Our Wedding
.

Entah ini perasaan Sasuke saja, atau sikap Hinata padanya mulai sedikit berubah. Hinata masih tetap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Hinata juga masih meladeni dan menyiapkan segala keperluan Sasuke seperti bisanya. Tapi entah kenapa Sasuke merasa ada hal yang berbeda dengan istrinya itu. Hari itu saat Sasuke pulang dari kantor, Sasuke tidak melihat Hinata yang biasanya akan menunggu kepulangannya walaupun Sasuke selalu pulang larut malam, Hinata pasti akan selalu menunggu dan menyambut kepulangannya dengan senyuman hangat. Saat Sasuke naik ke kamar mereka, Sasuke melihat Hinata yang sudah tertidur dengan posisi membelakanginya. Sasuke tidak ambil pusing, mungkin Hinata hanya sedang kecapean saja. Keesokan harinya, sikap Hinata kembali seperti semula kepadanya.

Hinata tetap membuatkannya bekal dan mengantarkannya sampai pintu rumah mereka saat Sasuke akan berangkat ke kantor. Sebelum pergi, Sasuke juga masih sempat melihat Hinata yang tersenyum seperti biasanya. Tapi senyum yang Hinata berikan kali ini terasa berbeda bagi Sasuke. Perasaan Sasuke saja atau apa, tapi sekilas Sasuke tidak merasakan kelembutan dan kehangatan, kali ini saat Hinata tersenyum padanya, Sasuke malah seperti melihat gurat kesedihan dan kekecewaan yang tersirat dalam senyuman itu.

Tapi Sasuke sekali lagi tidak terlalu mempersalahkan hal itu, yang terpenting untuknya saat ini adalah untuk segera menemui 'dia', dan menyelesaikan apa yang dulu pernah gagal dilakukannya.

.

.

Warning : AU, [miss]TYPO, minim dialog, alur cepat, dsb.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate: T

Pairing : Sasuke x Hinata

Genre : Romance, Hurt/comfort

.

Our Wedding

.

.

Tidak seperti biasanya, Sasuke kali ini tidak melajukan mobilnya menuju kantor. Melaikan tempat lain yang akan memepertemukannya dengan 'dia', orang yang sudah lama dicarinya. Orang yang selama bertahun-tahun ini menghantui pikirannya, dan juga menjadi alasan kenapa Sasuke sampai berperilaku kejam dengan mencoba merebut harta istrinya sendiri, Hinata. Semuanya Sasuke lakukan demi 'dia'. Perempuan yang sangat dikasihinya.

Sasuke berhenti di salah satu klinik kesehatan yang letaknya cukup terpencil karena berada di pinggiran kota. Setelah mememarkirkan mobilnya di depan klinik itu, Sasuke tidak langsung keluar. Sasuke melihat sosok yang ada di dalam klinik tersebut dari jendela kaca tranparan. Sasuke mengamati seorang perempuan dengan pakaian serba putih, memiliki rambut merah cerah dan juga memakai kacamata yang terlihat pas sekali dengan penampilannya.

"Karin", gumam Sasuke

Sedang serius mengamati objek didepannya, Sasuke dikejutkan dengan dering telepon yang ada di saku jasnya. Sasuke melihat sebentar nama orang yang menelponya itu sebelum mengangkatnya.

"Ada apa ?"

"Bagaimana ?. Kau sudah bertemu dengannya ?", bukannya menjawab, suara di seberang sana malah balik bertanya pada Sasuke.

"Aku baru akan menemuinya"

"Kau harus tetap berhati-hati. Sebagian anak buah Orochimaru masih mengawasi gerak-gerik perempuan itu", Kabuto, orang yang menelpon Sasuke tadi, mencoba memberi peringatan pada Sasuke.

"Hn. Aku tahu."

"Baguslah, apa kau sudah mentransfer bayaran kami ?"

"Hn. Aku bilang akan aku tranfer setelah bertemu dengannya"

"Aku hanya sekedar mengingatkanmu saja, Uchiha-sama"

"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan membayarnya. Sekarang aku sedang sibuk, kita bicarakan lagi lain waktu", setelah mengatakan itu, Sasuke menutup telponnya.

