Sebuah gerbang besi tinggi berwarna hitam menjulang di hadapannya, jeruji-jerujinya di rambati sulur-sulur tanaman glory blower yang merambat dari dinding pagar yang telah tertutup oleh sulur , memisahkan antara halaman dan rumah utama yang berdiri kokoh jauh di dalam sana, terlihat berdiri begitu angkuh dengan sentuhan eropa, seolah dia tengah mengejek Chanyeol atas kehadirannya.

Pada kenyataannya, Chanyeol memang tidak akan pernah bisa masuk kedalam sana tanpa bantuan Kyungsoo.

Kyungsoo yang tangannya telah bebas dari ikatan memencet tombol intercom dan meminta orang yang ada di dalam sana membuka gerbang.

Setelah mendengar bunyi 'bip' yang berasal dari intercom, gerbang hitam di depan mereka terbuka secara perlahan. Chanyeol menatapnya penuh antisipasi, Kyungsoo menoleh padanya.

"1 jam" Kyungsoo mengingatkannya "kalau kau tidak bisa, kau harus menepati kesepakatan kita"

"…"

"enyah dari hadapan kami" kata Kyungsoo tajam.

Chanyeol mengacuhkannya dan berjalan melewati gerbang dengan langkah lebar. Tak memperduliakan perkataan Kyungsoo. Ia sudah tahu konsekuensinya. Terima atau tidak, ia hanya butuh alasan mengapa ia begitu diacuhkan oleh Baekhyun. Baekhyun masih menutupi banyak hal dari Chanyeol hingga sampai saat ini, Chanyeol hanya muak menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa. Kalau Baekhyun memiliki satu alasan untuk marah padanya, harusnya ia memiliki lebih banyak alasan untuk marah dari pada pria itu.

Chanyeol hanya melakukan satu kesalahan sebagai kekasih. Apakah itu salah?

Kalau memang pria itu pada akhirnya mencampakkannya, harusnya sejak awal mereka tidak memulai hubungan ini. Giginya menggeretak, Chanyeol tahu sejak awal kalau Baekhyun berbahaya untuknya, instingnya sejak dulu sudah mengatakannya, untuk tidak lebih dekat dengan Baekhyun, karena jauh di lubuk hatinya yang lebih dalam pada dasarnya ia sadar, memiliki seorang Byun Baekhyun penuh dengan resiko, lelaki itu mampu memunculkan sifat posesif dalam dirinya, tapi ia tak mau mendengarkannya.

Kyungsoo yang merasa direndahkan kini hanya menatap Kai yang menatapnya datar.

"awasi teman idiotmu" ancam Kyungsoo yang kemudian menyusul Chanyeol.

Kai hanya diam.

Apapun yang terjadi nanti, Kai tahu ia dan Kyungsoo akan perang meskipun masalah telah terselesaikan. Menyesal tidak akan ada gunanya, sebab ia lah yang membuat segalanya menjadi runyam bagi hubungannya dengan Kyungsoo. Terlalu terlambat baginya saat menemukan Kyungsoo ternyata juga tertarik padanya. Ia sadar ia terlalu jauh mencampuri urusan Chanyeol hingga ikut menyeret Kyungsoo ke dalamnya. Hubungannya dengan Kyungsoo sudah berakhir saat mereka memutuskan untuk ikut mencoba membela sahabat mereka masing-masing.

Tidak. Ini tidak benar. Segala urusan ini adalah tentang prinsip. Karena pada kenyataanya, hubungan mereka sudah tidak bisa di harapkan sejak Kai memutuskan untuk menyerah. Setidaknya kalau ia mencoba seperti Chanyeol, ia bisa mendapatkan Kyungsoo walau hanya dalam waktu pendek, karena ia tak pernah mendapatkan Kyungsoo barang sedetikpun, kalau saja waktu bisa di putar balik, ia rela menukar kebahagiaannya meskipun hanya untuk mendapatkan waktu satu detik bersama Kyungsoo.

Harusnya ia tidak menyerah seperti Chanyeol, meskipun pada akhirnya sahabatnya itu menderita karena cintanya, setidaknya Chanyeol pernah memiliki Baekhyun.

Kalau saja, kalau saja Kai tidak menyerah, mungkin ia akan bersama Kyungsoo. mungkin.

Penyesalan selalu datang terakhir eh?

Tangga-tangga yang terbuat dari batu pualam dengan warna gading mengantarkan mereka ke depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni yang di pelitur dengan cantik. Udara yang dingin ikut masuk tatkala Kyungsoo membuka lebar pintu yang kemudian menampilkan ruangan yang amat lebar dengan dua tangga besar mengarah ke lantai dua di sisi kiri dan kanan sudut ruangan.

Tepat di tengah tangga sebelah kanan itu, berdiri seorang Byun Baekhyun disana.

Dan Chanyeol seolah tak bisa bernafas.

