Terhitung sudah setengah jam sejak Hansol menerika pesan Seungkwan yang berisi informasi bahwa ia akan sampai dirumah dalam waktu 10menit. Ia sangat khawatir, lihat saja posisinya yang tengah terduduk dengan tegang diatas sofa sambil menggenggam erat ponsel putihnya, ia sudah beberapa kali menghubungi orang yang ditunggunya, well hanya dua kali mengiriminya pesan karena Hansol masih tidak ingin terlihat terlalu eager.

Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Hansol akhirnya mendengar suara pintu dibuka dan sesuai dugaannya Seungkwan muncul dari balik pintu.

"Darimana saja kau?"

Tanya Hansol setenang yang ia bisa.

"Aku dari kampus, oh iya tadi Joshua-hyung mengajakku makan siang dulu. Aku juga membawakan makan siang untukmu"

Ucap Seungkwan sambil berjalan menuju dapur dan meletakkan kantong plastik berwarna putih yang berisi makanan untuk Hansol.

"Kau belum makan kan? Makanlah sebelum dingin"

"Bagaimana kau pulang?"

"Hyung mengantarku dengan mobilnya, kau tahu Hansol dia sangat baik aku akan mengenalkannya padamu kapan-kapan. Tapi jika aku mengenalkan kalian mungkin kalian akan mulai membicarakanku dengan bahasa inggris. Ew aku tidak ingin itu terjadi"

Awalnya Vernon memang tak ingin terlihat terlalu menggebu-gebu dengan perasaanya, tapi kalau seperti ini ia takut jika seseorang mungkin akan mendahuluinya.

"Seungkwan"

"Hm?"

Hansol tidak tahu, apakah tindakannya tepat atau tidak tapi ia bukanlah orang yang pandai bicara apalagi memyangkut masalah perasaan. Jadi ia melakukan apa yang menurutnya benar, menangkup wajah chubby milik seungkwan lalu mencium bibir dingin pria itu selama tidak lebih dari 5 detik.

Seungkwan blank, ia tidak mengerti

"Seungkwan, aku menyukaimu..."

"..."

Seungkwan terdiam, matanya menatap Hansol meminta penjelasan yang lebih rinci.

"...in romantic way, you know-"

"Gunakan bahasa yang kumengerti please"

"Okay, jadi- um- aku menyukaimu lebih dari rasa suka teman, kau tahu seperti rasa suka pasangan"

"Aku tidak mengerti Hansol, terakhir kali aku membaca berita tentangmu dan kau berkencan dengan Ailee-nunna, sejak kapan kau...err belok?"

"Aku juga tidak tahu, tapi aku tahu aku jatuh cinta padamu"

"Eww cheesy Hansol"

"Tapi aku serius, dan aku ingin kau benar-benar menjadi tunanganku"

"Aku tidak pecaya padamu"

"Tidak apa-apa akan aku buktikan kalau aku serius, tapi pertama-tama aku tidak suka jika kau diantar atau dijemput oleh sembarangan orang. Mulai sekarang minta tolong hanya padaku"

"Silly Hansol, aku tahu kau sangat sibuk dan aku tidak ingin menggangu pekerjaanmu hanya untuk sekedar diantar-jemput olehmu"

"Aku tidak peduli, aku bisa minta tolong Mingyu-hyung. Dan lain kali saat kau butuh diajari bahasa inggris minta padaku saja"

"Err.. Okay, aku tidak bisa berjanji akan menuruti semua itu tapi umm mungkin aku akan melakukannya jika kau bisa... meyakinkanku"

"Baiklah, kalau begitu-"

Hansol kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Seungkwan, berniat untuk melahap bibir mungil pria Jeju itu, tapi Seungkwan menghadang wajahnya dengan telapak tangan.

"Jangan terlalu agresif Hansol atau aku mungkin akan memanggil polisi"

Lalu Hansol ditinggalkan begitu saja. Ternyata menyatakan cinta tidak semudah yang ia kira apalagi jika targetnya adalah Sassy-Diva-Boo-Seungkwan. Tidak apa, karena Chwe Hansol Vernon tidak akan menyerah semudah itu untuk menaklukan pria imut yang sudah membuatnya jatuh hati.

