti pertama kali kita bertemu di Vegas dulu," ujar Will tetiba saja.

Aku tersenyum. "Terima kasih."

Dan saat itu pulalah Draco datang menghampiri kami. "Kita harus kembali ke ballroom," ujar Will padaku.

"Ah yaa, Mister Malfoy apakah kau akan ikut ke ballroom?"

Draco mengangguk. "Miss Granger dan aku akan menyusulmu. Ada yang perlu kudiskusikan sebentar."

Will menatapku kemudian mengangguk lalu pergi meninggalkan kami. "Apa yang membawamu ke New Orleans, Mister Malfoy?"

"Mengawasimu dari pria semacam Will Harrod dan semua speciesnya."

Aku mengerutkan dahi saaat mendengarnya. "Kapan terakhir kali kau tidur dengannya?"

Setelah mencernanya, aku tertawa lalu langsung menghentikannya saat sadar beberapa mata mengawasi kami. "Aku ingin mengatakan bahwa ini bukan urusanmu, tapi pasti kau akan mengamuk, bukan?" ujarku dengan nada menggodanya.

"Don't play with me, Miss Granger. I'm not in the good mood."

Aku tersenyum lalu sedikit mencondongkan tubuh padanya. "It was a long time ago. My body is belong to you now," bisikku padanya.

Dia berdeham dan menyeringai "Shit, Granger. Stop doing that or I'll drag you to the room and fuck you hard.

"But sadly, you can't do that, Malfoy. Everyone is expecting you in the ballroom now. Have a nice day, Sir," ucapku lalu meninggalkan dirinya.

Dia menatapku tak percaya namun tetap membalasnya. "Have a nice day, Miss Granger."

000

Draco Malfoy memberi kejutan kepada seluruh General Manager-nya dengan datang ke konvensi tahunan grupnya. Dia memberikan beberapa kata untuk menutup pertemuan ini dan sudah menungguku di mobilnya saat aku baru keluar dari hotel ini. Aku melihat Pierce sudah berdiri di depan pintu mobilnya sambil mengangguk padaku. Baru saja aku akan masuk ke kursi penumpang belakang mobil ini Pierce mencegahnya. "Mister Malfoy akan mengemudi hari ini, Miss Granger."

Aku menaikan sebelah alisku dan langsung masuk ke mobil itu lalu mendapati Draco sudah berada di balik kemudinya. Jas yang tadi ia kenakan sudah tak lagi melekat di tubuhhnya. Hanya ada kemeja hitam yang digulung hingga pangkal sikunya sambil tersenyum padaku. "Let's have some short vacation," ujarnya lalu dengan cepat menciumku dan kembali ke kemudinya.

Aku menatapnya menunggu ia untuk melanjutkan pernyataannya, namun Draco langsung memacu SUV Audi miliknya. "Aku tak bisa, Draco. Aku belum mengambil cuti."

"Pierce sudah memberi tahu Miss Lewis dan ia sudah mengatur semuanya termasuk cutimu."

Aku tak meresponnya. "Senang?" tanyanya.

Aku menatap jalanan dan tak mau memandangnya. Tak ada yang pernah mengatur hidupku selama ini dan aku tak suka akan hal ini. Harus aku ulangi berapa kali agar ia mengerti bahwa aku adalah wanita mandiri yang tak membutuhkan apapun darinya, termasuk mengatur jadwal cutiku seenak hidupnya. Ia melihatku dari sudut matanya saat ia mengganti perseneling mobil ini. "Bicaralah, Granger. Jangan melakukan aksi tutup mulut seperti ini."

Aku tertawa sarkasme sesaat padanya lalu kembali diam dan menatap jalan. "Aku tak suka kau atur seperti ini. Kau tak bertanya kepadaku dan tetiba saja kau mengatakan bahwa kau sudah mengatur jadwal cutiku begitu saja. Kau tak tahu begitu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum aku memutuskan untuk bercuti dari pekerjaanku."

"Kau tak akan kupecat meski kau tak bekerja sama sekali."

"Jika seperti itu aku yang akan mengudurkan diri dari hotelmu."

Ia menepi dan menatapku. "Tak akan pernah kuijinkan, Granger."

Aku tak menjawabnya dan tetap tak mau memandangnya. "You're my Stranger. I don't wanna lose you."

