Unpermitted

.

.

Prev tittle: Forbidden Happiness

.

.

Yaoi-BL / Namjoon x Seokjin / NamJin / Warning! Mature Content / DLDR ;)

.

.

Don't like this couple just click the close button above, kay?

.

.

Chapter ini aman kok tp agak sedikit drama :'3 *digiles* oke, langsung aja, maaf kalau ada typo yang terselip, manusiawi/?

Selamat membaca ~ :D


Unpermitted

.

.

.

"Aku ke rumah Minseok, mungkin akan menginap beberapa hari di sana."

Setelah menulis pesan singkat itu dan menempelkannya di meja makan, Seokjin segera menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti, buku, dan keperluan yang akan dibutuhkannya besok. Malam ini ia memutuskan akan menginap bersama di rumah Minseok, salah satu teman dekatnya. Bukan karena apa, Seokjin hanya sedang tidak ingin bertemu dengan Namjoon dulu mengingat apa yang telah dilakukan oleh adik satu-satunya itu. Mungkin keputusan Seokjin untuk meninggalkan rumahnya malam ini sedikit berlebihan, entahlah, ia sendiri tidak tahu.

Seokjin membuka lemarinya dan mengambil beberapa helai pakaian, memasukkannya ke dalam tas disertai dengan bukunya. Jujur saja pikiran Seokjin saat ini tidak lah berpusat pada barang-barang di hadapannya melainkan terbang entah dimana bersama dengan keberadaan Namjoon. Bibir tebalnya terus saja mengumpati dirinya sendiri yang tidak bisa untuk tidak memikirkan lelaki tinggi itu.

'Apa dia akan baik-baik saja jika kutinggalkan sendiri ?'

'Nanti dia makan apa kalau aku tidak masak ?'

'Apa dia akan mencariku atau bahkan tidak peduli sama sekali ?'

Aish, Seokjin mengusak rambut merahnya frustasi, meniup poni nya hingga sedikit terangkat. Dan sedetik setelah itu ia kembali meyakinkan dirinya kalau apa yang dilakukannya sudah benar.

'Ah, bodo! Lagipula dia juga telah berbohong padaku jadi biar saja.'

Putus nya final, lalu meninggalkan kamarnya dan berlari kecil kebawah tidak ingin memikirkan makhluk berambut pirang itu untuk saat ini. Seokjin mengamati rumahnya sekali lagi sebelum benar-benar menutup pintunya dan melenggang pergi.

Seokjin pun menuju ke rumah Minseok yang jaraknya sekitar setengah dari jarak dari rumahnya ke sekolah. Tanpa tahu bahwa sebenarnya apa yang telah dilihatnya itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.

.

.

.

"Namjoon hyung ini bagaimana cara mengerjakannya ?" Tanya salah satu anak berkulit seputih susu itu pada Namjoon yang tengah dilingkari oleh beberapa anak yang diketahui adalah teman Jungkook -anak yang diajari private oleh Namjoon-.

"Kau harus memperhatikan soalnya baik-baik Junhong-ah, lihat nilai apa saja yang sudah ada lalu masukkan ke dalam rumus yang sesuai." Namjoon menjelaskan pada anak yang bernama Junhong itu dengan sedikit memberikan contoh di selembar kertas dan menuliskan beberapa angka dan rumus di sana.

Junhong mengamati setiap contoh yang diberikan kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Nah, begini. Mudah kan ?"

"Iya! Kalau begini lebih mudah." Seru Junhong ceria yang mendapat gelengan malas dari Jungkook, Sanghyuk, dan Yugyeom yang juga sedang diajari oleh Namjoon.

Sementara Namjoon hanya tersenyum kecil merasa puas karena tidak sia-sia ia mengajari dan berbagi ilmu pada anak-anak itu.

"Ada yang ingin bertanya lagi sebelum kita menyelesaikan pembelajaran hari ini ?" Tanya Namjoon sekali lagi sambil melirik langit yang sudah berwarna jingga, sebentar lagi gelap.

