Blam.

Suara dari pintu kantor Hokage yang ditutup mengalihkan padangan empat anak manusia yang tengah berada di dalam ruangan tersebut. Semenjak Hatake Kakashi menempati tahta tertinggi dalam struktur organisasi shinobi di Konoha, ruang hokage telah beralih fungsi menjadi tempat nongkrong kedua untuk Uzumaki Naruto, Haruno Sakura, Sai, Yamato, dan Uchiha Sasuke—jika sedang berada di Konoha—setelah Ichiraku ramen.

Suasana hening melanda saat Kakashi berjalan menuju singgasana hokage, menyisakan keempat muridnya yang manis dan penurut bertatapan bingung serta penasaran. Uzumaki dan Haruno adalah dua murid yang paling terlihat penasaran. Mereka tahu setelah insiden penggerebekan rokudaime hokage oleh godaime hokage, Hatake Kakashi menghilang dari jarak pandang mereka. Berdasarkan musyawarah yang berujung pada mufakat, mereka yakin jika Kakashi langsung menemui ibu dari calon anaknya. Sempat terucap oleh Naruto opsi Kakashi mengunjungi monumen pahlawan dan curhat pada Obito tetapi Sakura menolak kemungkinan itu mentah-mentah.

"Keterlaluan sekali Kakashi-sensei jika pergi ke monumen dan curhat pada seonggok batu dalam keadaan seperti ini." nyanyian merdu Sakura masih menggema di telinga Naruto.

Hampir setengah hari berlalu, Kakashi baru menampakkan batang hidungnya di kantor.

Naruto dan Sakura saling berpandangan. Saling memberi isyarat agar bertanya mengenai kondisi Kakashi tetapi yang mereka lakukan hanya adu pandangan sampai sebuah suara memecah keheningan.

"Jadi bagaimana kondisi Shizune-san, Hokage-sama?"


LOVE LIFE OF ROKUDAIME HOKAGE

a KakaShizu Fanfiction

.

Chapter 3 – Heart to Heart, Part I

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto


Terdengar suara Sai bertanya dengan nada penasaran. Naruto dan Sakura yang sedang adu pandangan langsung menoleh ke arah sang anggota ANBU yang tersenyum bak malaikat tanpa dosa. Sasuke hanya mendengus kecil, menyembunyikan seringai geli akibat penuturan polos dari anggota tim tujuh yang termuda.

"Sai, kau benar-benar!" Naruto berteriak dalam hati setelah melihat kepolosan temannya. Pada akhirnya setelah semua yang mereka lalui, Sai tetaplah Sai. Walaupun sudah melewati perang dunia dan serangkaian peristiwa yang mencampuradukan emosi, Sai tetaplah mantan prajurit ANBU Ne yang pernah kehilangan emosi dan interaksi sosial.

"Hei. Apa maksudmu Sai? Bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu? Belum tentu Kakashi-sensei baru saja menemui Shizune-senpai." tanya Sakura canggung tetapi dalam hati ia berteriak dengan keras, NICE SAI! Ayo korek lebih dalam!

"Mudah saja. Pertama, Kakashi-sama tidak ada di monumen saat kita melewati monumen ketika hendak kembali ke sini. Dan jelas beliau tidak ada di ruangan saat kita tiba. Saat makan siang di Ichiraku pun tidak ada. Tidak mungkin bersama Guy-san karena aku melihat beliau mengawasi Lee-san latihan. Tidak ada jadwal rapat hari ini karena rapat jounin sudah dilaksanakantadi pagi dan hanya intern jounin saja. Pembagian misi sudah dilaksanakan tadi pagi. Tidak ada kunjungan ke akademi karena kunjungan rutin akademi di hari Selasa dan sekarang sudah Kamis. Tadi Sakura-san sempat ke rumah sakit sebentar, seharusnya Sakura-san tidak terkejut saat melihat Kakashi-sama kalau bertemu di rumah sakit dan"

Sai tampak berpikir dalam, sementara keempat orang lainnya tercengang—antara kagum dan ngeri—dengan kemampuan observasi dan analisa Sai yang sangat tajam dan mendetail.

"dan aku bisa mencium wangi jasmine seperti yang menguar dari tubuh Shizune-san saat merawatku setelah perang ketika Kakashi-sama melewatiku tadi." Sai mengakhiri penjelasannya dengan senyuman.

