A/N: Fast update, huh? Thanks to my mum for the sudden visit and help to take care my boys. Happy reading and enjoy:)

I own nothing, unless the plot

Chapter Ten

Hermione Granger

Sampai jumpa pada kota New York yang basah dan dingin, selamat datang pada musim panas kota ini dimana matahari senang sekali menampakan wujudnya hingga terkadang lupa untuk kembali ke peraduannya. Aku sedang duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari The Regency sambil menikmati secangkir kopi dengan pemandangan para New Yorker yang tengah berjalan ke tujuannya atau beristirahat setelah seharian jengah dengan pekerjaan di kantor sepertiku. Fleming masih mengikutiku. Dan sekarang aku memiliki dua orang tambahan lagi. Mark dan Peter. Aku tak tahu apa yang ada di kepala Draco hingga membuatku seakan menjadi anak dari seorang bandar narkoba yang keselamatannya benar-benar harus terjaga. Setelah kejadian itu, Draco menjadi lebih protektiv dari biasanya. Ia menganti kode penthouse. Memperkerjakan lebih banyak orang untuk menjagaku dan apapun yang aku lakukan harus berdasarkan persetujuannya. Dan mengganti mobilku yang setelah kutelaah merupakan mobil anti peluru yang biasa digunakan oleh para pejabat di Arab sana. Aku lebih mirip berpacaran dengan sipir penjara ketimbang dengan pria normal. Ketakutannya menjadi di atas rata-rata, mungkin aku akan mengajaknya untuk bertemu dengan Harry agar ia lebih rileks menghadapi realitas bersamaku. Sudah berbulan-bulan ketiga orang itu menjadi bagian dari aktivitasku. Dengan setelan jas serta dasi hitam dan kemeja putihnya mereka tampak seperti pemeran-pemeran bodygurad di serial televisi atau film-film puteri kerajaan.

Aku baru saja pulang dari sales call bersama para sales manager tadi dan berakhir di cafe ini untuk sedikit memberikan sedikit asupan kafein ke dalam tubuhku. Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku begitu menyukai coffee shop di kota ini? Kehangatan yang ditawarkan oleh kopi dan para pelayannya serta harum biji kopi yang terpanggang atau saat mereka mengolahnya menjadi suatu minuman benar-benar menjadi semacam terapi kewarasan bagiku.

Sudut mataku menangkap beberapa karyawan dari The Regency. Dari Front Office Department sepertinya. Mereka tak menyadari keberadaan diriku dan aku mensyukuri hal itu. Beberapa gadis yang kutaksir berusia awal dua puluhan itu tampak riang dengan cerita sore mereka. Aku mendengar mereka asik bercerita tentang pacar dan pekerjaan mereka sampai namaku tetiba saja tersebut. Kupanjangkan pendengaranku untuk mengetahui topik apa yang diangkat oleh mereka. "Justru pria menyukai wanita misterius semacam Hermione Granger itu," ujar Pirang 1.

Pirang 2 tertawa. "Misterius dan siap untuk menerkam mangsanya. Kau tahu beberapa hari yang lalu ia hampir membuat karyawan baru dari Housekeeping Department hampir mati muda karena ketahuan salah meletakkan susunan toiletries."

Mereka tertawa. Aku ingat kejadian itu. Aku juga tak habis pikir bagaimana HRD bisa menerima karyawan yang tak bisa membedakan mana sabun dan shampo itu. "Mungkin itu yang menjadi daya tarik dirinya bagi Draco Malfoy."

"Aku kira mereka hanya sebatas fuck and forget buddy yang kebetulan saja tertangkap kamera, tapi dari yang aku dengar Draco Malfoy selalu berada di kantornya setelah office hours," jelas Pirang 2.

"Bahkan mereka sudah tinggal bersama," ujar Pirang 1 lagi

Damn it! Apakah kehidupan pribadiku sudah benar-benar menjadi konsumsi publik sekarang?

Si rambut merah kini membuka suara mengenai kehidupan pribadiku. "Kau ingat gala dinner tahunan Malfoy Group beberapa bulan yang lalu? Aku mendengar kabar bahwa alasan utama Draco Malfoy membeli The Regency adalah karena ia ingin dekat dengan Medusa."

Aku hampir tersedak mendengar nama panggilan itu. Medusa. Holy shit.

Pirang 1 tampak semakin antusias membicarakan seluruh kehidupanku. "Semua orang tahu bahwa Draco adalah playboy dan begitupula dengan Medusa. Hermione Granger tak pernah berpacaran katanya. Ia hanya tidur dengan laki-laki dan meninggalkannya begitu saja."

Mereka kembali tertawa. "Hermione Granger memiliki sejuta hak untuk melakukan hal itu. Ia cantik, kau lihat tubuhnya yang sangat indah itu, ia kaya raya untuk wanita seusianya dan karirnya yang terlalu cemerlang itu membuat ia dengan mudah mendapatkan siapapun yang akan dijadikan teman tidurnya."

"Kau tahu Will Harrod, salah satu General Manager Malfoy Group di Atlanta bila aku tak salah mengingat."

"The gorgeous Will," ucap si rambut merah yang disambut dengan anggukan oleh kedua temannya itu.

"Dia juga pernah memiliki affair dengan Medusa," ucap Pirang 2.

"Shut up," ucap kedua temannya yang lain.