Dikamarnya Seungkwan langsung memeluk erat bantal empuk miliknya dan membenamkan wajahnya disana, berusaha mengurangi suhu panas dipipinya, 'uggh damn that Hansol Chwe yang sudah membuatku seperti ini'. Seungkwan mati-matian menahan diri demi harga dirinya saat ia didepan Hansol, tapi perasaannya terlalu besar untuk ditahan bahkan jantungnya terasa siap melompat keluar kapan saja.

Sejak menyatakan perasaannya Hansol tidak lagi menahan diri untuk menunjukkkan perhatiannya pada Seungkwan, seperti pagi ini ia sedang membuat sarapan sederhana berupa roti bakar yang ia olesi dengan selai kacang untuknya dan BabyBoo-nya.

Seungkwan muncul dari kamarnya, masih dengan bokser, kaos tipis dan rambut yang basah. Jika Hansol tidak mengingat ucapan Seungkwan supaya ia tidak bertindak agresif maka ia pasti sudah 'memakan'nya.

"Mornin' baby"

"Morning Hansolie"

"Apa jadwalmu hari ini?"

"Hmmm aku punya kuliah pagi lalu broadcast radio jam 12 sampai jam 2 siang lalu aku akan ke kampus lagi untuk menemui dosen, mengumpulkan tugas"

"Ok, biar kujemput nanti kau pulang jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam 4, kau tahu dosen ini sangat sok sibuk dan menyebalkan jadi mungkin aku harus menunggu dulu"

"Baiklah, jam 4 kutunggu di depan gerbang. Yes?"

"Yes Hansol-oppa"

"Kau menggoda ku jagiya?"

"Ani, hehe terimakasih sarapannya, aku harus segera siap-siap"

Hansol hanya bergumam, sedikit tertawa sebenarnya karena apapun itu Seungkwan sudah membuat hidupnya lebih berwarna. 'Tunangan'nya itu memang belum memberi jawaban tapi dari sinyal-sinyal yang ia terima Hansol tahu Seungkwan akan jatuh kepelukannya cepat atau lambat. Ia hanya perlu sedikit bersabar sampai Seungkwan siap mengakui perasaannya.

Pagi itu, Vernon dan Kwannie berangkat bersama diantar Mingyu, mereka tidak lagi menutupi kedekatan mereka sebagai 'teman' tapi tidak semua orang menerima itu juga. Seungkwan tahu, karena terkadang ia bisa merasakan tatapan menusuk dari mahasiswi-mahasiswi fangirls di kampusnya. Bukan masalah besar, karena sejak awal ia tahu konsekuensi menjadi teman dekat orang terkenal macam Hansol.

Sekarang jam setengah 4 sore dan Seungkwan baru saja menyelesaikan urusannya di kampus.

"Kwannie!"

"Oh Hoshi-hyung"

Hoshi alias Soonyoung adalah senior Seungkwan dan Seokmin, ia juga pacar Seokmin sejak enam bulan yang lalu. Meski usianya dua tahun lebih tua dari Seungkwan tapi ia masih punya tampang imut yang bikin emesh.

"Kwannie, kau ingat hari ini hari apa?"

"Hari...jum'at?"

"Hari ini hari ulang tahun Seokmin!"

"Oh! Sungguh?!"

"Iya Kwannie, aku sudah siapkan kue dan surprise-nya ayooo ikut aku kita akan kejutkan Seokmin"

Hoshi menarik juniornya itu menuju ke ruang latihan dance yang sudah ia dekorasi sedemikian rupa, disana juga ada Jisoo, Jeonghan, Seungcheol dan beberapa teman yang lain. Setelah Hoshi merasa yakin semua orang sudah berkumpul ia menjemput birthday-boy-nya.

Pesta kejutan itu berlangsung meriah, dan setelah selesai dengan kue Seokmin menuruti permintaan teman-temannya yang minta ditraktir makan daging. Mereka menuju ke restoran barbeque terdekat dan menikmati makanan dengan suasana yang kental dengan kehangatan dan kebersamaan.

Seungkwan menelan potongan daging berbumbu yang ia bungkus dengan selada, ahh sudah lama rasanya ia tidak menikmati momen kebersamaan seperti ini. Coba saja Hansol juga ada disini, anak penyendiri sepertinya terkadang juga harus menikmati suasana seperti ini. Ngomong-ngomong tentang Hansol saat ini dia pasti sedang-

"OH MY GOSH!"

"Kau kenapa Kwannie?"

