Sudah satu bulan sejak Hansol dan Seungkwan jadian, tidak terjadi banyak perubahan kecuali sekarang sudah musim semi *apa hubungannya coba* karena keduanya masih jarang bertemu jadi bisa dibilang hubungan mereka tak ada perkembangan. Karena itu hari ini Hansol berniat untuk memberi kejutan kecil pada kekasihnya.

"Hansol-ah, aku akan berangkat lebih awal hari ini, broadcast pagi"

"Hm mm, tidak biasanya?"

"Aku bertukar jadwal dengan Wookie-hyung karena sore nanti ada perayaan ulangtahun campus, aku akan jadi MC dan berduet dengan Jisoo-hyung"

"Jisoo? Biasanya kau duet dengan Seokmin"

"Iya, tapi kali ini dengan Jisoo hyung dan gitar akustiknya"

"Oh, kau pulang jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam 16.00"

"Baguslah"

"Kenapa?"

"Dinner malam ini bersamaku"

"Berdua?"

Hansol mengangguk.

Seungkwan tersenyum, senyum paling lebar sejak ia mendapat pernyataan cinta dari Hansol. Mereka tidak pernah makan malam romantis dan Seungkwan harap malam ini akan menjadi makan malam romantis mereka yang pertama, direstoran classic dengan cahaya lilin seperti di drama-drama romance yang sering ditonton ibunya.

14.00

Semua pekerjaan Hansol sudah selesai untuk hari ini, tapi ia masih diruang rias membiarkan salah seorang make up artist membersihkan sisa riasan diwajahnya sambil memainkan ponselnya. Ia membuka instagram, scroll, scroll, scroll lazily, lalu suatu foto menarik perhatiannya, foto yang diupload oleh Scoups.

Foto selca Seungcheol dan Jeonghan disebuah tempat yang terlihat seperti ruang rias? Karena dibelakangnya ada cermin, make up, kostum dan beberapa orang. Nah beberapa orang inilah yang jadi masalah, dibelakang Seungcheol ia bisa melihat 2 orang berpelukan, dan ia yakin salah satu dari mereka adalah Seungkwan, meskipun posisinya membelakangi kamera dan sedikit ter-blur-kan tapi Hansol bisa mengenali sweater pink dan fluffy brown hair milik kekasihnya dengan baik, dan pria lain yang mengenakan blazer biru pudar dan tersenyum hingga matanya terpejam kearah kamera mungkin adalah Jisoo.

Hansol berdiri saat itu juga, menyambar mantel hitam, dompet dan kunci mobil miliknya untuk segera pergi ke kampus Seungkwan. *Untungnya mbak-mbak tukang make-up nya udah selese bersihin riasan wajah Hansol kalo nggak, bakal jadi bahan ketawaan dia nanti karena belepotan*.

Sesampainya disana Hansol mancari tempat yang sedikit sepi untuk berdiri dan melihat kepanggung dimana Seungkwan dan Jisoo -yang difoto tadi- berduet menyanyikan lagu berjudul 'spring spring spring', Jisoo duduk dengan gitarnya sambil sesekali menyanyi bersama Seungkwan yang duduk disampingnya, sesekali mereka akan bertukar kontak mata dan itu membuat Hansol merasa sangat tidak nyaman.

Performance itu usai dan mendapatkan tepukan tangan meriah dari penonton, Hansol menepukkan tangannya sekali, dua kali dan kembali bersedekap menatap sinis orang-orang disekitarnya. Bukannya ia tidak suka saat suara indah Seungkwan mendapatkan banyak apresiasi tapi ketika ia mendengar orang-orang ini mengatakan jika dua orang dipanggung memiliki chemistry yang kuat bahkan ada yang bilang "love is in the air~" dengan gajenya, Hansol benar-benar ingin mencekiknya.

Hansol menunggu dipojokan sampai acara itu ditutup, ia sebenarnya ingin melihat Seungkwan dengan angle yang lebih bagus tapi menginggat penyamarannya yang hanya mengenakan mantel hitam dengan kerah ditegakkan dan kacamata hitam, fansnya pasti akan dengan mudah mngenali dan mengerubunginya.

Setelah Seungkwan turun dari panggung Hansol langsung mengejarnya, sayangnya Joshua lebih dulu 'menyambar' *elah bahasanya :/* pacarnya itu, Hansol berusaha mengejar mereka saat keduanya keluar dari auditorium namun seorang perempuan disana berhasil mengenalinya dan meneriakkan namanya dengan keras sehingga dikerubungilah ia oleh fangirls dan Seungkwan sudah terlalu jauh untuk mendengar teriakan kekasihnya itu.

