A/N: It's been a long time huh? I'm sorry my life a little bit crazy lately. Like I said before, trust me my rock and roll readers I would never ever abandon you. So here's the finale. Sorry for the sporadically typos and enjoy
THE FINALE
Hermione Granger
Vesper
Draco dan aku memanggilnya Vesper. Jabang bayi yang bahkan belum tampak bentuknya seperti apa itu. Jabang bayi yang kami cintai bahkan sebelum kami dapat memeluknya. Dan Vesper menjadi pilihan kami untuk memanggilnya. Vesper Malfoy, begitu Draco menyebutnya dengan senyuman terindah di wajahnya. Setiap nama atau panggilan memiliki arti dan jutaan doa di dalamnya, Vesper adalah pilihan tepat untuknya. Ada banyak arti untuk sebutan ini, pertama adalah bintang terang di malam hari layaknya Venus dan yang kedua adalah kidung malam. Seperti layaknya orang-orang taat yang selalu memuja penciptanya di malam hari. Vesper akan menjadi seperti itu di surga sana.
Aku tahu ini terdengar sangat konyol, tapi apakah kalian pernah mencintai sesuatu meski belum pernah memiliki bahkan melihatnya? Hal ini aku alami bersama Draco. Aku dan Draco seratus persen yakin bahwa kami sangat mencintainya meski tak pernah seakalipun mendekap erat tubuhnya. Jadilah kami sekarang, berdiri di kebun bunga kediaman kami di New Orleans dengan sebuah nisan mungil bertuliskan Vesper Malfoy, our beloved child. Sekali lagi aku akan mengatakan hal ini konyol karena tak ada jasad di makam itu. Draco hanya mengatakan bahwa hal ini adalah simbol bahwa meski waktu berlalu ia tak akan pernah terlupakan dan akan selalu diingat sepanjang hidup kami kelak.
Draco membungkuk untuk meletakan calla lily di atas nisan itu lalu kembali berdiri bersamaku. Tangannya melingkari pinggangku, pandangan kami beradu dan kami tersenyum. Sudah lebih dari satu tahun sejak tragedi berdarah di kantorku. Sudah banyak sekali hal yang kami lalui. Diriku yang hampir gila serta teriakan-teriakan dari mimpi burukku di malam hari dan kekacauan di Malfoy Group-lah yang membuat kami bangkit. Aku berpikir Draco akan meninggalkanku karena semua kegilaanku, tapi hal itu tak terjadi. Bahkan sama sekali tak terbersit di pikirannya. Oleh karena itu, aku bangkit. Aku mengikuti terapiku dan meminum semua obat serta menjalankan semua saran yang diberikan Harry padaku. Semua hal itu kulakukan demi Draco dan juga diriku. Karena aku tahu kami tak akan dapat bertahan bila tak saling mendukung satu sama lain. Karena aku adalah dirinya dan dirinya adalah aku.
Draco semakin mengeratkan pelukannya padaku karena suhu semaki turun seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. "Let's go inside, wife," bisiknya padaku yang langsung kuiyakan.
Aku berada di dapur sementara Draco sudah meminta izin padaku untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Aku akan menyiapkannya makan malam dan ia akan berkutat di ruang belajar rumah ini. Hal itulah yang biasa kami lakukan saat berada di kota ini semenjak menikah. Tunggu dulu, apakah aku belum menyebutkan bahwa kami telah menikah?
Draco Malfoy melamarku tak lama setelah ia yakin bahwa aku cukup waras untuk menjadi pendampingnya hingga maut memisahkan. Setelah ia yakin bahwa aku dapat lepas dari semua nikotin dan alkohol yang selalu menjadi teman baikku setelah kejadian itu. Kami menikah di sebuah gereja kecil di pinggiran kota London. Hanya dihadiri oleh sahabatku dan beberapa keluarga dekat Draco. Tak ada lampu sorot media dan hingar bingar para paparazzi. Begitu singkat namun sangat khidmat. Draco bukanlah pria dengan jutaan ucapan manis di bibirnya dan aku juga tak mengharapkan ia berubah menjadi seperti itu. Setelah pendeta mengesahkan ikatan kami, ia langsung menciumku dengan suka cita. Tak ada janji pernikahan yang sanggup membuat pendengarnya tertawa atau berderai air mata.
