Everything belong to JK Rowling, unless the plot and some unknown characters

Chapter Nine

Hermione Granger

Aku benci cara orang-orang yang selalu mencuri-curi pandang seperti ini. Seperti aku terpidana mati kasus pembunuhan berantai atau para koruptor yang memakan uang negara seenaknya. Memang tak secara gamblang tapi aku tahu mereka memerhatikan gerak-gerikku sejak aku memasuki hotel ini. Ditambah Fleming yang sedari tadi mengekoriku, lengkap sudah aku menjadi topik terhangat di hotel ini. Bukan tanpa sebab, tapi karena wajahku dan Draco sudah memenuhi hampir seluruh media gosip baik cetak atau online di seantero USA dan mungkin hingga di luar sana. Aku tak menyangka bahwa Draco Malfoy amat sangat terkenal seperti ini. Aku tahu ia beberapa kali berada di sampul majalah bisnis dan melakukan beberapa pemotretan untuk beberapa kampanye tertentu, tapi aku tak tahu bahwa berita hollywood juga begitu menyukai keeksistensian hidupnya. Sampai pagi ini masih ada beberapa media yang berjaga di sekitar apartemenku dan aku sudah muak akan hal itu.

Aku memandang kesal kepada Fleming yang masih berdiri di belakangku saat kami sudah berada di depan pintu kantorku. "Seriously, Fleming? Stop following me. It's been a week."

Ia tak menjawab dan memilih untuk tetap berdiri di sisi pintu kantorku. Aku dikejutkan oleh kehadiranya sejak beberapa hari yang lalu di depan pintu apartemenku. Ia mengatakan bahwa ia sekarang ditugaskan menjadi bodyguard-ku yang aku bahkan tak tahu apa tujuannya. Aku tahu Draco Malfoy yang memerintahkannya, tapi demi Tuhan dia tak punya hak untuk mengatur hidupku apalagi memberikanku seorang bodyguard. Aku bukan puteri kerajaan atau anak dari pengusaha berlian. Dan dengan menghilangnya dia dari hidupku satu minggu ini dan memberikan seorang bodygurad kepadaku tak akan merubah keadaan. Apa yang diharapkannya? Menjaga simpanannya agar tak berbicara pada media tentang siapa diriku dan bagaimana masa laluku?

"Get the hell out from my office now, Fleming."

"Sorry, Maam. I can't," jawabnya.

Aku frustrasi menghadapi pria keturunan Inggris yang sama sepertiku ini. "You can't follow me all day long," balasku.

"This's your security details, Maam. I'll follow you wherever you go. That's the order."

"The security details for what? Who's order?" tanyaku

Ia tak menjawabnya. Merasa tak sanggup lagi, kuputuskan untuk membiarkannya berdiri di luar ruangan ini. Gelas kertas berisi kopi yang mengepul sudah berada di atas mejaku, berarti Nikki sudah berada disini tak berapa lama yang lalu. Kubuka laptopku dan ada begitu banyak pekerjaan yang menantiku. Namun, sebelumnya kusempatkan terlebih dahulu untuk mencari namaku di dunia maya dan aku menahan napas saat menemukan puluhan foto kami saat di New Orleans, Barton Rogue dan Inggris kemarin. Aku dan Draco di steakhouse saat ia meciumku, kami berjalan di trotoar New Orleans saat aku selesai membeli burger dengan tangan yang saling bertaut, adapula saat kami dan Narcissa berada di pemakaman tempat Lucius Malfoy bersemayam, dan kami di Sarabeth's di hari dimana Draco melepaskan genggamanya dariku. Kubaca headline yang tertera di salah satu artikel media online itu : Draco Malfoy with His New York's Sweetheart

Lama tak terlihat menggandeng teman wanita, Draco Malfoy tertangkap kamera beberapa kali dengan wanita berambut cokelat yang kini diketahui bernama Hermione Granger. Wanita yang dilansir merupakan General Manager dari salah satu anak perusahaan Malfoy Group ini terlihat mesra dengan Draco saat menghabiskan liburan singkat bersama di New Orleans. Tak hanya itu, kabar kedekatan ini juga tampaknya sudah disetujui oleh keluarga dari Draco Malfoy dilihat dari Draco dan ibunya serta Hermione yang tampak mengunjungi makam dari mendiang ayahnya di Wiltshire, Inggris beberapa hari yang lalu. Namun berita ini belum mendapatkan pernyataan resmi dari kedua belah pihak...

