[FF] Pedhopobhia | D

Title: Pedhopobhia

Author: Izumi Chieko.

Part: D

Fandom: Bleach

Pair: Grimmjow X Neliel

Rated: PG

Disclaimer: I just own the story line and the barbie, and cemewew thereeeeee *plak* Oke oke, I don't own them.

Genre: Romance | Slash of Life | Fluff

Warning: INCEST! XD Muahaha.

A/n: Well, special part pedhopobhia! XD karena mungkin ini akan jadi chap yang terakhir untuk fic ini.

Enjoy then ┏( ˆ▽ˆ)┛

ƪ(^▽^)ʃƪ(^o^)ʃ

"Daddy, Nel ulang tahun nya kapan?"

Aku sedang mengiris wortel ketika pertanyaan Neliel terdengar. Dia duduk diatas kitchen counter disamping kulkas. Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum, lalu menjawab, "24 April."

Anak tanpa keluarga ini bertemu denganku pada bulan Desember 5 tahun yang lalu. Lalu, nama Neliel aku beri padanya di bulan april. Aku tidak tahu kapan hari lahir Neliel yang sebenarnya. Aku juga tidak tahu nama asli Neliel. Sejak hari itu, aku tidak pernah berniat mencari tahu tentang kehidupan nya di masa sebelum aku menjadi ayahnya. Dihari dimana dia menjadi Neliel, dia telah menjadi anakku, dan dia milikku.

"Nanti Nel ulang tahunnya mau bikin kartu kayak gini juga ya, daddy?"

Masakan sederhanaku sore ini sudah selesai. Setelah menyimpan makanan di meja aku mengangkat tubuh Neliel dan membawanya duduk dipangkuanku dikursi makan. Kemudian aku meraih kertas undangan ditangannya, sebuah kertas birthday party dari teman nya.

Bulan April sudah terlewat, tapi walau begitu aku harus mempersiapkan semuanya untuk ulang tahunnya tahun depan. Aku belum mengecek jumlah tabunganku di bank. Tapi sepertinya cukup hanya untuk acara party kecil-kecilan. Tentu saja ini akan menjadi party yang kecil. Aku masih menyandang predikat sebagai seorang pedhophobia dan itu menjadi sebuah alasan penting untuk tidak mengundang teman-teman Neliel nantinya. Paling aku akan mengundang si bocah bernama Gin, Tia, Ulquiorra dan Orihime, kalau perlu aku mengundang si tante dibawah apartemenku.

"Oke."

"Eh?" Neliel mendongak dengan mulutnya yang penuh makanan. Aku meraih sebutir nasi disudut bibirnya sebelum dia kembali berbicara. "Nanti Nel bikin pesta juga?"

"Hm."

"Yey! Nel sayang daddy!" serunya. Aku mengambil sesendok nasi dipiring kami dan memakannya. Lalu Neliel kembali bersuara, "kalau daddy kapan ulang tahunnya?"

Ah benar juga.. Sekarang ini bulan Juli. 31 Juli, 2 hari menuju ulang tahunku yang ke 23. "Um.. dua hari lagi,"

"Heee?! Hontou?!" Neliel turun dari pangkuanku, dia berdiri disamping meja makan, melompat-lompat ringan, menuntutku supaya memperhatikannya. "Daddy mau hadiah apa?"

Tubuhku sedikit membungkuk karna mensejajarkan posisi wajahku dengan Neliel. "Daddy mau kamu."

"He?"

Haha. Wajah kebingungan nya itu lucu sekali. Untung dia masih anak-anak. Kalau dia sudah sedikit dewasa mungkin perkataanku barusan bisa dianggapnya ke arah yang tidak-tidak.

Dewasa ya..? Kira-kira.. Apa yang akan kulakukan jika Neliel sudah dewasa?