Tepat setelah aku selesai makan malam, Draco memasuki ruang tengah rumah ini. Kami memilih duduk di depan perapian dengan sebuah meja kecil di hadapannya serta karpet bulu tebal agar menjaga kami tetap hangat malam ini. Ia duduk berdekatan denganku setelah membereskan piring dan membawakanku teh hangat sementara ia membawa sebotol wine bersama dengan gelasnya. "Kau lelah?" tanyanya yang kujawab dengan gelengan.
"Hanya membayangkan bahwa kita tak akan kesini paling tidak beberapa bulan ke depan," ujarku.
Dia menyesap wine-nya lalu menarikku agar bersandar padanya. Punggungku bersandar hangat pada dirinya dengan tangan lembut Draco yang membelai rambutku. "Kita masih memiliki beberapa bulan lagi," ujarnya.
"Kau tahu ada larangan dalam dunia penerbangan untuk wanita dalam kondisiku sepertiku," balasku.
Dan aku tahu ia tengah menggeleng sekarang."Kita dapat membawa obgyin-mu selama penerbangan dan kau lupa kita tak menggunakan pesawat komersil. Jet pribadi kita, kita jugalah yang mengaturnya."
Aku tertawa mendengar argumen pria yang kini dengan bangga kupanggil suamiku ini. Aku bangkit dari sandaran ini lalu menatapnya. "Ada lebih baiknya bila aku stay di New York saja, tubuhku mudah lelah sekarang."
Raut wajah Draco berubah cemas. "Kau mudah lelah sekarang? Kenapa kau tak mengatakannya? Kau sudah berkonsultasi dengan doktermu? Apa yang ia katakan?"
Aku memotongnya dengan sebuah kecupan. "Hermione," ujarnya protes saat aku telah melepaskannya.
"Hal ini lumrah dialami wanita hamil, Draco."
"Tapi.."
Untuk kedua kalinya aku memotong ocehan penuh kekhawatirannya dengan kecupan. "Berhenti bersikap protekif berlebihan seperti ini, honey," balasku.
Ia menghela napas panjang. "Kau tahu, Hermione. Kau adalah kebahagian dan ketakutan terbesar dalam hidupku."
Keningku mengerut saat mendengar perkataannya. "Kau alasanku tersernyum dan mengenal kata 'pulang' sekarang, oleh sebab itu aku menyebutmu kebahagianku. Tetapi, kau juga ketakutan terbesar dalam hidupku. Takut bila sesuatu menyakitimu atau segala sesuatu yang dapat merenggutmu lenyap dari duniaku."
Aku membelai wajahnya lalu mengecupnya panjang. Aku tersenyum sesaat setelah melepaskannya. "Kau tahu, Draco Malfoy. Tak ada yang akan merenggutku dari kehidupanmu selamanya."
"I love you, " tambahku.
Kini ia yang membelai lembut pipiku. "I love you, Hermione."
Tiga kata itu masih dan akan terus membuatku hatiku berdesir saat keluar dari mulutnya. Draco bukanlah tipe seorang pria yang mengumbar kata cinta setiap hari meski pada istrinya sekalipun.
"Bagaiamana keadaan jagoanku?" tanyanya lalu mendekatkan kepalanya ke perut buncitku.
Dalam tiga bula ke depan kami sudah dapat melihat wajah yang sehari-hari di panggilnya jagoan atau lil kiddo, atau lil man ini. Beberapa orang mengatakan tak boleh terlalu percaya pada hasil ultrasound karena takut mengecewakan pada akhirnya, tapi Draco merasa betul bahwa perasaanya tak akan pernah salah. Bahwa anak kami ini berjenis kelamin laki-laki. Bahwa semua ini sudah diatur alam semesta, lil man ini akan menjadi bodyguard nomor satu diriku seperti ayahnya.
"Menendang lalu ketiduran," jawabku bercanda dan ia tersenyum.
Ia semakin mendekatkan diri pada perutku lalu mulai berbisik. "Tumbuhlah dengan sehat, lil man. Kami tak sabar bertemu denganmu," lalu ia mencium perutku.
"Thank you, Hermione."
Untuk kesekian kalinya aku mengerutkan dahi. "What's for?"
"For being my love, for being my wife, my happiness, for being a mother to my children, for being strong,and for being my everything."
Aku memeluknya erat meski terhalang oleh keberadaan lil man di antara kami. "Thank you, for choose me, for ask me, and for love me, Draco."
