A PRESENT FROM JIMIN
Warning! PWP.
Yoongi masuk ke dalam mobil setelah Jimin membunyikan kendaraan itu sekalian membuka kuncinya. Ia bersandar pada jog mobil dan mengeluarkan suara erangan keras karena rasa tersiksa menahan godaan di bawah sana.
Jimin menyusul masuk dengan senyumannya, menatap kagum pada kekasihnya yang terlihat begitu seksi dengan keringat pada wajah putihnya. Yoongi yang terlihat tersiksa tentu sebuah keindahan luar biasa, matanya sayu dengan bibir terbuka sedikit untuk membantu hidungnya bernapas. Ia menyalakan pendingin dan mencoba membantu suhu panas tubuh Yoongi dan lumayan membantu karena setelah mobil terasa lebih dingin sosok di sebelahnya itu menghela napas lega.
"Kita pulang?" Jimin bertanya namun sedikit lebih sebuah pernyataan karena ia segera memasangkan sabuk pengaman untuk Yoongi dan dirinya sendiri lalu segera menjalankan mobil ke luar dari parkiran kampus.
Seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak menghasilkan apa-apa, Jimin memainkan remote vibrator. Memainkan kecepatannya naik–turun seolah suara desahan dari Yoongi yang kali ini lebih berani dan tidak malu-malu seperti di kelas tadi hanya sebuah back sound dari suara nyanyiannya.
"Kau tahu kan Yoong," suara Jimin terdengar begitu santai dengan akhiran yang ditarik menjengkelkan. Tangannya yang tadi ia gunakan untuk memainkan remote kini berpindah pada celana Yoongi dan dengan lihai membuka kancing serta resletingnya tanpa masalah sedikit pun. Ia menelusupkan jemarinya dan bermain di atas penis Yoongi, membuat suara desahan dan teriakan dari yang tengah terduduk dengan gelisah makin nyaring memenuhi mobil. "Sex in car selalu terdengar menarik."
Yoongi meremas lengan Jimin sambil memberi tatapan penuh peringatan. "Kau haram jadah sialan," ia mendesis di sela siksaan jemari Jimin yang begitu hebat bermain di miliknya. Ia bisa merasakan bahwa miliknya nyaris meledak untuk ke sekian kalinya jika saja tidak ada benda yang mengikat kuat pangkal penisnya.
"Terima kasih," Jimin memberi senyuman terbaiknya. "Aku tidak masalah membuka benda ini sekarang," ia memainkan cockring di pangkal penis Yoongi dan membuatnya makin kuat menghimpit uretra, yang mendapat siksaan mendesah keras karena itu. "Tapi apa kau bisa berjanji untuk tidak mengotori mobilku, baby?"
Tidak, tentu saja jawabannya tidak. Mana mungkin sperma di dalam miliknya yang sudah beberapa kali membuat letusan tanpa lelahan cairan dan melepas sesuatu yang mengikatnya tidak mengotori sedikitpun mobil mewah ini? Tidak bisa dan tidak mungkin. Itu berarti—Jimin akan melepaskan cockring dan membuat Yoongi harus menahan spermanya sendiri agar tidak ke luar. "Jangan—," Yoongi menahan lengan Jimin yang siap melepas cockring. Jika ia membiarkan Jimin melakukannya, pasti dirinya akan mendapat hukuman karena telah mengotori mobil. "Jangan laku—aaakh!"
Terlambat. Yoongi terlambat untuk mengatakan tidak pada Jimin, sialnya cockring itu terlepas dan membuat sperma melelah lumayan banyak mengotori celana dalam dan jins kesayangan Yoongi. Jimin di sebelah sana tertawa karena tangannya terkena lelehan cairan kenikmatan itu, kemudian menjilat dan membersihkan jemarinya sendiri dengan lidah.
"Slutty," Jimin berkomentar sambil menyeringai penuh cela pada sosok Yoongi yang wajahnya memerah dan gigi mengigit bibir bawahnya kuat. Sosok di sebelahnya terlihat begitu murah dengan tatapan sayu penuh permohonan dan wajah memelas. Jimin suka ketika kekasihnya seperti itu, terlihat begitu menarik dan menggairahkan. Terkadang Jimin bisa kelepasan dan membuatnya tidak tidur semalaman hingga esoknya tidak bisa berjalan dengan benar—tapi bukan berarti Jimin mencintai Yoongi karena itu. "Kau tahu betapa jalangnya dirimu, Min Yoongi?"
Yoongi mendesis sambil mengangguk, matanya menatap penuh permohonan untuk segera pulang dan membebaskannya dari siksaan karena sialnya ia harus menahan spermanya tetap di dalam padahal vibrator di dalam holenya sudah menekan titik nikmatnya dengan tepat. "Pu–akh pulang Jimin-ah, aku ingin pulang."