"Tidak hyung. Kami sudah mengerti terima kasih." Ujar Jungkook dengan cengiran kelinci khas nya mewakili ketiga anak yang lain.

"Setelah ini kami ingin makan di kedai ramen langganan kami hyung, Namjoon hyung ikut dengan kami 'kan ?" Ajak salah seorang anak yang bernama Sanghyuk.

Namjoon melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, bukannya tidak ingin menemani anak-anak itu tapi sungguh tubuhnya saat ini terasa tidak enak. Mungkin kelelahan.

"Maaf anak-anak, hyung tidak bisa ikut sekarang, badanku sedikit tidak enak." Tolak Namjoon secara halus, namun membuat anak-anak itu terutama Jungkook terlihat panik mendengar ucapan Namjoon barusan.

"Namjoon hyung kau sakit ?" Tanya Jungkook, tersirat kekhawatiran di dalamnya terlebih saat ia baru menyadari wajah Namjoon yang pucat setelah diperhatikan baik-baik.

"Kenapa hyung tidak bilang, jika kami tahu kami akan minta diajari lain hari saja." Kali ini Yugyeom yang berbicara dengan wajah yang ditekuk sedih karena merasa bersalah.

"Ayolah anak-anak. Aku baik-baik saja hanya sedikit kelelahan." Hibur Namjoon dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Ia merasa hatinya menghangat karena mereka mengkhawatirkan kondisinya.

"Kalian pulanglah, hyung juga akan pulang setelah ini." Ajaknya lagi yang dibalas dengan anggukan keempat anak itu.

Mereka berpisah di perempatan jalan, keempat anak itu berbelok kanan sedangkan Namjoon kiri. Menuju halte bus terdekat dari situ. Namun sebelumnya Namjoon terlebih dahulu mampir ke mini market untuk membeli dua kotak susu.

.

.

Namjoon meminum satu kotak susu itu sesaat setelah mendudukkan dirinya di bus yang ia tumpangi. Hanya untuk sekedar mengisi perutnya yang hanya ia isi dengan pancake sejak pagi tadi. Kegiatannya yang padat di sekolah hari ini membuatnya tidak sempat untuk makan siang pada saat jam istirahat. Ditambah lagi ia memberikan les sepulang sekolah. Jujur saja ia menolak ajakan anak-anak itu selain karena tubuhnya yang terasa kurang sehat, juga karena ia ingin segera pulang dan mencicipi masakan Seokjin yang baginya tentu saja lebih enak dibandingkan dengan makanan lainnya.

Namjoon memandang kearah luar jendela untuk melihat langit yang sudah menggelap, ia tersenyum kecil sudah tak sabar ingin segera pulang dan menemui Seokjin, mengurung lelaki cantik itu di dalam dekapannya atau memberikan kecupan-kecupan ringan di pipi mulusnya. Namjoon lalu menyandarkan punggungnnya pada sandaran kursi dan menutup matanya, ia merasa sangat lemas sekarang.

.

.

.

.

Tok tok

Seokjin mengetuk pintu bercat putih di depannya, ia sudah tiba di rumah Minseok baru saja. Indra pendengarnya dapat menangkap suara teman sebangkunya itu dari dalam. Tidak lama setelah itu Minseok datang dengan membuka pintu dan langsung menariknya masuk ke dalam rumah yang bisa dibilang sangat besar dan mewah.

Seorang wanita paruh baya menyambutnya ke dalam sebuah pelukan sesaat setelah menyapa sang nyonya pemilik kediaman Kim itu. Ny. Kim memang sudah menganggap sahabat anaknya itu sebagai anak sendiri. Seokjin membalas pelukan hangat Ny. Kim dengan lembut. Ia sungguh senang dapat diterima dengan baik dikeluarga ini, karena membuatnya merasa seperti mempunyai seorang ibu lagi.

"Aku merindukanmu, eomma." Ucapnya pelan.

"Eomma juga merindukamu, Seokkie," Ny. Kim mengusak sayang puncak kepala Seokjin, ia sedikit kesusahan karena sungguh, anak itu lumayan tinggi.