000
The Years Later
Sebuah mobil sport terparkir tepat di pelataran loby The Regency dengan seorang pria bertubuh jenjang keluar dari dalamnya. Ia tersenyum pada seorang doorman lalu melemparkan kunci dari mobil itu pada seseorang yang telah mengekorinya. Pria muda itu menyeringai. Seringaian yang selalu mengingatkan ibunya dengan raut yang ditunjukan ayahnya saat pertama kali mereka bertemu.
"Kau masih cekatan, old man," ujarnya pada Pierce yang sudah berjalan di belakanganya.
"Senang melihatmu, Sir," balasnya.
Mereka berjalan menuju elevator untuk menuju ruangan dengan ibu dan ayahnya yang sudah menunggu. Beberapa pasang mata mengikuti Scorpius Malfoy, putera pertama dari pasangan Draco dan Hermione Malfoy. "Apa mereka tak ada kerjaan selain memerhatikan orang lain," ujarnya sesaat setelah berada di dalam lift itu.
Pierce hanya tersenyum mendengar pria ini bergumam. "Kau persis seperti ibumu."
"Tidak suka dengan sorotan," jelasnya.
Scorpius mendengus. "Tak ada yang suka dengan sorotan, old man," balansya lalu keluar dari lift itu dan mendapati salah satu penjaga keluarganya di luar ruangan itu.
"Sir," sapa pria itu.
"Nice to see you, Fleming – the another old man," kekehnya lalu masuk ke ruangan itu.
Scorpius berdiri di ambang pintu sambil melihat kedua orang tuanya yang tengah berkutat dengan laptop masing-masing sambil sesekali bertukar berkas dan tersenyum. Hal yang ia kagumi tentunya. Ada begitu banyak orang tua dengan karir cemerlang namun keluarga terabaikan, namun tidak dengan dirinya. Dia dan adiknya benar-benar merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya meski mereka tengah membangun kerajaannya bersama.
"I'm home," ujarnya yang membuat kedua orang tuanya itu mengalihkan pandangan padanya.
Ibunya sontak bangkit dan meninggalkan pekerjaannya sementara ayahnya masih sibuk dengan berkasnya, tapi ia tahu bahwa pria itu sangat senang dengan kepulangannya. "Apa kabarmu, lil man?" tanya ibunya yang memeluk erat dirinya.
"Perfect," balasnya.
Ia melepaskan pelukan ibunya lalu menjulurkan kepala untuk melihat ke arah ayahnya yang terlihat masih terlalu sibuk dengan berkas di hadapannya. "Hallo, Dad," ujarnya.
"Come and hug me, I know you're fucking miss me."
"Language, Scorp," protes Hermione mendengar tata bahasa dari putera semata wayangnya.
Ia mengecup puncak kepala ibunya. "Sorry, Mum."
Ia melepaskan pelukan ibunya dan berjalan ke arah ayahnya. "Dad."
Draco menengadah lalu bangkit dan memeluknya. "How's your study?"
Scorpius tertawa. "Ayolah, Dad. Kau tak bertanya kabarku?"
"Apa kabarmu, lil man?" tanyanya Draco akhirnya yang tahu betul sifat penggoda puteranya yang jauh sekali dari sifat dirinya dulu.
Scorpius begitu hangat walau keangkuhan akan semua yang ia miliki masih kental dalam dirinya. "Like I said, I'm perfect. And about study? See you next month in my graduation, Sir."
Draco tersenyum bangga pada anaknya ini sambil menepuk lengannya. "If you didn't get the summa cum laude, don't expect me to attend your graduation."
"Wow, it hurts, Dad. But don't worry I save your seat in the front row so you can see me clearly in that ridiculous robe."
Mereka tertawa dan Draco tahu betul bahwa puteranya ini tak akan pernah mengecewakan dirinya. "Dimana, Len?" tanyanya mencari sosok adik peremuan kesayangannya yang belum menunjukkan batang hidupnya.
Hemione kembali bergabung bersama kedua pria favoritnya di muka bumi ini. "Tadi dia sudah bersama kami, tapi mendadak bosan dan pergi entah kemana."