Dengan senyuman yang lebih manis Jimin mengangguk, ia kemudian menjalankan mobilnya untuk segera tiba ke apartemennya. "Pakai dengan benar celanamu, kita hampir sampai."
.
Yoongi berhasil melewati rintangan untuk tidak ke luar di mobil dan selama perjalanan menuju apartemen Jimin. Dengan baik hati Jimin mendorong tubuh Yoongi ke pintu setelah ia berhasil melepas sepatunya dan membuat tubuh kurus itu menempel pada kayu bercat putih itu, ia meremas penis Yoongi dan memberi kocokan, juga menekan masuk benda dalam hole Yoongi hingga semuanya benar-benar di dalam. Yoongi ke luar begitu saja dan membuat cairannya mengotori pintu. Orgasme yang melelahkan padahal baru satu kali ini ia mengeluarkan semua spermanya.
"Perlu aku menyebutmu slutty sekali lagi, hm?" Jimin berbisik sambil menjilat telinga Yoongi. Ia menurunkan celana jins dan celana dalam Yoongi hingga jatuh dan bercampur dengan pengesat kaki lembut di bawah, membuat bagian bawah Yoongi tidak mengenakan apa-apa. Ia melihat bagaimana sperma itu mengalir perlahan di paha putih yang masih ada sedikit bekas hickey darinya di sana.
Yoongi mencakar pintu karena tangan Jimin kini sudah menggerakkan vibrator di dalam miliknya dan membuatnya sekali lagi mengeluarkan sperma meski hanya sedikit. Setelah itu Jimin menarik benda di dalam holenya ke luar dan melemparnya hingga suara benda jatuh terdengar beberapa meter di belakang Yoongi. "J–Jimin," Yoongi bersuara agak parau dengan napas tidak teratur. Ia memiringkan kepalanya untuk sekedar menatap Jimin yang ada di belakangnya. "Bisa kita pindah?"
Jimin terkekeh dan mengangguk setuju mendengar permintaan Yoongi, ia lalu menggendong tubuh itu dan menjatuhkannya ke kasur. Jimin tidak menyusul, ia justru melepas seluruh pakaiannya dan membuat dirinya telanjang utuh. Melempar sabuk ke kasur dan baru menyusul Yoongi ke kasur. Ia menindih tubuh Yoongi yang berbaring dan menciumi bibir merah menggoda itu hingga habis, membuatnya basah dan beberapa saliva mengotori dagunya. Saat Yoongi mendesah dan berteriak karena Jimin memasukkan jari ke dalam lubangnya yang berkedut, dengan cekatan Jimin memasukkan lidahnya untuk menjilat seluruh isi mulut Yoongi. Giginya yang kecil-kecil dan rapi, juga memainkan lidah tajam itu, bahkan bertukar saliva beberapa kali. Ciuman panas yang selalu membuat Yoongi memerah hingga telinga.
"Kau suka?" Jimin berbisik di depan bibir Yoongi setelah melepas tautan bibir mereka, mendaratkan kecupan ringan sambil menatap dalam mata sayu itu.
Yang ditanya mengangguk, mendesah, dan mengerang setelah itu karena jari Jimin bermain di dalamnya dengan sangat lihai, belum lagi ia menambah dua jarinya langsung hingga kini ada tiga jari di dalam dirinya. "Hadiahku," ia bersuara dengan nada berantakan dan napas tersenggal. Matanya menatap sosok Jimin dengan sayu dan sangat menggoda, "aku mau kau masuki sebagai hadiah, kumohon."
Jimin tidak suka jika Yoongi sudah meminta dengan suara yang parau, mata sayu, napas tersenggal, wajah merah dan basah, rambut lepek, bibir bengkak, dan tangan meremas penuh gairah lengannya. Ia tidak suka karena ia tidak bisa bermain-main dengan tubuh Yoongi, ia akan langsung mengerang dan menyerang sosok di bawahnya. Dan itu berlaku pula pada hari ini.
Ia menyerah pada dirinya sendiri, dengan tidak sabar ia membalik tubuh Yoongi dan sedikit membantingnya. Hal itu membuat Yoongi mengerang karena terkejut. Belum lagi tangan Jimin dengan cekatan merobek bajunya sambil membalik tubuhnya tadi.
"Menungging," titahnya penuh penekanan dan tanpa nada manis.
Yang mendapat perintah menurut, ia mengangkat sedikit pinggulnya dan merasa sedikit goyah karena lututnya yang melemas akibat terlalu banyak rangsangan sensual.
Ia menampar keras pantat Yoongi dengan sabuk yang tadi ia lempar ke kasur. "Higher, cutie slut," sekali lagi memberi tatah penuh dominasi ditambah peringatan dengan tamparan.
