.
.
Warning : AU, OOC, [miss]TYPO, minim dialog, alur cepat, dsb.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate: T
Pairing : Sasuke x Hinata
Genre : Romance, Hurt/comfort
.
Our Wedding
.
Setelah Sasuke pergi, Hinata kembali masuk kedalam rumahnya dan berjalan dengan cepat ke arah ruang kerja Sasuke. Hinata mengambil berkas yang kemarin malam ditandatanganinya. Keputusan Hinata sudah bulat, ia akan mengakhirinya sampai disini dan segera pergi sejauh mungkin. Hari ini Hinata berniat untuk memberikan semua berkas itu pada Kakashi agar pengacara pribadi keluarganya itulah yang akan memberekannya. Karena Hinata juga tahu kalau Kakashi juga turut andil dalam semua permasalahan ini.
...
"Kakashi-sama, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda" kegiatan Kakashi yang sedang meneliti beberapa berkas yang akan digunakan untuk membantu salah satu klientnya terhenti begitu mendengar ucapan salah satu pegawai di kantornya
"Siapa ?"
"Hinata-sama yang ingin bertemu dengan anda?" Kakashi sedikit mengernyit keheranan. Tidak seperti biasanya Hinata ingin bertemu dengannya, bahkan langsung mendatangi kantornya. Tanpa membuang waktu, Kakasih segera menemui Hinata yang sudah menunggunya di ruang tamu yang ada di kantornya.
"Ada keperluan apa sampai Hinata-sama repot-repot datang sendiri kemari ?" Kakashi langsung menanyakan perihal yang membuat Hinata datang sendiri menemuinya.
"Aku ingin kau mengurus ini" Hinata menyerahkan sebuah amplop coklat yang diambilnya dari ruang kerja Sasuke. Kakasih membuka amplop itu dan terkejut melihat isi didalamnya. Itu adalah dokumen yang Sasuke minta padanya beberapa waktu yang lalu, tapi bedanya sekarang semua dokumen itu sudah ditandatangani oleh Hinata.
"Darimana anda mendapatkan semua ini, Hinata-sama ?" tanya Kakashi
"Bukankah kau sendiri yang memberikannya pada suamiku" jawab Hinata ringan.
Kakashi kembali harus dikejutkan dengan pernyataan Hinata barusan. Jadi Hinata sudah tahu semuanya.
"Kau tidak perlu merasa terkejut seperti itu. Aku tidak akan melakukan hal buruk padamu. malah sebaliknya, aku akan menyelesaikan apa yang sudah dibuat oleh suamiku" Hinata mengatakannya dengan lembut tapi tegas. Bahkan tidak ada kegugupan sama sekali saat Hinata mengatakannya. Hinata mengucapkan setiap kata dengan tenang.
"Apa Sasuke tahu tentang ini ?"
"Justru itu tujuanku datang kesini. Memang Sasuke yang menginginkan ini, bahkan ia sendiri yang memintamu membuat semua berkas-berkas ini. Tapi kumohon, jangan katakan apapun padanya sampai ia sendiri yang datang padamu dan menanyakannya. Aku juga ingin mengubah beberapa hal dalam surat kuasa ini. Jika Sasuke mengambil alih sahamku, dia harus menyumbangkan sepertiga dari penghasilannya pada lembaga sosial" Hinata mengutarakan tujuannya datang kemari.
Kakashi terlihat berpikir sejenak. Berusaha menangkap maksud Hinata.
"Apa setelah ini kau akan meninggalkannya ?" itulah kesimpulan yang Kakashi dapat dari semua ucapan Hinata
"Aku tidak meninggalkannya, tapi dialah yang memaksaku untuk pergi" Hinata mengatakan hal itu dengan senyuman. Tapi bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyuman pilu yang diperlihatkannya.
.
.
Our Wedding
.
Setelah bertemu dengan Kakashi, Hinata tidak langsung pulang kerumah. Ia ingin menemui seseorang yang sangan berarti bagi suaminya dan menjadi alasan kenapa Sasuke memperlakukan Hinata dengan tidak adil, Karin. Hinata berniat menemuinya di tempat dimana karin bekerja sekarang.