Sasuke kembali melihat ke dalam klinik, perempuan itu -Karin- masih disana, seperti sedang sibuk merapikan sesuatu di etalase yang ada di dalam klinik. Padahal klinik itu dan segala macam isinya hanyalah sebuah kedok belaka untuk menutupi kegiatan ilegal yang terjadi di dalamnya.

Setelah mengunggu cukup lama, Sasuke mulai keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki klinik tersebut.

.

.

Our Wedding

.

Karin berhenti berkutat dengan pekerjaannya karena mendengar suara pintu yang dibuka.

"Selamat da-", Karin menghentikan kalimatnya begitu melihat siapa orang yang mendatangi klinik tempatnya bekerja.

"Sa-Sasuke-kun ?", Karin tergagap menyeburkan nama pria yang sudah lama absen dari kehidupannya karena pilihannya sendiri untuk menghindari pria itu, menjauh dan menghilang dari pandangan Sasuke atas kemauannya sendiri. Untuk melindungi Sasuke dari seseorang yang tidak bisa dilawannya maupun lari darinya.

"Kau masih ingat padaku ?", Sasuke berjalan menghampiri Karin yang masih terkejut karena kedatangannya.

"Mau apa kau kemari ?", tanya Karin mencoba bersikap tenang setelah tersadar dari keterkejutannya.

"Tentu saja untuk menemuimu", jawab Sasuke santai.

"Sudah kubilang aku tidak mau bertemu denganmu lagi", Karin sedikit menaikkan nada Suaranya. Berusaha bersikap kasar agar Sasuke pergi sebelum Orochimaru dan bawahannya tahu dia berada disini.

"Tapi aku masih ingin bertemu denganmu, Karin", tidak goyah, Sasuke malah semakin mendekati Karin

"Pergilah, Kumohon. Pergilah sebelum Orochimaru tahu kau ada disini", gagal dengan sikap kasarnya, kali ini Karin mencoba memohon pada Sasuke agar dirinya segera pergi.

Karin masih ingat betul, terakhir kali Sasuke mengajaknya untuk melarikan diri dari komplotan mafia yang dipimpin oleh Orochimaru, Sasuke malah berakhir dengan keadaan sekarat dan hampir mati karena bawahan Orochimaru berhasil melacak dan menemukan keberadaan Karin dan Sasuke. Tanpa segan-segan, mereka langsung menghajar Sasuke yang masih mencoba mempertahankan Karin dan membawanya lari.

Mungkin saat itu Sasuke akan merengang nyawa jika saja karin tidak mencegah Orochimaru yang berniat menembakkan pistol yang sudah diarahkannya tepat ke kepala Sasuke. Karin memohon pada Orochimaru untuk mengampuni nyawa Sasuke, dan sebagai gantinya, Karin mau dibawa kembali oleh Orochimaru dan kembali dijadikan sebagai bawahannya.

Karin adalah salah satu bawahan Orochimaru yang bertugas sebagai kurir dalam mengantarkan barang-barang haram yang menjadi lahan bisnis bagi komplotan itu. Berhubung Karin adalah seorang perempuan yang berpenampilan sederhana dan cukup berpendidikan, itu membuat orang disekitarnya tidak sedikitpun menaruh curiga padanya. Bahkan karena kepintarannya itu, Karin selalu bisa melarikan diri dari petugas bandara maupun aparat pengaman perbatasan negara dengan mudah. Karena itulah Orochimaru merasa sayang untuk membuangnya. Selagi dia masih berguna dan bisa menghasilakan banyak uang, kenapa tidak.

Sampai pada suatu ketika Karin bertemu dengan Sasuke saat mengantarkan paket 'obat-obatan' ke pelanggannya. Itulah titik awal dari semuanya. Semua berjalan begitu saja seperti air yang mengalir, Karin menaruh hati pada Sasuke dan begitupun sebaliknya. Walaupun Sasuke sudah tahu mengenai pekerjaan yang dilakoni Karin, bukannya mundur Sasuke malah semakin mencoba mendekati Karin dan berusaha membebaskannya dari jeratan orang seperti Orochimaru.

