Everything belong to JK Rowling, unless the plot and Pierce
Chapter Seven
Matahari pagi menelusup dari celah pepohanan dan dengan sengaja ikut juga mencoba masuk melalui celah-celah kelopak mataku. Suara-suara burung berkicau terdengar sangat riang dan aroma embun juga sudah menyeruak di penciuman. Kubuka sedikit mataku dan mendapati jendela yang tepat berada di samping ranjang ini sudah terbuka dengan lebar. Senyum terpulas di wajahku. Aroma khas pedesaan ini tak mungkin aku dapati saat kembali ke New York nanti. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini dan tak mendapati Draco dimanapun. Kuambil iPhone yang terletak di nakas tepat di sampingku dan menyadari bahwa waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi. Aku tak pernah bangun sesiang ini sebelumnya. Tidurku terlalu nyenyak malam tadi. Kusentuh keningku lalu leher dan seluruh tubuhku untuk kemudian tersenyum. Harum tubuh Draco seakan masih menempel erat disana.
You're mine and I'm yours. Kalimat itu berulang kali terputar di otakku dan berulang kali pula senyuman itu menyembul di wajahku. Kuikat tinggi rambutku dan mengambil sweater abu-abu milik Draco yang pernah ia kenakan saat pertama kali aku bermalam di rumahnya. Pandanganku berhenti pada siluet tubuhnya yang tengan berdiri di ruang tengah rumah ini. Ia berdiri dengan sedikit menyandar di doorsill yang menghadap taman sambil satu tangannya berada di dalam kantung celananya dan satu lagi memegang smartphone yang menempel di telinganya. Suaranya terdengar rendah, tapi aku tahu ia tengah marah pada lawan bicaranya. Aku menunggu dengan sabar sampai ia menyadari keberadaanku. Sesaat kemudian ia berbalik dan menatapku. Senyumnya merekah.
"Kabari aku setiap perkembangan terbaru," ucapnya lalu menutup percakapannya.
"Sarapan?" tanyanya padaku yang kusambut dengan anggukan.
Aku mengikuti dirinya yang keluar menuju beranda lain di belakang rumah ini. Aku tercengang dan senyuman kembali terpancar di wajahku saat melihat danau cantik di belakang rumah ini. Sempurna. Sebuah meja panjang terbuat dari kayu dengan kursi-kursi bulat yang mengitarinya berada di beranda itu dengan sarapan yang sudah tersaji di atasnya.
"Selamat pagi, Miss Granger," sapa Pierce yang sudah berdiri di samping meja itu setelah meletakkan piring di atasnya.
Kutatap sarapan yang tersaji di atas meja itu. Apple-Cinamon French Toast, segelas kopi, dan teh serta bunga fressia di dalam sebuah vas kecil. Tatapanku beralih dari Pierce kepada Draco yang ikut menatapku serta menungguku untuk mengeluarkan suara. "Apple-Cinamon French Toast?" tanyaku.
Draco mengangguk. "Mungkin tak seenak Sarabeth's," balasnya.
"Really, Malfoy?"
"Really, Granger."
Draco sudah duduk di kursinya begitupula dengan aku sementara Pierce masih berdiri di tempatnya lalu hendak meninggalkan tempat ini. "Kau tak sarapan bersama kami?" tanyaku pada Pierce.
Ia menggeleng. "Aku sudah sarapan. Mister Malfoy, Miss Hermione," ujarnya sambil mengangguk dan meninggalkan ruangan ini.
Kualihkan perhatian pada Draco yang sudah mulai menyesap tehnya. "Kau tak pernah sarapan bersama dengan Pierce?"
Ia menggeleng. "Pierce karyawanku."
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Etika," balasnya cepat.
Aku mengerutkan dahi sesaat. "Aku juga karyawanmu."
Dia meletakkan roti yang baru saja hendak disuapkannya ke mulut lalu menatapku. Mata kelabunya seketika mengalihkan pikiranku. Terlalu indah.
"Kau karyawanku dan merangkap kekasihku, Granger. Masalah selesai."