…ooOoo…

Letak Sekolah Dasar Neliel lebih jauh daripada TK-nya dulu. Aku sering kesiangan kuliah, makanya akhir-akhir ini aku banyak memilih jadwal siang. Didalam mobil Neliel memakan rotinya dengan tenang. Tadi kami kesiangan, aku bahkan belum sempat sarapan. Didalam tas kecilnya, Neliel sudah membawa bekal sereal gandum. Jarang sekali dia mau membawa bekal seperti hari ini.

"Nanti daddy jemput, ya?"

"Jangan!"

"Kenapa?"

"Nel mau pulang bareng sama Gin-kun!"

Neliel menyeret Gin yang kebetulan lewat didepan parkiran. Aku mengerutkan kening, berpikir apakah aku baru saja melakukan kesalahan atau bagaimana. Sebab Neliel akan sedikit menjauhiku—dengan cara khas anak-anaknya—ketika aku berbuat hal yang menurutnya salah.

"Baiklah.." helaan napasku mungkin terdengar tidak santai, aku memang tidak suka saat-saat seperti ini. "jangan nakal. Nanti pulang hati-hati, ya?"

"Hm!"

Sebelum aku masuk lagi ke mobil, Neliel menarik ujung kemejaku dan aku berjongkok didepannya. Dia tersenyum dan berpamitan, dan sebelum dia berlari mengikuti Gin, ciuman kecilnya mendarat dipipiku. Neliel mengedipkan sebelah matanya, tertawa, dan berlari-lari menyusul teman-temannya masuk ke kelas.

Sepertinya dia tidak marah..Neliel tidak akan berpamitan dengan cara seperti barusan kalau memang sedang kesal. Hah.. biar sajalah, mungkin ini salah satu proses dia menjadi anak-anak yang sedikit lebih besar?

Sekarang dia 6 tahun. Selama 5 tahun anak itu menghabiskan waktunya didalam sepertiga aktifitas harianku. Bukankah seharusnya seorang Ayah bahagia jika melihat anaknya tumbuh? Aku harus bahagia, seharusnya begitu. Apa ada phobia untuk ketakutan terhadap pertumbuhan? Terhadap pertambahan usia? Karna sepertinya aku takut melihat nya dewasa.

Aku hanya ingin hidupku seperti ini. Hanya ada aku.. dan Neliel kecilku. Karna hanya dengan itu, hidupku sudah sempurna.

…ooOoo…

Bagiku, lebih baik berada dalam kubangan dengan banyak serangga didalamnya, dibandingkan harus berada didalam situasi dimana aku sama sekali tidak bisa melawan phobia-ku. Aku, Grimmjow..memiliki lebih dari satu phobia. Aku masih bisa mengontrol diri jika ada selai kacang di roti panggangku. Aku juga masih bisa menahan diri untuk tidak berontak jika ada orang berjenggot menghampiriku.

Tapi aku tidak pernah bisa menahan segala rasa yang keluar ketika mata-mata tak berdosa itu menatapku, memperhatikanku, menelanjangi akal sehatku sampai untuk beberapa saat jalan pikiranku tidak berjalan.

Pedhophobia. Adalah ketakutan yang tidak pernah hilang dalam diri seorang Grimmjow.

"Daddy! Nel bawa teman-teman Nel kerumah kita biar pesta daddy rame! Yeay!"

Suara Neliel membuatku sadar dan kembali pada kenyataan. Aku berharap saat ini aku buta. Supaya aku tidak bisa melihat dan merasakan tatapan makhluk-makhluk mungil dijalan pintu masuk apartemenku ini.

Aku tahu tubuhku mulai bergetar, aku bisa merasakan perubahan suhu tubuhku sendiri. Segala perasaan aneh yang muncul ketika suara mereka bersatu, menyerukan satu kalimat pendek yang seharusnya terdengar menyenangkan ditelingaku.

"OTANJOUBI OMEDETOU, GRIMMJOW-SAAAAN.."

Bersamaan dengan seruan itu, mulutku bergerak, berseru dengan nada tinggi memanggil nama Neliel. Tentu saja mereka semua akan terdiam, karna barusan aku berteriak. Aku tidak berencana untuk berteriak tapi mulutku tetap melakukan hal itu.

"Da-daddy?"