Terjadi keheningan—lagi—setelah penjelasan Sai, menyisakan Naruto dan Sakura yang semakin bergidik ngeri tapi penasaran. Sasuke sudah kembali memasang tampang stoic dan Kakashi hanya memandang ke luar jendela ruangan hokage. Entah emosi apa yang ditampakan sang sensei.

"Ya, aku baru menemui Shizune." ujar Kakashi. Ia harus mulai jujur pada muridnya soal kehidupan pribadinya, walau tidak seperti Minato yang bisa blak-blakan pada Kakashi kecil saat menceritakan hubungannya dengan Kushina. Harap catat, blak-blakan konteks Minato adalah blak-blakan dalam arti sebenarnya.

"Lalu?" kali ini Naruto yang bertanya penasaran, Sakura yang berdiri tepat di sebelah Naruto langsung memberikan tatapan galak dengan maksud meyuruh Sang Uzumaki diam.

"Maa, aku ditolak." ujar Kakashi sambil berbalik menghadapi murid-muridnya.


"Maksudmu ditolak?" ujar Guy setengah berteriak di hadapan sang rival masa muda yang sedang berkunjung ke rumahnya.

Udara sore Konoha yang cerah membuat rokudaime agak malas untuk mengurusi perintilan desa. Ia memilih untuk berjalan-jalan santai dan mengunjungi sahabatnya—yang masih hidup tentu saja—untuk sekedar bercerita tentang kegalauan hatinya, terutama masalah penggerebekan dirinya oleh Tsunade tiga hari yang lalu dan berujung penolakan Shizune.

"Ya, dia bilang tidak mau menikah denganku hanya karena kehadiran bayi kami." Balas sang hokage dengan sendu. Jarang sekali Guy melihat sosok Kakashi yang gamang seperti saat ini.

"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Guy lagi.

"Ehm, aku tidak peduli. Kau akan tetap menikah denganku." jawab Kakashi santai yang langsung disambut dengan tawa lebar dari Guy.

"HAHAHHAHA, NICE JOB, ROKUDAIME HOKAGE-SAMA! KAU MEMANG RIVAL MASA MUDA ABADIKU!" teriak Guy sambil berurai air mata bahagia.

"Hah?" Kakashi memiringkan kepalanya, tanda kebingungan akibat ulah Guy.

Sebersit perasaan rindu pada sosok Asuma menjalar di benak Kakashi. Setidaknya Asuma mungkin bisa dimintai pendapat dan diajak berdiskusi lebih serius jika menyangkut masalah wanita, tidak seperti Guy yang—well—sama mengenaskannya dengan Kakashi dalam hal percintaan tetapi selalu bertingkah layaknya Cupid, sang dewa asmara.

"Ayolah Kakashi! Masa kau tidak mengerti wanita sama sekali."

"Maksudmu?"

"Ehm." Guy berdeham serius.

"Wanita itu adalah makhluk paling membingungkan yang pernah ada. Disatu sisi, mereka haus akan belaian kita—sebagai kaum lelaki—tetapi di satu sisi ego mereka terlalu besar untuk mengakui isi hatinya."

"Shizune tidak seperti itu." celetuk Kakashi.

"Cih, tentu saja semua wanita seperti itu." sanggah Guy.

"Lalu apa maksudmu yang sebenarnya?" tanya Kakashi dengan tidak sabar.

"Terus menyerang Kakashi, menyerang!" ujar Guy dengan seringai aneh.

"Mereka itu adalah makhluk yang defensive, jadi sebagai lelaki kita harus bisa terus memberikan serangan hingga mereka tidak bisa berkutik. Saat mereka sudah ada di dalam genggaman kita, nanti dengan sendirinya mereka akan pasrah dan menyerah tanpa syarat karena sebenarnya mereka menikmati dominasi kita sebagai kaum Adam."

Jujur, otak jenius sang rokudaime semakin bingung setelah mendengar celotehan tidak jelas dari Guy.

"Aku semakin tidak mengerti apa maksudmu." jawab Kakashi. Sebenarnya ia lebih suka jika diminta tolong untuk mengatur strategi perang sekelas perang dunia shinobi keempat daripada mentafsirkan keinginan hati wanita.

"Ckckckck, Kakashi, Kakashi. Memang kau tidak akan pernah menang dariku jika menyangkut wanita." ujar Guy dengan pose Nice Guy.

