LOVE LIFE OF ROKUDAIME HOKAGE
a KakaShizu Fanfiction
.
Chapter 4 – Heart to Heart, Part II
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
"Shizune-senpai!"
Shizune menolehkan kepala saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia langsung tersenyum begitu mendapati penampakan dua kouhai-nya yang setengah berlari.
"Konnichiwa, Sakura, Ino." sapa Shizune saat kedua kunoichi berhenti tepat di hadapan Shizune. Kedua gadis yang lebih muda dari Shizune mengangguk sopan sambil membalas sapaan sang senior.
"Kalian masuk shift 2?" tanya Shizune sambil memperhatikan wajah kedua kunoichi tersebut. Sangat jarang mendapati Sakura dan Ino praktek di shift yang sama. Biasanya mereka akan berlawanan shift. Selain untuk saling melanjutkan pekerjaan dari shift sebelumnya, Tsunade dan Shizune masih cukup waras untuk tidak menempatkan dua biang gosip di satu shift kerja yang sama.
"Tidak. aku seharusnya masuk shift pagi, tetapi karena ada misi jadi aku baru bisa masuk di shift siang. Kebetulan Ino ada pekerjaan di tim toture and interrogation force sore hari sehingga akhirnya kami bertukar shift." jelas Sakura yang langsung disetujui oleh Ino.
"Souka." ujar Shizune. "Jadi sekarang kalian sedang berganti shift." gumam Shizune.
"Uhm, begitulah. Shizune-senpai sendiri sedang apa?" tanya Ino.
"Eto, aku baru selesai operasi salah satu Jounin yang terluka dari misi tingkat A. cukup melelahkan, perlu waktu hampir satu jam untuk benar-benar memastikan tidak ada racun yang tersisa. Hampir tiga jam di ruang operasi." penjelasan Shizune langsung diprotes keras oleh Sakura dan Ino.
"Shizune-senpai! Kenapa kau tidak cerita padaku atau Ino-buta kalau kau ada operasi besar? Biar salah satu dari kami yang gantikan!" cerocos Sakura panjang lebar.
"Benar sekali, Shizune-senpai. Seharusnya kau mulai mengurangi kegiatan yang membutuhkan banyak cakra. Apalagi sekarang usia kandunganmu masih rawan." tambah Ino yang tidak kalah berisik dengan Sakura. Shizune hanya tersenyum mendengar celotehan kedua juniornya.
"Hai, hai, daijoubu. Aku tidak apa-apa." jelas Shizune setengah kerepotan menghadapi Sakura dan Ino.
"Tidak bisa. Tsunade-sama sudah mewanti-wanti kami berdua agar meringankan pekerjaan Shizune-senpai." ujar Ino.
"Betul, belum lagi Kakashi-sensei" seketika ucapan Sakura menggantung di udara saat melihat perubahan raut wajah Shizune. Dalam hati Sakura merutuki kebodohannya yang menyebut-nyebut nama tabu itu di depan Shizune. Tetapi syukurlah ada Ino yang menyadari kecanggung di antara Shizune dan Sakura. Sang gadis pirang langsung berceloteh panjang lebar memecahkan keheningan.
"Pokoknya lain kali kalau ada operasi, biar aku atau Dekorin yang melakukan. Kami tidak ingin Shizune-senpai sampai pingsan lagi seperti tempo hari." ujar Ino setengah horror saat mengingat kejadian minggu lalu, saat ia dan Sakura mendapati Shizune dalam keadaan pingsan di ruangannya. Semenjak saat itulah berita heboh tentang kehamilan Shizune terkuak.
"Hai. Terima kasih semuanya. Kalian berdua cerewet sekali." Uuar Shizune sambil tertawa.