Ia mendapatkan dimana informasi Karin bekerja dari Kakashi, karena sejak awal Kakashi juga sudah tahu banyk hal tentang hubungan antara Sasuke dan Karin. Bahkan Kakashi juga tahu alasan Sasuke mau menilah dengan Hinata. Tapi Hinata sama sekali tidak marah dengan hal itu, memangnya apa yang bisa ia lakukan, semua sudah terjadi. Jika ini memang takdirnya, maka biarlah ia menjalani semuanya.
Karena kemampuan yang dimiliki Karin dalam bidang farmasi, ia diterima sebagai perawat disalah satu rumah sakit besar di pusat kota. Hinata menemui Karin langsung ke tempatnya bekerja. Karin merasa terkejut begitu mendapati Hinata berada di tempatnya bekerja. Tapi ia tetap berusaha bersikap tenang ketika Hinata mendekatinya dan mengatakan ingin membicarakan sesuatu dengannya. Hinata mengajak Karin berbicara secara empat mata di kafe dan Karin pun menyetujuinya.
...
...
Hinata memilih meja yang berada di ujung kafe tersebut karena sekeliling meja itu hanya terdapat beberapa penguung saja dengan jarak yang lumayan jauh dan itu merupakan tempat yang cukup bagus untuk membicarakan hal pribadi dengan Karin. Sedangkan Karin hanya menuruti saja kemana Hinata pergi, toh Hinata sendiri yang memintannya untuk membicarakan hal yang Karin sudah menduga tentang hal apa yang akan mereka bicarakan. Karin dan Hinata duduk berhadapan dengan meja persegi yang memisahkan jarak antara keduanya.
"Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan. Jika ini tentang Sasuke, kau tidak perlu khawatir. Aku cukup tahu diri untuk tidak merusak rumah tangga orang lain. Ini jaminan dariku, aku tidak akan pernah menemui suamimu lagi" walaupun Hinata yang meminta pembicaraan ini dilakukan, tapi Karinlah yang terlebih dahulu membuka percakapan mereka. Hinata tersenyum kecil menanggapi ucapan Karin barusan.
"Tidak, justru sebaliknya. Aku menemuimu hari ini untuk meminta padamu agar kau kembali pada Sasuke" walau perih, Hinata mencoba mengungkapkan maksud kedatangannya menemui Karin hari ini.
"Apa maksudmu ?" Karin merasa bingung dengan reaksi yang ditunjukkan Hinata setelah ia mengatakan ucapannya tadi dan sekarang ia kembali dibuat bingung ketika Hinata malah menyuruhnya untuk kembali pada Sasuke yang jelas-jelas adalah suaminya sendiri.
"Kembalilah padanya. Aku tidak akan menghalangi hubungan kalian" Hinata kembali mengatakan maksud dari ucapannya
"Kenapa ?"
"Karena kenyataan, jika suamiku lebih bahagia saat bersama dengan cinta dari masa lalunya daripada bersama dengan istri yang sama sekali tidak pernah diharapkan kehadirannya" Hinata mencoba mengataknnya dengan setenang mungkin. Ia tidak ingin terbawa emosi dan kembali harus menunjukkan sisi terlemahnya sebagai seorang perempuan
"Aku menolak" kata Karin tanpa sedikitpun keraguan di dalamnya.
"Kalau begitu aku akan memohon padamu" jawab Hinata cepat
"Kenapa kau harus melakukan semua ini. Sasuke adalah pria yang sudah menyakitimu, dan aku adalah orang yang secara tidak langsung menjadi penyebab sakit hatimu itu" Kain merasa heran, bagaimana bisa seorang istri yang dikhianati dan disakiti oleh suaminya malah memikirkan kebahagiaan suami yang sudah melakukan hal itu padanya dan bahkan meminta mantan kekasih dari suaminya untuk kembali menjalin hubungan dengaanya.
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, aku merasa kalau dirikulah yang paling terluka dan tersakiti dalam hubungan ini. Tapi ada suatu kejadian yang menyadarkanku jika bukan aku seorang yang merasa terluka. Bahkan akupun tahu, jika kau juga merasa tersakiti saat mengetahui fakta jika Sasuke sudah menikah dengaku" memang benar, saat itu Karin merasa sangat terpukul dan juga kecewa mengetahui fakta kalau orang yang dicintainya dan juga menyelamatkan hidupnya malah mengkhianati kepercayaannya. Walaupun Karin juga tahu, jika Sasuke melakukan hal itu jugs untuk menyelamatkannya, tapi tetap saja, ia merasa hal ini salah.