Tapi usaha Sasuke itu mengalami kegagalan, dan sebagai konsekuensinya dia kehilangan Karin. Setelah kejadian itu, Karin seolah menghilang seperti ditelan bumi. Tidak ada kabar sama sekali darinya setelah insiden pengejaran itu. Sasuke yang saat itu masih belum menjadi apa-apa, mencoba mencari keberadaan Karin dengan kemampuannya sendiri. Tapi hasilnya tetap sama, ia tetap tidak bisa menemukan Karin walaupun Sasuke sudah mendatangi tempat-tempat yang biasanya digunakan untuk melakukan transaksi obat-obatan terlarang itu.

Sekarang, saat Sasuke telah menemukan karin yang selama ini dicarinya, mana mungkin Sasuke akan membiarkan Karin lari lagi. Sasuke yang sekarang sudah berbeda dengan Sasuke yang dulu, dia memiliki banyak koneksi yang cukup untuk menyingkirkan perjahat semacam Orochimaru, dan itu sudah dilakukannya. Hanya saja Karin dan beberapa bawahan Orochimaru yang lain masih belum tahu kalau bos besar mereka itu sudah Sasuke singkirkan. Sekarang hanya tinggal tikus-tikus kecil yang mudah disingkirkan jika mereka masih berusaha menghalangi keinginannya untuk menemui Karin.

"Kau tidak perlu khawatir, aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu", Sasuke mengatakannya dengan mantab untuk lebih meyakinkan Karin.

"Tapi Sasuke, kau masih ingatkan terakhir kali kau mencoba membawaku kabur kau malah hampir tewas. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu Sasuke", Karin berjalan mundur mencoba menjauh dari Sasuke. Tapi dengan gesit Sasuke sudah menggenggam pergelangan tangan Karin dan menariknya dengan lembut agar Sasuke dapat memeluknya.

"Tenanglah, semua sudah aman sekarang. Aku sudah menyingkirkan orang itu"

"Tapi bagaimana bi-"

"Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu", Sasuke masih terus mencoba meyakinkan Karin, dan pada akhirnya Karin pun luluh dan mempercayai setiap ucapan Sasuke. Lagipula Sasuke tidak pernah sekalipun berbohong padanya. Ya, tidak pernah, kecuali tentang satu hal yang membuat Sasuke berubah seperti sekarang. Seseorang yang memiliki segalanya dan bahkan mampu menyingkirkan orang semacam Orochimaru.

.

.

Our Wedding

.

Setelah bertemu dengan Karin, Sasuke mengajaknya kesebuah kafe di tengah kota dan menceritakan semua hal tentang dirinya selama karin tidak bersamanya. Kecuali bagian kalau dia sudah menikah dan menjadi seorang suami dari istri bernama Uchiha Hinata.

"Kau sudah menjadi orang sukses sekarang", puji Karin

"Hn. Ini semua berkat dirimu"

"Aku ?. Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu ?"

"Kalau bukan karena mencari dirimu, aku tidak akan menjadi seorang pekerja keras seperti sekarang", Karin tersenyum mendengar penuturan Sasuke barusan.

"Kau sekarang tinggal dimana ?", tanya Karin. Sasuke tidak langsung menjawabnya, dia seperti sedang berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkinkan dia bilang kalau sekarang dia tinggal dirumah istrinya.

"Aku membeli rumah yang cukup dekat dengan kantor", Sasuke berbohong pada Karin

Karin mengangguk paham. "Kalau begitu, apa kau boleh main kerumahmu ?", Karin ingin sekali mengunjungi rumah Sasuke, walaupun dulu karin pernah memiliki hubungan dengan Sasuke, tapi dirinya belum pernah sekalipun mengunjungi rumahnya karena alasan keamanan.

"Hn. Kapan-kapan saja. Sekarang kita harus mencarikan tempat tinggal yang baru untukmu", Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Kau akan membelikanku rumah ?"

