.

.

Warning : AU, OOC, [miss]TYPO, minim dialog, alur cepat, dsb.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate: T

Pairing : Sasuke x Hinata

Genre : Romance, Hurt/comfort

.

Our Wedding

.

Ruangan itu terasa sunyi walaupun diisi oleh 3 orang di dalamnya, tidak ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan. Mereka, Sasuke, Hinata dan Karin bahkan tidak memakai sofa tamu untuk mereka duduki. Hinata berdiri menghadap pada Sasuke dan Karin yang berdiri bersebelahan. Hinata menatap nanar ke arah keduanya. Sedangkan Sasuke dan Karin, masing-masing menghadap ke arah lain. Suasana dalam ruang kerja Sasuke terasa begitu canggung untuk ketiganya.

"Si-siapa gadis ini ?" Hinata yang lebih dulu memecah keheningan

"Maafkan saya nyonya Uchiha, saya hanyalah teman lama suami anda" jawab Karin

"Tidak, dia bukan hanya sekedar teman lamaku" Sasuke menginterupsi ucapan Karin pada Hinata

"Apa yang kau lakukan Sasuke, istrimu ada disini" Karin mencoba memberi peringatan pada Sasuke.

"Justru karena dia ada disini aku mengatakannya. Hinata, inilah tujuanku yang sebenarnya saat menikah denganmu. Aku membutuhkan uang keluargamu untuk mencarinya, gadis yang selama ini aku cintai" hati Hinata mencelos mendengar penuturan gamblang dari suaminya. Apa begitu tidak berhargakah dirinya hingga semua orang memandang rendah padanya, bahkan ayahnya dulu pun juga mengatakan Hinata sebagai seorang putri yang tidak berguna dan sekarang suaminya sendiri mengakui kalau pernikahan mereka hanyalah demi uang, bukan karena rasa cinta maupun kasih sayang.

"Hentikan Sasuke ! Apa kau sudah gila !?" kali ini Karin mencoba memperingati Sasuke dengan bentakan yang cukup keras. Walaupun dia bukan gadis baik-baik, tapi setidaknya dia bukan gadis rendahan yang dengan mudahnya merebut suami orang.

"Ya, dan kaulah yang menyebabkan aku seperti ini. Aku hampir saja menjadi gila karena tidak bisa menemukan keberadaanmu" Hinata hanya bertindak sebagai penonton saja disini. Kakinya terasa kaku untuk segera beranjak pergi dari ruangan ini dan lidahnya terasa kelu bahkan untuk mengucapkan satu kata pun.

'plak'

Karin menampar Sasuke. Sasuke jelas merasa terkejut dengan tindakan Karin padanya. Hinata yang melihatnya saja bahkan cukup terkejut. Jika ada orang yang seharusnya menampar Sasuke, itu adalah dirinya. Tapi kenapa gadis yang jelas-jelas dicintai oleh Sasuke malah yang melakukannya.

"Berhentilah mengatakan omong kosong semacam itu" setelah mengucapkannya pada Sasuke, Karin segera beranjak dari ruangan itu.

Sasuke akan kembali mengejar Karin, tapi gerakannya itu terpaksa harus berhenti karena da sepasang tangan milik Hinata yang mencegahnya untuk pergi. Hanya ini yang bisa Hinata lakukan sekarang, dia tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi untuk menghentikan Sasuke.

"A-aku istrimu" Hinata mengatakannya terus memegangi Sasuke.

"A-aku lebih membutuhkan pe-penjelasanmu sekarang" Lanjut Hinata

Tanpa membalas satu pun ucapan Hinata, Sasuke melepas kedua tangan Hinata yang mencegahnya dan segera berlalu untuk menyusul Karin.

"Padahal aku istrimu, tapi kenapa aku merasa menjadi orang ketiga disini" gumam Hinata.

.

.

Our Wedding

.