"Baiklah, kami naik ke atas dulu ya eomma. Ayo, Seokkie!" Seru Minseok yang lagi-lagi sudah menarik tangan Seokjin entah sejak kapan.

Mereka berdua kini berada di dalam kamar Minseok, Seokjin meletakkan tasnya di sisi tempat tidur kemudian mendudukkan dirinya di karpet hijau muda di tengah-tengah ruangan itu.

Minseok mengangkat suara lebih dulu. "Tumben, ada apa tiba-tiba ingin menginap di sini Seokkie?"

"Tidaka ada apa-apa. Aku hanya ingin saja, aku merindukan eomma." Jawabnya singkat. Ia tidak berbohong, tapi alasan utamanya ke sini bukan karena itu. Melainkan karena ingin menghindari adiknya saja.

"Lebih baik kita mengerjakan tugas biologi saja, lebih cepat selesai 'kan lebih baik." Ajak Seokjin pada Minseok yang baru saja mendudukkan dirinya di sebelah Seokjin. Well, Sejujurnya Seokjin hanya ingin mengalihkan pembicaraan agar Minseok tidak bertanya lebih lanjut.

"Baiklah, setelah ini kita makan malam dulu. Dan kau dapat menggunakan kamar di sebelah kamarku seperti biasa." Ucap lelaki berpipi tembam itu sambil mengambil beberapa buku cetak dan alat tulis.

"Siiip! Gomawo baozi ~" Goda Seokjin pada Minseok dengan suara yang sengaja dimut-imutkan.

"Yak! Jangan memanggilku seperti itu!"

"Hahaha."

.

.

.

.

.

"Seokjin hyung aku pulaaaaang!"

Seru Namjoon sambil bergegas membuka pintu rumahnya dengan bersemangat. Namun semuanya diluar dari perkiraan Namjoon. Ia masuk hanya untuk mendapati ruangan yang masih gelap menandakan tak ada seorang pun di dalam.

'Apa Seokjin hyung belum pulang ?' Batinnya.

Ia melangkahkan kaki jenjangnya untuk menekan saklar lampu dan menuju dapur. Sepasang mata sipitnya kemudian menemukan notes berwarna merah muda yang terletak di meja makan. Tangannya meraih catatan kecil itu lalu membaca isinya yang bertuliskan :

"Aku ke rumah Minseok, mungkin akan menginap beberapa hari di sana."

"Kenapa tidak mengirimi ku pesan, hyung ?" Gumamnya meraih ponsel dari dalam sakunya lalu mengetik pesan untuk Seokjin.

To : Seokjinnie

"Kenapa tidak memberitahuku di sekolah tadi hyung ?"

Usai mengirimkan pesan itu Namjoon menarik salah satu kursi lalu mendudukkan dirinya. Ia menunggu balasan pesan Seokjin sambil merebahkan kepalanya yang terasa pening di kedua lengannya yang terlipat di atas meja makan.

.

.

Biasanya Seokjin akan cepat membalas pesannya, namun saast mengecek jam yang tertera di layar ponselnya Namjoon mendesah ringan. Sudah sekitar 20 menit ia menunggu tapi belum ada balasan juga.

Namjoon menyerah, selain karena tubuhnya yang menuntut untuk diistirahatkan ia juga merasa lapar. Namjoon menyentuh perutnya yang terasa perih di dalam. Rasanya seperti terbakar, membuatnya mual. Ia meraih tas nya dan mengambil sekotak susu lagi. Membuka dan meneguknya hingga habis. Setidaknya itu cukup untuk mengisi perutnya yang kosong, pikirnya.

Namjoon membuang kotak susu yang sudah kosong itu lebih dulu sebelum mengambil tas dan membawa tubuhnya ke kamar dengan langkah yang berat karena lemas. Ia memilih untuk tidur saja, mengabaikan nyeri yang dirasakannya. Ia lebih memilih untuk tidur daripada mengambil resiko keluar membeli sesuatu dan dia ambruk di tengah jalan.

