Timeline Sasuke-Sakura
FANFICTION
Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura
Bad diction and Typo
.
.
.
2
.
.
.
CANON
(2 tahun setelah Chapter 699)
Shikamaru Hiden
• Shikamaru mengambil misi untuk membunuh Gengo setelah beberapa shinobi, seperti Sai, tiba-tiba menghilang
.
.
"Hey Sakura-chan, apa kau mendengar?"
Naruto bertanya dengan kesal, menyandarkan sikunya pada tumpukan buku yang menumpuk setinggi dadanya. Ia sedang berbicara pada punggung Sakura saat ia sedang bergegas menelusuri rak buku yang memanjang menutupi dinding.
"Kau tahu, Sai tidak tampak di sekitar kita sudah sebulan lebih, dan Shikamaru tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan kaku terhadapku. Hey, apa kau pikir dia menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Aku tidak tahu!" Suara jengkel Sakura membuat Naruto mengerenyit. "Bagaimana dengan misimu?"
"Sudah berakhir hari ini."
"Kalau begitu cepatlah pergi ke Ichiraku, makan ramen, pulang, dan tidur!"
"Apaaaaaa, tapi sudah lama kau tidak ke Kediaman Hokage. Akhirnya kau muncul juga… Kau bersikap sangat dingin sebagai anggota tim 7."
Sakura berbalik dengan marah menghadap ke arah temannya yang memasang wajah cemberut.
"Sekarang aku sedang kewalahan bekerja dengan Nona Tsunade dalam mengembangkan sebuah sistem untuk jutsu medis, begitu juga bekerja dalam struktur sistem Persatuan Shinobi. Aku harus mempelajari dokumen yang tersisa dari Nona Tsunade ketika ia masih menjabat sebagai Hokage! Aku tidak punya waktu! Aku tidak bisa mendengarkan gosipmu! Mengerti?"
Terengah, ia berbalik menghadap rak-rak buku, "Lagipula, belakangan ini kau sering keluar dengan Hinata, kan? Bukankah lebih baik kau pergi dan mengobrol dengannya yang mau mendengarkanmu daripada menggangguku?"
"Apa? Kau cemburu?"
Sakura berbalik dengan ekspresi marah, memberikan tinjunya ke kepala Naruto.
"Tentu saja tidak! Aku memutuskan untuk menunggu Sasuke-kun, kau tahu!"
Oh! Tidak. Itu lagi.
Sudah tak terhitung lagi kalimat tersebut seperti memori yang melekat permanen dalam diri Sakura. Diantara kalimat tersebut kata 'menunggu' sudah jadi bagian dalam hidupnya. Perasaan aneh, asing tak lagi dihiraukannya.
Sedari kecil dia yang tidak terlalu bisa bergaul dengan banyak teman sebayanya membuat Sakura menjadi pribadi yang menyendiri dan akhirnya perasaan itu berlarut menjadi bentuk kesedihan. Hingga mengeluarkan air mata hampir semudah dia berkedip.
Diumur tujuh tahun, dia diberikan sebuah dorongan dari teman sekaligus rivalnya. Ino.
Menjadi lebih percaya diri atas semua yang sudah dimiliki. Kepercayaan diri itulah yang membuatnya berani jatuh cinta, berani bertaruh dengan Ino hanya demi satu orang. Uchiha Sasuke.
Bocah laki-laki dingin tanpa ekspresi yang selalu menyendiri tanpa mempedulikan apapun. Dia dengan segala kejeniusannya terhadap berbagai hal baik materi maupun skill saat di akademi. Dia yang lebih memilih memakan nasi onigiri yang jauh dari keramaian. Selalu dan selalu membuat Sakura yakin sudah salah jatuh cinta pada anak laki-laki itu.
Katakanlah cinta yang dia deskripsikan pada Sasuke lebih kepada 'keren dan hebat' yang siapapun selain Sakura, teman wanita di akademinya juga mengidolakan Sasuke. Jadi, Sakura pikir menjadi salah satunya itu tidak masalah karena dia pikir Sasuke yang seperti itu adalah yang membuat dia jatuh cinta.
Sensitivitasnya terhadap perasaan dan hati menjadikannya sebuah penyakit yang tak akan terobati lagi. Sakura mengerti apa itu kasih sayang, apa itu rasa suka, apa itu rasa cinta. Meskipun masih dalam konteks dasar.
