Unpermitted
.
.
Prev tittle: Forbidden Happiness
.
.
Yaoi-BL / Namjoon x Seokjin / NamJin / Warning! Mature Content / DLDR ;)
.
.
Don't like this couple just click the close button above, kay?
.
.
oke, aku peringatin chap ini udah ada mature content nya, dan bener-bener itu rated (M) jadi yaa begitulah/?
sekali lagi, udah ada. catet, udah ada. jadi mohon pengertiannya/? :3
Selamat membaca ~ :D
Unpermitted
.
.
.
Pagi itu sedikit mendung, Namjoon dan Seokjin menunggu di halte bus terdekat dari rumah mereka. Rutinitas pagi yang hampir setiap hari dilakukan. Walaupun masih sangat pagi tapi mereka sudah akan berangkat ke sekolah mengingat jarak dari rumah mereka ke sekolah yang cukup jauh.
"Namjoonie, bangun. Busnya sudah datang." Seokjin menepuk-nepuk pipi Namjoon yang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi besi halte bus itu. Tidak jarang Namjoon tertidur saat menunggu seperti ini, Seokjin juga tidak heran, karena ia tahu kalau adiknya itu adalah seorang heavy sleeper.
Namjoon sedikit mengucek matanya dengan telunjuk dan merapikan rambut pirang pucatnya sebelum mengikuti Seokjin yang sudah lebih dulu menaiki bus. Mereka berdua mengambil tempat di tengah dan duduk berdampingan. Dan setelah itu Namjoon akan kembali tertidur dengan menggunakan bahu Seokjin sebagai bantalnya, sementara Seokjin hanya bisa terkekeh kecil, mengusap sayang rambut Namjoon yang sudah sedikit panjang dengan model cepak itu lalu menggenggam tangan adik yang lebih muda 2 tahun darinya itu di pangkuannya. Akan selalu seperti itu.
Seokjin tahu, Namjoon pasti lelah karena sudah bekerja untuk membantu memenuhi biaya hidup mereka, juga untuk menambah uang saku. Karena peninggalan orang tua mereka setidaknya hanya cukup untuk membiayai pendidikan mereka hingga sekarang ini. Jadi Namjoon sudah mulai bekerja untuk menambah uang tabungan mereka berdua.
Namjoon bukanlah anak yang pandai melakukan suatu pekerjaan, terlebih itu menyangkut pekerjaan rumah tangga. Jadi ia tidak bekerja sambilan seperti anak-anak seusia mereka lakukan seperti menjadi pelayan atau pengantar pesanan. Namjoon hanya bisa mengandalkan otak cerdasnya untuk menghasilkan uang. Ia bekerja sebagai guru les private di beberapa keluarga yang anak-anaknya juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Namjoon dan Seokjin.
Oleh karena itu Seokjin harus selalu memastikan kalau Namjoon mendapatkan nutrisi dan makanan yang sehat yang cukup, hanya itu yang bisa Seokjin lakukan untuk membantu Namjoon. Selain karena Namjoon yang melarangnya bekerja, entah mengapa Seokjin juga tidak bisa membantah adiknya itu. Walaupun Seokjin juga terkadang mendapatkan penghasilan dari pesanan kue yang diterimanya. Jangan heran, Seokjin pandai dalam hal memasak.
.
.
.
Sesampainya disekolah Namjoon dan Seokjin berpisah untuk menuju ke kelas masing-masing. Namjoon memang dua tahun lebih muda dari Seokjin, namun saat ini mereka telah berada di tingkat yang sama, kelas 3 SMA. Ini tidak mengherankan, Namjoon anak yang cerdas, ingat? Jadilah ia memasuki kelas akselerasi pada saat SMP dan sekarang, hingga ia bias setingkat dengan kakaknya.