Aku menyeret tangan mungil nya masuk kekamarku, membiarkan teman-temannya diluar sana terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Apa aku mengagetkan mereka? Aku tidak berniat menyakiti anak-anak itu, sungguh. Semuanya berjalan diluar kendali akal sehatku.

"Neliel~! Daddy pernah bilang, jangan pernah sekalipun membawa teman-temanmu ke rumah, 'kan?!"

"Nel cuma—"

"Kau gunakan untuk apa kupingmu itu ha?!

Begitu juga saat ini, ketika aku membentak Neliel, berbicara padanya dengan nada yang tinggi. Ini untuk pertama kalinya, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini selama dia berada disisiku. Karna aku selalu menjaganya, aku selalu berusaha menjadi ayah yang akan menjaga perasaan anaknya yang masih sangat sensitif.

Sekarang aku mengabaikan itu semua, aku marah, karna aku sedang menyembunyikan ketakutan yang sedang aku rasakan. Pengecut? Silahkan..panggilah aku seperti itu.

"Sekarang bawa mereka pergi dari sini, dan jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Apapun alasannya!"

Itu adalah bentakan terakhir yang Neliel terima, dia keluar dari kamarku dan menemui teman-temannya. Matanya memerah, cairan bening itu sempat kulihat menggantung di sudut matanya. Aku masih bisa meliriknya lewat celah pintu sebelum akhirnya pintu kamarku terbanting dengan keras.

"Maaf..kayaknya Daddy Nel lagi sakit. Pesta nya ngga jadi ya.. teman-teman?"

"Ne~ Nel-chaaan. Jangan nangis~"

"Uh? Ne-Nel ngga nangis kok.."

"Tapi Neliel-chan nangis.."

"Ng?" isakan Neliel memotong ucapannya sendiri. "Ne-Nel cuma kaget kok.."

"Maafkan kami, Grimmjow-san.."

Suara langkah mereka menjauh, aku tidak juga bisa merasakan keberadaan Neliel. Yang tersisa hanya tinggal suara Gin.

"Hah~ Padahal aku berpikir kau bisa sedikit menghargai usahanya, Grimmjow-san.."

"…"

"Aku tidak mengerti jalan pikiran orang dewasa. Aku pergi dulu, sebaiknya kau segera menyusul Neliel. Ohya, selamat ulang tahun, Grimmjow-san."

Gin dan omongan sok orang-tuanya itu tidak pernah berubah. Ketika apartemenku kembali sepi, aku membuka pintu kamarku dan memperhatikan ruang tengah. Saat masuk tadi, aku sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingku. Aku tidak memperhatikan seberapa banyak origami yang tersimpan rapih disegala sudut ruangan apartemenku. Juga tidak memperhatikan berbagai macam hiasan sederhana yang tertempel didinding.

Apa Gin berbicara tentang semua ini? Apa Neliel melakukan semua ini untukku?

Tiba-tiba perasaanku menjadi sesak. Rasanya sakit sekali. Aku duduk, mencoba untuk menenangkan batinku tapi rasa sesak itu semakin bertambah ketika lagi-lagi aku menemukan buah tangan Neliel diatas meja. Sebuah kertas undangan, dengan tulisan latin khas anak-anak, terdiri dari coretan-coretan crayon berbagai warna yang membuat kertas sederhana ini terlihat cantik dan hidup. Aku tahu, disetiap coretannya, Neliel menorehkan rasa kasih sayang yang membuat kertas kecil ini terasa istimewa. Aku merasakannya.

Dan si Grimmjow ini baru saja merusak kebahagiaan yang seharusnya dia terima. Payah.

Neliel.. Maaf.

…ooOoo…

Juli. Aku masih bisa menemukan bunga-bunga cantik disekitar jalanan. Meskipun banyak dari mereka yang sudah berguguran, dan sebagian pohonnya sudah ditumbuhi dedaun, tapi itu tidak mengurangi sedikitpun keindahan Jepang.