Selepas dari rumah sakit—dan duo berisik Sakura dan Ino—Shizune memutuskan untuk kembali ke apartemen yang ia tempati bersama Tsunade. Seusai pensiun dari jabatan sebagai hokage, Tsunade lebih memilih untuk menyewa sebuat apartemen di tengah desa bersama Shizune daripada menempati rumah Klan Senju peninggalan sang kakek. Tsunade selalu beragumen bahwa rumah itu terlalu besar dan hening untuk mereka berdua, ditambah lagi Tsunade kembali menjalankan hobi berkelananya dan jarang berada di Konoha. Seperti sekarang, sudah hampir seminggu Shizune sendirian di apartemen mereka karena Tsunade yang sedang berkelana ke Kumogakure, entah untuk apa. Tapi Shizune sempat mendengar kabar jika ada sesuatu di antara godaime hokage dan yondaime raikage. Tentu saja kabar burung yang belum pasti kebenarannya itu berhembus dari duo Sakura dan Ino (yang di-claim Ino sebagai berita hangat yang dibawa oleh Chouji selepas misi—dan urusan lainnya—di Kumo).
Shizune berjalan melewati pertokoan yang ramai oleh penduduk Konoha. Beberapa orang tampak mulai menutup toko mereka, beberapa anak kecil berlarian dan bermain permainan ninja. Beberapa shinobi tampak bersantai menikmati matahari sore Konoha. Shizune tersenyum melihat pemandangan kampung halamannya yang damai, sesekali ia tampak membalas sapaan warga Konoha yang mengenalnya. Walau Konoha belum kembali seperti sebelum perang, tetapi hampir tidak terlihat kesedihan di mata para penduduk mereka. Bersama-sama, seluruh penduduk Konoha membangun desa mereka yang sempat hancur karena perang dengan semangat baru. Belum lagi dibawah kepemimpinan Kakashi, semua masalah dapat diatasi dengan cepat.
Kakashi.
Tiba-tiba raut sendu terpancar dari wajah cantik Shizune saat mengingat rokudaime hokage. Sudah seminggu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Kakashi dan sudah seminggu pula Shizune meminimalisir interaksi antara dirinya dan sang hokage. Shizune memilih lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit daripada di kantor hokage walaupun ia tahu saat ini ia masih menjabat sebagai asisten rokudaime hokage. Shizune sadar betul bahwa tindakannya sangat tidak profesional dan terkesan mendahulukan perasaan pribadi—yang merupakan dosa besar bagi seorang shinobi dan kunoichi—tetapi apa boleh buat, rumah sakit memang lebih membutuhkanya untuk saat ini.
"Chizune-ba-chan!"
Shizune tersadar dari lamunannya saat mendengar suara menggemaskan yang memanggil namanya. Sedetik kemudian ia merasakan sesuatu menubruk kakinya dan mencengkram Shizune erat-erat. Shizune sedikit kaget namun dengan segera ia menyadari apa yang terjadi. Ia menoleh ke bawah dan mendapati seorang anak perempuan mungil nan menggemaskan sedang mencengkram erat betisnya.
"Mirai-chan." sapa Shizune sambil duduk berjongkok, menyamai tinggi tubuhnya dengan sang gadis kecil yang menyapanya dengan riang.
"Konnichiwa, Chizune-ba-chan!" sapa Mirai lagi dengan senyum menggemaskan. Kedua bola matanya tampak berbinar saat menatap Shizune dan saat menatap senyuman Mirai, Shizune merasakan sedikit beban terangkat dari pundaknya.
"Konnichiwa, Mirai-chan. Okaa-san mu mana?" tanya Shizune sambil mengacak rambut Mirai.
"Dicana." tunjuk Mirai pada sesosok wanita dewasa yang seusia dengan Shizune. Kurenai berdiri tidak jauh dari mereka sambil menggenggam bungkusan karton coklat yang berisi bahan makanan.
"Konnichiwa, Shizune." sapa Kurenai.