Butuh 15 menit bagi Vernon untuk bisa meloloskan diri, untungnya tidak lama kemudian ia menemukan Seokmin tengah berjaan berdua dengan Hoshi.

"Hyung"

"Oh Vernon-ssi apa kau mencari Seungkwannie?"

"Iya, hyung tahu dimana dia sekarang?"

"Tadi aku melihatnya di kantin bersama Jisoo kurasa mereka masih disana sekarang"

"Terimakasih hyung aku kesana dulu"

"Nde, babay Hansol"

Seungkwan memakan makan siangnya masih dengan senyum secerah tadi pagi.

"Sepertinya moodmu sangat baik hari ini"

"Hehe, apa aku semudah itu dibaca hyung"

"Hmm, its written on your face"

"Ahh on my face"

Ulang Seungkwan sambil bergumam dan mengangguk-anggukan kepalanya, ini membuat Joshua tertawa dan mengacak rambut Seungkwan gemas akan tingkah hobaenya. Mereka memang dekat, terutama sejak Jeonghan jadian dengan Seungcheol, Jisoo sering menyendiri dan disaat seperti itu Seungkwan pasti ada mendatanginya, menghiburnya, membawa makanan, mengajaknya bicara atau sekedar duduk didekatnya seolah memberitahu jika ia tidak sendirian. Joshua tahu, Seungkwan melakukan semua itu bukan berarti Seungkwan menyukainya, itu hanyalah sifat alami Seungkwan yang tidak tahan melihat orang berdiam diri sementara dia sendiri adalah orang yang selalu berisik.

"Seungkwannie?"

Suara baru menginterupsi percakapan mereka berdua.

"Hansolie, omo bagaimana kau bisa ada disini? Duduklah"

Seungkwan menggeser tubuhnya mendekat ke sisi Joshua lalu menepuk tempat kosong disebelahnya menyuruh Hansol duduk. Joshua terseyum geli melihat tingkah Seungkwan dan ekspresi seseorang yang ia kenal sebagai kekasih Seungkwan itu, ya Seungkwan pernah menceritakan tentang Vernon padanya, rapper keren yang jadi kekasihnya sejak satu bulan yang lalu.

"Oh iya, Jisoo-hyung ini Hansol atau kau bisa panggil dia Vernon. Dan Hansolie ini Jisoo-hyung. Joshua yang pernah keceritakan padamu"

"Joshua"

"Vernon"

"Kau ingin makan sesuatu? Biar kupesankan" tawar Seungkwan.

"Ice tea, aku merasa sedikit panas"

"Ok, tunggu sebentar"

Seungkwan pergi memesan minum untuk Hansol, meninggalkan dua orang yang baru berkenalan tapi sudah memiliki tension yang tidak bersabat.

"Aku akan membuatnya singkat, jangan terlalu dekat dengan Seungkwan"

"Dan kenapa?"

"Aku tidak menyukainya"

"Maaf Vernon-ssi aku tidak bisa, dia selalu ada untukku saat aku terpuruk jadi kupikir aku juga harus selalu ada disampingnya, just in case..."

"What do you mean?"

"I mean i will be there to comfort him when you hurt him...or maybe i will steal him instead?"

Hansol mencengkeram kerah baju Jisoo, tampaknya pria yang lebih tua darinya ini sengaja menyulut emosinya dan berhasil.

"Hansol what the kimbab are you zoing!"

Seungkwan menyadari beberapa orang mulai memandangi mereka jadi ia menarik kekasihnya dan membawanya ketempat yang sepi, kebetulan tempat itu adalah ruang latihan dance yang sedang kosong. Seungkwan mengunci pintunya dari dalam lalu menatap Hansol dengan tatapan tidak percaya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Orang itu yang mulai duluan!"

"Bagaimana kau bisa mengatakan itu saat jelas jelas kau yang mengangkat tanganmu lebih dulu!"

"Dia memancingku untuk melakukannya! Dan kenapa kau membelanya?!"

"Memangnya apa yang mungkin Jisoo-hyung katakan untuk memancingmu"

Hansol menatap tajam Seungkwan lalu dengan cepat ia mendorong bahu Seungkwan memojokkannya menenempel dinding.