Seharusnya, aku bisa menikmati keindahan ini dalam situasi yang juga indah. Bukan seperti saat ini. Oksigen diparu-paruku semakin menipis, terbukti dari deru napasku yang tidak beraturan.

Lebih dari dua jam aku berada dijalanan, berlari kesana-kemari untuk mengusir dan mengobati rasa sakit didadaku. Aku tidak peduli orang-orang berteriak ketika aku menyebrang tanpa melihat lampu lalu lintas. Aku tidak peduli dan aku tidak takut.

Kalaupun aku adalah seseorang yang memiliki phobia terhadap keramaian, saat ini aku tidak akan menghiraukan rasa takutnya. Karena sejak detik dimana aku pergi dari apartemenku, meninggalkan pintunya terbuka saat aku berlari. Saat itu aku sadar, phobia terparah yang aku punya bukanlah pedhophobia lagi.

Ketakutan akan kehilangan Neliel mengalahkan semuanya.

"Kehilangan sesuatu, Grimmjow?"

Suara itu datang disaat aku hampir putus asa. Kaca mobil yang berhenti didepan mataku terbuka, menampakan paras wajah Tia..dan seorang anak kecil yang tertidur disampingnya.

"Oh..Neliel."

Sekarang..oksigen-oksigen yang ada disekelilingku kembali kuhirup dengan lega.

…ooOoo…

"Sekalipun kau ayahnya. Aku tidak akan memberikan Neliel padamu, sebelum kau menjelaskan padaku tentang 'kenapa bisa Neliel-mu ada dijalan dengan wajahnya yang basah?'."

Itu adalah hal pertama yang dikatakan Tia saat kami sampai di apartemenku. Tia berkata sambil menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu yang keadaannya belum berubah sejak hampir tiga jam yang lalu kutinggalkan. Aku mempersilahkan Tia duduk, Neliel yang berada dipangkuannya pasti membuatnya terasa pegal.

"Jadi?"

Lalu, kuceritakan semua yang kualami hari ini. Aku tidak menutup-nutupi sedikitpun ceritanya. Karna aku sudah mempercayai Tia, jauh sebelum dia menjadi guru TK Neliel. Aku tidak menyangka Tia akan membentakku, biasanya dia tidak akan semarah ini kalau aku sedang berkonsultasi tentang masalah phobia.

"Jelas aku marah." Tia mulai membentak lagi. "Sehari yang lalu, Neliel datang kerumahku dan memberikan ini!" Dia menurunkan sedikit suaranya ketika Neliel bereaksi dari tidur pulasnya. Aku mengambil surat undangan yang Tia serahkan padaku. Surat Undangan, lagi? Jadi.. Neliel membuat lebih dari satu undangan dengan tangannya sendiri?

"Tadi dia bolos sekolah."

"Apa? Aku mengantarnya sampai depan sekolah, Tia. Mana mungkin dia bolos."

"Dia hanya masuk dijam pelajaran pertama, dan sampai tadi siang dia ada dirumahku."

"Apa yang dia lakukan?"

"Dia mempersiapkan pesta untukmu, kau salah jika berpikir yang membuat origami sebanyak ini itu teman-temannya."

"Jadi..kau tahu tentang semuanya?" pertanyaan itu keluar dari mulutku dengan nada yang sumbang. Aku bisa saja menangis kalau Tia tidak ada disini.

"Tidak." Tia berdiri. "Aku tidak tahu tentang reaksimu yang ternyata malah membentak Neliel. Ayah macam apa kau ini?"

Tia benar..ayah mana yang berani menjadikan anaknya sebagai pelampiasan masalahnya sendiri? Dengan sangat pelan Tia memindahkan tubuh kecil Neliel ke pangkuanku. Aku meraihnya, menyimpan kepala Neliel disisi leherku, membiarkan nafas teraturnya menghembus ke sisi telingaku dan membuatku merasa nyaman akan sensasi familiar ini.

Dua jam yang lalu, aku berpikir tidak akan pernah bisa merasakan kehangatan ini lagi jika Neliel benar-benar menghilang.