Perasaan ingin memiliki seutuhnya, perasaan akan hak milik dan lebih penting lagi perhatian yang lebih ataupun hanya ditunjukkan kepadanya, itulah deskripsi keinginan cinta Sakura terhadap Sasuke.
Satu persatu jalan keinginan tersebut mulai terbuka. Peluang sempit untuk bisa satu tim dengan Sasuke itu kecil, namun tidak lagi harapan karena hal tersebut sudah menjadi nyata.
Intensitas bisa berdua lebih besar, mencari kesempatan sangat mudah, pergi bersama menyelesaikan misi hampir setiap saat melihatnya. Bisa berbicara dan bercakap menjadi terbiasa dibanding saat dulu. Lebih penting lagi kini jarak Sasuke dan dirinya tidak lagi seperti mencari air di padang pasir.
Tak semudah itu bagi Sakura, meskipun begitu Sasuke yang dulu masih sama seperti sekarang. Tidak berubah.
Sekeras apapun Sakura mendekat, seolah pria itu melangkah ke depan dua kali darinya, perasaan di tolak, perasaan di abaikan, perasaan tidak dipedulikan, Sakura anggap seperti udara yang mau tidak mau harus dia hirup meskipun itu tidak sehat.
Dan yang Sakura lakukan adalah menunggu Sasuke membuka hati untuknya.
Sakura hanya tau jika Sasuke cuma punya ambisi, itu berarti tak ada cita-cita, tak ada harapan maupun masa depan pada pria itu. Hingga dia sadar, sampai saat itu tak ada satupun yang Sakura tau tentang Sasuke. Hal itu membuatnya iri pada Naruto, teman yang ada di timnya itu langkahnya dua kali darinya seperti Sasuke dan melihat punggung mereka berdua membuat Sakura paham satu hal. Dia bukan bagian dari keduanya.
Puncaknya, Sasuke pergi meninggalkan desa. Meninggalkannya.
Saat itulah Sakura jadi mengerti apa arti sebenarnya dari kata menunggu.
Sakura sekarang menjadi salah satu kunoichi paling sibuk desa, sudah dua tahun semenjak perang dan bergantinya tahta Hokage tak membuatnya bisa santai walaupun sejenak. Waktu untuk dirinya tak sefleksibel seperti dulu, sekarang dia harus penuh tanggung jawab terhadap apapun.
Saat kegiatan menulis laporan dokumennya terhenti, Sakura tak membuang waktu untuk mengambil bekal yang sudah dia siapkan sendiri sebelum bekerja. Setidaknya satu kepal nasi onigiri sedikit bisa mengurangi rasa laparnya walaupun sejenak.
Menggenggam nasi itu di tangan kanannya tak lantas langsung ia makan, Sakura merenung memandang makanan tersebut. Ingatannya kembali saat Sasuke pergi meninggalkan desa untuk yang kedua kalinya, kali ini tanpa kebencian ataupun dendam. Murni bersih karena ingin melihat dunia yang sesungguhnya.
Sehari setelah Sasuke pergi, tanpa sadar Sakura pergi ke tempat biasanya dia bertemu Sasuke dengan membawa sekotak bento berisi nasi onigiri.
Yang terjadi adalah Sakura seperti ditampar oleh kenyataan bahwa Sasuke telah pergi. Meninggalkannya. Lagi.
Air mata mengalir bukan salahnya, ini karena hatinya yang lemah, sekuat apapun tinjuannya, sebesar apapun kekuatannya, hatinya tidak pernah mau berkompromi. Selalu kalah jika itu Sasuke.
Saat itu Sakura lebih memilih duduk di tempat Sasuke biasa menghabiskan waktu dibawah pohon menikmati angin yang berhembus. Mencoba merasakan apa yang dipikirkan saat Sasuke duduk betah di tempat seperti ini hampir setiap hari.
Sedikit. Hanya sedikit yang dia rasakan yaitu satu. Kesendirian. Seperti dia saat ini.
"Ada banyak, banyak dan banyak lagi cerita yang mau aku bagi untukmu. Sangat banyak hingga terasa menumpuk." Gumam Sakura di tengah lamunan dan nasi onigiri di tangannya pun ludes dalam mulutnya.
