Our Wedding
Pernikahan Hinata dan Sasuke sudah berjalan selama satu bulan. Selama itu, Sasuke masih tetap bersikap baik layaknya seorang suami pada Hinata. Hinata hanya belum tahu, bahwa semua yang Sasuke lakukan padanya hanyalah suatu sandiwara agar Sasuke mendapatkan kepercayaan dari Hinata. Sasuke membutuhkan uang yang lebih banyak untuk mencari seseorang yang berasal dari masa lalunya. Bayaran yang diterimanya sebagai presdir tidak cukup, karena pada dasarrnya Sasuke bukanlah pemegang saham terbesar di perusahaan yang dipimpinnya.
Semua uang hasil kerja kerasnya dalam menjalankan perusahaan sebagian besar ditransfer pada tabungan milik Hinata, karena dialah pemilik saham terbesar yang sebenarnya. Karena itulah Sasuke saat ini membutuhkan kepercayaan dari Hinata, agar Hinata mau membalik nama semua saham yang dimilikinya menjadi atas nama suaminya, Sasuke. Sedikit demi sedikit, Sasuke mulai mendapatkan kerpercayaan itu dari Hinata. Jika waktunya sudah tepat, Sasuke akan mengutarakan keinginannya tersebut pada Hinata. Dengan sikap lembut yang dilakukannya selama ini, Sasuke yakin kalau Hinata akan menuruti keinginannya dengan senang hati.
Warning : AU, [miss]TYPO, minim dialog, alur cepat, dsb.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate: T
Pairing : Sasuke x Hinata
Genre : Romance, Hurt/comfort
Our Wedding
Seperti biasa, pagi ini Hinata bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan Sasuke belum dia berangkat ke kantor. Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang yang nantinya akan dibawa sasuke, Hinata kembali naik ke kamarnya untuk melihat Sasuke yang dari tadi belum turun. Padahal jam segini Sasuke sudah harus berangkat ke kantor. Hinata perlahan-lahan membuka pintu kamarnya dan melihat Sasuke yang masih berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya, nampak seperti sedang kesulitan memasang dasi yang dikenakannya.
"Ke-kenapa tidak memanggilku ? A-aku kan bisa membantu", tanpa menunggu perintah dari Sasuke, hinata segera mengambil alih pekerjaan suaminya itu.
"Kau juga sedang sibuk, aku biasanya juga bisa memasangnya sendiri", Sasuke membiarkan Hinata memasangkan dasinya.
"Ta-tapi lihat, bahkan se-sepertinya kau akan terlambat ke kantor ha-hanya karena dasi ini"
"Hn",
Sasuke memperhatikan wajah Hinata yang sedang serius memasangkan dasi padanya. Sasuke baru sadar kalau istrinya itu memiliki wajah yang cantik. Mata tanpa pupil -ciri khas Hyuuga- yang tampak teduh, hidung kecil dan mancung, kulit yang putih bersih, dan bibir tipis yang berwarna pink cerah.
Untuk pemikirannya yang terkhir, Sasuke terus mengamati bibir Hinata. Selama ini Sasuke memang sering memberikan kecupan ringan pada Hinata, tapi itu bukan dibibir. Melainkan tempat lain seperti kening atau pipi Hinata. Sasuke belum pernah melakukannya dibibir Hinata sekalipun.
Tanpa sadar, Sasuke memegang kedua bahu Hinata yang masih sibuk merapikan dasinya dan mendekatkan wajahnya pada Hinata. Hinata yang masih sibuk dengan aktivitasnya, terpaksa harus berhenti karena merasakan sentuhan di bahunya yang Hinata yakini itu berasal dari Sasuke.
"Kenap-", Hinata baru akan bertanya pada Sasuke, tapi sebelum selesai dengan ucapannya, Hinata sudah merasakan sesuatu yang terasa lembut dan basah menyapu bibirnya.