Sesampainya di kamar Namjoon langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tanpa mengganti seragamnya terlebih dulu. Ia menekan tombol kecil di sisi ponselnya, mengusap layarnya dengan lihai dan menghubungi kontak seseorang, siapa lagi kalau bukan Seokjin.

Setelah tiga kali mencoba menghubungi ponsel Seokjin yang tidak membuahkan hasil, Namjoon berhenti. Mungkin hyung nya sedang sibuk hingga menonaktifkan ponselnya. Jadilah ia hanya mengirimkan pesan sekali lagi sebelum ia benar-benar tertidur.

To : Seokjinnie

"Aku merindukanmu, hyung. Sampai bertemu di sekolah besok.

Jaljayo."

.

.

.

Pagi itu seorang lelaki berpipi tembam, wajah manis, mata sipit dan tinggi badan yang dapat di masukkan ke dalam kategori mini untuk seorang laki-laki itu mengetuk perlahan pintu di hadapannya hendak membangunkan seseorang yang tidur di dalamnya.

Minseok -lelaki itu- kemudian memutuskan untuk langsung masuk dan menghampiri gundukan di bawah selimut putih yang masih tidak bergerak sedikit pun.

"Seokkie.. Hei Kim Seokjin ayo bangun!" Minseok menyingkap selimut putih tebal itu dan menampakkan setengah tubuh makhluk itu yang ternyata adalah Seokjin hingga bagian pinggangnya. Tidak biasanya ia sulit dibangunkan seperti ini, terlebih lagi Seokjin adalah seorang morning person.

"Seokkie cepatlah bangun kalau tidak ingin di hukum sama guru killer itu!"

"..." Tidak ada jawaban.

"Kim Seokjin demi tuhan!" Minseok menyerah, ia menaiki tempat tidur itu dan merebahkan tubuhnya tepat di atas Seokjin yang masih menelungkup. Sedetik kemudian Minseok bergerak liar berguling ke kiri dan ke kanan di atas punggung Seokjin. Tentu saja itu membuat tidur lelaki cantik di bawahnya jadi terganggu dan itu berhasil membangunkan Seokjin dengan sukses.

"Ukh.. Minnie! Bangunlah kau membuatku sesak! Uhuk.."

Setelah itu Minseok bangkit dengan cepat dan duduk bersila di samping Seokjin yang akhirnya sudah membuka matanya.

"Habisnya tidak biasanya kau tidur mayat seperti ini." Minseok memanyunkan bibirnya lucu.

"Apa semalam kau tidak tidur?" Tanya nya kemudian.

"Aku tidur kok, setelah jam 4 pagi."

"Mwo?! Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada. Hanya mengutak-atik resep." Seokjin menampakkan cengiran bodohnya. Ia tidak berbohong, memang semalaman ia hanya melakukan itu. Ingin belajar sebenarnya, tapi hal itu malah akan mengingatkannya pada Namjoon yang sering mengajarinya. Jadilah ia mengabaikan buku pelajarannya dan memilih untuk menulis resep saja.

"Kau ini. Bisa-bisa kau mengalahkan bibi Huang dalam hal memasak. Aku tidak mau tahu, pokoknya setelah ini kau harus membuat sesuatu untukku!" Titah Minseok yang melipat kedua tangannya di dada.

"Iya-iya baiklah. Kau mau apa, hmm? Bakpao?"

Minseok langsung menoleh cepat dan memberikan death glare pada Seokjin yang baru saja menyebut 'Bakpao'. Lelaki manis itu paling tidak suka jika seseorang menyamakannya dengan bakpao hanya karena kulitnya yang putih dan pipinya yang tembam.

Sementara Seokjin yang ditatap seperti itu hanya menahan tawa dan semakin gencar mengerjai sahabatnya ini. "Pfft.. Tenang saja, aku tidak akan membuat itu. Masa bakpao makan bakpao? Hahaha!"

"YAK! KIM SEOKJIIIIN!"

"Hahaha.." Seokjin melompat cepat dari tempat tidur dari berlari keluar, hendak meminta pertolongan pada Ny. Kim.