Hinata berjalan dengan gontai saat keluar dari ruang kerja Sasuke. Hinata tidak lagi menghiraukan setiap sapaan dari para pegawainya. Pikirannya terasa kosong saat ini, bahkan sesekali ia menabrak pegawai yang memang sedang terburu-buru, tapi saat pegawai itu meminta maaf berkali-kali, Hinata masih tetap tidak menghiraukannya dan berlalu begitu saja. Pegawai yang lain menjadi bingung, tidak seperti biasanya isti bos mereka itu bersikap dingin seperti ini. Tapi mereka memilih acuh dan kembali melakukan pekerjaan yang sedang mereka lakoni.

Saat Hinata hampir keluar dari gedung kantor itu, sekali lagi Hinata menabrak seseorang, tapi kalau dilihat dari jas mahal yang dipakainya, dia bukanlah salah satu dari pegawai disini.

"Ma-maaf" kali ini Hinata yang meminta maaf terlebih dulu

"Tidak, seharusnya aku yang lebih dulu meminta maaf. Aku menabrakmu cukup keras, apa ada yang sakit ?" tanya orang itu yang merupakan seorang pria, tapi Hinata tidak melihat wajah pria tersebut karena Hinata sejak tadi menndukkan kepalanya.

Mendengar kata sakit, entah kenapa membuat Hinata teringat kembali dengan apa yang baru dialaminya.

"Ya.. Hiks.. Ini sangat menyakitkan... Hiks... Rasanya sakit sekali" Hinata sudah tidak bisa lagi membendung air mata yang sejak tadi ditahannya.

"Benarkah ? Bagian mana yang sakit ? Apa ada yang terluka ?" pria yang ada didepannya menjadi panik begitu melihat perempuan yang ditabraknya menangis.

'Apa sekeras itu aku menabraknya ?' batin pria itu keheranan

"Hiks.. Huuaaa..." Hinata malah menagis semakin kencang, dan itu membuat perhatian semua pegawai yang berlalu-lalang memerhatikan mereka. Pria itu jadi merasa seperti sedang diadili secara tidak langsung oleh semua orang yang melihatnya yang seolah menuduh dialah yang menyebabkan Hinata menangis.

"Kita pergi dari sini" pria itu menarik tangan Hinata dan membawanya ketempat yang cukup tenang, sedangkan Hinata hanya membiarkan begitu saja pria yang tidak dikenalnya itu membawanya.

.

.

Our Wedding

.

Pria itu membawa Hinata kesalah satu kafe yang terletk tidak lterlalu jauh dari kantor. Mereka kali ini duduk saling berhadap-hadapan. Pria itu terus memperhatikan Hinata yang duduk didepannya seolah meneliti apapun objek yang ada didepannya itu.

Hinata yang sudah mulai berhenti menangis tapi masih sedikit sesengukan itu merasa sedikit risih diperhatikan seperti itu. Hinata baru sadar kalau pria didepannya ini memiliki warna rambut yang cukup mencolok, merah maroon. Juga ada tato bertuliskan 'ai' didahinya. Hinata jadi parno sendiri, bagaimana jika orang didepannya ini bukan orang baik. Wajahnya saja tidak memeperlihatkan gurat keramahan sama sekali. Padahal dari suaranya tadi terdengar seperti orang yang ramah.

"Ma-maaf karena sudah merepotkanmu" Hinata sedikit menundukkan kepalanya pada pria didepannya.

"Hn" jawab pria itu singkat. Perasaan Hinata saja atau pria didepannya ini sepertinya memiliki sikap yang sebelas dua belas dengan Sasuke. Memikirkan nama Sasuke membuat Hinata menjadi murung lagi dan membuatnya kembali menunduk agar orang di depannya tidak bisa melihat kesedihannya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya ?" tanya pria itu

"A-apa ?... Ma-maksudku se-sepertinya kita belum pernah bertemu se-sebelumnya" jawab Hinata.

"Benarkah ? Tapi kenapa aku tidak merasa asing denganmu" pria itu mendekatkan wajahnya pada Hinata. Hinata yang diperlakukan dengan sedikit tidak sopan itu memundurkan badannya hinnga berhenti pada sandaran kursi yang didudukinya.

