A/N: Sorry for late update. I had a sudden business trip and with two boys and a man in my love, I'm sorry if you feel I abandon you. For heaven sake, trust I would never abandon my reader. So enjoy this chap:)

I own nothing, just trust me, okay?

Chapter Eleven

Draco Malfoy

"Pierce, sambungkan aku dengan Hermione," ujarku dengan memeriksa beberapa kontrak yang baru saja kutanda tangani tadi.

Setelah minggu-minggu melelahkan dengan The Malfoy Paris, akhirnya semua dapat terselesaikan. Aku sudah berencana untuk berlibur singkat dengan Hermione sebelum ia resmi menjadi President Director The Regency yang baru.

Pierce memandangku sejenak melalui kaca spion lalu menggeleng. "Miss Granger sudah terlebih dahulu menghubungimu."

Aku tersenyum. Ia pasti sudah selesai dengan semua pekerjaannya dan tengah menungguku. "Hey baby. Aku sudah di jalan," ujarku sambil meletakkan berkas-berkas itu ke samping tempat dudukku.

Hermione tak langsung menjawab. Ada jeda lalu sesaat kemudian suara hantaman benda ke lantai terdengar dengan hebat. Aku dapat mendengar gemanya sampai disini. "Stefan di kantor," suara Hermione bergetar.

Aku dapat mendengar dengan jelas ketakutan di dalamnya. Stefan di kantornya. What the fuck!

Bagaimana ia dapat melalui semua penjagaan ketat? Kemana perginya Fleming dan kedua temannya itu. Fuck!

"Hermione, bersembunyilah. Hindari kontak dengan Stefan," ucapku yang sadar betul bahwa dari laporan terakhir Fleming sebelum benar-benar menghilang, Stefan Granger diketahui sempat membeli senjata api di pasar gelap London.

Seperti tidak mendengarkan apa yang aku katakan, Hermione justru mengatakan hal yang lain. "Ia menembak Mark dan Peter tengah berkelahi dengannya."

Shit! Mark yang bertubuh sebesar itu dapat dijatuhkannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan Hermione saat ini. Hermione terdengar tercekat dari seberang sana. Jantungku seperti ikut berhenti untuk sesaat.

Bang

Bang

Bang

Tiga kali suara tembakan terdengar. Aku panik bukan main. "Aku mencintaimu, Draco," ucapnya dan suaranya seakan menghilang.

Aku tahu bahwa ponselnya telah terlepas dari genggamanya. Jangan lakukan ini, Hermione. Jangan ucapkan kau mencintaiku seakan kita tak akan pernah pernah bertemu lagi. Seakan kau akan meninggalkanku selamanya. Serangan panik itu semakin hebat melandaku. Kulepaskan seatbealt yang sedari tadi menahanku.

"Hermione!" teriakku.

"Hermione," teriakku sekali lagi dan ia tak menjawabnya.

Please save her, God. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan bila harus kehilangan dirinya dengan cara seperti ini. "Sir," ucap Pierce yang menyadari kepanikanku.

"Stefan di The Regency. Pacu mobilmu secepat mungkin," ucapku.

Tanpa perlu menjawab perintahku ia memacu Audi ini melebihi rata-rata. Aku tak peduli bila nanti kami di tahan karena melanggar berlusin-lusin peraturan lalu lintas. Hermione adalah prioritas utamaku saat ini. Dasiku sudah kulepaskan sedari tadi karena aku merasa pasokan oksigen ke tubuhku perlahan menipis karena berita ini.

Aku berlari secepat yang kumampu ketika kami telah sampai di The Regency dan langkahku terhenti saat banyak sekali orang berkumpul di depan lift ini. "Apa yang terjadi?" tanyaku.

"Lift ini sedang tak berfungsi, Sir," ujar salah seorang pegawai maintenance hotel.

Aku tak percaya dengan apa yang di katakannya. "Stefan menyabotase lift disini, Sir. Fleming baru saja melapor padaku," ujarnya padaku.

"Fuck!" umpatku yang aku sadar mengundang banyak mata untuk melihatku.

"Jadi, Fleming tak bersama Hermione?" tanyaku histeris.