Memang tidak banyak interaksi yang mereka lakukan pada saat berada di sekolah, karena mereka memiliki teman dekat masing-masing. Lagi pula untuk menghindari kecurigaan teman-temannya jika mereka memiliki orientasi seksual yang 'menyimpang', terlebih lagi karena mereka adalah saudara. Hubungan terlarang yang biasa orang sebut dengan Incest.
.
.
.
.
.
"Hyuuung aku lapar!" Rajuk Namjoon yang menempelkan pipinya di meja makan. Ia sudah cukup lama menunggu Seokjin memasak yang tak kunjung juga selesai. Padahal Namjoon sudah menawarkan untuk membantunya tadi, tapi Seojin menolak bantuannya secara halus –katanya-. Tapi bagi Namjoon itu sama sekali tidak halus. Bagaimana tidak? Seokjin mengatakan kalau Namjoon membantunya bukan hanya membuatnya makin lama, bahkan mereka bias-bisa tidak makan. Kenapa coba?
Well, sepertinya Namjoon belum sadar diri kalau tangannya itu cukup berbahaya untuk benda disekitarnya.
Hanya di rumah seperti inilah mereka bisa leluasa menunjukkan kedekatan dan menempel satu sama lain, karena tidak akan ada yang melihat mereka.
"Sabarlah sedikit lagi, Namjoonie." Seokjin memutar matanya malas sambil menuangkan kimchi yang baru saja dimasaknya. Mengambil nasi dan lauk lainnya kemudian meletakkannya di meja. Disambut dengan tepukan tangan Namjoon seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari pamannya. Seokjin hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya yang terkadang masih seperti bocah itu.
.
.
.
Usai makan malam Seokjin langsung menuju ke kamarnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau untuk sekedar mencatat resep baru yang akan dicobanya nanti. Setelah itu menyiapkan keperluan yang akan dibawanya ke sekolah besok. Sedangkan Namjoon jika tidak sedang belajar atau mengerjakan tugas, ia hanya bermain game.
Dan terkadang jika Namjoon sedang ingin melakukan 'itu' dengan Seokjin, maka Namjoon akan mengatakannya langsung sesaat setelah mereka selesai makan malam, atau pada saat sedang bersantai di ruang tengah berdua. Atau Namjoon memintanya dengan mengiriminya pesan seper-…
*bunyi suara ponsel berdering*
Seokjin membuka pesan yang baru saja masuk. Mengusap layar benda persegi itu untuk menampakkan nama sang pengirim.
From : Namjoonie
"Hyung, aku menginginkannya."
'Kan? Baru saja dibicarakan Namjoon sudah mengiriminya pesan. Seokjin yang mengerti dengan maksud adiknya itu langsung beranjak dari tidurnya dan menuju ke kamar Namjoon. Setelah lebih dulu membalas pesan singkat itu.
To : Namjoonie
"Tunggu di kamarmu."
.
.
Namjoon tersenyum membaca balasan pesan dari Seokjin. Lelaki tampan berlesung pipi itu langsung berjalan menuju pintu kamarnya sambil memasang ekspresi jahilnya.
Dan benar saja, baru selangkah Seokjin membuka pintu kamar itu, Namjoon sudah 'menyerang' nya lebih dulu. Memang sangat susah mengatur hormon di usianya, jadi itu bukan salahnya, 'kan?
Mata Seokjin membulat saat tiba-tiba Namjoon memeluknya dan melumat bibirnya sedikit kasar. Tak ada yang bisa Seokjin lakukan dalam keterkejutannya selain mengalungkan lengannya di leher Namjoon, menikmati setiap kecupan dan lumatan lalu melompat membuat posisinya seperti koala dalam gendongan tubuh tegap Namjoon.
Namjoon segera membawa tubuh mereka berdua ke ranjangnya untuk melanjutkan kegiatan panas mereka. Kini Seokjin telah berada di bawah kungkungan tubuh Namjoon, dengan sebelah tangan Namjoon yang sudah memasuki kaos putih tipis yang ia kenakan tanpa melepaskan tautan bibir mereka sedikitpun. Sepertinya Namjoon tidak dapat menahannya lagi.
