A/N : latar waktunya sehari setelah chapter 1, part ini akan lebih mengarah ke sudut pandang Seungkwan meskipun masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Happy reading^^

Seungkwan memencet bel apartemen nomor 103 itu beberapa kali sebelum seorang Hansol yang berpenampilan acak-acakan dan hanya mengenakan boxer hijau selutut membuka pintu dan membiarkan Seungkwan masuk, lalu tanpa mengatakan apapun pria blasteran itu kembali ke kamarnya kemungkinan besar untuk tidur lagi. Seungkwan membiarkannya, tugasnya sekarang hanya memastikan tidak ada kecocokan diantara mereka supaya ia bisa mendapatkan kehidupan normalnya kembali.

Hari ini hari yang cukup sibuk bagi Seungkwan, ia punya kuliah pagi sampai siang lalu sorenya ia akan mengisi acara di radio lalu malamnya ia akan mengisi acara musik off air di salah satu televisi swasta(?).

Dengan percaya diri Seungkwan memasuki satu dari dua kamar yang tidak dimasuki Hansol, ia berasumsi itu pasti kamarnya. Karena tidak punya banyak waktu Seungkwan tidak sempat unpacking, ia hanya mengambil barang yang ia perlukan hari ini lalu pergi mandi selama 5 menit, bersiap-siap dan keluar. Sebelum ia membuka pintu seseorang menggedor-gedor pintu besi itu sambil meneriakkan nama Hansol dengan penuh emosi.

Seungkwan membuka pintunya, membuat orang itu nyaris memukul wajahnya dan bukannya pintu. Orang itu kemudian membungkuk minta maaf namun itu tidak berhasil menutupi ekspresi kaget sekaligus bingung diwajahnya. Seungkwan tahu pasti aneh untuk tiba-tiba menemukan orang asing sepertinya di apartemen artis terkenal seperti Vernon.

"Kau mencari Hansol? Kurasa ia masih tidur di kamarnya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa"

Seungkwan keluar dari tempat itu dengan sedikit berlari, ia tidak ingin berurusan dengan siapapun pagi ini dan juga tidak ingin banyak orang mengetahui tentang pertunangan aneh yang cincinnya bahkan tidak ia miliki.

Setelah menyelesaikan kuliahnya Seungkwan tidak pulang ia mengerjakan tugas di perpustakaan kota bersama Seokmin alias Deokyun alias Deokyeom alias DK. Kemudian mereka pergi ke studio bersama karena acara sore ini adalah bagian mereka. Seungkwan bersyukur karena semuanya berjalan lancar jadi ia punya waktu setengah jam untuk pulang, makan, mandi dan sedikit istirahat sebelum mengisi acara selanjutnya.

Tidak seperti biasanya, kali ini Seungkwan pulang dengan berjalan kaki karena apartemen Hansol tidak begitu jauh dari sana. Mungkin nanti ia akan membeli sepeda saja dengan begitu kelihatannya akan lebih menyenangkan meskipun berjalan kaki di distrik keramaian kota Seoul juga tidak membosankan. Tapi tetap saja...

Terlarut dalam lamunanya Seungkwan jadi sedikit berjengit kaget saat ia menemukan Seokmin menghentikan motornya tepat disebelah trotoar.

"Seungkwan-ah apa yang kau lakukan disini?"

"Berjalan pulang?"

"Bukankah rumahmu itu ke arah sana dan bukannya disini"

Tanya Seokmin dengan gestur tangan yang liar, menunjukan arah yang ia maksud tanpa peduli dngan kendaraan lain yang melintas

"I-itu...aku baru berpindah tempat tinggal tadi pagi"

"Hah? Dan kau tidak mengatakan padaku? Teman macam apa kau ini! harusnya kau mengundangku kerumahmu dan mengadakan pesta Seungkwan-ah"

"Haah aku tidak memberitahumu karena aku tahu kau akan meminta hal-hal seperti itu, sudahlah aku mau pulang"

"Sepertinya kita searah bagaimana kalau kubonceng"

"Baiklah, terimakasih"

"Mm"

Tak berapa lama kemudian Seungkwan meminta Seokmin berhenti didepan sebuah kompleks apartemen mewah, Seokmin dengan mulut membuka menatap Seungkwan.

"Boo-yah kau yakin sekarang tinggal disini? Sejak kapan kau jadi kaya"

"Sudahlah jangan mempermalukanku, sana pulang"

"Tidak bisa aku harus mampir dulu"

Ucap Seokmin, bersiap membawa masuk motonya ke area parkir didalam namun Seungkwan menghentikannya dengan berdiri tepat didepan motor sahabatnya itu.

"Tidak tidak kau tidak boleh masuk"

"Tapi kenapa?"

Seungkwan memutar bola matanya.

"Karena aku akan segera kerja lagi"

"Yaaah sayang sekali"

"Sudahlah Seokmin-hyung mungkin aku akan mengundangmu kapan-kapan tapi itu setelah aku siap untuk menceritakan alasanku pindah kesini"

"Menceritakan apa? Bahwa kau pindah kesini karena jadi simpanan tante-tante atau justru simpanan om-om?"

Goda Seokmin, membuat teman sekelasnya sejak SMA itu membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

"Yak! Lee Seokmin aku akan membunuhmu!"

Teriak Seungkwan pada sosok Seokmin yang sudah ngacir dengan motornya.

...