"Eommaaaaa tolong! Minnie ingin mencekik ku!" Teriaknya heboh sambil berlari dari Minseok yang mengejarnya di belakang. Ia tidak pernah tahu kalau Minseok bisa berlari secepat itu.

Di dalam dapur Ny. Kim hanya bisa tersenyum lembut dan menggeleng melihat kelakuan anak-anak itu. Ia bersykur Minseok dekat dengan Seokjin, Jaehwan, dan Daehyun. Karena semenjak mereka berteman, Minseok tidak pernah lagi merasa kesepian sebagai anak tunggal di keluarganya. Ny. Kim sudah menganggap ketiga sahabat anaknya itu sebagai anak kandungnya.

Kegaduhan yang mereka berdua buat pagi-pagi berhasil mengalihkan perhatian Seokjin dari seseorang. Sepertinya ia melupakan seseorang hari ini.

Dan Seokjin lupa mengecek ponselnya.

.

.

.

.

.

Namjoon menggeliat tidak nyaman dalam tidurnya, peluh sudah membasahi sebagian pelipis dan wajahnya. Ia terbangun karena rasa nyeri di perutnya kembali timbul, bahkan saat ini rasanya jauh lebih perih dari yang kemarin. Sungguh bahkan untuk bangkit pun rasanya sangat sulit bagi Namjoon. Sakit sekali, ia meringkuk di tempat tidur sambil memegangi perutnya diikuti rintihan perih.

Dengan susah payah Namjoon meraih ponsel nya dan mengetik pesan untuk teman sekelasnya, ingin memberitahu bahwa ia tidak bisa masuk hari ini. Dan setelah itu ia kembali meringkuk kesakitan, rasanya seperti menusuk-nusuk perutnya. Kedua sudut mata Namjoon sudah digenangi air mata. Sungguh ia benar-benar sangat membutuhkan Seokjin saat ini.

Namjoon mengambil ponselnya lagi hendak menghubungi Seokjin, namun ponsel kakaknya itu masih tidak aktif sejak semalam. Namjoon mengetikkan beberapa pesan dan berusaha bertahan agar tetap sadar.

.

.

.

.

.

"Eommaaaa kami berangkat dulu!" Seru Minseok dan Seokjin setelah selesai menghabiskan sarapan mereka. Seokjin mencium pipi Ny. Kim di sebelah kanan sedangkan Minseok di sebelah kiri.

Ny. Kim mengusap sayang kepala kedua anak itu dan tertawa kecil. Ia sangat menyayangi mereka. "Hati-hati di jalan. Pastikan kalian belajar dengan baik, arasseo?"

"Arasseo eomma!" Jawabnya bersamaan lagi sebelum berlari keluar menuju mobil pribadi Minseok yang sudah menunggu mereka di luar.

.

.

.

Setibanya di sekolah Seokjin dan Minseok langsung menuju ke kelas mereka. Jam pelajaran pertama belum dimulai, Seokjin melihat jam bundar yang tergantung di kelasnya. Masih ada waktu sebelum bel pertama masuk berbunyi. Ia tiba-tiba teringat akan Namjoon, tadi saat melintas di depan kelasnya tak ada tanda-tanda kehadiran adiknya itu di sana.

'Apa mungkin dia telat bangun?'

Seokjin kemudian bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke kelas Namjoon. Ia hanya ingin memastikan kalau Namjoon masuk sekolah hari ini. Namun sebelum tiba di kelasnya, Seokjin berpapasan dengan beberapa siswa yang ia kenal sebagai teman dekat Namjoon.

Salah satu dari mereka pun menyapa Seokjin dan bertanya. Lelaki itu bertubuh kurus dan berwajah sedikit lonjong. "Seokjin hyung, Namjoon sakit apa? Apa dia baik-baik saja?"

Pertanyaan itu sukses membuat Seokjin terkejut. 'S..Sakit? Namjoon sakit?'

"Apa maksudmu, Hoseok-ah?"

