[FF] Pedophobia| B

Title: Pedophobia

Author: Izumi Chieko.

Chapter: B

Fandom: Bleach

Pair: Grimmjow X Neliel

Rated: PG

Disclaimer: I just own the story line and the barbie, and cemewew thereeeeee *plak* Oke oke, I don't own them.

Genre: Romance | Slash of Life | Fluff

Warning: | INCEST! XD Muahaha.

A/n: Well, ide ini tercipta ketika baca status nya kawanku yang tentang Anak, Ayah, handphone, dan Oreo XD Lol. Terimakasih. Statusmu membuatku bahagia, akakak.

Enjoy then ┏( ˆ▽ˆ)┛

ƪ(^▽^)ʃƪ(^o^)ʃ

Tentang Ulquiorra, dan pernikahannya.

Tepat di hari ulang tahunnya. Ulquiorra menikah saat Dia berusia 22 tahun. Hari ini. Dia memakai tuxedo hitam yang susah payah aku beli untuk kado pernikahannya dengan Orihime. Terakhir kali kuingat, tabunganku jebol lagi. Miris. Tapi tidak apa-apa, harga tuxedo itu tidak sebanding dengan persahabatanku dengan orang yang sedang berdiri di altar sana.

Ulquiorra memutuskan untuk menikah muda. Dia juga baru berusia 22 tahun dan Orihime sendiri masih kuliah disemester awal. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tapi aku bersyukur, Ulquiorra tidak akan sering curhat tentang 'menahan-diri' dan 'menahan-diri' lagi mulai sekarang.

"Ya. Aku bersedia."

Dan dengan itu mereka berdua akan terus bersama. Dengan satu ucapan sakral yang Ulquiorra ucapkan barusan. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang menguar begitu kuat. Ulquiorra tersenyum bahagia . Dia mencium Orihime saat orang-orang berebut menangkap bunga yang baru saja dilemparnya. Refleks aku tertawa saat Orihime memukul kepala Ulquiorra.

Aku berniat menghampiri mereka kalau saja tidak ada tepukan lembut dipinggangku. Aku menoleh ke bawah dan dia disana—Nelliel ku. Dengan balutan Gaun Hijau Tosca ditubuh mungilnya. Dia sangat lucu, dan , cantik. Aku selalu kesulitan kalau diminta mendeskripsikan anak ini. Dia itu indah.

"Daddy!" dia menarik-narik ujung lengan bajuku, meminta perhatian. "Aku dapat bunga,"

Aku kaget sebentar, tapi kemudian ikut tertawa bersama orang-orang yang sepertinya kebetulan melihat kearah kami. Didepan sana, beberapa tamu undangan, pria dan wanita yang menginginkan buket bunga dari sang pengantin demi mitos konyol 'kau akan menjadi pengantin selanjutnya', masih bergumul. Sementara Nelliel, masih tersenyum lebar dengan buket bunga yang sedang diperebutkan tadi. Aku masih tertawa.

Aku berjongkok didepan Nelliel, seperti yang kuduga, dia akan langsung memeluk leherku dan tertawa disana. Dia selalu seperti itu. Dan aku menyukainya, aku menyukai gema tawanya yang langsung masuk ketelingaku. Getaran tubuh mungilnya didekatku, itu terasa menyenangkan sekali.

Aku membawanya ketaman belakang gereja. Nelliel memajukan bibirnya sambil bilang kalau Ulquiorra terlihat sangat sibuk. Memang. Semua orang terus bergantian memberi ucapan selamat atau sekedar bersalaman dengannya dan juga Orihime. Aku menurunkan Nelliel dari pangkuanku dan dia berlari. Menubruk kaki Uquiorra dan memeluknya.

"Oh, Nell sayang.." Aku melihat Ulquiorra mengangkat tubuh Nelliel dan memutar-mutarnya di udara. Suara tawa mereka terdengar sangat nyaring. Apalagi ketika Ulquiorra menyentuh pipi Nelliel dengan bibirnya. Anak itu akan langsung merinding sambil terkekeh geli. Aku tidak tahu kenapa.

"Jadi, kau yang akan menyusulku?"

Aku menoleh, seseorang dengan wajah berpoles make up natural yang khas menjadi objek penglihatanku. Dia terlihat sangat cantik. Dia Orihime, dan dia milik Ulquiorra. Aku mengangkat buket bunga ditanganku lalu menjawab. "Neliel yang mengambil ini. Jadi selanjutnya dia yang akan menikah." Mungkin wajahku saat mengatakan ini terlihat konyol. "Aku serius." Makanya Hime tertawa.

