A/N : Part ini lebih mengarah ke sudut pandang Hansol meskipun saya masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Latar waktunya dimulai dari sehari setelah chapter 1 alias sama kaya chapter 2 dihari pertama Boo pindah ke apartemen Hansolie~

Samar-samar Hansol dapat mendengar bel pintunya dibunyikan berkali-kali, ia mencoba untuk mengabaikannya dan kembali tidur tapi orang itu tampaknya sangat keras kepala hingga Hansol akhirnya bangun dan membukakan pintu, tidak peduli dengan penampilannya yang acak-acakan dan hanya mengenakan bokser selutut berwarna hijau pudar karena sudah usang.

Ia menatap pria dipintunya dengan teliti, otaknya yang baru aktif dipaksa mengingat ciri-ciri tunangannya yang dideskripsikan ibunya kemarin, dan membandingkannya dengan orang didepannya. Lebih pendek darinya cek, rambut coklat cek, pipi chubby cek, imut hmmm lumayan cek, dan dengan koper serta tas ransel yang dibawanya tidak salah lagi dia pasti Boo Seungkwan.

"Masuklah"

"Ok"

Setelah itu Vernon kembali kekamarnya dan lanjut tidur, tidak sampai setengah jam kemudian ia kembali mendengar bel pintunya dipencet-pencet. Hansol sudah bersiap bangun saat ia mendengar pintunya dibuka dan samar-samar ia bisa mendengar suara Seungkwan mengatakan kalau Hansol masih dikamar sementara ia harus pergi. Tidak lama kemudian pintu kamarnya dibuka menampakkan sosok manajer sekaligus stylish nya yang bersurai abu-abu dan bertubuh sangat-sangat tinggi, Kim Mingyu.

"Kenapa Boo Seungkwan ada disini?"

"Kau mengenalnya?"

"Tentu saja aku mengenalnya dia MC rookie yang menjadi salah satu host utama di MAMA kau lupa? Dan dia itu juga menyanyikan ulang lagu huh gak dan k will untuk sebuah sountrack film layar lebar. Aissh seharusnya aku minta selfie dengannya dulu tadi"

"Kenapa jauh-jauh minta foto denganku saja, aku jauh lebih terkenal daripada dia dan untukmu aku beri gratis"

Tawar Hansol sambil mengambil handuknya dari lemari bersiap mandi.

"Denganmu? Aku sudah bosan melihat wajah mesummu itu, tapi tunggu kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa dia ada disini tadi? Dan apa hubungan kalian berdua?"

"Itu bukan urusanmu hyung"

Jawab Hansol dari dalam kamar mandi.

"Yak Choi Hansol, kau jangan membuat masalah lagi atau aku akan meninggalkanmu"

Hansol tidak menjawab ia menyalakan shower membuat Mingyu berasumsi bahwa artisnya pasti tidak mendengar nasihat-teriakan-nya.

Hansol kira tinggal berdua akan membuatnya tidak lagi kesepian tapi ternyata mereka berdua sama-sama sibuk hingga hampir tidak pernah saling bicara bahkan bertemu pun jarang. Itu terjadi selama beberapa hari hingga pada suatu hari minggu mereka akhirnya menghabiskan waktu bersama, begini ceritanya.

Pagi itu Hansol bangun lebih pagi dari biasanya, jam wekernya masih belum berbunyi dan masih menunjukkan pukul 05.05am, selayaknya laki-laki pemalas pada umumnya Vernon bersiap kembali tidur. Namun akhirnya ia memilih bangun setelah mendengar suara berisik dari luar, dengan perasaan parno Vernon keluar sambil mengendap-endap untungnya Seungkwan tidak melihat tingkah anehnya karena pria yang satu bulan lebih tua darinya itu sedang menunduk mengikat sepatunya.

"Seungkwan?"

"Um? Oh Hansol ayo kita lari pagi"

"Diudara sedingin ini? Aku lebih memilih tidur"

"Heh bilang saja kalau kau tidak kuat dingin aku tidak akan memaksa orang yang bertubuh lemah kok"

"Ck. Tunggu sebentar aku akan ganti baju"

Seungkwan terseyum lebar, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Vernon keluar lengkap dengan baju olahraga, running shoes, topi dan masker.

"Woah, Choi Hansol? Mengenakan masker saat lari-lari apa kau yakin kau akan bisa bernafas?"