Kuhela napas dan tak ingin melanjutkannya. Sudah seminggu kami tak bertemu. Aku mencoba menghubunginya sesaat setelah insiden di Sarabeth's itu namun ia tak menjawabnya dan tak beberapa lama kemudian ponselnya tak dapat kuhubungi. Tadi pagi ia mencoba menghubungiku hingga sekarang dan tak ada satupun yang berniat kuangkat. Apakah sekarang ia sudah berubah pikiran dan ingin menemuiku kembali? Hal ini yang membuatku tak suka menggantungkan harapan pada seseorang. Expectation is the cruel bastard. Aku berpikir bahwa Draco Malfoy adalah pengecualian, tapi aku salah. Semua ucapannya pada Suster McGonagal dan caranya memperkenalkanku pada ibu dan makam ayahnya ternyata tak berarti apa-apa. Ia berpikir mungkin para pewarta tak akan mengendus kedekatan kami, tapi ia salah. Dan aku tahu ia akan sangat malu bila masa laluku terungkap di media. Bahwa pemilik Malfoy Group telibat hubungan dengan wanita yang besar di panti asuhan dengan ayah pemabuk dan pecandu yang begitu membencinya.

Sebuah e-mail dari company management mengalihkan perhatianku.

To: Hermione Granger

From: The Malfoy Group Public Relation

Subject: Tha Annual Malfoy Group Gala Dinner

Dear Miss Granger

With this e-mail The Malfoy Group hereby wish you the annual gala dinner. The ball will take place at The Malfoy Colombus Cir, this weekend. The dress code is formal.

We hope you'll manage to join us for a night of toasts, a good cheer and gourment delight celebrating this annual event.

Regards,

Head of Protocol

Kuhela napasku. Aku bahkan tak dapat memikirkan acara ini. Beberapa hari lalu mungkin saja, tapi sekarang aku tak lagi bersemangat. Aku kira acara ini adalah caraku untuk memperkenalkan Draco pada orang-orang bahwa kami sekarang bersama, tapi sepertinya aku harus mengubur keinginan itu. Kusesap kopi berukuran venti di hadapanku ini dan mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan membaca kontrak yang nanti siang akan kubahas ini. Sebuah email notification kembali terdegar dari macbook-ku ini

To: Hermione Granger

From: Draco Malfoy

Subject: Phone Call

Dear Hermione

Please answer my phone call

Yours,

Draco Malfoy

Aku hanya membacanya dan kembali kepada kontrak yang berada di hadapanku. Beberapa saat kemudian suara notifikasi itu kembali terdengar dan aku membukanya.

To: Hermione Granger

From: Draco Malfoy

Subject: Phone Call

Answer my fucking phone call, Granger.

Answer my fucking hone call? Nice, Draco. Kekesalan itu kembali muncul saat membaca e-mail darinya. Kuambil ponselku yang sedari tadi berada di tas dan menemukan 25 panggilan tak terjawab serta 15 pesan singkat dari dirinya. Kuletakkan kembali ponsel itu dan keluar menuju ruang rapat saat Nikki mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya.

000

"Klausa kelima, nilai produksi perusahaan kami sudah begitu besar jadi aku keberatan dengan harga yang kau tawarkan untuk tahun ini kepada kami khususnya untuk group rate," ujar Dennise yang merupakan salah satu klien kami dari sebuah travel agent.

Aku mengangguk dan menandai apa yang menjadi permintaannya. Sejauh ini tak ada yang menjadi gangguan berarti pada kontrak terbaru kami dan pertemuan ini berjalan dengan lancar. Baru saja aku keluar dari ruang pertemuan ini, Fleming memberikan ponselnya kepadaku. "Maam," ucapnya.

Keningku mengerut padanya dan ponsel itu tetap disodorkannya padaku. Tatapanku tertambat pada caller id di layar datar itu dan mengembalikannya lagi pada Fleming. "Aku tak mau menjawabnya."

Lalu aku berjalan meninggalkannya bersama Nikki yang kembali membacakan rapat lain yang akan kuhadiri hari ini. Kuperiksa kembali ponselku dan Draco sudah berhenti untuk menghubungiku. Kemana saja dia satu minggu ini baru dapat menghubungiku sekarang?