Aku mengangguk dan membiarkan ego dari pria ini menang. Aku sangat menikmati sarapan kali ini. Benar kata Draco bahwa french toast ini tak selezat Sarabeth's namun aku dapat memakluminya, tapi pemandangan dan suasana serta harum embun yang bercampur dengan tanah basah di pagi hari membuat segalanya menjadi sangat istimewa. Senyumku tak henti terpulas di wajahku.
"Hentikan senyuman itu, Hermione," ucap Draco.
Aku mengedik. "Aku tak mau."
"Kau sangat menyukai tempat ini?" tanyanya.
"Sangat," balasku.
Kali ini Draco yang ikut tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri di hadapanku dan melebarkan tangannya untuk memelukku. Kulingkarkan tangan di pinggangnya dan meletakkan kepalaku di perutnya. "Haruskah aku membeli properti disini dan kita pindah selamanya?" tanyanya.
Aku tertawa lalu menggeleng. "Gila."
Dia menarikku untuk bangkit lalu menciumku. Tangannya kembali menelusup ke rambutku dengan tangannku yang sudah melingkari lehernya. Ia melepaskanku saat tangannya sudah berada di balik sweaternya yang melekat ditubuhku. Ia mengusap kembali pipiku yang merupakan gestur tubuhnya yang paling kusukai. Senyum tipisnya merekah. "I want to take you now," ujarnya yang terdengar hampir seperti berbisik.
Aku masih tersenyum dengan tangan yang tak ingin lepas dari tubuhnya. "Breakfast?" tanyaku yang tahu bahwa ia akan lebih memilih bercinta denganku daripada memakan sarapan ini.
"We can eat later," balasnya.
Aku tertawa dan menggeleng. Siluet mata kelabunya yang bercampur dengan cahaya pagi matahari benar-benar kombinasi yang indah. "But french toats is your favorite thing and we're big fans of that."
"I know that, but you're my new favorite thing."
Aku tertawa dibuatnya. "And now I want eat you first."
Tanpa tedeng aling-aling lagi ia mengangkatku di bahunya dan membawaku ke kamar kembali.
000
Seharian berada di ranjang membuat perut kami protes untuk diberikan asupan yang memadai. Sejak Draco menggendongku kembali ke ranjang tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke tubuh kami, hanya aku dan Draco di kamar ini. Bercinta, bergelung, tertawa bersama, bercinta lagi, bergelung lagi seperti itu terus sampai kami sadar bahwa sarapan yang hanya tersentuh sedikit tadi tak cukup untuk kami.
Kami berkendara ke sebuah restoran lokal yang berjarak tak jauh dari kediaman Draco disini. Cuaca di Baton Rouge sangat menyenangkan. Aku membuka kaca mobil ini dan membiarkan deru angin menerpa wajahku. Kami berhenti di sebuah restoran yang menyediakan olahan daging steak yang harumnya sudah menyambut kami di ambang pintu restaurant inu. Steakhouse ini sangat bergaya selatan dengan ornamen kayu yang menjadi interior utamanya. Seorang pelayan yang hanya mengenakan celanan jeans dan kemeja flanel itu mengantar kami ke sebuah meja kayu disebuah beranda persis seperti yang dimiliki Draco di rumahnya.
Draco tersenyum memandangku setelah menenggak bir di tangannya. "Ada apa?"
"Aku tak pernah melihatmu dengan sundress seperti ini sebelumya. Kau tampak sangat berbeda."
Aku tersenyum sesaat dan ikut menenggak bir yang tadi kami pesan. Kami pertama kali bertemu di malam Natal saat di Vegas lalu dan beberapa bulan belakangan ini di New York, tak mungkin aku memakai sundress seperti yang kukenakan sekarang bila aku tak ingin terkena hipotermia. Aku memperhatikan sundress selutut bewarna putih dengan corak bebungaan bewarna peach ini lalu kembali kepada Draco. "Pretty, huh?"
"Absolutely," jawabnya lalu melepaskan sunglass-nya saat matahari tak terlalu mencolok lagi di restoran yang bersifat outdoor ini.
Dia meletakkan sunglass dan bir itu di meja. "Kau harus sering memakainya."
"New York masih terlalu dingin untuk sundress ini dan musim panas masih sekitar lima bulan lagi," balasku.