Hinata sangat terkejut dengan perlakuan Sasuke yang tiba-tiba, mencengkram dasi yang masih dipegannya dengan kuat. Gugup jelas saja Hinata rasakan, karena ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti ini dari Sasuke, mengingat dirinya belum pernah sekalipun dicium Sasuke tepat dibibir.
Awalnya Sasuke hanya menyentuhkan permukann bibirnya saja pada bibir Hinata, tapi seakan merasa ketagihan dengan sensasinya yang memabukkan Sasuke mulai mengecup bibir bawah Hinata berkali-kali dengan lembut. Hinata dengan gerakan kaku membalas ciuman Sasuke dan memjamkan kedua matanya mencoba menikmati momen langka ini dengan suaminya.
Mendapat respon yang cukup baik dari Hinata, Sasuke tidak sungkan-sungkan lagi dan langsung melumat penuh bibir Hinata. Hinata jelas kuwalahan menghadapi ciuman yang Sasuke lakukan itu. Tangan kanan Sasuke mulai bergerak ke belakang leher Hinata dan menekannya sedikit untuk memperdalam ciumannya sedangkan tangannya yang lain menarih pinngang Hinata agar lebih menempel padanya. Tangan Hinata pun kini telah berpindah menjadi mencengkram kedua bahu Sasuke sampai tampak kusut.
"Nggnh...", Hinata sudah hampir kehabisan napas karena ciuman yang Sasuke berikan. Mendengar lenguhan dari Hinata, Sasuke tersadar akan perbuatan yang dilakukannya dan segera melepaskan pangutannya pada Hinata dan mengambil jarak yang cukup jauh dari Hinata.
"Ma-maaf", Sasuke merasa sedikit gugup karena perbuatan lancang yang baru saja dilakukannya pada Hinata. Sebenarnya hal itu wajar saja dilakukan mengingat mereka adalah pasangan suami-istri. Tapi Sasuke merasa perbuatannya barusan salah karena Sasuke merasa dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada Hinata. Walau begitu, wajah Sasuke tetap bersemu merah jika mengingat ciuman yang baru saja dilakukannya dengan Hinata.
"Ti-tidak apa-apa", wajah Hinata pun sudah berubah warna menjadi merah seluruhnya. Malu jelas saja dirasakannya, tapi di balik itu semua, Hinata merasa senang karena itu artinya Sasuke sudah mulai memiliki perasaan pada Hinata.
"ehem, aku harus berangkat ke kantor sekarang", untuk mengakhiri suasana canggung yang tercipta saat ini, Sasuke segera memakai jasnya dan berjalan keluar kamar.
Hinata mengambilkan tas kerja Sasuke dan mengikuti Sasuke keluar kamar. Sampai di pintu, Hinata menyerahkan tas itu pada Sasuke.
"Aku berangkat dulu", Setelah mengatakan itu, Sasuke memasuki mobilnya dan melajukan mobil tersebut. Didalam mobil Sasuke menyentuh bibirnya, rasa hangat karena ciumannya tadi masih begitu terasa. Sasuke jadi ingin melakukannya lagi.
"Bodoh, sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan", Sasuke mengumpat pada dirinya sendiri karena pemikirannya itu.
Setelah melihat Sasuke pergi, Hinata kembali masuk ke dalam rumah. Hinata berhenti di depan dapur dan melihat bekal makan siang yang tadi dibuatnya lupa tidak dibawa oleh Sasuke.
"Sepertinya aku harus mengantarkannya lagi", ini memang kadang terjadi, jika sedang terburu-buru Sasuke pasti lupa membawa bekal makan siang yang sudah Hinata siapkan, dan jika sudah tiba waktunya makan siang Sasuke baru ingat sudah meninggalkan bekalnya dirumah dan akhirnya dia akan menelpon ke rumah dan menyuruh Hinata untuk mengantarkannya ke kantor. Seakan sudah terbiasa dengan hal itu, Hinata kali ini berinisiatif untuk mengantarkannya sendiri tanpa menunggu telepon dari Sasuke.