Satu tahun telah berlalu sejak Sasuke pergi, sekarang Sakura jarang sekali pergi ke tempat 'pohon Sasuke'- Sakura menamainya begitu. Hal ini dikarenakan kesibukannya dan juga ia sudah punya solusi untuk itu.
Solusi yang dimaksud adalah Sakura menulis semua yang akan dia ceritakan dan katakan kepada Sasuke pada secarik kertas setiap harinya. Sakura menganggap hal itu seperti ia berbicara dengan Sasuke dan mengurangi beban hatinya yang menumpuk.
Setiap hari ada saja cerita yang bisa dia tulis, lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan, tak terhitung lagi tumpukan kertas-kertas itu di rumahnya yang ia simpan di dalam kotak khusus.
Aksi menulis cerita itu tanpa sengaja tertangkap mata oleh Sai beberapa waktu yang lalu. Bukan karena Sakura ingin marah tapi lebih kepada merasa malu. Sai memergokinya dan membuat Sakura tak bisa menyembunyikannya lagi dan bercerita kepada Sai yang keingintahuannya begitu besar semakin sulit Sakura mengelak.
Sai hanya berkomentar 'Kirimkan saja semua kertas ceritamu pada Sasuke'.
Benar 'kan! Sai memang pintar mengutarakan semua yang ada di benaknya tanpa melihat suasana. Hingga, mau tidak mau membuat Sakura berpikir keras untuk itu.
Namun, akhir-akhir ini saat Sakura ingin bertanya pada Sai apa maksud perkataan pria itu, Sai menghilang.
Seperti yang dikatakan naruto, Sakura tak memungkiri bahwa dirinya tak melihat Sai sejak pertemuan mereka beberapa waktu lalu sejak 'tertangkap' dirinya.
.
.
.
Hari ini Sakura dipanggil ke ruang Hokage, disana sudah ada Naruto, Ino dan Chouji. Tapi pandangan Sakura beralih pada ninja Suna yang dia kenal sang Kazekage-Gaara dan Temari.
Misinya adalah menyusul Shikamaru dan timnya serta menyelamatkan Sai. Sesampainya disana semua serba kacau. Perkelahian tak terhindarkan lagi, beruntung Temari membawa banyak pasukan ninja Suna.
Saat itu yang ada di depan mata Sakura adalah Temari dan Sai bertarung satu lawan satu. Tapi Temari seperti terpojok dan terluka membuat Sakura mau tidak mau maju ke depan setelah sebelumnya membuat kode dengan Chouji dan juga Ino.
"KUATKAN DIRIMU DAN BANGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNN!"
Tiba-tiba, Sai terlempar oleh serangan Sakura. Ia terhempas dari pandangan Temari seluruhnya, kunai yang menusuk gadis suna itu bergemerincing di lantai.
"Apa kau baik-baik saja?" Sakura bertanya sembari membantu posisi Temari yang tumbang.
"Sa…Sakura?"
"Bertahanlah, jangan bicara sekarang," Ucap Sakura, "Aku akan menutup luka di perutmu."
Chakra mengelilingi tangan Sakura saat ia menekan lembut luka terbuka Temari. Gelombang chakra yang hangat itu dengan lembut menyelimuti perut gadis Suna itu.
"Tunggu…Sai?"
"Tidak apa-apa, pasukan kami yang menanganinya."
"Eh?" Temari mengalihkan pandangan ke arah Sai yang sedang terlempar.
Seseorang menahan Sai di tempat dimana ia dilempar oleh Sakura.
Raksasa…
"Shikamaru dalam bahaya, tapi shinobi Konoha tidak bergerak untuk membantunya." Sakura meniru komentar seorang penduduk sambil menyembuhkan perut Temari.
"Akan terasa begitu menyakitkan jika keadaannya berubah seperti itu, jadi…"
Ada dua shinobi berdiri di belakang Sakura, keduanya dipenuhi luka. Yang satu merupakan pria paruh baya dengan wajah menakutkan. Yang satunya lagi merupakan perempuan yang bertahun-tahun lebih muda dari mengeratkan giginya melawan rasa sakit karena lukanya, dan kembali berbicara pada Sakura.
"Dia berada…dibawah genjutsu …"
"Tenang saja," Sakura meyakinkannya, "Kami sudah mendengarnya dari mereka berdua."
Kedua shinobi di belakangnya mengangguk menegaskan kata-katanya.