"Hyung, aku melupakan sesuatu! Aku melupakan Hansol! Aku harus pergi sekarang"

Seungkwan berlari keluar tanpa memperdulikan tanggapan dari teman-temannya, jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 06.12 ia berharap ia tidak membuat Hansol menunggu selama dua jam. Hell ia bahkan berharap Hansol lupa menjemputnya, meski begitu dalam hatinya Seungkwan yakin ia sudah membuat rapper itu menunggunya. Karena merasa khawatir ia menghubungi Hansol beberapa kali, terhubung tapi tidak dijawab. Sambil berlari ditengah salju yang jatuh perlahan dari langit ia beralih menghubungi Mingyu.

"Hyung-ah!"

"Kwan kenapa kau membentakku"

"Hyung, apa Hansol bersamamu?"

"Tidak, bukannya dia bersamamu. Anak itu membawa mobilnya sejak 3 jam yang lalu dan ia bilang akan menjemputmu"

"Apa dia tidak menghubungimu?"

"Ia meninggalkan ponselnya disini, apa dia menghilang?"

"Tidak hyung, aku akan segera menemukannya"

"Aku tidak mengerti"

"Sudahlah hyung kuhubungi lagi nanti"

Butuh 20 menit bagi Seungkwan untuk sampai di depan gedung universitas dengan berlari, ia tidak punya waktu untuk menunggu bus ketika Hansol berdiri didepan gerbang kampus, sendirian menunggunnya.

"Hansol-ah!"

Orang lain mungkin mengira pria yang berdiri didepan gerbang dengan mengenakan mantel tebal, syal, masker, beanie dan kacamata itu sebagai mata-mata atau seseorang yang menyeramkan. Tapi seungkwan mengenalinya, ia mengenali mantel Hansol, ia mengenali sepatunya dan ia bahkan mengenali cara Hansol berdiri.

"Maafkan aku"

"Darimama saja kau?!"

Seungkwan melihat sedikit salju sudah menumpuk diatas kepala dan bahu Hansol, ia jadi makin merasa bersalah.

"Aku minta maaf, tadi Hoshi-hyung membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Seokmin-hyung lalu Seokmin-hyung mentraktir kami semua dan aku melupakanmu begitu saja. Maafkan aku Hansol-ah"

Suara Seungkwan mulai melemah.

"Haaahh, baiklah aku memaafkanmu sekarang ayo kita pulang aku hampir membeku"

"Kenapa kau bisa memaafkanku dengan semudah itu setelah aku membuatmu menderita? Kau harus menghukumku Hansol-ah"

"Aku akan menghukumu nanti sekarang masuk"

"Kenapa kau tidak menunggu didalam mobil saja sih? Padahal kan jelas diluar udaranya dingin"

"Kau berani menyalahkanku sekarang? Jika aku menunggu didalam kau pasti tidak akan menemukanku"

"Maafkan aku"

"Sudahlah"

"Aku benar-benar minta maaf"

Hansol hanya bergumam ia mulai menyetir mobilnya kembali ke apartemen mereka. Selama perjalanan mereka hanya saling diam meski Seungkwan tak henti menatapnya dengan tatapan memelas layaknya anak anjing yang dibuang.

"Hatchi!"

"Ya ampun kau pasti terkena flu"

"Aku hanya- hatchi! Sedikit kedinginan"

"Omong kosong, sekarang mandilah air hangat dan aku akan siapkan makanan"

"Kau akan memasak?"

"Uhhh tidak. Aku akan beli diluar kau mau apa?"

"Terserah kau saja"

"Bagaimana dengan ramyun?"

"Dengan daging"

"Ok"

Malam itu Hansol merasa tidak begitu enak badan jadi ia memilih tidur sesaat setelah selesai makan malam, sedangkan Seungkwan ia masih meminta maaf tiap 10 menit sekali makin merasa bersalah karena jika Hansol benar-benar sakit besok pagi itu adalah kesalahannya.

"Jangan lupa minum vitaminmu Hansol-ah" Adalah ucapan terakhir yang dapat hansol dengar sebelum ia menutup pintu kamarnya.

Keesokan harinya, Seungkwan langsung memeriksa keadaan Hansol begitu ia bangun. Dan ternyata benar roomate-nya itu terkena demam dan flu, hidung Hansol memerah, tubuhnya panas, dan sesekali dapat terdengar batuk lemah dan rintihan yang secara tidak sadar dikeluarkan oleh Hansol yang tertidur.

"Hansol"

"Ugghh cough-cough"

"Kau demam tinggi, apa aku perlu menghubungi Mingyu-hyung dan mengantarmu ke dokter?"

