Everything belong to JK Rowling, I just having some fun with the plot

Chapter Eight

Draco Malfoy

"Hello, Mister Granger."

Aku menatap pria paruh baya di hadapanku. Ia memandangku dengan penuh tanya. Aku berpikir bahwa Hermione hanya membesar-besarkan tatapannya yang menakutkan karena trauma yang ia alami, tetapi tidak. Tatapan pria ini begitu tajam dan semburat merah terlihat di matanya. Ia masih menatapku dengan sedikit memicingkan tatapannya.

"Kau siapa?" tanyanya.

Suaranya terdengar serak. Aku belum sempat menjawab saat ia kembali membuka mulutnya. "Kau dokter baru yang bertanggung jawab padaku sekarang?"

Kugelengakan kepalaku sesaat. "Aku Draco Malfoy, kekasih puterimu, Hermione Granger."

Matanya membelalak saat mendengar siapa diriku. Ia terkesan tak percaya dengan apa yang didengarnya, namun dengan cepat ia merubahnya menjadi sebuah tawa yang terkesan mencibir. "Hermione? The little whore?"

Aku tertohok saat mendengar nama panggilan terhadap puterinya sendiri. "Kau tak pantas memanggilnya seperti itu," ujarku pelan.

"Kau bisa menikmati semua fasilitas disini berkat dirinya," tambahku lagi.

Ia hanya menyunggingkan senyumnya yang terlihat meremehkan. "Kau begitu membelanya, young man."

"Apakah ia sehebat itu di ranjang sampai kau terlihat begitu tergila-gila tehadapnya? My little whore?"

Darahku seakan mendidih saat mendengar ia menyebut Hermione seperti itu. Ayah mana di muka bumi ini yang dapat berlaku lebih kejam lagi dirinya. "Beruntunglah kau kita sedang berada di ruangan yang penuh dengan kamera pengintai dan kau adalah ayah dari kekasihku. Jika tidak kau pasti sudah kubunuh."

Ia tak berkata sedikitpun, tapi senyuman misterius dan menakutkannya masih berada di wajahnya. "Kau sepertinya benar-benar sudah tersihir olehnya."

Stefan Granger menatapku dari atas hingga ke bawah. "Dari cara berpakaianmu dan gerak-gerikmu aku tahu bahwa kau keturunan kaya raya, young man. Berapa kau bayar Hermione untuk bisa bersamamu?"

Jari-jariku mengepal saat mendengar kalimatnya. Aku benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi berandal tua ini. "Aku kembali memperingatkanmu untuk berhati-hati dengan apa yang kau ucapkan terhadap Hermione."

"Atau apa, young man? Atau kau akan membunuhku?"

Tawanya menggelegar di ruangan ini. "Kau atau Hermione tak memiliki alasan untuk membunuhku, tapi aku memiliki alasan untuk membunuh little whore itu," ujarnya tenang.

Aku membatu di tempat saat mendengar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. "Dia membuatku membusuk di penjara dan sekarang dia mengurungku di panti rehabilitasi terkutuk ini. Dia akan membayar semuanya, apapun akan kulakukan bahkan jika aku harus membunuhnya."

Tanganku membentak meja ini yang membuat bebarapa petugas rehabilitasi ini masuk berikut dengan Pierce. "Kau gila," desisku.

Dan kembali ia tertawa dengan sangat lantang. "Aku pernah melihat bagaimana menderitanya Hermione saat ibunya mati, young man. Alih-alih membunuhnya, aku akan lebih memilih untuk membunuhmu. Hal itu pasti akan membuatnya mati sengsara."

Aku tak dapat membayangkan bila hal ini terdengar oleh Hermione, trauma itu pasti akan terulang berkali-kali di dirinya. Stefan Granger benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Beberapa orang petugas berbaju biru muda itu mendekatinya dan aku mendengar mereka membujuk Stefan untuk kembali ke kamarnya. "Ayo, Stefan," ujar pria yangh tubuhnya lebih besar dua kali lipat bahkan dari diriku.

Stefan tampak bangkit dan mengangguk padaku dengan tatapan pemangsanya. Ia berhenti di ambang pintu yang akan membawanya kembali ke ruang perawatannya. "Senang bertemu denganmu, Mister Malfoy. Aku tak sabar bertemu denganmu dan puteriku di luar gedung ini."

Semua kalimatnya mengandung ancaman yang aku tak tahu apakah harus takut padanya atau membiarkannya begitu saja. Pierce sudah menungguku di ruang tunggu panti ini. "Kau baik-baik saja, Mister Malfoy?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Aku belum mendapatkan salinan kesehatan dari Stefan Granger, tapi dari aku mendengar dari dokter yang merawatnya bahwa selain kesehatannya yang menurun akibat pemakaian obat-obatan, kejiwaannya juga terganggu. Ia menjadi sangat pemarah dan Hermione Granger adalah objek kemarahannya."

"Hermione?"