Seorang pelayan datang dengan dua buah piring besar berisi steak dan kentang yang kami pesan. Daerah selatan sangat terkenal dengan steak-nya dan aku tak akan melewatkannya.
"Berarti kau harus memakainya sepanjang musim panas nanti," ucap Draco yang melanjutkan percakapan kami tadi yang sempat terinterupsi oleh pelayan tadi.
Aku mengerutkan kening. "Tentu, bila kita masih bersama," balasku yang mulai memotong daging di hadapanku yang mengeluarkan aroma spektakuler hasil karamelisasi dan pembakaran.
Ia mengedikkan bahunya. "Aku akan membuatmu bertahan denganku."
Dan senyumku mengembang saat mendengar apa yang diucapkannya.
Beberapa saat kemudian taman yang menjadi pemandangan utama ini mulai didekorasi oleh beberapa petugas dari restaurant ini. Mulai dari panggung sederhana, sound system sampai pencahayaan. Aku mengerutkan alis kepada Draco yang telah menyelasaikan makannnya sedari tadi. "Setiap akhir pekan, restaurant ini akan memberikan pertunjukan musik jazz dari para musisi lokal sampai kota-kota lain di Lousiana."
"Dan kau sengaja membawaku kesini?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Aku melihat koleksi CD musik jazz dan beberapa genre lain di apartemenmu, kau pasti akan menyukainya."
Aku hanya tersenyum. Bila tak ada meja kayu yang membatasi kami saat ini, mungkin aku sudah menarik dan melumat sampai habis bibirnya. Tak lama kemudian panggung tersebut sudah selesai dirapihkan dan satu per satu tamu mulai memasuki pelataran taman itu. Salah satu musisi itu sudah berada di panggung sederhana namun tetap indah itu sambil mencoba suara dari gitarnya. Saat ia sudah siap dan mengucapkan salam, para penonton langsung memberikan sambutan hangat baginya. Alunan gitar yang kukenali itu terdengar lembut di telingaku, Little Yellow Dress. Seyumku langsung merekah saat itu juga, Draco ikut tersenyum bersamaku.
Awan putih yang berarak di langit yang biru tadi perlahan berubah menjadi jingga karena semburat matahari yang perlahan akan kembali ke peraduannya. Lampu-lampu temaram yang menjadi dekorasi taman dan pangung ini seketika menjadi sangat indah karenanya. Aku dan Draco sudah berada di pelataran taman ini untuk menyambut lagu-lagu berikutnya. Ia melingakarkan tangannya di bahuku. "Kau bahagia?"
Aku langsung mengangguk untuk menjawabnya. "Seandainya aku membawa tas kameraku. Suasana disini sangat indah."
"Tunggulah disini, aku akan segera kembali."
Ia langsung meninggalkanku dan beberapa saat kemudian ia sudah kembali dengan tas kameraku yang disandang di bahunya. "Kau pasti bercanda," ujarku bercanda melihat apa yang dibawanya.
Ia menyeringai. "Aku meminta Pierce membawa semua barangmu di hotel dan aku memasukan tas kamera ke mobil saat kau mandi tadi. Berjaga-jaga mungkin saja kau membutuhkannya."
"You've got to be kidding me, Malfoy," ujarku yang masih terpukau dengan perhatiannya bahkan ke hal terkecil seperti hobiku ini.
Seringaian itu masih terpampang jelas di wajahnya. "I've never kidding with you, Granger."
Aku berjinjit dan mengecupnya lembut. "Thank you."
"Go get a lot pictures as much as you want, Granger," balasnya.
Dengan sangat bersemangat aku mengeluarkan kameraku dan mulai mengambil berbagai macam gambar disini. Para musisi yang silih berganti di panggung itu, penonton dengan sejuta ekspresi, langit senja yang menakjubkan, bahkan Draco yang tampak sangat tampan di sisi taman ini yang tengah menikmati alunan musik. Ia mengenakan kaus putih dan celana jeans hari ini. Tak ada yang dapat menandingi keindahan ciptaan Tuhan yang satu itu. Aku mengambil fotonya dari berbagai macam sudut sampai ia menyadarinya. Draco melambaikan tangannya padaku dengan botol bir di tangannya dan tas kameraku di bahunya. Aku ikut melambaikan tangan dan memintanya untuk bergabung bersamaku di tengah kerumunan ini.