"Bukan, untuk sekarang aku hanya akan membelikanmu sebuah apartemen di tengah kota dan dekat dengan perusahaan tempatku bekerja agar aku bisa selalu mengawasimu", Kata Sasuke

"Tidak usah repot-repot, aku bisa membelinya dengan uangku sendiri. Aku tidak semiskin itu, kau tahu ?", karin mencoba menolak tawaran yang Sasuke berikan padanya. Karin memang masih memiliki cukup banyak uang kalau hanya untuk membeli sebuah apartemen saja. Karin sudah bertahu-tahun bekerja pada Orochimaru, dan itu cukup menghasilkan banyak uang mengingat resiko yang diterima dari pekerjaannya.

"Jangan gunakan uang itu", Sasuke masih bersikukuh

"Kenapa ?"

"Aku hanya tidak mau kau menggunakan uang hasil pekerjaanmu di masa lalu", Sasuke mengatakan alasannya

"Lagipula aku tidak memberikan itu secara cuma-cuma, kau bisa menggantinya jika kau sudah mendapatkan gaji dari pekerjaanmu yang lain".

"Baiklah kalau begitu", akhirnya Karin menyetujui usulan Sasuke.

"Hari ini kau menginap saja di hotel. Aku sudah memesankanmu kamar", Sasuke menyerahkan kunci kamar hotel yang sudah dipesannya beserta alamat hotel tersebut.

"Kenapa aku tidak tidur dirumahmu saja malam ini ?"

"Tidak bisa, hari ini aku akan lembur di kantor", Sasuke kembali berbohong pada Karin.

"Ah benar juga, kau kan sudah jadi bos besar sekarang", Karin begitu saja percaya dengan ucapan Sasuke.

"Aku harus kembali ke kantor sekarang. Apa kau perlu kuantar ?", tawar Sasuke

"Tidak usah, aku bisa kesana sendiri dengan naik taksi", Karin menolaknya dengan halus.

"Hn. Baiklah", setelah itu Karin dan Sasuke beranjak pergi dari kafe tersebut. Mereka berpisah dijalan karena hotel tempat Karin akan menginap berlawanan arah dengan kantor Sasuke.

.

.

Our Wedding

.

Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Sasuke. Karena Sasuke menghabiskan banyak waktu untuk menemui Karin, berkas-berkas kantor yang seharusnya di periksa dan ditandatanganinya sejak pagi menjadi menumpuk. Bahkan Sasuke sampai lupa tidak makan siang saking sibuknya. Setelah pekerjaanya di kantor selesai, Sasuke ingin segera pulang ke rumah, makan malam, dan mengistirahatkan badannya yang sudah terasa kaku.

"Tadaima", Sasuke mengataknnya ketika memasuki rumah.

"Okaeri", dan seperti biasa, Hinata akan menyambut kepulangannya

Sasuke tersenyum melihat Hinata yang berjalan menghampirinya, melepas jas yang dikenakannya serta mengambil alih tas kerja yang dibawanya. Tapi ada yang aneh, Hinata yang biasanya akan tersenyum cerah kali ini hanya tersenyum tipis saja, bahkan Hinata sama sekali tidak melihat ke arah Sasuke dan malah berlalu begitu saja setelah selesai melakukan aktivitasnya barusan.

"Kau kenapa ?", Sasuke yang merasa aneh dengan sikap Hinata akhirnya menyuarakan isi hatinya. Sasuke mencengkran lengan Hinata dengan lembut untuk menghentikan langkah kaki Hinata yang akan meninggalkannya. Hinata menoleh ke arah Sasuke dan mencoba melepaskan tangan Sasuke yang masih mencengkram lengannya.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah saja hari ini", lihatkan, bahkan tidak ada lagi suara lembut disetiap ucapannya maupun tindakan malu-malu seperti biasa saat Hinata berada di dekat Sasuke. Rona merah yang selalu bertengger manis ke kedua belah pipi Hinata pun tidak lagi terlihat. Apa Hinata marah karena ciumannya waktu itu ?. Tidak-tidak, Sasuke masih ingat betul ekspresi Hinata setelah Sasuke menciumnya. Sama sekali tidak ada gurat kemarahan diwajah Hinata, malah sebaliknya, Hinata tampak sangat senang hari itu.

Sasuke melepaskan cengkaraman tangannya dan membiarkan Hinata berlalu, tapi sasuke masih mengikuti langkah kaki istrinya itu dari belakang. Sesampainya dikamar, Hinata menyerahkan baju ganti untuk Sasuke serta menyuruh Sasuke untuk turun dan makan malam setelah dirinya selesai mandi. Setelah itu Hinata keluar dari kamar dan berkata akan menunggu Sasuke di meja makan.