"Kemana kita sekarang?" tanyaku pada Nikki yang terlihat sibuk dengan tablet di tangannya.

Ia masih menatap benda berlayar datar itu. "Kembali ke kantormu, Chef Luca sudah ada untuk membahas makanan untuk group Senator Georgia minggu depan."

Kami berada di lift saat Nikki menurunkan tabletnya dan mulai membuka suaranya. "Jadi apakah aku masih harus menutup mulutku tentang hubungan kalian?" tanya Nikki begitu saja.

Aku mengangkat sebelah alisku. "Seluruh media sudah memberitakan kedekatan kau dengan Mister Malfoy. Apakah aku tetap harus menutup mulutku?" tanyanya lagi.

"Apakah kau masih mau mengendarai BMW itu?" tanyaku.

Nikki langsung mengangguk. "Tetap tutup mulutmu," ucapku yang langsung keluar dari lift itu dengan Nikki dan Fleming yang mengekoriku.

Luca sudah berada di ruanganku saat aku sampai disana. Ia masih menggunakan seragam chef dan apron kebanggaannya saat ia bangkit untuk tersenyum kepadaku. "Lama tak berjumpa Miss Granger," ujarnya.

"Apakah kau membuat desert untukku?" candaku padanya.

Dia hanya tertawa. "Jadi, kau sudah memiliki list menu yang kau rekomendasikan untuk grup ini? Karena dari pengalamanku tahun lalu, tamu ini sangat menyebalkan," ujarku yang disambut dengan tawa olehnya.

Luca menyerahkan list menu yang direkomendasikannya dan mempresentasikan secara singkat kepadaku. Saat kami sudah mencapai kesepakatan ia menyesap teh yang disuguhkan Nikki padanya tadi. "Kapan aku bisa melakukan test food?" tanyaku.

"Nanti malam setelah dinner's service atau besok setelah lunch's service," ucapnya.

Matanya teralih pada ponselku yang bergetar dan sudah beberapa kali pula kuacuhkan. "Kau tak mau mengangkatnya? Aku dapat pergi sekarang," ucap Luca yang kusambut dengan gelengan.

"Hanya perusahaan kartu kredit," ucapku.

Luca tertawa renyah sesaat setelah mendengar jawabanku. "Apakah Draco Malfoy memiliki anak perusaan kartu kredit sekarang?"

Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Jadi, kau bersama bos kita sekarang?" tanyanya dengan nada bercanda di dalamnya namun aku tetap merasa tak nyaman saat mendengarnya.

Luca menyadari perubahan warna di wajahku. "Maaf aku terlalu banyak bicara," aku hanya tersenyum simpel untuk mencairkan suasana.

"Aku akan melakukan test food besok bersama Nikki."

"Kau ada acara nanti malam?" tanyanya.

Aku mengedik. "Entahlah, mungkin aku akan ke taman dan mengambil beberapa foto."

Luca tersenyum sambil menyilangkan kakinya. "Kau mau membawa tas yang berisi alat-alat foto dengan berat puluhan kilo itu?"

Aku tertawa mendengar lelucon pria ini. "Tidak seberat itu."

Mengapa semua pria mengeluh dengan berat dari tas kameraku?

Luca tampak memperhatikan jam tangannya lalu senyum jahil muncul di wajahnya. "Kau masih ada meeting lain?"

Kugelengkan kepalaku. "Pekerjaan yang belum selesai?"

Alisku mengerut. "Pekerjaanku tak akan pernah selesai, Luca," balasku.

"Ayo kita ke taman sekarang. Aku butuh menghirup udara segar setelah seharian menghadapi koki-koki baru dungu itu dan kau butuh memotret untuk kembali waras. Aku juga bisa menjadi porter gratismu, bagaimana?"

Aku menatapnya pongo. "Setelahnya kita akan kembali ke kantor. Kau akan lembur dengan pekerjaanmu yang tak pernah habis itu dan aku akan bertemu dengan koki-koki dungu untuk dinner's service."

Mulutku masih menutup dan belum mengeluarkan suara. Benar apa yang dikatakan Luca, aku butuh memotret untuk mengembalikan kewarasanku dari kejaran para pewarta itu. "Tak ada kesempatan kedua, Hermione Granger," ujarnya yang langsung kusambut dengan anggukan.

