Markas Konoha Intelligence Division, Toture and Intterogation Room,
"Tsunade-sama, apakah tidak apa-apa jika Rokudaime Hokage-sama diperlakukan seperti ini?"
Kakashi—yang baru saja tersadar—dapat mendengar suara wanita yang cukup familiar. Ia berusaha mengidentifikasi pemilik suara tersebut. Seketika Kakashi teringat akan sosok Yamanaka Ino sebagai sumber suara yang ditangkap telinganya.
"Tidak apa-apa Ino. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku hanya butuh ruang interogasi ini dan aku akan memanggilmu jika diperlukan." Terdengar suara wanita lain—kali ini bernada tegas—yang langsung Kakashi kenali sebagai milik Tsunade.
"Baiklah. Ah, Kakashi-sensei sudah sadar." Pekik Ino.
LOVE LIFE OF ROKUDAIME HOKAGE
a KakaShizu Fanfiction
.
Chapter 2 – Intterogation
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Kakashi bisa melihat sekelumit warna kuning pucat bergerak mendekat walau pandangannya belum benar-benar fokus. Tapi ia yakin jika helaian pirang yang mendekat adalah milik Ino walau penerangan di ruangan tersebut minim.
"Di mana ini?" tanya Kakashi yang masih sedikit kebingungan. Seingatnya ia tadi diserang keempat murid manisnya sebelum Tsunade datang bersama Katsuyu.
"Ruang Intograsi Intelligence Division Konoha." kali ini Tsunade yang menjawab. Kakashi bisa melihat sejumput warna pirang lain berjalan mendekati dirinya. Ia berusaha berdiri dari posisi duduk namun ternyata ada seutas tali chakra yang mengikatnya di bangku. Jubah hokage dan jaket jounin milik Kakashi sudah terlepas, meninggalkan pakaian dasar berwarna hitam yang biasa ia kenakan.
"Kenapa? Hei, apa-apaan ini? Mengapa aku diikat?"
"DIAM!" bentak Tsunade dan langsung membuat Kakashi terdiam tanpa perlawanan. Kakashi memandang ngeri ke arah hokage pendahulunya. Selain Tsunade dan Ino, Kakashi menangkap sosok empat remaja manis yang ia kenali sebagai murid-muridnya berdiri di belakang Tsunade, siap menonton eksekusi sang sensei.
"Baiklah. Aku akan melanjutkan pekerjaanku. Anda bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu, Tsunade-sama." Ujar Ino sebelum berjalan meninggalkan ruangan, melanjutkan pekerjaan barunya di intelligence division.
Ibiki Morino—kepala divisi yang baru—secara khusus meminta Ino untuk magang di divisinya guna mengintrepetasi hasil analisis kasus yang pernah ditangani Yamanaka Inoichi, kepala divisi terdahulu. Tentu saja interpretasi hasil analisis kasus yang dimaksud melibatkan beberapa jutsu rahasia dari Klan Yamanaka.
"Baik, terima kasih, Ino." ujar Tsunade yang dibalas Ino dengan anggukan sopan sebelum undur diri.
"Aku duluan, Dekorin, Naruto, Sasuke-kun, dan Sai-kun." Ino sambil tersipu saat menyapa sang kekasih, yang dibalas senyum hangat khas Sai dan usapan lembut di rambut pirang Ino.
"Kerja yang rajin ya tapi jangan terlalu memaksakan diri, My Beautiful Angel." ucapan Sai sukses membuat pipi Ino semakin memerah.
"H-hai." Ujar Ino tergagap. Sai memang selalu memperlakukannya dengan manis walau kadang perlakuannya salah waktu dan salah tempat.
"Ehem." Tsunade berdeham keras, menyadarkan sepasang anak manusia yang sedang dilanda asmara.
Bisa-bisanya kedua anak manusia itu bermesraan di saat seperti ini, pikir Tsunade. Sakura, Naruto, dan Sasuke hanya mendengus sebal saat melihat pasangan di depan mereka. Sai dan Ino terkenal se-Konoha Raya sebagai pasangan yang paling hobi pamer kemesraan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Bahkan tempat seseram ruang interogasi pun dapat dipenuhi aura pink akibat adegan drama romantis mereka berdua.
"Mari kita mulai sesi interogasi Hatake Kakashi." Ujar Tsunade setelah memastikan Ino keluar dari ruang interogasi dan mengunci ruangan tersebut. Tak lupa Tsunade meminta Ino untuk memasang kekkai agar acara mereka tidak terganggu interupsi dalam bentuk apapun.