"Kau sudah menyalurkan hobimu?"
"Sudah. Sekarang kau harus menemaniku menikmati pertunjukan ini."
Ia mengangguk. "Kemarikan kameramu."
"Tak perlu. Aku akan mengambil gambar sesekali," jawabku yang kembali ke mengalungkan kamera ini ke leherku.
Untuk kesekian kalinya ia mengangguk. Baru saja aku akan mengambil tas itu darinya, Draco dengan cepat mencegahnya. "Tas itu berat, Draco."
"Aku tahu, oleh karena itu aku yang akan membawakannya."
Aku tertawa lalu menggeleng. "Kau kekasihku, bukan tukan angkutku."
"Aku bisa menjadi keduanya," ujarnya membalasku lalu menunduk untuk mengecupku.
Kami kembali larut dalam pertunjukan musik ini. Suara petikan gitar yang aku sangat kenali sekali ini membuatku seketika bersemangat. Aku berbisik pada Draco. "Ini lagu kesukaanku."
Butterfly dari Jason Mraz terdengar sangat apik dibawakan oleh pria dengan rambut panjang di depan sana.
Doll I need to see you put pull your knee socks up
Let me feel you up side, down slide, in slide, out slide, over here
Climb in my mouth now child
Aku masih tersihir dengan lagu itu saat Draco melingkarkan tangannya di perutku. "So this's your favorite song, huh?" tayanya dengan bisikan di telingaku.
Helaan napas serta lembut bibirnya begitu menggelitik di telingaku. Aku mengangguk lalu kurasakan dengan jelas saat bibir lembutnya sudah berada di lekuk leher lalu perlahan meyusur hingga pundakku. "What a naughty girl," balasnya,
"Excuse me," ujarku yang masih belum mengerti maksud dari dirinya.
Ia masih memelukku dari belakang lalu kembali berbisik padaku. "Let me feel you up side, down slide, in slide, out slide, over here. Climb in my mouth now child. Did you really wanna do that now?" tanyanya setelah mengutip petikan lirik lagu tadi.
Aku tertawa lalu menghela napas saat bibirnya kembali berada di leherku dan menciumnya sambil menggigit-gigitnya dengan lembut. "Yes, Draco. Did you wanna do that too now? With me? Feel the inside me?"
"Jeez, Granger. Let's get back to home and I will take you till you scream my name and every single soul in Baton Rouge could hear that."
Aku menggeleng untuk menggodanya. "The show is not over, Draco. I still want to enjoy it."
Ia melepaskan bibirnya dari leherku dan menggeleng. "Not a change, Hermione."
Langsung saja ia menarik tanganku keluar dari kerumunan. Tanganya begitu erat menggengamku saat melewati beberapa kerumunan itu. Saat kami berhasil berada di parkiran yang terletak sedikit jauh dari restaurant ini ia mendorongku ke kursi belakang penumpang. Aku tertawa melihat tingkahnya saat ia sedang benar-benar menginginkaku. Diletakkannya tas kameraku di jok depan dan aku baru saja ingin protes dengan hal itu. "Hari-hati dengan kameraku, Malfoy."
"Oh percayalah aku tak peduli dengan kameramu."
Arogansi seorang Draco Malfoy telah kemabali. Ia seakan lupa bahwa ia rela menjadi tukang angkut kameraku tadi. Dengan sangat cekatan ia memajukan dua kursi di depan dan membuat ruang yang luas di tempat kami berada. "Aku kira kau akan membawaku pulang."
"Aku tak sanggup menahannya hingga kita sampai di rumah."
Draco menarikku dan memposisikan dirinya di antara kakiku. Aku melenguh saat bibirnya sudah kembali berada di leherku. Ciuman, gigitan, serta kulumannya membuatku melenguh dan menarik rambutnya agar tetap berada di posisi yang sama. Saat tangannya suda berada di balik rokku, tanganku mencari pegangan untuk membuat aku bertahan untuk menghadapi setiap serangannya. "So wet, Hermione."