Lidah basah nan hangat saling melilit, Seokjin menurunkan tangannya yang sedari tadi di tengkuk Namjoon untuk mulai membuka pakaiannya. Namun wajahnya berubah merengut ketika Namjoon melepaskan ciuman mereka dan menahan tangan Seokjin yang baru saja hendak melepas kaosnya sendiri.
"Kenapa berhenti?" tanya Seokjin sedikit cemberut. Yang benar saja, ia sudah sedikit -ekhem- terangsang karena perbuatan Namjoon dan sekarang lelaki tinggi itu tiba-tiba menghentikan semuanya? Menyebalkan.
Namun sepertinya Seokjin sekali lagi harus merutuki dirinya karena belum mempersiapkan diri untuk mendengarkan kata-kata Namjoon selanjutnya, yang membuat pipinya merona hebat.
"Jangan dilepas dulu, hyung. Aku lebih suka kalau aku sendiri yang menelanjangimu." Namjoon mengucapkan itu dengan santai dan menatap nakal Seokjin yang sudah tampak berusaha mengalihkan wajahnya ke arah manapun asalkan tidak melihat seringaian nakal lelaki tampan yang sayangnya adalah adiknya sendiri itu.
"Byuntae Joon!"
Namjoon terkekeh mendengar omelan Seokjin. Walaupun menggerutu seperti itu ia tahu, Seokjin juga menginginkannya.
"Mulai lagi?"
Seokjin mengangguk kecil.
"Angkat tanganmu, hyung."
Dan dengan aba-aba Namjoon itu Seokjin mengangkat kedua tangannya hingga hampir menyentuh kepala ranjang Namjoon, sementara sang pemilik kamar langsung menarik kaos yang dikenakan Seokjin dengan sekali tarikan. Menampakkan kulit putih mulus sang kakak. Kulit yang menjadi tempat favorit Namjoon untuk melukis warna merah cerah yang kontras di kulit Seokjin dengan bibirnya. Tak lupa ia juga melepaskan kaos tanpa lengan yang dipakainya tadi hingga kini mereka berdua dalam keadaan topless.
Keduanya pun saling memandang selama beberapa saat, mengamati betapa indahnya lekuk tubuh yang terpampang dihadapan mereka saat ini. Namjoon yang tak pernah bosan untuk memuji kulit Seokjin yang sangat putih, mulus dan kenyal seperti wanita. Sedangkan Seokjin cukup lama terpaku, selama ini ia belum pernah benar-benar mengamati Namjoon seperti ini. Namjoon semakin terlihat tampan dengan otot dada dan bahu yang mulai menonjol serta di lapisi oleh kulit tan yang sangat seksi. Membuat Seokjin rasanya juga ingin meninggalkan bekas tanda 'kepemilikan' nya di sana. Setelah cukup saling memandang, mereka berdua pun tertawa kecil lalu kembali mengeliminasi jarak diantaranya.
Namjoon kembali memberikan Seokjin kecupan-kecupan mulai dari bibir dan beralih hingga ke leher jenjang lelaki cantik yang berada di bawahnya itu. Seokjin mulai mengeluarkan desahannya saat Namjoon menghisap kulitnya dengan kuat dan menggoda sesuatu di selangkannya yang masih terbalut celana pendek itu dengan mengusap-usap dan sesekali menggenggamnya.
Sementara tangan Seokjin juga tidak tinggal diam. Kini tangannya tengah sibuk meraih resleting jeans yang dikenakan Namjoon. Setelah berhasil membukanya Seokjin langsung memasukkan tangannya dan memainkan milik Namjoon yang ternyata sudah menegang. Ia sedikit mengurutnya, membuat Namjoon mendesah tertahan dalam ciuman panas mereka.
"Nggh.. Ahh.. Tanganmu, hyung." Tegurnya beralih menggenggam pergelangan tangan Seokjin di selangkangannya.