Our Wedding
Sasuke berjalan cepat menuju ruangannya dan mengabaikan sapaan hormat dari para pegawainya. Sebelum memasuki ruang kerjanya, Sasuke berhenti di meja kerja sekretaris yang ada di depan ruangannya.
"Apa Kakashi sudah datang ?", tanya Sasuke pada Shizune, sekretaris pribadinya.
"Belum Uchiha-sama, Kakashi-san belum datang", jawab Shizune
"Hn. Kalau dia sudah datang, suruh saja dia langsung masuk ke ruanganku", Perintah Sasuke.
"Baik, Uchiha-sama"
Our Wedding
Sasuke menunggu dengan tidak sabar diruangannya. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikannya dengan Kakashi dan sebentar lagi Sasuke harus menghadiri rapat penting dengan di ruang kerjanya terbuka dan menampakkan seseorang yang dari tadi ditunggu olehnya.
"Kenapa kau lama sekali ?", Sasuke langsung bertanya begitu Kakashi duduk di depannya.
"Kau pikir clientku hanya kau saja. Aku juga masih punya pekerjaan lain yang harus kuselesaikan", jawab Kakashi dengan entengnya.
"Hn. Apa kau sudah membawa dokumen yang kuinginkan ?"
"Ini, semuanya ada disini", Kakashi menyerahkan beberapa dokumen pada Sasuke.
"Ini hanya perlu ditandatangani oleh Hinata kan ?", Sasuke melihat dan membaca dokumen yang Kakashi berikan sejenak sebelum kembali bertanya padanya.
"Hn. Kau hanya perlu menyuruh istrimu menandatanganinya dan setelah itu, semua saham yang dimilikinya akan menjadi milikmu seluruhnya", Jelas Kakashi
"Bagus", Sasuke sedikit menyeringai mendengar itu. Akhirnya semua sandiwaranya selama ini akan berakhir.
"Setelah kau mendapatkan semuanya dari Hinata, apa yang akan kau lakukan padanya ?"
Mendengar pertanyaan Kakashi barusan, Sasuke baru ingat. Benar, apa yang akan dilakukannya pada Hinata nantinya.
"Apa kau akan menceraikannya ?", tanya Kakashi -lagi-
Apa Sasuke harus menceraikannya ?. Kalau boleh jujur, sasuke sebenarnya merasa sedikit kasihan dengan Hinata. Hinata tidak seperti gadis kaya lainnya. Jika gadis kaya lain akan senang menghambur-hamburkan uang demi menunjang penanpilannya, tapi berbeda dengan Hinata. Hinata bukanlah salah satu dari mereka. Hinata tidak suka pamer ataupun menghambur-hamburkan uangnnya demi untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkannya.
Hinata -istrinya- adalah pribadi yang sederhana dan Sasuke sedikit menyukai kesederhanaannya itu. Hinata merasa kasihan karena harus memanfaatkan gadis sebaik Hinata. Tapi apa boleh buat, Sasuke benar-benar memerlukan uang saat ini. Dan Hinata adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya saat ini.
"Ya, aku akan berpisah dari Hinata setelah semua harta yang dimilikinya menjadi milikku" jawab Sasuke pada akhirnya.
"Aku baru tahu kalau kau setega itu, tapi itu semua keputusanmu. Lagipula 'dia' juga tidak akan mau menerimamu lagi jika tahu kau sudah menikah".
"Hn. Urusanmu disini sudah selesai, sekarang pergilah", Sasuke merasa tidak nyaman dengan percakapan ini. Sasuke harus segera menyuruh Kakashi pergi sebelum keraguan mulai menyelimutinya dengan keputusan yang sudah diambilnya.
"Kau mengusirku ?. Baiklah, tapi jangan lupa memberikan bagianku jika kau sudah mendapatkan semuanya", setelah mengatakan itu Kakashi berdiri dan meninggalkan ruangan Sasuke.