Baeukhyun-nya berdiri disana, dengan selimut beludru berwarna gading menutupi seluruh tubuhnya dan cahaya matahari yang seolah membuatnya berpendar diatas sana, menatapnya tanpa minat.

Dan Udara telah direnggut dari Chanyeol.

"Kyungsoo" panggil Baekhyun "aku tak tahu kenapa kau membawa sampah kemari"

Tubuh Chanyeol mengkaku.

Kai mengepalkan tangannya, ia melihat Kyungsoo yang di panggil hanya menyeringai kemudian segera berjalan cepat mendekat pada Baekhyun. Dia memeluknya dari samping dan menyandarkan dagunya di bahu kiri Baekhyun, sementara Baekhyun sendiri tidak melepas tatapannya pada Chanyeol.

"makannya, lain kali kau harus membuangnya di tempat yang tepat" seringai Kyungsoo menatap Chanyeol. Mengejek.

"aku pinjam kamar Baekbeom hyung ya, aku butuh mandi" pinta Kyungsoo. Baekhyun tidak menjawab, tapi lelaki itu langsung berjalan meninggalkan Baekhyun setelah mengatakannya. Ia sudah terbiasa begitu dengan Baekhyun.

Setelah pria itu pergi, hanya pekat tekanan yang di rasakan oleh Kai di tempat itu.


Pusing di kepalanya terasa begitu berdenyut, seolah-olah kepalanya telah diikat oleh sesuat yang tak kasat mata. Ia kelelahan, tentu saja, ia tidak tidur hampir selama lebih dari dua belas jam, sehari sebelum keberangkatannya pun ia hanya tidur selama dua jam, sebelum si Tiang idiot itu menelponnnya. Bahunya pegal luar biasa dan ia belum makan sejak siang kemarin, perutnya kosong. Matanya memberat sejak tadi malam, tapi dalam kondisi menyetir tentu saja ia tidak bisa tidur. Keadaan yang sekarang sepi tidak membantunya sedikitpun untuk bisa tidur. Meskipun sofa empuk yang ia duduki sekarang memiliki kelembutan yang nyaman, entah kenapa ia tidak tertarik untuk merebahkan tubuhnya di sana. Ia lebih memilih untuk menunduk dan memegangi kepalanya yang serasa berat.

Suara gesekan sandal berbahan halus dengan lantai kayu terdengar di telinganya, tapi ia enggan menoleh, siapapun itu, ia hanya berharap agar bisa segera pulang. Perlahan suara itu menuruni tangga di sisi kanannya mendekati arahnya perlahan, tapi ia sedang benar-benar tidak peduli.

"kau tidak tampak baik"

Kai menghentikan pijatan pada kepalanya ketika suara itu terdengar. Kyungsoo.

Matanya bergerak, tapi tidak dengan tubuhnya. Bagaimanapun, Kyungsoo tetaplah Kyungsoo, ia bukanlah pria yang jahat ataupun pria yang sungguh baik, segala yang di lakukan Kyungsoo beralasan, begitu juga dengan dirinya, ia tidak akan berbuat sejauh itu jika Chanyeol bukan temannya. sejahat apa pun Kyungsoo, ia tetaplah seseorang yang selalu menaruh perhatian pada banyak hal, bahkan jika itu dirinya, yang saat ini telah berstatus sebagai musuhnya. Kalau Kyungsoo benar-benar seorang yang tak baik, pria itu takkan repat-repot mau membawakan baju ganti untuknya saat ia kena serangan tepung, tidak juga akan peduli padanya sekarang dengan menanyakan keadaaannya. Sebersit ide terlintas di otaknya, ia ingin bertaruh, jika memang mereka menjadi musuh, maka biarlah, karena setidaknya dengan begitu, ia bisa menjadi lebih dekat dengan Kyungsoo.

"peduli sekali kau padaku, Apa kau tertarik padaku?" Kai menolehkan sidikit wajahnya, masih bertumpu pada tanganya.

Kyungsoo terdiam di tempatnya, menatap pria itu diam.

Dingin, mengapa Kai selalu dingin di hadapannya?

Wajah laki-laki itu pucat di samping kulitnya yang kecoklatan, terlihat amat kelelahan. Tapi di samping semua sikap menyebalkannya itu, Kyungsoo menyukai bagaimana cara Kai memujanya, tidak secara langsung tapi Kyungsoo merasakannya saat Kai menciumnya, semua tersembunyi di balik kelam mata hitamnya. Selalu ada sebersit kilatan saat mereka bertatapan.

Kyungsoo cukup tahu pria itu menyukainya, ia juga cukup tahu kalau ia sudah terpesona oleh pria itu, tapi ia juga cukup tahu kalau keadaan saat ini tidak pantas bagi mereka untuk menjalin suatu hubungan. Bagaimanapun semua kesimpulan telah terangkai di otaknya, keraguan selalu ada, bagaimana jika sebenarnya selama ini pria itu hanya memanfaatkannya? Kyungsoo ingin mendekatinya, tapi tentu saja ia tidak terlalu yakin. Menjaga jarak adalah pilihan terbaik yang ia punya saat ini. Kyungsoo tahu ia tidak boleh gegabah menghadapi pria ini. Jika cara halus tidak akan berhasil dalam hubungan mereka, maka Kyungsoo akan memilih cara lain. Mendekat dengan cara yang kasar.