"Hahaha, terserah apa katamu, perjaka tua."

"Kurang ajar. Kembali ke topik. Maksudku, kau datangi Shizune. Lalu konfrontasi di depan. Lakukan dengan sedikit paksaan karena wanita sebenarnya senang dipaksa." bisik Guy.

"A-apa maksudmu?" Kakashi mendelik kesal ke arah Guy.

"Perlihatkan kejantananmu sebagai lelaki, sedikit paksaan tidak akan menyakitkan selama kau tidak keterlaluan." Guy tidak menghiraukan protes Kakashi. Ia masih sibuk berceloteh.

"Lalu, pelan-pelan kau sentuh ia, dengan lembut tentu saja sampai ia sedikit tenang. Lalu BAM!" teriakan yang di sertai tepukan tangan Guy mengagetkan Kakashi.

"Masuki ia, kuasai ia, buat ia bertekuk lutut tanpa ampun sambil terus memanggil namamu."

"A-apa!" Kakashi tergagap. Gila! Pikiran kotor mulai menjalar di sel-sel otak Kakashi.

"Tunjukan keperkasaanmu sebagai laki-laki!" teriak Guy berapi-api.

"Gu-guy! Apa maksudmu?" tanya Kakashi sedikit shock akibat penuturan rival tersayangnya.

"Maksudku, apa?" tanya Guy bingung.

"O-omonganmu tadi?"

"Oh tentu saja soal lamaranmu pada Shizune. Sedikit paksaan tidak akan menyakitkan." Jawab Guy polos.

Kakashi hanya menepuk dahi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Hei hei, sebenarnya apa yang terjadi dengan Kakashi-sensei sih?" tanya Naruto kepada ketiga temannya. Bocah-bocah manis kesayangan Kakashi sedang berkumpul di Uchiha Manor dalam rangka rapat darurat mengenai skandal guru mereka.

"Mana aku tahu." ujar Sasuke ketus.

Ia masih merasa sebal karena rumahnya digunakan sebagai tempat rapat dadakan ketiga makhluk tidak tahu diri ini. Berbulan-bulan Sasuke berkelana dan ingin rasanya bersantai sejenak selama liburan singkatnya di Konoha. Namun yang Sasuke dapatkan benar-benar di luar rencana. Lihat saja, sekarang Naruto sedang menghabiskan mangkuk ramen ketiganya yang dibawa langsung dari Ichiraku Ramen, menyisakan cipratan kuah ramen di meja makan keluarga Uchiha. Sai sedang merebahkan diri santai di lantai ruang tamu rumah Sasuke sambil sesekali mengambil cemilan yang dibawa Sakura. Hanya Sakura yang sedikit jaga image mengingat ia sedang berada di rumah sang terkasih. Gadis Haruno hanya duduk manis di atas tatami ruang keluarga Uchiha sambil membagikan ocha pada ketiga rekannya.

Alasan yang beragam—cenderung tidak masuk akal—dikemukakan oleh ketiga anggota tim 7 hingga rumah Sasuke dipilih sebagai tempat rapat, mulai dari apartemen Naruto yang berantakan dan tidak layak huni, ada kedua orang tua Sakura di kediaman Haruno, dan apartemen Sai jelas tidak bisa digunakan karena telah beralih fungsi menjadi semi-studio-lukis lengkap dengan peralatan lukis yang berserakan. Rumah kayu nan nyaman milik Yamato? Bahkan mereka ragu apakah berita penting soal Kakashi dan Shizune sudah sampai di telinga Yamato atau belum. Yamato sudah masuk jajaran orang penting Konoha yang sangat sulit ditemui karena menjadi kaki tangan rokudaime dalam mengelola ANBU.

"Menghamili Shizune-san? Waaah, ternyata tebakanku soal kemampuan Kakashi-sama di ranjang tidak salah. Sudah jelas sekali saat kita ke onsen kalau Kakashi-sama memiliki ukuran"

"Sai, berani kau lanjutkan ucapanmu, aku tidak ragu untuk meninjumu sampai Suna." ancam Sakura.

"Aku hanya berbicara kenyataan, Jelek! Kau pun akan puas jika adik kecil Kakashi-sama"

Sakura sudah bersiap untuk meninju Sai jika Sasuke tidak menahannya. Tentu saja Sasuke tidak ingin kediamannya rata dengan tanah akibat amukan calon Nyonya Uchiha.