"Oke. Kurasa mitos itu tidak berlaku untuk anak 5 tahun, Grimm."

"Kuharap juga begitu." Akan terdengar sangat tidak waras kalau Nelliel menikah diusia semuda itu. Aku juga jadi ikut-ikutan tidak waras karna sempat-sempatnya memikirkan hal ini.

Nelliel memanggilku. "Daddy~" Tangannya terulur kearahku saat Ulquiorra menghampiri kami. Wajahnya terlihat lelah, matanya setengah tertutup. Dia terlihat menggemaskan dengan ekspresi yang seperti itu. "Ngantuk.."

Ulquiorra menepuk-nepuk kepala Nelliel yang berpindah kepangkuanku. Dia menggumam kata-kata tidak jelas disana. Kalau seperti ini, biasanya Nelliel benar-benar kelelahan. Mungkin Ulquiorra memutar-mutar tubuhnya diudara terlalu lama. Aku mengelus rambut Nelliel sambil tertawa kecil.

"Daddy, pulang~"

"Oke. Tapi pamit dulu sana," aku menggerakan bahuku supaya Nelliel mengangkat wajahnya dan melepaskan lingkaran tangannya dileherku. Aku meliriknya, sebelah matanya tertutup dan dia cemberut.

"Maaf ya, aku membuatmu pusing, nanti kita beli es krim deh!"

"Nel mau 5 es klim!"

Untuk urusan ice cream dia memang selalu seperti itu. Suaranya akan meninggi dan terdengar ceria. Ulquiorra tertawa, Orihime juga sama. Sementara Nelliel terlihat bingung karna menurutnya sama sekali tidak ada yang lucu. Aku menangkap jari-jari tangan Nelliel yang terangkat saat menjawab Ulquiorra barusan. Saat mengatakan 5 eskrim tadi, dia hanya mengangkat jari telunjuk dan tengah nya saja. Aku mencium rambutnya dulu, ikut tertawa, lalu kemudian meluruskan ketiga jari lainnya yang terkekuk.

"Tadi itu dua, Sayang."

"Eeeeh?"

ƪ(^▽^)ʃƪ(^o^)ʃ

Tentang Senin, sereal, dan phobiaku yang tidak hilang. Tidak pernah hilang.

Aku bertemu dengan Senin lagi. Dari tujuh hari yang ada, Senin adalah hari yang paling melelahkan. Aku mendapatkan banyak tugas dihari Senin. Jadwal kuliahku menggila. Toko milik Urahara—pamanku—, toko dimana aku bekerja, juga kebanjiran pelanggan. Biasanya aku pulang lebih dari jam 6 sore. Belum lagi apartemenku, setiap sudut ruangan akan menjadi sangat berantakan karna hari sebelumnya aku menghabiskan waktu disini. Bersama Nelliel tentu saja.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh, matahari juga mulai naik. Aku ada kuliah jam delapan. Sambil menenteng jaket kotor, aku menuangkan susu kedalam mangkuk sereal Nelliel. Dia menunggu diatas sofa depan TV sambil berusaha untuk mengkancingkan baju nya sendiri. Aku sengaja, meskipun dia sering kesal tapi secara perlahan aku sedang mengajarinya untuk mandiri.

"Habiskan sarapanmu," Aku memasangkan satu kancing terakhir baju Nelliel, karna dia bisa menghabiskan waktu sarapannya hanya untuk menyelesaikan itu. "dan jangan sampai kotor. Oke?"

"Um."

Aku berjalan agak cepat kearah mesin cuci, memasukan beberapa pakaian kotor kesana dan kembali lagi ke ruang tengah. Aku bisa mendengar backsound khas kartun Disney yang sedang ditonton Nelliel saat mengambil bukunya yang berserakan. Aku kembali kekamar dan mengambil handuk. Sepertinya aku terlalu banyak hilir-mudik. Makanya Nelliel memanggilku sedikit keras.

Aku menyaut dari belakang sofa. Nelliel berbalik dan menyodorkan sesendok sereal kearahku. "Daddy juga harus sarapan. Kata Tia-sensei kalau gak sarapan nanti sakit perut." Aku sedikit menunduk dan membuka mulutku lebar-lebar menerima suapannya. Nelliel tersenyum kearahku lalu kembali berbalik dan menonton TV. Aku mengacak rambutnya dari belakang lalu menunduk untuk mengecup jidatnya yang tertutupi rambut. Kami tertawa.

Ini memang hari Senin yang pagiku menyenangkan.

Jam delapan kurang sepuluh aku baru sampai mengantar Nelliel ke halaman TK. Aku berjongkok saat membenarkan dasi kecil diseragamnya. Dia melambaikan tangan kearah teman-temannya yang baru datang. Aku mulai berdebar tidak tenang. "Jangan nakal, dan turuti semua kata-kata sensei. Mengerti?"

