…
Seungkwan mengeratkan ikat kepalanya, berkomat-kamit sebentar lalu kembali memelototi buku bahasa inggris dimeja belajarnya yang masih baru.
"Have you ever-see-seem-seen erm erm... Have you ever seen this la-land-marf-mark landmark. Have you ever seen this landmark?...err"
"Aissh jinjayo? Aku sudah membaca selama lebih dari 5 menit dan hanya menyelesaikan satu paragraf"
Seungkwan ngomel pada dirinya sendiri, menatap sinis buku bahasa inggrisnya lalu pergi ke dapur untuk mencari cemilan. Seriously, ia butuh tenaga untuk melanjutkan perang melawan buku bahasa inggris tebal yang harus ia baca untuk bahan ujian mata kuliah wajib bahasa inggris dua hari lagi.
Kenapa ia tak minta bantuan Vernon padahal roomate-nya itu blasteran amerika dan pastinya jago bahasa inggris? Oh itu sudah ia lakukan tadi pagi, tapi malah seperti ini-
…
Flashback tadi pagi
"Hansol-ah, apa hari ini kau sibuk?"
Tanya Seungkwan *sok manis :v* pada Hansol yang sedang berbaring di sofa sambil mainan hp.
"Tidak, sebenarnya aku sedang menunggu Sophia anak itu akan berkunjung hari ini"
"Mmm. Bisakah kau mengajariku bahasa inggris?"
"Okay"
Hansol mempause game *piano-tales-2/emang bisa dipause?* di hpnya lalu duduk tegak menghadap Seungkwan yang wajahnya sudah sumringah bak fangirls yang abis ketemu bias.
"Ini tolong ajari aku membaca bagian 1 dari buku yang ini, lalu jelaskan padaku apa maksud dari teks ini dan artikan kata-kata yang tidak aku mengerti"
"..."
"Sok, dimulai"
"Have you ever seen this landmark, this is the most known statue rio dejaneiro mmmmm called...this...mmm..."
Suara bacaan Hansol makin lama jadi makin ngeblur, *tahu kan kalau orang baca setengah lisan setengah dalam hati jadi cuma mm mm doang*. Seungkwan yang udah exited karena ada yang ngajarin pun senyumnya makin lama makin pudar.
"Yak! Vernon Chwe! Aku memintamu untuk mengajariku dan bukannya membaca mantra"
"Siapa juga yang membaca mantra, lagipula teks semudah ini apanya yang tidak kau pahami?"
"Kau tidak mengerti karena kau pernah tinggal di Amerika Hansol! Coba pikirkan perjuanganku! Aku harus berjuang untuk mempelajari bahasa aneh dengan huruf-huruf yang aneh, dan dibaca dengan aneh, sementara seumur hidupku aku hanya tinggal dikorea"
"Dulu aku juga hanya tinggal di Amerika lalu aku pindah kesini, yang penuh dnngan orang-orang berbahasa aneh, dan menulis huruf-huruf aneh yang dibaca dengan aneh juga. Tapi aku bisa menguasai bahasa korea"
"Jadi kau menghina orang korea dan mengatakan kalau bahsa kami aneh? Lalu kau membandingkanku dengan dirimu yang bisa menguasai bahasa Korea? Kau menganggap aku lebih bodoh darimu?"
"Hah? Bukan itu maksudku-"
"Ok Hansol. Ok fine, aku pasti bisa menguasai materi buku ini tanpamu"
"Seungkwan kenapa kau senstif sekali? aku hanya-"
"Shut up Hansol, shut up"
Gertak Seungkwan sok inggris sambil merapikan kembali buku bukunya dan kembali masuk ke kamar.
"Boo, Yaak Boo Seungkwan"
Akhirnya Hansol hanya menghela nafas dan membiarkan tunangannya *eak* pergi. Ia kembali me-resume game di smartphone-nya sambil menunggu adik bungsuya yang paling bule datang berkunjung.
…
Ya, begitulah kira-kira. Dan sekarang saat ia akhirnya keluar dari kamar ia bisa melihat Vernon dan adiknya bercanda didepan TV, ia mengabil cookies dan segelas air dari dapur sambil ngomong dalem ati 'kenapa mereka nggak ngajakin akuu' dengan ngenesnya.
Saking ngenesnya Seungkwan jadi langsung teringat sama Joshua, senior satu fakultasnya yang paling ngenes. Kenapa paling ngenes? Ceritanya si Joshua alias Jisoo punya gebetan yang paling unyu yang paling cantik yang paling seksi sekampus, nama nya jeonghan tapi pas udah dekeet banget tinggal dor! Ehh malah ditikung Scoups, teman satu kampus juga tapi beda fakultas. Jadi sebenarnya Seungkwan sudah kenal sama Scoups sebelum ketemu di Sukira.
Ya begitulah, alasan lain Seungkwan teringat pada wajah ngenes Jisoo adalah karena pria ini jago bahasa inggris, jadi tanpa pikir panjang ia menghubungi Jisoo.
"Halo Jisoo-ssi...
Hyung apa kau sibuk?...