"Neliel sangat menyayangimu, Grimm. Dia akan memberikanmu berjuta kali kesempatan kalau kau mau meminta maaf."

Kedua tanganku bergerak memeluk tubuh Neliel, maaf..? dimulai dari langkah pertamaku saat keluar dari apartemen tadi, aku sudah mengucapkan beribu-ribu maaf untuknya.

Tia baru saja kembali duduk ketika suara tetanggaku menggema. Pintu apartemenku terbuka, dan Rangiku—si tante itu masuk dengan sebuah kotak ditangannya. "Ne~ Bukankah hari ini ada pesta?" Rangiku bertanya. Sebelah tangannya yang bebas mengangkat sebuah kertas undangan, sama seperti yang tadi Tia beri, warnanya juga sama seperti kertas yang ada diatas mejaku.

Aku tidak bersemangat berbicara dengan siapapun, dan sepertinya Tia tahu, makanya dia buru-buru menjawab Rangiku yang kebingungan. Tia memberikan sebuah alasan simple, dia bilang tiba-tiba Neliel sakit, maka dari itu pesta nya dibatalkan. Setelah itu aku tidak menyimak lagi percakapan mereka.

Tia menemukan sebuah alasan yang kupikir memang kenyataannya seperti itu, Neliel memang sakit, aku yang menyakitinya. Atau mungkin sebenarnya Tia sedang menyindir? Aku mulai khawatir tentang seberapa banyaknya undangan yang Neliel buat. Aku meraih tangan Neliel dan menenggelamkannya dalam genggaman tanganku. Bagi anak-anak seusianya, melakukan hal seperti itu pasti melelahkan.

"Eh~ kalau begitu sebaiknya aku pulang saja." Rangiku mendekatiku, tangannya terulur mengelus-ngelus rambut Neliel. "ini hadiah untukmu Grimm. Happy Birthday, sayang.. semoga Tuhan memberimu usia panjang supaya kau bisa menjaga Neliel ya!"

Aku mulai menyukai Rangiku, maksudku bukan dalam artian spesial. Meskipun dia seorang wanita penggosip, tapi do'a dan segala kebaikannya padaku dan Neliel selama ini diberikannya dengan tulus. Aku bersyukur menjadi tetangganya.

Pukul sembilan malam mobil Tia meninggalkan apartemenku. Aku banyak berterimakasih pada teman kuliahku itu. Dia seorang calon psikolog, menyenangkan sekali bisa menjadi temannya. Banyak perintah yang Tia sampaikan padaku tadi. Salah satunya tentang mengobati kaki Neliel yang lecet, anak ini tidak memakai alas kaki ketika Tia menemukannya sedang menangis di pinggir jalan. Sepatu blue-baby nya memang tersimpan rapih di rak sampai sekarang.

Aku belum melepaskan Neliel, kepalanya masih tersandar nyaman disisi wajahku. Aku menyukai wangi tubuhnya, setiap pergi ke supermarket Neliel selalu memilih body-wash yang wanginya selalu bisa membuatku nyaman. Manis.

Tubuh mungilnya sekarang terbaring disofa, badan Neliel langsung menekuk saat aku meletakan boneka domba disampingnya. Neliel selalu merasa aman jika boneka besar itu ada dipelukannya. Setelah semua ini terjadi, apakah Neliel juga masih merasa aman berada disisiku?

Untungnya Neliel bereaksi disaat-saat terakhir plester luka ditanganku tertempel di telapak kakinya. Dia rewel kalau urusan luka. Tapi sampai matanya terbuka pun sepertinya dia tidak sadar bahwa aku baru saja mengobatinya.

"Hey, my queen.. apa tidurmu nyenyak?"

"Daddy?"

Mata Neliel masih memerah, efek bangun tidur, dan juga menandakan bahwa ia menangis sebelum matanya terlelap. Aku masih setia duduk menyamping di sofa, memperhatikan gerak-geriknya. Ketika mulutnya terbuka saat ia menguap, juga ketika Neliel menggosok matanya yang kupikir terasa lengket. Kemudian senyuman diwajahku terkembang ketika Neliel berhasil mengumpulkan nyawanya dan menatapku takut.

