.
.
Warning : AU, OOC, [miss]TYPO, minim dialog, alur cepat, dsb.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate: T
Pairing : Sasuke x Hinata
Genre : Romance, Hurt/comfort
.
Our Wedding
.
Sasuke tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Setelah menyelesaikan semua urusannya di kantor, Sasuke berniat mendatangi tempat dimana ia akan bertemu dengan Karin untuk membicarakan suatu hal yang ia masih belum tahu tentang apa semua itu.
Saat ini Sasuke tengah berdiri di depan cermin besar yang berada di dalam kamarnya, berusaha memasangkan dasi yang akan dikenakannya. Sasuke memang sedikit kesulitan jika harus memasang dasi sendirian walaupun ia sudah sering melakukannya, tapi Sasuke masih juga belum terbiasa sehingga sedikit memerlukan waktu yang cukup lama saat ia memasangkannya. Sasuke melihat jam dan sedikit berdecak mendapati waktu yang sudah hampir lewat dari jam masuk kerjanya. Sasuke memang presdir di Perusahaan, tapi sebagai seorang pimpinan ia harus memberikan contoh yang baik bagi bawahannya.
"Hinata, tolong pasangkan dasiku. Aku sudah hampir terlambat" tidak mendapatkan respon dari orang yang ia panggil, Sasuke kembali mengulangi ucapannya.
"Hinata, cepatlah. Aku harus berangkat sekarang. Hinata..." Sasuke menolehkan kepalanya kesekeliling ruangan itu, tapi tidak ada Hinata disana. Ruangan itu hanya diisi oleh dirinya saja. Ah, Sasuke hampir saja lupa, bukankah sejak kemarin Hinata memutuskan untuk pergi, bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya.
Sasuke merasa dirinya seperti orang yang bodoh. Bukankah ia sendiri yang menginginkan Hinata pergi agar ia bisa kembali lagi bersama sengan Karin. Tapi apa yang malah ia lakukan sekarang. Mencari seseorang yang ia rasa sebagai orang yang tidak penting dalam hidupnya, malah sebaliknya Sasuke menganggap Hinata sebagai penghalang baginya dalam mencapai tujuan yang sudah ia rencanakan. Lihatlah dirinya sekarang, walaupun Sasuke sering berkata bahwa ia tidak membutuhkan keberadaan Hinata disisinya, tapi alam bawah sadarnya malah mencari keberadaan perempuan itu. Tanpa disadarinya, kehadiran Hinata selama ini, membuat Sasuke sedikit demi sedikit merasa bergantung pada keberadaan Hinata disekatnya. Mendapatkan pemikiran seperti itu membuat Sasuke tersenyum meremehkan pada dirinya sendiri. Melihat bayangannya sendiri pada pantulan cermin di depannya.
"Apa kau mau kembali menjadi orang yang menyedihkan, Uchiha Sasuke." gumam Sasuke pada dirinya sendiri.
.
.
Our Wedding
.
Tempat itu, adalah tempat yang sama dimana Hinata bertemu dengan Karin dihari kali ini, tempat itulah yang akan dijadikan Karin sebagai tempat pertemuannya dengan Sasuke. Karin tiba di kafe itu 10 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan karena memang tempatnya bekerja berada tidak jauh dari sana. Beberapa saat menunggu, orang yang ia tunggu akhirnya datang juga.
"Apa kau sudah lama menunggu ?" Sasuke langsung bertanya pada karin begitu ia sampai di meja tempat Karin berada.
"Tidak juga. Apa tidak masalah jika kau meinggalkan kantor saat jam bekerja seperti ini ?" Karin balik bertanya pada Sasuke. Setidaknya untuk berbasa-basi karena tanpa dijawab pun Karin sudah tahu jika Sasuke tidak akan bermasalah dengan hal itu.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku sebelum kemari. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" kali ini Sasuke bertanya to the point padaKarin, karena dirinya sudah sangat penasaran dengan apa yang akan Karin bicarakan dengannya.
"Hinata kemarin datang menemuiku" jawab Karin.
"Apa yang dia katakan padamu ?"
"Hinata membicarakan tentang kita. Kau, aku dan dia. Tentang hubungan yang terjadi diantara kita" Karin mengatakan perihal apa yang ia bicarakan dengan Hinata saat itu. Karin berniat mengatakan semua yang Hinata katakan tanpa ada yang ia sembunyikan atau tutup-tutupi dari Sasuke. Sasuke pun berhak tahu tentang hal ini karena dia juga termasuk didalamnya.
"Apa dia menyuruhmu untuk meninggalkanku ?" Sasuke mencoba mengambil kesimpulan sendiri.
"Tidak, justru sebaliknya. Hinata memintaku untuk kembali padamu"
"Apa ?" Sasuke tentu saja merasa terkejut dengan apa yang Karin katakan padanya. Sasuke sendiri tahu jika dirinya sudah banyak menorehkan luka pada Hinata. Karena itulah, Sasuke sama sekali tidak menyangka Hinata akan melakukan hal itu. Meminta Karin, orang yang menjadi alasan Sasuke terpaksa menikahi Hinata, untuk kembali padanya bukankah itu sama saja dengan menaburkan garam pada luka yang Sasuke torehkan padanya.
"Hinata memintaku untuk memulai semuanya kembali denganmu. Awalnya aku juga berpikir kalau Hinata datang menemuiku untuk menegaskan kembali padaku agar tidak lagi menemuimu. Karena itulah aku pun merasa terkejut saat Hinata malah meminta hal yang sebaliknya dariku." Karin menceritakan lebih lanjut tentang percakapannya dengan Hinata. Sasuke mendengarkan semua yang Karin katakan padanya tentang Hinata dan pertemuan diantara keduanya. Sasuke mencoba mencerna setiap kata yang Karin lontarkan. Semakin jauh Karin berkata, semakin Sasuke sadar jika selama ini ia telah melukai seseorang yang seharusnya tidak dilukainya. Hatinya terenyuh menyadari jika Hinata sama sekali tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu olehnya. Perasaan bersalah lambat laun mulai menghampiri Sasuke.
