Baekhyun tersenyum di hadapannya, duduk dengan anggun di sofa empuknya dengan kedua tangan terlipat, selimut berwarna putih gading melingkupi tubuh polosnya serta kerlingan yang sama dengan saat pertama kali mereka saling bertatapan.
Berbahaya.
Otak Chanyeol beraeksi atas senyum yang di tunjukkan Baekhyun padanya, tapi ia hanya mampu berdiri terdiam dengan kepala penuh tanya.
Dingin merayapi tubuhnya.
Apa? Mengapa? Bagaimana? Siapa… Baekhyun?
Chanyeol berpikir ia akan langsung memohon pada Baekhyun dengan berlinangan air mata ketika ia ia mendapatkan kesempatan untuk berbicara padanya, memohon hanya untuk mampu bertatapan dengannya kembali. Tapi yang terjadi adalah hal yang tak pernah ia inginkan.
Kenyataan, bahwa ia tak pernah mengenal Baekhyun, sedikitpun.
Saat bersama dengan Kyungsoo dan Kai, wajah Baekhyun keras dan sarat kebencian padanya. Sekarang, wajah Baekhyun mengingatkannya pada ketakutan yang selama ini berusaha ia tepis sejak dulu, bahwa ia, telah di kendalikan oleh Baekhyun sejak lama.
Tidak…
Realita menamparnya sangat keras.
Baekhyun hanya memanfaatkannya selama ini.
Ia ingin marah, tapi ia tak mampu, ia sudah terlalu lama terjebak pada Baekhyun, hingga seperti mustahil baginya untuk hidup tanpa Baekhyun.
Nafasnya memburu dan air mata menggenang di pelupuk matanya, rahangnya mengeras, ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk mengepalkan tangannya kuat-kuat, tapi ia hanya mampu berdiri diam di hadapan Baekhyun dengan kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Tak mampu menyentuh Baekhyun untuk meluapkan amarahnya.
Senyum Baekhyun melebar menatapnya, menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung di hadapannya.
.
.
Baekhyun menyukainya. Ekspresi yang Chanyeol berikan padanya.
Chanyeol, Chanyeol-nya yang manis. Ia selalu menyukai Chanyeol. Miliknya. Chanyeol hanya akan menjadi miliknya. Tak akan ada orang yang memiliki Chanyeol selain dirinya. Karena Chanyeol, Miliknya.
Kemarahan yang tak bisa di lepaskannya, kesedihan yang di rasakannya, kekecewaannya, semua perasaannya tergambar dengan sangat jelas di wajah Chanyeol.
Chanyeol-nya yang manis, Chanyeol yang di cintainya.
Baekhyun berdiri dari tempat duduknya perlahan, menghapus jaraknya dari Chanyeol jengkal demi jengkal, kembali tersenyum saat Chanyeol kembali menatapnya dengan terluka, menyentuh rahangnya yang tegas, menciumnya, dan merangkulkan tangannya pada leher Chanyeol, memeluknya. Tersenyum diantara leher dan bahu lebar Chanyeol.
Milikku.
Kyungsoo menyilangkan kakinya, duduk pada kursi sofa berseberangan dengan sofa tempat Kai tertidur. Mengamatinya dengan jeli inci demi inci, mengelus bibirnya sendiri ketika menatap bibir Kai yang sedikit terbuka, tersenyum.
Sudah lebih dari satu jam bagi Kyungsoo menunggu Chanyeol dan Baekhyun menyelesaikan urusan mereka. Kyungsoo perlu mengingatkan Chanyeol pada perjanjian mereka kalau pria itu lupa. Tapi semua ini sedikit mengherankan baginya, tak ada suara teriakan ataupun tangisan yang keluar dari kamar Baekhyun, menilik dari semua peristiwa ini, bukankah itu semua yang harusnya terjadi?
Kecuali,
Baekhyun telah merencanakannya sejak lama…
Kyungsoo tersenyum miring.
Akhirnya, muncul, sifat asli Baekhyun.
Menjalin persahabatan dengan Baekhyun untuk waktu yang lama, membuatnya sedikit mengenal sifat asli Baekhyun.
Sebaik apapun Baekhyun. Dia tidak suka di belenggu, oleh apapun.
Bahkan jika itu hanya berupa kain yang menutupi tubuhnya, sahabatnya itu membenci baju-baju yang melekat pada tubuhnya, seolah-olah itu membelenggunya dengan erat hingga dapat membuatnya sesak nafas, membuat ia hafal betul dengan kebiasaan Baekhyun yang selalu telanjang ketika di rumah.
Jika memang benar demikian, maka artinya, pesta pertunangan Baekhyun dengan Taeyeon yang gagal karena Chanyeol, merupakan rencana Baekhyun, sekalipun Taeyeon adalah orang yang telah di sukai oleh Baekhyun sejak lama.
Dulu, ia sedikit terkejut ketika mendengar Baekhyun akan di jodohkan oleh keluarganya, dan pria itu tidak membuka mulutnya sedikitpun untuk menolaknya. Jadi ia berasumsi kalau Baekhyun menerima perjodohan itu karena Taeyeon yang benar-benar di sukainya.