Our Wedding
Beberapa menit setelah Kakashi datang, Hinata juga datang ke kantor suaminya dan dengan santai berjalan ke ruang kerja Sasuke. Sepanjang jalan, Hinata mendapat sapaan dari para karyawan yang ditemuinya dan Hinata membalas sapaan dari para pegawai suaminya itu. Mereka sudah sering melihat Hinata yang datang ke kantor untuk menemui Sasuke. Sebelum masuk keruangan Sasuke, Hinata bertanya terlebih dahulu pada Shizune.
"A-apa Sasuke-kun di dalam ?", tanya Hinata
"Iya, beliau ada di dalam bersama dengan Kakashi-san", Jawab Shizune
"Ba-baiklah, kalau begitu a-aku akan masuk", setelah berkata begitu pada Shizune, Hinata membuka pintu di depannya dengan hati-hati. Tapi baru saja akan masuh ke dalam ruangan itu, Hinata menghentikan gerakannya begitu mendengar percakapan yang terjadi antara Sasuke dengan pengacara pribadi keluarganya, Kakashi.
"Apa kau akan menceraikannya ?"
'Deg'
Siapa ?
"Ya, aku akan berpisah dari Hinata setelah semua harta yang dimilikinya menjadi milikku"
Tangan Hinata yang semula memegang kenop pintu langsung terjatuh begitu saja disisi tubuhnya.
"Aku baru tahu kalau kau setega itu, tapi itu semua keputusanmu. Lagipula 'dia' juga tidak akan mau menerimamu lagi jika tahu kau sudah menikah"
Hinata begitu shock dengan percakapan Sasuke dan Kakashi tersebut. Shizune yang melihat Hinata yang malah diam saja si depan pintu dan tidak segera masuk mengernyit bingung.
"Hinata-sama, kenapa anda tidak masuk ke dalam ?"
Hinata tersentak mendengar suara dari sekretaris pribadi suaminya itu.
"a-ah.. A-aku baru ingat ada urusan lain. Bi-bisa kau berikan ini pada Sa-sasuke-kun ?", Hinata menjawab pertanyaan Shizune dengan sedikit gugup.
"Tentu saja", Hinata mengambil alih bekal yang bibawa Hinata.
"Ka-kalau Sasuke-kun bertanya, bi-bilang saja kalau supir yang mengantarkannya. Ja-jangan katakan ka-kalau aku datang kemari", Setelah mengatakan itu, Hinata bergegas pergi. Jika terus berada disana, Hinata takut Shizune akan melihat air mata yang sudah tidak bisa lagi dibendungnya dan mulai mengalir dari pelupuk matanya.
Hinata seharusnya tahu, Sasuke tidak mungkin bisa menerima pernikahan ini dan mencintainya dengan mudah. Dia hanyalah gadis biasa yang beruntung karena terlahir dalam keluarga yang kaya raya.
Sekarang apa yang harus Hinata lakukan, dia baru saja menemukan kebahagiaannya kembali bersama Sasuke, apa sekarang Hinata harus melepaskan orang yang mulai dicintainya, memberikan semua yang dia miliki pada Sasuke dan pergi. Hinata juga sempat mendengar Kakashi menyebutkan seorang perempuan. Apa Sasuke sebenarnya mencintai wanita lain dan terpaksa menikahinya ?. Apa benar, Hinata harus melepaskan Sasuke, agar Sasuke bisa bersama dengan perempuan itu dan merelakan kebahagiaannya. Jika benar Sasuke menikahinya karena terpaksa, Sasuke pasti merasa sangat menderita karena harus selaalu bersama dengan dirinya, perempuan yang sama sekali tidak dicintainnya.
Air matanya kembali mengalir semakin banyak jika mengingat hal itu.
"Bagaimana ? .. hiks..Sekarang aku harus bagaimana ?.. hiks..",Kenapa takdir begitu kejam padanya. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain suaminya. Jika suaminya sendiri juga meninggalkannya, lalu, kemana lagi Hinata harus pergi. Hinata sudah tidak memiliki tempat untuk pulang selain bersama dengan suaminya.
"Apa aku tidak seberharga itu ?", Hinata menggumamkannya disela-sela tangisannya.