"Karena itulah, jika memang kau memutuskan untuk berpisah dengannya. Lakukan itu secara baik-baik. Minta maaflah pada Hinata untuk semua yang telah kau lakukan padanya. Juga, kembalikan semua hak yang memang menjadi milik Hinata. Dengan begitu, kita bisa memulai semuanya kembali." Karin mengakhiri ucapannya dengan pernyataan jika dirinya akan kembali pada Sasuke jika semua hal yang diucapkannya telah dipenuhi oleh Sasuke.
"Itu tidak mungkin"
"Apa maksudmu tidak mungkin ?" Karin mengernyit bingung mendengar jawaban yang Sasuke berikan.
"Hinata sudah pergi. Dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Dan aku sama sekali tidak tahu dimana dia sekarang" Sasuke menceritakan tentang kepergia Hinata. Mendengar itu Karin menjadi sangat terkejut. Disaat keterkreutan yang melandanya itulah Karin mengingat kembali tentang maksud dari ucapan Hinata saat itu.
"Jadi begitu, ini yang Hinata maksud tentang, memulai semuanya kembali tanpa ada dirinya diantara hubunganku denganmu" Karin mulai menagkap maksud tersembunyi dari setiap kalimat yang Hinata katakan padanya.
"Apa itu yang Hinata katakan padamu ?"
"Ya. Tapi saat itu aku berpikir maksud Hinata untuk tidak ada diantara kita adalah dengan berpisah denganmu dan membiarkan kita kembali bersama. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Hinata akan benar-benar pergi seperti ini" karin menjadi sangat bersalah sekarang. Ia bahkan belum mengatakan kata 'maaf 'dan juga 'terima kasih' untuk semua hal yang sudah Hinata lakukan padanya.
Jika Karin yang pada awalnya saja tidak mengetahui apa-apa tentang hubungannya dengan Hinata merasa bersalah karena sikap berlawanan arah yang Hinata tunjukkan padanya. Lalu bagaimana dengan Sasuke sendiri. Bahkan saat ini perasaan bersalah yang muncul karena telah bersikap tidak adil kepada Hinata mulai membuat Sasuke merasa tertekan. Sejahat itukah dirinya selama ini pada Hinata. Seburuk itukah yang ia lakukan pada Hinata. Pemikiran seperti itu yang saat ini terus saja berputar-putar di dalam benaknya.
.
.
Our Wedding
.
Shikamaru berjalan dengan cepat menuju apartemen Gaara. Setelah sampai di depan apartemen yang dituju dan tanpa menyuruh pemilik apartemen tersebut untuk membukakan pintu, ia sudah terlebih dahulu menekan kode pintu apartemen tersebut. Dan 'klik' pintu itu dapat Shikamaru buka sendiri. Shikamaru memang sering dan sudah terbiasa berkunjung ke apartemen ini, karena itu dia sudah hafal dengan kode apartemen tersebut. Tentu saja karena Gaara yang memberitahukan kode apartemennya sendiri pada Shikamaru sebelumnya.
Setelah masuk, Shikamaru menghampiri Gaara yang saat ini tengah duduk dengan santai di atas sofanya, menghadap pada layar televisi yang berada didepannya. Gaara sebenarnya mendengar langkah kaki yang Shikamaru timbulkan saat berjalan mendekat kearahnya. Tapi ia lebih memilih untuk mengabaikannya karena alasan yang sama. Karena sudah terbiasa.
"Kenapa kau tidak jadi menemani kakakmu memilih gaun pengantin ?" Shikamaru mendudukan dirinya di samping Gaara dan menanyakan penyebab Gaara membatalkan janjinya untuk menemani Temari dalam memilih gaun pengantin yang akan dikenakannya nanti.
"Aku mendadak ada urusan penting saat dalam perjalanan kesana. Jadi aku membatalkannya" Gaara menjawabnya dengan santai dsn masih memusatkan perhatiannya pada acara televisi yang tengah ditontonnya.
"Tidak seperti biasanya kau bersikap seperti itu. Urusan sepenting apa sampai kau membatalkan janjimu itu ?" Shikamaru tahu jika Gaara menyayangi kakaknya tersebut, bahkan saat Shikamaru tidak bisa menemani Temari dalam memilih gaun pengantin, Gaara sendirilah yang terlebih dulu mengajukan dirinya untuk menemani kakaknya itu menggantikan dirinya. Karena itulah Shikamaru sedikit heran, hal penting macam apa sampai Gaara membatalkan janjinya tersebut. Shikamaru sebenarnya sudah sedikit curiga dengan gelagat yang Gaara tunjukkan setelah beretemu kembali dengan Hinata. Tapi ia berusaha tenang dan menunggu Gaara sendiri yang menceritakan itu padanya.
"Kau tidak perlu tahu. Lagipula kakakku juga tidak marah saat aku membatalkannya"
"Ini bukan tentang kakakmu marah atau tidak karena kau membatalkan janjimu. Ini tentang alasan kenapa kau sampai membatalkan janjimu itu." Shikamaru kembali menegaskan maksud dari pertanyaannya tadi.
"Sudah kubilang, itu bukan urusanmu" tapi Gaara masih tetap saja memberika jawaban yang sama padanya.
"Apa ini tentang Hinata ?" karena tidak mendapatkan respon seperti yang diinginkannya, Shikamaru akhirnya bertanya langsung mengenai firasatnya itu pada Gaara.
"Kenapa kau sampai bisa berpikiran seperti itu ?" kali ini Gaara mulai menanggapi serius kalimat Shikamaru. Ia mengalihkan pandangannya pada layar televisi di depannya dan beralih menghadap Shikamaru.
"Memangnya apa lagi yang bisa membuatmu beralih dari janji pada kakakmu selain karena perempuan itu. Kau bahkan rela membatalkan kunjungan kerjamu hanya untuk menemani kakakmu. Jadi, apalagi alasan yang lebih penting bagimu saat ini selain Hinata" semua yang Shikamaru katakan memang benar. Gaara sangat menyayangi kakak permpuannya itu karena Gaara sudah menganggap Temari sebagai sosok kakak sekaligus pengganti ibunya. Karena itulah Gaara bisa melakukan apa saja agar membuat kakaknya itu merasa senang. Tapi kehadiran Hinata mulai mengambil eksisitensi orang-orang disekitarnya dan membuatnya kembali terjebak dalam perasaan masa lalunya pada perempuan itu.