"Baiklah! Semuanya sudah siap, selama jutsu Ino bekerja, semuanya akan baik-baik saja." Gumam Sakura.
Chouji membebaskan Sai, mundur.
Sai bangkit.
Semua itu terjadi seketika.
Seperti kilatan petir, getaran keras memasuki tubuh Sai, dan ia berhenti bergerak. Di hadapannya, dalam satu garis simetris, tubuh Ino juga menjadi kaku.
"Ahh, sudah. Sudah tidak apa-apa sekarang."
Sakura perlahan menyingkirkan tangannya. Rasa sakit di perut Temari sudah menghilang sepenuhnya.
Sakura dan Chouji berdiri menjaga mereka. Ino duduk di hadapan Sai yang sedang tertidur.
Setelah insiden itu, Sai akhirnya sadar setelah dipatahkan oleh jutsu Ino. Sedangkan Shikamaru berhasil mengalahkan pimpinan musuh yaitu Gengo. Suasana yang kacau mulai terkendali dan diambil alih oleh pasukan Konoha dan Suna.
Setelahnya, Tim Shikamaru dan Tim 10 serta pasukan Suna kembali ke desa Konoha untuk melaporkan hasil misi dan terlebih lagi karena kondisi rekan Shikamaru yang memang harus di rawat membuat mereka terlebih dahulu kembali ke desa Konoha. Sementara Naruto, Sakura dan yang lainnya tetap tinggal di Negeri Sunyi untuk membereskan semua urusan disana.
.
.
.
Seminggu kemudian Sakura kembali bertemu dengan Ino dan juga Sai, hubungan mereka tidak biasa menurut penglihatan mata Sakura. Tapi, itu tidak jadi masalah karena Sakura berasumsi bahwa mereka berdua jadi dekat sejak Ino menyelamatkan Sai beberapa waktu lalu.
Selain Ino ada juga Shikamaru dan Temari yang ia nampak mereka sedang berjalan-jalan di sekitar Konoha.
Sai menyapanya karena sudah lama tidak bertemu Sakura sejak insiden penculikan itu. Namun, Sakura harus menjitak kepala Sai dengan tinjuannnya yang kuat kali ini, membuat Sakura tidak ingat lagi bahwa Sai baru saja keluar sejak di rawat di rumah sakit.
Bagaimana tidak, pria itu masih juga belum berubah akan sikapnya yang tak tau suasana.
"Kertas cerita apa?" Tanya Ino yang memang mendengarnya dengan jelas dari pertanyaan Sai untuk Sakura.
Sakura melototi Sai, tapi pria itu seolah tak melihat, "Bu... bukan apa-apa. Sai suka bicara omong kosong... ha..haha!" Tawa Sakura hambar.
Sebelum Ino menimpali dan Sai menjawab polos dengan kejujurannya itu, Sakura terlebih dahulu menyeret Sai menjauh dari Ino, "Ah! Ino, maaf. Aku pinjam Sai dulu. Sampai jumpa." Teriak Sakura yang makin menjauh dari gadis pirang itu sambil menyeret Sai bersamanya.
Setelah dirasa tempat ini cukup sepi, tanpa buang waktu lagi Sakura memukul kepala Sai, membuat pria itu mengaduh kesakitan. Pukulan Sakura meskipun tanpa tenaga besar sudah cukup menyakitkan.
"Bukannya sudah aku bilang ini rahasia!"
"Jangan marah, Maaf."
Wajah Sakura sudah sangat merah, ini akibat bercampurnya rasa marah dan malu secara bersamaan. "Aaahh! Ini sangat memalukan. Bagaimana jika semua orang tau aku bertingkah bodoh."
"Aku tidak menyebut nama Sasuke, 'kan." Timpal Sai santai.
"Tetap saja."
Sakura tampak mengernyitkan dahi tatkala melihat Sai bertingkah aneh. Pria itu mengambil kuasnya dan gulungan kertas yang ada di punggungnya. Gerakan tangannya seperti sedang melukis sesuatu. Ukiran tinta menjadi sebuah gambar binatang. Burung kah? Tapi untuk apa Sai mengeluarkan jutsunya karena tidak ada serangan berbahaya di sekitar sini.
Sai melepas jutsu nya dan seekor burung bertengger di tangannya, "Ini permintaan maafku, ambilah."