"Siap kapten!" pose hormatnya itu membuatku ingin sekali memakannya. Nelliel mencium pipiku lalu berlari mengikuti teman-temannya didepan. Nemu sudah ada didepan pintu kelas dan dia melambaikan tangannya kearahku. Aku tersenyum membalasnya dan kembali lagi ke mobil kalau saja tidak ada..

"Kakak!"

"Ah!" Aku berteriak, itu spontan, sungguh. Ingat, aku seorang pedhophobia. Meskipun aku hidup dengan Nelliel sudah lebih dari 4 tahun, itu tidak mengubah apapun. Nelliel itu memang pengecualian yang sangat besar.

"Eh? Kakak kenapa?" Aku sedikit bersyukur karna anak kecil ini menutup kedua matanya. Sebenarnya dia tersenyum, tapi karna matanya kecil jadi setiap dia melakukan itu kelopaknya akan tertutup. Aku masih menghembuskan napas dengan tidak santai. Sampai akhirnya seseorang datang dan menghentikan kegilaanku ini.

"Gin-chan?"

Anak bernama Gin itu tidak berhenti tersenyum. "Tia-sensei! Selamat pagi.."

"Ohayou." Tia tersenyum. "Cepat masuk ke kelas, ada sesuatu yang akan ditunjukan oleh Unohana-sensei, lho."

"Baiklah," dia kembali melirik kearahku. Aku bertumpu kepintu mobil dibelakangku sebagai pertahanan. "semoga harimu menyenangkan, Grimmjow-san." Gin pergi, dia berlari, berlari dan menghilang dibalik pintu. Aku menghembuskan napas lega hanya sedetik. Soalnya dia kembali muncul di depan pintu, dengan senyumannya yang tidak pernah bosan muncul. Gin melambaikan tangan kearahku dan menghilang lagi.

Tia tertawa melihat tingkahnya. Atau mungkin tingkahku, aku tidak tahu.

"Sepertinya sulit bagi seorang pedhophobia mengantar anaknya sekolah. Benarkan Grimmjow?"

"Ini siksaan… Penyiksaan."

ƪ(^▽^)ʃƪ(^o^)ʃ

Sekarang hari Minggu. Aku tidak memiliki jadwal kuliah, dan toko Urahara milik pamanku juga tutup karna dia pergi ke Hokaido. Aku berniat untuk menghabiskan waktu di apartemen saja. Sekalian istirahat karna minggu ini aku banyak dihantui tugas dosenku.

Mumpung masih pagi aku juga berniat untuk berjalan-jalan sebentar. Paru-paruku butuh oksigen yang bersih. Jadi pagi-pagi sekali Neliel sudah cemberut dengan wajah mengantuknya, aku membangunkannya dua jam lebih awal dari hari biasa.

"Ngantuk…" Neliel menggumam saat aku membenarkan sepatunya yang ia pakai sembarangan. Matanya menutup. Iseng, kutarik ujung poninya sampai ia terlonjak kaget. "Ih!" ia menarik ujung rambutku sebagai balasan.

"Semangat dong! Nanti pulangnya kita beli es krim." Aku membujuknya. Kebetulan juga persediaan eskrim di kulkasku habis. Kemudian dengan cepat, secepat aku mengunyah kit-kat, ia menarik tanganku dan mulai berlari. Perubahan emosi Neliel itu sangat aneh. Matahari muncul, mungkin aku sedikit gila karna mengira dia seperti tersenyum. Hey, tuan Matahari, apa kau juga ikut bahagia untuk pagi ku dan Neliel?

.

Sepertinya Matahari memang ikut bahagia bersamaku. Dia dengan semangat muncul dilangit, memancarkan sinarnya yang membuat tulang-tulang ditubuhku berterimakasih. Tapi Neliel tidak kelihatan bahagia. Aku masih berlari meskipun ini sudah pukul 9 lebih. Neliel dibelakang lebih dari sekali tertinggal. Lebih dari sekali pula dia mengataiku dengan ucapannya yang aneh-aneh.

"Daddy gila," Aku masih berlari. "Daddy bau," Aku berlari kecil. "Daddy jeleeeek!" Suara Neliel kedengaran kecil. Aku berhenti dan menoleh kebelakang. Dia sedang berjongkok jauh dibelakangku.

"Nel cape, tau."