"Aku akui, kau memang benar. Aku bertemu dengan Hinata saat sedang dalam perjalanan menemui kakakku" Gaara akhirnya mengatakan itu pada Shikamaru. Gaara merasa percuma jika harus menyembunyikan ini lebih lama dari Shikamaru. Toh tanpa diberitahu pun, pria itu selalu bisa menebak tindakan apa yang akan dilakukannya.
"Haah.. Sudah berapa kali aku memperingatkan padamu. Dia sudah menjadi milik orang lain, Hinata sudah bersuami. Apa kau akan menghancurkan citramu dan juga citra keluargamu dengan mencoba merebut istri orang lain ?" Shikamaru menghela nafas putus asa karena tindakan yang Gaara lakukan. Sudah cukup buruk kabar yang mengatakan jika Gaara dan Sasuke, suami Hinata, adalah saingan di dunia bisnis. Apa lagi jika kabar ini sampai terendus, bisa-bisa mereka dikabarkan bukan hanya menjadi saingan di dunia bisnis tapi juga dalam hal percintaan. Ini akan menjadi skandal yang bisa berakibat buruk nantinya.
"Aku bahkan tidak sedang berusaha merebutnya, tapi aku juga tidak akan menolak jika takdir membawanya kembali padaku"
"Maksudmu Hinata yang datang sendiri padamu ?" merasa tidak terlalu dapat menangkap maksud dari perkataan Gaara, Shikamaru kembali bertanya padanya.
"Bisa dibilang takdirlah yang membawanya padaku" Gaara masih saja mengucapkan kalimat yang intinya sama dengan apa yang ia katakan sebelumnya.
"Katakan dengan jelas dan ceritakan padaku apa maksud dari perkataanmu itu" Shikamaru mulai terlihat tidak sabar menunggu klarifikasi dari Gaara.
"Kemarin saat bertemu dengannya, dia meminta sedikit bantuan dariku. Karena kurasa itu bukan hal yang sulit, maka dari itu aku membantunya" kata Gaara
"Bantuan?... Bantuan seperti apa maksudmu ?" Shikamaru semakin mengernyit bingung mendengar jawaban yang diberikan oleh Gaara.
"Dia hanya memintaku untuk mencarikannya tempat tinggal sementara yang letaknya jauh dari tempat tinggal sebelumnya" Gaara akhirnya memberikan kejelasan dari semua ucapannya.
"Untuk apa Hinata meminta bantuan seperti itu padamu ? Dan lagi, kau menerimanya begitu saja ?. Apa kau sudah gila. Hinata bahkan masih berstatus istri dari orang lain, Gaara. apa kau berniat akan membawa lari istri orang lain dan menyembunyikannya ?" Shikamaru semakin merasa tidak tahan dengan sikap calon adik iparnya ini. Sudah berulang kali Shikamaru menngingatkan pada Gaara untuk melupakan Hinata karena kenyataan jika perempuan sudah menjadi milik orang lain.
"Sudah kubilang, aku bahkan tidak sedang dalam usahaku merebutnya. Dan darimana maksud dari tindakanku itu yang mengatakan aku membawanya lari. Dia hanya meminta bantuan dariku, dan aku hanya memberikan bantuan padanya. Lagipula, sepertinya sebentar lagi Hinata akan terlepas dari status yang menghalangiku mendapatkannya." bukannya merasa tergugah dengan semua yang dikatakan oleh Shikmaru, diakhir perkataannya, Gaara malah terlihat senang dengan pernyataan yang diucapkannya sendiri.
"Apa maksudmu Hinata akan berpisah dari suaminya ?" Shikamaru mencoba menebak maksud dari apa yang diucapan Gaara
"Sepertinya. Kalau tidak, untuk apa dia memintaku untuk mencarikannya tempat tinggal sementara jika dia masih tinggal serumah dengan suaminya"
"Jangan seenaknya sendiri menyimpulkan, bisa saja dia hanya sedang bertengkar dengan suaminya itu."
"Entahlah" kali ini Gaara memilih acuh dengan pernyataan Shikamaru dan kembali memusatkan perhatiannya pada layar televisi di depannya.
"Lalu, dimana sekarang Hinata tinggal ?" tahu jika Gaara tidak akan menanggapi pernyatannya lebih lanjut, Shikamaru kali ini beralih menanyakan hal yang menurutnya lebih penting pada Gaara.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku sudah berjanji padanya untuk tutup mulut pada siapapun yang menanyakan keberadaannya"
"Kau pikir aku menanyakannya karena aku ingin bertemu dengan Hinata ?"
"Meskipun kau tidak berniat menemuinya, aku tetap tidak bisa mengatakan itu padamu"
"Terserah kau saja, aku sudah berulang kali memperingatkanmu. Jika kelak terjadi sesuatu pada kalian, aku tidak mau ikut campur di dalamnya" Shikamaru sendiri merasa kalau dirinya memang sudah banyak memeperingati Gaara, kali ini Shikamaru memeilih angkat tangan dengan apa yang akan Gaara lakukan kedepannya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasi semua masalahku sendiri" Gaara masih saja menampakkan ketenangannya. seolah dirinya memang tidak membutuhkan apapun dari Shikamaru untuk menyelesaikan masalahnya kelak.
.
.
Our Wedding
.
Sejak Hinata pergi, Sasuke seolah berubah menjadi sosok lain. dia menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahkan saat di rumah pun ia seolah lupa dengan letak semua barang miliknya. Tanpa sadar ia berulang kali memanggil nama Hinata saat ia merasa membutuhkan sesuatu tapi tak kunjung didapatkannya. Saat sadar Hinata tidak lagi berada di sana, Sasuke akan terdiam dan menatap kosong ke arah sekitarnya.