"Hatake Kakashi!" panggil Tsunade.
"Hai."
"Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Tolong jawab dengan jujur atau aku akan memanggil Yamanaka Ino untuk membuka ingatanmu. Di sini ada keempat muridmu yang akan menjadi saksi." Tsunade memulai sesi bullying terhadap penerusnya.
"Hai." balas Kakashi pasrah.
"Jelaskan kepadaku! Apa sebenarnya hubunganmu dengan Shizune?"
"Er." Kakashi tampak berpikir. Butuh waktu lebih dari enam puluh detik bagi Kakashi untuk menjawab pertanyaan Tsunade.
"Teman seangkatan di akademi." jawab Kakashi dengan diplomatis.
"Hanya itu?" balas Tsunade sambil memicingkan mata.
"Tentu saja." jawaban santai Kakashi membuat emosi Tsunade kembali tersulut. Melihat kerutan di dahi Tsunade, mau tidak mau Kakashi kembali memutar otak untuk memberikan jawaban yang dapat memuaskan godaime.
"Yare-yare. Kami juga rekan sejawat sesama jounin, iryou-nin dan pasien." Kakashi tampak canggung saat mengucapkan bagian ini, "Lalu hokage dan asisten."
"Aku tidak yakin kalau hubungan kalian hanya sebatas itu."
Kakashi menghela nafas. Pada kenyataannya hubungannya dengan Shizune hanya sebatas itu. Kalaupun waktu itu ia kelepasan, semua murni kekhilafan mereka.
"Sejujurnya aku dan Shizune tidak ada hubungan apa-apa diluar itu."
"BOHONG! Setidaknya apakah kalian pernah berkencan?" Tanya Tsunade.
"Er, tidak." balas Kakashi sedikit ragu karena sekelebat kenangan masa lalu bersama Shizune mendadak muncul di benak Kakashi.
"Ja-jadi, kalian melalukan one night stand?" tanya Tsunade dengan sedikit bergetar akibat menahan amarah.
"Tidak seperti itu juga, Tsunade-sama."
"Jawab yang jujur!" bentak Tsunade, membuat Kakashi menghela nafas.
"Baiklah. Kami pernah berkencan sekali, saat kami berumur 13 tahun." ucapan Kakashi terhenti akibat kikikan heboh Sakura, yang langsung terdiam begitu Tsunade menatapnya tajam. Sang gadis merah muda tidak pernah menyangka kalau sensei tersayangnya ternyata bisa melakukan hal manis seperti mengajak seorang gadis kencan.
"Waktu itupun kami hanya makan di Ichiraku Ramen untuk merayakan keberhasilan misi tingkat A pertama Shizune, saat itu aku ketua kelompoknya jadi kami makan bersama." jelas Kakashi dengan semburat merah yang tersembunyi di balik maskernya. Pengakuan Kakashi langsung membuat para saksi semakin heboh.
"Kakashi-sensei, kau tidak kreatif sekali mengajak kencan di Ichiraku." goda Naruto.
"Bodoh! Seperti kau pernah mengajak Hinata kencan di tempat lain saja selain Ichiraku." bentak Sakura sambil menjitak kepala pirang Naruto.
"Ittai." rintih Naruto. "Setidaknya aku lebih kreatif daripada teme yang hanya mengajak kencan di kuburan." Naruto membahas kebiasaan Sakura dan Sasuke mengunjungi makam keluarga Uchiha saat acara kencan mereka. Sial untuk Naruto, penuturannya malah membawa satu benjolan lagi di kepala pirangnya, pemberian Sasuke Uchiha.
"Kalian memang payah dan tidak punya selera yang bagus dalam memilih tempat kencan." ujar Sai sambil menghela nafas dramatis. Ucapannya langsung menyulut amarah ketiga anggota tim 7 yang lain.
Tsunade—kesal dengan kelakuan bocah-bocah di belakangnya—hanya mengerutkan dada dan berbalik menghadapi Hatake Kakashi, berusaha mengabaikan keempat bocah berisik hasil didikan rokudaime.
"Setelah itu? Pernahkah kau berhubungan dengan Shizune, lagi?" tanya Tsunade.
"Sayangnya tidak, Tsunade-sama. Tidak lama setelah itu kau membawa Shizune keluar dari desa." jelas Kakashi yang langsung diamini oleh Tsunade dalam hati. Semenjak kematian Katou Dan, Shizune—yang sebatang kara—menjadi pengikut setia Tsunade. Bisa dibilang setelah 20 tahun kebersamaan mereka, Tsunade sudah benar-benar menganggap Shizune sebagai putrinya sehingga ia tidak terima jika ada tangan jahil yang berani mengusik Shizune—sekalipun tangan jahil itu milik penerusnya, rokudaime hokage.