"Diam kau. Aku harus menjaga image-ku apalagi berlari bersamamu. Tidak ada fans ku yang boleh tahu"

"Cih, dengar ya tuan rapper. Aku juga terkenal tapi tidak sombong sepertimu"

Hansol mendekat kearah Seungkwan lalu saat ia berada tepat didepan pria yang sedikit lebih pendek darinya itu Hansol mengatakan-

"Terkenal? Aku bahkan tidak mengenalmu"

Tepat didepan wajah Seungkwan sebelum ia berjalan keluar, Seungkwan mengejarnya hingga mereka masuk ke lift berdua. Selama didalam lift Seungkwan tak henti hentinya meeperkenalkan dirinya dengan semua detail kehidupannya pada Hansol, memastikan pria yang mengaku tidak mengenalnya itu tidak akan melupakan identitasnya.

Malang bagi mereka karena nyatanya udara memang terlalu dingin untuk aktifitas diluar rumah dan masker Hansol benar-benar membuatnya sesak nafas hingga akhirnya ia melepaskannya, toh tidak ada orang yang cukup bodoh untuk lari-lari di cuaca dingin, kecuali mereka tentu saja.

"Boo kau harus tanggung jawab sudah membuatku kedinginan"

"Aku tidak tahu kalau cuacanya sedingin ini, bagaimana kalau kubelikan Bungeoppang dipinggir jalan itu saja"

Boo menunjuk stan kecil diseberang jalan yang menjual makanan sejenis kue berbentuk ikan itu.

"B-baiklah"

Ia berlari dan membeli dua buah bungeoppang, lalu kembali lagi ke tempat Hansol yang sedang duduk menunggunya.

"Ini, pegang dengan kedua tanganmu supaya kau tidak kedinginan"

Hansol melihat dalam diam bagaimana Seungkwan menempatkan bungeoppang hangat berbalut kemasan kertas itu dalam genggamannya, ia terlihat khawatir dan merasa bersalah. Tanpa ia sadari sudut bibirnya tertarik keatas dan Hansol benar-benar harus menahan senyumnya selama perjalanan pulang karena Seungkwan yang ketika berangkat tadi selalu berjalan didepannya, kini berjalan disampingnya dan sering kali menoleh kearahnya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Setelah sampai dirumah, keduanya membersihkan diri lalu merebus dan memakan mie instan karena sama-sama tidak bisa masak, dan mereka merasa kasian pada mas-mas tukang delivery kalau harus mengantarkan pesanan mereka ditengah cuaca dingin*alasan macam apa ini*. Kemudian menghabiskan waktu dengan sekedar menonton tv, berbaring di sofa besar berbentuk L *jadi ga tindih tindihan loh ya* dengan berbalut selimut tebal dan tertidur sampai sore.

Seungkwan terbangun karena nada dering notification di ponselnya berkali-kali berbunyi, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka ia memeriksa ponselnya. Dan tebak apa yang ia temukan? Puluhan notif "you've got tagged" dalam berbagai foto di instagram dan twitter, foto-foto itu tidak lain adalah foto-foto candid dirinya bersama Hansol tadi pagi. Seungkwan beralih ke ponsel Hansol karena ponsel pria itu juga berkedip berkali-kali dan ternyata nasib mereka sama, notif-notif itu juga berisi foto-foto mereka tadi pagi yang Seungkwan yakin diambil oleh paparazzi atau mungkin fans fanatic Hansol yang selalu mengikutinya kemana-mana.

"Hansol"

"Mmhh"

"Hasooolll"

"Uh"

"HANSOL!"

"Ugh apa-apaan kau"

"Hansol cek ponselmu dan katakan apa yang harus aku lakukan?"

"Apa maksudmu?"

Hansol membuka matanya dan duduk lalu melihat ponselnya, ia tidak bisa tenang jika pria didepannya berwajah serius seperti itu.

"Kau bilang fans mu tidak boleh tahu kalau kau akrab denganku tadi pagi, sejujurnya aku tidak tahu alasannya tapi aku berfikir lagi dan mungkin fansmu memang tidak boleh tahu hubungan kita karena mungkin itu akan menjadi jalan untuk mereka mengetahui lebih banyak dan itu pasti akan mempengaruhi karirmu jadi aku rasa aku sudah cukup paham. Tapi kupikir kita bisa melakukan pers coference dan mengatakan pada media kalau kita hanya teman masa kecil atau semacamnya dengan begitu mereka tidak akan mengusik kita lagi lalu-"

"Sstt.."

Hansol menempelkan jari telunjuknya dibibir Seungkwan yang tidak berhenti bergerak sejak setengah menit yang lalu.

"Kau berlebihan Seungkwan-ah, kita tidak perlu melakukan pers conference lagipula kenapa jika dua pria tinggal bersama? itu sesuatu yang normal. Kau benar tentang kita bisa katakan kalau kita teman masa kecil, tapi berjanjilah padaku jangan katakan apapun pada wartawan kecuali mereka mengajukan pertanyaan yang spesifik padamu"

"O-okay"

...