Shit! Dia menghadapi ini seorang diri. Aku tak dapat membayangkannya. "Stefan mengunci Fleming saat ia harus mengambil sesuatu di ruang penyimpanan setelah menembak kakinya terlebih dahulu. Dia sudah membaca situasi hotel ini, Sir."

Holy fuck! Dia benar-benar sakit jiwa.

Tanpa harus membuang waktu lagi, aku berlari meninggalkan kerumunan itu untuk menuju ruang tangga. Pierce mengikutiku. "Sir, kantor Miss Granger berada di lantai sebelas."

"Kau pikir aku peduli," ujarku yang masih terus berlari menaiki tangga itu dan berusaha untuk bepacu dengan waktu meski asupan udara di paru-paruku sudah menipis.

Akhirnya, aku sampai di lantai itu dan semuanya terasa sangat sepi sampai aku mendegar sebuah jeritan tepat di dari kantor Hemione. Hatiku hancur mendengarnya dan aku langsung berlari ke arahnya namun langkahku terhenti ketika mandapati Mark yang terkapar berlumur darah serta Peter yang sedang meregang nyawa di lorong ini. "Selamatkan mereka, Pierce."

"Tidak, Sir. Aku harus bersamamu. Stefan memegang senjata api."

"I insist, Pierce. Save them first!"

Aku tak peduli dengan apa yang dia katakan dan berlari menuju kantor Hermione. Fleming tampak menyeret kakinya dari arah yang berlawanan denganku. "No, Sir. No!" teriaknya saat aku terlebih dahulu berada di ambang pintu kantor itu.

Nyawaku seakan tercabut dari tubuh ini saat melihat bagaimana cara ia memperlakukan Hermione. Hermioneku terkapar untuk kemudian dijambaknya dan di tariknya bak karung gandum yang tak ada artinya. Suara teriakannya membuatku ikut gila.

"Hermione!" teriakku.

Tatapan Stefan teralih pada suaraku dan ia melepaskan cengkramannya dari Hermione. Hal yang tak kupikirkan adalah ia langsung mengarahkan pistol itu ke arahku. Tembakan membabi buta ia arahkan kapadaku. Untuk sesaat aku tak merasakan apa-apa sampai akhirnya sebuah benda yang terasa panas mengenai lengan atasku dan darah begitu saja keluar dari sana. Aku terjatuh karena terkejut dan meringis karena sakit yang tak pernah kurasakan. Perih dan rasa terbakar menjadi satu disana. Tatapanku dan Hermione bersatu saat tubuhku berada di lantai. Aku tahu ia merasakan sakit yang melebihi dari diriku.

"Draco!" teriaknya

Stefan menatapku dengan tatapan mengerikan. Lebih mengerikan dari terakhir kali aku melihatnya di London beberapa bulan yang lalu. Ia tersenyum seakan penuh dengan kemenangan melihat ia berhasil menjatuhkan Hermione dan diriku. Senyum itu masih menghias wajahnya dengan pistol yang ditujukan padaku. Kupejamkan mataku. Suara tembakan itu kembali terdengar kembali.

Bang

Bang

Aku menunggu rasa sakit kembali menjalar ditubuhku, namun tak ada. Aku tak mearasakan apapun. Bau mesiu begitu tajam di penciumanku dan aku baru sadar bahwa Fleming sudah berada di belakangku dengan pistol di tangannya. Pistol itu tepat di arahkannya pada Stefan dan pria berengsek itu jatuh tepat di hadapanku. Pria tua bangka berengsek itu merangsek jatuh dan tak bergerak sama sekali. Aku menengadah dan Fleming terlihat tenang sambil terus mengatur pernapasannya. "Periksa, Hermione."

"Baik, Sir," ujarnya dengan langkah yang terseret.

Pierce langsung mendatangiku dan memeriksa lukaku. "Kau terserempet peluru, Sir."

"Bawa aku ke Hermione."

"Sir, tapi kau terluka."

"Godammit, Pierce. Aku tak peduli."

Ia membantuku bangkit dan langsung saja aku berlutut di samping Hermione yang bersandar pada salah satu kaki sofa itu.

"Hermione," panggilku.

Wajahnya tampak lelah. Lehernya membiru. Napasnya tak teratur, namun ia masih mencoba untuk menyentuhku dengan tangannya yang bergetar dahsyat. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan suara yang parau.

