Kai mengumpat sepanjang jalan, mengemudikan pick-up yang di pinjamnya dari bengkel dengan kecepatan tinggi dan cukup ugal-ugalan, tenang saja, jalanan ini sangat lebar, dan sangat lengang. Hanya ada satu dua mobil yang Kai temui, itupun langsung di balapnya.
Bukan hal yang mudah bagi seorang Kai untuk memiliki teman seperti Park Chanyeol, meskipun banyak orang bilang Chanyeol orang yang menyenangkan, baginya itu hanya mitos. Chanyeol itu terdiri dari 40% happy virus dan 60% gila dengan sikap kurang ajar. Bayangkan saja, setelah orang itu menghilang satu hari penuh, tanpa basa-basi dan minta maaf, pria itu malah menelpon minta di jemput di tempat yang menjengkelkan, dan pada jam yang menjengkelkan.
Kawan, percayalah padaku, di telpon pada jam 10 malam saat jam tidur itu sudah menjengkelkan, apalagi ada seonggok tiang yang memintamu menjemput saat itu juga di daegu, ulangi, DAEGU!
Kau pikir seoul-daegu itu cukup satu-dua jam?! Itu makan waktu 3-4 jam.
Teruntuk bibi Park yang baik hati dan murah senyum-tentu saja-maafkan Kai bila nanti putramu kembali dalam keadaan abstrak. Kai telah berjanji akan mengulitinya hidup-hidup. Yeah.
Kai tetap tidak mengurangi kecepatan ketika layar ponselnya berkedip menandakan ada panggilan. Memperhatikan nama Chanyeol yang tertera di depan layar dengan wajah mengkerut.
"apalagi yang dia inginkan?" runtuk Kai sambil mengambil ponselnya dengan tangan kanannya yang bebas, membukanya dengan malas "ada apa?"
"kau ada di mana?"
"aku baru sampai di perbatasan seoul, mungkin aku akan sampai sekitar 2 jam lagi"
"tidak, maksudku, bisakah kau berhenti dulu?"
WHAT?! Kai langsung membanting setirnya ketepi jalan, mengeremnya dengan keras.
"Sebenarnya apa mau mu, hah?" semprot Kai "kalau kau memintaku berhenti, bisa tidak kau lakukan itu lebih awal? Aku butuh waktu berhargaku untuk pertumbuhan"
"kalau yang kau maksud dengan waktu berharga adalah tidur, ku pikir aku perlu mengingatkan mu kalau kau itu tidur setiap saat dan setiap waktu, kalau kau tak lupa" balas Chanyeol "sekarang bukan itu permasalahannya"
Kai mendengus. " baiklah, sekarang apa?"
"bisakah kau menculik Do Kyungsoo dan membawanya kesini?"
Mata Kai melebar dengan mulut menganga maksimal "MWO?! Apa kau gila?! Itu kejahatan, lakukan saja sendiri. ah, tidak, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu"
"aku mohon" suara Chanyeol terdengar melemah "hanya Kyungsoo, satu-satunya orang yang saat ini bisa kumintai pertolongan"
"…"
"Kyungsoo tahu dimana Baekhyun berada, dan satu-satunya orang yang mungkin dapat kita mintai tolong hanyalah dia"
"lakukan saja sendiri"
"aku tak tahu alamat Kyungsoo, kau yang tahu alamatnya, aku tahu kalau kau pernah jadi stalkernya dulu"
Ah ya, Kai lupa fakta yang satu itu. Stalker.
"ck, mungkin saja dia sudah pindah" Kai mencoba untuk menolak.
"setidaknya bisakah kau mencobanya dulu?"
Demi jenggot merlin.
"aku tidak akan menculiknya, tapi akan kutanyakan alamat dimana Baekhyun berada, jadi kau bisa mencarinya send-"
"tidak"
Chanyeol memotong kalimatnya.
"Baekhyun," suara Chanyeol lebih serak ketika mengatakan nama Baekhyun "tak kan mau menemuiku, aku membutuhkan bantuan Kyungsoo"
Kai terdiam sejenak, merasa iba dengan temannya. Selama sebelas tahun pertemannannya dengan si caplang, ini baru pertama kalinya si Caplang benar-benar menunjukkan keputus asaaannya.