"Sai, kau ini benar-benar." ujar Naruto sambil menghela nafas. "Tapi aku penasaran, kenapa sampai bisa terjadi hubungan yang tidak terdeteksi antara Kakashi-sensei dan Shizune-nee-chan." Naruto bergumam.

"Setahuku Shizune-nee-chan selalu sibuk dengan urusan rumah sakit dan mencari-cari Tsunade-baa-chan jika ia sudah mulai berulah. Lalu Kakashi–sensei selain sibuk misi, sibuk persiapan perang, sibuk bertanding tidak penting dengan Guy-sensei, sibuk rapat, sibuk memimpin Konoha."

"Dan sibuk mengurusi kita semua." ujar Sakura yang sudah lebih tenang.

"Ya." Naruto mengangguk.

"Lalu apa maksudnya Kakashi-sama ditolak oleh Shizune-san?" tanya Sai.

"Sai." gumam Naruto, "Kakashi-sensei mengajak Shizune-nee-chan menikah tetapi Shizune-nee-chan menolaknya."

"Kenapa? Bukannya wanita senang jika ada yang melamarnya? Bukankah itu tandanya mereka laku? Apalagi Shizune-san sudah berusia kepala tiga." tanya Sai lagi. Naruto dan Sakura hanya menghela nafas, bingung bagaimana menjelaskan kepada Sai mengenai hubungan Kakashi dan Shizune.

"Benar, tetapi itu masih kemungkinan." jawab Naruto.

"Bagaimana menurutmu, teme?" tanya Naruto pada Sasuke yang hanya duduk manis di pojok ruangan, menjadi pendengar rapat-penting-tidak-penting anggota tim 7.

"Tidak tahu." jawab Sasuke berusaha cuek, namun tidak dapat dipungkiri kalau ia sedikit penasaran dengan kehidupan pribadi sensei-nya yang selalu terkunci rapat. Ah, jangankan kehidupan pribadi. Bahkan hingga detik ini pun Sasuke belum pernah melihat wajah sang sensei tanpa tertutupi masker.

"Ah, Teme payah." Uzumaki memanasi Uchiha dan berhasil. Tampak sang Uchiha sedikit tersulut.

"Bukan urusanku. Kakashi lebih dari sekedar cukup umur untuk menghamili siapapun yang dia mau." balas Sasuke.

"Hehehe, sebenarnya kau penasaran juga kan, Teme." godaan Naruto semakin menjadi. Naruto tahu benar walau secuek apapun Sasuke, ia sangat penasaran dengan kehidupan sang guru. Hal ini pertama kali terbukti saat Naruto mengajaknya membuka masker Kakashi beberapa tahun lalu.

"Cih." Sasuke mendecih sebal karena tebakan Naruto benar. Pada kenyataannya ia memang penasaran.

"Yo, sedang kumpul tanpa mengajakku?"

Sosok rokudaime hokage tiba-tiba muncul di depan pintu ruang keluarga Uchiha Manor yang terhubung dengan taman belakang, mengagetkan keempat anak manusia yang sedang bergosip. Setelah mengunjungi Guy, Kakashi berniat bersantai lebih lanjut. Salah satu cara Kakashi bersantai adalah berkumpul dengan anak-anak didiknya yang manis, baik hati, dan tidak sombong. Maka dari itu Kakashi mencari keempat anak didiknya melalui indra penciumannnya yang tajam dan menemukan—bau—mereka sedang berkumpul di kediaman Uchiha. Tanpa pikir panjang, Kakashi langsung menuju markas keempat muridnya setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk membeli cemilan.

"Kakashi-sensei, harusnya kau berada di kantormu dan mengurusi desa." protes Naruto pada tingkah santai sang sensei.

Kakashi hanya tersenyum menanggapi celetukan Naruto. Walaupun Kakashi selalu terlihat santai dan berleha-leha dalam menjalankan tugasnya sebagai hokage namun prestasi yang dicetak Kakashi selama hampir tiga bulan menjabat sebagai hokage mulai terlihat. Rencana pembangunan Konoha tampak sudah berjalan sejak bulan pertama kepemimpinannya dan dengan perhitungan yang tepat, misi ninja sudah mulai diterima Konoha tanpa menganggu jalannya pembangunan desa.

"Naruto, tidak kasihankah kau padaku sekali saja? Aku juga butuh bersantai. Aku bahkan tidak punya cukup waktu untuk membaca."