Dia tak boleh tertidur atau semua akan berakhir. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya tadi, tapi tatapanku jatuh pada kubangan darah yang terlihat sedang didudukinya. Holy shit! Apa yang dilakukan Stefan padanya?

Air mataku berlinang tanpa kusadari lalu mengangguk untuk menenangkan pikirannya. "Kau baik-baik saja?" tanyaku berusaha membuat ia tetap membuka matanya.

"Aku baik-baik saja," jawabnya yang aku tahu berisi dengan kebohongan.

Tangannya terus kugenggam untuk sesekali kuremas agar membuat ia tetap terjaga. Aku tak bisa kehilangan dirinya dengan cara seperti ini. Hermioneku terlalu berharga untuk hal semacam ini.

"Stay with me, baby. Please," pintaku padanya.

Aku tahu ia kuat. Hermione wanita yang kuat. "Medis!" teriakku karena tak ada satupun anggota paramedis yang mendatangi kami.

Hermione mencoba bergerak, tapi kutahan. Darah itu semakin membanjir saat ia bergerak dan aku tak tahu apa yang menyebabkannya. "Jangan banyak bergerak, baby."

"Kau berdarah," ucapku.

Hermione terdiam dan ia menyentuh darah itu. Wajahnya semakin pucat dan mata itu tampak semakin sayu. Fuck!

"Hermione," panggilku lagi.

"Stay awake, baby. Hermione, stay with me."

Tubuhnya semakin berat dan mata itu benar-benar terpejam. "No!"

"No!" teriakku.

"Hermione, bangun."

Beberapa petugas medis menghampiri kami. "Permisi, Sir."

Tubuh Hermione langsung diambil alih dengan aku yang hanya mampu membatu di tempat. Matanya benar-benar terpejam tanpa celah sedikitpun. Ia tak mati, bukan? Ini hanya mimpi belaka, bukan? Seseorang harus membangunkanku sekarang juga bila ini benar-benar mimpi. Hal ini benar-benar tidak lucu.

Tubuh Hermione sudah di letakkan di atas bangsal dengan selang di tangannya dan masker oksigen di wajahnya. "Sir."

"Kau terluka," ujar salah seorang paramedis.

Aku menggeleng. "Bawa aku bersamanya."

"Tapi kau harus diobati."

"Obati aku bersamanya."

Aku dipapah dan berjalan bersama bangsal itu menuju ambulance. Aku terus menggengam tangannya dengan sebelah tangan yang sudah terbebat dengan kain untuk menghentikan darah dari lukaku.

Seorang paramedis sibuk dengan ponselnya yang terhubung langsung dengan rumah sakit. "Korban wanita berusia sekitar 30 tahun. Luka tulang belakang dan cedera akut pada bagian perut. Dokter bedah umum dan bedah obgyn* untuk saat ini."

Keningku mengerut. "Obgyn?" tanyaku.

Paramedis pria itu mengangguk. "Istri Anda pendarahan hebat. Diagnosa awal kami ia keguguran karena benturan di perutnya."

Kali ini aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa. Keguguran. Tidak mungkin.

"Kau tak tahu ia mengandung, Sir?"

Aku tak menjawabnya.

Ding

Suara lift yang sudah kembali berfungsi ini terdengar. "Sir," ujar paramedis itu lagi.

"Sir," kali ini Pierce yang memanggil.

Aku masih terdiam saat bangsal itu di keluarkan dari lift. Tautan tanganku dengan Hermione terpisah. Keguguran. Hermione keguguran.

000

Suara 'bip' dari ventilator dan alat-alat yang entahlah apa namanya yang menempel pada tubuh Hermione sudah mulai terdengar familiar di telingaku. Ia sudah tertidur hampir dua hari. Untuk pemulihan kata para dokter yang sempat tak mengijinkan aku berada di ruangan yang sama dengannya. Alasan bahwa aku bukan anggota keluarganyalah yang membuatku tak diijinkan berada disini. Di sisinya. Idiot.