Ia tak menyangka kalau sahabatnya akan bertindak sampai sejauh ini, ia pikir Chanyeol akan menyerah, sama seperti dirinya yang menyerah untuk Kyungsoo.
"kau berhutang banyak padaku, akan ku tagih di neraka nanti" Kata Kai langsung menutup ponselnya ,memutar pick-up dengan kecepatan tinggi dan mulai mengebut lagi. Kali ini menuju Gangnam.
000
Kai mengamati sebuah rumah besar melalui jendela pick-up-nya dengan pandangan ragu. Mencoba merancang kata-kata yang akan di gunakannya untuk berbohong pada Kyungsoo. Tapi bahkan tak ada satu katapun yang keluar dari otaknya yang buntu. Ayolah, ia sebenarnya cukup pintar, hanya saja itu semua tak berguna sekarang, ia jadi tolol untuk saat ini.
Pada akhirnya ia memutuskan untuk menyelinap memanjat pagar samping rumah Kyungsoo, ia tidak berpikir kalau mengetuk pintu rumah Kyungsoo akan baik-baik saja, itu jalan yang benar, tentu saja, akan tetapi resikonya adalah langsung di tendang dari sana. Ia mengambil topi hitamnya dan berjalan keluar dari pick-up sembari memasang topinya.
Mudah saja baginya memanjat pagar rumah Kyungsoo, ia sudah berkali-kali melompati tembok untuk sekedar membolos, ia seorang ahli dalam bidang ini. Melompat dengan halus tanpa suara, ia merunduk mengamati sekitar dengan seksama sebelum kembali melanjutkan melangkah. Ini mungkin sudah jam 12 malam, jam tidur untuk semua orang, tapi lebih baik waspada sebelum semua gagal. Menempel pada dinding dan merunduk ketika melewati jendela. Tujuannya adalah satu, kamar dengan balkon menghadap arah barat yang terletak di samping halaman, di lantai dua.
Begitu ia sampai, ia memandang ke atas mengamati balkon, gelap, Kyungsoo sudah tidur. Hal lain yang ada di pikiranya sekarang adalah bagaimana memanjat sampai atas. Mengamati sekeliling hingga kemudian ia menemukan pohon dengan ranting besar yang mengarah ke balkon kamar Kyungsoo. Beruntungnya dia, karena setiap percabangan pada pohon itu pendek, hingga bisa di jadikan sebagai tangga alami, selain itu panjang batang bawahnya dari ranting paling bawah tidak lebih dari tinggi bahunya, memudahkannya dalam aksi kejahatannya.
Kai memanjat dengan pelan-pelan, agar tidak menimbulkan suara. Satu persatu ranting ia panjat dengan tenang, ranting terakhir berjarak sekitar 2 meter dari balkon Kyungsoo, ia harus berjongkok dan meletakkan kedua tangannya pada ranting hingga ia bisa bergelantung pelan dan mendarat pada balkon tanpa menimbulkan suara.
Kai benar-benar beruntung karena jendela kaca balkon tidak di tutup, terbuka, membuat tirai putih yang terpasang padanya meliuk di terpa angin dari luar. Terima kasih kepada musim panas.
Seketika senyum di wajahnya pudar ketika menemukan siluet lampu nakas yang tengah menyala bersamaan dengan siluet sesosok tubuh telanjang yang sedang memakai kaos berukuran besar. Kai seperti dalam slow motion, melihat kain tipis itu melewati kepala kecil itu perlahan, menyentuh permukaan kulit punggung mulus yang selalu diinginkannya hingga ujung kain itu jatuh perlahan menutupi kedua belah pantat berisi dari mata jalangnya yang tak tahu sopan santun. Kai menelan ludahnya, mengamati sesosok tubuh yang kini merebahkan tubuhnya perlahan pada kasur yang empuk, bersiap untuk tidur. Kai tak tahu Kyungsoo memiliki kebiasaan seperti itu. Sexy. Itu adalah kata pertama yang langsung muncul dalam kepala kotor Kai saat ini. Beruntung karena baju hitamnya membantunya berkamuflase dengan gelap malam sampai Kyungsoo tak menyadari keberadaannya.