Tidak? Baguslah aku mau minta diajari bahasa inggris...
Terimakasih Jisoo-hyung! Dimana kau sekarang biar kujemput...
Oh begitu baiklah, sampai jumpa hyung"
Setelah membuat janji untuk bertemu di perpustakaan kampus sepuluh menit lagi, Seungkwan cepat-cepat membersihkan diri, mengganti bajunya dan memasukkan semua buku buknya ke dalam tas. Tak lama kemudian ia keluar dari kamarnya dan berjalan ke pintu tanpa bicara, tidak enak kalau menggangu moment kangen-kangenan kakak adik bermarga Chwe dan juga ia sedikit merasa malu pada Hansol karena ia bertingkah berlebihan tadi.
"Oppa kau mau pergi kemana?"
Dan usaha Seungkwan fail sampai disana.
"Ah aku mau kekampus"
"Bukannya kau tidak punya kelas hari ini"
Tanya Hansol.
"Ya, tapi aku perlu menemui seseorang yang dengan rendah hati mau mengajariku bahasa inggris"
"Kenapa tidak minta bantuan Hansol-oppa saja"
"Tanyakan saja padanya"
"Tanyakan saja padanya"
Dengan mengejutkan, kedua makhluk laki-laki di ruangan itu menjawab secara bersamaan, dengan kata kata yang sama pula. Bedanya Seungkwan lebih ekspresif dengan mengarahkan telunjuknya ke wajah Hansol.
"Hmph!"
Seungkwan melengos, keluar dari apartemen dan menutup pintunya dengan sedikit kasar *sedikit loh ya, soalnya kan bukan rumah sendiri kalo rusak gimana coba/hush apasih author* lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Ya, impiannya untuk beli sepeda belum terwujud. Saat sampai di universitas Seungkwan tahu ia terlambat jadi sekalian saja ia mampir ke kantin untuk membeli kopi hangat *inget ya cuacanya lagi winter* dan beberapa cemilan, hitung-hitung sebagai permintaan maaf dan terimakasihnya pada Jisoo nanti.
…
Meanwhile in apartement
"Hmph!"
Blam!
"Oppa aku tidak menyukainya, Seungkwan-oppa itu annoying, cerewet, dan egois"
"Kau tahu darimana hm?"
Tanya Hansol, mencubit hidung mancung adiknya.
"Aku sudah menyelidikinya tahu"
"Haha, kau hanya belum mengenalnya saja. Sekali kau mengenalnya kau akan tahu Boo itu polos dan sensitif, menjadi annoying adalah caranya melindungi diri"
Jelas hansol dengan tatapan menerawang, Shopia yang mendengar penjelasan dari sudut pandang abangnya bergidik ngeri sambil ngomong dalem ati 'oh jadi ini kekuatan cinta'.
"Man, youre really fall for him. Hard."
…
Back to kwannie
Seungkwan masuk ke perpus dengan sedikit mengendap-endap soalnya kan di perpus ga boleh makan dan dia malah membawa dua gelas kopi hangat yang tidak mungkin disembunyikan didalam tas. Ia menghela nafas lega ketika berhasil melewati penjaga tanpa ketahuan, kemudian ia menuju meja dibagian pojok kiri dan senyumnya langsung mengembang begitu melihat Jisoo sudah disana, memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dengan earphone, tidak lupa ditambah buku filosofi tebal yang nangkring ditangannya. Elegan, seperti biasanya.
Pelan-pelan Boo menempelkan salah satu gelas kopi hangatnya ke pipi Jisoo, tentu saja setelah ia memastikan suhunya aman dan tidak akan membuat wajah Jisoo melepuh. Beberapa detik saja dan ia menarik gelas itu setelah Jisoo me-notice keberadaanya.
"Seungkwan, kenapa kau membawa makanan"
"Sshh ini untukmu hyung, anggap saja sebagai permintaan maafku karena sudah datang terlambat. Lagipula tidak mungkin penjaga itu bisa melihat kita dari sana"
"Baiklah, terimakasih"
"Tidak tidak. Aku yang berterimakasih"
3 hours of study english later
"Huwaah terimakasih hyung, kau luar biasa"
"Iya sama-sama, kalau kau butuh bantuan lagi kau bisa menghubungiku. Harus kuakui menghabiskan waktu denganmu itu menyenangkan"
"Yang benar saja hyung, kau membuatku malu"
"Hahaha ayo kuantar kau pulang"
"Benarkah? Yaampun hyung kau baik sekali kudoakan kau cepat dapat jodoh"
"Hyung macam apa aku jika aku membiarkanmu pulang sendirian saat hujan salju seperti sekarang"
"Tetap saja, terimakasih banyak Jisoo-hyung"
Beep beep.
...
From : Hansol
Boo, kau pulang jam berapa?
...
From : Boo Seungkwan
Baru saja selesai, 10 menit lagi aku sampai dirumah. Ada apa?
...
"Tidak ada apa-apa aku hanya khawatir"
Ucap Hansol pada dirinya sendiri sambil memandangi hujan salju yang kian lebat dari jendela apartemennya.
...
