Chapter 1: Stick with Him


HUG 2nd Story

.

.

.

Yunhyeong menginvasi keseluruhan koridor sekolah. Suara hentakan kakinya yang ia bawa berlari lah yang menjadi satu-satunya sumber suara kala itu. Beberapa kelas dengan guru yang tepat waktu mungkin sudah mulai fokus dengan pelajaran. Itulah mengapa suara derap langkah cepat-cepat Yunhyeong terdengar sangat mendominasi.

Ia benar-benar berlari cepat. Jas sekolah nya terkadang ikut tersingkap berbanding arah dengan tujuannya. Rambutnya sesekali juga ikut berterbangan karena angin. Ia benar-benar dikejar waktu.

Acara larinya mulai melambat ketika ruangan yang ia tuju sudah tampak di depan matanya. Bahkan sampai langkahnya sempat berhenti. Ia mengusap hidungnya entah karena alasan apa. Kini sedikit demi sedikit langkah kakinya membawa masuk ke dalam ruangan yang sudah tidak asing itu, ruang kesiswaan.

"Anyeonghaseyo." Ujarnya sopan, sadar bahwa ada Guru Kang di dalam sana.

Wajah cantik guru muda itu mendapati kehadiran Yunhyeong. Guru itu tersenyum kecil. Masih dengan peringai tegas nya, wanita itu menepuk bahu Yunhyeong dengan perasaan antara memberi kepercayaan dan tidak tega.

"Tolong urus dia, ya?" Suara tegas dan lembut itu mengalun di telinga Yunhyeong. Meski siapapun tahu ada nada tak nyaman di dalamnya. "Yunhyeong –ah, aku percaya padamu."

Dan setelahnya, guru cantik itu pergi.

Meninggalkan Yunhyeong beserta kesialan nya. Mata tajamnya melirik siswa yang sudah menghancurkan harinya belakangan ini. Goo Junhoe. Nama itu lagi. Bahkan telinga Yunhyeong sampai bosan mendengarnya.

"Hai, Yunhyeong!"

Sapanya sok akrab. Dia melambai tangan nya di depan Yunhyeong. Seakan tidak tahu diri bahwa ia berada di sini untuk dihukum, bukan saling menyapa.

"Hey, aku lebih tua darimu." Tutur Yunhyeong ketika pemuda itu melangkah menuju kursi yang ada di balik meja. Melihat yang lebih muda memperlihatkan cengiranya, lantas membentuk tautan spesial di dahi Yunhyeong.

"Oleh karena itu, aku panggil kau hyung." Ucapnya santai. Yunhyeong sendiri gagal faham. "Yun-hyung!" ejanya.

Yunhyeong hanya mendengus malas sebagai jawaban.

"Jadi, Goo Junhoe. Kenapa kau berkelahi lagi?" Yunhyeong menilik buku merah –buku berisi nama siswa-siswa yang sukanya membuat masalah di sekolah. "Aku bosan, apa kau tahu? Buku merah sudah penuh dengan namamu."

Ya, pasalnya ini sudah kali ke tujuh mungkin jika dihitung dari hari pertama nya bertemu dengan Junhoe. Sejak saat itu, ia tak pernah berhenti di panggil hanya untuk sekedar mengurusi kasus anak menyebalkan itu. Sial.

Junhoe tersenyum menyebalkan. Hampir membuat yang lebih tua di sana melemparkan sepatunya ke wajah itu.

"Setidaknya, aku tidak bosan melihat wajahmu."

Wow, Apa Yunhyeong baru saja di goda seorang adik kelas?

.

.

.

~o0O 404 O0o~

.

.

.

Hari ini hari selasa. Jadi sudah tidak heran, mengapa anak sibuk seperti Song Yunhyeong pulang sedikit larut.

Pukul 09.00 KST

Waktu yang bagi sang ketua kesiswaan itu masih terlalu sore untuk ukuran jam pulang sekolah. Biasanya, di hari-hari lain ia bahkan mengikuti berbagai rapat bahkan tak jarang mengerjakan proposal untuk kepentingan sekolah. Seperti hal nya lomba-lomba ataupun proposal laporan bulanan.

Yunhyeong menguap sedikit di jalan pulangnya itu.

Ia sempat berhenti ketika dirinya sampai di persimpangan jalan menuju rumahnya. Ia sedang di landa kegalauan saat ini. Pasalnya, ada dua jalan yang sama beratnya dimana keduanya bisa mengantarkanya menuju rumahnya. Jalan pertama, adalah jalan yang melewati lapangan basket namun sedikit memutar. Adapun jalan yang lain, adalah jalan yang melewati tangga dan lebih dekat dari jalan yang pertama. Masalahnya, jalanan yang satu itu lumayan gelap karena lampu jalan memang sedang mengalami kerusakan dari kemarin.

Biasanya, Yunhyeong akan memilih jalan tangga.

Karena jalan memutar itu sangat menguras tenaga.

Alhasil, langkah Yunhyeong menuju jalan tangga yang sudah terlihat gelap bahkan dari jauh. Tak apalah, lagipula apa pula yang Yunhyeong takutkan? Ia mulai berjalan dengan santai. Tas gendong berwarna biru nya, ia genggam erat. Meski tidak semenakutkan itu, tidak ada salahnya kan jaga-jaga.

Ia udah menuruni hingga tangga kelima. Dan di sanalah ia baru sadar.