Merasakan burung itu berpindah tempat dari tangan Sai beralih ke tangan Sakura. Sebuah tanda tanya besar melekat pada kepala Sakura. Untuk apa Sai memberikannya burung dan lagi ini ungkapan permintaan maafnya. "Tunggu, burung ini..."
"Kau bisa mengirim apapun dan pada siapapun dengan burung itu. Sudah ya, sampai jumpa." Sai tampak berlari menjauh dari Sakura dengan senyum dan lambaian tangannya.
"Mengirim... apapun dan pada siapapun. Jangan-jangan..." sebelum Sakura bertanya lebih pada Sai, pria itu sudah menghilang begitu saja dari pandangannya.
Shannnarooo!
Bingung. Bimbang. Itulah yang dirasakan oleh Sakura. Membiarkan burung tinta pemberian Sai bertengger dalam diam di pinggir tempat tidurnya sedangkan dirinya menatap kotak khusus berisi kertas-kertas tulisannya.
Satu burung dari Sai seperti sebuah satu permintaan yang harus Sakura pikirkan baik-baik. Kalimat atau kata-kata apa yang harus dia sampaikan pada Sasuke. Namun, Sakura semakin tidak percaya diri, ini bukanlah keadaan darurat sampai harus mengirimkan burung pada Sasuke, apalagi ini karena perasaan pribadinya sendiri. Ini sangat memalukan untuknya.
Sakura ingin sekali tau bagaimana keadaan Sasuke, ini sudah setahun sejak ia diberi ketukan di dahi oleh pria itu. Ada banyak sekali yang ingin dia tanyakan dan ungkapkan pada Sasuke tapi melihat banyak sekali tulisan yang dia tulis membuatnya mengurungkan diri.
Setelah berpikir lama, Sakura mengambil secarik kertas kosong dan pena dari meja belajarnya. Diam merenung seolah tulisannya adalah sebuah kode sangat rahasia yang apabila salah mengungkpakan akan jadi bencana besar.
Akhirnya goresan-goresan tinta pada kertas menjadi sebuah perasaan yang paling dalam dari Sakura untuk Sasuke. Menerbangkan surat itu bersama burung seolah jantung dan hatinya ikut terbawa jauh sampai pada tangan penerimanya.
.
.
.
The Last: ( musim dingin )
• Toneri mencoba mengakhiri dunia dan mengambil Hinata untuk dinikahi.
.
.
.
Butiran-butiran kristal berjatuhan menyelimuti permukaan, warna putihnya seperti sebuah tanpa dosa. Tertangkap mata dimanapun benda itu berada. Dinginnya terasa menusuk saat malam hari tiba dan sejuk saat siang hari muncul.
Salju diibaratkan seperti hati yang diisi penuh oleh cinta karena begitu butiran itu mengenai suhu tubuh, mereka langsung meleleh menyisakan kebutuhan berupa air.
Setapak demi setapak kaki-kaki itu melangkah mengikuti arah tujuan. Pohon dan salju menjadi teman setianya setiap kala nafasnya berhembus. Terkadang kehati-hatianya akan jalan yang tertutup salju membuatnya perjalanannya jadi melambat. Salju yang lembut membuat kaki bisa saja terperosok ke dalam.
Dingin menyelimuti tubuh tak membuatnya gentar, tatkala membuat suhu tubuhnya terbuat dari api yang akan selalu menghangatkan tubuhnya sendiri.
Hari berganti bulan lalu berganti tahun. Sudah lama sekali dia pergi tanpa pulang. Dan yang membuatnya bertahan adalah luasnya dunia ini sampai-sampai perjalanannya masih belum cukup.
Dua tahun sejak perang berlalu dan satu tahun sejak meninggalkan Konoha, ada banyak sekali waktu yang dia bisa habiskan di dunia luar ini. Betapa setiap waktu berubah sesuai keadaan dan baginya hal ini menjadikannya orang yang paling beruntung karena tak melewatkanya.
Andai saja dulu keadaannya belum berubah, dirinya pasti akan mengalami apa itu penyesalan seumur hidup.
Sasuke. Pria itu memandang ke depan. Hanya ada salju yang terus berjatuhan karena hari hampir menjelang malam. Badai salju mungkin akan datang melihat angin yang berhembus kuat. Tak ingin membahayakan tubuhnya, Sasuke memilih mencari tempat berteduh. Dilihat dari banyaknya pepohonan tinggi menjulang, akan sulit mencari pedesaan atau penginapan disekitar sini karena dia masih di tengah-tengah hutan.