"Aku akan berganti baju dan langsung kembali kesini."

Aku hanya mengangguk.

Begitu Luca kembali ke ruanganku aku sudah bersiap dengan tas fotoku. "Mari kubawakan," ujar Luca.

Fleming langsung sigap saat melihatku keluar dari ruangan. "Kau tak perlu ikut aku hanya akan ke taman bersama Luca lalu kembali ke kantor."

"Aku akan mengantar kalian," balasnya.

"Kami akan berjalan kaki," jawabku.

"Dan aku akan mengikuti kalian," ucapnya lagi.

Luca tertawa melihat situasiku. "The perk of being billionaire's girlfriend."

Kuhela napasku. I don't know if I'm still his girlfriend.

Aku tak memedulikan kehadiran Fleming dan berjalan bersama Luca menuju lift lalu langkahku terhenti dengan sosok yang sudah berdiri di hadapanku lengkap dengan Pierce di belakangnya. Ia tak menyapaku. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia marah. Tatapan marah itu ditujukan padaku. Sesaat kemudian ia mengalikan perhatian pada Luca dan tas yang berada di pundaknya. "Kau memiliki tukang angkut baru sekarang? Apakah dia juga yang membuatmu terlalu sibuk sampai tak mampu mengangkat teleponku?" tanyanya.

Kuhela napasku dan menyadari betapa kaku situasi ini. Luca seharusnya tak berada dalam situasi ini. "Luca tak ada hubungan dengan aku tak mengangkat telepon darimu," balasku.

"Tapi kau masih ada waktu untuk pergi bersamanya alih-alih mengangkat telepon dariku?"

Kuhela napasku untuk ratusan kalinya hari ini. "Aku hanya akan ke taman dengan Hermione," Luca mencoba untuk menjelaskannya.

"Hermione, huh?" suara meremehkan keluar dari mulut pria pirang di hadapanku ini.

Demi Tuhan aku ingin melempar Luca keluar dari keadaan ini. "Should you call her Maam or Miss Granger instead Hermione, isn't it? She's your General Manager," ujar Draco dengan nada membunuhnya.

Seperti tak memedulikan apa reaksi Luca setelah ucapannya tadi ia kembali menatapku. "Excuse me, Chef. But I need to talk to my girlfriend."

Aku tak bergeming. Bagaimana mungkin ia masih menganggapku pacarnya setelah ia meninggalkanku begitu saja dan tak mengangkat teleponku lalu tetiba saja kembali menghubungiku tadi pagi dan muncul layaknya setan seperti ini dengan seenak jidatnya. Ia mengulurkan tangannya padaku. "Come, Hermione."

Aku tak bergerak. "We need to talk now."

Aku masih diam dan aku tahu Draco kesal dibuatnya. Ia mengambil tanganku dan menariknya. "Separate car," ia mengutarakan hal itu pada Fleming dan Pierce.

Aku melemparkan tatapan pada Luca. "I'm sorry," ucapku tanpa suara dari kejauhan.

"Stop being so annoying, Granger," ujarnya saat kami telah berada di lift untuk menuju ke ruang parkir.

Aku bersedekap di sudut lift ini. "And you can stop being like an arsehole," ujarku.

"Huh, you speak now," balasnya.

Kekesalanku benar-benar memuncak. Rasanya ingin sekali aku meneriaki dirinya. "Berhenti bersikap menyebalkan seperti ini."

"Dan kau juga bisa berhenti mencari penggantiku disaat aku tak ada. Apa yang akan kau lakukan dengan chef itu?"

Mataku seakan ingin keluar dari kelopaknya. "Tak ada yang perlu diganti," balasku.

"Kau kekasihku, Granger."

"Aku kira hubungan kita telah berakhir beberapa hari yang lalu."

Draco tak bersuara mendengar perkataanku dan hal itu bertepatan dengan pintu lift ini yang terbuka dengan beberapa gadis dari departemen reservasi. "Sorry ladies," Draco langsung menutup kembali pintu itu dan kami diam disisa perjalanan menuju ruang parkir.