Aku mendengarnya dan kehilangan kata-kata. Darimana mereka tahu seluk beluk kehidupan pribadiku. Aku bukanlah selebritis, tapi mereka tahu semua kisah hubunganku dengan para lelaki yang seperti dengan mudahnya dapat terakses di Google.

"Dan sekarang ia bersama Draco Malfoy yang tampak begitu mencintainya."

Kalimat yang satu itu tak dapat kupungkiri. Senyumku terpulas saat hendak menyesap kopiku yang mulai kehilangan panasnya. "Lihat betapa ia mencintai Hermione Granger dengan memberikannya bodyguard bak puteri kerajaan yang hanya dapat kulihat di televisi itu."

"Medusa is the lucky bitch," ujar Pirang 2 dan tawa mereka kembali meledak.

Aku melirik ke arah Fleming yang ternyata juga tengah menyimak percakapan gadis-gadis ini. Disaat bersamaan Draco masuk yang mengundang beberapa pasang mata untuk meliriknya. Alih-alih berjalan ke arahku ia pergi ke counter pemesanan dan sepotong cake tampak sudah berada di tangannya. Ketiga gadis dari FO Department itu mengikut gerakan atasanya itu dan raut terkejut setengah mati tampak di wajahnya saat melihat kehadiranku yang sudah menunggunya di salah satu meja di cafe ini. Aku tak lagi memedulikan gadis-gadis itu dengan kehadiran pria yang sudah berhasil mencuri perhatianku ini sejak pertama kali bertemu. "Hello, Stranger," ujarnya yang duduk tepat di sampingku setelah mengecup bibirku sesaat.

"Hello you too," balasku.

Draco menyodorkan sepotong cake yang baru saja dipesannya itu padaku. "Makanlah, aku tahu kau belum makan seharian."

Keningku mengerut dan langsung mencari keberadaan Fleming di ruangan ini. "Fleming si pengkhianat," ucapku.

"Kau harusnya segera mencari asupan gizi bukannya secangkir kafein," ucapya mengambil gelas kopiku lalu menyodorkan kembali piring berisi cake itu dan sebotol air mineral.

Aku memandangnya cemberut dan mulai menyuapkan cake itu ke mulutku. "Kau tak kembali ke hotel?" tanyanya yang aku jawab dengan gelengan.

"Bagus. Ayo kita makan malam setelah ini."

Suapan itu terhenti di ujung bibirku. "Tapi, aku baru saja memakan cake ini," protesku.

"Dan kau tak makan siang, Hermione. Kita makan malam setelah ini. Tak ada protes dan anggap ini perintah dari bosmu bukan permintaan dari kekasihmu."

Aku mendengus. "Arsehole," ujarku.

"Thank you," balasnya.

Setelah kuselesaikan memakan cake yang disebut sebagai perintah itu, ketiga gadis itu berjalan tepat di samping meja kami. Mereka melemparkan senyum teramah yang dapat mereka keluarkan yang tetap tak dapat menutupi ketakutan mereka. Draco hanya membalas memandanganya dengan sedikit mengangguk dan aku yang juga hanya mengangguk sesaat. Draco mengalihkan pandangan kepadaku. "Mereka kenapa? Kau begitu sangat ditakuti, huh?" tanya Draco yang tahu bahwa bila hanya ada Draco saat ini pasti bukan senyum itu yang keluar dari wajah mereka namun senyum menggoda.

"Kau lupa? Aku ini Medusa."

Draco Malfoy tertawa mendengarnya. Kekasihku tertawa mendengarnya.

000

Sinar matahari itu menimpa kami yang masih terendam dalam tumpukan selimut dengan punggung Draco yang membelakangiku. Ia terlelap dengan damai pagi ini. Terpujilah wahai engkau akhir pekan dan maraton sex yang membuat kami baru terlelap menjelang pagi tadi. Kusentuh lembut punggung pria itu dan tersenyum. Napasnya terasa sangat teratur. Dan hangat tubuhnya yang membuat aku sadar bahwa ia nyata.

Ia berbalik menghadapku dan tersenyum. Diambilnya tanganku dan diciumnya. Rambutnya sudah mulai memanjang dan sedikit menutupi mata indahnya. "Pagi," ujaranya.

"Pagi," jawabku.

Kami masih saling berhadapan dengan Draco yang masih menggenggam tanganku. Ia masih tersenyum saat menatapku. Senyum pagi khas dirinya. Setengah sadar namun terlalu seksi.

"I love you too," ujarnya.

Keningku mengerut saat mendengarnya. Aku sering mendengar ia mengucapkan cinta padaku, tapi kali berbeda. Keningku masih mengerut. "Because I know deep inside your heart, you love me too, Hermione. Even you never said it. So for now, instead of saying I love you, I would say I love you too," ia mengedipkan sebelah matanya dan bangkit dari ranjang.

Pikiranku terbagi antara ucapannya tadi dengan siluet tubuh tanpa sehelai benang itu. Aku percaya bahwa aku adalah sosok yang tak dapat mencintai seumur hidupku. Blame that trauma. Tetapi, Draco mengubahnya. Aku masih terduduk bodoh di ranjang saat keberadaan Draco kembali menyita perhatianku. Aku terkerjut melihat ereksinya. "Come, Stranger," ujarnya di tengah kamarku.

"Enjoy my morning glory," ucapnya dengan seringaian dan aku langsung bangkit untuk menerjangnya.