Aku mencibir. "Cuma segitu capek? Susul daddy sampai di depan toko sana. Yang sampai duluan dapat es krim lebih hari ini." Tanpa mendengarkan protesannya lagi, aku kembali berlari kecil. Jalanan disekitar apartemenku memang tidak terlalu ramai. Meskipun ini hari libur, tidak banyak mobil yang lewat dijalan. Makanya aku tidak perlu khawatir meninggalkan Neliel disana. Palingan yang hilir mudik juga hanya sepeda.

Nah, ngomong-ngomong dibelakangku juga ada sepeda. Suara semacam: 'Kring! Kring' menyapa telingaku. Aku bergeser agak ke sisi untuk memberi jalan. Kemudian aku menoleh untuk berniat tersenyum dan menyapa orang yang mungkin tetanggaku ini. Tapi.. dia bukan tetanggaku.

"Nel yang menang," yang kulihat cuma Neliel yang menjulurkan lidahnya kearahku. Dia mengayuh entah-sepeda-milik-siapa itu dengan cepat. Aku terdiam sambil menaikan sebelah alisku. Dari mana dia dapat sepeda?

"Hh.. Kakak!" ada telapak tangan kecil yang mendarat di pinggangku. "Ohayou. Hh.. Grimmjow-san."

Aku tahu yang menyapaku ini anak kecil. Suaranya familiar. Aku melirik sambil menahan napas. Benar sekali, si bocah ini lagi. "Sepertinya Neliel bersemangat sekali." Dia berkomentar diantara napasnya yang tersenggal. Gaya bicaranya itu seperti orang-orang tua, sumpah.

"Kenapa kamu ada disini?"

"Oh, Grimmjow-san berbicara padaku?" dia tersenyum. Sebenarnya dari tadi juga dia tersenyum, aku belum pernah melihat Gin dalam ekspresi lain. "..itu suatu kejadian yang langka." Aku mengabaikan kalimat itu. "Tadi aku sedang bersepeda."

"Lalu mana sepeda mu?"

"Oh itu. Neliel mengambilnya. Tapi tadi aku sempat berpikir kalau dia merebutnya sih."

"Hah?!"

Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Neliel melompat-lompat di depan sebuah minimarket. Kalau aku bisa mendengar suaranya, dia pasti sedang tertawa penuh kemenangan. Dasar curang.

"Grimmjow-san,"

"Apa?"

"Karna Neliel mengambil sepedaku, Grimmjow-san harus menggendongku sampai rumah. Aku capek."

"Heh?!"

ƪ(^▽^)ʃƪ(^o^)ʃ

"Daddy kok ngga beli es klim?"

Aku sengaja. Aku sedang menghukumnya dengan caraku sendiri. Sampai jam satu siang, Neliel belum juga mendapatkan es krimnya. Beberapa kali dia menyuruhku membuka lemari es dan berakhir dengan dengusannya yang lucu. Aku berencana pergi ke minimarket sekarang. Kasihan juga anakku itu.

"Jangan main jauh-jauh. Jangan merepotkan tante Rangiku, oke?"

"Es—"

Aku menyela. "Oke?!"

Neliel cemberut, "Iya, Daddy.." Aku menggandeng tangan mungilnya dan berpamitan pada tetanggaku. Aku tidak akan membawa Neliel. Hari ini cuacanya lumayan panas. Aku tidak tega membuat kulit sensitifnya iritasi. Jadi aku titipkan dia pada seorang wanita yang tinggal dibawah apartemenku. Dia baik, dan seorang penggosip. Tapi aku bersyukur karna dia tidak pernah menggosipkanku. Kupikir begitu.

Aku hanya berharap, topik tentang seorang laki-laki berusia 22 tahun yang hidup bersama dengan seorang anak, dan tanpa Ibu, bukan menjadi info terhangat untuk mereka bicarakan. Semoga.

Biasanya aku menitipkan Neliel pada Orihime dan Ulquiorra. Tapi karna dia sedang melakukan ritual bulan madu, terpaksa aku tinggalkan Neliel bersama tante-tante disana. Bukan suatu hal yang buruk sih. Tapi kadang Neliel kurang menyukai mereka. Katanya tante Rangiku bau melati. Hidungnya selalu memerah saat mengatakan itu.

Aku memilih berbagai macam ramen instant untuk persediaan. Menyambar kaleng-kaleng kornet dan telur. Sebentar lagi aku selesai. Tinggal menunggu wanita tua didepanku membayar dan aku bisa menjemput Neliel. Udara diluar panas sekali, aku sedikit khawatir es krim yang kubeli cepat mencair. Karena itu, aku berlari.