"Hyung tidak tahu? Tadi dia mengirimi ku pesan, dia tidak bisa masuk hari ini karena sakit."

"Ah, iya! Aku baru ingat. Kemarin sepupuku juga bilang kalau wajah Namjoon terlihat pucat saat mengajari teman sekelompoknya." Lanjut salah seorang lelaki lagi, yang sebenarnya adalah sepupu Jungkook, namanya Yoo Youngjae.

.

.

Sedetik setelah mendengar itu Seokjin segera berbalik dan berlari kencang kembali ke kelasnya. Meninggalkan 3 orang yang masih mematung saling berpandangan bingung di tempatnya karena Seokjin pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.

Jantungnya berdetak cepat mendengar kabar kalau adiknya sedang sakit. Dan sialnya lagi Seokjin lupa mengaktifkan ponselnya sejak semalam. Seokjin merutuki dirinya sendiri. Sesampainya di kelas, Seokjin membuka pintu kelas dengan keras membuat seluruh temannya menoleh kaget, tapi Seokjin tidak memperdulikan itu. Yang ada di kepalanya saat ini hanya Namjoon. Ia merogoh tas nya dengan terburu-buru untuk mengambil ponsel kemudian mengaktifkannya, dan benar saja banyak pesan yang masuk rata-rata dari Namjoon.

Seokjin membaca isi pesan itu namun tiga pesan terakhir membuat jantungnya terasa hampir berhenti.

From : Namjoonie

"Hyung.. Tolong"

From : Namjoonie

"Hyung di mana?"

From : Namjoonie

"Sakit.."

Tanpa menunggu lama lagi ia segera mengambil tas nya dan berlari keluar. Mengabaikan Minseok, Jaehwan, dan Daehyun yang berteriak memanggilnya. Yang benar saja, sebentar lagi pelajaran dimulai tetapi Seokjin seolah tidak mendengarkan mereka

.

.

.

.

Napas Seokjin memburu karena terlalu banyak berlari. Kini ia sudah berada di dalam bus yang akan membawanya pulang ke rumah. Seokjin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menahan air mata yang sudah menggenang di matanya sedari tadi mebayangkan Namjoon yang kesakitan sendirian. Ia menekan tombol kecil di ponselnya lalu menghubungi Namjoon. Percobaan pertama hingga ketiga Namjoon tak kunjung juga menjawab panggilannya. Bohong kalau Seokjin tidak panik saat itu juga.

Sementara di lain tempat, Namjoon bisa mendengar dan merasakan ponselnya berbunyi, tapi sangat sulit untuk mengumpulkan kesadarannya. Saat mata sayunya menangkap nama sang pemanggil, tertera nama Seokjin di sana, ia pun segera menganagkat panggilan itu dan berujar lemah.

"H..hyung."

.

.

.

"H..hyung.. Di-dimana?"

Mendengar suara Namjoon yang sangat lemah hampir tidak terdengar di seberang sana membuat Seokjin yang tadinya bersandar kembali menegakkan punggungnya.

"Ne, Namjoonie.. Hiks.. Maafkan aku. Bertahanlah sebentar lagi, aku akan segera pulang."

"S-sakit hyung.. Sakit se..kali.."

"Hiks.. I-iya sayang, sebentar lagi.. Bertahanlah ku mohon.. Hiks" Seokjin tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia dapat mendengar dengan jelas Namjoon sedang merintih, hampir menangis. Padahal anak itu belum pernah menangis dan mengeluh jika sedang sakit. Ini pertama kalinya. Dan itu sangat menohok hatinya, pasalnya ia tidak berada di sisinya saat Namjoon membutuhkannya.

"Uhuk.. Hhhh.." Suara Namjoon tersengal, setelah itu terdengar suara kalau lelaki itu tengah mengeluarkan isi perutnya di seberang sana.

"Namjoonie! Ada apa? Kau kenapa?!" Seokjin bisa memastikan Namjoon sedang muntah.

"..." Namjoon tidak menjawab, hanya suara yang sama yang terdengar.