Tidak mau mendapat tamparan lagi, Yoongi menurut. Ia mengangkat lebih tinggi pinggulnya meski lututnya harus merasa sedikit pegal karena lemas. Kali ini matanya yang tadi hanya berair kini, "hanya ini kemampuanku," ujarnya parau karena yakin Jimin tidak akan senang dengan dirinya yang hanya menungging sangat sedikit.
"Tsk," benar saja, Jimin berdecak dengan suara jengkel yang ketara. Ia menampar sekali lagi pantat Yoongi, kemudian ia melilitkan sabuknya pada kaki kurus Yoongi hingga kaki itu merapat, tidak lagi terbuka lebar dan membuat tubuhnya tidak benar-benar menungging. "Karena ini ulang tahunmu aku tidak akan marah," ujarnya sambil mengelus kulit putih Yoongi di pantatnya.
Awalnya Yoongi menghela napas lega, tapi saat tangannya ditarik dan diikat di belakang ia tahu bahwa ia tidak akan benar-benar aman. Ia tidak akan berontak, toh ia menyukai bagaimana dirinya hanya bisa meremas tangannya sendiri. Hanya saja, tetap ada rasa kecewa tidak bisa bergerak dengan bebas untuk meremas apa saja yang dia mau.
Tidak mau berlama-lama mengagumi tubuh indah Yoongi yang kini menggeliat, Jimin pun memasukkan miliknya tanpa aba-aba ataupun persiapan. Benar-benar mendadak. Yoongi berteriak dan terisak, bantal tempatnya menyandarkan wajah basah karena air mata terkejut dari gerakan tiba-tiba kekasihnya. Rasanya nikmat dan sakit di saat bersamaan. Ada rasa di mana holenya terasa penuh dan sesak hingga dirinya ingin terus menjepit benda itu, juga rasa terbelah yang menyakitkan hingga tubuhnya seperti terbagi menjadi dua. Sudah sering ia merasakan yang seperti ini, tapi rasanya ini benar-benar menyakitkan.
Jimin mendesah dan memberi tahu Yoongi bahwa dirinya benar-benar sempit, bibirnya menyirami leher dan punggung kekasihnya dengan ciuman, membuat tubuh di bawahnya menggeliat makin liar. Lubang yang menjepit penis Jimin benar-benar sempit dan nakal, memijit kuat miliknya hingga spermanya beberapa kali keluar sedikit hingga melicinkan gerakannya.
"Fuck," ia mengumpat merasakan diri Yoongi yang makin ahli dalam membuat dirinya basah.
Tangannya sibuk bermain pada penis kekasihnya dan meremasnya agar makin tegang. Biasanya ia akan membuat mereka berdua ke luar bersama, tapi sepertinya Yoongi benar-benar dalam kondisi horny parah dan mudah terangsang hingga ia orgasme untuk kedua kalinya.
Jimin menyusul dan memenuhi lubang Yoongi hingga sebagian sperma yang tidak bisa berada dalam lubang Yoongi meleleh ke paha. Paha putih itu kini sudah basah dan lengket, juga sprei yang kotor karena cairan mereka berdua.
Yoongi terjatuh dan napas tersenggal, ia merasa meski baru ronde pertama tubuhnya seperti hancur dan siap remuk.
Yoongi tahu ini tidak akan berakhir cepat, saat Jimin membawanya ke kamar mandi ia pun tahu bahwa ia tidak akan benar-benar mandi.
Jimin meletakkan dirinya di wastafel, ia melepaskan ikatan di tangan dan yang di kaki. Kini Yoongi bebas dan mampu melingkarkan tubuhnya pada tubuh Jimin yang lebih berisi. Hari ini Yoongi tidak akan mengeluh karena memang hal ini yang sudah sejak lama ia bayangkan tentang hadiah ulang tahun dari Park Jimin.
Setelah terkekeh mendapati kelakuan Yoongi yang lucu, ia memerintahkan Yoongi untuk turun dan membelakanginya sambil memegang sisi wastafel; menungging untuk kedua kalinya. Tidak ada penolakan, sosok kurus itu meloncar turun dan menungging dengan baik. Kali ini ia menggoyangkan pantatnya dan membisikkan sesuatu menggoda hingga Jimin mengerang tertahan. Jimin tergoda pada Yoongi yang kini menjadi slutty.
"Keberatan memanggilku daddy?" Jimin berbisik sambil menggesekkan miliknya pada bibir lubang yang masih basah karena spermanya. Ia menyeringai sambil menatap mata Yoongi dari bayangan cermin.
Yang ditanya mengangguk kecil dengan gumaman tipis yang menggoda. "Daddy," ia memanggil dengan godaan penuh di dalam suaranya. "Daddy, fuck me." Meski hanya bisikan lirih, Jimin mengerang dan mencela beberapa kali pada Yoongi.