"Ne, lebih baik kau tidak punya waktu untuk membaca bacaan mu itu, sensei." potong Sakura sambil meletakan ocha untuk Kakashi dan beberapa camilan yang dibawa oleh Kakashi di meja kopi ruang keluarga Uchiha. Sang gadis kemudian mengambil tempat duduk tepat disebelah Sasuke.

"Hahaha, Terima kasih, Sakura." ujar Kakashi sarkastik.

"Jadi, sedang apa kalian disini?" tanya Kakashi sambil memandang keempat anggota timnya satu persatu.

"Berkumpul." jawab Naruto singkat, tetapi dengan tidak meyakinkan.

"Ya aku tahu. Tumben sekali kalian berkumpul disini, biasanya di Ichiraku atau kantor hokage." tambah Kakashi sedikit mengintrogasi.

"Eerr, mencari suasana baru." Naruto yang semakin terdengar gugup.

"Mereka ingin tahu apa hubunganmu dengan Shizune."

Celetukan Uchiha membuat semua mata terarah kepadanya. Sungguh kejutan jika kali ini Uchiha Sasuke yang menjawab pertanyaan. Padahal lelaki minim ekspresi tersebut sejak awal paling sedikit menunjukan ketertarikan pada masalah Kakashi.

Hening sejenak menghampiri kelima anak manusia tersebut. Naruto dan Sakura berpandangan horror saat membayangkan kemungkinan tanggapan yang diberikan sang sensei.

"Hahaha." di luar dugaan, Kakashi malah tertawa lepas. "Sebegitu penasarannya kah kalian?"

Pertanyaan Kakashi hanya dijawab anggukan oleh Naruto, Sakura, dan Sai.

"Jadi apa yang membuat kalian penasaran?" tanya Kakashi. Keempat murid Kakashi saling bertatapan bingung, bingung untuk memulai.

"Bagaimana sampai kau dan Shizune-san bisa punya anak?"

Pertanyaan polos yang tentu saja datang dari Sai. Kedua bola mata Sai tampak antusias dan penasaran, namun ketiga rekannya hanya bisa memutar bola mata sambil menepuk jidat.

"Haha, kau ingin tahu?" tanya Kakashi sedikit geli, seolah menanggapi pertanyaan balita tentang kenapa bayi bisa lahir ke dunia.

Sai mengangguk antusias.

"Kau bisa mendapatkan jawabannya di Icha-Icha Tactics Bab 3, 7, 28, dan 25. Di sana terperinci dengan jelas teknik-teknik yang aku gunakan. Visualisasi aku serahkan pada kemampuan imajinasimu."

"Hai, wakatta." jawab Sai sambil mencatat penjelasan Kakashi di sebuah buku note kecil.

"Ya ampun Sai." Sakura menggeram sebal—dan geli—melihat kelakuan Sai.

"Jangan sampai kau mempraktikannya pada Ino jika masih ingin selamat dari hantaman Chouji atau Shikamaru." gerutu Naruto.

"Kalau perlu, aku bisa memberimu private, Sai. Berlaku juga untuk kalian, Sasuke, Naruto." Kakashi langsung mendapat tatapan galak dari Sakura. Bisa-bisanya Kakashi berniat untuk menularkan kemesumannya kepada ketiga anak kecil polos layaknya Naruto, Sasuke, dan Sai.

"Bisa dipertimbangkan." jawab Naruto setengah bercanda, memecah keheningan diantara mereka. Namun setelah semuanya selesai tertawa, suasana kembali hening.

"Sensei." panggil Sakura, membuat Kakashi menoleh ke arahnya.

"Bagaimana dengan Shizune-senpai dan kau selanjutnya?" tanya Sakura hati-hati. Ia hapal betul kalau sensei-nya sangat tertutup mengenai masalah pribadi. Tapi berhubung sang sensei sudah membuka sesi tanya jawab, tidak ada salahnya bertanya.

"Ehm, tidak tahu." jawab Kakashi bosan. Sudah dua orang yang bertanya sebelumnya. Pertama Tsunade, lalu Guy, sekarang murid-muridnya yang diwakili Sakura.

"Maksudmu? Kau bilang akan menikahinya?" tanya Sakura panik. Mana mungkin Kakashi melanggar janjinya, terlebih lagi janji tersebut disaksikan oleh Tsunade.