"Kata-kan pada-cough-Mingyu kalau aku sakit, tidak perlu kedokter"

"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar untuk membeli obat dan sarapan"

"Hummm"

Setelah mandi kilat dan memakai pakaian hangatnya Seungkwan keluar rumah untuk membeli bubur dan obat untuk Hansol. Tak lupa ia juga menghubungi Mingyu dan mengatakan kalau Hansol sedang sakit. Ia juga meminta maaf pada Mingyu dan mengatakan kalau semua terjadi karena kesalahannya, tentu hal itu membuatnya harus mendengarkan ceramah dari Mingyu dan Mingyu juga membuatnya berjanji untuk merawat Hansol dengan baik selama ia sakit.

Sesampainya di apartemen, Seungkwan kembali ke kamar Hansol dan melihat keadaan pria yang lebih muda satu bulan darinya itu. Ia mengecek suhu tubuh Hansol dan itu membuatnya terbangun. Panasnya sedikit berkurang tapi tubuhnya berkeringat dingin sangat banyak sebagai respon alami.

"Ummm Hansol bajumu basah karena keringat. Kurasa kau akan merasa lebih nyaman jika aku membersihkanmu, lalu aku akan menyiapkan makanan dan obat setelah itu kau bisa tidur lagi. Bagaimana?"

"Ok"

Seungkwan beranjak mengambil air hangat, handuk dan baju ganti untuk Hansol.

"Ayo kubantu duduk, sekarang lepaskan bajumu ok tahan sedikit udara dinginnya ini tidak akan lama"

Lalu secara perlahan Seungkwan mulai mengusap otot-otot tubuh Hansol yang lengket karena keringat, tidak semudah itu karena ia harus menutupi blushing-face-nya dari Hansol, meskipun sebenarnya usahanya gagal total sejak awal.

Setelah selesai membersihkan tubuh Hansol, menyuapinya bubur ayam, memastikan ia sudah menelan obatnya, dan menyelimutinya sebatas bahu lalu menuggunya tertidur. Seungkwan akhirnya merasa cukup tenang untuk meninggalkan rumah. Hari ini,seperti biasa ia punya kelas pagi dan broadcast setelahnya.

Ia tidak bisa fokus pada apapun yang ia lakukan hari ini, dan yaa ia berusaha pulang seawal mungkin jadi sekarang pukul 02.00pm dan ia sudah sampai dialartemen yang ia bagi berdua dengan Hansol.

Seungkwan mengetuk pintu kamar Hansol beberapa kali, kemudian karena tidak mendapat jawaban ia perlahan masuk kekamar tersebut dan mendekati tempat tidur hansol, ia lalu kembali mengecek suhu tubuhnya, suhu tubuhnya sudah kembali normal dan tidak lagi terdengar batuk-batuk menyedihkan dari tenggorokannya, ia hanya tertidur lelap ditempat tidurnya.

Seungkwan berlutut disamping tempat tidur Hansol, cukup dekat untuk menumpukan kedua lengannya dibantal yang digunakan Hansol dan cukup dekat untuk dapat menghitung jumlah helai bulu mata orang yang dijodohkan dengannya itu, ia sedikit memperpendek lagi jarak antara mereka lalu ia berbisik-

"Aku minta maaf"

Seungkwan mencium pelipis Hansol.

"Cepatlah sembuh"

Seungkwan mencium pipi Hansol.

"Aku mencintaimu"

Seungkwan mencium ujung bibir Hansol, agak lama kali ini sebelum ia berdiri dan bersiap pergi, namun Hansol menarik tubuhnya ke tempat tidur dan dengan beberapa gerakan klise Hansol berhasil memerangkap Seungkwan dipelukannya dengan posisi punggung Seungkwan menempel diotot perut Hansol dan kepala bagian belakang seungkwan menempel didadanya. Mereka berdua berbaring menyamping dan Hansol melingkarkan kedua tangannya dengan erat dipinggang Seungkwan.

"Take you long enough"

Hansol mendesah lega lalu beberapa kali memberikan kecupan dipuncak kepala Seungkwan.

"Huh?"

"Aku juga mencintaimu Seungkwan-ah, sangat"

Lagi, Hansol mengeratkan pelukannya dan memberikan beberapa kecupan ekstra.

"Jadi...apa hubungan kita sekarang" tanya Seungkwan ragu-ragu.