"Ma-maaf tuan.. Bi-bisa anda mu-mundur sedikit ?" Hinata mencoba memperingati pria didepannya ini. Pria itu menurut dan kembali pada posisi duduknya yang semula.

"Tidak salah lagi, aku memang pernah bertemu denganmu sebelumnya. Apa kau lupa denganku nona Hinata ?" Hinata jelas terkejut mendengar pria asing itu menyebutkan nama kecilnya. Hinata bahakan belum memperkenalkan dirinya, dari mana pria itu bisa tahu.

"Kau sungguh lupa denganku ? Kalau begitu aku akan kembali memperkenalkan diriku, namaku Sabaku Gaara. Pelanggan setia di kafe tempatmu bekerja dulu" kata pria yang mengaku bernama Gaara itu pada Hinata. Sepertinya Hinata merasa tidak asing dengan nama itu. Kafe ? Benar juga, saat meninggalkan rumah waktu itu diakan memang bekerja di kafe sebagai pelayan. Mana mungkin Hinata bisa melupakan pekerjaan yang sudah dilakoninya selama bertahun-tahun. Tapi sungguh, Hinata lupa dengan pria yang ada dihadapannya saat ini.

"A-ano.. Se-sepertinya aku tidak mengingatnya, ma-maaf"

"Itu memang sudah agak lama, jadi wajar kalau kau lupa denganku" Gaara kembali melihat Hinata dengan ekor matanya. Penampilan Hinata sekarang sedikit berubah, terlihat lebih dewasa dan.. Cantik. Dulu Hinata sangat ramah pada setiap pelanggan yang datang, termasuk padanya. Tidak peduli sebanyak apapun pelanggan yang datang, Hinata selalu menampilkan senyuman yang menawan. Saat itulah, tanpa sadar Gaara selalu datang ke tempat Hinata bekerja hanya untuk memperhatikannya melayani setiap pelanggan yang datang.

"Kau sekarang bekerja dimana ?" Gaara menanyakannya setelah menyesap kopi hitam yang tadi dipesannya

"A-aku sudah tidak bekerja lagi" jawab Hinata

"Apa kau kesulitan mencari pekerjaan ? Aku bisa membantumu" Gaara mencoba menawarkan pekerjaan pada Hinata,

"Ti-tidak perlu. A-aku tidak bekerja karena sudah me-menikah" menyebut kata menikah membuat Hinata kembali teringat dengan Sasuke dan kejadian beberapa waktu yang lalu. Gurat kesedihan kembali nampak di wajahnya dan pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Gaara.

Awalnya Gaara terkejut dan berfikir mungkin ini alasan Hinata tiba-tiba berhenti bekerja. Tapi bukannya pernikahan adalah suatu kabar yang membahagiakan, tapi kenapa Hinata malah terlihat sedih saat mengatakan tentang pernikahannya.

"Hn. Siapa suamimu ?" Gaara sedikit penasaran dengan pria yang sudah menikahi Hinata

"U-uchiha Sasuke"

"Presdir dari Uchiha Corp ?" Hinata mengannguk untuk menjawabnya. Hinata bahkan sekarang memiliki suami yang mapan dan sukses dalam dunia bisnis. Kalau memang presdir Uchiha corp itu suaminya, pasti Hinata datang ke kantor itu untuk menemui suaminya. Tapi kenapa saat bertemu dengan Hinata, Gaara malah melihatnya menangis? Kali ini Gaara enggan bertanya lebih lanjut karena dia tahu posisinya sekarang hanyalah sebatas kenalan Hinata.

"Ga-gaara-san sendiri bekerja dimana ?"

"Aku bekerja disalah satu perusahaan di Suna"

"La-lalu, kenapa Gaara-san bi-bisa ada disini ?"

"Aku hanya menemani temanku saja. Seharusnya hari ini kami ada rapat dengan presdir Uchiha corp, tapi tiba-tiba rapat itu dibatalkan" jelas Gaara. Tapi kali ini Hinata enggan untuk menanggapinya karena tahu penyebab Sasuke membatalkan rapatnya itu.