000

Udara tampak sangat segar di permukiman ini. Permukiman yang dipilih Harry untuk membesarkan puteranya yang hari ini genap berusia satu tahun. Brooklyn tampak indah dengan dedaunan hijau dan langit biru serta awan putih yang berarak. Wajah Harry tampak sumeringah saat melihat aku memasuki halaman belakang kediamannya. "Mione," ujarnya lalu membuka tangannya untuk meyambutku dalam pelukan.

"Kau melewatkan banyak sesi dan kau tampak sangat sehat serta bahagia," tambahnya yang kusambut dengan senyuman.

Ia melepaskan pelukanku dan menemukan sumber kebahagiaan yang berjalan tepat di belakangku. "Kau pasti Draco Malfoy."

Draco menjabat tangan Harry dengan mantab layaknya kawan lama. "Selamat datang di kediamanku," ucapnya lagi yang kemudian memimpin jalan untuk bertemu dengan kawan dan keluarga darinya serta Ginny.

Draco sedikit menunduk untuk berbisik padaku. "Dia tampak sangat ceria saat bertemu denganmu. Kau yakin tak pernah tidur dengannya?"

Aku menahan tawa lalu mengangguk. "Secara harfiah kami pernah tidur bersama."

Draco memelototkan matanya. "Kami tinggal di panti yang sama, aku pernah tidur di kamarnya saat aku melarikan diri ketika seorang psikiater ingin memeriksa kejiwaanku."

"Kau yakin dia tak merabamu?" pertanyaan konyol itu membuatku tertawa.

"Simpan khayalan gilamu, honey," jawabku dan ia hanya terkekeh.

Pesta di halaman belakang ini begitu sederhana namun hangat dan menyenangkan. Aku melihat hampir seluruh keluarga besar Ginny didatangkan langsung dari Inggris. Gerombolan rambut merah yang baik hati dan ramah itu benar-benar memberikan Harry keluarga yang tak pernah ia miliki. Draco tampak tersenyum padaku dari sudut taman ini dengan segelas es teh di tangannya. Ia tampak sangat normal. Tak ada jas dan vest rancangan ternama yang melekat di tubuhnya. Ia hanya mengenakan polo shirt dark blue dengan celana jeans. Sesekali ia tertawa dengan lelucon yang dibuat Ron, salah satu kakak lelaki Ginny. Aku juga mendengar mereka sesekali berbicara tentang politik dengan Percy yang kebetulan berprofesi sebagai asisten senator di London.

"Kekasihmu begitu ramah dan sangat tampan," ujar Ginny yang duduk di sampingku.

Aku tersenyum. Ginny tak pernah bertemu dengan Draco saat ia sedang marah atau menunjukan wajah datar yang merendahkan pada karyawannya. Mungkin Draco sebenarnya bipolar. Angin bertiup dengan sangat sejuk siang menjelang sore seperti ini. James terlihat begitu nyaman di pangkuan ayahnya sampai satu pemandangan benar-benar menyita perhatianku. Draco menggendong James. Ia tampak kaku namun senyum itu tak lepas dari wajahnya. Sesekali ia mengayunkan James dan membuat anak itu tertawa. Pandangan kami bersatu dan ia senyum itu semakin melebar. Ginny menyenggolku. "Susul kami secepatnya," lalu ia bangkit dan bergabung dengan kelompok kecil yang berbahagia dengan little James sebagai pusat kebahagiaan itu.

Susul kami secepatnya. Aku tak tahu apakah aku akan menjadi ibu yang baik saat memiliki anak nanti. Tetapi, aku akan mencobanya. Bersama Draco aku tahu akan bisa melakukannya.

James sudah berpindah tangan pada Ginny untuk mandi dan membersihkan diri. Sementara aku baru saja keluar dari dapur saat mendapati Draco dan Harry tengah duduk di salah satu bangku beranda rumah ini. Langkahku terhenti dan mencoba untuk mencuri dengar apa yang tengah mereka bicarakan.

"Belum ada kabar dari orang-orangmu?" tanya Harry.

Draco menggeleng. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Entah itu mengenai aku atau bukan. Kabar dari orang-orang Draco? Aku tak tahu bahwa mereka sedekat ini. Topik ini seakan lenyap sektika dan namaku kembali tersebut.

"Kebiasaan merokoknya tak dapat dihilangkan begitu saja," ujar Harry.

Gelas es teh mereka sudah berganti dengan botol bir dan obrolan mereka sudah berubah menjadi diriku. "Bahkan dia merokok lebih banyak saat kami remaja sampai kuliah dulu."

Draco hanya mengangguk dan menyesap birnya. "Apakah ia masih sering berteriak dalam tidurnya?" tanya Harry dan Draco menggeleng.

"Aku sudah tak pernah mendengar ia berteriak seperti awal-awal kami bersama, tapi tidurnya masih terkadang gelisah. Ia masih terbangun di tengah malam dengan keringat yang bercucuran," ucap Draco.

Mimpi-mimpi itu masih sering menghampiri dengan intensitas yang masih dapat kutolerir. Tetapi, semenjak aku tidur bersama Draco semuanya menjadi terasa lebih ringan.

"Kau menanyakan hal itu padanya?" tanya Harry.

Draco menggeleng. "Ia tak pernah suka jika aku menanyakannya. Ia merasa lemah jika topik itu kuangkat."

Draco tahu semuanya. Aku tak pernah bercerita tentang hal itu, tapi dia mengerti diriku. Dia mengerti bahwa ada harga diri yang harus aku lindungi. "Aku hanya memeluknya dan ia kembali terlelap."