Aku tetap mengenggam tangannya agar saat ia sadar, ia tahu bahwa ia tak akan pernah sendiri lagi sekarang. Kugenggam tanganku sambil terus memikirkan apa yang dikatakan dokter semalam mengenai kondisi Hermione. Tak ada luka atau cedera organ dalam yang berarti, namun lebam di punggungnya benar-benar memerlukan perhatian yang serius. Dan hal yang membuatku terpaku saat mengetahuinya adalah Hermione benar-benar tengah mengandung. Kabar yang seharusnya menjadi kabar terbahagia bagi kami berdua namun berubah menjadi tragedi. Aku mengetahui kekasihku mengandung di saat yang bersamaan dengan kabar kegugurannya. Pendarahannya tak berkesudahan sehingga tim dokter memutuskan untuk mengeluarkannya. Usianya sudah mencapai lima minggu dan dari hasil gambar hasil ultrasound-nya ia tampak sangat mungil sekitar satu centi katanya. Tetapi, semua itu sudah menjadi kenangan saat kenyataan tak sesuai dengan keinginan. Dan aku harus merelakan anakku yang bahkan ibunya belum sadar akan keberadaannya.

Gerakan dari jemari Hermione yang membuatku kembali pada ruangan itu. Secara awas aku memerhatikannya. Perlahan matanya terbuka. Mata hazelnya perlahan menatapku. Ia tersenyum. "You're alive," ucapnya dengan suara parau.

Aku tersenyum dan mengangguk. "You too, Hermione."

Ia masih tersenyum dan tetiba pandangan khawatir itu muncul. "Kau tertembak, Draco."

Aku menggeleng. "Aku baik-baik saja. Menurut Pierce kemarin hanya terserempet peluru."

Ia terlihat kesakitan saat hendak tertawa. "Apa yang terjadi padaku, Draco? Bagaimana keadaan Stefan?"

Bagaimana mungkin ia masih memedulikan pria berengsek itu? Pria yang sudah mengambil segalanya dari kehidupannya. Dari kehidupan kami.

"Istirahatlah, honey," ujarku yang bangkit kemudian mengecup keningnya.

Hermione memegang tanganku. "Apa yang terjadi pada Stefan?" ia ngotot menanyakan hal ini.

"Dia tewas," balasku.

Wajah Hermione berubah datar dan ia hanya mengangguk. "Beristirahatlah. Aku akan disini menemanimu."

Kembali ia mengangguk. Hermione memejamkan matanya lalu air mata itu mengalir dari sudut matanya. Ia menangisi ayahnya. Pria paling hina di dunia ini.

000

Hari ini adalah hari terpanjang dalam sejarah hidupku. Ada rapat penting yang harus kuhadiri dan sama sekali tak dapat kutunda atau kulakukan secara virtual. Dengan berat hati aku meminta Harry dan Ginny untuk menemani Hermione sampai aku dapat kembali ke rumah sakit secepatnya. Hermione masih terlelap saat kutinggalkan pagi ini dan aku tak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini. Apakah ia sudah bangun? Apakah ia sudah dapat makan? Atau mungkin ia sudah tahu tentang keadaanya.

Setelah meeting untuk proses akuisisi terbaru dari Malfoy Group aku langsung bertemu dengan beberapa polisi untuk dijadikan saksi kasus yang menimpa Hermione. Stefan Granger dinyatakan tewas dengan dua luka tembak yang tepat mengenai dadanya. Invsetigasi yang berlangsung mengatakan bahwa ia lari dari panti rehabilitasi itu lalu membeli senjata api di pasar gelap dan identitas baru. Setelah beberapa lama menunggu keadaan, Stefan terbang ke New York dan mencari tahu seluk beluk kehidupan dari puterinya. Dimana ia tinggal, dimana ia bekerja, bagaimana kegiatannya, dan seluruh detail kehidupannya sampai pola keamanan di The Regency. Si brengsek itu benar-benar mencari celah terkecil untuk membalaskan dendam. Psikopat gila. Sampai saatnya ia benar-benar melihat kesempatan untuk bertemu dengan Hermione. Semua penjelasan itu membuatku muak bukan kepalang. Bagaimana mungkin seorang ayah kandung tega memperlakukan anaknya seperti itu? Terdengar sadis memang tapi aku bahagia saat ia dinyatakan tewas, saat Fleming melepaskan timah panas itu tepat di jantungnya. Setelah beberapa pertanyaan untuk penutupan kasus ini aku langsung kembali ke rumah sakit. Untuk bertemu Hermioneku.