"Se-sepertinya aku sudah terlalu lama disini. A-aku harus pulang sekarang" merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Hinata pamit pada Gaara.

"Hn. Kuharap kita bisa sering bertemu" itu bukan sekedar omong kosong atau hanya basa-basi saja, Gaara memang ingin kembali bertemu dengan Hinata dilain kesempatan.

"Ku-kuharap juga begitu" setelah sedikit membungkuk pada Gaara, Hinata segera beranjak dari kafe itu.

.

.

Our Wedding

.

Setelah Hinata pergi,Gaara masih belum beranjak dari kafe itu. Dia memilih berdiam diri disana untuk menunggu salah satu temannya.

"Tumben sekali kau mengajakku bertemu disini, biasanya kau langsung menyuruhku ke kantor" beberapa saat kemudian seorang pria dengan rambut didikat tinggi ke atas mendatangi mejanya dan duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Hinata.

"Hn. Aku hanya ingin mencari suasana baru saja"

"Bagaimana hasil rapatnya, adik ipar ?" tanya pria itu dengan menambahkan embel-embel 'adik ipar' di belakangnya

"Rapat itu mendadak dibatalkan dan berhentilah memanggilku adik ipar, Shikamaru" Gaara merasa sedikit tidak senang dengan panggilan baru teman sebayanya ini.

"Aku ini calon suami kakakmu karena itu aku berlatih memanggilmu adik ipar" Shikamaru memang sebentar lagi akan menikah dengan kakak perempuan Gaara, Temari. Gaara sendiri tidak tahu bagaimana keduanya bisa menjalin hubungan sampai pada tahap seperti ini. Shikamaru adalah teman Gaara sejak duduk di bangku Senior High School.

Kenyataan bahwa Shikamaru seumuran dengannya dan akan menikahi kakak perempuannya yang otomatis mengharuskannya memanggil Shikamaru dengan sebutan 'kakak ipar'. Walaupun bersikap tidak suka dengan panggilan baru yang disematkan padanya, Gaara tetap merasa senang melihat Shikamaru berbahagia dengan Temari.

"Hn. Terserah kau saja" Gaara memilih bersikap tak acuh kali ini.

"Jadi, apa yang kau lakukan disini jika rapatnya sudah dibatalkan ?" tanya Shikamaru

"Aku menemui seseorang"

"Siapa ?"

"Gadis pelayan kafe yang sering kita kunjungi dulu" Gaara membahas pertemuannya dengan Hinata beberapa menit yang lalu

"Maksudmu Hinata ? Hyuuga Hinata?" Shikamaru juga kenal dengan Hinata, karena dulu sering kali Gaara mengajak dirinya pergi ke kefe tempat Hinata bekerja.

"Dia bukan Hyuuga lagi, namanya sekarang Uchiha Hinata" Gaara menanggapi pertanyaan Shikamaru

"Kau terlambat satu langkah"

"Hn" memang benar, jika dulu ia lebih berani untuk mendekati Hinata, mungkin saat ia tidak akan terlihat menyedihkan karena tahu jika perempuan itu sudah menikah. Pekerjaannya selama beberapa tahun di luar negeri juga menghambatnya untuk memiliki Hinata saat itu.

"Lalu bagaimana ? Kau sudah menyerah sekarang ?" Shikamaru bersikap sedikit serius kali ini. Walaupun Shikamaru tidak pernah mendengar sendiri dari Gaara bahwa dia menyukai Hinata, tapi Shikamaru merasa yakin kalau teman sekaligus calon adik iparnya ini memiliki rasa ketertarikan yang lebih pada gadis itu.

"Entahlah. Sekarang aku hanya ingin lebih sering bertemu dengannya saja" Gaara menjawabnya dengan enteng

"Hei, kau tidak mungkin berpikiran ingin merebut istri orangkan ? Aku tidak mau punya adik ipar yang dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain" Shikamaru sedikit memberi peringatan pada Gaara. Walaupun Gaara tergolong pria yang selalu bersikap tenang, tapi siapa yang tahu bahwa sebenarnya Gaara juga termasuk orang yang nekad.