Sebuah gua menjadi tujuannya. Beruntung didepan ada satu yang cukup dalam untuknya menginap semalam saja. Membuat api unggun kecil sebagai penerangan.
Sasuke melepas jubah coklatnya dan meletakkan pedang katananya di samping tubuhnya. Hangatnya api membuatnya tak merasakan lagi bahwa di luar sana salju makin banyak berjatuhan beserta angin dingin.
Mengeluarkan benda dari sisi tubuhnya adalah secarik kertas yang tampak tak lagi berbentuk rapi. Pasalnya ia mendapatkan sudah lumayan lama dari seekor burung tinta yang berputar di atas kepalanya dan bertengger pada pundaknya kala itu.
Sebuah pesan darurat? Itu yang dipikirkannya pertama kali, mengingat Sasuke kenal jutsu tinta ini adalah dari ninja Konoha.
Membukanya membuat Sasuke diam sejenak tanpa kata dan memilih menyimpan kertas itu di sisi tubuhnya dan memilih memusnahkan burung itu.
sekitar sebulan yang lalu mungkin sejak itu. Tanpa Sasuke ingin atau mau membalasnya.
.
.
.
Berjalan di sekitar desa membuatnya menangkap sosok yang sangat dia kenal. Tanpa buang waktu gadis itu berlari menghampiri dan menyapanya.
"Hinata."
"Sakura-san."
Gadis berambut merah muda itu tersenyum menimpali, sudah lumayan lama tidak melihat sosok Hinata karena jarangnya ia punya waktu luang.
Namun, Sakura menangkap sesuatu yang tengah hinata peluk. "Hmmm... sedang merajut sesuatu? Mengejutkan."
"Aku sedang membuat syal." Jawab Hinata malu-malu.
Sakura berpose menggoda hinata seolah sedang berfikir dengan menempelkan jemarinya pada dagunya, "Hmmm..."
Hinata tampak gugup dan malu, "Ada... apa?"
"Semangat, ya!"
"Huh?"
"Itu hadiah untuk dia 'kan?"
Sakura bukan asal menebak, hanya saja Hinata pasti tau 'dia' yang dimaksud. Sakura bahkan sudah tau sejak lama sejak kapan hati gadis di depannya ini berlabuh pada teman satu timnya itu. Namun bagi Sakura keduanya tampak tak ada kemajuan. Hinata yang terlalu lembut dan cenderung bersikap diam. Sedangkan yang satunya lagi tidak peka sama sekali. Bukan urusan sakura sebenarnya mengenai hubungan mereka berdua, hanya saja memberi semangat tidak ada salahnya.
Lalu Sakura dan Hinata berbincang lama sambil makan di salah satu kedai, apalagi kalau bukan membicarakan teman berambut kuningnya itu.
.
.
.
Jujur saja! Ini sangat menyakitkan bagi Sakura melihat Naruto seolah tidak pekanya yang over keterlaluan. Ini sama saja melihat hubungan dirinya dan...
Sakura mengejar Hinata yang sudah berlari duluan menuju gang di desa. "Dia memang kurang peka. Kau akan memberi dia syal, 'kan?" Ucap Sakura setelah menyamai langkahnya dengan Hinata.
"Ya." Jawab Hinata lembut.
"Tidak apa-apa, Hinata. Percaya dirilah."
Hinata mengangguk, "Terima kasih. Tapi kenapa kau begitu mendorongku?"
"Heh... kalau itu..." Sakura mendadak gugup. "Kita harus saling mendukung." Kata sakura akhirnya menjawab pertanyaan Hinata yang baginya sulit itu.
"Saling mendukung?"
"Eh...ha...haha.."
.
.
.
-
Setelah semalam di terjang hujan salju kini dirinya berada di daerah padang pasir yang gersang. Sejauh mata memandang hanya ada butiran-butiran debu yang berterbangan. Seolah angin adalah pelengkap betapa keringnya tempat ini.
Pria itu tau sekarang dirinya berada dimana, meskipun sekarang musim dingin tapi daerah yang sedang dia lewati ini sama sekali tak tersentuh salju. Bisa dikatakan negara ini selalu di selimuti pasir setiap musimnya. Ya, negara Suna.