Pierce mengangguk. "Mungkin sebaiknya kau bertanya pada Miss Granger, Sir."

Tepat di saat aku melangkah keluar dari panti rehabilitasi ini, suara panggilan dari iPhone-ku terdengar. Stranger. Caller ID itu terpampang di layar datar smartphone-ku. "Hai," sapaku.

"Kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanyanya dengan suara yang masih sedikit parau.

Kulirik jam tangan yang melingkari pergelangan tanganku dan waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. "Sedang dalam perjalanan kembali menuju hotel."

"Baiklah," jawabnya.

"Kau merindukanku?" tanyaku saat sudah berada di dalam mobil setelah menembus rintik hujan yang sepagian ini membasahi London.

Tawa renyah terdengar di seberang sana. "Sampai jumpa di hotel," balasnya yang tak menjawab pertanyaanku.

Setelah ia menutup panggilan ini aku memandang jalanan yang masih basah sisa terguyur hujan deras tadi dan langit London yang masih dan akan terus kelabu sepanjang hari ini. Perkataan Stefan Granger tadi seakan terus berputar di kepalaku.

"Pierce," panggilku padanya yang tengah fokus mengendarai mobil ini.

"Yaa, Sir," jawabnya yang menatapku melewati kaca spion.

"Siapkan tim bodyguard untuk Miss Granger saat kita kembali ke New York."

Ia mengangguk. "Yes, Sir."

000

Hermione Granger

Running some errands. See you soon.

DM

Mataku masih mengantuk saat membaca catatan kecil yang Draco letakkan di nakas tempat tidur ini. Aku tertawa sesaat membacanya. Draco Malfoy dan segala kesibukannya. Di balik niatnya untuk menemaniku mengunjungi makam ternyata ia masih harus mengurusi kerajaan bisnisnya di sini. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi dan aku baru menyadari bahwa aku tertidur sangat lelap belakangan ini. Kuambil iPhone di nakas itu dan menekan nomor Draco.

"Hai," sapanya."

Aku tersenyum saat mendengar suaranya. Suara gemericik air hujan terdengar jelas sebagai latar dari panggilan ini. "Kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanyaku yang masih bermalas-malasan di ranjang ini.

"Sedang dalam perjalanan kembali menuju hotel."

Aku mengangguk-angguk. "Baiklah," balasku.

"Kau merindukanku?"

Kembali aku tersenyum mendengar pertanyaannya dan tertawa setelahnya. Kadang ia bisa berbicara semanis madu padaku, kadang pula ia bisa sedingin es kepada siapapun. Mungkin dia yang harus berkonsultasi dengan Harry saat kami kembali ke New York nanti.

"Sampai jumpa di hotel," ujarku yang langsung menutup panggilan ini.

Hujan masih membasahi luar sana. Kutarik kembali selimutku namun seketika membukanya kembali. Perutku tetiba berteriak minta diberi perhatian dan kuputuskan untuk memesan pelayanan kamar. Tak beberapa lama kemudian, seorang pelayan datang dengan membawakanku scone, omelet dan kopi. Sudah lama sekali aku tak sarapan di atas ranjang. Terdengar suara pintu terbuka dari suite ini dan beberapa saat kemudian Draco menyembul dari baliknya. Ia tersenyum saat melihatku. Ketika mantelnya sudah ditanggalkan ia bergabung bersamaku di ranjang ini. Draco mengecup pipiku. "Sudah aku katakan bahwa tindakanmu ilegal, Hermione."

Alisku mengerut dan seketika sadar saat matanya menatap kaus dirinya yang kukenakan pagi ini. "Aku suka harum tubuhmu."

Ia hanya tersenyum. "Habiskan sarapanmu," ujarnya dan aku mengangguk.

Kuperhatikan dirinya yang sedari tadi hanya diam. Aku bertanya apakah ia sudah sarapan ia hanya mengangguk untuk menjawabnya dan sisanya kami diselubungi oleh keheningan. Aku tahu Draco bukanlah tipe pria penuh keceriaan, tapi kali ini berbeda. Seakan ia baru saja ditimpah masalah yang begitu besar. Apakah mungkin ada masalah pada salah satu propertinya sehingga ia harus pergi pagi-pagi sekali tadi? Kusingkirkan nampan sarapanku setelah aku menyelesaikannya. Aku bersila di hadapannya lalu menatapnya. "Kau ada masalah?"

Dia tak menjawabnya. "Apakah ini ada kaitanya dengan kau pergi tadi pagi-pagi sekali?"

Ia memaksakan senyum di wajahnya. "Ada sedikit masalah."

"Pekerjaanmu?" tandasku.

Ia hanya tersenyum kecil dan tak menjawabnya. Ia justru menarikku dan memelukku dengan sangat erat. "Ada apa Draco?"

Dia masih tak menjawab dan terus memeluk erat tubuhku kemudian mengecup panjang puncak kepalaku. Kulepaskan diri dari pelukannya dan menatapnya dengan lekat. Aku tahu bahwa kami belum lama bersama, tapi aku tahu bila ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Kau pergi kemana tadi?"