Selesai memmbersihkan badannya, Sasuke segera menghampiri Hinata yang masih menyiapkan makan malam di meja makan. Sasuke menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Hinata dengan cekatan melayani Sasuke. Setelelah nasi beserta lauknya tersaji di depan Sasuke, Hinata berlalu meninggalkan Sasuke menghabiskan makan malamnya sendirian.

"Mau kemana ?", Sasuke sempat bertanya sebelum Hinata berlalu.

"ke kamar", jawab Hinata singkat

Sasuke memandang kepergian Hinata dengan perasaan sesak yang mengganggunya. Tapi Sasuke masih belum tahu perasaan apa itu.

.

.

Our Wedding

.

Sasuke masuk ke dalam kamar dan melihat Hinata yang sudah tidur dengan posisi membelakanginya -lagi-. Sasuke mengambil tempat disamping Hinata dan tidur terlentang. Sudah beberapa menit berlalu, tapi Sasuke masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal tubuhnya sudah sangat lelah, tapi karena sikap Hinata seharian ini, membuat Sasuke tidak lagi merasakan lelah dan malah kembali memikirkan sikap Hinata padanya.

"Kau belum tidur ?", Suara Hinata memecahkan keheningan di kamat itu.

"Belum", jawab Sasuke. Setalah itu keheningan kembali tercipta diantara mereka.

"Apa kau bahagia ?", Hinata kembali bertanya

"Apa maksudmu ?"

"Kalau diingat-ingat, aku belum pernah menanyakan ini padamu. Apa kau bahagia dengan pernikahan kita ?", walaupun sedang berbicara dengan Sasuke, Hinata sama sekali tidak mengubah posisi tidurnya yang membelakangi Sasuke.

Sasuke terdiam. Dia sedang berpikir, apa dia merasa bahagia dengan pernikahnnya dengan Hinata, mengingat pernikahan mereka tidak dilandasi dengan cinta.

"Bagaimana denganmu ?", bukannya menjawab, Sasuke malah balik bertanya pada Hinata

"Aku sangat bahagia", jawab Hinata penuh keyakinan. Mendengar pernyataan istrinya tersebut, membuat Sasuke kembali terdiam.

Tapi setelah mendengar jawaban dari Hinata, Sasuke mulai berfikir, memang pernikahannya dengan Hinata terjadi karena keadaan yang memaksa keduanya untuk menikah. Kalau Sasuke boleh jujur, ada sedikit rasa hangat dalam hatinya saat Hinata berada didekatnya, dan itu terasa nyaman. Hangat dan nyaman. Walau Sasuke masih belum yakin kalau rasa hangat yang menjalar di hatinya saat bersama dengan Hinata adalah bentuk dari rasa kasih sayang yang mulai tumbuh seiring kebersamaannya dengan Hinata.

Dilain pihak, Hinata tidak sanggup menanyakan hal yang sama pada Sasuke. Tentang apakah Sasuke merasa bahagia menjalani pernikahan dengannya. Diamnya Sasuke sudah membuat Hinata berasumsi kalau suaminya itu tidak merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakannya dalam biduk pernikahan yang mereka jalani.

Tanpa terasa Hinata kembali meneteskan air matanya tanpa sepengetahuan Sasuke. Hinata bukanlah perempuan yang lemah. Tapi bukankah perempuan manapun akan meneteskan air matanya jika mendapati kenyataan bahwa suami yang dicintainya tidak merasa bahagia saat bersamanya. Air mata itu bukan menunjukkan bahwa Hinata lemah, tapi menunjukkan bahwa Hinata adalah seorang perempuan. Perempuan yang menggantungkan harapan tinggi akan kebahagiaan yang akan diraih bersama dengan Suaminya. Harapan itu terlalu tinggi, sehingga membuatnya merasakan sakit yang luar biasa saat dirinya terjatuh.

.

.

Our Wedding

.