"Dan bukan hanya kau dan aku saja yang terluka. Sasuke pun juga mengalami hal yang sama. Dia terpaksa menikah denganku sedangkan hatinya masih tertuju padamu. Karena itu kumohon, sembuhkanlah sakit hati kalian satu sama lain dengan saling mengerti keadaan masing-masing dan kalian bisa memulainya lagi, tanpa ada diriku diantara hubungan kalian berdua" Hinata melanjutkan kalimatnya. Mendengar itu, sedikit demi sedikit hati Karin mulai luluh dan mencoba memikirkan semua yang Hinata katakan padanya. Tapi dilain sisi, Karin akui jika ia merasa kagum dengan sosok Hinata yang saat ini tengan duduk dihadapannya. Bagaimana gadis yang terlihat rapuh dan lemah diluar bisa memiliki kelapangan hati sebesar itu.
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri ?", benar, Karin tidak boleh menjadi egois dan membiarkan Hinata yang menanggung semuanya sendiri
"Aku sudah merasa cukup dengan semua perhatian yang Sasuke berikan padaku selama ini. Aku tidak ingin menahannya lebih lama lagi, karena itu akan semakin menyakitiku dan juga dirinya" jawab Hinata dengan tenang meski hatinya sendiri merasa sakit saat mengatakannya.
"Kenapa harus dirimu, kenapa tidak aku saja yang kau suruh untuk pergi dari kehidupanmu dan Sasuke. Itu akan lebih mudah untuk kalian" Karin memang mulai luluh dengan semua yang Hinata ucapkan padanya, tapi hati kecilnya terus saja berkata untuk mengatakan 'tidak' atas semua tawaran yang Hinata berikan padanya.
"Aku hanyalah seorang istri yang mencoba memberikan kebahagiaan pada suami yang selama ini hidup bersamaku. Kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan padanya tapi bisa didapatkan dari dirimu" dan tanpa kata serta pernyataan yang lebih lanjut. Percakapan mereka diakhiri dalam diam dengan pemikiran yang saling berkecambuk diantara keduanya.
.
.
Our Wedding
.
Rapat hari ini berjalan dengan lancar dan kerja sama dengan investor asing pun sudah disepakati. Sasuke baru tahu jika salah seorang yang menghadiri rapat tadi merupakan presdir dari Sabaku Corp yang berada di Suna, Sabaku Gaara. Gaara juga merupakan pengusaha muda yang cukup sukses di dunia bisnis. Karena itulah nama Sasuke dan Gaara sering disandingkan sebagai saingan dalam dunia bisnis. Sasuke merasa sedikit heran kenapa Gaara sampai bisa mengenal clientnya dan bahkan ikut dalam rapat.
Setelah rapat selesai, Gaara mengajak Sasuke pergi kesebuah restaurant dan Sasuke pun menyanggupinya. Ini sebagai bentuk kesopanan yang Sasuke tunjukkan padanya, bagaimana pun juga, Gaara adalah rekan dari kolega kerjanya.
Sedangkan disana Gaara ingin mengetahui hal pribadi mengenai Sasuke dan Hinata. Walaupun Gaara tahu jika Sasuke pasti belum mengetahui jika dirinya mengenal Hinata. Rasa penasarannya melihat Hinata kemarin, membuatnya berani untuk bertanya langsung pada Sasuke. Meski Shikamaru terus saja memperingatkannya untuk tidak ikut campur dalam urusan antara Hinata dengan Sasuke, tapi Gaara bersikeras ingin memastikannya sendiri. Ia tidak bisa begitu saja mengabaikan Hinata yang sudah mencuri perhatiannya sejak dulu, Gaara masih belum berani untuk menyebut perasaannya pada Hinata sebagai perasaan Cinta. Gaara tahu jika Hinata sudah menjadi milik orang lain, Gaara akan diam saja jika Hinata merasa bahagia, tapi masalahnya bukan itu yang ia lihat saat bertemu dengan Hinata setelah sekian lama. Malah kesedihanlah yang secara tidak langsung diperlihatkan Hinata, membuat hati Gaara kembali bergemuruh dan seolah memaksanya untuk tahu apa saja yang Hinata alami selama ini. Gaara ingin memastikan sendiri, seperti apa seorang Uchiha Sasuke yang sudah menjadikan Hinata sebagai istrinya.