Dia tak mau kehilanganku? Apa aku tak salah dengar?

Dia melepaskan seatbealt-nya dan menatapku. "Maafkan aku."

Dua kata itu membuatku perlahan menatapnya. "Maafkan aku yang berlaku semena-mena padamu. Aku hanya ingin berlibur denganmu."

Untuk kesekian kalinya, Draco Malfoy mengejutkanku dengan meminta maaf. Karena selama hidupku pula, tak ada yang pernah meminta maaf atas apa yang mereka lakukan kepadaku seperti ini. Mungkin para staffku sering meminta maaf atas pekerjaan yang mereka lakukan, tapi tidak seperti ini. Tidak seperti saat Draco meminta maaf kepadaku.

Kuhela napas sesaat lalu mengangguk. "Kita akan kemana?"

"Kau tak marah lagi?"

Aku menatapnya lalu mengerucutkan bibir dan ia tersenyum saat melihatnya.

Setelah berkendara hampir dua jam mobil kami memasuki sebuah kawasan pedesaan di Baton Rouge dan mobil ini berhenti di sebuah rumah kayu yang di kelilingi taman bunga serta pepohonan. Meski matahari perlahan meredup namun keindahan kebun disekelilingku tetap terpancar keindahannya. "Baton Rouge?" tanyaku padanya yang ia sambut dengan anggukan.

Seorang pria setengah baya berkepala pelontos menyambangi kami saat aku dan Draco keluar dari SUV itu. "Carl," ujar Draco yang disambut dengan senyuman hangat dari pria itu.

"Apa kabarmu, Mister Draco Malfoy?"

"Seperti yang kau lihat," dan mereka tertawa renyah bersama.

"Kau merawat rumah ini dengan sangat indah," ujar Draco.

Carl menggeleng. "Rumah ini sudah sangat indah tanpa perlu aku merawatnya."

"Hermione, ini Carl, teman lamaku."

Carl menjabat tanganku. "Senang sekali melihat Draco akhirnya mendapatkan pendamping hidupnya."

Aku melotot kepada Draco. "Kami berteman," jawabku cepat.

Carl kembali tertawa. "Tentu saja. Tentu saja."

Setelah percakapan singkat degan Carl yang ternyata seorang pengurus serta teman bagi Draco Malfoy sejak masa kanak-kanak saat ia berada di kota ini, kami masuk dan aku terpukau dengan rumah ini. Tak ada penthouse mewah atau properti serba modern ala Malfoy. Rumah ini sangat sederhana dan hangat. Kami berdiri di ruang tengahnya dengan perapian yang baru saja dinyalakan. Aku menatap Draco tak percaya. "Ini benar rumahmu?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Ayahku dulu sering mengajakku menghabiskan waktu liburnya disini."

"Tetapi, ini bukan seperti gaya Malfoy."

Ia menggeleng lalu mengusap lembut pipiku. "Kau belum mengenal keluargaku, Hermione. Setiap orang mempunyai dua sisi berbeda dalam hidupnya," dan aku mengangguk mendengar perkataannya.

Ia memegang kepalaku dengan lembut dan menariknya untuk menciumku. Hangat dan lembut. "Maafkan aku berlaku semena-mena pada seperti tadi. Hal ini juga pertama kali bagiku. Aku tak pernah merasakan hal seperti ini pada wanita sebelumnya. Kau berbeda."

Aku tersenyum tipis. Dan di dalam keremangan cahaya aku menciumnya. Perlahan namun pasti ia membawaku ke sebuah kamar dan kami bercinta.

Draco bersandar dengan separuh tubuhnya tertutup selimut dan tangan yang membelai lembut punggungku. Aku menatapnya dengan menelungkup disampingnya. "Kau cantik sekali," ujarnya yang membuat senyumku merekah.

"Kau wanita paling sempurna yang pernah kutemui," kalimat itu membuat senyumku padam dan aku menggeleng padanya.

Aku bangkit untuk ikut duduk di sampingnya lalu menarik selimut guna menutupi separuh tubuhku. "Aku sama sekali tidak sempurna, Draco. Aku wanita lemah yang selalu dihantui ketakutan akan masa lalunya."

"Apa ini tentang mimpi-mimpimu?" tanyanya yang aku jawab dengan anggukan.