Our Wedding
Sasuke masih terus memandangi dokumen yang Kakashi berikan padanya. Sasuke masih menimbang-nimbang, apa benar dia setega itu pada Hinata. Bagaimanapun Hinata tidak tahu apa-apa tentang rencananya ini. Sejak awal, rencana Sasuke hanya untuk menguasai harta Hiashi yang dibutuhkannya untuk mencari seseorang. Menikahi Hinata, apalagi menyakitinya tidak termasuk dalam rencananya tersebut. Bahkan Sasuke tidak tahu kalau Hiashi memiliki seorang putri karena Sasuke tidak pernah melihatnya sebelum pertemuan mereka di rumah sakit. Sasuke sudah tidak tahu lagi harus bagaiman saat itu, karena dirinya sangat membutuhakan uang untuk mencari orang tersebut dan pada akhirnya Sasuke terpaksa menerima pernikahan ini.
Sasuke memijit keningnya yang terasa sedikit pusing. Pekerjaan kantor yang menumpuk, belum lagi dilema yang saat ini melandanya benar-benar menguras habis tenaganya.
Telepon di meja kerjanya tiba-tiba berdering, dengan malas sasuke menghampiri meja kerjanya dan mengangkat telepon itu.
"Ya"
"Kau sudah menemukannya ?"
"Dimana ?", Sasuke mengambil kertas di mejanya dan menuliskan sesuatu di atasnya.
"Baiklah. Aku sendiri yang akan kesana.", Sasuke sudah akan menutup telepon jika saja suara disana tidak menginterupsi kegiatannya.
"Uang ?. Tenang saja, akan aku transfer begitu aku menemuinya", setelah mengatakan itu, Sasuke benar-benar menutup teleponnya. Akhirnya sebentar lagi dia akan menemui seseorang yang sudah lama dicarinya.
TBC
HOORREEE...
Akhirnya saya bisa update chapter ini dengan cepat. Ini benar-benar diluar prediksi saya yang sebelumnya.
ini sudah saya edit karena banyak yg salah paham kalau sasuke udah nikah dulu sebelum nikah sama Hinata, padahal disitu maksud saya perempuan yg sedang dicari oleh sasuke yg gk bakal mau menerima Sasuke kalau perempuan itu tahu Sasuke sudah nikah sama Hinata.
maaf atas kecerobohan saya, karena berambisi pengen update cepet mumpung ada waktu luang, tapi malah jadi banyak kata ambigu yg nyelip dan banyak typos pula.
kedepannya saya akan berusaha lebih baik, termasuk masalah typo. saya akan mulai ngetik di laptop, bukan di Hp lagi. karena semua ff yg sudah saya publish ini semuanya saya ngetik di Hp, hasil dari nyuri-nyuri waktu walaupun tugas kuliah masih numpuk.
Oh ya, untuk chapter depan saya akan mulai menampilkan perempuan yang sedang dicari oleh Sasuke. Tapi saya masih bingung siapa karakter yang akan memerankannya. Saya mau minta bantuan dari para reader sekalian untuk memberikan saran pada saya mengenai siapa yang menjadi perempuan itu.
Semacam voting gitu, nanti yang paling banyak akan saya gunakan karakter yang disarankan oleh para reader sekalian.
Jadi, mohon bantuan dan bimbingan dari para reader sekalian ya... ^^
Special Thanks For :
Green Oshu, Ella9601, CallistaLia, hyacinth uchiha, NurmalaPrieska, Matsuda Yuiko, ChintyaRosita, Hana Yuki no Hime, sushimakipark, anita indah 777, Hyuga Coco, angels410, cintya cledizzlibratheea, Mishima, rinie okidoky, wahuu, wardah, Dwindi, lovely sasuhina, yuki, Guest, Lavender, hana, hyuga ashikawa.
Terima kasih pada para reader sekalian yang sudah mau membaca apalagi mereview ff saya...
Sampai jumpa di chapter depan...^^
R
E
V
I
E
W
^^...Please...^^