"Aku terkejut melihatmu hadir dalam rapat tadi" Sasuke memulai membuka pembicaraan setelah mereka menempati ruang khusus yang disediakan oleh restourant itu.
"Mereka temanku dan mereka menyuruhku untuk ikut dalam rapat itu. Bukan maksudku untuk datang sendiri kesana, tapi aku juga tidak bisa menolak jika mereka sendiri yang memintaku untuk datang" Gaara menjelaskan maksud kedatangannya di rapat itu pada Sasuke. Sedangkan Sasuke haya mengangguk paham akan maksud Gaara. Diluar memang banyak yang menganggap Sasuke dan Gaara adalah saingan dalam dunia bisnis, tapi pada kenyataannya mereka berdua tidak pernah melakukan persaingan apapun selama ini. Bahkan pertemuan mereka dirapat tadi merupakan pertemuan pertama mereka.
"Bagaimana keadaan Hinata ?" setelah selesai dengan semua penjelasannya, Gaara langsung menanyakan perihal Hinata pada Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri merasa terkejut dengan pertanyaan Gaara padanya. Dari mana pemuda itu tahu tentang Hinata. Bahkan Gaara memanggil nama istrinya seperti seseorang yang telah lama mengenal Hinata.
"Dia baik-baik saja" Sasuke mencoba mengabaikan rasa keterkejutannya dan memilih menjawab pertanyaan Gaara dengan ringan.
"Tapi kemarin Hinata tidak terlihat baik-baik saja" Gaara kembali memancing Sasuke untuk mengatakan sesuatu tentang Hinata.
"Kau sudah bertemu dengannya ?" Sasuke merasa tidak suka dengan pembicaraan mereka saat ini. Sasuke dan Gaara bahkan baru bertemu saat rapat tadi, dan sekarang Gaara malah membicarakan tentang istrinya bukan tentang pekerjaan.
"Hn. Kemarin saat aku datang bersama temanku ke kantormu, tapi kau membatalkan rapat dihari itu. Saat akan meninggalkan kantormu, aku bertemu dengan Hinata" Gaara menjawabnya dengan ringan. Kemarin, itu artinya saat Hinata mengetahui semua hal tentang dirinya dan juga tujuan sebenarnya Sasuke menikahi Hinata. Mendengar Gaara berkata jika Hinata kemarin tidak terlihat baik-baik saja, mungkin Hinata sudah menceritakannya pada Gaara. Tapi Sasuke juga sedikit bingung, memangnya apa hubungn Gaara dengan Hinata sampai pemuda didepannya ini terus membicarakan tentang istrinya.
"Apa hubunganmu dengan istriku?" Sasuke meanyakannya kebingungannya itu pada Gaara. Sasuke lebih memilih menggunakan kata 'istriku' dari pada menyebutkan nama Hinata langsung. Sasuke juga merasa heran dengan sikapnya kali ini, di merasa memiliki kebanggaan tersendiri saat mengatakan kalau Hinata adalah istrinya. Tapi sekali lagi Sasuke mengabaikan perasaannya itu dan lebih memilih fokus pada jawaban yang akan diberika oleh Gaara.
"Kami berteman" Gaara menjawabnya dengan singkat
"Hanya sebatas itu ?" Sasuke memberikan pertanyaan yang lain
"Ya begitulah"
'tapi mungkin bisa lebih dari itu' batin gaara
"Kalau begitu, darimana kau tahu jika Hinata tidak baik-baik saja ?" tanya Sasuke -lagi-
"Aku melihatnya menangis. Sepertinya ia tidak bahagia hidup denganmu" Gaara dengan mudahnya mengatakan itu semua. Mengambil kesimpulan sendiri bahwa Hinata tidak bahagia menikah dengan Sasuke, dan itu membuat Sasuke seketika membelalakan matanya mendengar pernyataan Gaara barusan.
Apa-apaan pemuda didepannya ini. Seenaknya sendiri berpendapat tanpa tahu hal sebenarnya yang terjadi diantara Sasuke dan Hinata. Memangnya atas dasar apa Gaara mengambil kesimpulan itu. Ini urusan rumah tangga mereka, jadi untuk apa Gaara ikut campur didalamnya.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu ? Ini urusan rumah tangga kami, kau tidak perlu ikut campur didalamnya" Sasuke memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya pada Gaara.
"Aku akan ikut campur jika ini menyangkut tentang Hinata" Gaara sama sekali tidak merasa gentar mendengar ucapan Sasuke padanya.