"Aku baru membeli beberapa taiyaki untuk cemilan. Ayo menikmati bersama-sama." ajak Kurenai. Semula Shizune tampak ragu untuk menyetujui ajakan Kurenai. Namun pada akhirnya, Shizune menyetujui usul tersebut. Bersama-sama, dua wanita dan satu gadis mungil berjalan menuju apartemen Kurenai.
Shizune duduk dengan tenang di ruang keluarga apartemen Kurenai saat sang pemilik apartemen berada di dapur membenahi belanjaan yang baru ia beli. Kurenai meninggalkan Shizune di ruang keluarga bersama Mirai yang tampak sibuk bermain di area bermainnya, berupa sebuah matras yang dibatasi dengan pagar rendah yang bisa di bongkar pasang. Mirai yang baru berusia empat belas bulan tampak tenang bermain dengan balok kayu warna-warni yang sesekali ia ketuk-ketukan ke lantai jika sedang kesal karena susunan baloknya jatuh.
"Hai, silahkan." penampakan Kurenai yang membawa dua cangkir ocha dan sepiring taiyaki mengalihkan perhatian Shizune dari Mirai. Kurenai meletakan teh dan kudapan yang dibawanya di atas coffee table sebelum mendudukan diri dengan nyaman di hadapan Shizune.
"Ayo dicicipi. Taiyaki yang di jual toko langgananku terkenal paling enak di Konoha." jelas Kurenai. Shizune kemudian mengambil satu kue taiyaki sambil mengucapkan terima kasih pada Kurenai.
"Jadi bagaimana kabarmu?" tanya Kurenai setelah menghabiskan satu kue taiyaki.
"Kau tahu, semenjak melahirkan Mirai dan perang berakhir, kita tidak pernah lagi minum-minum bersama di kedai sake. Aku merasa kehilangan banyak cerita dari teman minum sake ku." candaan Kurenai hanya ditanggapi Shizune dengan senyuman.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Kurenai prihatin. Bohong besar kalau Kurenai tidak menyadari ada sesuatu yang berbeda pada diri sahabatnya. Ia tahu jika satu hal besar sedang dialami oleh Shizune. Mudah saja jika ia ingin bertanya langsung pada Shizune tapi Kurenai memilih untuk diam dan menunggu penuturan yang berasal langsung dari bibir sang iryou-nin.
"Aku." Shizune kehilangan kata-kata, sedikit gamang untuk melanjutkan ucapannya menjadi sebuah cerita.
"Daijoubu. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau bercerita. Tapi kau harus tahu, aku bersedia mendengar semua yang membebani hatimu." ujar Kurenai sambil menyesap ocha-nya. Ia memandang Shizune sesaat sebelum ia menyadari kalau murid tertua Tsunadetampak mulai mengeluarkan air mata.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." ujar Shizune.
Dan setelah itu air mata membanjiri kedua mata Shizune. Secara otomatis Kurenai berpindah tempat duduk ke sebelah sahabatnya. Dirangkulnya Shizune hingga ia menangis di bahu Kurenai.
"Kenapa ini harus terjadi kepadaku?" tanya Shizune disela isakan tangisnya.
"Daijoubu. Menangislah. Itu sedikit membuatmu lebih tenang."
Dan untuk beberapa menit ke depan Kurenai membiarkan Shizune terisak di pelukannya, menumpahkan semua yang ia rasakan kepada sahabatnya.
"Malam itu, aku datang terlambat ke acara pengangkatan Kakashi-san."
Setelah tangisannya reda, Shizune terpekur sesaat. Ia menimang-nimang apakah sebaiknya ia menceritakan kepada Kurenai semua yang terjadi atau tetap diam. Sang ninja medis memiliki pertimbangan bahwa Kurenai pasti pernah mengalami hal yang ia alami. Pada akhirnya Shizune memutuskan untuk menceritakan masalahnya pada mantan jounin sensei tim 8.
"Saat aku datang, semua jounin sudah dalam kondisi kacau balau. Kau mungkin sudah pulang pada saat itu."