"Dan sekarang ceritakan bagaimana" Tsunade terdiam sebentar, menutup matanya sejenak untuk menentramkan hati "bagaimana kau dan Shizune bisa memiliki anak?"
Sekarang giliran Kakashi yang terdiam. Jelas terpancar raut penyesalan dari kedua bola matanya.
"Semua memang tidak direncanakan. Saat itu malam pengangkatan hokage baru. Beberapa jounin mengadakan after party di sebuah kedai. Shizune datang ke sana. Kami hanya mengobrol sambil minum sake."
Kakashi berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang memburu, seolah dikejar kenangan masa lalu.
"Saat itu Shizune mabuk dan ia mulai meracau aneh-aneh. Karena tidak ada lagi jounin yang cukup sadar untuk mengantar Shizune pulang, jadi akhirnya aku yang mengantarnya pulang." jelas Kakashi.
"Lalu?"
"Anda sedang berada entah di mana saat aku mengantar Shizune pulang." Kakashi tampak semakin ragu. "Dan terjadilah semua itu."
Tsunade menghela nafas dan merasa kecolongan. Tetapi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Kakashi. Shizune memiliki kecenderungan agak liar saat bersentuhan dengan alkohol dan tidak ada yang lebih pantas untuk disalahkan selain Tsunade atas kebiasaan Shizune yang aneh tersebut. Ia yang pertama kali mengajarkan Shizune menikmati alkohol.
"Maafkan aku, Tsunade-sama. Aku memang belum terlalu mabuk saat itu dan aku cukup sadar saat, melakukannya."
"Lalu kenapa kau lakukan?" tanya Tsunade.
"Er, kalau itu" belum sempat Kakashi menjawab, Tsunade sudah memotong ucapannya.
"Apapun alasan mu, aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin tahu bagaimana rencanamu selanjutnya." ujar Tsunade.
Kakashi tampak berpikir walaupun ia tahu jika pertanyaan Tsunade hanya sebuah pertanyaan retoris. Sebenarnya mudah saja menjawab pertanyaan Tsunade, bertanggung jawab dengan menikahi Shizune dan semua beres.
"Aku akan bertanggung jawab." jawab Kakashi santai namun penuh kesungguhan.
"Lalu?" Tsunade mengharapkan jawaban yang lebih dari itu.
"Lalu anak itu akan lahir dengan memiliki orang tua yang lengkap dan sah secara hukum dalam pernikahan." balas Kakashi lagi.
"Hanya itu? Sesederhana itu?" emosi Tsunade kembali tersulut. "Kau pikir hanya dengan menikahi Shizune semua masalah akan selesai. Anak bukan hanya sekedar butuh pengakuan hukum semata, ada sesuatu yang lebih dari itu."
Kakashi menghela nafas, "Ya, dan aku akan memastikan anakku mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar pengakuan hukum. Lebih dari itu, semua karena"
Dan ucapan Kakashi selanjutnya dapat meluluhkan keraguan di benak Tsunade.
Kakashi menghela nafas sekali lagi. Sudah sepuluh menit ia berdiri di depan pintu berpelitur sebuah apartemen yang terletak di bagian timur Konoha, tidak jauh dari Hokage Administration Building. Sesekali ia tampak seperti akan mengetuk pintu tersebut, tetapi sedetik kemudian ia mengurungkan niat. Sang Hatake tampak ragu.
Apa yang harus ia lakukan jika bertemu Shizune?
Bagaimana memulai pembicaraan mengenai kondisi Shizune?
"Hokage-sama?"
Suara merdu namun bernada ragu mengembalikan Kakashi ke alam sadar. Ia tampak bingung sejenak—tidak terbiasa dengan title baru yang disandang—sebelum berbalik dan mendapati sang pemilik apartemen sedang berdiri tepat di belakangnya. Katou Shizune kaget saat melihat Kakashi termenung di depan pintu apartemennya. Shizune belum terlalu aktif membantu Kakashi dalam menjalankan tugas sebagai hokage dikarenakan kesibukan sang wanita di Rumah Sakit Konoha pasca perang. Masih banyak shinobi yang membutuhkan perawatan medis dan sebagai salah satu ninja medis terbaik yang pernah dicetak oleh Konoha, tentu saja Shizune ikut terlibat dalam kericuhan tersebut. Maka tidak salah jika Shizune merasa canggung saat melihat sosok rokudaime, terlebih lagi ada sesuatu di antara mereka.