Di kantor, saat dirinya tengah menghadiri rapat pun Sasuke tampak tidak fokus dengan semua materi yang di presentasikan dalam rapat tersebut. Saat dirinya bertemu dengan Karin pun, Sasuke tidak terlihat seantusias dulu. Meski Sasuke juga dirinya tidak lagi pernah menyinggung soal Hinata di setiap peretemuan mereka, lambat laun Karin merasa jika perubahan drastis yang terjadi pada Sasuke akhir-akhir ini disebabkan oleh kepergian Hinata dan juga kebenaran tentang Hinata yang Karin ungkapkan pada Sasuke dulu.
Padahal ini sudah berjalan 5 bulan sejak kepergian Hinata. Karin dan Sasuke memang semakin sering bertemu saat ini walau status Sasuke dan Hinata sendiri belum jelas. bahkan Karin sendiri masih bingung dengan status antara dirinya dengan Sasuke. Tapi seperti yang sudah dikatakan tadi, Sasuke sekarang berubah. Sasuke seolah menjelma menjadi seseorang yang tidak dikenali oleh Karin sendiri, Sasuke selalu tidak fokus pada dirinya juga pada setiap ucapannya saat Sasuke tengah bersama dengannya.
Karena merasa sudah tidak tahan dengan hal ini, Karin memutuskan untuk bicara lebih serius dengan Sasuke agar semuanya terasa jelas baginya juga bagi Sasuke sendiri. Karin memilih untuk mendatangi Sasuke sendiri di kantornya saat itu.
"Apa kau masih memikirkan tentang Hinata ?" beberapa saat setelah Sasuke menghampiri Karin yang sedang menunggunya di ruangannya, pertanyaan dari Karin itu segera meluncur begitu saja.
"Apa maksudmu ?" Sasuke bingung dengan pertanyaan Karin barusan. Memang kapan dirinya pernah menyinggung tentang Hinata saat dirinya tengah bersama dengan Karin. Tapi harus ia akui,mendengar nama Hinata membuat Sasuke memfokuskan semua perhatiannya pada Karin saat ini.
"Kau mungkin tidak sadar, tapi sikapmu berubah drastis semenjak Hinata pergi." Karin meluapkan apa yang mengganggunya selama ini.
"Karena itulah aku ingin memastikannya sendiri. Apakah perasaanmu padaku masih sama seperti dulu atau sedikit demi sedikit tanpa kau sadari perasaanmu sudah berpindah kelain hati ? Lalu, jika memang kau tidak memiliki perasaan lagi padaku, alasan apa sebenarnya yang membuatmu bersikeras untuk mencariku ?. Aku ingin mendengar semua itu sendiri darimu" Karin melanjutkan ucapannya. Mendengar apa yang Karin ucapkan padanya, membuat Sasuke juga berpikir hal yang sama. Sebenarnya, selama ini perasaan apa yang sebenarnya dirasakan Sasuke saat bersama Karin. Lalu perasaan semacam apa juga yang ia rasakan pada Hinata selama ini. Semua itu juga mengganggunya selama ini.
"Katakan padaku perasaanmu yang sebenarnya, aku tidak bisa terus berada dalam hubungan tanpa status yang tidak jelas seperti ini. Jadi sekarang, katakanlah padaku" Karin kali ini mengakhiri kalimatnya dan meminta jawaban langsung pada Sasuke. Sasuke menghela nafas sejenak sebelum menjawab semua pertanyaan dari Karin.
"Aku juga selalu menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri selama ini. Tentang seperti apa perasaanku padamu juga pada Hinata dan pada siapa sebenarnya hatiku berada selama ini" Sasuke mulai menjelaskan semuanya pada Karin dengan pertanyaan yang hampir sama, yang selama ini juga mengganggunya.
"Setelah menikah dengan Hinata, aku mulai merasakan hal baru, meski pada awalnya aku tidak menyadari hal itu. Bersama Hinata terkadang membuatku merasa seperti pria yang sangat beruntung. Tapi saat pertama kali bertemu dengamu, aku juga merasa sangat senang karena akhirnya aku bisa menemukan orang yang selama ini kucari. Aku berpikir perasaanku padamu saat itu masih sama dengan perasaanku yang dulu. Saat itupun aku berusaha keras menyembunyikan fakta jika aku sudah menikah agar aku bisa terus bersamamu" Sasuke menyinggung pertemuan pertama mereka, dan Karin mendengarkannya dengan tenang dan mencoba memahami setiap kalimat yang Sasuke ucapkan padanya.
"Sampai akhirnya kau tahu tentang kebenaran itupun, aku lebih memilih mengejarmu daripada menjelaskan semuanya pasa Hinata. Aku bahkan berubah menjadi pria yang mengerikan dengan meminta dan memohon sendiri pada Hinata untuk pergi dan membirkanku bersamamu. Semua itu kulakukan tanpa sadar saat aku berada di dalam pengaruh alkohol, kau mungkin tidak bisa bayangkan. Hal kejam apa yang sudah kukatakan pada Hinata saat itu" kali ini Karin tidak bisa untuk tidak membelalakkan matanya dan merasa terkejut dengan apa yang Sasuke ungkapkan barusan.
"Kau sendiri yang meminta dan memohon pada Hinata untuk pergi ? Itukah alasan kenapa Hinata sampai datang padaku dan memintaku untuk menerimamu kembali ?" Karin mencoba mengambil kesimpulan dari kebenaran yang Sasuke katakan.
"Mungkin. Malam dimana saat aku tidak bisa meyakinkanmu dan membuatmu tetap bersamaku menjadikanku marah. Tapi saat itu Aku malah melimpahkan semuanya pada Hinata dan menyalahkannya atas apa yang tidak dilakukannya. Setelah aku mengatakan hal kejam padanya pun dia tetap bersikap baik padaku keesokan harinya . Saat bangun aku belum terlalu ingat tentang apa yang kulakukan pada Hinata di malam itu, tapi beberapa hari setelah Hinata pergi, aku mulai mengingat semuanya" saat bangun kala itu, Sasuke memang tidak ingat sama sekali dengan apa saja yang terjadi saat dirinya masih berada dibawah pengaruh alkohol yang ditenggaknya.