"Namjoon.. Hiks.. jawab aku!" Seokjin semakin panik bukan main. Ia bergerak gelisah di kursinya, meremas ujung seragamnya dengan keras.

"..." Masih tidak ada jawaban.

"Namjoon!"

Dan setelah itu, hal terakhir yang Seokjin dengar hanya suara sesuatu benda membentur lantai dan tak ada suara apa-apa lagi.

"Namjoon! Kim Namjoon!"

"Hiks.. Namjoon..!"

.

.

.

.

Baru saja Seokjin menginjakkan kakinya di depan rumah, lelaki cantik itu segera berlari ke dalam dan langsung menuju ke kamar Namjoon, membuka pintu kamar itu dengan kasar.

"Namjoon!"

Jantungnya seakan jatuh kedasar perut melihat Namjoon yang tergeletak di sisi tempat tidurnya. Tidak sadarkan diri dengan cairan putih bercampur lendir yang menggenang di sisi tubuhnya. Cairan itu berwarna putih dan bercampur warna merah.

"Da-darah?" Gumamnya lirih.

Mata Seokjin membulat. Ia segera meraih tubuh adiknya itu dan menempatkan kepala Namjoon di pangkuannya. Seokjin dapat merasakan suhu tubuh Namjoon yang sangat tinggi setelah menempatkan punggung tangannya di dahi Namjoon.

Seokjin tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia sudah mencoba menyadarkan Namjoon namun lelaki itu sama sekali tidak bergeming, masih menutup matanya rapat-rapat. Ia juga sudah membersihkan cairan yang mengotori sisi wajah Namjoon tanpa jijik sedikitpun.

Seokjin menangis, kebingungan. Untung saja ia teringat akan tetangganya di depan rumah. Seingatnya suami bibi Lee adalah seorang dokter. Seokjin pun memapah Namjoon untuk membaringkannya ke tempat tidur dan menuju ke rumah di depannya.

Seokjin menekan bel rumah itu berkali-kali hingga muncul seorang wanita paruh baya di balik pintu yang terbuka itu. Wanita itu terkejut melihat keadaan Seokjin yang berantakan, seragamnya tertata kusut dan sedikit basah karena berkeringat, jangan lupakan air matanya yang juga masih menetes.

"Ya Tuhan! Seokjin-ah ada apa?" Tanya bibi Lee panik.

"Tolong. Hiks.. Namjoon, di..diaa sedang sakit.. Aku tidak tahu, bi. Nam..Namjoon. Hiks..."

"Tenanglah, suamiku baru saja akan berangkat ke rumah sakit. Bawalah Namjoon ke sana bersamanya." Ucapnya kemudian sambil mengusap punggung Seokjin untuk menenangkan lelaki itu.

"Yeobo. Yeobo! Tolong periksa keadaan Namjoon, dia sedang sakit. Dan antar mereka ke rumah sakit." Pinta bibi Lee pada suaminya yang baru saja hendak ke rumah sakit.

"Baiklah, tolong masukkan tas dan peralatanku ke dalam mobil, aku akan mengecek keadaan Namjoon dulu. Aku berangkat, sayang." Paman Lee tampak mencium kening istrinya sebelum melangkah keluar bersama dengan Seokjin yang membungkuk dalam pada sepasang suami istri itu.

.

.

"Tenanglah, adikmu akan baik-baik saja." Ucap paman Lee dengan tersenyum hangat pada Seokjin yang terlihat sangat gelisah sejak tadi.

"Sekarang bantu aku mengangkatnya, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Lanjutnya lagi memberi aba-aba pada Seokjin yang mematung saking paniknya saat Namjoon sempat diperiksa olehnya tadi.

.

.

.

.

.

Suasana di rumah sakit saat itu cukup ramai, seorang lelaki berpostur tubuh tinggi dan tegap, berpakaian serba hitam namun tidak menutupi betapa sempurnanya pahatan paras tampan lelaki itu. Ia tampak menyusuri beberapa jalan di rumah sakit. Mencari-cari tempat tujuannya datang ke tempat yang identik dengan aroma obat-obatan yang menguar di setiap sudutnya.