"Aah, Shizune." balas Kakashi sambil menatap kedua bola mata Shizune, berusaha menilai sang wanita yang masih terkejut akan kehadiran rokudaime hokage. Wajahnya yang biasanya berseri tampak pucat dan tergambar jelas raut kelelahan di wajah sang iryou-nin.
"A-ada apa, Hokage-sama? Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Shizune agak terbata. Kakashi dapat menangkap kegugupan yang terselip diantara pertanyaan Shizune.
Kali ini Kakashi yang tampak kikuk. Tanpa sadar ia menggaruk bagian belakang helaian surai silver miliknya. Walau tertutup oleh masker, Shizune dapat melihat raut kebingungan di wajah Kakashi.
"Aku ingin berbicara sesuatu denganmu." ucap Kakashi.
Shizune tampak tegang, namun ia segera mengendalikan ketegangannya dan berusaha terlihat santai.
"Mengenai pekerjaan? M-maaf aku belum bisa membantumu di kantor."
"Shizune."
Ocehan Shizune terhenti saat mendengar Kakashi memanggil namanya. Kedua bola mata Kakashi sekali lagi menatap lekat ke arah Shizune, penuh kepastian.
"Aku yakin kau tahu apa yang ingin ku bicarakan." Kakashi terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya "Dan aku yakin kau tahu betul ini bukan tentang pekerjaan."
Shizune kembali tegang. Tebakan Shizune, Kakashi sudah mengetahui hal itu dan Kakashi memang memiliki hak untuk tahu. Cepat atau lambat, ia memang harus berhadapan dengan Kakashi untuk membicarakan hal yang terjadi di antara mereka.
"Baiklah Hokage-sama. Kita bicarakan di dalam." ujar Shizune sambil berjalan ke arah pintu apartemennya.
Shizune datang membawa secangkir ocha hangat untuk Kakashi yang sedang duduk tenang di ruang keluarga. Tidak lupa juga sang kunoichi membawa senbei yang baru dibelinya tadi pagi. Shizune meletakan cangkir ocha dan kudapan di hadapan Kakashi sebelum ia meletakan baki di bawah coffee table dan menyamankan diri di kursi yang berhadapan dengan sang hokage.
"Silakah dinikmati—er—Hokage-sama." ujar Shizune memecah keheningan. Ia duduk dengan gelisah dan menundukan kepala, tidak sanggup untuk menatap Kakashi secara langsung.
"Shizune." panggil Kakashi.
"Ya, Hokage-sama."
"Tolong jangan panggil aku hokage-sama. Agak aneh mendengar panggilan itu darimu." Terdengar nada memohon dari sang copy ninja.
"Ma-maksud anda?" tanya Shizune sungkan.
"Maksudku, kau bisa memanggilku seperti dahulu. Ayolah, kita satu angkatan di akademi. Tidak perlu embel-embel hokage atau sama dan kau tidak perlu sungkan padaku."
"Tidak bisa. Tetap saja aku harus menghormati Anda karena sekarang Anda pemimpin desa ini."
"Shizune, tolonglah. Kau hanya boleh memanggilku dengan sebutan itu di momen-momen formal saja." terdengar nada memohon dari shinobi yang sedang duduk tepat di hadapan Shizune.
"Baik, Kakashi-sama."
"Shizune." pinta Kakashi lagi. Percakapan tidak penting, tetapi Hatake Kakashi tidak tahu lagi cara yang harus dilakukannya untuk memulai pembicaraan.
"Ba-baiklah, Kakashi-san." ujar Shizune masih sambil menunduk dan tidak berani menatap pria di hadapannya.
"Itu terdengar jauh lebih baik. Sekarang langsung ke inti masalah, mengenai malam itu."
Dan Shizune tampak semakin gelisah saat Kakashi mulai mengangkat topik yang sangat sensitif baginya. Kejadian yang menjadi mimpi buruknya selama dua bulan terakhir kembali berkelebat di benak Shizune.
"Jadi, sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Kakashi retoris. Ia masih ingat betul detail peristiwa yang melibatkan dirinya dan Shizune. Bahkan mungkin Kakashi tidak akan pernah lupa, kehilangan keperjakaan di hari yang sama dengan pengangkatannya sebagai hokage. Shizune tidak langsung menjawab, ada jeda panjang di antara mereka.