"Menurutmu?"

"Err...mungkin itu artinya aku akan memanggilmu Hanie"

"Honey?"

"Han-ie karena Hansolie terlalu panjang dan Sollie terdengar sedikit err.."

"Ya, kau bisa memanggilku Honey, itu terdengar seperti panggilan suami istri bagiku"

"Hanie honey hanie honey"

"Whatever baby, its sound exactly the same"

"Apa kau menghina aksenku"

"Shh lemme sleep more ok"

*yawn* "Um mm"

Malam harinya Hansol sempat terbangun karena lapar, tapi tidak dengan Seungkwan, anak itu sepertinya terlalu lelah setelah semua yang ia lakukan hari ini. Beberapa menit kemudian Hansol kembali lagi ketempat tidur, Seungkwan masih berada di posisi yang sama, salah satu sisi wajahnya menempel dibantal itu membuat pipi gembulnya tertekan dan terlihat makin chubby dengan imutnya, surai coklatnya acak-acakan dan bibirnya sedikit terbuka membuat Hansol tidak tahan untuk tidak mencuri ciuman dari kekasih barunya itu.

Melupakan kenyataan bahwa dirinya belum sepenuhnya sembuh dan mungkin bisa menularkan virus flu-nya ke Seungkwan, Hansol benar-benar mencuri cium, nyatanya Seungkwan bisa membuatnya melupakan apapun hanya untuk sebuah ciuman.

Awalnya Hansol hanya menempelkan bibirnya ke bibir Seungkwan, lalu mulai memberi sedikit gerakan dan tekanan lebih, perlahan lidahnya juga ikut bermain dan lumatan-lumatan kecil ia berikan ke bibir atas dan bawah kekasihnya. Anehnya itu sama sekali tidak membuat Seungkwan bergeming dalam tidurnya, jadi Hansol mengulangi aksinya beberapa kali hingga bibir pria bermarga Boo itu membengkak dan memerah.

Keesokan harinya Seungkwan terbangun dengan tenggorokan yang terasa sakit, hidung yang tersumbat dan begitu ia berdiri ia bisa merasakan tempat disekitarnya berputar.

"Ugghh dia menularkan penyakitnya padaku"

Seungkwan membasuh mukanya, bergidik begitu kulitnya merasakan dinginnya air kran. Ia lalu memutuskan untuk berganti pakaian dengan piyama karena sejak kemarin ia lupa belum berganti baju, setelah itu ia bergelung dalam selimut dikamarnya sendiri dan tidur lagi setelah mengunyah dua tablet vitaminC berharap itu akan cukup untuk melawan virus ditubuhnya karena Seungkwan sangat tidak menyukai bau obat apalagi injeksi.

Hansol terbangun untuk menemukan sisi lain tempat tidurnya sidah dingin dan kosong, masih jam 07.30 pagi dan biasanya Seungkwan belum berangkat kuliah di jam ini.

"Kwannie?"

"Seungkwannie?"

Ia memutari seluruh isi apartemen sebelum ia menemukan 'burito' di kamar Seungkwan, lalu ia membuka selimut itu dan menyentuh wajah kekasihnya untuk menemukan suhu badannya sangat tinggi.

"Kwannie, apa aku menularkannya padamu?"

"Menurutmu?"

Tanya Seungkwan dengan sinis.

"Mianhe Seungkwan-ah, aishh harusnya aku bisa menahan diri tadi malam"

"Apa?"

"Kubilang jangan khawatir aku akan merawatmu selama kau sakit"

Seungkwan cemberut, pouting. Hansol lupa diri lagi ingin mencium bibir bawah Seungkwan yang dimajukan beberapa milimeter namun kali ini Seungkwan menghalanginya.

"Kau ingin tertular lagi eoh?"

"Mm tidak, jadi apa aku harus membersihkan tubuhmu sekarang?"

"Kenapa ekspresimu terlihat begitu mesum?"

Dan begitulah, untuk 3 hari Hansol harus berurusan dengan 'merawat sick-Seungkwan yang jauh lebih grumpy dan sassy daripada biasanya' ia bahkan rela dimaki-maki oleh Mingyu karena tiba-tiba minta cuti untuk 3 hari demi merawat Seungkwannie-baby-nya, tidak apa karena itu berarti ia bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak dan ia bisa melihat berbagai tingkah dan ekspresi Seungkwan yang sebelumnya belum pernah ia lihat.