"kau bilang kalian hanya berteman, lantas apakah tindakanmu dengan mencampuri urusan rumah tangga kami termasuk dalam lingkup pertemanan ?" Sasuke mulai merasa tidak suka dengan pemuda didepannya saat ini.
"Itu hanyalah anggapan Hinata mengenai diriku. Sedangkan aku sediri menganggap Hinata lebih dari seorang teman" Gaara sama sekali tidak memiliki keraguan saat mengatakannya. Secara tidak langsung, Gaara mengungkapkan jika ia memiliki rasa ketertarikan tersendiri pada Hinata.
"Jika kau sangat ingin tahu, kenapa kau tidak menanyakannya langsung pada 'teman'mu itu" Sasuke memberikan penekanan yang lebih saat mengatakan kata 'teman'.
"Aku memang berniat menanyakan itu sendiri padanya, tapi aku tahu seperti apa Hinata. Hinata tidak akan mau mengatakan yang sebenarnya meski aku bertanya langsung padanya. Karena itulah aku berada disini untuk bertanya langsung padamu"
"Berhentilah membuang-buang waktumu. Kami bisa mengatasi urusan rumah tangga kami sendiri" Sasuke beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan ruangan itu.
"Aku menginginkannya" ucapan Gaara menbuat Sasuke menghentikan langkahnya.
"Apa kau berniat untuk merebut istri orang lain ?" pertanyaan Sasuke kali ini diberikan untuk menyindir Gaara.
"Jika kau tidak ingin aku merebutnya, maka lepaskanlah dia" Gaara menatap langsung pada Sasuke dan dai tatapan matanya, Gaara menunjukkan kesungguhan dalam setiap ucapannya melalui tatapan matanya.
"Sebaiknya kau pergi ke psikiater. Aku takut obsesimu yang berlebihan itu akan menghancurkanmu" setelah mengatakan itu, Sasuke benar-benar pergi dan menginggalkan Gaara sendiri dalam ruangan tersebut.
"Ini bukan hanya sekedar obsesi, ini adalah perasaanku yang sebenarnya" Gaara menggumamkan kalimat itu pada dirinya sendiri setelah Sasuke pergi.
.
.
Our Wedding
.
Setelah bertemu dengan Karin, Hinata pulang menuju kediamannya. Walaupun Hinata tidak mendengar persetujuan langsung dari Karin, Hinata yakin jika Karin pasti akan melakukan apa yang dikatakannya.
Kali ini, semua urusannya sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa Hinata lakukan disini. Ini sudah saatnya ia pergi dan menghilang dari kehidupan Sasuke. Mungkin saat Sasuke pulang dan tidak mendapati dirinya berada dirumah akan malah akan membuat Sasuke merasa senang. Karena pada akhirnya ia akan terlepas dari Hinata yang memang sanat ingin disingkirkannya. Mendapatkan pemikiran seperti itu membuat Hinata sekali lagi tersenyum miris. Bahkan ia mengasihani dirinya sendiri saat ini.
Setelah dirasa semua barang yang diperlukannya sudah dikemas di dalam koper yang akan dibawanya, Hinata dengan penuh keyakinan berjalan meninggalkan kediaman yang dimenuhi dengan kenangan yang menyenangkan maupun menyakitkan bagi dirinya selama ini.
Para pelayan yang melihat kepergian Hinata tidak bisa melakukan apapun. Mereka hanyalah pesuruh dirumah tersebut dan tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur dalam urusan pribadi majikan yang mempekerjakan mereka. Para pelayan itu layaknya tembok yang selalu mengelilingi rumah itu, karena itulah secara tidak langsung mereka sebenarnya tahu masalah apa yang menimpa majikannya. Tapi selayaknya seorang pelayan yang tidak berhak ikut campur dalam hal itu, mereka harus bersikap layaknya benda mati. Bersikap seolah tidak pernah mendengar dan tidak pernah tahu mengenai hal itu.
.
Our Wedding
.
Setelah bertemu dengan Sasuke, Gaara hendak pergi menemui kakak perempuannya. Hari ini Temari akan pergi untuk melihat-lihat gaun pengantin yang akan dikenakan Temari saat pernikahannya nanti. Karena Shikamaru sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, sebagai gantinya Gaara mengajukan dirinya untuk menemani kakaknya tersebut menggentikan Shikamaru, sekedar memberikan pendapatnya tentang gaun pengantin yang akan Temari pilih.