Citraku benar-benar hancur sekarang. Beritaku yang tersebar dengan begitu masive dan semua gerak-gerikku di hotel ini sampai Draco yang selalu bertindak seenaknya bila menyangkut dengan diriku berhasil menjatuhkan nama baikku.

Aku tak tahu kemana Draco akan membawaku dengan mobilnya, hal yang kutahu kami menembus keramain Manhattan dengan sisa hujan yang masih membasahi jalanan dan Fleming serta Pierce yang mengekori di mobil lain. Draco tak mengeluarkan sepatah katapun sejak memaksaku masuk ke mobilnya begitu juga dengan diriku. Ia memberhentikan mobil ini tepat di sisi Manhattan Bridge. Aku masih tak tahu apa maksudnya, hal yang aku tahu adalah aku sangat kesal padanya. Ia tak berhak memperlakukan seperti ini. Mengangkat harapanku setinggi langit lalu menjatuhkannya begitu saja untuk kemudian memunculkan batang hidungnya begitu saja bak tak ada apapun yang terjadi di antara kami. Lima hari. Dia pergi selama lima hari tanpa kabar. Memberikan aku seorang bodyguard yang tak kutahu apa alasannya. Untuk kemudian muncul begitu saja dan berlagak seperti kekasih yang cemburu karena kehadiran Luca.

Draco tak menatapku dan justru mematikan mesin mobilnya. Merasa akan mati kesal, aku keluar dari Audi itu dan menyalakan rokokku. Kuhisap perlahan dan membiarkan nikotin itu menjalar ke seluruh tubuhku. Membiarkan pikiranku teralihkan olehnya. Tak lama kemudian Draco berdiri di sampingku dengan bersedekap. "Kau merokok lagi," ujarnya dengan tatapan lurus memandang East River yang terbentang di hadapan kami.

Aku diam. "Bicara, Hermione," ujarnya.

Kembali aku hanya diam. Aku tak dapat berbicara. Karena aku hanya akan berteriak padanya bila aku memulai untuk membuka mulut ini. "Bicara sekarang atau aku akan membawamu pulang dan menganggap bahwa semua baik-baik saja."

Kuhembuskan sisa asap rokokku. "Kau meninggalkanku."

"Aku tak meninggalkanmu," balasnya.

"Kau mau aku bicara maka biarkan aku bicara," balasku.

"Kau meninggalkanku ketika melihat begitu banyak kamera yang menghadang kita. Tak akan menjadi masalah bagiku bila kau tak mengajakku berlibur dan bertemu keluargamu. Tak akan menjadi masalah bagiku bila kita hanya sebatas teman tidur saja. Tak akan menjadi masalah bagiku bila kau tak membuatku begitu mempercayaimu, Malfoy."

Kuhisap rokok itu lagi hingga ujungnya lalu menginjak untuk mematikan baranya. "You make me trust you and that's makes me fool. You still the skyscraper that I've never reach. And I know you ashame of me. About my family, about my past."

"Aku tak pernah malu padamu, Hermione. Tak pernah sedikitpun."

Tawa sarkastik itu muncul lagi di wajahku. "Tak pernah? Kau amnesia atau idiot, Draco? Kau meninggalkanku di kerumunan wartawan dan pergi begitu saja lalu kau menghilang tanpa kabar. Aku menghubungimu bak orang bodoh lalu kau muncul begitu saja seperti ini. Kau gila atau apa?" ujarku dengan menahan semua amarahku.

Aku tak mau terlihat menyedihkan di hadapannya. "Aku harus terbang ke Paris karena ada masalah besar di sana. Aku tak dapat menghubungimu, bahkan aku tak dapat makan sedikitpun. The Malfoy Paris hampir bangkrut dan aku harus menyelesaikanya."

Jantungku mencelos saat mendengarnya.

Kami diam sesaat. "And you still left me."

"I'm not."

"Yes, Draco. You fucking left me!"

Dia menatapku sekarang. Kekesalan itu tampak juga di matanya. "I left you with Fleming."

"I have a fucking relationship with you, Malfoy. Not Fleming."

Draco menghela napasnya. "Semua untuk keselamatanmu. For your fucking saftey. I left you in that crowd for your fucking safety, Granger. For heaven sake!"

"Aku tak mau wajahmu tersebar di media. Aku tak mau ayahmu tahu dimana keberadaanmu!"