Dihela napasnya sesaat. "Aku pergi ke Saint Andrew."

Aku membeku di tempat. "Aku bertemu dengan ayahmu."

Bila aku adalah sebongkah kaca, mungkin kini aku tengah pecah berkeping-keping bak ditendang sangat kencang saat mendengarnya. "Apa yang kau lakukan, Draco?" tanyaku yang berusaha untuk terdengar senormal mungkin.

Setiap hal yang berkaitan dengan Stefan Granger membuatku merinding. Aku tahu ia tak berada di ruangan ini, tapi setiap namanya disebut aku merasa seperti ia tengah menonton kehidupanku. "Aku hanya ingin bertemu dengannya."

"Lalu?" tanyaku.

"Matanya sama menakutkannya dengan semua ceritamu."

Aku tertawa sarkastik saat mendengarnya. Bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya dan Draco mengatakan bahwa tatapanya masih tetap menakutkan.

"Hermione."

Suara Draco membawaku untuk kembali menatapnya. "Kenapa ayahmu terkesan begitu membencimu?"

Kuhela napasku sejenak. Aku bahkan masih tak percaya mengapa ia begitu membenciku. "Bicaralah padaku," ucap Draco lembut.

Dia hanya duduk tenang di posisinya tanpa berusaha untuk memeluk atau memegang tanganku lagi dan aku sangat menghargai itu. Karena aku tak mau terlihat menyedihkan di hadapannya. "Ayahku berasal dari keluarga yang kaya raya, setidaknya seperti itulah yang diceritakan oleh ibuku."

Kuhela napas kembali sebelum melanjutkan cerita ini pada Draco. "Stefan Granger tergila-gila pada ibuku begitupula sebaliknya. Sebelum mereka berhasil lulus kuliah, ibuku mengandung diriku dan keluarga ayah tak menginginkan hal itu. Stefan memilih ibuku ketimbang keluarganya dan sejak saat itu ia tak lagi mendapatkan dukungan dana dari keluarganya."

Aku memerhatikan raut wajah Draco, tapi ia masih tetap memandangku tanpa berusaha untuk menyelanya. "Stefan mendapatkan pekerjaan dan kami sempat hidup bahagia. Masalah muncul saat aku berumur sekitar 8 tahun, perusahaan tempat ia bekerja gulung tikar dan ia menjadi pengangguran. Ia menjadi pemarah dan mulai mabuk-mabukan. Aku tak mengerti mengapa ia tak cari pekerjaan lain saja."

Untuk kesekian kalinya aku menghela napas. "Ia mulai memukuli ibuku dan juga diriku. Ia selalu mengatakan bahwa karena aku ia tak lagi dapat kembali pada keluarganya. Karena aku ia menjadi jatuh miskin dan karena aku pula hidupnya menjadi sengsara. Saat ia mabuk, ia selalu meracau pada ibuku bahwa seharusnya ia menggugurkan diriku sehingga mungkin kini ia bisa bekerja di perusahaan keluarganya dan tak perlu menjadi serba kekurangan seperti saat itu."

"Dari hari ke hari ketergantungannya semakin parah. Bahkan ia pernah tak sadar selama beberapa hari. Aku tak habis pikir mengapa ibuku tak meninggalkannya. Aku yakin kami dapat bertahan hidup walaupun penghasilan ibuku tak besar."

Aku tertawa sarkastik saat mengingatnya. "Mungkin ia terlalu cinta pada Stefan."

"Hal ini terjadi bertahun-tahun sampai satu malam Stefan sangat mabuk dan mendorong ibuku dari lantai atas sampai terguling hingga pingsan. Ketika sampai di rumah sakit ibuku masih tak sadarkan diri dan dokter mengatakan bahwa ia mengalami pendarahan hebat di organ dalamnya. Hal ini bukan karena kejadian Stefan mendorong ibuku malam itu, tapi akumulasi dari tindakan kasarnya selama ini."

Air mataku menetes saat mengenang kembali kejadian itu. "Dan ibuku meninggal beberapa hari kemudian. Stefan datang bak tak ada kejadian besar yang menimpa ibuku. Akhirnya aku melaporkaannya pada polisi atas kematian ibuku. Polisi datang dan semuanya berkahir."

"Ia menjadi sangat membenciku sejak saat itu," tambahku lagi.

Tubuhku bergetar dahsyat saat berhasil menyelesaikan kisahku pada Draco. Ia bergerak ke arahku dan kini ia memelukku. Erat. Dan aku tak mau melepaskannya.

"I'm sorry," bisiknya.

Aku merasakan air matanya belinang dan membasahi puncak kepalaku. "I'm sorry," sekali lagi ia berbisik kepadaku.