Kurenai menatap Shizune dengan lembut, membiarkan sahabatnya bercerita tanpa memotong sedikitpun.
"Saat itu Kakashi-san menghampiriku dan kami belum begitu mabuk. Kakashi-san bilang ia sedang butuh teman yang sama-sama waras."
"Lalu setelah itu aku dan Kakashi-san mengobrol panjang lebar. Tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Entah berapa botol sake yang sudah habis karena hal terakhir yang aku ingat, Kakashi membopongku keluar dari kedai."
Shizune kembali terisak, berusaha menggali memori yang selama dua bulan ini berusaha ia hapus. Namun apa daya, kenangan akan pagi setelah kejadian itu terlanjur terpatri di dalam benaknya. Betapa kagetnya Shizune mendapati dirinya terbangun tanpa busana dan menemukan bercak darah menghiasi kasurnya serta beberapa tanda di tubuhnya. Lebih ironisnya, ia menemukan dirinya seorang diri di dalam kamarnya. Kurenai dengan sigap segera mengusap-usap punggung Shizune, berusaha menenangkan.
"Pagi hari setelah kejadian itu." Shizune terhenti sejenak "Aku hanya menemukan diriku sendirian di kamar. Aku tidak ingat apa-apa, hal terakhir yang aku ingat adalah obrolan santai dengan Kakashi di bar."
"Semula aku menyangka tidak terjadi apa-apa." Shizune kembali terisak,
"Sampai aku menemukan bercak darah di kasur. Dan benar saja, ketakutan terbesarku jadi kenyataan." dan sekarang tangis Shizune kembali pecah.
"Huuush, tidak apa-apa, Shizune. Daijoubu." Kurenai semakin erat memeluk sahabatnya.
"Aku ketakutan saat itu, aku takut terjadi sesuatu padaku sementara aku tidak ingat melakukannya dengan siapa." tambah Shizune masih dalam dekapan Kurenai.
"Sampai akhirnya ketakutanku terbukti. Aku hamil."
"Aku mulai merasakan ada chakra asing yang tumbuh dalam diriku dan tanpa perlu memeriksa lebih lanjut, aku tahu apa yang terjadi. Saat itu aku benar-benar takut. Aku bingung siapa ayah dari anak ini karena lelaki yang terakhir bersamaku adalah Kakashi-san. Aku tidak berani mengambil kesimpulan kalau Hatake Kakashi adalah ayah bayiku."
"Bayangkan Kurenai, bukankah akan jadi skandal besar jika benar aku hamil anak Kakashi-san? Apa kata orang desa kalau hokage mereka ketahuan menghamili asistennya sendiri." jelas Shizune.
"Hush, sudah-sudah. Cukup Shizune!" ujar Kurenai yang ikut menitikan air mana saat mendengar kisah sahabatnya. Ia juga merasakan apa yang Shizune rasakan. Hamil anak dari anggota salah satu klan terpandang di Konoha tanpa ikatan pernikahan sebelumnya, terlebih lagi pria tersebut adalah anak sandaime hokage, ditinggal pergi oleh sang kekasih saat usia kandungannya belum mencapai akhir trimester pertama, dan harus berjuang membesarkan buah hatinya seorang diri. Tentu saja Kurenai mengerti ketakutan yang membayangi Shizune.
"Tapi Kurenai, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus aku lakukan jika nanti anak ini menanyakan siapa ayahnya." tanya Shizune.
"Maksudmu?" tanya Kurenai bingung.
"Aku bahkan tidak yakin kalau Kakashi-san ayah dari bayiku."
"Shizune." panggil Kurenai lembut.
"Aku tahu kalau kau kebingungan. Mari kita bersama-sama menghadapi ini dengan kepala dingin." ujar Kurenai.
"Sekarang tolong jawab pertanyaanku." Kurenai tampak ragu sejenak, "Maaf, kau pernah tidur dengan siapa saja?" tanya Kurenai.