Untuk kedua kalinya dalam sehari hatiku mencelos saat mendengar ucapannya. "Aku tahu Stefan pernah melarikan diri dari penjara lalu menyelinap masuk ke panti asuhan untuk membunuhmu. Dan dia mengatakan bahwa ia akan kembali keluar dari panti rehabilitasi itu untuk membunuhmu. Aku tahu ia berada di dalam sana, tapi tak ada yang menjamin bahwa ia tak akan kabur dan menemukanmu. Dan saat kita London kemarin, petugas rehabilitasi mengatakan bahwa untuk kesekian kalinya ia mencoba untuk melarikan diri."

"Semua perkataannya membuatku gila. Bagaimana bila ia benar-benar kabur dan mencarimu hingga kesini? Bagaimana bila kali ini ia berhasil kabur dari panti itu? Dengan berita dan foto kita yang tersebar di media masa, hal itu akan memudahkannya mencarimu, Hermione. Keberadaanku akan memudahkannya mencarimu. Oleh karena itu aku mengikuti protokol keamanan untuk berpisah mobil denganmu saat itu. And you know what? Shit happen all the time. Something bad happen to my hotel and I have to fly to that damned city as soon as possible.I should text you or call you. I know I was wrong and I'm sorry."

Aku terdiam dan tak mampu berkata bahkan sedikitpun. Draco mendekat kepadaku. Ia mengambil pipiku dengan kedua tangannya lalu menangkupnya. "How could I leave you if I'm falling for you so deeply?"

Ia mengatakan hal itu dengan tatapan yang sangat lekat. "You took my breath away since the first time I saw you in Vegas. And the idea of losing you, the idea of your father touch you again make me sick."

Ia menghela napasnya lembut yang dapat kurasakan hampir di seluruh wajahku. "That was just for your security details. I left you with Fleming, it was just for your safety, for your own good."

"Because I love you. I love you so fucking much."

Air mataku mengalir begitu saja. Dia mencintaiku. Draco Malfoy mencintaiku. Shit. Aku tak pernah menyangka bahwa ia akan mengatakan hal itu. Air mataku semakin deras. Entah apa yang menyebabkannya. Mungkin karena pengakuannya atau karena ayahku masih terobsesi untuk membunuhku sampai saat ini. Tanganku bergetar hebat dan aku merasakan kehangatan tangan dari pria ini. Ia menarikku dan memelukku teramat erat. "Aku tak pernah malu akan kehadiranmu, aku tak peduli apa latar belakangmu, siapa ayahmyu atau bagaimana masa lalumu. Bila kau ingin kita melakukan press conference aku akan melakukannya dengan senang hati."

Aku langsung menggeleng dan semakin mengeratkan pelukanku padanya. Angin senja menghempas tubuhku dan rasanya seperti digigit. Kulepaskan pelukannya dan ia mengusap sisa air mata yang masih tersisa di pipiku. "I still mad at you," ucapku padanya.

Ia tertawa lalu mengecup puncak kepalaku. "I know, baby."

Kami berakhir di kursi belakang Audi milik Draco dengan Pierce dikemudi dan Fleming yang mengemudikan Range Rover-ku. Kepalaku berada di dada Draco dengan dirinya yang sibuk dengan pekerjaan di smartphone-nya dan aku dengan pikiran yang menerawang kepada semua fakta yang ada. Sampai kapan aku dapat terbebas dari bayang-bayang ayahku? Sampai kapan aku hidup dalam ketakutan seperti sekarang? Dan hal yang paling aku sesali adalah aku membawa Draco masuk ke dalamnya.

Tangan Draco yang tetiba saja berada di kepalaku sangat mengejutkan sekaligus menenangkan. "Stop overthinking, Hermione."

Aku menengadah dan hanya tersenyum simpul padanya. Mobil kami memasuki pelataran penthouse-nya dan ada beberapa wartawan disana. "Mereka masih disana?" tanyaku tak percaya.

"Mereka melihatku landing pagi ini, sudah pasti mereka tahu bahwa aku akan pulang cepat atau lambat."

"Menepi," ujar Draco.

Aku menatapnya horor dan tak percaya. Apa yang akan ia lakukan? "Sir, tapi kita harus langsung ke basement," ujar Pierce.

"Fuck the security details. Wajah kami sudah berada di seluruh tabloid satu minggu ini. Sudah tugasmu untuk menjaga kami lebih ketat setelah ini."