Kenyataan kemudian menyadarkan Kai. Ia sudah berniat untuk membenci Kyungsoo. Ia tidak boleh jatuh cinta lagi padanya. Kebimbangan membuatnya mematung tetap berada di luar jendela kaca balkon. Membisu menundukkan kepalanya, hingga ia tak sadar Kyungsoo bangun dan melangkah kearahnya dengan wajah mengantuknya.
Kyungsoo berniat membuka tirai agar angin dapat lebih banyak masuk dalam kamarnya. Menjulurkan tangannya pada tirai dan membukanya perlahan, saat itu Kai telah sadar, akan tetapi terlalu terlambat baginya untuk kabur karena Kyungsoo telah melihatnya. Kai mematung. Kyungsoo menatapnya dan mengucek mata ngantuknya, bertanya-tanya dalam hati apakah sosok yang selalu memenuhi kepalanya akhir-akhir ini itu nyata ataukah hanya imajinasinya saja. Kyungsoo tidak ingin kecewa lagi, di permainkan oleh imajinya, ia menjulurkan tangan secara perlahan kewajah Kai, takut untuk menerima kenyataan kalau Kai dihadapannya tidaklah nyata. Tanpa ia tahu kalau Kai tengah ketakutan sekaligus penasaran setengah mati.
Perlahan namun pasti, tangan Kyungsoo mencapai wajah Kai, hingga pada saat tangan itu menyentuh kulit pipi Kai, ia dapat merasakan tangan halus Kyungsoo merayap pelan pada rahangnya. Sementara ia melihat mata Kyungsoo di liputi kelegaan, ia mengetahui satu jawaban untuk pertanyaan yang telah ia pendam selama 5 tahun sejak mengenal seorang Do Kyungsoo. Sampai ia menangkap ekspresi Kyungsoo yang perlahan berubah seperti menyadari sesuatu, Kai kembali jadi waspada. Masing-masing dari mereka mematung, tapi Kai juga tahu Kyungsoo sedang merencanakan untuk kabur dari hadapannya di kepala mungilnya.
Saat tiba-tiba Kyungsoo berbalik untuk lari, Kai telah menangkap tangan kiri Kyungsoo dan membanting tubuh Kyungsoo ke ranjang sebelum Kyungsoo sempat mengambil langkah, ia juga segera menangkap tangan kanan Kyungsoo dan menekannya di sisi-sisi kepala Kyungsoo. Agar Kyungsoo tidak banyak bergerak, Kai menghimpit tubuh Kyungsoo diantara dirinya dan kasur. Intim. Hingga Kai benar-benar di buat terpesona kembali oleh Kyungsoo, bagaimana wajah itu bisa begitu menawan? Dan bagaimana tubuh itu bisa begitu pas di kungkungannya, kulit mereka yang bergesekan lembut terasa panas, menaikkan libidonya dengan cepat.
"apa maumu?" Tanya Kyungsoo
"aku butuh bantuanmu"
"kalau kau butuh bantuan, harusnya kau memohon, bukan memaksa"
"jika aku memohon, akankan kau mau menolongku?"
Kyungsoo terdiam.
Kai tidak melepasnya. Kai berusaha menahan gairahnya.
Andai Kyungsoo tahu, dia telah menjadi objek mimpi basahnya sejak 5 tahun yang lalu. Matanya menatap wajah Kyungsoo lekat, manik mata indah itu juga menatapnya, hal yang di sadari Kai kemudian adalah bahwa Kyungsoo juga mengalami apa yang di alaminya.