Untuk kali ini Jimin tidak mau kalah dengan nafsu, ia mengerjai tubuh Yoongi dan tidak lupa meninggalkan memar di atas kulit putih itu. Akhir-akhir ini ia ingin membuat banyak memar pada lengan dan punggung, jadi mulutnya bekerja aktif dari lengan atas hingga tulang belakang. Bekas ungu atau merah beberapa hari lalu masih tersisa di sana, ia berharap banyak beberapa hari berikutnya memar di sana tidak akan hilang dengan cepat dan muncul seperi noda bakar gairah yang indah.
Yoongi mendesah banyak kali, berteriak saat hisapan yang Jimin berikan terasa benar-benar kuat hingga ia yakin akan timbul bekas hitam di sana. Ia meremas sisi wastafel karena yakin kakinya tidak akan kuat menopang tubuhnya sendiri yang makin payah karena gerakan lidah dan bibir Jimin yang lihai.
"What you want, Yoongi-ya?" Jimin menekan-nekan ujung penisnya pada lubang Yoongi.
Yoongi mendesah dan mengerang tipis, ia menatap sayu sosok Jimin dari pantulan cermin. "I want you, daddy. I want you to fuck me hard."
Yang mendapat tatapan sayu dari pantulan cermin menyeringai puas, ia berbisik di telinga Yoongi dengan lidah bermain pada daunnya. "Here you go," ia memasukkan miliknya sekali hentak dan tepat menekan titik manis di dalam sana. Ia tahu dan hapal betul tempat itu karena Yoongi langsung berteriak dan menggelinjang saking nikmatnya.
"Look at yourself," mata Jimin mengerling pada cermin yang berembun karena napas Yoongi yang panas. "How slutty you are, Yoongi-ah."
"I'm your slut, daddy. Only for you," Yoongi menjawab sambil menjepit penis Jimin yang keluar masuk di dalamnya. Ia mendesah banyak kali di ucapannya dengan napas tersenggal yang ribut.
Jimin tersenyum puas, ia kemudian menekan masuk miliknya dan mencapai kenikmatannya setelah beberapa kali membuat seluruh miliknya masuk ke dalam Yoongi.
"Akh—daddy!" Yoongi berteriak keras setelah Jimin menyembur lubangnya dan menekan tepat di kenikmatannya, ia keluar dan memasahi lantai kamar mandi begitu saja.
Mereka sibuk dengan napas mereka, mengaturnya pelan-pelan hingga akhirnya menemukan ritme napas yang lebih normal dan tidak melelahkan seperti sebelumnya. Jimin kembali pulih lebih dulu, jadi dia menggendong tubuh Yoongi ke bath tub dan membaringkan tubuh mereka berdua di sana.
Yoongi memutar dirinya dan menghadap pada sosok Jimin, bersandar pada dada bidang penuh keringat dan mengulurkan tangan untuk menyalakan air keran agar bath tub terisi. "Hadiah kedua tidak akan berakhir dengan hanya dua, 'kan?"
Jimin terkekeh mendengar pertanyaan Yoongi, ia pun menggeleng dengan senyuman. "Hadiah kedua, kau bisa meminta sebanyak apapun yang kau mau. Hadiah ketiga, kau bisa menghabiskan kartu kreditku besok."
Mata sipit itu terbelalak lebar dengan bibir merekah, wajahnya yang terlihat pucat dan lemas tetap menunjukkan sinar bahagia. "Sungguh?"
Yang ditatap riang mengangguk, "tapi masukkan milikku dulu. Aku ingin kau di atas."
"Brengsek," ia berkomentar, tapi kemudian bergerak dengan pintar untuk memasukkan milik Jimin ke dalam dirinya. Sekali lagi rasa penuh mengisi tubuh bagian bawahnya hingga ia mendesah keenakan.
Jimin membantu gerakan Yoongi memasukkan miliknya, merasa bahwa jika Yoongi melakukannya sendiri semua tidak akan selesai dengan cepat. Akhirnya seluruh penisnya masuk memenuhi hole Yoongi.
"Jalang," Jimin balas berkomentar setelah tadi dikatai brengsek.
FIN.
Saya berkeringat membuatnya, jadi saya menyerah dan berakhir sampai di sini. Sebenarnya masih banyak ide lain, tapi saya pikir membuatnya untuk fiksi berikutnya jauh lebih baik daripada habis di sini.
Oh, maaf, saya sudah menulis warning di atas jadi tolong jangan berkomentar kalau cerita ini berlebihan seksnya, oke?
Maaf untuk kalimat yang berantakan atau penjelasan yang aneh, saya sedang belajar dan ingin meluapkan ide pas-pasan yang saya miliki dengan kemampuan seadanya, jadi berakhir seperti ini.
Ah, mungkin cukup segini saja, saya tidak benar-benar tahu perlu menulis apa lagi. Ya sudah—sampai jumpa. Review? Terima kasih!