"Dia sepertinya tidak bahagia dengan pernikahannya" Gaara enggan menanggapi pertanyaan Shikamaru.

"Darimana kau tahu dia tidak bahagia, kau bahkan baru bertemu dengannya tadi"

"Aku bisa melihatnya. Dia tampak sedih saat berbicara tentang pernikahannya" memang itulah yang ditangkap penglihatan Gaara saat itu.

"Baru bertemu dengannya dan kau sudah membicarakan tentang kehidupan rumah tangganya ?"

"Kami tidak membicarakannya. Aku hanya menebaknya saja" Gaara mencoba menyanggah pernyataan Shikamaru

"Hentikan saja, aku tahu kau pernah tertarik padanya. Tapi sekarang keadaannya berbeda, dia sudah memiliki suami" Shikamaru masih bersikeras memperingati Gaara

"..." kali ini Gaara memilih diam walaupun pikirannya masih tertuju pada Hinata yang beberapa waktu lalu ditemuinya.

.

.

Our Wedding

.

Seharian ini Hinata sangat lelah. Lelah secara fisik maupun mental. Setelah bertemu dengan Gaara, Hinata memilih untuk langsung pulang ke rumah dan beristirahat. Merebahkan diri sejenak di dalam kamar dan terlelap dalam tidurnya beberapa saat kemudian

...

...

Begitu terbangun, langit diluar sudah berubah menjadi gelap, tapi Hinata bahkan masih berbaring di kasurnya dan pakaian yang tadi dikenakannya belum diganti oleh pakaian rumah seperti biasanya.

Sadar akan itu, Hinata segera bangun, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam dan segera beranjak untuk membasuh dirinya sebelum mengganti pakaian yang dikenakannya.

Setelah mengganti pakaian, Hinata keluar dari kamar. "Apa Sasuke-kun belum pulang ?" tanya Hinata pada salah satu pelayan yang kebetulan ditemuinya.

"Belum Hinata-sama" setelah mengatakannya, pelayan itu kembali melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda

Hinata kembali murung, 'Mungkin dia menginap di tempat Karin-san' batin Hinata.

Hinata sudah akan beranjak menuju kamarnya kembali, karena menunggu Sasuke pulang saat ini akan berakhir dengan sia-sia.

"Sasuke-sama, anda baik-baik saja ?"

"Minggir !" mendengar keributan yang berasal dari pintu depan, Hinata mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi ke sumber suara.

Didepan pintu, Hinata melihat Sasuke yang berjalan dengan sempoyongan. Sasuke juga menolak dan bahkan mendorong para pelayan yang mencoba membantunya untuk berjalan dengan benar agar tidak menabrak setiap benda yang dilaulinya. Hinata yang melihat itu pun juga ikut membantu Sasuke, dan menyuruh pelayan lainnya untuk meninggalkan mereka.

"Biar aku saja yang membawanya ke kamar" setelah mengatakan itu, Hinata menuntun Sasuke menuju kamar mereka. Hinata dapat mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Sasuke.

Berbeda dengan perilakunya pada beberapa pelayan yang tadi mencoba membantunya, kali ini Sasuke membiarkan dirinya dibantu oleh Hinata. Tapi meskipun begitu, Sasuke malah menatap Hinata dengan pandangan dingin.

Setelah sampai di dalam kamarnya, Hinata merebahkan Sasuke. Hinata akan mengambilkan air madu untuk Sasuke, tapi sebelum niatnya itu tercapai, Hinata di tarik dengan kasar oleh Sasuke yang membuatnya jatuh terlentang di atas kasur dan Sasuke yang tadi menariknya menindih tubuh Hinata yang berada di bawahnya.

Sasuke mencekal kedua tangan Hinata dengan sebelah tangannya dan meletakkannya di atas ke pala hinata.