000

Draco memelukku sepanjang hari. Kami hanya diam tanpa ia berani bertanya apapun lagi kepadaku dan aku juga tak berusaha untuk menjelaskan lebih banyak lagi kepadanya. Aku tak tahu bahwa ia akan mengunjungi Stefan di panti rehabilitasi itu, tapi melihat dengan siapa aku berhadapan cepat atau lambat ia pasti ingin mengetahui segala aspek dari kehidupan termasuk seperti apa ayah yang telah menghancurkan semua memori masa kecilku. Kami akhirnya keluar dari suite itu setelah aku meyakinkan pada dirinya bahwa aku baik-baik saja. Dan setelah ia meyakinkanku pula bahwa tak ada yang dapat menyakitiku selama aku bersamanya.

Kami menembus udara dingin London dengan Pierce dan Fleming di kursi depan. Sesekali Draco memeriksa keadaanku dan kemudian kembali terhanyut pada pekerjaan di layar datar iPhone-nya. Hujan deras itu berubah menjadi rintik untuk kemudian mereda saat kami sampai di tujuan utama mengapa kami terbang bermil-mil jauhnya ke kota ini. Bouquet calla lily sudah berada di tanganku saat kami turun dari mobil. Sudah bertahun-tahun memang aku tak pernah mengunjungi tempat ini, tapi aku masih ingat betul dimana tubuh ibuku di semayamkan. Draco mengekoriku dan akhirnya aku menemukan makam ibu. Makamnya begitu indah dengan rumput yang tertata cantik. "Hai, Mum. Sudah lama sekali tak berjumpa," suaraku bergetar saat mengatakannya.

Draco maju dan berdiri di sampingku lalu menggenggam tanganku. Aku menatapnya dan ia tersenyum padaku lalu mengalihkan pandangannya pada makam ibuku. "Hello, ."

Tak seperti orang-orang lain yang akan mengajak berbicara makam di hadapannya aku hanya diam dengan tangan Draco yang terus menggenggamku. Tak ada yang sanggup untuk aku katakan atau lebih tepatnya aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada ibuku. Apakah aku harus mengatakan padanya bahwa hidupku sangat baik saat ini? Atau aku harus memperkenalkan Draco padanya? Entahlah.

"Kau mengigil?" tanya Draco padaku yang merasakan tanganku mulai bergetar di genggamannya.

Aku berusaha untuk tersenyum padanya. Udara London lebih menusuk dibandingkan New York saat ini. "Tak ada yang ingin kau sampaikan?" tanyanya lagi padaku

Aku menggeleng dan ia mengangguk. "Kita kembali ke mobil saja," ujarku.

Langkahku di hentikan olehnya saat aku hendak pergi dari sini. "Helena, terima kasih karena sudah melahirkan dan membesarkan wanita hebat seperti Hermione," ujarnya pada makam ibuku.

Ia tersenyum padaku lalu mengecup puncak kepalaku. "Ayo," ujarnya lalu menggenggamku dan kami berjalan meninggalkan peristirahatn terakhir Mum.

I coudn't be more grateful to have you in my life, Draco Malfoy.

000

Perjalanan kami di London tak berakhir sampai di makam ibuku saja. Mataku membebelalak saat menatap gerbang yang baru saja kami masuki. "Draco," ujarku yang tak percaya.

Ia hanya mengedikkan bahunya. Sebuah gerbang dengan sulur-sulur sebagai ornamennya terbuka dengan seorang penjaga yang mengangguk pada Pierce. Aku masih menatap Draco tak percaya. "Surprise, Hermione?" tanyanya.

"You're the stalker bastard," jawabku dan ia tertawa.

Kami telah berada di pekarangan dari panti asuhan dimana aku tumbuh setelah kepergian ibuku. Dan Draco membawaku kesini. That stalker bastard brings me to this place. Suasananya masih serupa dengan tahun-tahun dimana aku menjadi bagiannya. Kastil yang besar, pekarangan hijau, dan suster-suster penjaganya. Aku masih ingat saat aku duduk di bawah pohon besar di sudut pekarangan taman ini hanya untuk membaca atau melarikan diri dari keramaian. Dan pohon itu masih berdiri kokoh disana. Aku masih mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pekarangan panti asuhan ini dan semuanya masih tampak sama. "Kau mau masuk?" tanya Draco dan aku mengangguk.

Tak ada anak-anak panti yang berkeliaran di lorong ini karena melihat waktu kedatangan kami, mereka pasti tengah berada di kelasnya. "Berapa usiamu saat kau berada pertama kali disini?"

"Lima belas tahun," jawabku.

Dari kejauhan aku melihat suster yang selalu menjadi pelindungku sejak pertama aku menginjakkan kaki disini. Ia masih duduk di bangku favoritnya dan dengan pemandangam favoritnya pula. Ada rosario di tangannya dan matanya tampak terpejam. Kuhampiri dirinya sebelum aku memberanikan diri untuk menyapanya. "Suster McGonagal."

Matanya terbuka dan ia memandangku. Raut terkejut tampak di wajahnya. Ia bangkit dari kursi dan tampak kesusahan. "Hermione," ujarnya yang aku jawab dengan anggukan.