"Ehm," aku hanya mampu menjawab seperti itu saat aku merasakan lidahnya sudah berada di balik panty-ku dan aku juga sudah tak tahu dimana panty itu tadi.
Bibirnya kembali ke atas tubuhku dan tetiba saja ia mengutuk pelan bajuku. "Damn it, mengapa ada begitu banyak kancing di baju ini."
"Karena aku tak tahu bahwa kita akan bercinta di mobilmu," balasku.
Tangannya langsung menarik secara asal dan secara otomatis baju ini tersobek sehingga kancing ini berhamburan. "Damn it, Draco. Aku menyukai baju ini."
"Aku akan membelikannya lagi."
Dan dalam secepat kilat ia berada di dalamku. Satu kakiku berada di pundaknya dan kaki yang lain berusaha menopang tubuhku di kursi mobil ini. Ia bergerak dengan sangat cepat seakan-akan tak akan pernah lagi bercinta denganku. Lenguhan serta keringat menjadi pelengkap kegiatan kami disini. Pikiranku hanya berfokus padanya. Bahkan aku tak peduli bila nanti tetiba saja sherif datang untuk menggerebek mobil kami yang bergoyang tak normal di area parkir sebuah restaurant.
Gerakan Draco yang semakin cepat membuatku hampir mencapai puncaknya. Kukuku terbenam di punggungnya yang kini tak lagi tertutupi oleh kaus putihnya. "Fuck, Draco," desisku.
Ia melepaskan bibirnya dari dadaku dan menyeringai sesaat. "I fuck you now, Stranger."
Jawabannya membuatku tertawa begitupula dengannya. Saat aku benar-benar mencapai puncaknya, kurenggut rambut pria di hadapanku ini. "Come, baby," ucapnya.
Dan seuluruh tubuhku melemas saat Draco juga merasakan hal yang sama denganku. Napasnya masih terengah-engah saat menatapku. Ia menyeka sedikit peluhku dan aku menangkap tangannya lalu menciumnya. "Ayo pulang. Bersihkan dirimu lalu tidur," ujarnya.
Aku mengerutkan alis padanya. "Tidur?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Tak ada lagi yang kau ingin lakukan bersamaku?" tanyaku lagi.
"Apakah kau tak lelah setelah seharian ini, kita bahkan tak keluar dari kamar," jawabnya dengan wajah yang juga penuh goda terhadapku.
Kuletakan jari di dadanya dan mengusapnya perlahan lalu menggeleng. "Hermione, the little minx," ujarnya sambil tertawa.
000
Draco Malfoy
Harum dari roti panggang dan manisnya madu merebak di penciumanku. Harum ini sangat familiar bagiku. Kugosok-gosok mataku sambil melihat jam yang berada di tengah dinding ruangan ini. Masih pukul tujuh pagi dan Granger sudah tak berada di sampingku. Baru saja aku mau mengambil kaus putihku, namun tak lagi dapat kutemukan. Pasti Hermione. Sudah menjadi kebiasaannya untuk memakai baju yang semalam telah kukenakan. Wangiku melekat disana katanya. Alasan yang sangat kusukai yang pernah keluar dari mulut manisnya.
Aku berjalan keluar hanya dengan celana pendekku dan angin dari beranda seketika menyapa kulitku. Dari ambang pintu aku dapat melihat Hermione hanya mengenakan kaus putihku yang tampak sangat besar di tubuhnya dengan rambut diikatnya asal-asalan. Ia tampak sibuk dengan kegiatannya pagi ini. Tak pernah sekalipun di pikiranku terlintas bahwa aku akan mengalami hari seperti ini. Terbangun di pagi hari dengan seorang wanita yang tengah sibuk di dapur dan dengan wajah yang bahagia pula. Setelah kepergian Astoria, aku tak pernah tahu bahwa aku bisa di situasi seperti sekarang lagi.
Hermione berbalik dan senyum itu kembali mengembang. "Pagi," sapanya.
"Pagi," balasku.
Ia kembali ke kegiatan awalnya. "Aku membuatkanmu french toast," ujarnya lagi.