"Sa-sasuke-kun, a-apa yang kau lakukan ?" tanya Hinata sedikit cemas. Pasalnya Sasuke yang sekarang berbeda dengan Sasuke yang biasanya. Hinata jauh lebih takut dengan sosok Sasuke yang saat ini sedang berada di atasnya.

"Apa kau merasa senang sekarang ?" bukannya menjawab pertanyaan Hinata, Sasuke malah menanyakan hal lain pada Hinata yang memiliki maksud sedikit ambigu.

"Apa kau senang karena sudah mengahancurkan semuanya sekarang ?"

"A-apa maksud Sasuke-kun ?" Hinata benar tidak mengerti arah pembicaraanya dengan Sasuke

"Belum puas kau mengikatku dengan kuat sampai terasa menyakitkan, dan sekarang kau ingin mengambil satu-satunya hal yang berharga dalam hidupku ?" Sasuke semakin merancau tidak jelas, sepertinya efek minuman berarkohol membuatnya sulit untuk berpikir jernih.

"Aku sudah lama hidup sebagai budak ayahmu hanya untuk mencari dia dan sekarang apa aku harus menghabiskan sisa hidupku dengan menjadi budakmu juga ?" Hinata kali ini memilih diam dan mendengarkan kelanjutan ucapan Sasuke. Hinata paham siapa yang dimaksud 'dia' oleh Sasuke.

"Setelah aku menemukannya, sekarang kau mau menghancurkan semuanya dengan terus berada disisiku. Membuatnya kembali menjauh dariku" Sasuke masih saja menyalahkan Hinata yang bahkan Hinata tidak tahu dimana letak kesalahannya.

"Apakah seburuk itu anggapanmu padaku ?" Hinata bertanya dengan nada serius

"Ya. Kau hanyalah penghambat dalam mencapai tujuanku. Jika saja kau tidak pernah kembali, aku tidak perlu menikah dengamu dan dengan begitu, semua rencanaku akan berjalan dengan semestinya tanpa adanya dirimu" Sasuke melimpahkan semuanya pada Hinata. Air mata itu kembali mengenang di pelupuk mata Hinata begitu mendengar semua pengakuan dari suaminya. Jadi selama ini, Sasuke menganggap dirinya sebagai pengahambat saja, lalu kenapa selama ini Sasuke bersikap lembut padanya. Membuatnya berpikir bahwa pernikahannya dengan Sasuke berjalan baik-baik saja.

"Lalu, kenapa kau menerima pernikahan ini ? Dan juga, kenapa kau berperilaku baik padaku selama ini ?" akhirnya Hinata menyuarakan semua pertanyaan yang berputar-putar di dalam benaknya.

"Khehh.. Kau pikir itu kemauanku. Aku terpaksa melakukannya. Jika kau menikah dengan orang lain selain denganku, secara otomatis hartamu juga akan mejadi milik pria lain. Jangan salah paham dengan perilakuku padamu selama ini, itu juga termasuk dalam rencanaku untuk menguasai hartamu" Sasuke tersenyum meremehkan mendengar pertanyaan dari Hinata.

"Hanya itu, kau melakukan semua itu hanya untuk itu ?"

"Benar. Karena itu kumohon, pergilah dan lepaskan aku. Biarkan aku kembali pada orang yang kucintai. Kumohon, menghilanglah..." setelah mengatakan itu, sasuke kehilangan kesdarannya karena efek alkohol yang ditenggaknya. Jatuh menimpa tubuh Hinata yang masih berada di bwahnya. Tidak sadar akan semua hal yang diucapkannya saat itu akan menjadi titik balik dari perasaan dan juga kehidupannya. Bahkan mungkin ketika bangun, Sasuke akan melupakan hal itu dan menganggap kalau semuanya itu tidak pernah ada dan tidak pernah dikatakannya.

Hinata tidak sanggup berkata apa-apa lagi selain menangis. Memangnya apa yang bisa dia lakukan. Dia tidak memiliki siapapun untuk mendukungnya saat ini. Tidak ada yang bisa menolongnya dari jurang kesengsaraan ini selain dirinya sendiri.