Scropius tertawa. Ia tahu betul bagaimana sifat dari adik kecilnya itu. Scorpius meyakinkan kedua orang tuanya agar tak menaruh harapan tinggi untuk Len dapat menajadi bagian dari perusahaan ini. Ia sangat muak dengan segala macam kehidupan kantoran. Len akan memilih berkeliling dunia untuk memotret dan bertemu dengan orang-orang baru daripada mendengar ceramah bisnis di kampusnya. Jiwa Len begitu bebas. Setidaknya seperti itulah yang ia ketahui mengenai adiknya yang sudah tak bertemu dengannya akibat kesibukan masing-masing.
"God, aku rindu saat kalian masih kecil dan belum mempunyai kehidupan sendiri," ujar Hermione yang mendadak melankolis melihat puteranya yang hanya dalam hitungan minggu akan bergabung di perusahaan ini.
Hermione tahu bahwa ini adalah siklus kehidupan, tapi rasa tak rela karena melihat puteranya tumbuh seperti menggelayuti hatinya setiap saat. Ia berharap bahwa Scorp akan memilih sekolah bisnis di New York, alih-alih mengikuti keinginannya Scorp mendapat beasiswannya di Oxford. Begitupula dengan Eleanor atau yang sering disebut Len, anak perempuan satu-satunya itu. Len mendapat beasiswa di UCLA, walaupun masih berada di negara yang sama tapi hal itu tetap membuat mereka tak dapat berdekatan seperti dahulu lagi.
"Mum, aku sudah kembali," ujar Scorp.
Draco tahu akan hal ini. Istrinya selalu mengatakan bahwa semestinya ia tak mengijinkan anak-anak mereka bersekolah jauh dari jangkauannya. Hermione dan semua kekhawatiranya. Setiap malam saat mereka sudah di ranjang, Hermione pasti memulai keresahannya mengenai bagaimana kehidupan Scorp dan Len di luar sana? Apakah mereka makan dengan baik? Apakah mereka hidup dengan baik? Apakah mereka tak terserang flu? Dan Draco akan selalu siap untuk menenangkannya. Ia tahu bahwa anak-anaknya hidup dengan baik. Bahkan terlalu baik dan terlalu bahagia bila mendengar dan melihat kehidupan malam yang mereka jalani. Keluar dari satu club ke club lain. Pesta satu ke pesta lain. Terbang dari negara satu ke negara yang lain.
Ketiga pasang mata itu langsung teralih pada pintu ganda kantor ini yang terbuka dengan Len yang berada di ambangnya. "Scorp," ujarnya sebelum berjalan cepat lalu menubruk kakak lelaki satu-satunya.
"Dad membelikanmu R8 keluaran terbaru?" tanya adiknya itu tanpa tedeng aling-aling.
Pandangan Len lalu tertuju pada ayahnya yang menggeleng seakan tak tahu apa-apa. "Kau membelikan Scorp mobil baru?" istrinya ikut bertanya.
Kembali Draco menggeleng. "Tentu kau punya alasan bagus kepada kami tentang mobil barumu, son?"
Scorp hanya menyeringai. "Anggap saja aku sedang beruntung saat di London beberapa hari yang lalu ," ujarnya santai.
"What's happen, Scorp?" tanya ibunya penasaran.
Demi Tuhan, ia tak mau anaknya terlibat dalam hal-hal yang berbahaya. Ia tahu betul R8 yang dibicarakan Len adalah Audi R8 mobil sport keluaran terbaru dan harganya cukup menguras kantong. Bertahun-tahun menikahi Draco membuatnya lebih dari sekadar paham mengenai mobil-mobil mewah seperti ini.
"What happen in London, stay in London, Mum," jawabnya.
"Scorp!" Hermione kesal mendengar jawaban dari puteranya itu.
Draco langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu. "Hermione, biarkanlah," bisiknya.
Hermione menghela napasnya dan mengangguk. "Berhenti membela mati puteramu," ucap Hermione.
"Berhenti khawatir berlebihan. Aku yakin dia mendapatkanya bukan dari menjadi drug dealer. Bukan begitu Scorp?" tanya Draco yang langsung disambut dengan anggukan oleh puteranya itu.
Len tertawa. "Percayalah Mum, kekayaan kalian dapat menghidupi kami seumur hidup."
Mereka semua tertwa dan Len kembali mendekati Scorp. "Dan percayalah Scorp, aku sebenarnya tak peduli darimana kau mendapatkan mobil itu. Aku hanya peduli bahwa kau harus mengijinkan aku mengendarainya sekarang juga," ucap Len padanya.
"What's Eleanor wants, Eleanor gets, is it right lil sis?" ujarnya pada Len.