Rumah sakit itu tampak lengang saat aku sampai disana. Beberapa penjaga masih berada di luar kamar perawatan Hermione. Aku tahu tak ada lagi ancaman berarti bagi dirinya, tapi sedetikpun aku tak ingin melepaskannya tanpa penjagaan lagi. Walau Mark sudah tewas dan Peter sedang dalam perawatan intensif dan Fleming mengambil libur untuk masa pemulihan kakinya yang ditembak itu, Pierce masih memiliki stock bodyguard untuk menjaganya.

Ginny baru saja keluar dari ruagan itu. "Dia sudah bangun?" tanyaku

Ginny mengangguk. "Ia sudah tahu keadaannya, Draco."

Kali ini aku yang tak sanggup mendengarnya. Aku takut akan segalanya. Aku takut cara dia bereaksi. Aku takut dia terluka untuk kesekian kalinya. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia tak banyak bicara. Hanya sesekali mengangguk saat mendengar penjelasannya. Dia sempat menitikan air mata, namun ia mencoba menyekanya dan kembali diam," jelas Ginny.

Aku mencoba mengintipnya dan Ginny menyadari hal itu. "Masuklah. Ia berkali-kali menanyakan dirimu."

Aku mengangguk. "Aku pamit, Draco," aku kembali mengangguk.

Hermione sudah duduk menyandar di tempat tidurnya. Selang oksigennya telah dilepas dan semua alat yang menghasilkan suara menyebalkan itu telah raib dari ruangan ini. Ia belum menyadari keberadaanku. Matanya lurus menatap jendela dengan sinar matahari yang saling berebut masuk ke ruangan itu. Ia memeluk dirinya dan sesekali menghela napas. Aku belum pernah mendapati dirinya dalam keadaan seperti ini dan aku tak akan pernah mau lagi melihat ia dalam keadaan seperti ini.

"Honey," sapaku.

Tatapannya beralih kepadaku dan ia tersenyum. Senyuman yang paling dipaksakan yang pernah kulihat sejak kami bersama. "Kau sudah kembali," balasnya.

Kulepaskan jasku dan meletakkanya di kepala sofa lalu berjalan ke arahnya. Ia menepuk-nepuk tepi ranjanngnya agar aku duduk disana. "Bagaimana rapatmu?" tanyanya.

"Baik."

Ia mengangguk. Tatapannya beralih pada lenganku. "Lukamu?" tanyanya kembali.

"Sudah lebih baik," ujarku.

Kami kembali diam. Ia kembali menatap ke arah jendela sebelum kembali menatapku. Aku mengambil tanggannya dan menggenggamnya. Aku tak tahu apa yang tengah dipikirkannya. Hal yang aku ingin ia tahu bahwa aku akan selalu ada untuknya. Hermione menitikkan air mata lalu menyentuh pipiku dengan tangan pucatnya. "Aku minta maaf, Draco," ujarnya.

Tak ada nada isakan, tapi air mata itu tetap mengalir dari sudut matanya dan hal itu membunuhku. "Kau tak salah," balasku dengan nada yang ikut bergetar.

Aku tak boleh terlihat lemah di hadapannya. Dia tak boleh tahu bahwa semua ini membunuhku perlahan. Kehilangan bayi kami, kehilangan jiwa dari Hermione. "You almost Dad, Draco," ucapnya berusaha tak menangis dengan tangan yang masih menyentuh pipiku.

"Aku wanita terbodoh yang ada di dunia, Draco. Bagaimana mungkin aku tak sadar bahwa aku tengah mengandung?" akhirnya ia terisak.

Ia terisak. "Aku seharusnya tahu."

Dan aku menariknya ke dalam pelukanku. Ia terisak di dekapanku. "Aku minta maaf, Draco."

"Aku minta maaf," ucapnya semakin histeris.

Ia terisak di dadaku dan aku tak sanggup menahan lagi air mataku. "Maafkan aku," ucapnya lagi.