"Tanggung jawab!" Namjoon menyeringai, menarik turun celana Seokjin hingga membuatnya sudah benar-benar naked sekarang.
Seokjin hanya tertawa. "Dengan senang hati, bocah." Seokjin menyentil dahi Namjoon, yang mendapatkan protes dari sang 'bocah'.
"Walaupun begitu tapi bocah inilah yang akan membuatmu mendesah hingga lelah malam ini."
"Coba saja." Tantang Seokjin lalu melakukan hal yang sama menarik celana Namjoon seluruhnya. Kini tubuh keduanya sudah benar-benar polos tak terbalut sehelai benang pun.
.
.
Desahannya menggila.
"Nghh.. Ahhnggh.." Seokjin mendesah kuat dipangkuan Namjoon, tangan lelaki berlesung pipi itu memainkan otot dan lubang masuknya di bawah sana. Sedangkan Namjoon mendesah karena Seokjin menggenggam kejantanannya yang sudah licin akibat campuran saliva Seokjin dan cairan precum itu dengan kuat, menggerakkan tangannya naik turun hingga membuat Namjoon semakin mendesah hebat.
"Ahh.. Hahh Hyuunghh.."
"Ahh.. Lakukanh sekharanghh Namjoonnhh.."
Tanpa menunggu lagi Namjoon melingkarkan lengan kanannya ke pinggul Seokjin, mengangkatnya dengan mudah sementara tangan kirinya mengarahkan kejantanannya pada cincin berkerut Seokjin.
"Tahan sedikit, hyung."
Seokjin mengangguk, menutup rapat kedua matanya saat milik Namjoon mulai menerobos memasukinya. Walaupun mereka sudah sering melakukannya tapi rasanya tetap saja sakit.
"A-..AHHH!"
Seokjin memekik kuat saat milik Namjoon sudah ia tanamkan sepenuhnya ke dalam Seokjin dengan sekali hentakan. Namjoon meringis merasakan Seokjin memeluk leher nya dengan kuat dan menggigit bahunya untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Namjoon mulai menggerakkan pinggulnya, begitu pula dengan Seokjin. Kini kamar itu telah dipenuhi oleh desahan, erangan, dan suara kulit yang saling bertubrukan beserta suara decitan ranjang akibat dari pergerakan dua insan yang sedang bercinta di atasnya.
Setelah bergumul selama kurang lebih satu jam, keduanya mencapai klimaks nya bersamaan, cairan cinta Namjoon memenuhi Seokjin di dalam. Namjoon menjatuhkan tubuhnya di atas Seokjin, badan mereka penuh dengan peluh, rambut pirang Namjoon sudah lepek hingga menempel di dahinya. Dada yang saling menempel tertasa naik turun untuk menyesuaikan udara yang masuk ke dalam paru-paru mereka.
.
.
Namjoon menyelimuti tubuh mereka berdua, melingkarkan lengannya di pinggang Seokjin, memeluk posesif lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu.
"Hiks.."
Namjoon yang baru saja akan tidur kembali membuka mata sipitnya karena sebuah isakan.
"Jangan menangis, hyung. Hatiku sakit mendengar tangisanmu." Ia menghapus air mata sang kakak dengan ibu jarinya.
"Tak perlu takut, aku juga merasakan hal yang sama denganmu."
Seokjin semakin terisak, membalikkan badannya untuk memeluk Namjoon dan menangis dalam pelukan adiknya, lelaki yang dicintainya. Catat, dicintainya.
Ia bersyukur Namjoon mengerti tanpa ia harus menjelaskan apapun. Seokjin biasa seperti ini, menangis setelah mengingat kalau mereka berdua adalah kakak-beradik. Sebuah kenyataan yang sampai sekarang dibencinya. Mengapa ia harus dilahirkan dari rahim yang sama dengan Namjoon? Kenapa?
"Aku menyayangimu, hyung."