"Kau ingin tahu apa yang dia katakan? Dia bilang dia akan mencurimu dariku"

"D-dia pasti hanya bercan-"

Hansol mencium Seungkwan kasar, kedua tangannya memaksa kepala Seungkwan untuk berada diposisi yang memungkinkan untuknya mencium dalam-dalam kekasihnya itu. Seungkwan mencoba untuk memberontak, sebagian besar alasannya karena ia tahu dipojok atas ruangan ini terpasang cctv tapi Hansol tidak melepaskannya jadi Seungkwan hanya mengepalkan tangannya di baju Hansol, berusaha menyampaikan protesnya dan berharap Hansol akan memahaminya.

"Mmm.."

Seungkwan mendesah tertahan, ia mulai meleleh, kakinya terasa melemah jadi Seungkwan berpegangan erat pada tubuh bagian atas Hansol, memeluknya erat. Hansol melepaskan bibir Seungkwan sebentar untuk menarik nafas.

"Ah ha ha ha ha- mmmhhh"

Dan menciumnya lagi, lagi dan lagi.

"Han-ssh-sol- ah henti-kan"

Hansol tak bergeming, ia beralih menciumi wajah Seungkwan yang memerah lalu ke rahang, telinga dan leher.

"H-Hansol disini a-ada cctv"

"Aku akan membayar petugas keamanannya" Jawabnya cepat.

Kedua tangan Hansol beralih ke pinggang Seungkwan menariknya hingga tubuh bagian depan mereka saling menempel.

"Eunghh~"

Dan Seungkwan melenguh karena sensasi yang ditimbulkan oleh kontak fisik mereka, Hansol menyingkap kerah sweater Seungkwan hingga menampakkan kulit bahunya yang mulus dan bersih tanpa noda lalu tanpa aba aba Hansol menggigitnya cukup keras untuk meninggalkan bekas dan cukup keras untuk membuat Seungkwan berteriak-

"Akkh!"

Seungkwan menggigit bibirnya mencoba menahan suara suara yang akan keluar saat Hansol menghisap, menjilat dan mencium bekas gigitannya. Mungkin mereka akan melanjutkan kegiatan itu sampai ke tahap berikutnya jika saja ponsel Seungkwan tidak terus-menerus berdering dengan keras.

"Ck, berikan padaku"

Seungkwan yang masih terengah-engah dan tidak bisa bicara dengan benarpun hanya menuruti permintaan Hansol.

"Ya?"

"Oi kalian berdua berhenti sekarang, kami tidak bisa terus-terusan berada diruang cctv dan membodohi petugas keamanan"

"Heh, thanks hyung"

Click.

"S-siapa?"

"Seokmin-hyung, kau harus berterimakasih padanya nanti"

"Huh?"

Tanpa memperdulikan kekasihnya yang terlihat bingung, Hansol menarik Seungkwan keluar dari ruangan itu dan menuju ke mobilnya.

"Kajja"

"Kemana?"

"Tentu saja pulang dan bersiap untuk kencan kita malam ini"

Raut muka Seungkwan langsung berubah dan ia dengan semangat berjalan mendahului Hansol.

"Ayo Hansolie~ ppali ppali"

Hansol hanya terseyum geli, meski tidak suka dibilang imut tapi itu tidak menghilangkan fakta bahwa Seungkwan memang benar-benar imut.

Mereka duduk berhadapan disebuah restoran mewah, dan semuanya sangat sesuai dengan khayalan Seungkwan tentang makan malam romantis versi mereka, restoran klasik dengan jarak antarmeja yang jauh, alunan musik klasik yang sayup-sayup terdengar lembut tapi juga tidak membosankan, pencahayaan yang pas tidak terlalu terang tapi juga cukup gelap untuk membuat lilin dimeja mereka terlihat bersinar, makanan yang nikmat dan serta balutan 'Suit & Tie' ditubuh Vernon dan 'Suit & Bow Tie' ditubuhnya makin menambah sempurna suasana malam itu.

Keduanya sama sekali tidak bisa berhenti terseyum, hanya setelah dessert mereka hampir habis raut wajah Hansol menjadi lebih serius, perlahan ia berdiri dan berlutut dihadapan Seungkwan, mengeluarkan kotak beludru berwarna navy dari sakunya dan membukanya, menunjukkan sepasang cincin sederhana berbahan emas putih yang terlihat simple namun elegan.

"Boo Seungkwan, maukah kau menerima cincin ini dan menjadi tunanganku, menemaniku dan bersamaku lalu menikah denganku suatu hari nanti?"

Seungkwan menutup mulutnya dengan kedua tangan, respon yang sudah bisa ditebak namun kemudian ia berdiri membuat Hansol menahan nafas, memikirkan kemungkinan Seungkwan akan berlari keluar dan meninggalkannya. Tapi, Seungkwan tidak pernah melakukannya sebaliknya ia justru merendahkan tubuhnya dan memeluk Hansol.