Sebelah tangannya memegang ponsel yang masih menempel di sisi telinganya.

"Iya, tuan. Saya sudah tiba, hanya tinggal memastikan beberapa hal lagi. Anda tak perlu khawatir akan saya selesaikan secepatnya."

Setelah itu sambungan telepon pun terputus. Meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu memakai kacamata hitam yang tadi menggantung di kerah bajunya. Lelaki itu kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat di rumah sakit itu.

.

.

.

Seokjin mengikuti paman Lee serta beberapa orang berpakaian serba putih yang terlihat sibuk menangani Namjoon di sisinya. Ia masih sempat melihat keadaan adiknya sebelum keluar meninggalkan ruang gawat darurat itu, membiarkan dokter dan perawat menangani Namjoon di dalam. Matanya tidak pernah berhenti bergerak gelisah, memikirkan segala kemungkinan yang berkecamuk di kepalanya.

Seokjin tidak bisa berlama-lama di depan ruangan yang menyimpan adiknya di dalam sana, ia memutuskan untuk menenangkan dirinya dulu baru akan kembali sebentar lagi. Pikirannya sungguh tidak tenang sekarang. Seokjin berjalan dengan kepala menunduk, meremas ujung pakaiannya tanpa melihat jalan di depannya hingga ia tanpa sengaja menabrak seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.

BRUKK

Suara ringisan terdengar meluncur dari bibir Seokjin. Setelah menabrak seseorang itu ia terjatuh, bisa dipastikan kalau orang yang dia tabrak baru saja adalah seorang pria saat mendengar suara orang itu.

"Ah, maaf. Apa kau tidak apa-apa?" Pria itu mengulurkan tangan kanannya di hadapan Seokjin.

Seokjin meraih uluran tangan orang itu dan berdiri cepat. Sepasang mata bulatnya dapat dengan jelas menangkap pantulan sosok orang di hadapannya saat ini. Dia seorang lelaki, berpakaian hitam sedikit lebih tinggi darinya, tubuhnya tegap dan kulitnya sedikit tan, namun wajahnya tidak jelas karena matanya tertutupi kacamata hitam. Seokjin sempat terdiam sebentar karena mengamati orang itu.

Sementara lelaki dihadapannya juga ikut terdiam, terkejut melihat siapa orang yang baru saja bertabrakan secara tidak sengaja dengannya ini. Ia pun segera melepaskan genggamannya pada Seokjin dan kembali bertanya. "Hei, kau tidak apa-apa? Maafkan aku yang berjalan tidak hati-hati."

Hal itu membuat Seokjin tersadar dari kediamannya. "A-ah.. I..iya aku baik-baik saja. Maafkan aku juga, aku berjalan sambil menunduk." Seokjin sedikit membungkuk saat mengucapkan permintaan maaf itu.

"Aku harus segera pergi, maafkan aku sekali lagi, tuan. Permisi." Ucap Seokjin sekali lagi sambil menunduk dan berlalu di hadapan orang itu. Bukan tanpa alasan ia memanggilnya dengan 'tuan', itu karena suaranya yang sangat berat dan tubuhnya yang tinggi tegap.

Seokjin pergi begitu saja, meninggalkan lelaki itu yang tampak mengambil sesuatu dari saku coatnya.

.

.

.

"Selamat pagi, tuan. Maaf mengganggu anda lagi, ada yang ingin saya sampaikan." Kata lelaki itu pada seseorang yang sedang berbicara dengannya di seberang sana.

"Sepertinya saya sudah menemukannya." Lanjutnya lagi sembari menatap sebuah foto di tangan kanannya.

Di dalam foto itu tampak seorang lelaki berwajah cantik berseragam sekolah menengah atas, dan sangat jelas foto itu di ambil tanpa sepengetahuan sang objek foto. Yang tidak lain tidak bukan adalah orang yang baru saja bertabrakan dengannya tadi, Kim Seokjin.

.

.

.

.

.

.

Bersambung ~