Kali ini Harry yang menenggak birnya. "Jaga dia, Draco."

"Dia wanita terkuat yang pernah kukenal, tapi aku tahu dia butuh tempat bersandar. Dan aku percaya kau mampu melakukannya."

"Dengan segenap hatiku," jawab Draco pada Harry setelah mereka melakukan tos pada botol bir itu.

Matahari mulai meredup saat kami berpamitan dari kediaman Harry untuk kembali ke Manhattan. Aku dan Draco duduk di kursi belakang Audi dengan Pierce dan Fleming di kursi depan dengan sebuah mobil lain mengikuti kami di belakang. Kulepaskan seatbealt-ku dan bersandar pada Draco. Matahari senja itu seakan berusaha menelusup ke kaca mobil dan mengenai wajahku. Kuambil tangan pria ini dan mengenggamnya. Ia meletakkan dagunya di puncak kepalaku. Telapak tangannya begitu besar, sehingga membuat telapak tanganku tak ada apa-apanya dibanding dengan miliknya.

"I love you, Draco," ucapku pelan.

Ia tersenyum. Aku tak dapat melihatnya, tapi aku tahu ia tersenyum. "I know and I love you too, Hermione."

000

Beberapa pasang mata masih mengikutiku saat kau memasuki lobi hotel ini tentunya dengan Fleming yang mengikutiku. Aku sudah muak dengan hal ini, tapi tak ada yang dapat aku lakukan. Apa mereka tak pernah melihat satu orang wanita diikuti tiga orang bodyguard sekaligus? Demi Tuhan,mereka sudah melihat hal ini selama berbulan-bulan. Namun, kali ini ini sedikit berbeda apalagi ketika Ray Calloway yang merupakan Director of Finance The Regency tersenyum dengan tatapan yang terlihat licik kepadaku. "Selamat, Miss Granger. Kau berhasil."

Tanpa menunggu respon dariku dia pergi begitu saja. Selamat. Apa yang harus diberikan selamat dari hidupku? Ulang tahunku masih satu bulan lagi dan aku tak merasa ada suatu hal yang baru saja kucapai. Aku melihat salah satu staff dari Draco baru saja keluar dari lift, berarti Draco sedang berada disini. Sepagian ini aku tak menerima kabar darinya, ia hanya mengatakan bahwa ada meeting penting pagi ini selepas makan malam kemarin lalu sidah menghilang saat pagi tadi. Tak mau ambil pusing dengan apa yang dikatakan Calloway tadi, aku langsung menuju kantorku. Sebuah e-mail terbaru muncul di inbox-ku.

To: Hermione Granger

From: Human Resources Department of The Regency

Subject: Resignation Announcement

Dear Team

Effective next month, David Hence is no longer the President Director in The Regency.

Aku terlalu terkejut untuk melanjutkannya. David Hence tak lagi menjadi President Director disini? Mengapa sangat mendadak sekali? Lalu siapa yang akan menjadi penggantinya? Aku tak mendengar ada board meeting untuk menentukan hal ini.

"Hey," sapa Draco yang dengan seenak hidupnya masuk ke ruanganku.

Kuletakkan gelas kopi yang sempat kusesap tadi dan tersenyum padanya. "Kau pasti belum sarapan," ujarnya lalu meletakkan satu kotak berisi muffin di hadapanku.

Biasanya kami akan ke kantor bersama setelah sarapan, namun tidak hari ini. Ia pergi lebih pagi dari biasanya dan aku terlalu malas untuk sarapan sendiri.

Aku berjalan ke arahnya lalu mengecupnya. "Terima kasih," ujarku

Aku bersandar pada tepi meja dengan Draco yang duduk di kursiku. Sesekali aku menyuapinya muffin ini. "Kau sudah tahu Hence mengundurkan diri?" tanyaku.

"Aku yang memintanya mundur."

Muffin itu seakan menyangkut di tenggorakanku. "Kenapa?"

"Dia sudah tua dan sudah rencanaku sejak awal membeli hotel ini untuk memberhentikannya."

Kusesap kopiku. "Lalu siapa yang akan mengisi posisi itu. Aku tak mendengar ada board meeting," ujarku.

"Tadi pagi."

Aku masih menatapnya tak percaya. Aku memang bukan salah satu direktur dari hotel ini, tapi meeting ini terasa sangat mendadak. Bahkan sebagai General Manager aku tak mengetahui hal ini. "Posisi itu untukmu," ujar Draco yang ikut berdiri dan berhadapan denganku.

"Congratulation, baby," tambahnya lagi lalu mengecup bibirku lembut.

Aku mencoba mencerna sebelum akhirnya mendorong Draco dari tubuhku. "Apa maksudmu?"

"Posisi itu untuk dirimu, President Director The Regency sekarang menjadi milikmu," jelasnya.

Penjelasan yang dapat membuatku seketika mati di tempat. Otaknya hilang atau ia menjadi setengah gila sekarang. Apa yang dia pikirkan? Aku seorang General Manager dan President Director bukanlah promosi posisi yang aku harapakan. "Kau gila."

"Itu sudah menjadi tujuanku membeli hotel ini. Menjadikanmu pemimpinnya. Dengan pengalaman dan latar belakang pendidikanmu serta kemampuanmu sudah menjadi alasan aku meminta para direktur menyetujui permintaanku."