Perjalananya mungkin butuh tiga hari lagi untuk sampai ke tempat tujuannya.
.
.
.
Dua hari yang lalu dirinya diberi misi untuk menyelamatkan Hanabi setelah diculik oleh sesorang tak dikenal. Perjalanan panjangnya itu mendapatkan hasil bahwa semua ini ada kaitannya dengan runtuhnya serpihan-serpihan bulan menghujani bumi dan Hokage keenam berasumsi bahwa jika tidak dihentikan bumi akan musnah.
Puncaknya malam itu setelah siang hari menyelidiki ke berbagai tempat dirinya menemukan hal ganjil tentang kerajaan Ootsuki. Hingga malam tiba pun dirinya harus terbangun akibat teriakan Naruto, musuh menyerang membawa Hinata membuat Naruto harus kehabisan chakra yang sangat banyak hingga pingsan.
Kehabisan tenaga akibat memberikan semua chakra yang dia punya untuk menyelamatkan Naruto membuatnya menggerakan seujung jarinya pun susah.
Membaringkan tubuh beralas kain tipis di sebuah gua yang kecil serta penerangan seadanya tak membuatnya mengeluh karena bagaimanapun ini misi. Itulah jalan hidup seorang ninja demi menyelamatkan dunia.
Sakura melihat bayangan sosok temannya itu mendekat ke arahnya dengan wajah bersalah. Naruto mungkin baru saja sadar mengingat lamanya tak menemukan tanda-tanda pria itu menemuinya.
Naruto mengungkapkan semua keluh kesahnya pada Sakura. Mencoba membicarakan kegundahannya pada satu-satunya teman wanita di teamnya itu. Membuat Sakura mengangguk paham karena semua yang diceritakannya adalah tentang Hinata.
Sakura bersyukur Naruto akhirnya sadar meskipun terlambat sedikit. Melihat pria itu menyerah akan Hinata membuat sakura mau tidak mau mengucapkan kalimat yang entah kenapa itu seperti untuk dirinya sendiri juga.
"Saat seorang gadis jatuh cinta, ia tidak akan melupakannya semudah itu. Aku mengerti perasaan itu."
.
.
Sasuke memperhatikan langit malam, bulan yang begitu besar memang cukup aneh mengingat saat ini bukan musim gerhana. Tak membuang waktu lama, Sasuke mempercepat langkahnya sedikit. Ia punya firasat aneh.
Kira-kira tanah gersang yang di selimuti pasir telah di lewatinya, kini hanya pohon-pohon lagi yang menemaninya. Saat Sasuke melihat pohon dan hutan seolah itu adalah daerahnya dan tempat huniannya. Bagaimana tidak hampir setahun lebih pemandangan di depannya tidak lepas dari yang namanya dahan dan daun.
Beberapa langkah ke depan ada sebuah tanah luas yang tak lagi tertutupi pohon-pohon tinggi. Namun Sasuke harus menghentikan langkahnya sejenak, bukan karena aneh dengan lingkungan dan daerahnya, hanya saja ada satu sosok di depannya yang nampak sulit berjalan. Terseok-seok tanpa ada tenaga lagi untuk menyangga tubuh dengan kaki lemah itu.
Akhirnya tubuh itu jatuh tak jauh dari tempat Sasuke berdiri.
Sasuke kenal itu. Orang Konoha.
Langit malam juga makin tidak bersahabat, reruntuhan-reruntuhan yang berasal dari bulan berjatuhan menghujani bumi. Tidak salah lagi kali ini tidak hanya di Suna tapi di seluruh negara terkena serpihan itu.
Sasuke mengangkat tubuh orang yang terjatuh tadi dan makin mempercepat tujuannya awalnya tersebut menjadi dua kali kecepatannya. Kali ini ada dua alasan kenapa dia harus sampai ke Konoha.
Saat gerbang bertuliskan konoha nampak di hadapannya, satu-satunya arah yang dia tuju adalah kediaman Hokage. Sepinya desa saat dia melewati rumah-rumah di sekitarnya membuatnya berasumsi bahwa warga telah di evakuasi. Berarti sekarang adalah tanda darurat level berbahaya.