Aku berlari supaya es krim tidak mencair dengan cepat. Supaya Neliel bisa tersenyum lebar saat aku menjemputnya. Tapi saat pintu apartemen Rangiku terbuka, aku tidak menemukan Neliel. Yang ada hanya sesosok anak kecil, perempuan, rambutnya pirang coklat—terasa familiar—dikuncir dibelakang kepala, lucu sekali. Cantik, dengan gaun merah berenda, menubruk dan memeluk pinggulku.

"Daddy~"

Ini rengekan Neliel. Yang aku kenali hanya itu, tapi yang sedang memelukku ini anak perempuan lain! Aku tidak yakin.. "Eh?"

"Oh, Grimmjow, kau kembali terlalu cepat." Rangiku dan beberapa temannya yang bermake-up menor berhambur keluar menemuiku. "maaf tentang Neliel. Kau tahu, aku sangat menginginkan anak perempuan, tapi aku tidak bisa. Dan yang kutahu, tetanggaku punya anak yang cantik. Neliel-mu cantik, Grimm!" diakhir kalimatnya Rangiku memekik, ia kelihatan senang sekali.

Tapi, eh? Jadi anak bergaun merah ini..Neliel? Aku berlutut dan mengangkat wajah si gaun merah ini. Bibirnya punya lengkungan yang khas. Hanya dengan memperhatikan itu aku yakin ini Neliel. Dia menyambar leherku dan bersembunyi disana. "..Baby? Are you ok?" aku berbisik. Rangiku menyerahkan pakaian Neliel saat aku berdiri.

"Maaf ya, Sayang." Rangiku dan beberapa temannya tadi mengelus rambut Neliel. Sentuhan itu membuatnya makin tenggelam dalam leherku. Aku bergidik. Jangan sampai Neliel punya penyakit phobia. Phobia terhadap tante-tante? Itu tidak elit.

Aku berterimakasih pada Rangiku dan teman-temannya lalu pamit. Sebelum aku naik ke apartemenku, aku masih bisa mendengar mereka tertawa centil seperti gadis sambil menyebut-nyebut nama Neliel. Si putri dipangkuanku ini makin mengeratkan pelukannya. Sejujurnya aku tidak rela Neliel ku dieksplorasi begini. Kupastikan ini pertama dan terakhir kalinya mereka membuat Neliel menjadi boneka.

Tapi.. aku juga harus jujur tentang Neliel yang memang cantik. Kau mulai gila lagi Grimmjow.

Aku tertawa pelan, berbisik ditelinga Neliel. "Hey, putri. Kau baik-baik, saja?" Dan Neliel menendang perutku dengan kakinya yang masih berbalut sepatu. "Mana ada putri pake sepatu cowok? Putri itu harusnya pake sepatu ka—Aw!"

"Daddy gila!"

Aku membuka pintu apartemen dengan susah payah. Neliel tetap menendang perutku, tubuhnya jadi susah seimbang. Belum lagi aku membawa barang belanjaan. Begitu pintu terbuka aku melompat ke atas sofa. Kugunakan jari-jariku untuk menggelitik tubuh Neliel yang terbaring. Dia tertawa diantara rengekan dan tarikan napasnya.

Aku menarik tangannya agar ia terduduk. Aku suka saat melihat pipi Neliel yang memerah, sebenarnya dia itu mudah lelah. "Nel ngga suka baju kayak gini! Dingin." dia berkata. Aku memperhatikannya lagi. Gaun merah itu tidak menutupi setengah kakinya. Hanya sampai 5 senti diatas lutut. Apartemenku ber AC, pantas kalau dia merasa dingin.

Gemas, kumain-mainkan kunciran rambutnya yang lucu, walau sebenarnya itu hanya Wig, karena Neliel sendiri memiliki rambut tosca yang ingah. Neliel memukul tanganku sambil mulai mengomel. Sebelum dia punya kesempatan untuk kabur, aku mengambil handphone dan menarik Neliel mendekat. "Say cheeese~"

Dapat. Aku melihat ke screen iPhone ku, memilih berbagai option sampai wallpaperku terganti. Disana ada Neliel—princess Neliel, menaikan sebelah alisnya, mulut bawahnya maju. Ada aku juga dismapingnya, tertawa lebar dan bergaya seceria mungkin. Tapi kemudian aku sadar, aku sedang tidak bergaya. Aku bahagia, dan aku memasang ekspresi yang seharusnya kutunjukan.

"Daddy gila, bau, kudisan, panuan, gila, kudisan, bau, panuan, kudisan, bau, jel—"

Aku tidak perlu menjelaskan secara rinci tentang apa yang kulakukan. Aku hanya sedang membuat Neliel berhenti mengoceh, dengan caraku sendiri. Aku..hanya sedang bahagia.

TBC or Not ? Dunno XD