Dia mengulang-ulang kata maaf dengan isakan dan tubuhnya yang bergetar. "Kau seharusnya menjadi ayah dan aku mengacaukan segalanya," isaknya lagi.

"Aku minta maaf."

Ia menangis histeris dan terus menerus mengeluarkan kalimat permohonan maaf padaku.

"Maafkan aku," ia masih terisak.

Tubuhnya masih bergetar dahsyat dan aku semakin memeluknya erat. "Hentikan, Hermione."

"Love," ucapku.

Aku belum melepaskan dirinya sampai aku merasa bahwa ia sudah mampu menguasai emosinya. Tubuhnya masih terlalu lemah dengan semua ini. "Tak ada yang perlu kumaafkan, love. Tak ada yang salah akan semua ini."

Hermione mengalungkan tangannya di leherku dengan napas yang belum teratur sisa isakan tadi. "Kau wanita terkuat yang pernah kutahu. Kau kuat, Hermione. Kita kuat. Percayalah kita bisa menghadapi semua ini."

Ia tak menjawab. Hermione hanya meletakkan kepalanya di leherku. Tangannya langsung memelukku erat saat aku ingin membaringkannya. "Hey, hey, love, aku disini."

Dia masih tak menjawabnya. "You're safe with me. No one can hurt you anymore. Nothing is your fault."

"Stay with me, Draco," ujarnya lirih.

Aku mengecup keningnya. "Always and forever, Hermione."

Aku mendekapnya di ranjang rumah sakit ini sampai ia kembali tertidur.

000

Setelah beberapa hari menajalani perawatan, Hermione dinyatakan sehat dan diijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Beberapa lebam biru masih menghiasi tubuhnya, tapi tak ada lagi komplikasi pada organ dalamnya.

Hermione berubah menjadi sangat pendiam sejak kepulangannya. Ia hanya melakukan aktivitasnya seperti robot. Terbangun di pagi hari, membuat kopi, duduk di perpusatakaan seharian, kembali ke kamar lalu kembali tertidur. Hal itu terus berulang hingga satu minggu ini. Demi menemaninya aku membawa semua pekerjaan ke penthouse, bahkan aku melakukan conference dengan video call di ruang kerjaku meski Hermione seperti tak memedulikan kehadiranku. Ia seperti berada di dalam gelembung pribadinya yang tak satupun dapat menembusnya.

Aku masih terbangun walau waktu sudah menunjukan tengah malam. Hermione sudah terlelap sedari tadi setelah meminum obatnya dan tersenyum padaku. Aku merindukannya. Aku merindukan kami. Merindukan keadaan sebelum kejadian itu. Merindukan setiap sentuhannya tanpa perlu takut ia akan meloncat terkejut. Aku baru sadar beberapa hari yang lalu saat ia tengah sarapan dan aku memelukanya dari belakang. Ia terkejut bukan kepalang sampai meloncat karena sentuhanku. Napasnya terengah-engah dan ia menunjukan sikap defensif terhadap semua orang termasuk diriku. Seperti tak mau menyakitiku ia langsung tersenyum dan memelukku. "Aku hanya terkejut," ujarnya lalu meninggalkanku kembali.

Napasnya terlihat begitu teratur malam ini. Aku tak peduli berapa banyak waktu yang ia butuhkan untuk memulihkan dirinya. Aku akan menunggunya. Semuanya tampak damai malam ini sampai kegelisahan itu kembali menyergap tidurnya. Hermione terlihat gelisah dalam tidurnya. Keringat itu tampak mulai muncul di pelipisnya. "Hermione," panggilku membangunkannya sebelum ia menjadi histeris.

Dia masih belum terbangun. Kugoyangkan tubuhnya dan ia belum juga terbangun. "Love," panggilku.

"Hermione."

Kakinya menyentak dan ia menggumam. "Jangan, Dad," racaunya.

"Hermione," panggilku kembali.

"Ampuni aku," ujarnya lagi.

"Bunuh aku saja, jangan bayiku," teriaknya.

Ia menggeliat dan aku mulai memeluknya sambil terus berusaha membangunkannya. "No! No!" teriaknya dengan air mata dan kemudian ia terbangun.