"Kau sangat cheesy, dan apa kau melihat drama romance sebelum melakukan semua ini? Bahkan dialogmu terdengar seperti dialog aktor" bisik Seungkwan.

Perlahan mereka berdua berdiri tapi masih dalam posisi berpelukan.

"Hmm kau tidak tahu baby? Aku ini the next Leonardo de Caprio"

"Yeah yeah aku percaya"

"Jadi apa jawabanmu"

"Apa aku masih harus menjawabnya"

Vernon tersenyum sangat lebar lalu ia menarik diri dari pelukan Seungkwan, ia meraih tangan kiri Seungkwan dan memasangkan cincinnya. Lalu ia meminta Seungkwan melakukan hal yang sama dengan jari manisnya, sebagai penutup Vernon mencium dahi Seungkwan dan entah sejak kapan beberapa pemain musik klasik sudah mendekat kemeja mereka dan beberapa orang disekitar mereka bertepuk tangan dengan seyuman 'aku-ikut-bahagia' diwajah mereka.

Sampai diapartemenpun kedua sejoli ini masih belum bisa menghentikan senyum diwajah masing-masing.

Seungkwan membuka jas dan dasinya, lalu menggulung lengan kemeja yang ia kenakan sebatas siku dan mengubahnya dari mode baju masuk menjadi baju keluar serta tidak lupa membuka dua kancing teratas kemeja tersebut, menawarkan diri untuk membuat coklat panas sebelum mereka tidur.

Pemandangan didepannya ini tidak seharusnya membuat Hansol turn on karena sebenarnya Seungkwan tampak tidak jauh berbeda dengan anak SMA, but damn rambut Seungkwan yang sudah acak-acakan dan matanya yang terlihat setengah merem setengah melek karena sudah lelah terlihat begitu mengundang dan kenapa Seungkwan harus mencuci muka sekarang? Itu membuat bibirnya terlihat basah, membuat beberapa moles diwajahnya terlihat jelas. And its so cute, especially the one on his upper lips.

Tetesan air dari wajah Seungkwan sebagian turun membasahi kemeja semi-transparan menjadi benar-benar transparan, bukan berarti sebelumnya Hansol tisak bisa melihat dua titik menonjol didada Seungkwan, dan oh oh aku hampir melupakan dua kancing kemejanya yang terbuka membuat Hansol bisa melihat bitemark yang ia tinggalkan tadi meskipun tidak seluruhnya and it's so damn hot.

Lalu kenapa juga Hansol tidak menyadari sejak tadi jika celana Seungkwan begitu ketat terutama dibagian belakangnya, ditambah sedikit penampakan pinggang Seungkwan yang terlihat karena kemejanya terangkat saat ia mencoba mengambil mug di laci atas dapur mereka and its too sexy for Hansol to control himself.

"Baby"

Bisik Hansol ditelinga Seungkwan, tiba-tiba ia sudah menempel dipunggung uke tercinta.

"Yes Hanie?"

Balas Seungkwan, sedikit bergetar saat nafas hangat Hansol menerpa tengkuknya.

"Can I?"

Tangan Hansol menysuri paha depan Seungkwan dari bawah keatas lalu masuk ke dalam kemeja Seungkwan berhenti dipinggang, meremasnya lembut.

"Yes please"

Dan kau reader-nim pasti bisa bayangkan apa yang akan terjadi berikutnya, aren't you~? Karena author disini merasa sangat mesum kalau harus nulis 2 pda scene dalam 1 chapter, dan jangan lupa fic ini rate T.

END

A/N :

Masih ada satu chappie sebenarnya tapi itu cuma songfic dan semacam epilog dari ff ini. Nah saya minta maaf banget kalo cerita ini ga greget, ga lucu, dan terkesan ga finish...

:(

tapi yaa gitu mau gimana lagi saya harus fokus sama urusan lain dan butuh hiatus, bukan pengen ya tapi butuh*

Mungkin saya bakal hiatus sampai mei atau mungkin sampe agustus.. Kalo nanti pas saya comeback(?) masih dapet feelnya saya bakal bikin sequel buat cerita ini despite ada yang minta atau enggak kalo nulis bikin saya hepi ya saya nulis kalo ngganggu urusan lain yang lebih penting ya saya tinggal...

At last.

TERIMAKASIH BANYAK

Buat yang udah vote, comment dan follow... komen kalian selalu bikin saya bahagia meskipun seringkali ga bisa bales langsung... lafyu reader-nim muach muach ^^