"Maafin Nel ya..?"

Aku menarik Neliel mendekat, membiarkan kedua telapak tangannya terbuka dimasing-masing sisi wajahku. "Daddy yang harus minta maaf, sayang.." Hangat, sekalipun telapak tangannya hanya menutupi sepertiga bagian pipiku, rasanya tetap hangat.

"Daddy gak marah sama Nel..lagi?" mata-mata hazel itu menatapku dengan sinarnya yang cantik. Lagi-lagi aku kalah.

"Nel takut."

"Daddy nggak akan marah kayak gitu lagi." Aku menahan napasku, "terserah Neliel mau ngehukum daddy apa aja. Asal Nel nggak pergi kayak tadi lagi." aku mengakhiri kalimatku dengan suara yang tertahan. Untung Neliel bukan anak yang jeli, jadi dia tidak akan menyadari mataku yang tiba-tiba berair. Kuharap begitu.

"Uhm!" rambutnya yang halus bergerak-gerak saat ia mengangguk. Aku menyentuh ujung rambutnya, Neliel tersenyum, dan pintu apartemenku lagi-lagi terbuka. Tamu? Sebentar..ini sudah jam sepuluh!

"Aduh, Gin-chan, itu nggak sopan." Suara lembut ini terdengar dipintu masuk, sepertinya aku kenal ini siapa, "Mama gak pernah ngajarin kamu kayak gini."

"Ah, iya iya. Aku minta maaf, Ma.." nah, si bocah sok orang tua ini lagi. "karena aku sudah terlanjur membuka pintu tanpa permisi, jadi aku mau langsung masuk, ok?"

"Gin-kun! Bibi!"

"Yo~ Neliel-chan. Grimmjow-san benar-benar mencarimu ternyata~"

Sindiran macam apa itu? Neliel turun dari atas kursi, begitu kakinya menginjak lantai dia terdiam. Dia mengangkat sebelah kakinya yang berplester dan menatapku. Sebelum mulut Neliel terbuka, aku sudah memotong kalimatnya.

"Pirorin belum kenalan sama Gin loh.. Nel kenalin gih!"

"Ah!" dia berseru, "Gin-kun! Neliel mau ngenalin Gin-kun sama Piro-chan!" Neliel menarik tangan Gin masuk ke kamarnya, aku menghela napas, untung dia tidak menanyakan masalah luka dikakinya. Jatah jajan ku selama seminggu hilang karena seekor sugarglider kecil yang kubelikan kemarin. Tapi sepertinya sekarang itu bukan hal yang sia-sia.

"Ano.. Maaf mengganggu malam-malam. Tadi sore kami kesini, hanya saja apartemenmu kosong, Grimm."

"Oh." Aku mulai menjelaskan, Ibu Gin duduk didepanku, "tadi ada sedikit masalah, maaf."

"Hm, Gin-chan menceritakannya padaku, kok." Ibu dan anak ini sama ramahnya, sejak awal berbicara padaku, senyum khas keluarga yang satu ini tidak pernah lepas dari wajahnya. "Maafkan ulah anakku ya, Grimmjow. Aku tidak tahu kalau kau.. yah, punya sedikit masalah dengan anak-anak."

Sepertinya Gin memang menceritakan semuanya. Aku takut, setelah ini pandangan ibu Gin akan berubah padaku. Aku takut dia tidak akan membiarkan Gin bermain disini lagi. Aku takut—

"Tidak apa-apa, Grimm.." suaranya menenangkan, berbicara dengannya membuatku merindukan Ibu. "Kau tidak perlu khawatir, aku mengerti bagaimana perasaanmu."

"..terimakasih."

"Sebenarnya tujuanku kesini hanya untuk ini." Ibu Gin memberikan kotak berukuran sedang kearahku. Dia tersenyum lebar dan berkata, "Neilel membuat ini untukmu, aku tidak berbohong."