"Kau mau berbagi denganku?"

Aku teringat perkataan Harry saat sesi kami awal minggu ini. "Aku tak pernah menceritakanya pada orang lain selain Harry, psikiaterku. Dan aku takut kau akan langsung memacu mobilmu setelah mendengarnya."

Draco menggleng dan mengecupku. "Try me, Hermione."

Kuhela napasku sejenak dan mulai menceritakan mimpi-mimpiku. Tentang kecanduan alkohol dan obat-obatan yang dialami ayahku. Tentang ayahku yang penuh kekerasan baik terhadapku ataupun ibuku. Tentang ibuku yang meninggal karenanya. Tentang aku yang harus menjadi gelandangan setelah kematian ibuku sebelum sebuah panti asuhan menemukanku karena tak ada satupun keluarga yang mengingnkanku. Tentang mengapa aku tak pernah cukup mempercayai seorang pria untuk menjadi kekasihku. Dan tentang semua ketakutan bila suatu saat ayahku akan kembali ke kehidupanku.

Tanganku bergetar hebat saat selesai menceritakannya. Draco Malfoy membuatku menceritakan masa terkelam dalam kehidupanku dan aku panik akan hal itu. Ia mengambil tanganku yang bergetar hebat untuk digenggamnya dan membawanya untuk kemudian sebuah kecupan lembut mendarat di atasnya. Aku tersenyum lemah padanya dan berusaha mengurangi kepanikan yang kualami. "Aku wanita lemah, bukan? Aku tak sesempurna pikiranmu. Aku rusak secara fisik dan mental, Draco."

Draco menggeleng. "You're the strongest woman I've ever met. No one can compare to you."

Aku menggeleng. "Bila aku menjadi dirimu, mungkin aku akan memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupku."

"Aku juga, tapi sayangnya hal itu tak berhasil," jawabku yang membuat alisnya mengerut.

Kuambil tissue basah yang berada di dalam tasku dan mengusapkannya di pergelangan tangan kiriku dan seketika bekas luka sayatan muncul darinya. Draco terbelalak menatapnya. "Aku menyayat nadiku di salah satu lorong jalanan London saat aku kehabisan akal untuk pergi kemana di tengah musim dingin dan perut yang lapar. Saat aku kira aku akan mengakhiri penderitaanku seseorang menemukanku dan aku dibawa ke rumah sakit untuk kemudian berakhir di sebuah panti asuhan."

Draco langsung menarikku ke pelukannya. "Hermione."

Air mataku meleleh di pelukannya. "Apakah kau masih menganggapku sempurna? Apakah kau akan tetap bersamaku setelah semua ceritaku?"

Ia melepaskanku dan mengapus air mata itu. "You have me now. I won't leave you. Ever."

"I told you before that you're mine and I'm yours, Hermione."

"You're the skyscraper, Draco, that I've never reach. And I'm just a wreck woman. We won't ever be together," balasku pelan yang masih berada di pelukannya.

Air mataku mengalir begitu saja dan tak sanggup kuhentikan sama sekali. "Kau tak boleh berbicara seperti itu, tentu kita bisa bersama. Kau kekasihku sekarang dan aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu meski itu hanya di dalam mimpi," tambahnya lagi lalu semakin memelukku erat.

Aku tak tahu sudah berapa lama kami bergelung seperti ini. Draco memelukku seperti aku adalah sebuah barang pecah belah yang terlalu rapuh. Taks sedikitpun ia melonggarkan dekapannya. Ada rasa yang begitu lega melihat reaksi yang keluar dari dirinya. Ia tak melarikan diri setelah mendengar ceritaku. Dan aku kekasihnya sekarang. Sebuah senyum terpulas tipis di wajahku.

You're mine and I'm yours. Kata-kata itu tengiang di kepalaku saat mataku terasa semakin berat. Aku merasakan tangan Draco mendekap diriku erat dengan bibir lembutnya yang mengecup puncak kepalaku.

"I'm your safe haven now, Hermione. Sleep thight, baby."

Dan aku terlelap.

000

to be continued

Hello, how's this chap? I hope you finally found the answers for your questions or maybe you should be patient to the next chap. Please leave your review, cause I eager to know what you think . Thank You!