Saat melewati halte bis di dekat rumah busana yang akan ditujunya, ia melihat sosok Hinata diantara orang-orang disana. Disamping Hinata juga terdapat koper besar. Melihat itu, Gaara menghentikan mobilnya dan menghampiri Hinata.
"Sedang apa kau disini ?" Gaara langsung bertanya pada Hinata setelah berdiri di samping Hinata. Hinata tentu saja merasa terkejut melihat Gaara yang sudah berdiri disampingnya. Sepertinya Hinata dari tadi sibuk melamun sampai tidak sadar saat Gaara berjalan mendekatinya.
"a-ah.,. A-apa kabar Gaara-san ? Kenapa Gaara-san bisa ada disini ?" untuk menghilangkan rasa keterkejutannya, Hinata menyapa dan bertanya balik pada Gaara sebelum ia menjawab pertanyaan Gaara padanya.
"Aku melihatmu saat dalam perjalanan ke suatu tempat, karena itu aku disini. Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini dengan membawa koper sebesar ini ?" Gaara menunjuk pada koper yang berukuran besar yang terletak disamping Hinata berdiri saat ini.
"A-aku hanya ingin pergi ke suatu tempat saja" Hinata mengalihkan pandangannya dari Gaara saat mengatakannya.
"Kemana ?" melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Hinata, membuat Gaara menjadi penasaran dengan apa yang akan Hinata lakukan dengan membawa koper besar seperti itu.
"Bu-bukankah Gaara-san bilang sedang dalam perjalan ke suatu tempat, jadi Ke-kenapa Gaara-san tidak segera pergi dan me-melanjutkan perjalanan?" Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan. Hinata sendiri bahkan tidak tahu akan pergi kemana setelah ini.
"Kau mengusirku ?"
"Ti-tidak. Bukan begitu" tahu jika perkataannya tadi memang terkesan mengusir Gaara secara halus, Hinata kembali menunduk dan tidak berani menatap langsung pada Gaara. Gaara menghela nafas melihat tingkah Hinata, sepertinya ia juga tidak bisa menemani kakaknya nanti.
"Masuklah ke mobilku. Aku akan mengantarkanmu." tanpa membuang waktu karena Hinata sepertinya tidak akan mengatakan padanya kemana ia akan pergi, Gaara berinisiatif untuk membawa koper Hinata ke dalam mobil dan menuntun Hinata untuk mengikutinya menuju mobil yang ia parkir tidak terlalu jauh dari sana.
"Ti-tidak perlu repot. A-aku bisa pergi sendiri" Hinata mencoba menolak tawaran yang diberikan oleh Gaara. Tapi Gaara mengabaikan ucapan Hinata dan tetap menuntun Hinata menuju mobilnya. Setelah meletakkan koper yang dibawa Hinata ke bagasi mobilnya, Gaara membukakan Hinata pintu mobil. Hinata menghela nafas sebelum menuruti Gaara untuk masuk ke dalam mobil. Kalau sudah begini, amua bagaimana lagi. Setelah Hinata masuk ke dalam mobil, Gaara juga segera segera memasuki mobil dan mengemudikannya.
"Jadi sekarang katakan, kau akan kemana ?" Gaara mengulang kembali pertanyaan yang tadi tidak sempat dijawab oleh Hinata. Sebelumnya, Gaara sudah mengirim pesan pada Temari kalau dirinya hari ini tidak bisa menemani kakaknya itu.
"Begini, a-aku tahu ini tidak sopan mengingat kita baru saja bertemu. Ta-tapi, bisakah aku meminta bantuanmu ?" Hinata tidak tahu lagi harus bagaimana. Meminta bantuan dari Gaara mungkin pilihan yang paling bijak untuk saat ini. Ia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi sampai akhirnya ia bertemu dengan Gaara. Setidaknya Hinata sudah mengenal Gaara, begitu pula sebaliknya. Walau Hinata tidak yakin Gaara akan membantunya mengingat mereka yang baru saja saling mengenal beberapa waktu yang lalu meski Gaara mengatakan sudah mengenal Hinata sejak lama. Tapi tidak ada salahnya Hinata mencoba meminta bantuan darinya.
.
.
Our Wedding
.