Darahku seakan mendidih mendengarnya. Dia tak berhak mengatur hidupku. Aku tak bermasalah dengan dia yang memanjakanku dengan semua barang mewah dan pelayanan kelas atas di hidupku sekarang, tapi memberikanku sebuah perusahaan adalah tindakan tergilanya. "Kau tak dapat melakukannya," ucapku kesal.

"Tentu aku bisa. Aku pemilik hotel ini sekarang."

Draco terlihat tersinggung dengan penolakanku, tapi aku peduli. "Kau seharusnya bersyukur. Ada banyak direktur yang menginginkan posisi ini," ujarnya kembali dengan nada kesal.

Aku tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Ia menyuruhku untuk bersyukur. Damn it! Aku bahkan tak memintanya. "Apa yang harus aku syukuri? Memiliki kekasih yang semena-mena? Berhenti mencampuri karirku, Draco."

"I just want the best for you. I'll give you everything. I'll give the world for you and this position is nothing, Hermione. Nothing."

Kuhela napasku. Ia tak tahu apa akibat dari yang dilakukannya. Aku tahu ia ingin yang terbaik bagiku, tapi ia salah. Ia bahkan tak tahu bagaimana cara Ray Calloway memandangku saat ini. Ia pasti berpikir bahwa aku tidur dengan Draco untuk mendapatkan posisi ini.

"Get out from my office, Draco."

Draco memandangku kesal. "I'm an owner of this place, Miss Granger. Do you remember that?"

"I ask you as your girlfriend, Draco Malfoy. Or maybe I'm no longer your girlfriend anymore when we're in this place, huh?" ucapku

Ia kesal bukan kepalang padaku. Aku tahu dari caranya melihatku. "Don't do this, Hermione."

"So I ask you nicely, please get the hell out from my office now, honey," ucapku sarkastik.

Dia hanya menghela napas dan keluar dari ruanganku. Aku duduk di kursiku lemas. Aku President Director baru hotel ini. Holy shit.

000

Tiga hari berlalu dan perang dingin antara aku dan Draco masih belum berakhir. Aku masih kesal dengan sikap bossy, pengatur, dan semena-mena hidupnya. Sementara ia juga masih kesal dengan diriku yang dianggap tak bersyukur dan menolak pemberiannya. Tetapi, tiga hari ini adalah tiga hari yang paling menyiksa bagiku. Aku memikirkan pria penguntit dan tukang perintah itu setengah mati. Kami berada di satu rumah yang sama, tapi tak saling bertegur sapa. Aku akan memilih pulang lebih larut darinya atau sebaliknya. Ia akan bekerja di perpustakaan dan aku akan langsung terlelap di kamar. Menyiksa? Sangat. Aku berharap dapat tidur di hotel saja atau kembali ke apartemenku, tapi semua itu akan memperkeruh suasana. Sejak pulang dari London, kami sudah tinggal bersama. Alasan keselamatanku dan sikap overprotektif Draco Malfoy serta perasaan tak ingin bepisah darikulah yang menjadi alasannya.

Kini aku mencoba mengambil sisi baik dari posisi yang ditawarkannya padaku ini. Walaupun ada lebih banyak masalah yang aku dapatkan setelah memegang jabatan ini. Belum lagi tatapan orang-orang yang akan menganggapku pelacur pencari harta. Tetapi, aku mencoba untuk berdamai. Bukankah hubungan berisi sebuah kompromi? Mungkin aku akan berkompromi untuk masalah ini.

Matahari masih tampak sangat mencolok saat aku sampai di penthouse. Terlihat sangat tenang. Kulepaskan dress hitam yang tadi kukenakan untuk bekerja yang sekarang hanya meyisakan camisole dan panty saja. Kubuka beranda penthouse dan merebahkan diri di kursi malam ini untuk menikmati musim panas kota ini dengan sunglass yang tak lupa kukenakan. Angin pada bulan ini terasa hangat karena matahari yang terlihat tak akan kembali ke peraduannya hingga pukul delapan malam nanti. Kupejamkan mataku sesaat untuk menikmati semua ini. Aku harus sering cepat pulang bila rasanya bisa senikmat ini.

"Sun bathing, huh?"

Kubuka sunglass-ku dan bangkit untuk duduk berhadapan dengannya yang sudah duduk di ujung kursi ini. Kumiringkan kepalaku lalu mengerucutkan bibir. "Kemarilah," mintaku padanya agar ia mendekat padaku.

"Kau tak marah padaku?" tanyanya.

Aku masih mengerucutkan bibir. "Aku bisa menundanya."

Kulumat bibirnya lembut lalu perlahan menjadi begitu tergesa-gesa dan sedikit brutal. Kukalungkan tanganku di lehernya dan ia membuatku duduk di atas pangkuannya. Bibirnya berada di leherku dan tetiba saja camisole-ku sudah terbuka dan dia sudah berada di dadaku. "Oh God," desahku saat ia menggigit dadaku. Saat bibirnya kembali ke mulutku, aku melepaskannya. "I miss you," ucapku lalu mengecupnya.

Ia mengusap lembut bibirku dengan ibu jarinya. "I miss you more, don't be mad at me anymore."

Kini aku yang membelai rambutnya yang sedkit tertiup angin tadi. "Don't be such an arsehole, okay?"

Dia tertawa dan menangkap tanganku untuk diciumnya. "Maaf karena mencampuri karirmu."

"Kau tak akan mempromosikanku?"

"Sayangnya, aku akan tetap mengangkatmu untuk memegang perusahaan."

Aku memberengut. "Kau tetap berengksek," dan ia tertawa.