"Berdoalah akan seenak atau paling tidak sedikit di bawah Sarabeth's," candanya.
Aku menghampirinya sebelum tertawa. Kulingkarkan tangan di pinggangnya dan merasakan kehangatan tubuhnya. "Tunggu aku di beranda dan aku akan segera ke sana."
Aku menunggunya di beranda dengan sinar matahari pagi dan kicauan burung-burung yang menemani. Sudah bertahun-tahun aku tak mengunjungi tempat ini, terutama sejak kepergian Dad. Terakhir kali aku kesini adalah saat kunjungaku ke New Orleans dua tahu lalu dan aku menyempatkan untuk melihat rumah peninggalan Dad ini. Bersyukurlah pada Carl yang dengan setia masih mau mengurusi rumah tua ini berikut juga dengan taman bunga yang tak pernah layu ini. Kutarik napas terdalam untuk merelaksasikan tubuh dan pikiran. Hermione menghampiriku tepat disaat aku menghela napas. Ia membawa sebuah nampan dengan sarapan kami di atasnya. Aku melihat tubuhnya yang hanya tertutup kausku dan kakinya yang jenjang dibiarkan terekspos begitu saja. Aku tak tahu ada berapa banyak pria yang pernah melihatnya, tapi sekarang ia milikku dan hanya aku. "Apa yang kau lihat?" tanyanya saat menuangkan teh ke cangkirku.
"Apakah kau selalu secantik ini di pagi hari bahkan tanpa sedikitpun riasan?"
Ia mengibaskan tangannya lalu tersenyum. Sangat lepas dan sangat cantik. Hermione mengambil tempat di sampingku lalu menuangkan sedikit gula ke kopi hitamnya. Senyum itu masih tersisa di wajahnya. Sejak malam pertama kali aku bertemu dengannya di Las Vegas, ia jarang sekali tersenyum selepas ini. Cenderung tak pernah. Dan aku amat bahagia menjadi alasan untuk senyum itu muncul di wajahnya. Aku sangat mengerti dengan apa yang dialaminya yang mengakibatkan trauma mendalam bagi dirinya. Aku tak habis pikir bagaimana bisa ia dapat melewati hal itu seorang diri. Hermioneku melewatinya seorang diri. "Berhenti menatapku," suaranya membuyarkan pikiranku.
"Berhenti menjadi secantik ini," balasku.
Kembali hal kecil itu membuatnya tertawa. "Kau tahu apa yang kau lakukan itu adalah hal ilegal," ujarku setelah memasukan potongan roti ke mulut.
"Apa yang aku lakukan?"
"Berjalan di rumah ini hanya dengan kausku dan celana dalamm adalah pelanggaran hukum, Granger," jelasku lalu menyesap tehku yang masih mengepul.
Ia meletakkan rotinya lalu melipat tangannya di atas meja kayu ini. "Lalu kau kira apa yang kau lakukan itu tak ilegal?" ia berbalik tanya kepadaku.
Aku hanya mengerutkan kening. "Berjalan di rumah ini hanya dengan celana itu dan tanpa sehelai benangpun menutupi dada bidangmu."
Aku tertawa. "Bagaimana bila aku menerjangmu saat ini dan sarapan kita untuk kesekian kalinya gagal kembali?" tanyanya yang berusaha serius walaupun aku tahu ia tak dapat menahan tawa kecil di dalamnya.
"Jika seperti itu kau harus mengendalikan dirimu," balasku.
Ia mengangguk-angguk. "Baiklah, jika seperti itu aku akan tidur di kamar lain malam ini."
"Aku menarik kata-kataku," jawabku.
Aku tertawa begitupula dengan dirinya. Kupegang dagunya dan mengecupnya lembut.
000
Setelah mencari makan siang dan berjalan-jalan di sekitar daerah ini, aku dan Hermione larut dengan pekerjaan kami masing-masing di ruang tengah ini. Aku melihat dia sangat serius menatap layar datar dari laptop di hadapannya begitupula dengan aku yang sibuk dengan semua pekerjaan yang kutinggalkan selama berada disini. Hal ini lucu sekali karena aku tak pernah berkencan dengan seseorang yang bekerja dengan laptop dan berkas-berkas di tangannya atau lebih tepatnya yang berkecimpung di dunia yang sama denganku. Wanita-wanita yang biasa berkencan denganku hanyalah para model dan para puteri dari pengusaha yang tak perlu memikirkan apapun di dunia ini kecuali kecantikan mereka. Hermione adalah pengecualian.