Alis Len berkedut dan mengangguk-angguk. "Best brother ever," balasnya yang disambut dengan tawa oleh kakanya itu.
"Kuncinya ada pada Pierce, tapi Len kau harus bersabar mengendarainya. Ibu akan mengamuk bila kau tak muncul di gala dinner nanti malam."
Len mendengus. "Shit, aku kira kita hanya akan berfoto keluarga saja malam ini."
"Enjoy your life, Len," kekeh Scorp.
"Sangat membantu, Scorp. Terima kasih," balas adiknya dengan penuh nada sarkastik di dalamnya.
000
Annual gala dinner yang telah menjadi tradisi bagi Malfoy Group malam ini kembali diselenggarakan. Bagi Draco malam ini bukan hanya sekadar gala dinner tahunan saja, tapi juga sebagai momen dimana ia memperkenalkan Scorpius Malfoy ke mata dunia sebagai penerusnya di kerajaan bisnis ini. Ia yakin betul bahwa anaknya itu dapat menangani perusahaannya ini. Dari apa yang ia lihat di program magang yang ia jalani setiap musim panas itu, Draco tahu bahwa ia mewaris kedua otak dirinya dan Hermione.
Ia mengalihkan pandangan pada Hermione yang tengah mematut dirinya di hadapan cermin di sudut ruangan itu. "Kau sudah sangat cantik, love," ujarnya yang tak dipedulikan oleh istrinya itu.
Draco bangkit dan memeluk dari belakang wanita tercintanya itu. "Kau lihat kerutan di sudut mataku, Draco. Aku sudah tak cantik lagi."
"Lima puluh tiga tahun dan kau masih wanita terseksi yang pernah kulihat sepanjang hidupku," balas Draco yang disambut dengan kekehan dari istrinya.
Hermione berbalik dan mereka saling bertatapan. Lengannya Hermione melingkar nyaman di lehernya. "Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta padamu Tuan Malfoy?" ia mendekatkan dirinya lalu mengecup panjang suaminya itu.
Tangan Draco mulai menuruni tubuhnya dan berhenti di bokong istrinya. "Seandainya saja kita bisa menunda pesta ini," bisik Draco.
Hermione hanya tertawa. "Akhir pekan ini, ayo kita ke New Orleans," ucap Hermione.
"Bawa Scorp dan Len. Dan saat mereka menghabiskan waktu di bar favorit mereka, aku akan menghabiskan waktu untuk bercinta denganmu," ucapnya dengan nada sangat menggoda.
Draco menghela napas panjang menghadapi tingkah istrinya ini. Banyak sekali pasangan yang kehilangan gairahnya saat memiliki anak dan ketika beranjak menua, tapi hal itu tak berlaku pada mereka. Karir dan anak sama sekali tak mempengaruhi kehidupan romantis yang mereka miliki. Draco dan Hermione sekarang, masih sama dengan Draco dan Hermione dua puluh tahun yang lalu.
"Holy shit, Mum," umpat Len yang menadapati orang tuanya tengah menautkan diri satu sama lain di hadapan sebuah cermin.
Draco tak melepaskan pelukannya dari ibu anak-anaknya itu. "Kau terlihat sangat cantik, Len," ujar Draco.
"Terima kasih, Dad."
"Pierce mengatakan bahwa sudah saatnya kau dan Mum memasuki ballroom, Dad."
Baru saja Len akan mengangkat kakinya dari ruangan itu, Draco memanggilnya. "Eleanor, kau juga harus ikut bersama kami."
Len menggeleng. "Tidak, terima kasih. Biarkan Scorp yang menjadi pusat perhatian malam ini, Dad. Aku akan senang hati menunggu pesta ini usai di bar ballroom itu."
"Eleanor," ujar Hermione.
"Kau akan ikut bersama kami," tambah ibunya.
Ia tahu bahwa Len tak menyukai pesta semacam ini sama sepertinya dulu. Tetapi, ia tak mau Len merasa dinomor duakan dalam hidupnya. Bukan hanya Scorp yang menjadi penerus keluarga ini, Len juga. "Baiklah, Mum. Kau menang. Aku akan mencari Scorp dan menunggu kalian di bawah."
Hermione mengheala napas melihat kelakuan puterinya. "Eleanor sangat keras kepala," gumamnya.
"Sama sepertimu."
"Oh shut up, Draco."
Mereka tertawa. Draco memeberikan tangan pada istrinya. "Shall we?"