Hinata mengubah posisi tidur Sasuke agar tidak menindih tubuhnya, melepaskan sepatu dan mengganti kemeja yang dikenakan oleh Sasuke dengan pakaian baru. Hinata bahkan tidak bisa merasa tidak peduli pada Sasuke saat ini. Walaupun Hinata merasa kecewa dengan apa yang sudah Sasuke ungkapkan padanya, dia merasa masih berhutang budi pada Sasuke. Walau bagaimanapun, Sasuke adalah orang yang pernah menolongnya dari kesendirian saat ayahnya meninggal. Sasuke juga adalah tempat Hinata bersandar selama ini. Sasuke adalah suaminya, orang yang dicintainya. Kalau orang yang selama ini menjadi tempatnya pulang dan bersandar menyuruhnya untuk pergi dan menghilang dari kehidupannya, apa sebaiknya yang harus Hinata lakukan.

Malam itu Hinata kembali menangis sendirian dan sebuah keputusan akhirnya diambil oleh Hinata saat itu juga. Keputusan yang mungkin bisa membuatnya terbebas dan berhenti merasa terluka. Keputusan yang juga mungkin akan menjadi keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga Sasuke.

Hinata menghapus air matanya, melihat sejenak ke arah Sasuke yang sudah tertidur pulas di tempat tidur sebelum beranjak pergi dari kamarnya

...

...

Hinata masuk kedalam ruang kerja Sasuke dan mengambil amplop berisi surat gugatan cerai beserta surat keterangan balik nama yang tadi pagi dilihatnya. Hinata sudah memutuskan, biarlah semua berjalan sesuai dengan keinginan Sasuke. Ini sebagai bentuk rasa terima kasihnya selama ini, sebelum mengabulkan permintaan Sasuke yang menyuruhnya untuk pergi dan menghilang. Setelah menandatangani keduanya, Hinata meletakannya ke tempat semula dan keluar dari ruangan itu

.

.

Our Wedding

.

Sasuke bangun dengan tubuh yang terasa sangat kaku. Kepalanya juga terasa berdenyut dengan keras dan membuatnya kesulitan untuk duduk. Sedikit menggelengkan kepalanya untuk sedikit menghilangkan sakit kepalanya, Sasuke menoleh ke seluruh ruangan yang ditempatinya.

Sepertinya ia berada di dalam kamarnya sendiri. Sasuke hanya ingat saat dirinya kembali mendapat penolakan yang sama dari Karin. Membuatnya merasa frustasi dan memilih untuk melimpahkannya pada alkohol. Sasuke tidak ingat bagaimana ia bisa sampai dirumah dan tidur di dalam kamarnya seperti biasa. Sasuke bahkan tidak mengingat tentang semua yang dikatakannya pada Hinata semalam. Cukup lama Sasuke berdiam diri di atas tempat tidurnya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi kedapur. Meminum segelas air madu mungkin dapat membuat kesadarannya kembali. Belum sempat Sasuke keluar dari kamarnya, Hinata sudah masuk terlebih dulu dengan membawa segelas air madu ditangannya.

"Kau sudah bangun ?" Sasuke mneghampiri Sasuke yang masih terduduk di pinggiran tempat tidur dan menyodorkan segelas air madu yang dibawanya,

"Minumlah" Sasuke menerimanya dan meminumnya hingga habis.

Setelah selesai, Sasuke menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong itu pada Hinata. Hinata menerimanya dan menaruhnya di meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Selesai dengan itu, Hinata menujupada lemari baju dan mengeluarkan pakaian seperti biasa yang Sasuke kenakan saat pergi ke kantor.

Sasuke memandang heran ke arah Hinata. Bukannya kemarin Hinata sudah tahu semuanya. Tentang dirinya dan juga Karin. Tapi kenapa sekarang Hinata bertindak seolah tidak terjadi apa-apa dan melakukan semuannya seperti sewajarnya.