Saat pesta pertunangannya hancur karena Chanyeol, ia benar-benar berfikir Baekhyun akan menghancurkan Chanyeol setelahnya.
Tapi sekarang, ia memahami rencana Baekhyun. Chanyeol, adalah alat yang di gunakan oleh Baekhyun untuk melawan keluarganya.
Rencananya berjalan dengan amat mulus.
Pssh, sahabatnya memang lumayan mengerikan bukan?
Baekhyun menghancurkan belenggu dari keluarganya, dan di saat yang sama, ia membuat banyak orang membenci Chanyeol, membuat Chanyeol hanya menjadi miliknya seorang.
Kekeke… sahabatnya memang mengagumkan.
Kyungsoo kembali mengamati Kai yang masih terbaring tidur dengan nyaman. Tangan kiri lelaki itu terjatuh lunglai ke lantai yang dingin.
Tersenyum penuh arti.
Kyungsoo berdiri dan mendekat kearah tempat Kai berbaring, mengambil tangan Kai yang terkulai di lantai, melesakkan jari-jari tangan kirinya sendiri pada sela-sela jari-jari tangan Kai yang lebih besar, dan mendudukkan dirinya di samping Kai berbaring, perlahan merunduk dengan tangan kanannya merayap pada perut keras Kai, merambatkannya sampai pada dada bidang Kai.
Kau ingin tahu? Mengapa ia dan Baekhyun mampu menjalin persahabatan dalam waktu lama?
Kyungsoo tersenyum menatap wajah Kai dari dekat, mengagumi wajah yang terpahat garang di hadapannya. Bibirnya hanya berjarak dua senti dari bibir Kai.
Benar.
Karena ia dan Baekhyun, memiliki sifat yang sama.
"akan ku jadikan kau… milikku" dan Kyungsoo kembali mengecupnya, menjilatnya.
"milikku" bisik Kyungsoo, tersenyum.
Kai merasakan sesuatu merayap di perutnya, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk bangun, bahkan jika itu hanya untuk membuka kelopak matanya, perlahan, ia merasakan sesuatu yang merayap di tubuhnya itu merambat hingga di dadanya.
Ia merasakan hembusan angin di sekitar wajahnya.
"akan ku jadikan kau… milikku"
Apa?
Kemudian Kai merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, dan sapuan benda basah mengikutinya hingga ia merasakan bibirnya ikut menjadi basah.
"milikku" bisiknya
Milik mu?
Siapa? Kyungsoo?...
Pelan-pelan, ia merasakan sesuatu yang merambat di tubuhnya itu menghilang, di gantikan dengan bunyi langkah pelan yang menjauhi gendang telinganya. Ia mulai mengumpulkan kekuatannya untuk bangun. Saat ia bisa membuka matanya, ia melihat Kyungsoo menghilang di lantai dua.
Otaknya bekerja dengan sempurna.
Menarik tangan kanannya dan menggunakan lengannya untuk menutupi matanya.
Tersenyum.
Brengsek, ini akan mengasikkan.
Kyungsoo menelpon managernya menggunakan telefon rumah Baekhyun, ingin mengabarkan kalau ia bolos sekolah saat ini, tapi yang di terimanya membuatnya tersenyum lebar mendengarkan ocehan managernya di seberang sana.
Berbicara bahwa dirinya telah di culik oleh seseorang, beritanya telah menyebar. CCTV di halaman rumahnya menangkap semuanya, dan mereka mengira Kai seorang sasaeng fans-nya.
Secara teknis, ia memang telah di culik.
Menarik bukan?
Setelah semua ini, pada akhirnya, Kai, akan jatuh di tangannya.
Kejadian seperti ini, bukankah lebih tepat kalau di sebut dengan sebuah keberuntungan?
Chanyeol telah melampiaskan kemarahannya.
Jika Baekhyun telah mengambil banyak hal darinya, bukankah ia juga berhak mengambil banyak hal dari Baekhyun?
"ahh… Chanyeolhh…"
Baekhyun mengeliatkan kepalanya, membuat kepalanya semakin melesak kedalam bantal yang di pakainya, jari-jari kakinya melengkung dan bergerak menekan kasur, membuat sprei yang ada di bawah mereka tertarik kebawah, jari-jari Baekhyun berada di pinggang dan punggungnya, mengerat setiap kali Chanyeol menumbuk prostatnya di dalam sana, membuat punggung indahnya melengkung seperti busur di hadapan Chanyeol.
"Chanyeolhh.."
Chanyeol akan menghabiskannya, semua yang ada pada Baekhyun.
Memakan leher Baekhyun dengan buas, lengan-lengan tangannya mengangkat tubuh dan pinggang Baekhyun semakin merapat pada tubuhnya.
Jika Baekhyun telah memilikinya, maka ia juga akan membuat Baekhyun, menjadi miliknya.
Chanyeol marah.
Hingga ia menumbukkan miliknya dengan keras.
"AAANNGGHHH…"
Milikku.
TBC