Hermione menerima tangan itu dan tersernyum . "Sure."
000
"Aku tak perlu secara panjang lebar lagi menjelaskan siapa yang berada di sekelilingku ini. Dan malam ini aku hanya ingin memberikan satu pengumaman bahwa Scorpius Malfoy, puteraku akan bergabung di Malfoy Group bulan depan setelah prosesi wisudanya."
Suara tepuk tangan dari segala penjuru ruangan ini begitu terdengar dengan meriah. Scorp dan Len saling bertukar pandangan yang hanya mereka yang tahu apa maksudnya. Draco mengangkat gelas champagne-nya dan mengrahkan pada Scorp. "Welcome, son."
Scorp juga mengangkat gelasnya begitupula dengan ibu dan adiknya. "Thanks, Dad."
Setelah sesapan mereka suara tepukan kembali terdengar. Draco berbisik pada puteranya. "Berbaurlah. Kenali mana partnermu dan mana musuhmu. Dan ajak Len bersamamu, jangan biarkan dia menghabiskan semua minuman di ruangan ini."
Scorp terkekeh dengan pernyataan terakhir ayahnya. "Aye, aye captain."
Scorp benar-benar menjalankan apa yang diinginkan ayahnya. Ia benar-benar berkeliling dengan Len yang sebentar lagi akan pingsan karena muak. "Scorp, aku akan mengambil minuman dan langsung kembali kesini, okay?"
"Bila kau tak kembali dan justru menghabiskan minuman di bar itu aku tak akan memberikan R8 itu padamu," ujar Scorp santai.
Mata Len seakan ingin keluar dari kelopaknya. "Tunggu. Kau akan memberikan mobil itu padaku?" tanyanya tak percaya.
"Tentu. Bila kau kembali untuk menemaniku mengenali mana musuh dan partner kita."
Len tertawa. "Kau benar-benar terdengar seperti Dad, Scorp."
Saat Len menghilang dari pandangannya, sahabat sejak kecilnya datang menghampiri. "Satu tahun, mate. Kau menghilang untuk merampungkan studimu selama setahun."
"The one and only Albus Potter. It's so good to see you in this boring gala, mate."
Mereka tertawa setelah berpelukan sesaat. Scorp benar-benar fokus pada studinya agar dapat segera bergabung dengan Malfoy Group sampai menghilang dari radar pertemanannya di kota ini, sementara Albus juga fokus pada program kedokterannya untuk mempercepat masa residensinya. Pandangan Scorp terlaihkan pada sosok yang baru saja lewat di hadapannya sambil tersernyum pada Albus. "Who's the brunette?" tanya Scorp pada sahabatnya itu.
"Dont's be silly,mate. That's Rose," jawab Albus santai sambil menyesap champagne di tangannya.
Alis Scorp mengerut. Hanya satu Rose yang dia kenal di hidupnya selama ini. Dan wanita cantik itu bukanlah dirinya. Dimana rambut merah dan semua freckless di wajahnya?
"Rose? Rose Weasley? Sepupumu?" tanya Scorp masih tak percaya.
"The one and only, Rosalene Weasley."
Albus menyadari perubahan wajah pada sahabatnya itu dan langsung memicingkan matanya. "Jangan coba-coba untuk bermain-main dengannya atau kita tak akan pernah berteman lagi."
"Easy, mate. She's off limit. Dia saudaramu berarti dia saudaraku juga. Incest bukan styleku."
Mereka tertawa dengan candaan Scorp. Dan tawa Albus terpotong saat melihat siapa yang tengah berjalan ke arah mereka. "Hey, Al."
"Len," balasnya singkat dengan nada gugup luar biasa.
Scorp tahu betul apa yang ada dipikiran Albus saat ini dan ia langsung menarik Len mendekat padanya. "She's off limit too, Al. Incest isn't our style, is it?"
"Shut up, Scorp," protes Len pada kakaknya.
Scorp hanya tertawa melihat reaksi adiknya yang ia juga tahu apa yang ada di kepalanya. Len menyondongkan kepalanya ke telinga Scorp dan berbisik. "Selamatkan aku dari situasi canggung ini dan jalankan misi Dad untuk mengenali mana lawan dan mana kawanmu."
Scorp mengerutkan keningnya. "Santai, Len."