Tubuh Kyungsoo bergetar halus karena gelisah, kaki-kaki mulusnya tak berdaya berusaha melawan tindihan Kai yang ada di atasnya, yang tanpa Kyungsoo sadari hal itu malah menambah erotis gerakannya. Nafasnya memburu dan matanya gelisah menatap mata dan bibir Kai yang hanya berjarak 2 cm dari wajahnya. Bulu-bulu kuduknya berdiri, dan Kyungsoo menjadi sangat sensitive untuk setiap sentuhan, bahkan jika itu hanya sentuhan kulit lengan Kai di kedua tangannya. Kyungsoo menyadari sesuatu mulai terbangun di bagian tubuh bawahnya, terkejut, matanya menatap horror Kai, berharap Kai tidak menyadarinya, dan berharap miliknya tidak menyentuh tubuh Kai ketika benar-benar terbangun. Kyungsoo panic saat Kai hampir mengalihkan atensinya ke daerah selatan tubuhnya.
"Tergantung dari permintaan mu" kata Kyungsoo pada akhirnya. Mencoba mengalihkan kegugupannya, dan mencegah Kai melihat tubuh bawahnya.
"..." Kai menatap mata Kyungsoo penuh selidik "ikut ke daegu"
Mata Kyungsoo membelalak. "tidak, aku tidak akan membiarkanmu"
Kai tersenyum, ia sudah menyangkanya "kalau begitu maaf, aku terpaksa menculikmu"
Kyungsoo terdiam, Ia menatap Kai tajam "beraninya kau"
Kai menyeringai, mengambil kemeja Kyungsoo yang tergeletak di samping ranjang kemudian mengikat kedua tangan Kyungsoo ke kepala ranjang. Bagaimana pun Kyungsoo berusaha melawan, Kai tetap lebih kuat darinya.
"Do Kyungsoo" ucap Kai, membuat Kyungsoo menghentikan rontaan pada tangannya untuk sejenak "bolehkah aku tebak? Kenapa kau tak berteriak minta tolong pada orang lain dari tadi?"
Kyungsoo menegang.
"tidak ada orang lain dirumah ini selain kau dan aku bukan?" Kai tersenyum penuh kemenangan saat Kyungsoo tak mampu membalas ucapannya "well, kalau demikian, aku tak perlu repot-repot membawamu dari pintu belakang"
Kai kemudian beranjak dari tubuh Kyungsoo dan berjalan menuju almari Kyungsoo yang terletak di sudut ruangan, membukanya untuk mencari sesuatu. Kyungsoo yang melihatnya hanya tersenyum miring.
"Jadi, selain jadi seorang penculik, kau juga merangkap menjadi seorang pencuri ya?" sindir Kyungsoo, gerakan Kai berhenti tapi tetap tidak membuatnya berbalik untuk berhadapan dengan Kyungsoo "menyedihkan, sebegitu miskinnya kah dirimu?" ucap Kyungsoo mengakhiri.
Kai melanjutkan gerakannya tanpa kata sampai kemudian ia menemukan apa yang di carinya dan menariknya keluar, membuat Kyungsoo hanya mampu mematung melihat apa yang di genggam Kai-celana. Saat itu juga, Kyungsoo menyadari kalau ucapannya terlalu kejam. Kyungsoo meruntuki dirinya sendiri dalam hati.
Kai berbalik dan menatapnya dengan wajah dingin.
"silahkan kau berpikiran apapun tentangku, aku tidak peduli" ucap Kai "aku hanya berfikir kau pasti tidak mau berpergian tanpa celana, meskipun dalam kondisi di culik"
Oh, Kyungsoo jadi benar-benar merasa bersalah.
Kai berjalan menghampirinya untuk memakaikan celana, sebelum kemudian berhenti karena menatap sesuatu. Kelelakian Kyungsoo yang berdiri tegak. Kyungsoo malu, lupa bahwa bajunya yang cukup besar sekarang tak mampu menutupi kejantanannya lagi karena bajunya tertarik keatas akibat dari tangannya yang diikat. Kyungsoo menatap mata Kai dengan malu ingin bersembunyi dan menekuk kedua kakinya perlahan untuk menutupi kejantanannya yang tegak. Wajahnya semerah tomat. Mengkerut menatap Kai yang menjadi diam seribu bahasa. Tanpa Kyungsoo tahu, perilakunya malah menambah sisi seksinya di mata Kai.