Aku menatap wanita itu yang tertidur dengan tangannya yang menopang dagu. Sudah berjam-jam kami disini dan sepertinya ia kelelahan dengan apa yang dikerjakannya. Kuangkat perlahan laptop yang ada di tangannya dan mengangkat dirinya. Matanya terbuka saat ia merasakan pergerakan yang kulakukan. "Kau mau ke kamar atau di sofa?" tanyaku lembut padanya.
Matanya terpejam lagi sambil menggeleng. "Sofa saja. Aku mengantuk sekali."
Kuletakan dirinya di sofa dan mengambil selimut untuk menutupi kakinya. Ia kembali terlelap. Wajahnya sangat penuh dengan kedamaian. Kubereskan pekerjaannya dan menatap layar laptopnya yang berisi tentang inquiry di The Regency serta chart penjualan kamar dan beberapa e-mail dari kliennya. Dia sedang membuat uang untuk perusahaanku. Aku tersenyum saat menatapnya yang masih damai dalam tidur siangnya. Kukecup keningnya dan bangkit dari ruang tengah ini.
000
"Draco," panggil seseorang dari pinggir danau ini.
Aku mengeluarkan kepala dari air untuk melihatnya sekaligus mengambil oksigen yang mulai menipis di paru-paruku. Ia melambai kepadaku dan aku langsung berenang menuju ke tepi danau ini.
"Maaf aku ketiduran," balasnya yang berlutut di tepi danau yang sudah dibangunkan dermaga kecil oleh Carl.
Aku menggeleng. "Kau bisa tidur sesukamu disini," balasku.
"Handuk?" ia menawari handuk yang di peganganya kepadaku.
Setelah mengeringkan tubuh, aku bergabung dengannya untuk duduk di sebuah bangku kayu di tepi danau ini. Matahari sore sudah menampakan wujudnya di balik pepohonan di seberang danau ini. Kawanan burung perlahan bergerak menuju sarangnya. Aku mengambil kaki Hermione yang berselonjor santai dan meletakkannya di pangkuanku. "Tempat ini mengingatkanku dengan hutan yang sering kukunjungi dengan ibuku dulu."
Tatapannya beralih kepadaku. "Terima kasih karena sudah memaksaku menghabiskan akhir pekan disini."
"Memaksa?" tanyaku yang membuat kami tertawa.
Ia menarik napasnya lalu memejamkan matanya sesaat dan mentapku. "Seandainya aku dapat bangun di pagi hari dan terlelap di malam hari di tempat seperti ini," ujarnya.
"Kau mau pindah ke kota kecil seperti ini?" tanyaku serius dengannya.
Ia mengangguk. "New York memang menyenangkan, tapi kota ini sangat damai."
"Kita bisa menetap disini," ujarku yang menghasilkan mata yang membelalak dari dirinya.
"Aku bisa memindahkanmu ke New Orleans dan aku akan ikut berkantor disini. Masalah terpecahkan."
Hermione masih menatap horror kepadaku. "Aku bercanda, Draco Malfoy."
Aku tersenyum. "Aku tahu kau bercanda, tapi bila kau serius aku juga tak ada masalah," balasku yang langsung mendapat gelengan cepat dari dirinya.
Ia kembali menikmati aroma pepohanan di senja ini. Kukeluarkan sesuatu dari kantung celanaku lalu mengambil pergelangan tangannya dan memakaikannya disana.
Hermione terkejut dan menatapku tak percaya. "Kau sudah menjadi milikku," ujarku setelah mengaitkan ujung gelang peninggalan ibunya itu.
Ia masih terdiam. "Cantik sekali," ujarku.
Tatapan Hermione beralih dari gelang itu kepadaku. "Terima kasih," ujarnya.
"Kau membuatku merindukan ibuku sekarang," ujarnya lagi.