"Hermione Granger," ujarnya lagi untuk lebih memastikan.

Aku mengangguk kembali. "Oh Tuhan," ucapnya.

Dan ia langsung mendekat untuk memelukku. Aku langsung menegang karena aku bukanlah orang yang familiar dengan pelukan orang lain, tapi Suster McGonagal akan kubuat menjadi pengecualian. Kubalas pekukannya. Sesaat kemudian melepaskanku dan linangan air mata itu membasahi pipinya. Tangan keriputnya membelai wajahku. "Little angel, kau sudah sangat dewasa sekarang," ujarnya.

"Kau sudah bekerja di hotel mewah?" tanyanya dan aku mengangguk.

"You're working in the skyscraper on the world?"

"Yes," balasku.

"Harry Potter bersama denganmu juga?"

Kembali aku mengangguk. Suster Minerva McGonagal adalah satu-satunya suster di panti asuhan ini yang tampak tak pernah menyerah menghadapiku sejak pertama kali aku menginjakan kaki disini sampai aku keluar untuk melanjutkan studiku. Saat aku hampir mati karena menyayat pergelanganku sendiri di salah satu lorong di London dan akhirnya aku dibawa ke sini, hanya Suster McGonagal yang tampak dengan rela mengurusku. Bukan tanpa alasan memang jika melihat tingkahku yang tertutup. Aku tak suka berbicara, aku tak suka tertawa, dan aku membenci semua kegiatan yang mengharuskanku berada di antara banyak orang. Tetapi, Suster McGonagal tetap berada di sisiku meski aku terus menolaknya. Tak hanya itu, berkat beliau jugalah aku bisa berada menyukai dunia perhotelan.

Waktu itu aku harus membantunya untuk membeli logistik ke pusat kota , namun tetiba saja badai melanda dan kami harus bermalam di sebuah hotel. Hal itu adalah kali pertama aku menginjakan kaki di sebuah hotel. Beliau mengatakan hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi yang dapat berkerja di tempat seperti ini. Hal itu membuatku mempelajari tentang dunia ini dan sekarang aku akan terjebak selamanya disana.

"Dan siapa pria ini?" tanyanya dengan tangan yang masih memegangiku.

"Ini Draco Malfoy."

Suster McGonagal menjabat tangannya. "Kau tampan sekali. Suamimu tampan sekali," ujarnya.

Aku tersenyum. "Dia bukan suamiku."

"Belum," koreksi Draco yang membuat senyum di wajah Suster McGonagal terpulas.

Kami duduk di bangku itu dengan Suster McGonagal yang bercerita tentang panti ini dari tahun ke tahun sampai akhirnya aku pamit untuk ke toilet. Saat aku kembali, aku melihat ia dan Draco tengah berbincang. Kuhentikan langkahku untuk mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.

"Saat pertama kali Hermione datang kesini, tubuhnya sangat kurus dengan lingkaran mata hitam sisa lebam dan karena ia harus terjaga semalaman di jalanan saat ia tuna wisma dulu. Dia tampak lemah karena usaha bunuh dirinya. Kau tahu akan hal itu?"

Draco mengangguk. "Dan kau membantunya," ucap Draco

Suster McGonagal menggeleng. "Tak sepenuhnya. Harry Potter menjadi teman bicaranya. Mereka sama-sama ditelantarkan keluarganya, mungkin hal itu yang menjadi faktor utama kedekatan mereka."

Draco menyimak semua perkataan yang terlontar dari suster itu. "Apakah ia masih sering bermimpi buruk?" tanya Suster McGonagal.

"Terkadang," jawab Draco.

"Hermione pernah dicap gila oleh teman-temannya karena ia sering berteriak dalam tidurnya. Tak ada yangi ingin dekat dengannya karena hal itu."

Wajah Draco tampak mengeras saat mendengarnya.

"Aku titip Hermione padamu," ujar Suster McGonagal.

Draco mengerutkan keningnya. "Sejak pertama kali mengenalnya, baru kali ini aku melihat ia begitu bahagia. Senyum seakan tak ingin lepas dari dirinya dan itu pasti karena dirimu. Jadi, aku mohon untuk kau tetap menjaganya seperti itu. Dia sudah cukup lama menderita dan aku tak mau lagi hal itu terjadi pada dirinya."

Draco mengangguk. "Aku akan menjaganya dengan segenap kemampuan yang kumiliki.

Sebelum percakapan mereka menjadi sangat menyentuh aku datang menghampirinya. "Kau sudah selesai?" tanya Draco saat melihatku.

Aku mengangguk. "Kau mau pergi sekarang?"

"Boleh," jawabku.

"Kunjungilah wanita tua renta ini sesering yang kau bisa, little angel," ujar Suster McGonagal saat kami akan berpamitan.

Aku mengangguk dan kembali memeluknya.