"Dua bulan."
"Dan kapan kau mengetahui kehamilanmu?" tanya Kakashi, pertanyaan sungguhan untuk kali ini.
"Bulan lalu."
"Dan kau tidak langsung memberitahuku?" tanya Kakashi lagi. Pertanyaan dengan nada datar tersebut menusuk Shizune, membuatnya seolah sedang menjalani sesi interogasi dengan Morino Ibiki.
"Mengapa Shizune?" tanya Kakashi sekali lagi. "Aku berhak tahu kalau kau mengandung anakku."
"Untuk apa? Untuk apa aku harus memberitahu anda, Rokudaime-sama?" kini Shizune buka suara. Suaranya bergetar, seolah menahan tangis.
"Shizune, tentu saja aku berhak tahu. Yang kau kandung itu adalah anakku."
"Dari mana kau tahu kalau ini anakmu?" Tanya Shizune, setitik air mata yang semula berkumpul dipelupuk mata mulai turun.
"Shizune, apa yang kau katakan?" Kakashi terdengar gusar, semakin bingung dengan arah pembicaraan Shizune.
"Apakah hanya kau yang pernah melakukannya denganku? Bisa saja aku melakukannya dengan pria lain."
"CUKUP SHIZUNE!" untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Kakashi kehilangan kesabaran dan melupakan ajaran Minato-sensei dan Jiraiya-sama untuk selalu berlaku sopan pada wanita.
"Maaf Shizune, aku membentakmu. Aku yakin kau bukan wanita seperti itu. Dan saat kita—err—melakukannya, aku tahu itu yang pertama kali bagimu." jelas Kakashi.
Kali ini Shizune terdiam.
"Kalau kau mau tahu, itu bukan hanya yang pertama untukmu." Kakashi sedikit tersipu, "Itu juga jadi yang pertama bagiku. Tapi bukan itu masalahnya. Seharusnya kau memberitahuku kalau setelah kejadian itu kau mengandung."
"Memang kau akan mempercayaiku?" tanya Shizune tiba-tiba.
"Eh? Maksudmu?"
"Apakah kau akan percaya kalau aku bilang aku mengandung anakmu?"
Tentu saja aku percaya, teriak Kakashi dalam hati.
"Apakah kau tidak akan meragukannya? Tiba-tiba ada wanita datang ke kantormu dan mengaku telah mengandung anakmu?"
"Ditambah lagi saat itu kau baru menjabat sebagai Hokage, seluruh perhatianmu harus tercurah pada desa yang porak-poranda. Aku tidak boleh egois meminta perhatianmu atau mengalihkan perhatianmu dari desa yang sangat membutuhkanmu."
Dan tangis Shizune pun pecah di hadapan Kakashi.
"Aku rasa kau pasti masih dihantui oleh kejadian malam itu. Aku benar-benar minta maaf." lanjut Kakashi sambil membungkuk ke arah Shizune.
"Aku tahu aku sudah melakukan sesuatu yang salah dan mengambil sesuatu yang paling berharga darimu. Dan sekarang kau—ehm—mengandung. Maka dari itu, aku akan bertanggung jawab. Menikahlah denganku dan kita akan membesarkan anak itu bersama."
"Kakashi-san." panggil Shizune. Sebenarnya Shizune sudah menduga kalau maksud kedatangan Kakashi adalah untuk membahas kandungannya. Tetapi demi Tuhan, tidak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiran Shizune kalau Kakashi akan melamarnya.
"Aku sudah membuat keputusan. Aku memiliki bagian atas anakku dan aku ingin ia mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya. Maka dari itu, menikahlah denganku." ajak Kakashi sekali lagi. Shizune terdiam saat mendengar lamaran rokudaime.
"Kakashi-san, aku masih terbayang-bayang kejadian malam itu, yang jujur saja tidak dapat aku ingat dengan baik." ujar Shizune setelah jeda panjang yang terasa tidak nyaman bagi mereka berdua.
"Tapi kesalahan bukan sepenuhnya ada padamu. Aku terlalu mabuk untuk sekedar menolak melakukan hubungan badan denganmu. Aku juga sama bersalahnya dengan mu."
"Sebenarnya menurutku tidak ada yang salah dengan semua ini." ujar Kakashi datar.
"Maksudmu?" tanya Shizune, bingung tentunya.
"Tidak ada yang salah dengan malam itu, tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan. Ayolah, kita sudah sama-sama dewasa dan tentu saja naluriah untuk melakukannya. Tidak ada yang salah dengan yang kita lakukan."