Pagi ini Sasuke berniat menemani Karin dan mencarikan apartemen baru untuk ditinggalinya. Tapi karena masalah kantor yang mendesak, Sasuke membatalkan janjinya tersebut pada Karin. Karin yang mengerti posisi Sasuke saat ini, sama sekali tidak keberatan karena Sasuke membatalkan janjinya. Setelah menemukan apartemen yang cocok, Karin akan segera memberitahukannya pada Sasuke.

Sasuke masih sibuk memeriksa berkas perusahaan karena siang ini Sasuke akan ada rapat penting dengan investor dari luar negeri. Saat mememeriksanya, Sasuke baru ingat kalau ada beberapa berkas yang tertinggal dirumah, dia menelpon dan menyuruh supir pribadinya untuk mengambilkan berkas tersebut. Karena tidak tahu dimana biasanya tuannya itu menaruh berkasnya, akhirnya supir itu menemui Hinata dan mengatakan bahwa Sasuke meninggalkan berkas penting di rumah.

Setelah mendengar itu, Hinata segera mencari berkas yang dimaksud di ruang kerja Sasuke yang berada di sebelah kamar mereka. Hinata menemukan berkas itu di laci Sasuke, setelah mengambil berkas tersebut dan hendak menyerahkannya pada supir untuk segera diantarkan pada Sasuke, tapi niatnya itu berhenti ketika Hinata malah menemukan selembar foto di dalam laci itu. Foto itu seperti foto seorang perempuan, tapi tidak terlihat jelas karena separuh bagian foto itu masih terbungkus di dalam amplop.

Didorong oleh rasa penasarannya, Hinata mengambil amplop yang ternyata tidak hanya berisi foto seorang perempuan saja, tapi Hinata juga melihat surat kuasa. Hinata mengeluarkan foto dan surat kuasa itu, tapi ternyata masih ada selembar kertas lagi yang jatuh. Hinata memungut kertas tersebut dan membaca isinya. Ini.. Surat gugatan cerai yang sudah ditanda tangani oleh Sasuke.

Hinata tidak menyangka kalau suaminya itu sungguh akan menceraikan dirinya, belum lagi surat kuasa yang berada di dalam amplop itu ternyata surat kuasa untuk membalik nama saham yang dimilikinya menjadi atas nama suaminya, Sasuke. Air mata mulai mengenang dan mengalir di pipinya, tapi kali ini Hinata tidak terisak seperti sebelum-sebelumnya.

Hinata sudah tahu bahwa suaminya tidak mencintainya dan hanya menginginkan hartanya saja, tapi Hinata tidak menyangka akan secepat ini Sasuke berniat untuk menceraikannya. Hinata menghapus air matanya dengan kasar dan beralih melihat foto perempuan yang juga berada dalam satu amplop dengan surat kuasa dan surat gugatan cerai. Foto itu memperlihatkan sesosok perempuan yang memiliki paras cantik dengan rambut berwarna merah yang membingkai indah wajahnya. Kaca mata yang dikenakannya juga menambah kesan bahwa perempuan itu berpendidikan.

Atau jangan-jangan perempuan dalam foto inilah yang dimaksudkan oleh Kakashi dalam percakapannya dengan Sasuke waktu itu. Hinata kali ini tidak berani mengambil kesimpulan, hatinya akan bertambah sakit jika memikirkan kalau perempuan yang ada dalam foto ini adalah penyebab Sasuke ingin menguasai hartanya serta menceraikannya.

Hinata mengembalikan amplop beserta isinya ke tempat semula dan segera keluar dari ruang kerja suaminya itu. Tapi Hinata tidak menyerahkannya pada supir suruhan Sasuke, kali ini Hinata berinisiatif untuk mengantarkan berkas itu ke kantor dan menyerahkannya pada Sasuke sendiri.

.

.

Our Wedding

.

"Kenapa supir itu lama sekali, aku harus segera memeriksa berkas itu sebelum rapat dimulai", Sasuke mulai tidak tenang dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kerjanya. Sasuke hendak berjalan keluar untuk menanyakan pada sekretarisnya apakah berkas yang dimintanya sudah diantar.