Oh, bagaimanapun, kejantanan Kai sekarang juga sama kerasnya dengan kejantanan Kyungsoo, beruntungnya Kai, karena kejantananya tertutupi oleh celana jeans yang di pakainya.
"aku… akan berpura-pura tidak melihatnya" ucap Kai dengan nada berat, pertanda gairahnya meninggi. Kyungsoo merinding mendengarnya, hingga kemudian mengangguk malu sambil tetap menatap Kai.
Kai kemudian memisahkan kaki-kaki Kyungsoo yang terlipat dan mengelusnya perlahan dengan sengaja, merasakan kekaguman ketika tekstur halus kulit Kyungsoo melewati kulit tangannya, menimbulkan desahan pelan Kyungsoo dengan mata terpejam yang membuat tubuhnya semakin berkeringat dingin menyaksikannya.
Kai melanjutkan pekerjaannya memakaikan celana pada Kyungsoo, sementara Kyungsoo mati-matian menahan desahannya meskipun nafasnya sudah memberat, karena bagaimanapun, saat Kai memakaikan celana, kulit mereka terkadang saling bergesekan, dan hal itu menimbulkan rangsangan listrik pada tubuh Kyungsoo, membuat bulu-bulu kuduknya meremang merasakan sensasinya.
Kai benar-benar harus mengontrol jantungnya saat ini, dia tak boleh lepas kendali.
Kyungsoo merasa tangan Kai hampir mencapai perpotongan pinggangnya, dan ia benar-benar melenguh keras ketika tangan Kai memegang kelelakiannya dengan lembut agar masuk ke dalam celananya. oh, itu benar-benar nikmat sekaligus benar-benar menyiksa. Kyungsoo tersiksa karena tidak bisa melepaskan hasratnya secara bebas.
Kai yang melihatnya hanya menatap Kyungsoo dingin. Tanpa Kyungsoo tahu Kai tengah berusaha memendam perasaan bajingannya.
Kai melepaskan tautan ikatan tangan Kyungsoo pada kepala ranjang dan mengalungkan kedua lengan bak peri itu di sekitar lehernya, memeluknya. Kyungsoo yang masih tersiksa dengan bagian bawahnya hanya mampu menerima saja perlakuan Kai dengan pasrah, karena ia tau ia tak bertenaga sekarang.
Kai kemudian melilitkan selimut ke tubuh Kyungsoo dan mengangkat tubuhnya menjauhi ranjang, membawanya keluar ke dalam pick-up yang telah di tempatkannya di pinggir jalan. membuka pintu Pick-up dan membawa serta tubuhnya dan Kyungsoo kedalam mobil, tetap meletakkan Kyungsoo pada pangkuannya, memeluknya, tangannya yang bebas ia pergunakan untuk menyalakan mesin. Meskipun ia tahu Kyungsoo masih bangun, ia tetap melajukan Pick-up daegu.
Mata Kyungsoo yang setengah terpejam dengan keringat dingin di tubuhnya hanya mampu memandangi setiap ruas jalan yang telah mereka lewati. Kyungsoo mengeratkan pelukkannya pada Kai ketika angin mulai mendingin, dan ia menelusupkan kepalanya pada perpotongan hangat leher Kai untuk tidur. Kai yang menyadari kelelahan Kyungsoo hanya mampu mengelus rambutnya pelan
"tidurlah, kita masih jauh" ucap Kai kemudian memeluknya lebih erat. Saat itu, Kyungsoo entah mengapa merasa terlindungi meskipun saat ini peran Kai adalah seorang penjahat, sementara dia adalah korban. Tanpa rasa takut sedikitpun, hingga kemudian ia terlelap tidur dengan lengan kekar Kai yang masih melingkupi tubuhnya.
kawaaaaaaaan maafkan daku bila apdetnya lamaaaaaaaaa, maafkan juga untuk chapter yang lebih pendek iniiiiiiiii
maafkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan
MAAFKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN
#nangis badai