Kyungsoo perlahan bergerak, turun dari barisan tangga terakhir di belakang pria itu, sedikit tergoda dengan otot-otot lengan Kai yang tak terbungkus lengan baju karena baju t-shirt tanpa lengan yang digunakannya. Lengannya terlihat kokoh dan liat, mengkilap dengan cara sensual karena keringat di kulit coklatnya yang terbakar matahari. Pundaknya lebarnya terlihat mengagumkan dengan perpaduan postur tubuh yang ideal, dan rambut hitam kelamnya yang nyaris menutupi matanya tidak membantu Kyungsoo sama sekali dalam menenangkan debaran jantungnya. Keseluruhan pria itu benar-benar menggoda. Kyungsoo tak penah tahu ia bisa begitu tergoda oleh laki-laki, hingga dengan beraninya ia keluar dari kamar hanya dengan t-shirt dan celana pendek sebatas paha.

"well, menurutmu bagaimana?"

Kai mematung, pertanyaan pancingan. Apa maksudnya? Dalam segala ketertarikan mereka, Kai tetap tidak berani berasumsi, karena segala sesuatu yang ada di sekitar mereka saat ini adalah perseteruan. Dia lebih memilih mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Bagaimanapun penampilan lelaki itu tak bisa di abaikan dengan mudah oleh matanya.

"ketertarikanku padamu, apa yang kau pikirkan tentang itu? Menurutmu, Jenis ketertarikan macam apa yang ku punyai untukmu?"- Benci, atau suka? Lanjut Kyungsoo dalam hati.

Kai terkesiap, merasakan Kyungsoo duduk di punggung sofa yang sama dengannya. Kai tidak melihatnya, tapi Kai tahu Kyungsoo sedang melihatnya dari balik punggungnya, menunggu jawaban. Dan sekali lagi, Kai tidak berani berasumsi.

"menurutmu ketertarikan seperti apa yang seharusnya ada dalam situasi seperti ini?" Kai memilih melawan, menjaga jarak, ingin mencari kepastian lebih jauh.

Kyungsoo menatap punggung pria itu, kenapa pria itu tak mengatakannya saja? Segala kelelahan dan segala perasaan yang selama ini dia pendam? Kenapa ia menahannya?

"tidakkah menurutmu kita seharusnya menghentikan ini?"

"hanya Chanyeol dan Baekhyun-"

"tidak, maksudku, pertengkaran kita saat ini"

"…"

"aku mengajukan gencatan, aku tidak suka melawan orang yang sedang sakit"

Kai hanya terdiam menatap meja tamu yang ada di depannya, gencatan takkan ada pengaruhnya bagi hubungan mereka, sekalipun ia sedang tidak baik.

Kyungsoo tidak suka melihat keterdiaman lelaki itu. Menyebalkan mengetahui yang bersangkutan bahkan tidak peduli dengan tubuhnya sendiri. refleks, Kyungsoo menutup mata lelaki itu dengan tangan kanannya dan menarik bahu tegangnya dengan tangan kirinya, menyandarkannya pada punggung sofa dan sebagian pahanya, seolah-olah memeluk lelaki itu dari belakang. Lelaki itu terkesiap hingga ia secara refleks memegang tangan Kyungsoo untuk melepaskan diri.

"diam"

"…" Kai menghentikan gerakannya.

"aku tidak akan berbaik hati untuk kedua kalinya, aku benar-benar tidak suka berdebat dengan orang yang sedang sakit dan keras kepala"

Kai merasakan tangan Kyungsoo yang dingin mampu membuat kepalanya sedikit rileks, tapi berkebalikan dengan cara kerja jantungnya yang semakin tidak karuan. Apakah ia masih boleh berharap?

"tidurlah"

Satu perintah.

Tapi entah kenapa Kai mulai merasakan kelopak matanya memberat. Dan ia tidak bisa lagi melawan, ia kelelahan, dan pasrah.

Kyungsoo sedikit merasa heran kenapa ia bisa begitu refleks menarik Kai kedekapannya. Tersenyum simpul saat lelaki itu menuruti perintahnya, dengkuran halus yang tenang dan pegangan tangannya yang melemah semakin meyakinkan Kyungsoo kalau lelaki itu sudah tidur. Ada satu ke-egoisan Kyungsoo yang muncul tiba-tiba saat ia melihat lelaki itu tertidur. Keraguan sedikit melingkupi Kyungsoo, dan semburat merah muncul begitu saja di kedua belah pipinya. Tapi sisi egoisnya lebih kuat.

Ia merunduk, dan mencium bibir Kai yang sedikit terbuka.