Seokjin mengangguk kecil di dada Namjoon, dan mengeratkan pelukannya. "Nado."
Setelahnya mereka pun terlelap dengan saling berpelukan.
.
.
.
Esok harinya mereka lalui seperti biasa. Seokjin berencana untuk mengajak Namjoon berjalan-jalan sepulang sekolah nanti mengingat sudah cukup lama sejak mereka pergi berdua.
"Namjoonie.."
"Ya, hyung?" Namjoon mengalihkan perhatiannya dari pancake di hadapannya untuk menatap Seokjin.
"Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita berjalan-jalan?"
Namjoon sedikit berpikir, hampir saja ia 'mengiyakan' ajakan Seokjin jika saja ia tidak ingat kalau ia memiliki janji untuk mengajari salah satu anak didik private nya hari ini.
"Maaf hyung, hari ini aku sudah berjanji akan mengajari Jungkook dan teman-temannya."
Tampak sedikit raut kecewa di wajah Seokjin, namun lelaki cantik itu langsung mengubahnya dengan sebuah senyuman. "Baiklah, lain kali saja kalau begitu. Aku akan pulang lebih dulu."
"Hyung langsung pulang ya, jaga dirimu. Aku akan pulang secepat mungkin." Ucap Namjoon uyang kemudian mendapat anggukan dari Seokjin.
.
.
.
.
Sepulang sekolah Seokjin menepati janjinya pada Namjoon dengan langsung pulang ke rumah. Ia menaiki bus yang sudah ditunggunya sekitar sepuluh menit.
Seokjin mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan jendela, jadi ia bisa dengan jelas melihat keluar jalanan di sekitarnya. Ia memasang earphone di kedua telinganya dan memutar salah satu lagu kesukaannya. Tidur sedikit di perjalanan ke rumahnya yang cukup jauh tidak buruk, 'kan?
Namun baru saja hendak menutup matanya, Seokjin tertegun melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Matanya terus mengikuti dua orang lelaki berseragam sekolah yang sama dengan dirinya berjalan berdampingan hingga mereka tak lagi terlihat. Seokjin menyandarkan punggungnnya di kursi, entah mengapa hatinya terasa sakit dan kini matanya sudah memanas menahan air mata.
Masih dapat dengan jelas ia ingat kedua lelaki itu, berjalan berdampingan dengan saling tertawa bahagia. Salah satu dari mereka berambut pirang, yang sudah jelas itu adalah Namjoon, adiknya. Sementara lelaki yang satunya lagi berambut hitam, dengan kulit putih dan senyum manis.
Pagi tadi Namjoon menolak ajakannya dengan alasan telah memiliki janji mengajar. Tapi apa yang baru saja dilihatnya? Apa ia salah lihat? Tidak mungkin. Seokjin menyingkirkan kemungkinan bahwa ia salah lihat, karena jelas itu adalah Namjoon.
Ternyata janji mengajar yang dimaksud Namjoon adalah… ini?
Ia tersenyum getir.
Tes
Tes
Seokjin menangis. Bukan karena ia berlebihan ataupun cengeng, hanya saja Ia tak menyangka. Ini pertama kalinya Namjoon berbohong padanya.
.
.
.
.
.
Cut! Cut! (?)
.
.
.
.
uluuuuh maap ini pertama kalinya diriku menulis NC yang kayak beginian(?) dengan sangat jelas begituu :'3 aduhh aku tuh ngga bisa diginiin #salah
oke, semoga chap ini cukup memuaskan untuk para reader nim tercintaa mumumu :*
dan tolong jangan begal saya kalau ceritanya jd ngga jelas/? :'3 hiks
makasi buat yang udah fav, follow dan udah susah payah ngetik di kolom review ituu duhh aku terharu :'3
jangan lelah" komentar yaa, supaya bisa jadi masukan buat aku atau ide cerita jg mungkin hoho ~ :D
intinya makasi buat semua aja, siders juga deh biar adil :Db
Love ya ~