"Kenapa kau melakukannya sampai sejauh itu ? Dia tidak pantas menerima perlakuan seperti itu darimu"
"Karena itulah kukatakan, aku berubah menjadi pria yang mengerikan hanya agar aku bisa terus bersamamu. Saat itu aku masih menyangka jika itu juga merupakan wujud rasa cintaku padamu. Sampai akhirnya Hinata benar-benar pergi, di saat itulah perasaanku sendiri menjadi kacau. Aku merasa bingung dengan perasaanku sendiri." Karin masih menunggu kelanjutan dari kalimat Sasuke karena Karin sendiri yakin jika masih ada banyak hal yang ingin Sasuke katakan padanya
"Seharusnya aku merasa senang saat Hinata pergi karena akhirnya semua berjalan sesuai dengan yang sudah kurencanakan, tapi bukan perasaan seperti itu saat aku mendapati kenyataan jika Hinata sudah benar-benar pergi sekarang. Saat itu aku tetap memaksakan diriku sendiri dengan tetap berusaha melupakan Hinata dan kembali berfokus padamu, tapi sekali lagi aku gagal melakukannya. Pada kenyataannya aku terus saja memikirkan Hinata. " akhirnya Sasuke mengatakan semuanya pada Karin. Kini ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya tentang hubungannya dengan Karin,yang jelas ia sudah mengatakan semuanya dan itu setidaknya dapat mengurangi bebannya selama ini. Bahkan Sasuke sudah siap disebut pria brengsek, karena dia sendiri pun menganggap dirinya sendiri orang yang seperti itu.
Sedangkan Karin, tanpa pernyataan yang jelas pun ia sudah tahu jika Sasuke tidak lagi memiliki perasaan yang sama padanya karena perasaan itu kini telah beralih pada perempuan lain. Kali ini karin tidak dapat lagi menahan laju air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya.
"Kau pria brengsek, Sasuke. Bagaimana bisa kau memperlakukan perasaan kami seperti itu. Seharusnya aku tidak menerima tawaran Hinata saat itu. Seharusnya aku tidak memilih kembali padamu. Sekarang, rasa bersalahku pada Hinata menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Dia sangat mencintaimu Sasuke, bahkan aku sendiri pun dapat merasakannya. Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu pada Hinata ? Dia benar-benar tidak pantas mendapatkan perlakuan semacam itu darimu" Karin tidak dapat menahannya lagi, ia melimpahkan segalanya pada Sasuke. Tapi ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena dengan mudahnya dapat dibujuk oleh Hinata untuk kembali pada Sasuke.
"Kau benar, Aku memang pria yang brengsek dan pria brengsek seperti dirikulah yang seharusnya mendapatkan balasan atas semua yang kulakukan" Sasuke sudah menduga kalau kata-kata itulah yang akan keluar saat Karin tahu kebenarannya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang ? Tentang Hinata" Karin tidak bisa berdiam diri begitu saja, bagaimana pun Hinatalah orang yang paling menderita dalam hubungan ini. Meski ia masih merasa marah pada Sasuke, tapi ia mencoba mengesampingkan hal itu.
"Aku akan mencarinya dan meminta maaf padanya, memastikan dia baik-baik saja, juga mengembalikan semua yang telah kuambil darinya" Sasuke sudah membulatkan tekadnya.
"Apa maksudmu dengan mengembalikan semuanya ?" Karin merasa bingung dengan maksud dari kalimat terakhir Sasuke.
"Semua harta miliknya, aku akan mengembalikan itu semua padanya"
.
.
Our Wedding
.
2 Tahun kemudian..
Perempuan berambut indigo itu terlihat sangat cekatan saat melayani para pelanggan yang datang untuk membeli koleksi bunga di toko bunga tempatnya bekerja. Beberapa saat setelah pelanggan yang datang selesai dengan pesanannya, seorang pria yang mengenakan setelan jas dan memilik rambut berwarna merah bata.
"Sepertinya hari ini pun kau terlihat sangat sibuk, Hinata" pria itu menyapa Hinata, salah satu pegawai di toko bunga itu.
"Seperti yang kau lihat, aku memang selalu sibuk belakangan ini. Gaara-san sendiri tidak bekerja ?" Hinata balik menyapa pada sosok Gaara yang sedang menunggunya selesai dengan pekerjaannya.
"Hari ini aku ingin pulang cepat agar bisa menjemputmu" Hinata hanya tersenyum simpul saja menanggapi kalimat yang Gaara ucapkan.
"Apa besok kau juga akan sibuk seperti sekarang ?" Gaara bertanya pada Hinata tentang jadwalnya besok.
"Mungkin, memangnya kenapa ?"
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" Gaara mengutarakan maksudnya pada Hinata
"Kemana ?" Hinata mengernyit bingung, tidak seperti biasanya Gaara mengajaknya pergi. Biasanya pemuda itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan hanya sesekali saja mengunjungi tempat kerjanya. Posisi Gaara sebagai presdir muda di perusahaan, membuatnya memang selalu dilanda kesibukan.
"Aku ingin mengajakmu menemui orang tuaku" Gaara menjawab pertanyaan dari Hinata dan jawaban yang diberikan oleh Gaara itu jelas membuatnya sangat terkejut.
"Gaara-san, kau sendiri sudah tahu bagaimana perasaanku padamu selama ini, kumohon jangan membuatnya semakin sulit dengan melibatkan keluargamu" Hinata menghentikan sejenak aktivitasnya dan lebih memilih membicarakan hal yang menurutnya lebih penting saat ini.