Sasuke masih sedikit kesal jika mengingat percakapannya dengan pemuda bernama Gaara itu saat berada di restaurant tadi. Memangnya pemuda itu tahu apa sampai ikut campur dalam urusan pribadinya dengan Hinata. Sasuke terus saja menggertakkan giginya menahan kesal sambil terus mengemudikan mobil ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah, Sasuke berusaha untuk menghilangkan kekesalannya. Sasuke tidak mau Hinata melihat raut kekesalannya saat masuk ke dalam rumah. Itu akan membuat Hinata merasa heran dan kemungkinan ia akan menanyakan penyebab kekesalannya itu. Hinata pasti sudah menunggu dirinya di dalam rumah seperti biasa dan Sasuke tidak mau melampiaskan keekesalannya pada Hinata, mengingat pemuda bernama Gaara itu terus saja mengungkit-ungkit tentang Hinata juga hubungan diantara mereka. Setelah dirasa dirinya cukup tenang untuk menemui Hinata, Sasuke kembali melangkahkan kakinya untuk memasuki kediamannya.
"Aku pulang" saat masuk Sasuke tidak disambut dengan kehadiran Hinata seperti biasanya. Sasuke berpikir mungkin Hinata berada di kamar, karena itu dia segera menuju ke kamarnya. Saat memasuki kamar, Sasuke juga tidak melihat Hinata disana. Pakaian yang biasa Hinata siapkan diatas ranjang saat ia pulang juga tidak tersedia seperti biasanya. Sasuke masih bersikap biasa dan memilih untuk membasuh dirinya terlebih dulu. mungkin saja Hinata sedang menyiapkan makan malam di dapur.
Selesai mandi, Sasuke bergegas menuju dapur untuk melihat apakah Hinata berada disana. Sesampainya disana, Sasuke juga masih belum menemukan sosok Hinata, malah disana terlihat para pelayanlah yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Akhirnya ia bertanya pada salah satu pelayan yang berada disana.
"Dimana Hinata ?"
"A-ano... Hinata-sama tidak berada di rumah saat ini Sasuke-sama" jawab salah seorang pelayan disana. Sasuke menangkap gelagat aneh dari pelayan itu saat menjawab pertanyaan darinya. Pelayan lain yang juga mendengar pertanyaan yang dilontarkannya juga bertingkah aneh dengan berusaha menyibukkan diri dengan hal-hal yang Sasuke anggap tidak perlu karena nyatanya semua makan malam telah dihidangkan di meja makan. Bahkan ada diantara mereka yang meninggalkan dapur.
"Kalau begitu, kemana dia pergi ?" tanya Sasuke -lagi-
"Saya tidak tahu kemana Hinata-sama pergi, Sasuke-sama" pelayan itu tidak berani menatap langsung pada tuannya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku bekerja ?"
"A-ano.. saya dan juga beberapa pelayan yang lainnya melihat Hinata-sama pergi dengan membawa sebuah koper besar" Pelayan itu menjelaskan apa yang ia dan pelayan lain lihat saat itu.
'Deg'
Mendengar itu, Sasuke bergegas kembali ke kamarnya. Setelah sampai Sasuke membuka lemari pakaian Hinata dan tidak menemukan pakaian Hinata yang biasa diletakkan disana. Sasuke mencari kesekeliling kamar dan sama sekali tidak menemukan satu benda pun milik Hinata disana. Tuba-tiba Sasuke ingat dengan surat gugatan cerai juga surat balik nama yang ia simpan di ruang kerjanya. Sasuke segera beralih menuju ke ruang kerjanya, membuka laci di meja kerjanya. Ia membuka satu persatu laci disana dan menggeledah setiasp isi didalamnya, tapi hasilnya nihil. Sasuke sama sekali tidak menemukan amplop dimana ia meletakkan kedua surat itu.
Di saat kekalutan yang melandanya itu, ia mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Siapa ?" Sasuke langsung bertanya pada seseorang yang menelponnya itu. Dia tidak punya banyak waktu karena masih harus mencari keberadaan Hinata.
"Ini aku, Karin" jawab suara diseberang sana.
"Hn" Sasuke merasa heran dan juga lega saat Karin mau menelponnya. Tapi ia memilih untuk mendengar kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Karin.