"Baiklah, aku akan menerimanya," ucapku.

Mata Draco membulat. "Kau tak akan membantahku?"

Aku menggeleng dan ia tertawa. "Padahal aku sudah menyiapkan argumen untuk memenangkanmu. Kau menjadi gampangan sekarang," tawanya.

Aku mendengus. "Thanks, Malfoy," ujarku dengan nanda sarkastik.

Draco langsung menarikku untuk kemudian melumat bibirku habis-habisan. Dia tertawa sejenak. "Aku benar-benar merindukanmu," ujarnya.

Ia menggendongku lalu mengerutkan dahinya. "Kau membesar?"

"Shut up, Draco. Kau tahu berat tubuh wanita itu sensitif," ucapku kesal.

Ia menggeleng. "Maksudku pinggul dan bokongmu terasa lebih berisi," jawabnya.

Dia meletakkanku di ranjangnya. "Just fuck me, okay? We can discuss my butt while your dick inside me or after that," aku menarik kerah bajunya kemudian.

Draco melenguh saat tanganku berada di penisnya yang sudah mengeras. "Kau benar-benar merindukanku, Draco," kekehku sementara Draco tak mampu berkata apa-apa lagi saat aku membalikkan keadaan dengan aku yang berada di atasnya.

Aku menelusuri tubuhya dengan bibirku dan berhenti di bagian tubuh favoritku dan memasukannya ke dalam mulut. "Shit, Hermione," dan aku tak memeduilkanya.

Tangan Draco menggengam rambutku dengan lenguhan-lenguhan yang keluar dari mulutnya. "Get up, Hermione. I don't wanna come in your mouth."

Baru saja aku akan bangkit ia menarikku dan membuatku menelungkup. Aku tertawa sejenak lalu menunggunya memosisikan tubuhnya di belakang dan aku merasakan ia memasukiku. "Oh God, Draco," desahku.

"I'll take control, Stranger."

Ia bergerak dengan sangat statis sampai ia mempercepat gerakannya dan membuatku gila. Kami berteriak,melenguh, mendesah, dan apapun kata yang dapat mengekspresikannya. Aku sempat berpikir apakah Pierce dan Fleming dapat mendengar kami. "Come, Stranger," ujarnya saat aku mencapai klimaks.

"I love you," ucapnya yang aku jawab dengan kecupan di bibirnya.

"Me too. I love you, Draco."

000

Ranjangku tampak kosong. Kubuka mataku dan tak mendapati Draco di sampingku. Kuraba nakas dan melihat pukul berapa saat ini. Masih pukul 2 dini hari. Tak peduli dengan tubuh telanjangku, aku hanya mengambil selimut yang tadi melilitku untuk menutupinya lalu turun untuk mencari keberadaanya.

Draco tengah berdiri di depan sebuah jendela besar di perpusatakaannya dengan ponsel yang menempel di telinganya. Macbook-nya masih terbuka dan ada gelas berisi scotch di mejanya. Apakah salah satu hotelnya ada yang bermasalah lagi?

"Ini sudah berbulan-bulan, Pierce."

Pierce masih bekerja di jam seperti ini. Mungkin aku akan bertanya pada Draco besok berapa gaji yang diberikannya pada pria malang itu.

"Kerahkan semua orang terbaikmu. Dia tak mungkin selihai itu," ujar Draco kembali dengan nada mengeram.

Ia terlihat sedikit mengacak rambutnya. "Senjata api? Kau yakin dia memilikinya?"

Senjata api? Dengan siapa kali ini Draco berhadapan. Demi apapun dia seorang pengusaha. Apa hubungan senjata api degan kehidupannya.

"Cari dia dan aku tak perlu mendengar banyak alasan."

Ia mengambil gelas scotch itu dan menenggaknya. "Shit," ujarnya pelan

Apa masalahnya seberat itu hingga ia harus terlihat begitu tertekan? Tatapannya begitu terkejut saat ia mendapatkanku di ambang pintu perpustakaan ini. "Hermione," ujarnya dan aku tersenyum menatapnya.

Kuhampiri dirinya dan memeluknya. Ia langsung membalas pelukanku. Ada kesan takut dari dirinya saat aku merasakan helaan napasnya di lekuk leher ini. "Ada apa?"

"Remember when I said shit happen all the time," ujarnya setelah melepaskanku dengan senyuman yang aku yakin sangat dipaksakan.

Ia menarikku untuk duduk di pangkuannya. Kukalungkan lenganku di lehernya dan duduk di pangkuannya. "Berceritalah padaku," ujarku.

Ia hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya padaku. Tatapanku teralih pada folder yang tengah dibukanya. Selain pekerjaannya ada foto-foto saat kami berada di kediaman Harry minggu lalu. Foto-foto yang aku ambil saat James meniup lilinnya, Harry dan Ginny, kami bersama James dan saat James berada dengan nyaman di dekapan Draco.

"Kau sedang melihat ini?" tanyaku yang dijawab dengan anggukan olehya.

"Anak itu menggemaskan," ujarnya dan aku mengiyakannya.

Kami terdiam beberapa saat sebelum ia membuka suaranya. "Let's have a baby, Hermione."

Kulepaskan lenganku dan memandangnya. "Aku serius."

"Kita tak mungkin berdua saja seumur hidup, bukan?" ujarnya yang membuatku tersenyum.

Ia memikirkan seorang bayi. Ia memikirkan masa depan bersamaku. Aku menunduk dan mengecupnya. "How about a tons of babies?"