Sentuhan dariku membuat ia lebih terkejut setengah mati. Gerakan defensif kembali ditunjukannya. Napasnya terengah-engah dengan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung. Matanya awas memerhatikan sekitarnya. "It's okay, Love," ujarku dan ia masih diam.

Aku mendekatinya dan memeluknya. Aku dapat merasakan detak jantungnya yang masih belum stabil. Bahkan bajunya basah akibat keringat di sekujur tubuhnya. "It's okay, Hermione," bisikku padanya sambil mengecup puncak kepalanya.

Beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukanku dan membelai pipiku. "Maaf karena membangunkanmu," ucapnya memaksakan agar dapat tersenyum kepadaku.

"Kau tak membangunkanku, aku masih bangun, Love."

Ia mengangguk dan ia bangkit dari ranjang. "Aku ganti baju dulu."

Hermione tak kunjung kembali dari walk-in closet kami dan aku berjalan menghampirinya. Langkahku terhenti di ambang pintu walk-in closet ini. Dia belum mengganti gaun tidurnya. Hermione terduduk di sudut ruangan ini. Ia memeluk dirinya sendiri dan ia terisak. Aku mematung dan tak dapat berbuat apapun. Untuk kesekian kalinya aku melihatnya hancur kembali.

000

"Aku akan melakukan video conference dari kediamanku," ucapku pada lawan bicaraku di seberang sana.

"Maaf, Sir. Tetapi, kau tak dapat melakukannya. Bila kau tak datang maka proses akuisisi ini akan ditunda atau mungkin gagal."

Kuhela napas. Bagaimana mungkin aku dapat meningalkan Hermione saat ini? Aku bahkan tak peduli apabila proses akuisisi hotel baru ini akan gagal. Aku juga tak peduli apabila semua kekayaanku lenyap saat ini. Hermione adalah prioritas utamaku. Tak ada yang lain.

Setelah suara salah satu asisten itu lenyap dari ujung telepon sana, aku menghempaskan smartphone itu ke sofa dan mengacak rambutku. Bagaimana mungkin keadaan rusuh muncul di saat seperti ini. Aku masih berjalan mondar-mandir di ruang kerjaku saat aku mendapati Hermione sudah berada di dalamnya. "Aku tadi mencuri dengar," ujarnya.

Ia masih mengenakan gaun tidurnya karena hari memang baru saja dimulai. "Kemarilah," ujarku.

Ia berhenti tepat di hadapanku. Aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya sisa-sisa dari kurang tidur yang dialaminya belakangan ini. Takut mimpi-mimpi menakutkan itu kembali ujarnya padaku sambil berusaha tersenyum agar aku tak mengkhawatirkannya. "Pergilah," ucap Hermione.

Aku sontak menggeleng. "Aku baik-baik saja. Pergilah."

Aku masih menggeleng. "Tinggalkan Pierce untukku, bagaimana?"

Hermione benar-benar negosiator paling ulung yang pernah kukenal dan yang pernah dimiliki perusahaanku. "Dua jam. Aku akan kembali setelah dua jam dan aku akan meninggalkan Pierce disini."

Ia mengangguk. "Deal."

000

Proses itu ternyata lebih alot dari yang kukira. Dua jam tak akan pernah cukup rupanya. Matahari sudah hampir tenggelam saat aku kembali ke penthouse ini dengan wajah khawatir Pierce yang menyambutku. Holy shit. Apa yang kini terjadi pada Hermione?

"Sir," ujarnya.

"Dimana Hermione?" tanyaku panik.

"Ia mengunci diri di walk-in closet kalian."

Aku menatap Pierce tak percaya. "Dan kau membiarkannya?" teriakku.

"Kau tahu dia depresi dan kecenderungan bunuh diri akan selalu ada. Bagaimana bila ia menyayat nadinya?"

Aku langsung berlari memanjat tangga untuk ke kamar kami. "Aku mengaktifkan CCTV di ruangan itu. Ia mabuk," jelas Pierce dan hal itu sedikit membuatku lega.

"Aku tetap tidak mentolerir kelalaianmu."

Langkahku terhenti tepat di depan pintu walk-in closet kami yang tertutup. Harum scotch itu langsung menyeruak di penciumanku meski pintu itu bahkan tak sedikitpun terbuka. Aku mengetuknya. "Hermione," panggilku.