Shizune menatap Kurenai dengan mata yang berair. Mungkin jika orang lain yang bertanya, Shizune akan mengamuk hebat tetapi ia tidak menemukan pandangan meremehkan atau mencela dari bola mata Kurenai. Hanya ketulusan seorang wanita yang ia anggap sebagai sahabat terpancar disana.
"Aku belum pernah melakukannya dengan siapapun hingga malam itu." jawab Shizune jujur.
"Baiklah. Lalu apakah ada lelaki yang mendekatimu setelah malam itu selain Kakashi?" tanya Kurenai lagi. Shizune tampak berpikir.
"Tampaknya tidak."
"Lalu?"
"Lalu?" tanya Shizune bingung.
"Kau sudah bertemu Kakashi sejak—er—kejadian itu?"
Mendadak Shizune teringat kejadian seminggu yang lalu dimana ia mendapati sang mantan copy ninja di depan apartemennya, mempertanyakan status kehamilan Shizune.
"Sudah." Jawab Shizune sambil menunduk.
"Lalu, apakah kalian sudah membicarakannya?"
"Ya."
"Dan reaksi Kakashi?"
"Dia mengaku telah menghamiliku malam itu."
"APA?" Kurenai sedikit kaget dengan perkataan Shizune. "Kemudian?"
"Dia melamarku." jawab Shizune akhirnya.
"APA?" Kurenai semakin kaget saat mendengar pernyataan Shizune. "Ayolah Shizune, apa lagi yang kau pikirkan. Jawabanmu?" ucap Kurenai.
"Aku menolaknya." jawab Shizune, yang dijawab oleh helaan nafas singkat oleh Kurenai.
"Kakashi, salah seorang ninja terbaik yang pernah lahir di tanah Konoha. Ia selalu perhitungan dalam tindakannya dan selalu bertanggungjawab dengan segala keputusannya. Terlebih lagi sekarang ia seorang hokage."
"Justru karena dia seorang hokage. Bukankah akan menjadi skandal besar?" Shizune berusaha membantah ucapan sahabatnya.
"Ayolah Shizune, sekarang warga desa sedang sibuk membangun Konoha. Aku rasa mereka terlalu sibuk untuk hanya sekedar mengorek kehidupan pribadi hokage mereka."
Shizune kembali membantah ucapan Kurenai, "Tapi ada satu hal yang mendasar. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa cinta."
Kurenai terdiam. Ia membiarkan sahabatnya mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya, "Aku tidak ingin anakku terlibat dalam pernikahan tanpa cinta kedua orang tuanya, aku tidak ingin ia menyalahkan diri atas kehadirannya, dan aku tidak ingin ia terbebani dengan status anak hokage yang lahir karena kecelakaan."
Lagi, Kurenai menatap Shizune. Lebih dari 25 tahun ia mengenal sang ninja medis. Ternyata dibalik kisah suksesnya sebagai kunoichi, Shizune terlalu naïf dalam urusan perasaan. Kurena lagi-lagi menghela nafas dengan singkat, mengarahkan pandangannya pada Mirai yang sedang asik bermain dengan boneka.
"Kau tahu Shizune. Mirai lahir dari suatu peristiwa yang dulu aku anggap sebagai kecelakaan." Kali ini Kurenai bercerita.
"Sama denganmu, aku dan Asuma mabuk berat seusai misi dan saat kami sadar, kami sudah berada di kamarku, tanpa busana."
"Semula aku merasa dunia runtuh saat aku hamil. Masa depanku sebagai kunoichi seolah hancur. Tapi yang paling aku takutkan adalah Asuma tidak mengakui keberadaan Mirai. Sempat ragu untuk memberi tahu Asuma mengenai kehamilanku saat itu. Saat itu aku berniat membesarkan Mirai seorang diri."