000

Begitu kami berada di mobil dan keluar dari lingkungan panti asuhan ini, kulepeskan seatbelt yang menahanku dan langsung memeluk Draco. "Terima kasih," ujarku pelan yang disambutnya dengan belain lembut di rambutku.

Aku yakin ia tengah tersenyum sekarang meski aku tak dapat melihatnya. Ada banyak sekali hal yang berada di luar dugaan saat aku bersama dengan pria ini. Aku kembali ke London, ia bertemu dengan ayahku, menemaniku mengunjungi makam ibuku, dan membawaku ke panti asuhan tempatku dibesarkan. Draco Malfoy bertingkah bak Santa Claus saat ini dan hal itu tak baik. Bukankah Santa Claus hanya khayalan?

Ia melepaskan pelukanku dan hanya tersenyum simpul saat menatapku. Draco menarikku agar bersandar padanya. Kepalaku bersandar di dadanya dengan ia yang memelukku dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepalaku. "Tidurlah," ucapnya.

"The Waldrof tak jauh dari sini," balasku.

Ia menggeleng. "Kita akan keluar kota. Tidurlah dan tak usah bertanya lagi."

Aku menengadah dan ia mengedik kemudian menciumku lembut.

Lebih dari dua jam akhirnya mobil kami berhenti di sebuah pagar tinggi menjulang. Pierce terdengar membunyikan klakson dan seorang penjaga keluar untuk membukakannya. Mataku masih tak awas akibat tertidur di sepanjang perjalanan. Aku mencoba bangkit karena Draco membuatku tidur di pangkuannya. "Kita dimana?"

"Welcome to my home, Stranger."

Rumahnya.

"Your home?" tanyaku tak percaya dan ia hanya mengangguk.

Pierce sudah turun dan membukakan pintu untuk kami. Aku keluar dan langsung tercengang saat melihat kesekelilingku. "Bloody hell," desisku.

Rumah Draco bahkan terlihat lebih besar dari bangunan panti asuhanku tadi. Sebuah kastil lebih tepatnya berdiri menjulang di hadapanku dengan gaya klasik khasnya yang dikelilingi oleh taman yang meski tak lagi ada matahari, tapi hijaunya masih dapat kurasakan. Ia menggengam tanganku untuk menaiki undakan menuju ke dalam rumahnya. Seorang pelayan sudah berada disana dengan jas lengkap sambil mengangguk pada kami. "Selamat malam, Mister Draco."

Draco hanya berlalu begitu saja. Bila pekarangannya saja sudah membuatku tercengang, aku tak tahu bagaimana aku dapat menjelaskan keterpukauan diriku saat melihat isi dari kastilnya. Foyer yang terbuat dari pualam dengan vas bunga serta lampu gantung kristal, dinding-dinding yang dengan berbagai macam lukisan sampai foto keluarga yang memajang tiga orang rupawan di dalamnya. "Itu foto keluargamu?"

Ia mengangguk. "Berapa umurmu saat itu?"

"Enam belas tahun."

Aku tertawa. "The baby Draco," ia ikut tertawa dan membawaku berjalan beriringan dengannya.

Suara derap kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga di ruang tengah kastil ini menyita perhatian kami. Seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik hanya dengan jubah tidurnya memandang kami dari atas balkon ruang tengah rumah ini. "Draco," ujarnya yang langsung menuruni tangga itu.

Ia sempat berhenti sejenak sebelum akhirnya memeluk Draco. Aku melihat senyuman lebar terkembang di wajah pria ini. Wanita itu melepaskanya dan memukul tangannya. "Aku kira kau sudah lupa untuk pulang."

Senyuman itu masih merekah di wajah Draco saat menatap wajah wanita di hadapannya itu. "Aku tak mungkin melupakanmu, Mum."

Aku langsung mundur saat mendengar kata itu. Bagaimana mungkin ia bisa dengan santainya membawaku menemui ibunya. Di tengah malam seperti ini pula. Aku melihat busana yang kukenakan. Hanya boat, jeans serta kemeja dan dilengkapi dengan coat. Bukan seperti ini cara berpakaian saat kau akan dikenalkan dengan orang tua dari kekasihmu. Menyadari aku yang tetiba mundur dari reuni kecil ibu dan anak itu, Draco menarik tanganku untuk mendekat padanya. "Mum, ini Hermione."

Ia melihatku seketika. "Kekasihku," tambahnya lagi.

Ibunya langsung memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Damn me! Ia pasti tak menyukaiku. Mana ada orang tua yang menyukai wanita yang dibawa putranya tengah malam kediamannya. Tetapi, aku salah ia tersenyum meski tidak mengembang saat ia menatapnya. Ia tersenyum padaku. "Hermione, ini Narcissa Malfoy, ibuku."

"Senang akhirnya melihat Draco dapat membawa wanita ke sini," ujarnya.

Aku tersenyum mendengarnya. "Kau yakin ia bukan wanita yang kau tiduri lalu kau bahkan lupa dengan namanya keesokan hari."

"Mum," Draco memelas padanya.