Ia menyeringai dan menarik tanganku. "Let's have some fun with this papparazi. And I want to everyone knows that you're mine."

Fleming baru saja membuka pintu mobil ini dan flash dari para pencari berita sudah menghalang kami. Teriakan demi teriakan yang menanyakan apa sebenanya hubungan kami terdengar dimana-mana. Aku menunduk dengan tangan Draco yang menggenggamku. Dia benar-benar tak melepasku sama sekali kali ini. Langkahku terhenti saat Draco memberhentikan langkahnya. Ia menedekapku dan menghadap kepada para wartawan. Pierce dan Fleming dengan siaga berada di sisi kami. Senyum tipis itu menyembul di wajah pria yang beberapa waktu lalu baru saja mengatakan bahwa ia mencintaiku ini. "Yes, we're together."

Mereka menggila seperti zombie yang mencium bau otak manusia. Draco menatapku sesaat dengan seringaian dan menarikku masuk.

000

Draco Malfoy

Hermione melemparkan surat kabar pagi ini ke meja tempatku bekerja. Ia mondar-mandir setelahnya. Wajahnya tampak uring-uringan. Tak ada riasan di wajahnya dan ia tetap terlihat sangat menawan. Matahari pagi yang tampak memantul dari kulit wajahnya membuat ia semakin cantik, walau ia hanya mengenakan gaun tidur satinnya dan rambut ikalnya diikat dengan cara asal. "Berhenti mondar-mandir seperti itu," ujarku.

Ia menghampiriku dengan wajah buas yang siap mencabik-cabikku saking kesalnya. "Kau tak membaca headline dan siapa yang menjadi cover-nya?" ucapnya yang masih berkacak pinggang dengang terus berjalan bolak-balik di hadapanku.

"Berhenti mondar-mandir, Hermione. Kau seperti sapi yang akan melahirkan," ucapku.

Ia akhirnya berhenti dan berdiri di hadapanku. Kutarik tangannya dan kini ia duduk di pangkuanku. Ia terlihat menghela napas dan mendorong dengan jijik surat kabar yang memajang wajah kami beberapa hari lalu dengan headline Yes We're Together sama persis seperti apa yang aku katakan di lobi penthouse-ku. "Jangan khawatir, kau aman."

"Bila diperlukan aku akan menempatkan satu batalion ex-army untuk menjagamu," candaku.

Ia mengalungkan tangannya padanya lalu meletakkan kepalanya di leherku. "Maafkan aku," ucapnya pelan.

"Aku tak berniat membuatmu terjerumus masuk ke dalam kehidupanku. Aku tak bermaksud membuat hidupmu menjadi tak tenang seperti ini," ucapnya.

Aku menggeleng dengan membelai lembut lengannya. "Aku bahagia bisa terjerumus dalam duniamu."

Hermione tertawa mendengar jawabanku. "Mau sampai kapan kau hanya menggunakan gaun tidur itu, huh? Kita tak jadi ke Greenwich Village untuk mencari gaunmu untuk nanti malam?" tanyaku melihat Hermione yang masih bergelung di pangkuanku seperti anak kecil di pangkuan ibunya.

"Sebentar lagi," ucapanya.

Dan ia masih tak bergerak hingga beberapa saat kemudian.

000

The Malfoy Colombus Cir sudah ramai oleh para tamu undangan saat kami memasuki aula ini. Hermione tampak begitu menakjubkan dengan gaun bewarna biru metalik yang hanya dia dan Tuhan yang tahu bagaimana cara menjelasakan detailnya dan rambut cokelatnya yang dibiarkannya tergerai indah. Ia berjalan dengan mengapit lenganku dan sesekali senyuman itu terpulas di wajahnya. Aku tak akan pernah bosan mengatakan bahwa ia teramat sangat cantik.