Dia tertawa. "Tiga anak laki-laki untuk menemaniku menonton bola dan satu anak perempuan untuk menemani apapun yang ingin kau lakukan."

Kali ini aku yang tertawa. "Ayo kita buat sekarang?" ucapnya yang langsung bangkit menggendongku.

Ia terhenti sejenak. "Kau yakin berat badanmu tak bertambah?"

"Draco," ujarku kesal.

"Tapi bokongmu terasa lebih berisi."

Bibirku mengerucut. "Kau tak menyukainya?"

"Apa? Bokongmu?"

Dia tertawa sesaat kemudian menatapku lekat dengan sangat serius. "Aku penggemar beratnya."

Kami tertawa dan ia berhasil membawaku ke kamar. Pilihan tepat untuk tak repot mengenakan pakaian, bukan?

000

Malam sudah menjelang saat aku masih berkutat dengan pekerjaan terakhirku sebagai General Manager. Minggu depan aku sudah berganti posisi dan memiliki kantor baru dan tanggung jawab baru pula. Aku memboyong semua staffku terutama Nikki yang terlalu bersemangat dengan posisi ini yang berarti kenaikan jabatan pula baginya.

Waktu sudah hampir menunjukan pukul 10 malam dan semua karyawan management sudah meningalkan tempatnya. Lorong menuju kantorku juga sudah mulai di redupkan. Hanya tersisa aku saja dan tentunya Fleming, Mark dan Peter di luar ruanganku. Draco berjanji akan menjemputku setelah dinner meeting dengan rekan kerjanya dan aku akan menunggunya. Nikki tadi sudah membelikanku makan malam dan kopi berukuran venti yang menjadi favoritku untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Semuanya tampak tenang sampai aku mendengar ada suara teriakan dan suara hantaman dari lorong kantoku.

Bang

Jantungku seakan ingin copot mendengarnya. Kuhampiri sumber suara itu dan jantungku mencelos saat melihat Mark sudah bersimbah darah di lorong itu sementara Peter tengah berusaha bangkit dengan kaki yang terlihat tak dapat digerakan akibat tembakan sepertinya. Langkahku terhenti saat melihat sosok yang berbalik untuk menatapku. "Hello, little sunshine," ujarnya.

Aku langsung berlari ke kantorku dan menguncinya. Dengan sangat panik aku menelepon Draco. "Hey, baby. Aku sudah di jalan," ujarnya.

"Stefan di kantor," ujarku bergetar.

Tanganku seakan membeku dan napasku tercekat. "Ia menembak Mark dan Peter tengah berkelahi dengannya."

Bang

Bang

Bang

Suara tembakan kembali terdengar dan kali ini kaca pintu kantorku sudah hancur. "Aku mencintaimu, Draco," ujarku dengan air mata yang berlinang.

"Hermione."

"Hermione."

Aku tak tahu bahwa hari seperti benar-benar akan datang. Hari dimana Stefan ingin membalas dendam padaku. Ia berjalan masuk ke kantorku melewati pintu yang baru saja ia tembaki secara brutal itu. Tatapannya masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Senyum mengerikan terlihat di wajahnyanya. Sebuah senjata api berada di tangannya. Dan aku tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku.

"Apa kabarmu, little sunshine?" ucapnya yang berdiri di tengah kantorku sementara aku tersudut di mejaku.

Seluruh tubuhku bergetar. Aku tak tahu hidupku akan berakhir seperti ini. Di tangan ayahku sendiri. Persis seperti ibumu. "Kau tampak sehat dan sangat cantik, Hermione."

"Kau hidup bahagia sekali sepertinya. Bahkan aku mendengar kau akan menjadi President Director hotel ini."

"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.

"Kau tahu apa yang aku inginkan, sweetheart."

Ponselku berbunyi untuk kesekian kalinya dan kali ini Stefan langsung mengambilnya. Ia melihat caller id itu dan tertawa. "Kekasihmu menelepon, sweetheart," tawanya dan dengan sangat cepat ia membanting ponsel itu dan suara itu tak lagi terdengar.

Jantungku berdetak tak karuan saat ini. Aku mencari celah untuk kabur dari sini, namun tak bisa sama sekali. "Kau hidup bahagia disini sementara aku membusuk di penjara dan panti itu."

Dalam kejapan mata ia sudah mencekikku. Aku baru saja ingin berlari dan ia sudah menarikku kembali. Aku tak bisa bernapas saat cengkramannya semakin mengencang di leherku. "Aku seharusnya membunuhmu saat kau tidur dulu. Aku seharusnya menyuruh Helena membunuhmu di dalam kandungan, little whore."

Aku tak dapat berpikir apapun saat ini sampai akhirnya ia melepaskan cengkraman itu dan aku kembali dapat bernapas dengan lancar. "Kau yang seharusnya mati, bukan Helena," ucapnya yang tetiba saja menitikkan air mata.

Ayahku benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Baru saja aku ingin bangkit dari posisiku ini, air mata yangt tadi meleleh di wajahnya berhenti dan ia menatapku dengan sangat marah. Stefan bergerak ke arahku dan mengangkat tubuhku dengan sangat mudahnya untuk kemudian melemparku begitu saja. Tubuhku terasa sakit bukan kepalang. Aku tak mampu bergerak karena punggungku yang terasa seperti tak bertulang. Ia tertawa padaku sambil terus berjalan mendekatiku. Mataku terasa kabur saat ia sudah berjarak sangat dekat denganku. Pistol itu kembali berada di tangannya. "Bunuh aku sekarang bila itu yang kau inginkan," ujarku yang disambut dengan gelengan dari dirinya.