Baru sampai diambang pintu, pintu di depannya sudah terlebih dahulu dibuka dari luar dan menampakkan sosok istrinya, Hinata.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Sasuke-kun. Ini berkas yang kau minta", Sasuke menyerahkan berkas itu pada Sasuke.

"Hn. Kenapa kau yang mengantarkannya, bukankah aku tadi sudah menyuruh supir untuk mengantarkannya ?", Sasuke menerima berkas itu.

"Iya, aku ingin mengantarkannya sendiri dan menyuruh supir itu menunggu di luar", Hinata dan Sasuke masih berdiri di ambang pintu dan membiarkan pintu di belakang mereka tetap terbuka sedikit, hingga..

"Apa Sasuke-kun ada di dalam ?", Suara seorang perempuan mengejutkan Sasuke dan Hinata. Sasuke kenal betul suara itu, itu suara Karin.

"Ya, Nona. Uchiha-sama dan istrinya sedang berda di dalam bersama istrinya", Shizune menjawab pertanyaan karin dengan gamblang.

"Istri ?", Karin tentu saja shock mendengar bahwa Sasuke sudah memiliki istri. Jika Sasuke sudah menikah, kenapa Sasuke harus menemui Karin ?. Karin bukan tipe perempuan yang akan merebut suami orang.

Karin sudah akan meninggalkan kantor itu, sebelum pintu ruang kerja Sasuke terbuka dan memunculkan Sasuke yang keluar dengan wajah paniknya. Karin sudah tidak mau lagi menghiraukan Sasuke, dia ingin segera beranjak pergi dari tempat ini. Tapi langkahnya lagi-lagi harus berhenti karena Sasuke menarik tangannya dan menahannya pergi.

"Lepaskan !", Karin mencoba melepaskan diri dari genggaman Sasuke yang cukup kuat, tapi sia-sia, tenaganya tidak sebanding dengan Sasuke.

"Tidak sebelum kau mendengarkan penjelasanku", Sasuke menarik paksa Karin untuk memasuki ruangannya.

"Shizune, katakan pada klien kita untuk membatalkan rapat hari ini", setelah mengatakan itu, Sasuke dan karin benar-benar masuk ke dalam ruangan kerja Sasuke, dimana Hinata masih ada di dalam ruangan tersebut.

.

.

.

TBC..

.

Ini hasil voting yang mendasari saya memilih Karin sebagai 'dia' yang dicari Sasuke...

Karin : 6 suara (Matsuda Yuiko, hana, hiru nesaan, chiwichan, sushimakipark, dedeqseokyu)

Sakura : 5 suara (Hana Yuku no Hime, LavenderHime, Indri Hyuga, NurmalaPrieska, hyacinth uchiha)

Shion : 4 suara (hana, Ekhyy, yana kim, cintya cleadizzlibratheea)

Ino : 3 suara (WatasiwaKiki, Matsuda Yuiko, hiru nesaan)

Naruko/naruto versi cewek : (CallistaLia, anita indah 777)

Nah, itu dia hasilnya,..
Maaf ya karena saya tidak bisa memakai semua chara yang direkomendasikan dalam ff saya ini, tapi saya tetap berterima kasih pada semua reader yang telah me-review ff saya dan memberikan sarannya pada saya..

Terus untuk para reader yang pengen ada laki-laki lain yang juga mencintai Hinata, itu nanti juga akan ada, tapi nanti ya... ^^

Terima kasih banyak.. #bungkuk_dalam2

Special Thanks for :

Hana Yuki no Hime, lovely sasuhina, LavenderHime, indri hyuga, Natalia, WatasiwaKiki, Matsuda Yuiko, clare, hana, Guest, chibi beary, karlina, Ekhyy, CallistaLia, hyuga ashikawa, Green Oshu, NurmalaPrieska, hiru neesan, Mita622, anita indah 777, yana kim, fukushima arisa, Alicia Uchiha, Erland425, fujiwarajannah, Kanayla, hyacinth uchiha, Birubiru-chan, chiwichan, sushimakipark, dedeqseokyu

.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya..^^

Karena review kalian adalah bahan bakar agar saya lebih semangat lagi dalam berkarya...^^

Akhir kata, Salam hangat untuk para reader sekalian.. :D

R

E

V

I

E

W

...Please...