Gala dinner tahunan perusahaanku ini sudah diadakan dari tahun ke tahun. Dan tahun ini adalah tahun pertama Hermione menghadirinya. Dan menjadi tahun keberuntunganku karena telah bersamanya. Tak ada yang berubah dari sebelumnya. Para karyawan dan klien serta rekanan kerja berbaur menjadi satu saling bersosialisasi. Aku berpisah dengan wanitaku karena ia harus bertemu dengan para klien dan karywannya begitupula dengan diriku yang harus bertemu dengan pengusaha-pengusaha lain. Keep your friend close and your enemy closer. Dari kejauhan aku melihat Hermione dengan manager dan general manager-ku dari beberapa hotelku dan beberapa wanita yang pernah kukencani atau kutiduri lebih tepatnya. Aku melihat ia menjawab seadanya dan terkesan memaksakan senyumnya. Apa yang mereka lakukan pada Hermioneku?

Aku berjalan ke arah grup kecil itu. Hermione sesekali menyesap champagne-nya. "Kau hanya akan menjadi mainannya saja," ujar salah satu dari mereka.

Hermione hanya tersenyum. "Oh ayolah Hermione, saat ia bosan padamu dia pasti akan langsung meninggalkanmu," kali ini Sara membuka suaranya.

Aku bahkan lupa kapan kami pernah tidur bersama. "Maaf tapi aku bukan dirimu, dia tak akan meninggalkanku," ujarnya dingin dan Sara tampak kesal akan hal itu.

Kali ini pria yang berubah menjadi penjilat saat aku hadir di konvensi itu ikut buka suara. "Kau tidak tidur dengan dirinya hanya untuk mendapatkan promosi jabatan bukan? Kau tak mungkin serendah itu."

Tawa sarkastik khas Hermione keluar saat itu. "Percayalah aku bukan dirimu. Otakku sudah cukup untuk membuatku mendapatkan promosi itu."

Pria itu langsung membungkam suaranya. That's my girl. Aku berjalan ke arah kerumunan kecil itu sambil berpikir mengapa ia tak pergi saja dari sana. Bukankah ia tak suka dengan keramaian seperti itu? Ia tersenyum saat mendapati diriku berada di sampingnya dengan aku yang melingkarkan lengan di pinggangnya. "Hai," sapaku lalu mengecup kepalanya.

Aku bukan tipe pria pengumbar public display affection, tapi bersama wanita ini akan menjadi pengecualian dan aku juga ingin menutup mulut-mulut mereka. "Kalian menikmati pestanya," tanyaku dengan tangan yang masih melingkari pinggang wanitaku.

"Tentu, Sir. Pestamu indah sekali."

Penjilat.

Aku menyeringai. "Aku mendegar beberapa percakapan kalian dengan kekasihku tadi. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, kalian tahu alasanku membeli The Regency dan pindah ke New York?"

Mereka saling bertukar pandangan. Begitupula dengan Hermione yang menengadah untuk menatapku. "Hermione Granger. Itu alasanku."

Wajah-wajah terkejut itu tampak memuakkan. "Jadi, bila kalian masih ingin hidup damai di perusahaanku, jaga mulut kalian."

Mereka tak mengeluarkan sepatah katapun. Senyum puas tampak terpancar di wajah Hermione. "Excuse us," ujarku yang mengundurkan diri dari kerumunan itu bersama Hermione.

"Happy?" tanyaku

"So much," jawabnya dengan tawa renyah.

Smartphone-ku bergetar dan nama Pierce yang berada di layar itu. "Pekerjaan?" tanya Hermione dan aku langsung mengangguk.

"Angkatlah," ujarnya kembali dan aku keluar dari aula ini menuju balkon terbuka.

Beberapa orang tampak mengangguk dan tersenyum padaku saat kami berpapasan atau saat tatapan kami bertemu. "Bicara," ucapku padanya.

"Ada kabar buruk, Sir."

Napasku seakan tertahan saat mendengarnya. "Ada apa?"

"Stefan Granger berhasil kabur dari panti rehabilitasi."

Holy shit.

Aku berusaha untuk setenang mungkin saat Hermione menatapku dari kejauhan dan memaksa senyum di wajahku. "Jangan sampai terdengar Hermione. Cari ia sampai dapat dan tingkatkan sistem keamanan untuk Hermione."

Telepon itu langsung kututup dan aku kembali bersamanya. "What's wrong?" tanyanya.

Aku tersenyum. "Nothing."

000

to be continued

Hey, how's this chap? Is it already answer your question? Or maybe you still have to be patient till the next chap. And yeah I'm sorry for the massive typos and late update, like I said in this chap shit happen all the time hehe. So please enjoy and leave your review. Thanks!:)