Aku meraih, membuka, dan menyimpan kotak itu diatas meja. Sebuah kue. Tidak besar juga tidak terlalu kecil. Hiasannya sederhana, aku hanya menemukan beberapa potong cherry diatasnya. "Dia juga menghiasnya sendiri."

"Pantas saja.."

"Dia dan Gin membuat itu didapur kami. Jika aku terlambat beberapa detik saja pulang kerumah, mereka berdua bisa saja menghancurkan dapur ku."

Aku berkali-kali menunduk, "Maaf! Aku minta maaf soal Neliel yang sudah membuat Anda repot."

"Bukan masalah," Ibu Gin tertawa, aku baru sadar kalau dia punya lesung pipit, "aku senang kalau Neliel ada dirumahku. Hm, mereka membuat kue itu dibantu kakak Gin jadi aku tidak tahu rasanya enak atau tidak." Kakak Gin itu anak laki-laki yang lumayan hyper, aku khawatir dia memasukan bubuk cabai di kue ini.

"Gin jangan di lempar Piro-chan nya nanti dia pusinng~"

"Tidak akan Nel.."

"Yaaaah~ Gin-kun.."

Samar-samar, aku masih bisa mendengar percakapan Neliel dan Gin dikamar. Aku dan Ibu-Ibu didepanku ini tertawa, jika mungkin Ibu Gin tertawa karna percakapan kedua anak itu, aku tertawa untuk menutupi suaraku yang berubah sumbang lagi. Ibu Gin berhenti, dia melirik kearahku dengan tatapan lembut. Tangannya mengulurkan selembar tissue, dan saat itu aku sadar bahwa sebenarnya aku sedang menangis.

"Menjadi orang tua Neliel pasti sangat menyenangkan kan, Grimmjow..?"

Aku tidak menjawab, terlalu sibuk mengeringkan mataku yang basah.

"Tolong jaga Neliel. Dia sangat berharga. Dan dia menyayangimu lebih dari apapun, Grimm."

aku mengangguk cepat, mencoba tertawa meskipun hasilnya malah terdengar aneh karena terselip isakan kecil disana. Gin menghampiri Ibunya dan Neliel berdiri disampingku. Tangannya yang tadi menggenggam Seekor SugarGlider sekarang berada diatas lututku, dia bertanya dengan nada khawatir yang aneh. Aku tersenyum.

"Daddy kelilipin bubuk cabai, Sayang."

"Aaaah! Bubuk cabe nya nakal!"

Tangisan ini ada sebagai pengingat tentang kebodohanku hari ini. Ibu Gin benar, Neliel itu berharga.

…ooOoo…

Aku merayakan ulang tahun ke 23-ku di hari selanjutnya. Kebetulan hari ini aku libur, jadi setelah jam terakhir sekolah Neliel selesai, aku langsung membawanya pergi dengan mobilku melesat dijalanan Tokyo.

Tidak banyak tempat yang kami kunjungi, karena tujuanku hanya pergi ke toko kue ditengah Kota. Neliel, yang masih memakai seragam olahraga sekolahnya melompat-lompat didepan etalase yang penuh dengan kue besar. Dia malah hampir berteriak ketika seorang pelayan menyimpan cheese cake dengan gambar kamonohashikamo didalam etalase.

"Daddy. Ini syurga, ini syuurrgaa, inisurgasurgasurgaaa… Huwaaaa )A("

Pelayan-pelayan yang ada didekat kami langsung tertawa, seorang gadis yang tadi berdiri disebelahku buru-buru berjongkok dan mencubit-cubit pipi Neliel. Neliel melirik ke arahku bingung, namun detik berikutnya deretan gigi-gigi kecil itu terpampang ketika Neliel tersenyum, telunjuknya mengarah ke dalam etalase. Oh tidak. Bahkan sebelum dia mengeluarkan jurus puppy-eyes nya aku sudah kalah.