"Kenapa Sasuke-kun masih duduk disana, kau akan terlambat ke kantor jika terus seperti itu" Hinata mencoba menyadarkan Sasuke dari lamunannya.

"Hn" Sasuke menuruti kata Hinata dan segera melakukan ritual rutinnya sebelum berangkat ke kantor. Tentu saja Hinata membantunya menyiapkan segala keperluannya sebelum berangkat.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Hinata membuatkan Sasuke bekal makan siang dan mengantarkannya sampai depan rumah. Hinata menyerahkannya bekal itu pada Sasuke dan berpesan untuk menghabiskannya dan Sasuke mengannguk mengiyakan.

Sebelum pergi, Hinata tiba-tiba memeluk Sasuke dengan erat. Sasuke terkejut karena apa yang Hinata lakukan. Untuk yang satu ini, Hinata belum pernah melakukan itu sebelumnya. Tapi Sasuke memilih diam dan membalas pelukan Hinata.

Entah kenapa Hari ini Sasuke merasa berat untuk pergi ke kantor dan meninggalkan Hinata. Sasuke bingung dengan perasaanya sendiri. Disatu sisi Sasuke yakin kalau dirinya masih mencintai Karin, tapi disisi lain keberadaan Hinata terasa penting baginya saat ini. Setelah beberapa saat berada pada posisi itu, Hinata melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut pada Sasuke.

Sasuke tidak membalas senyuman Hinata dan memilih untuk segera beranjak dari sana menuju mobilnya. Jika terus berada didekat Hinata, Sasuke akan semakin merasa bingung dengan perasaanya sendiri.

Hinata memandang kepergian Sasuke sampai mobil yang dikendarainya tidak terlihat lagi olehnya.

"Ini yang terakhir" gumam Hinata sebelum kembali memasuki kediamanya.

.

.

.

TBC

.

A/N : Maaf atas keterlambatan updatenya, alasan keterlambatan saya sudah saya tulis di kotak profil saya. Untuk chapter selanjutnya mungkin saya juga akan terlambat updatenya karena masih ada 3 mata kuliah yang baru akan melaksanakan UTS minggu depan.

Atas saran yang sudah saya terima dari reader, banyak yang menyarankan untuk memilih Gaara sebagai orang yang juga mencintai Hinata. Sebenarnya ada saran lain yang saya terima seperti untuk menjadikan Toneri atau Naruto sebagai orang yang juga mencintai Hinata.

Tapi karena saya tidak bisa memakai semua chara laki-laki dalam fic saya ini, saya akhirnya memilih Gaara karena banyak reader yang merekomendasikannya.

Saya tetap berterima kasih pada reader yang sudah memberikan sarannya pada saya.. ^^

chapter kali ini juga sudah saya buat panjang, saya tidak bisa kalau harus menulis yang lebih panjang lagi dari ini.

.

Special Thank for :

hiru neesan, mikyu, sushimakipark, NurmalaPrieska, Sabaku No Aira, Matsuda Yuiko, Daisy352, chiwichan, Nameayane, keita uchiha, fujiwarajannah, lovely sasuhina, Birubiru-chan, yana kim, dindachan06, D sally, CallistaLia, HipHipHuraHura, Mey, Julliana1, Lavender, rinzieone, hyuga ashikawa, Onyxlave, hana, Rohnasiah460, Eve Seven, clare, hyacinth uchiha, artroye, Mellyzainal, ghiriuta, Rinie Okidoky, winatabiong, cintya cleadizzlibratheea, alma, tanpanama556, yuma, Dark Side, elvit chan, Furi Tsuyoko, yuki, yuka, Uchiha Innha, ChintyaRosita, Nameaya ara, dedeqseokyu, Green Oshu, Mita662, lastrisihaan, agnesia margaret, Guest.

.

Terima kasih pada semua reader yang sudah mau membaca dan mereview ff saya.. ^^

Jangan lupa tinggalkan jejak ya.. :D

Salam hangat dari saya dan sampai jumpa di chap selanjutnya...^^

R

E

V

I

E

W

Please