Narcissa kembali tersenyum. "Beristirahatlah, dari wajah kalian, aku tahu kalian kelelahan. Sampai jumpa saat sarapan," ujarnya lalu memeluk Draco dan masih tersenyum padaku.

"Senang melihatmu, anak nakal," ujarnya pada Draco.

Saat Narcissa sudah menghilang ke kamarnya Draco menarik pinggangku untuk mendekat kepadanya. "How dare you, Malfoy," ujarku padanya yang kini tengah menyeringai di hadapanku.

Ia menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana mungkin kau membawaku bertemu dengan ibumu dengan tampailanku seperti ini. Aku tak memakai pakaian yang layak, aku baru saja bangun dari tidur selamadi perjalanan tadi, dan ini tengah malam, Draco. Bloody.."

Racauanku terputus saat ia menciumku. Aku merasakan ia tersenyum dalam ciuman kami. Kukalungkan tanganku di lehernya dan terhanyut dalam ciuman manisnya. Ia melepaskanku perlahan. "Kau adalah impian semua orang tua, Stranger," ujarnya.

Aku masih memberengut menatapnya. "Tak mungkin," jawabku yang masih berada di pelukannya.

"Kau cantik, kau pintar, kau independen, kau menawan, kau impian semua orang tua."

Aku tertawa. "Berapa banyak uang yang harus kutransfer kepadamu setelah memujiku habis-habisan seperti itu, huh?"

Ia menggeleng. "Bagaimana jika ribuan orgasme malam ini, huh?" tanyanya yang kembali mendekatkan dirinya kepadaku dan melumat bibirku kembali dan aku juga kembali menyerah padanya.

"No sex allowed in this home, unless you already marry her, Draco," suara Narcissa sontak melepaskan tautan kami.

Aku yakin wajahku memerah sekarang. Seumur hidup aku tak pernah dipergoki seperti ini. "I'll marry her someday, Mum. Relax."

Aku langsung menatapnya horor dan tak percaya. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal seperti itu dengan sangat mudahnya? Lagipula kami baru bersama secara resmi beberapa hari. Manusia gila.

"Goodnight, you two," ujar Narcissa dari balkon.

"Goodnight, ," balasku.

Ia menggeleng. "Narcissa, dear," lalu ia melengos pergi ke kamarnya.

Draco kembali menarikku. "Let's go to bed now."

000

Kamar Draco berukuran super besar bak kamar para pangeran dari jaman kerajaan atau bahkan bak kamar pangeran yang kini tengah memerintah Britania Raya sekarang. Bahkan kamar utama di penthouse New York-nya tak dapat menandinginya. Aku baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri saat mendapati Draco sudah berada di ranjangnya. Aku melakukan tur mini di kamarnya. Ada banyak piala, penghargaan, dan foto-foto dengan frame cantik yang menghiasi bufet-bufet serta senta di kamar ini. Hal yang menyita perhatianku adalah foto saat ia berada di bangku kuliah dengan dua orang teman prianya dan seorang wanita yang berambut sama cokelat denganku yang didekapnya erat. "Siapa mereka?" tanyaku.

Draco mengerutkan dahinya. "Siapa?" ia ikut bertanya.

Kuambil frame itu dan menunjukkannya. Ia bangkit dari ranjanganya dan berjalan ke arahku hanya dengan celana pendeknya dan bertelanjang dada. "Mereka, Blaise, Theodore, dan Astoria."

"Astoria?" tanyaku penasaran.

Ia mengangguk. "Ia tampak sangat cantik. Dia kekasihmu di sekolah dulu?"

Draco memelukku dari belakang saat aku kembali meletakkan frame itu ke tempat semula. "Dia memang sangat cantik. Dia cinta pertamaku," ujarnya yang membatku sedikit terkejut.

Aku tak tahu bahwa ia akan berbicara segamblang ini tentang hidupnya. Ia mengecup puncak kepalaku kemudian lalu tak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya. Apakah mungkin ia masih mencintai wanita ini? Dari yang kulihat pastilah mereka adalah sekumpulan anak-anak orang kaya dan aku pasti tak akan pernah sanggup menandinginya.

Draco meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Kau tak perlu cemburu, Hermione."

Aku tertawa karena ia seperti dapat membaca pikiranku. "Astoria meninggal tak lama setelah foto itu diambil."

Jantung seperti mencelos saat mendengarnya. Mungkin aku memang sedikit cemburu atas kecantikan dan latar belakang kehidupannya, tapi aku tak pernah berharap bahwa kematianlah yang memisahkan mereka. Aku berbalik dan menatap Draco. "Astoria Greengrass adalah temanku sejak kecil. Ayahnya juga berteman baik dengan ayahku, kami tumbuh bersama dan aku jatuh cinta padanya. Tak ada yang tak mencintainya," ucapnya.

Kecemburuan itu sedikit menerpa melihat bagaimana cara ia menggambarkan Astoria ini, meski ia sudah lama meninggal.