"Where's the fun, little whore," lalu ia menginjak perutku dengan satu kali hentakan yang maha dahsyat.

Aku langsung terbatuk dan seketika seluruh isi perutku akan keluar dengan begtitu saja. Ia kembali tertawa melihat penderitaanku. Stefan berlutut di sampingku tangannya yang berlumuran darah itu memegang wajahku untuk kemudian menamparnya. Kembali ia tertawa dan menjambak rambutku dengan sangat keras. "Kau tak boleh mati semudah itu."

"Kau harus merasakan penderitaan yang kurasakan."

Ia masih menarik rambutku dengan sekuat tenaganya. "Berkat dirimu aku kehilangan keluargaku, aku menjadi miskin, dan kehilangan cinta Helena," ujarnya.

"Seharusnya aku meminta Helena menggugurkanmu. Agar kau tak perlu merusak hidupku dan merebut Helena dari sisiku."

Kembali ia menarik rambutku dan menyeretku entah kemana. Sama persis yang ia lakukan pada ibuku dulu. Namun langkahnya terhenti saat seseorang meneriakan namaku. "Hermione."

Sontak ia melepaskan rambutku dan menembak secara brutal pintu kantorku.

Bang

Bang

Draco terjatuh tepat di hadapanku. "Draco!" teriakku.

Dengan penuh kesakitan aku berusaha bangkit dari tempatku namun terasa sangat melelahkan. Tangisku peacah melihat Draco memegangi lengan atasnya dengan penuh rasa sakit di wajahnya serta arah yang mengalir begitu saja dari tubuhnya. Stefan benar-benar sudah melepaskanku dan berjalan menuju Draco.

Bang

Bang

Untuk kesekian kalinya aku mendengar suara tembakan. Tangisku semakin pecah dan aku kembali berteriak. "Draco!"

Aku yang seharusnya yang mati, bukan Draco. Seharusnya Stefan membunuhku. Aku yang seharusnya mati. Tetapi, aku salah. Kuseka air mataku dan Draco masih meringis dengan luka tembak yang sama di lengannya. Ia tidak mati. Dan saat itu pula Stefan rubuh di antara kami. Ia jatuh dan menelungkup. Mataku seketika awas mencari apa penyebabnya. Fleming masih berada di ambang pintuku dengan pistol yang masih ditujukan pada Stefan sementara Pierce sudah berada di sisi Draco.

Aku masih berusaha untuk bangkit namun tetap tak ada gunanya karena tubuhku benar-benar tak dapat kugerakan. Seluruhnya terasa menyakitkan. Aku hanya terduduk dengan menyadar di salah satu kaki sofa ruanganku. "Hermione"

Draco bangkit untuk menyambangiku. Perasaanku sangat lega saat ini. Aku tahu Stefan baru saja ditembak. Mungkin ia sudah mati sekarang. Tetapi, aku lega. Aku lega melihat Draco masih dapat bernapas dan berada di sampingku. "Kau baik-baik saja?" tanyaku padanya.

Ia mengangguk dengan air mata yang berlinang di wajahnya. Wajahnya tampak panik bukan kepalang. Ia memeriksa semua tubuhku dengan meringis menahan lukanya. Baru kali ini aku melihat ia menangis. "Aku baik-baik saja," bohongku mencoba menenangkannya yang terlihat tak berhasil sama sekali.

Kepalaku sudah begitu berat. Aku sadar sudah banyak orang yang berada di sekitar tempat ini. Aku mendengar polisi dan paramedis dan yang lainnya saling berteriak. "Stay awake, Hermione," ujar Draco yang aku balas dengan anggukan lemah.

"Stay with me, baby. Please," aku mendengar ia terisak dengan tangan yang terus memegangiku.

"Medis," Draco berteriak.

"Kau berdarah," ujar Draco.

Aku berdarah? Aku tak merasakannya sebelumnya. Kepalaku masih terasa sangat berat dan tak ada lagi kata yang mampu keluar dari mulutku. Aku menunduk dan sekarang aku percaya bahwa aku benar-benar berdarah. Aku bak duduk di kubangan darahku sendiri. Dengan tangan yang bergetar aku memeriksa sumbernya. Darah itu terus mengalir dari pangkal pahaku. Aku diam dan merasakannya. Darah itu keluar dari kemaluanku. Ini tidak mungkin.

"Hermione," ucap Draco.

"Stay awake, baby. Hermione, stay with me."

Hanya itu yang aku dengar sebelum semuanya menjadi benar-benar gelap.

000

to be continued

Thank you guys for reviews, alerts, favorites and for still reading my story. So, how's this chap? Let me know what you think and please keep leave your review. And let me be clear about why I mixed the language in my story. Honestly, every idea about my story just popped in my head in English, so I should translate them and find the word that match with the idea. And sometimes it doesn't feel right when I write them in Indonesian. And some people ask me why did I write them with Indonesian instead in English? Because there's so many dramione story write in English. So for some people who feel bothered about my mixing language, I apology for that.

And for : yes, Sarabeth's is real. You can find it in Madison Avenue or some places in Manhattan. My man and I are the fans of that french toast hehe:)

Sorry for the babbling. You can just skipped it. And please still leave your review. See you in the next chapter. Thank You!