Tak ada jawaban dari dirinya. "Hermione," panggilku sekali lagi dan tetap tak ada jawaban darinya.

Dari hasil CCTV yang kulihat di iPad milik Pierce, ia tengah duduk di sudut ruangan itu dengan gaun tidur saat aku tinggalkan pagi tadi. Tatapannya terlihat kosong dan ia sekali lagi menenggak scotch itu langsung dari botolnya. Pierce mencungkil kunci pintu itu dan mempersilahkan diriku masuk setelahnya. Tatapan Hermione awas saat mendapatiku berada di ambang pintu itu. Seperti tak lagi memedulikanku ia kembali menenggak scotch itu. Aku berjalan ke arahnya dan ikut duduk di sampingnya, kuambil botol scotch itu dari tangannya dan ikut mengenggaknya. Kertas hasil ultrasound anak kami berada di pangkuannya dan hal itu benar-benar menarik perhatianku. "Aku seharusnya meninggalkanmu, Draco."

Aku terkejut mendengarnya. "Aku seharusnya meninggalkanmu dulu saat pertama kali kau mengejarku. Kau tak perlu berurusan denganku, kau tak perlu masuk ke dalam kehidupanku, kau tak akan kehilangan bayimu dan kau tak perlu terluka seperti sekarang. Semuanya karena diriku."

"Mungkin aku yang akan mati sekarang, bukannya Stefan. Tapi setidaknya itulah akhir yang membahagiakan. Aku akan mati seperti yang selama ini aku inginkan dan kau tak pernah tersakiti"

Aku terdiam. Aku tak tahu bahwa ia berpikir sejauh ini. Selama ini aku hanya memikirkan bahwa ia sedih karena kehilangan bayi kami dan tewasnya Stefan, tapi tidak. Aku menjadi salah satu objek kesedihannya. Kubiarkan ia mengungkapkan perasaannya karena ini lebih baik ketimbang melihatnya termenung dan berteriak dalam tidurnya.

"Aku tak pantas dan tak akan pernah pantas bersanding denganmu, Draco. Kau begitu diagungkan dengan semua yang kau miliki sementara aku hanya akan menjadi cela dalam hidupmu."

"Dan sekarang seharusya aku benar-benar harus meninggalkanmu, Draco. Aku tahu media menggila dengan apa yang menimpaku. Aku seharusnya mengemas barang-barangku dan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu agar semuanya pulih seperti semula."

Aku menggeleng. "Jangan berkata seperti itu, Hermione."

Aku tak tahu apa jadinya diriku bila ia benar-benar meninggalkanku. Hermione mengambil botol scotch dari tanganku dan kembali menenggaknya. "Did you remember that I called you skyscraper?" tanyanya yang seperti tak peduli akan jawaban dari diriku.

"You're still the skyscraper that I've never reach."

Saat ia kembali akan menenggak minumannya, tanganku menahannya. "You're wrong, Hermione. You're the skyscraper. The great skyscraper."

"Jutaan keadaan menyakitimu dan kau tetap bertahan. Tak ada yang dapat menggoyahkanmu. Stefan, kematian bayi kita, image diriku bukan menjadi alasan dirimu untuk goyah karena aku tahu kau kuat. Kau wanita terkuat yang pernah ada di dunia ini. The rainstrom even the greatest eartquake would never bother you because you're the skyscraper, my own skyscraper."

Air mata itu jatuh dari sudut matanya dan ia memelukku. "Untuk kesekian kalinya aku meminta maaf karena tak dapat menjaga bayi kita dan karena apa yang Stefan lakukan."

"Shh, Love. Berhenti meminta maaf," ujarku.

Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata sayunya. "Aku akan menemui Harry untuk menjalani terapi," aku mengangguk untuk mengiyakannya.

Ia kembali memelukku. "I should leave you but I would never do that, because I'm Medusa."

Senyumku mengembang saat mendengarnya. "Because I'm Medusa, the greatest bitch that ever lived. And you stuck with me forever."

Aku mengangguk. "Yeah, I'm stuck with you forever."

000

Let me hear your thought guys. Thank you for still appreciate my story. Please leave your review. Love you:)