"Dulu, aku selalu berpikir bahwa aku akan berakhir bersama dirinya. Menikah, memiliki anak, dan membangun perusahaan bersama, tapi kenyataan berkata lain. Ia menderita leukimia dan hal itu merenggut nyawanya."

Aku langsung memeluknya. "I'm sorry , Draco. You must be hurt," ujarku.

Ia menggeleng. "I was, but not now."

Kulepaskan pelukanku dan menatapnya kembali. "I have you now. You're the most precious thing that ever happen to me, Stranger. And you make me grateful for every single day."

Terkadang kata-katanya yang berlebihan membuatku semakin jatuh dan menggilainya. Aku berjinjit dan mengecupnya. Ia menggenggamku untuk kembali ke ranjang. Aku yakin ranjang ini dapat menampung hampir lima orang dewasa sekaligus.

"Ibuku menyukaimu," ujarnya tetiba saat aku meletakkan kepala di dadanya.

Ia membelai lembut rambutku dengan aku yang memeluknya. "Ia hanya melihatku sesaat dan tak tahu apa yang terjadi padaku selama ini. Bila ia sudah mengetahuinya, aku yakin ia pasti akan menyuruhmu menajuhiku selamanya."

Draco tertawa renyah. "Kau terlalu banyak menonton drama atau hal ini efek dari terjaga di tengah malam seperti ini," ucapnya.

Aku menggeleng lalu bangkit dari sandarannya. "Lihat aku Draco. Aku hanya wanita biasa sementara kau memiliki semua ini," ujarku yang mengedarkan pandangan ke seluruh kamar ini.

"You're the king with everything. The great family, friends, the company kingdom with the billion dollars profit. And look at me. I'm nothing if you compare with this."

Draco ikut bangkit dan menggeleng. "So, don't be nothing. Be my everything."

Ia menggenggam tanganku. "And you have to remember, every king needs a queen," ia mendekat dan menciumku.

Tangannya bermain di ujung gaun tidurku. Bibirnya menggoda di setiap jengkal tubuhku. Aku dapat merasakan helaan demi helaan napasnya. "Kau berhutang jutaan orgasme kepadaku," ujarnya menggoda.

Aku tertawa. "Kau tak lelah?" tanyaku.

"Bersamamu? Tak akan pernah."

000

Beberapa hari berada di Inggris membuatku begitu bahagia. Dari London sampai Wiltshire. Bahkan Draco membawaku mengunjungi makam ayahnya. Namun, disatu sisi aku takut akan hubungan ini. Segalanya berjalan begitu cepat. Tak seharusnya aku bertemu dengan ibunya. Tak seharusnya ia membawaku ke rumahnya. Tak seharusnya ia membawaku mengunjungi makam ayahnya. Tetapi, semuanya sudah terjadi. Sepanjang penerbangan aku berpikir bagaimana bila ia menganggap bahwa aku adalah kesalahan. Bahwa seharusnya bukan aku yang berada di sisinya sekarang karena ia malu denganku. Dengan semua masa laluku.

Kami sampai di New York tepat di pagi hari dan aku sangat mengingkan Apple-Cinnamon French Toasrt milik Sarabeth's. Seperti layakya ibu peri, Draco mengabulkan permintaanku. Sarapan kami begitu damai sampai ketika kami harus meningglkan restoran ini. Serbuan kamera menghalangi jalan kami. Seketika Draco melepaskan diriku dan teriakan-teriakan dari para pewarta yang ingin mengonfirmasi hubungan kami salin bersahutan. Aku melirik Draco yang terlihat menuduk dan kepanikan tampak di wajahnya. Aku melihat ia mulai sibuk mengutak-atik iPhone untuk mencari pertolongan dan sama sekali tak melirikku. Tak lama kemudian Pierce masuk dan menarik Draco bersamanya. Tanpa memedulikan diriku Draco tetap menunduk dan pergi bersamanya sementara aku ditinggal dengan Fleming yang tetiba datang di sampingku. "Miss Granger," ujarnya sambil menghalau kamera yang akan mengambil gambarku.

Dengan sigap ia membawaku keluar dari kerumunan itu untuk masuk ke dalam SUV Audi hitam yang sudah menunggu. Aku tak mendapati Draco di mobil ini. "Dimana Draco?" tanyaku pada Fleming yang sudah memacu mobil ini.

"Di mobil yang lain," jawabnya cepat.

"Bersama Pierce?" tanyaku.

"Yes, Maam."

"Kau akan membawaku ke tempatnya?"

"Tidak, Maam. Aku akan membawamu ke apartemenmu sesuai perintah," balasnya dengan nada yang sama.

Dia melepaskan genggamannya dariku. Kuhela napas dan memandang jalanan New York di pagi hari. Ia pasti malu akan diriku. Draco malu akan diriku.

000

to be continued

I really like writing this story and I also like hearing what you think. For the conflict, let's hope that I can do my best. So leave me your review and see you guys in the next chapter. Love you and Thanks!