"Ya, aku memang berniat menikahinya. Tapi dia menolak." jawab Kakashi santai.

"Kenapa?" kali ini Naruto yang penasaran.

"Karena dia tidak mau aku menikahinya karena ia sudah terlanjur hamil."

"Lalu? Bukankah baik jika anak kalian dibesarkan oleh orang tua yang lengkap dalam pernikahan?" tanya Sakura.

"Itu dia yang aku katakan kepadanya. Tapi ia bilang tidak ingin membesarkan anak dengan kebohongan dan tanpa cinta." jawab Kakashi lirih.

"Hah? Jadi sensei" ucapan Sakura menggantung sejenak. "mencintai Shizune-senpai?"

Kakashi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sakura.

"Bukan masalah perasaanku padanya, Sakura. Justru aku bingung dengannya. Apakah dia ingin terjebak seumur hidup dengan orang yang tidak dicintainya?" Kakashi bertanya retoris.

"Jadi Shizune-senpai tidak—er—mencintaimu, sensei?" tanya Sakura lagi.

"Entahlah." jawab Kakashi sambil menghela nafas. "Aku hanya ingin anakku nanti mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya secara lengkap." ujar Kakashi.

"Memang harusnya seperti itu, sensei." ujar Naruto.

"Aka-chan Kakashi-sensei dan Shizune-nee-chan pasti akan mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Aku yakin Shizune-nee-chan akan mengerti hal itu."

"Benar sekali sensei. Kau baru mengajaknya menikah sekali kan, sensei? Mungkin kondisi Shizune-senpai sedang shock saat itu dengan lamaranmu yang tiba-tiba." tambah Sakura.

"Aku pernah baca di buku, kalau saat berhubungan seksual wanita lebih banyak menghasilkan hormon oksitosin—hormon kebahagiaan—sehingga tidak jarang wanita jatuh cinta pada pasangannya setelah melakukan hubungan seksual. Jadi masih ada kesempatan Shizune-san jatuh cinta pada Kakashi-sama." ujar Sai sambil terlihat berpikir.

"Ya, benar yang dikatakan Sai." tambah Sakura sambil menganggukan kepala setuju.

"Tapi saat lelaki melakukan hubungan intim, yang dihasilkan malah hormon dopamin—hormon candu—sehingga lelaki menjadi kecanduan dengan hubungan seks. Jadi ada kemungkinan setelah ini Kakashi-sama menjadi kecanduan seks sehingga ingin menikah dengan Shizune-san?" gumam Sai.

"Sai." panggil Naruto sambil menghela nafas. Bisa-bisanya ia berteori seperti itu. Sakura yang semula menyetujui ucapan Sai kembali tampak bersiap-siap untuk meninju sang ninja artis. Pasti saja selalu ada kesimpulan yang agak menyimpang tercetus dari hasil analisis Sai.

"Hahaha." Kakashi hanya tertawa mendengar perdebatan murid-muridnya yang beranjak dewasa. Lucu sekali, padahal dulu mereka adalah sekumpulan bocah berisik dan menyebalkan yang tidak henti-hentinya merecoki hidup Kakashi.

"Maa, sudah-sudah." lerai Kakashi saat melihat Sakura mulai mengamuk pada Sai. Naruto dan Sasuke tampak kewalahan menahan amukan Sakura.

"Terima kasih, kalian." ujar Kakashi sambil tersenyum. Membuat keempat anak manusia yang lain terpekur sejenak, memandang Kakashi dengan tanda tanya besar terpatri di wajah.

"Tidak apa-apa, sensei. Aku percaya semuanya akan berakhir baik-baik saja." balas Sakura.

"Ya, Sakura-chan benar, Kakashi-sensei. Jangan lupa, aka-chan Hatake nanti akan mendapatkan kasih sayang dari nii-chan dan nee-chan juga." tambah Naruto sambil menunjuk dirinya, yang diamini oleh ketiga rekannya. "Aku berjanji akan melindungi aka-chan Kakashi-sensei."

Kakashi tersenyum sambil melihat keempat anggota timnya, sebelum sebuah kata terucap dari bibir Kakashi.

"Arigatou, minna."


To be Continued


Author's Note.

Silahkan lanjut ke chapter selanjutnya karena saya berencana untuk upload 2 chapters sekaligus hari ini. Selamat menikmati.

Salam,

~DRD