"Aku tidak mengajakmu menemui orang tuaku untuk masalah itu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu saja. Apa kau tidak mau membantu temanmu yang sedang kesulitan ini ?" Gaara memberikan alasan lain pada Hinata dan memberikan sedikit gurauan diakhir kalimatnya. Hinata tentu saja akan membantu Gaara jika ia bisa. Hinata sudah banyak mendapatkan pertolongan dari Gaara selama dua tahun ini. Memberikan ia tempat untuk tinggal dengan membawanya pergi ke Suna, tanah kelahiran Gaara. Dan itu membuatnya jauh dari seseorang yang sangat ingin dihindarinya. Meninggalkan masa lalunya dan mencoba memulai kehidupannya kembali itu sangat sulit dilakukan, karena pada kenyataannya ia tidak bisa begitu saja terlepas dari bayangan seseorang dari masa lalunya.
"Bantuan seperti apa ?" Hinata mencoba mengenyahkan pemikiran itu dengan mencoba bertanya pada Gaara tentang bantuan apa yang Gaara maksudkan.
"Orang tuaku dan kakakku terus saja memintaku untuk melakukan kencan buta dengan perempuan pilihan mereka. Jujur saja, itu sangat menggangguku. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka sebagai teman wanitaku tapi tidak dalam prioritas sebagai kekasihku. Dan kurasa itu cukup untuk membuat mereka berhenti menyuruhku menemui perempuan-perempuan itu" Penjelasan yang diberikan Gaara memang cukup masuk akal. Hinata sudah berkali-kali mendengarnya sendiri dari Gaara melalui telpon jika ia memang sering terpaksa harus datang ke kencan buta yang sudah diatur oleh orang tua juga kakak perempuannya.
"Karena itulah, turuti kemauan orang tuamu dan cepatlah menikah. Jadi kau tidak usah repot-repot melakukan hai itu dengan meminta bantuanku" Hinata juga mencoba memberikan gurauan pada Gaara.
"Aku juga ingin melakukan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi jika perempuan yang kutunggu tidak juga membalas perasaanku" ucapan Gaara barusan membuat Hinata merasa tidak nyaman dan keadaan canggung tiba-tiba saja menyelimuti mereka. Di tengan kecanggungan diantara Hinata dan Sasuke, bunyi lonceng yang akan terdengar jika ada seorang pelanggan yang datang membuat Hinata setidaknya bisa sedikit lega karena bisa terbebas dari kecanggungan yang menyelimutinya. Tanpa melihat siapa pelanggan itu, Hinata segera mendatanginya dan sedikit membungkuk padanya dan menyapa pelanggan yang datang.
"Selamat datang, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu ?" Hinata menyapa pelanggan tersebut sama seperti ia menyapa pelanggan lain yang datang ke tokonya. Begitu Hinata melihat sosok pelanggan yang saat ini berdiri di depannya, mmbuat Hinata kehabisan kata-kata karena terkejut melihat orang itu.
"Lama tidak bertemu, Hinata" seorang pria yang Hinata anggap sebagai pelanggan itu menyapa Hinata yang masih saja berdiri diam di depannya.
"Sasuke"
.
.
Our Wedding
.
Sasuke dan Hinata duduk saling berhadapan di sebuah toko roti. Mereka memilih tempat duduk yang berada tepat disamping jendela. Sasuke yang memilih tempat itu untuk membicarakan banyak hal dengan Hinata. Awalnya Hinata ingin menolak untuk bertemu lagi dengan 'mantan' suaminya itu, apalagi saat di toko bunga tadi juga ada Gaara disana. Tapi Sasuke tetap bersikeras ingin membicarakan sesuatu dengannya. Akhirnya Hinata pun menyerah dan memilih menuruti keinginan Sasuke, Hinata tidak ingin membuat keributan di tempat kerjanya. Sedangkan Gaara, setelah diberi sedikit pengertian oleh Hinata, akhirnya ia pun mau membiarkan Hinata untuk berbicara berdua saja dengan Sasuke.
"Bagaimana kabarmu selama ini ?" Sasuke mencoba sedikit berbasa-basi pada Hinata
"Langsung ke intinya saja, ada perlu apa kau menemuiku ?" Hinata tidak menanggapi pertanyaan basa-basi dari Sasuke, ia langsung menanyakan maksud dan tujuan Sasuke menemuinya. Sebentar saja bersama dengan Sasuke, membuat Hinata seperti dilempar kembali ke masa lalunya.
"Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja" Setelah mengatakan itu, Sasuke menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Hinata.
"Apa ini ?" Hinata mengernyit bingung melihat bendayang disodorkan Sasuke padanya.
"Bukalah" Sasuke menyuruh Hinata untuk membuka sendiri amplop tersebut. Hinata semakin bingung saat melihat isi dari amlop itu.
"Apa maksudmu memberikan ini padaku ?" Hinata sedikit merasa tidak suka melihat isi dari amplop yang Sasuke berikan padanya.
"Itu adalah barang mulikmu bukan ? Aku ingin mengembalikannya padamu" Sasuke menunjuk sebuah surat yang merupakan isi dari amplop tersebut. Surat kuasa yang beberapa tahun lalu ditandatangani oleh Hinata, juga surat cerai yang selama ini Sasuke simpan tanpa pernah mengajukannya ke pengadilan.
"Aku tidak membutuhkan semua ini. Bukankah dulu kau sendiri yang sangat menginginkan dua surat ini" Hinata menyerahkan kedua surat itu kembali pada Sasuke.
"Aku tidak berhak mendapatkan semua ini, akan ku kembalikan semuanya padamu. Juga, kau sendirilah yang berhak untuk mengajukan surat cerai ini ke pengedalikan. Aku mencarimu untuk mengatkan itu padamu" Sasuke mengutarakan maksud sebenarnya ia menemui Hinata meski tidak semuanya, yang terpenting untuk Sasuke saat ini adalah melihat Hinata baik-baik saja dan menjalani kehidupannya dengan layak saat Hinata tidak lagi memiliki apa-apa.
"Kenapa harus aku yang melakukannya ? Bukankah kau yang sangat menginginkan perceraian ini. Dan apa maksudmu dengan mengembalikan semuanya ? Aku tidak membutuhkan semua itu, nyatanya aku bisa hidup dengan maik meski tidak memilikinya" Hinata menolak maksud Sasuke yang ingin mengembalikan harta yang sudah ia berikan pada Sasuke, juga tentang pengajuan surat cerai itu ke pengadilan.