"Lakukan sekarang atau aku akan mengatakan pada Mum bahwa R8 terbaru milikmu itu adalah hasil balapan liarmu di London dengans salah satu anak senator di Essex."
Rahang Scorp seakan ingin jatuh dari tempatnya. Len seharusnya menjadi jaksa penunut atau penyidik di kepolisian bukan pebisnis kelak. Scorp memandang horor pada adiknya itu sementara Len hanya mengedik. "Ayo, Scorp," ucapnya Len dengan sangat innocent.
"Kita bertemu di tempat biasa, Al. Siapkan dirimu, kita akan pesta semalam suntuk," ujar Scorp.
"Your treat?"
"My treat."
Len sudah kembali bergabung dengan Scorp untuk bersosialisasi dengan para tamu. "Jangan coba-coba memberitahu Mum, lil sis."
Len hanya tersenyum dan menepuk-nepuk bahu kakaknya penuh arti.
000
Dari beranda ballroom Hermione mengamati gerak-gerik kedua anakanya di dalam sana serta Draco yang juga asik bercengkrama dengan para koleganya dengan sesekali melirik ke arahnya. Hermione hanya akan tersenyum padanya sesaat dan kembali menyesap champagne di tangannya. Terkadang ia masih takjub melihat bagaimana anak-anaknya tumbuh dengan sempurna. Hanya dua tahun perbedaan usia antara Scorpius dengan Eleanor, karena ia dan Draco benar-benar ingin membangun keluarga yang besar. Namun keadaan berkata lain karena usia Hermione tak lagi muda dan sangat riskan untuk kembali hamil setelah Len lahir ke dunia. Tetapi, setidaknya impian mereka terkabul dengan kehadiran Scorp yang selalu menjadi fans setia nomor satu ayahnya dan Len yang selalu menjadi teman ibunya. Dalam satu kedipan saja, semua orang akan tahu bahwa Scorp adalah darah daging dari Draco Malfoy. Rambut pirang kecokelatan, mata kelabu, dan kulit pucatnya adalah photo copy terauntentik dari Draco. Sementara Len mewarisi rambut cokelat Hermione, namun sisanya ia benar-benar Malfoy. Dua makhluk yang begitu dipujanya meski mereka selalu membuatnya naik darah. Hermione masih suka berkhayal bagaimana bila Vesper juga dapat tumbuh seperti Scorp dan Len. Dia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Draco yang sudah bergabung dengannya.
Hermione hanya tersenyum. "Semuanya."
Draco ikut tersenyum bersamanya. Mereka menatap lanskap kota ini di malam hari yang sama sekali sudah tak asing lagi di mata mereka. "Keadaan seperti ini mengingatkanku pada saat kau memintaku menjadi milikmu di berada Malfoy Colombus Circ lebih dari dua puluh tahun yang lalu," ujar Hermione.
"Kau menghadiahiku gaun yang sangat cantik malam itu," sambungnya lagi.
Draco menyesap whisky di tangannya. "Dan kau masih berusaha menolakku malam itu," balas suaminya itu.
"Aku tak tahu bahwa malam seperti ini akan datang di kehidupanku. Berdiri di samping seseorang yang dengan bangga kupanggil suamiku, melihat anak-anak kita tumbuh dengan sempurna, melihat Malfoy Group berkembang pesat dengan aku sebagai rekan kerjamu. Semuanya tak pernah terlintas di pikiranku dulu."
Draco mengambil tangan Hermione lalu menggenggamnya. "The future's not ours to see," ucapnya.
"Thank you, Draco," ujar Hermione.
Draco menatap istrinya. "What's for? For choose you, ask you and love you?"
Hermione tersenyum lalu menangkup wajah Draco. "For bring such a wonderful life to me."
Mereka saling menatap dan senyuman semakin merekah di wajah Draco. "Thank you," untuk kesekian kalinya Hermione mengucapkan frasa itu.
"The pleasure is mine, love."
000
THE END
Another apology for my forever update. Sudden business trip, two boys and a cranky man literally would take all of your time and when Baby Khal got a heavy cold everything turn to a chaos situation. Alright, enough for my excuses hiks. So, I would like to say thanks for you all of my lovely readers. Trust me, without you I'm nothing. Thanks for read, alert, and favorite. You guys always made my day. But please keep leave me your review, I eager to know whats your thought. Is it bad or so s so? Again, Thanks Guys!
And for aunty mamang my boy say hi to you:)
See you in another story
AchernarEver