"Dan kau tahu, ternyata semua pikiran buruk yang ada dibenakku, hanya pikiran buruk saja. Asuma bahagia saat mengetahui aku mengandung anaknya. Ia berkata akan menjaga Mirai dan saat itu aku lupa akan semua pikiran buruk yang selama ini menghantuiku. Tetapi kami tidak pernah membicarakan tentang pernikahan, pikiran kami cukup hanya aku, dia, dan anak kami."
"Sampai pada hari itu, hari dimana aku mendapat kabar Asuma terbunuh oleh anggota Akatsuki." Kurenai menyeka air mata yang tumpah dengan lengannya.
"Dunia yang semula indah, kembali hancur. Dan saat itulah aku baru menyadari betapa berartinya keberadaan Asuma di sampingku. Aku merasa semuanya berakhir saat melihat jasad Asuma dimasukan ke dalam peti dan dikubur dalam tanah."
"Tapi kau tahu? Mirai yang masih di dalam kandungan meyakinkaku kalau semua akan baik-baik saja. Ada ikatan batin antara aku dan Mirai yang saling menguatkan. Aku berusaha bertahan demi titipan Asuma kepadaku. Belum lagi dukungan dari timku, tim Asuma, dukungan darimu, dari teman-teman sesama shinobi, dari hokage, bahkan klan Sarutobi benar-benar membantuku bangkit."
"Perlahan aku mulai menatap masa depanku bersama Mirai tetapi tidak dipungkiri kalau aku selalu berandai-andai, apa yang akan dikatakan oleh Asuma jika melihat Mirai? Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Mirai jika suatu hari ia menanyakan tentang ayahnya?" dan sekarang Kurenai ikut larut dalam kesedihan. Air mata yang semula menggenang di pelupuk mata akhirnya turun.
"Maka dari itu, Shizune. Jangan sia-siakan Kakashi. Dengan atau tanpa cinta, anak kalian membutuhkan kalian berdua. Aku tidak ingin kau menyesal sepertiku." ujar Kurenai sambil menangis.
Shizune masih mematung saat mendengar penuturan Kurenai. Betapa bodohnya ia, tidak memikirkan perasaan anaknya nanti jika bertanya mengenai ayahnya. Seharusnya ia bersyukur karena Kakashi masih mau membantunya membesarkan anaknya. Tidak terbayang di benak Shizune jika harus menghadapi perjuangan seperti yang di lalui oleh Kurenai.
Dan sisa sore itupun mereka habiskan dengan berpelukan sambil menangis, mencurahkan segala beban yang mengganjak dibenak masing-masing.
"Shizune, kau harus membicarakan masalah ini sekali lagi dengan Kakashi. Berbicaralah dengan hati yang tenang, pikiran yang matang. Jangan salah dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kebodohanku terjadi lagi padamu." pesan Kurenai saat mengantar Shizune pulang hingga depan apartemennya.
"Uhm. Arigatou gozaimasu ne, Kurenai." ujar Shizune tulus.
To be Continued
Author's Note
Hallo lagi semuanya. Terima kasih untuk respon 2 chapters sebelumnya. Saya hampir 2 minggu berada di suatu tempat antah berantah dimana sinyal HP dan internet adalah barang mewah. Sempat kaget saat pulang ke rumah, buka email dan masih ada reader yang meninggalkan jejak di cerita ini. Jadi terharu. Terima kasih dukungannya, terutama untuk readers yang meminta saya untuk melanjutkan cerita ini. Dukungan kalian sangat berarti. Maaf belum bisa balas satu persatu terutama untuk readers yang tidak login dengan account. Saya sudah baca review dan masukan Anda sekalian dan terima kasih untuk masukannya dan suntikan semangatnya!
Spesial untuk kali ini, saya post 2 chapters karena tanggung jika di buat 1 chapter akan terlalu panjang dan mungkin akan membosankan. Jadi saya putuskan dipartisi saja.
Salam,
~DRD