"Sudah kukatakan, aku ingin mengembalikan apa yang seharusnya mejadi milikmu" Sasuke masih bersikeras dengan keinginannya
"Lalu kenapa aku harus mau menerimanya ? Dulu kau sendirilah yang membuatku memberikan smua itu padamu. Apa kau lupa, kau bahkan sampai memohon padaku. ahh... Kau pasti tidak ingat karena saat itu kau mabuk. Tapi kau pasti merasa senang bukan karena semua permohonanmu saat itu kukabulkan, Aku pergi, harta yang sangat kau inginkan menjadi sudah kau dapatkan dan perempuan yang kau cintai bisa bersamamu" Hinata yang sekarang berbeda dengan Hinata yang dulu, tidak ada lagi nada kegugupan disetiap kalimat yang diucapkannya, yang ada hanyalah nada penuh ketegasan. Bahkan Hinata sekarang berani untuk menyindir Sasuke karena perbuatannya. Sasuke yang mendengar itu pun juga merasa terkejut dengan sikap Hinata padanya.
"Maafkan aku, maaf atas semua yang telah kulakukan padamu. Sekarang berhentilah bersikap seperti itu dan terima ini" Sasuke mengatakannya dengan nada penuh penyesalan
"Sudah kubilang aku tidak membutuhkannya. Pekerjaanku yang sekarang sudah cukup untuk membiayai kehidupanku selama ini. Ambil kembali itu dan pergilah" Hinata masih tetap pada pendiriannya
"Kenapa kau mau memberikan semua hartamu untuk orang sepertiku, apa kau bodoh ?" Sasuke tidak dapat mengendalikan emosinya karena melihat sikap kerasa kepala Hinata.
"Aku memilih menjadi bodoh daripada harus membodohi orang lain" Sasuke merasa tertohok dengan ucapan Hinata padanya.
"Alih-alih merasa seperti orang bodoh, aku malah menganggap apa yang kulakukan dengan memberikan seluruh hartaku padamu adalah suatu keberuntungan. Aku bisa terbebas dari harta yang selalu membelengguku. Harta itu yang sudah membuatku menjauh dari Tou-san ku sendiri, harta itu juga yang membuat suami yang kucintai mengkhianatiku. Bukankah suatu keberuntunngan jika disaat aku merasa terpuruk ada seseorang sepertimu yang menginginkannya" Hinata melanjutkan ucapannya dan itu cukup membuat Sasuke terdiam beberapa semua yang Hinata ucapkan padanya.
"Apa kau menyukaiku ?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Sasuke
"Dulu aku memang menyukaimu. Aku sangat menyukaimu sampai terasa sangat menyakitkan saat tahu kau mengkhianatiku" Hinata menjawabnya dengan penuh ketegasan, tapi juga terselip nada kemarahan didalam kalimat yang diucapkannya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membuatmu kembali menyukaiku. Apa dengan begitu kau akan kembali padaku ? Apa dengan begitu kau mau memulai semuanya dari awal bersamaku ?" Sasuke mengatakannya dengan keseriusan yang tergambar jelas dikedua matanya. Ia menatap Hinata langsung agar Hinata tahu keseriusannya melalui tatapan yang ia berikan. Mendengar itu, Hinata jelas merasa terkejut. Bukan reaksi seperti ini yang Hinata harapkan dari Sasuke saat mengatakan seluruh isi hatinya selama ini.
"Memulainya kembali ? Apa tidak merasa kalau kau adalah orang yang egois ? Setelah kau menghancurkan hatiku dan rasa percayaku padamu, dengan mudahnya kau mengatakan ingin memulainya kembali denganku. Bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti ini ? Apa saat kau mengatakannya, kau tidak berpikir jika itu mungkin akan melukai Karin" Hinata membalas perkataan Sasuke dengan penolakan yang tersirat dari setiap kalimat yang dilontarkannya
"Karin sudah tahu bagaimana perasaanku padanya dan juga padamu. Perasaanku pada Karin bukanlah cinta, melainkan bentuk rasa penyesalan dan tanggung jawabku karena dulu aku tidak dapat melepaskannya dari cengkraman para mafia itu. Berbeda dengan perasaanku padamu selama ini. Aku mencintaimu. Maaf karena aku baru menyadarinya saat kau pergi dan maaf karena sudah membuatmu merasa terluka" Sasuke mengatakan kebenarannya. Kebenaran tentang seluruh perasaannya selama ini. Pada Hinata juga pada Karin. Tanpa sadar Hinata meneteskan air matanya mendengar perkataan Sasuke. Kenapa ? Kenapa baru sekarang Sasuke mengatakan kalimat sakral itu padanya ?
Tekadnya sudah bulat untuk melupakan Sasuke. Hatinya terus menjerit agar menerima tawaran yang diberikan Sasuke. Tapi Hinata mencoba menekan perasaan itu dan menguburnya sampai ke lapisan hatinya yang terdalam. Akan ada banyak hati yang terluka jika ia menerima Sasuke kembali. Di dalam hati Hinata tersenyum meremehkan pada dirinya sendiri, dia tak ubahnya seseorang yang naif karena dengan mudahnya ia terbujuk hanya dengan kalimat yang Sasuke katakan padanya meski ia melakukan hal yang sebaliknya. Buru-buru Hinata menghapus air matanya dengan kasar, ia tidak ingin terlihat goyah dihadapan Sasuke.
"Kau pikir dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti semula ? Kau mungkin sudah terbiasa dengan sifat egoismu itu, tapi aku tidak bisa menuruti keegoisanmu dengan menyakiti perasaan orang lain. Kurasa sudah cukup pembicaraan kita, kuharap kita tidak perlu bertemu lagi" Setelah mengatakan itu, Hinata segera beranjak dari tempat duduknya.
"Karin sudah tahu perasaanku yang sebenarnya padamu" Hinata mengehentikan langkahnya tapi sama sekali tidak berkeinginan untuk menoleh apalagi kembali mengahampiri Sasuke. Ia hanya diam di tempatnya menunggu Sasuke melanjutkan kalimatnya.