Kutarik dirinya untuk kini bersandar kepadaku lalu kukecup puncak kepalanya. Kami hanya diam dengan Hermione yang bersandar di dadaku dan tangan kami yang saling bertaut. "Kapan kau terakhir kali ke London?" tanyaku.
"Sejak aku bersekolah di Swiss. Mungkin sekitar empat belas tahun yang lalu," balasnya.
Empat belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Hal ini cukup membuatku terkejut. "Aku tak sanggup kembali kesana. Aku sangat takut bertemu dengan ayahku," tambahnya.
"Jadi, kau tak pernah mengunjungi makam ibumu?" tanyaku.
Hermione menggeleng. "Ketakutanku mengalahkan segalanya. Aku membayar seseorang untuk mengurus dan menjaga makam ibuku."
"Dan kini ayahmu masih berada di rehabilitasi?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Stefan bebas sekitar tiga tahun yang lalu dan pihak kepolisian menginginkan dia untuk tetap direhabilitasi. Satu sisi aku ingin ia mati saja karena kecanduannya dan dengan apa yang semua ia lakukan terhadapaku dan ibu, tapi di sisi lain ia tetaplah ayahku. Aku membayar rehabilitasi itu untuk tetap menjaganya dari semua kecanduannya dan kekacauan yang akan ia timbulkan."
Kueratkan pelukanku padanya. "Jangan mengasihaniku," ucap Hermione yang kusambut dengan kekehan.
"Tak ada yang perlu dikasihani dari darimu."
Tetiba saja ide itu muncul di pikiranku dan aku langsung mengatakannya pada wanita ini. "Ayo kita ke London."
Hermione tak bereaksi. "Bagaimana?" tanyaku lagi.
"Aku masih takut," jawabnya pelan.
Kutangkup wajahnya agar ia menatapku. "Aku akan menemani di setiap detiknya. Tak ada yang akan menyakitimu selama aku bersamamu."
Ia masih tak berbicara. "Ayo berkunjung ke makam ibumu. Aku ingin berterima kasih padanya karena telah melahirkanmu."
Hermione tersenyum dan memelukku erat.
000
Pagi sekali kami telah berada di airport untuk terbang menuju London dengan pesawat jet pribadiku. Hermione tampak gusar di kursinya setelah pesawat ini lepas landas. Aku hanya sanggup menggenggam tangannya dan berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya. Beberapa saat kemudian ia sudah tenang dan tidur adalah pilihannya di sepanjang penerbangan ini.
Malam sudah sangat larut saat kami menginjakan kaki di Heathrow. Pierce langsung memacu mobil ini menuju The Waldrof, salah satu hotelku di London. Aku dan Hermione masuk ke hotel ini dengan beberapa pasang mata yang menatap. Ia berjalan di belakangku dengan Pierce dan Fleming yang mengkutinya. Pegawai-pegawai hotel ini teramat sadar dengan keberadaanku dengan seorang wanita di larut malam seperti ini. Tanpa perlu memedulikan mereka, Pierce langsung membawa kami ke suite hotel ini.
Hermione langsung jatuh terlelap sesampainya disana, sementara aku masih menunggu Pierce untuk bertemu di ruang tamu suite ini.
"Sir," sapanya saat memasuki ruangan ini.
"Kau sudah mengurus semua yang aku inginkan?"
Ia mengangguk. "Kita akan mengunjunginya besok pagi."
Aku hanya mengangguk dan Pierce pamit mengundurkan diri.
Hermione masih terlelap saat aku meninggalkan secarik kertas untuknya di samping nakas ranjang kami. London diselubungi hujan sepagian ini dan aku baru saja menepiskan sisa rintik hujan dari mantelku saat petugas itu menghampiri.
"Lewat sini," ujarnya.
Setelah suara bunyi bel aku masuk ke sebuah ruangan dan duduk di sebuah kursi dengan meja dan kursi lain di hadapanku. Tak berapa lama kemudian sosok itu memasuki ruangan ini dan duduk tepat di hadapanku.
"Hallo, Mister Granger."
000
to be continued
Hey, guys! How's this chap? Thank you for reviews, alerts, and favorites. Let me know what you think. See you in the next chapter. Thank You