Pukul setengah lima sore, Neliel duduk dibalkon apartemenku dengan wajah sumringah, aku bersandar ketembok disampingnya dengan wajah kusut. Kurasa aku tak perlu memberitahu alasannya kenapa, kau akan bosan mendengar cerita tentang uang tabunganku yang cepat terkuras. Oke, lupakan kalau aku menceritakan alasannya barusan.

"Enak!"

"Harganya tidak enak."

Neliel menoleh, wajahnya terlihat seperti boneka bebek kalau nyengir(?) begitu. "Nel sayang daddy! Sayaaaaaaaaaang banget!" ujarnya, dan setelah itu dia membuatku kebingungan; Neliel menyampingkan posisi duduknya sehingga mengarah padaku, mulutnya sengaja ia majukan seperti mulut ikan koki.

"Ngapain?"

Dia menormalkan bentuk bibirnya sebentar, "Kissu…. Hime-chan juga suka di kissu Ulquiorra-san kalau bilang 'aku sayang kamu'."

Ulquiii.. berani-beraninya dia meracuni otak polos anakku. Neliel kembali memajukan bibirnya, keningnya ikutan mengerut dan itu terlihat aneh, lucu sih.

"Dhaddii.. pweghel," kali ini dia tidak merubah bentuk bibirnya yang manyun-manyun ketika berbicara. His pouty lips.. jangan-jangan dia jelmaan bebek, wkwk.

Terdiam sebentar, mulutku mengeluarkan desisan kecil, ujung jariku kugunakan untuk mengambil sedikit cream cheese cake, lalu kudaratkan dimulut Neliel. Aku menelan ludah sebelum mendekatinya, melihat ekspresi wajah Neliel yang berubah-rubah membuatku geli, aku ikut-ikutan memajukan bibirku, dan detik berikutnya bibirku mendarat dibibirnya.

Aku menemukan berbagai macam perasaan saat ini, dari wangi vanilla, dari ujung rambut Neliel yang menggelitik wajahku, dari wangi keju, dari wangi shampoo Neliel, dari manis cream, dari lembut bibirnya.

Aku tidak menutup mataku, jadi aku bisa melihat hazel Neliel yang bersinar karna terpantul cahaya matahari yang akan terbenam. Cantik. Terlewat hampir satu setengah menit, aku segera menjauh.

Neliel mengedipkan matanya cepat, dia merubah posisi duduknya kembali ke awal lalu menyendok cheese cake dan membiarkan sendok itu tergigit disela bibirnya. Aku tertawa garing, gila, kenapa aku bisa gugup begini.

Disamping apartemenku, dipinggir jalan, tumbuh berbagai macam bunga-bunga yang cantik. Juli hampir berakhir, masa-masa bunga itu mekar juga hampir berakhir. Begitupun bunga Sakura, mereka mekar dan gugur dengan cepat. Banyak orang percaya, Sakura gugur dengan membawa berbagai macam perasaan. Kadang cerita sedih ikut gugur bersamanya, begitupula cerita bahagia.

Aku kembali mengingat percakapanku dengan Tia. Kemarin dia sempat bilang, aku harus banyak berhati-hati, aku harus berhati-hati untuk menjaga perasaan, malah dia juga menambahkan, lebih baik aku segera mencari seseorang yang bisa mendampingiku. Ini untuk kebaikanku, dan juga Neliel. Dia bilang begitu. Aku tidak mengerti maksudnya apa.

Tapi..

Dengan berakhirnya musim semi kali ini, aku menemukan sebuah rasa takut yang baru. Rasa takut yang akan terus bertumbuh setiap detiknya, harinya, tahunnya. Rasa takut yang bisa mengubah perasaanku kapan saja ia mau. Rasa takut yang berbahaya. Rasa takut yang—

"Daddy?"

—manis.

.

.

Fyuuuh.. finally .. gatau deh ini udah End apa belum karena jujur aja ini aku update ya beban aj punya utang FF banyak yg gak di lanjut ( jadi kalau pun mau dilanjut gatau lagi mau lanjut nya kapan ).. so untuk sementara End dulu aja kali yah … XD jha See you my luphly readers…