"Dia sudah tahu, dan bilang tidak apa-apa jika aku kembali padamu. Pikirkanlah, aku tidak akan menyerah untuk membuatmu kembali padaku" Setelah selesai mendengar kalimat terakhir Sasuke, Hinata kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari tempat itu dan menjauh dari Sasuke.
.
.
Our Wedding
.
Hinata berjalan ke arah mobil dimana Gaara sudah menunggunya dirinya didalam mobil itu. Memang sejak Sasuke datang dan meminta untuk berbicara berdua saja dengan Hinata, Gaara yang awalnya bersikeras tidak ingin membiarkan Hinata bersama dengan Sasuke beralih mengijinkan Hinata untuk bicara dengan Sasuke dengan syarat ia akan ikut dan mengawasi mereka dari kejauhan. Hinata jelas tidak keberatan dengan itu. Dan Sasuke pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Gaara. Sasuke berpikir ini lebih baik daripada tidak bisa menemui Hinata sama sekali.
"Apa saja yang kau bicarakan dengannya ?" Setelah Hinata masuk ke dalam mobil, Gaara dengan segera mengintrogasi Hinata dengan pertanyaannya.
"Bukan hal yang penting" Hinata hanya menjawab seadanya saja. Ia seolah kehabisan tenaga hanya dengan menemui Sasuke saja.
"Apapun yang ia katakan padamu, kau tidak boleh goyah dan memutuskan untuk kembali padanya. Kau sudah sejauh ini, dan akan sulit untukmu kembali lagi padanya" ucapan Gaara memang benar, Hinata sudah sampai sejauh ini. Ia tidak boleh goyah dan memutuskan untuk kembali pada Sasuke. Tapi, kenapa hatinya malah merasa sakit dengan keputusan yang diambilnya saat ini.
"Jika kau merasa tidak sanggup menahannya lagi. Jika kau merasa tidak dapat mengendalikan perasaanmu padanya, maka disaat seperti datanglah padaku. Tinggalkan dia dan datanglah padaku" sudah sejak lama Gaara ingin mengatakan ini pada Hinata. Gaara merasa inilah saat yang tepat untuk sekali lagi meminta Hinata berada disisinya dan memilih dirinya. Ia tidak peduli jika harus memanfaatkan keadaan dimana hati Hinata sedang tergoncang dengan kedatangan Sasuke, yang terpenting untuknya saat ini adalah Hinata bisa bersamanya dan menjadi miliknya
"Menikahlah denganku dan akan kujauhkan semua keraguan itu darimu. Akan kubuat kau sepenuhnya berpaling darinya dan hanya melihatku saja" Gaara melanjutkan ucapannya, dan itu cukup untuk membuat Hinata menoleh pada Gaara. Hinata tidak tahu Gaara akan senekad itu melamar dirinya. Hinata bukannya tidak mengerti kalau Gaara sebenarnya memiliki perasaan khusus padanya melebihi seorang teman. Tapi Hinata selalu menghindar jika Gaara mulai menunjukkan perasaannya pada Hinata. Hinata hanya tidak mau Gaara merasa terluka saat bersamanya sementara hatinya masih belum dapat sepenuhnya melupakan masa lalunya.
Tapi kali ini Hinata tidak berusaha menghindar ataupun menjauh, Hinata malah memikirkan tawaran yang diberikan Gaara. Mungkin dengan menikah dengan Gaara itu akan dapat membuat Sasuke menyerah dan berhenti menemuinya.
.
.
A/N: akhirnya selesai juga chap ini. Yang minta chapter ini dipanjangin, ini sudah saya panjangin. ini sudah lebih dari 5700 kata lho, tidak termasuk a/n.
Untuk chap kemarin mungkin saya ada banyak kekurangannya karena saya banyak menerima review yang bilang di chap kemarin banyak banget typos-nya. Saya minta maaf, itu karena chap kemarin saya ngetiknya terburu-buru jadi typos yang dihasilkan (?) jadi semakin banyak. Apalagi saya ngetiknya dari awal kenal komputer sampek sekarang punya laptop sendiri pun saya tetap konsisten ngetiknya pakai 11 jari (Lho ?)
Semoga saja di chap ini produksi typos saya semakin berkurang. Oh ya, chap depan akan menjadi chap terakhir dari fic saya ini.
Sebenarnya saya sudah kehabisan ide untuk melanjutkan fic ini, tapi saya terus mencoba menemukan ide cerita yang sekiranya nyambung sama fic ini. Saya melanjutkan fic ini karena semata-mata banyak reader yang pengen ini dilanjut. Jadi meski lama, saya janji akan melanjutkan fic ini sampai end.
.
Special Thanks for :
RenCaggie, Anggi575, Mita622, HipHipHuraHura, yana kim, NurmalaPrieska, hyacinth uchiha, ovihime, Lavienda, clareon, dedeqseokyu, oormiwa, hinatachann2505, Megumi Ametyst, Nanayra, kensuchan, anita indah 777, cintya cleadizzlibratheea, sushimakipark, Ashura Darkname, hiru neesan, nadya ulfa, Kaoru-k216, Green Oshu, Eve Seven, melli, yuma, yura, kushina, lovely sasuhina, rikarika, onylave14, hana, yui, tanpanama556, Horee, ayame, yuuaja, Furi Tsuyoko, nana, HyugaRara, Guest, Sasuke, liecha, Alma, ina, vinalavenuciha, rika chan sanh, Guest, sunny Shinki, Guest, yuka.
.
Terima kasih karena kalian semua sudah mau membaca apalagi mereview ff saya... ^^
Terus dukung saya dengan mengirimkan komentar kalian di kotak review, karena review dari kalian akan sangat membantu menyemangati saya dalam menulis kelanjutan fic ini. Bagaimana pun bentuk apresiasi dari kalian, itu akan sangat membantu saya.
Terima kasih juga pada reader yang sudah mau membaca ffic saya tapi tidak berkesempatan untuk review.. :D
Salam hangat dari saya dan sampai jumpa di chap terakhir...
.
Mind to RnR ?