Saat telah mencapai puncak atap hokage serpihan besar bebatuan hampir saja menhancurkan sekitar, tanpa buang waktu Sasuke mengeluarkan jutsunya. Kilatan biru dengan suara khasnya dalam sekejap menghancurkan batu besar itu menjadi tak bersisa.
"Kalau dia tak ada disini. Yang bisa menyelamatkan desa adalah aku."
Cara bicara yang selalu dingin dan menyebalkan, Hokage keenam mana mungkin tidak mengenal anak muridnya sendiri, "Sasuke?"
Bagai debu yang diterbangkan angin, Sasuke menghilang begitu saja setelah meletakkan orang yang dia tolong tadi ke tempat seharusnya agar segera di beri bantuan.
.
.
.
Kejadian jatuhnya bulan telah berlalu. Misinya yang awalnya menolong Hanabi yang di culik membuatnya berpikir bahwa misi waktu itu mempengaruhi keadaan dunia ini. Karena salah langkah saja bulan akan jatuh atau kalaupun bisa diatasi untungnya berkat kebijaksanaan Hokage keenam bulan tak jadi dihancurkan oleh Raikage. Nyawanya masih bisa selamat berkat semua orang.
Entah sudah berapa kali dia mengalami detik-detik kematiannya. Tapi sampai saat ini pun bernafas masih bisa dilakukan. Itu berarti dia masih harus mencicipi lebih lama hidup dengan menjejal masa depan bahagia seperti mimpinya dulu.
Sakura baru saja keluar ruang hokage untuk melaporkan misi. Namun perasaannya campur aduk. Tidak lagi bisa dikatakan marah, sedih, kecewa, menyesal atau yang lainnya.
Berjalan-jalan di sekitar desa sambil menatap langit membuatnya mengingat perkataan Hokage keenam beberapa saat yang lalu, 'Sasuke sempat menyelamatkan desa saat insiden jatuhnya bulan. Setelah itu dia pergi begitu saja.'
'Oh... Begitu.' jawab Sakura yang awalnya semangat mendengar Sasuke ke Konoha langsung lemas begitu saja saat pria itu pergi lagi.
'Lalu, apa yang akan kau lakukan?' Tanya Hokage keenam sekaligus mantan gurunya itu.
"..."
"Sakura?"
Sakura tersenyum hambar, 'Sensei pasti tau, 'kan. Aku... harus menunggu lagi."
Menunggu bagi Sakura tidak seperti menunggu saat belum terjadinya perang. Karena saat ini Sakura menunggu bukan karena tanpa harapan, saat ini dirinya dipenuhi akan rasanya kebahagiaan saat seseorang pulang sesuat keinginan hatinya. Walaupun alasan itu mungkin juga tidak berlaku bagi Sasuke.
Baginya mendengar Sasuke pulang ke Konoha menjadi kebahagiaannya yang pertama. Menyadari Sasuke menyelamatkan desa menjadi kebahagiaannya yang kedua dan mengetahui Sasuke tampak baik-baik saja menjadi kesempurnaan kebahagiaannya yang lain. Meskipun semua itu tak dilihat langsung olehnya hanya melalui perantara dan ungkapan Hokage keenam.
Bagaimanapun Sakura harus berjuang sendiri untuk hidupnya, menyelesaikan laporan dokumen dari hokage kelima dan menyelesaikan misi yang diberikan sebaik mungkin. Karena dengan begitu langkahnya dengan Sasuke tidak lagi dua kalinya seperti dulu. Sakura berharap mereka bisa berjalan beriringan meskipun harus menunggu untuk seumur hidupnya dan selamanya.
Isi pesan sakura yang dikirim lewat burung pemberian sai :
( Sesekali kalau ada waktu pulanglah ke rumahmu, Konoha.)
[Sakura Haruno]
.
Contiuned
.
.
.
Cerita di sesuaikan dengan Timeline novel Naruto... berawal dari chapter 699 hingga Novel Sasuke Shinden nantinya.
oh ya.. bagi yang sudah membaca semua novel naruto dari chapter 1 kemarin (Kakashi Hiden) dan chapter 2 ini (Shikamaru Hiden) plus yang udah nonton Naruto The Last pasti bisa bayangin cerita ini kan.. semua aku ambil dari novel ori plus bumbu(?) imajinasi aku .. kekeke
sebenarnya chap 2 ini udah dari november 2015 lalu :( .. tapi selalu lupa buat publish.. gomeennn..
Sign,
Najika