"Sudah cukup!" Belum sempat Kakashi melanjutkan ucapannya, Shizune memotong penjelasan Kakashi.
"Sudah cukup, Kakashi-san. Jangan membuat seolah perbuatan amoral kita terdengar wajar. Juga tolong, jangan memperpanjang masalah ini. Memang terdengar sepihak, tapi aku juga sudah membuat keputusan. Aku akan membesarkan anak ini sendirian. Kau tidak perlu bertanggung jawab. Terima kasih atas kesediaan mu bertanggung jawab."
Shizune sedikit terengah-engah. Jejak air mata terlihat di kedua matanya.
"Kenapa?" tanya Kakashi.
"Seperti yang sudah aku bilang, semua ini tidak seharusnya terjadi. Aku harusnya bisa menjaga diri dari hal semacam ini dan ini adalah akibat yang harus aku terima akibat perbuatanku sendiri."
"Perbuatan kita berdua, Shizune." ralat Kakashi.
"Tapi pada akhirnya AKU yang harus menanggung semua konsekuensinya. Dan KAU, apakah kau tidak menyadari posisimu sekarang?" tambah Shizune, dengan nada sedikit kasar.
"Kau adalah hokage! Semua gerak-gerikmu menjadi sorotan seluruh orang di Desa Konoha, bahkan di seluruh Negara Api dan seluruh dunia! Apa kata semua orang jika mengetahui kalau kau punya anak dariku DI LUAR PERNIKAHAN? Rokudaime hokage menghamili asistennya!" Shizune sudah tidak memperdulikan urusan tata karma, persetan nanti ia akan dicap tidak sopan karena membentak hokage.
"Tugasku sebagai hokage hanya melindungi desa, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadiku."
"Tentu saja ada! Aku tidak mau anakku nantinya"
"Anak kita." ralat Kakashi lagi.
"Baiklah, anak kita. Aku tidak ingin anak kita tumbuh dengan perasaan bersalah atas kelahirannya. Aku tidak mau anak kita berpikir kalau kita menikah hanya karena menutupi keberadaannya yang datang lebih cepat. Aku tidak mau membesarkannya dengan tipuan bernama pernikahan tanpa cinta diantara kedua orang tuanya. Aku tidak mau anak ini nanti di cap sebagai anak dari wanita yang menggoda hokage sehingga terpaksa bertanggung jawab atas keberadaannya. Tentu saja tidak! Aku akan melindungi anakku dari hal-hal terkutuk seperti itu. Aku ingin membesarkan anakku dengan cinta."
Kakashi terdiam. Ada satu hal yang luput dari pengamatannya.
Setiap pernikahan harus dilandasi cinta, eh, Hokage-sama?
"Maka dari itu aku menolak ajakanmu untuk menikah. Sudah cukup masalah yang timbul akibat perbuatan kita. Aku tidak mau membuat skandal lebih besar lagi dan yang paling penting aku tidak ingin menipu anak kita dengan pernikahan palsu. Aku akan keluar desa dan melahirkan anak ini jauh dari Konoha dan mulai hidup dari awal dengan tenang."
Kakashi terpekur, jadi ia baru saja ditolak oleh Shizune?
"Dan kau mau memisahkanku dengan anakku?" tanya Kakashi dengan setengah mengintimidasi.
"Kau boleh mengunjunginya sewaktu-waktu." balas Shizune.
Kembali terjadi hening di antara mereka sampai Kakashi buka suara.
"Kalau aku menolak alasanmu, bagaimana?" ujar Kakashi, masih dengan nada mengintimidasi.
"Maksudmu?"
"Aku tidak menerima alasan dan rencanamu yang tidak masuk akal itu. Aku akan tetap bertanggung jawab, sekalipun kau tidak mau. Suka atau tidak suka." Ujar Kakashi sepihak sebelum beranjak dari ruang tamu Shizune dan undur diri lewat jendela yang terbuka lebar.
To be Continued
Author's Note
Finally, the second chapter released! Terima kasih para reader, reviewer, serta rekan-rekan yang sudah follow dan favourite cerita ini. Jujur, kaget karena ternyata ide iseng saya cukup mendapat dukungan. Maaf untuk slow respond karena terbentur kesibukan di dunia nyata. Terima kasih juga untuk masukan yang diberikan. I am currently taking my baby step on writing a story and those supports encourage me to write more and better.
Salam,
~DRD
February 19, 2016. 11:59 PM