"Bisakah kita bertemu besok ? Ada yang ingin kukatakan padamu"
"Dimana ?" jawab Sasuke langsung
"Akan aku kurimkan lewat pesan alamat tempatnya. Besok, datanglah kesana pukul 10"
"Baiklah. Sampai bertemu besok" Setelah Sasuke mengataknnya, Sambungan telpon sudah terlebih dulu diakhiri oleh Karin. Sasuke tahu jika Karin masih merasa marah padanya karena kebohongan yang dilakukannya. Karena itulah Sasuke merasa heran mendapati Karin yang menelpon dirinya dan memintanya untuk bertemu terlebih dulu.
Setelah sambungan telepon diputus, Sasuke mulai kembali sadar jika dirinya saat ini tengah mencari keberadaan Hinata. Tapi bukankah ini adalah keinginannya. Semuanya berjalan kembali sesuai dengan apa yang ia harapkan. Karin mau kembali menemuinya, dan bahkan ia tidak perlu repot lagi mengurusi Hinata karena dia lebih memilih untuk pergi sendiri. Disaat seperti ini, harusnya Sasuke merasa senang. Tapi bukanlah perasaan seperti itu yang saat ini dirasakannya. Melainkan perasaan baru yang masih terasa asing baginya. Bahkan Sasuke tidak merasakan perasaan seperti ini saat Karin dulu meninggalkannya. Hampa. Seperti ada sesuatu yang penting yang hilang dari dirinya. Dan Sasuke masih belum mengerti, apa sebab dari timbulnya perasaan itu.
.
.
.
.
TBC
.
.
A/N: akhirnya bisa up juga lega banget saya. semoga chap kali ini tidak mengecewakan kalian. Ini saya buat di sela-sela belajar saya dalam menempuh UTS.
Banyak reader yang bertanya fic ini bakalan selesai di chap berapa. Bahkan ada reader yang berdoa semoga fic ini cepat selesainya dan tidak terlalu panjang. Itu juga keinginan saya, saya juga pingin fic ini cepat selesai karena masih ada fic lain yang sudah saya buat. Jika prediksi saya tidak salah. Fic ini akan selesai di dua chap kedepan.
Saya juga ingin memberitahukan kalau chap depan mungkin saya juga bakalan telat lagi up-nya. Kampus saya akan mengadakan Olimpiade Matematika (OMIKA) dan lomba pembuatan media pembelajaran dan saya terpilih untuk mewakili kelompok saya dalam mengikuti Mathematic Smart Challenge (MSC). Karena itulah saya akan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan utuk mengikuti lomba tersebut.
Maaf atas ketidaknyamannannya. Saya bukannya mau beralasan yang aneh2 dan lari dari tanggung jawab saya dalam melanjutkan fic ini. Saya berpikir setelah UTS saya akan bisa up lagi seperti biasanya. Tapi apa mau dikata, semua diluar prediksi saya. saya akan mencoba menyisihkan waktu saya sebisa mungkin untuk menulis kelanjutan fic ini. Jadi tetap mohon dukungannya dari reader sekalian agar saya tetap bisa melanjutkan fic ini.
.
Special Thanks for :
triwik97, yana kim, keita uchiha, sushimakipark, Guest, CallistaLia, Lovers, Alma, mikyu, clare, khushina, HipHipHuraHura, hiru neesan, Ella9601, Matsuda Yuiko, lastrisihaan, natali Chan, Guest, Alicia Uchiha, vinalavenuciha, NurmalaPrieska, Eve Seven, liecha, lily, dindachan06, Mishima, lovely sasuhina, Mita622, hyacinth uchiha, cintya cleadizzlibratheea, elvit chan, Baby niz 137, Hana Yuki no Hime, Mey, onyxlave14, Kaoru-k216, Guest, Aoi, Ashura Darkname, RinZiTao, hime-chan, roti bakar, Horee, hana, ovihime, tanpanama556, ayaara, anita indah 777, yuma, Mellyzainal, Furi Tsuyoko, hinatachannn2505, sasuhina forever, agnesia margarett, hyuga ashikawa, ghiriuta, aliine brown copp, dedeqseokyu, Green Oshu, sasuhina lovers, firda.
.
Terima kasih pada reader yang sudah mau membaca terlebih mereview ff saya.. :D
Sekian dari saya, jangan lupa tinggalkan jejak ya.. ^^
Review yang reader berikan dapat membantu saya dalam kelanjutan fic ini.
Sampai jumpa di chap depan.. :)
.
R
E
V
I
E
W
..Please...