"Akh!"

Bahwa di jalan itu, bukan hanya ada dirinya sendiri. Yunhyeong sempat terpaku beberapa saat, takut mengambil langkah lebih.

Ia sudah memikirkan untuk berbalik arah dan mengambil jalan yang memutar. Bagaimanapun, Yunhyeong tidak mau terlibat kasus apapun. Terlebih lagi jika ia yang menjadi korban. Bagaimanapun juga, ia adalah ketua kesiswaan.

Ia benar-benar sudah berbalik. Nyaris meninggalkan tangga itu jika saja-

"Yaa~ Goo Junhoe!"

Langkah Yunhyeong sempurna terhenti.

"Kau sungguh sudah berubah ya? Sejak kapan kau berhenti melawan, huh?" Dengan gerakan sedikit demi sedikit Yunhyeong berbalik lagi. Ia baru saja berbalik dan sudah terkejut menemukan adegan dimana anak menyebalkan –yang bernama Goo Junhoe itu sedang di tendangi kepalanya.

Ini pertama kalinya Yunhyeong melihat adegan baku hantam secara live.

"Kemana Junhoe kami yang hebat itu? Apa kabar bahwa ketua kesiswaan menyebalkan itu bisa menjinak kan anak nakal seperti mu itu benar adanya?"

Dera tawa terdengar dari ketiga siswa yang sedang memukuli Junhoe. Yunhyeong sendiri merengut. Tidak terima namanya di bawa-bawa.

"Dasar anak-anak menyusahkan. Kalian pikir kalian di sekolahkan untuk berkelahi, ya?" gumam Yunhyeong geram.

Matanya kembali membulat ketika ia secara langsung melihat satu bogeman mentah mengenai wajah Junhoe yang tidak terlalu jelas karena gelap. Yunhyeong tidak bisa diam, kalau begini caranya!

"Yach!"

Sadar suaranya menjadi yang paling mendominasi malam sepi itu, Yunhyeong mulai menuruni anak tangga itu selangkah demi selangkah. Menuju para brandalan yang menyusahkan di sana.

Keempat pria di tempat itu, termasuk Junhoe mau tidak mau menoleh. Dapat di tebak, wajah Junhoe yang paling terkejut ketika melihat siapa yang menginterupsi kala itu. Meski ketiga lainya tak kalah terkejut.

Yunhyeong sudah sampai di bawah. Mendengus kecil melihat wajah-wajah familiar itu dari dekat.

"Song Mino, Lee Seunghoon, Nam Taehyun. Kalian lagi?"

Yang di sebut namanya menatap Yunhyeong jengah. Ya, mereka memang sering berurusan di sekolah. Jangan lupakan bahwa Yunhyeong adalah ketua kesiswaan yang seringkali ikut campur tangan mengurusi para siswa bermasalah. Dan keempat anak ini –hitung Junhoe adalah penghias buku merah sekolah.

"Song Yunhyeong, sedang apa kau di sini?" Suara Song Mino membuat Yunhyeong menatap anak yang terlihat paling gelap di tengah kegelapan.

Yunhyeong membalas tatapan itu tak takut sama sekali. Menantangnya.

.

.

.

~o0O 555 O0o~

.

.

.

Junhoe terduduk canggung di sofa rumah Yunhyeong. Pandanganya mengikuti kemanapun langkah pria manis itu berjalan. Sedikit bingung, mengapa dari tadi kakak kelas kesayanganya itu berjalan kesana kemari seakan mencari sesuatu.

"Orang tuaku sedang tidak di rumah, jadi kau tenang saja."

Bagi Junhoe ucapan itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Karena perhatianya hanya tertuju pada satu pusat sedari tadi.

"Aish, dimana sebenarnya aku menaruhnya?!"

Lantas kedua alis Junhoe bertaut bingung. Masih menatap yang lebih tua yang sedang membongkar sebuah box besar entah mencari apa. Junhoe ikut-ikut mengedarkan pandangan nya ke sekeliling.

Rumah ini, tidak terlihat serapi bagian luarnya. Di ruang tengah ini, beberapa barang-barang yang tampak ditaruh seenaknya. Ada beberapa figura yang di pajang di atas rak-rak. Tak jarang terlihat foto Yunhyeong dan kedua orang tuanya. Namun meski rumah ini terlihat sedikit berantakan, tapi benar-benar lebih terlihat seperti rumah. Maksud Junhoe, terlihat jauh berbeda sekali dengan apartement tempatnya tinggal.

"Dimana sebenarnya?" Gerutu Yunhyeong masih belum selesai.

"Sebenarnya, apa yang kau cari?"

Yunhyeong berhenti mengobrak-abrik rumahnya. Ia menatap wajah Junhoe yang penuh memar itu sejenak. Terjadi keheningan untuk beberapa saat hingga pria itu kembali mencari benda yang masih entah apa tersebut. "Kotak obat. Aku lupa menaruhnya di mana."

Junhoe tersenyum tanpa sadar ketika melihat wajah yang selalu tampak datar dan tenang di sekolah itu kini terlihat merengut kesal. Apa Song Yunhyeong sedang merajuk karena sebuah kotak obat?

Yang sedang diam menunggu di sofa pun memanjangkan kakinya karena pegal. Tapi ia merasa menendang sesuatu yang ada di bawah meja. Merasa tidak nyaman, ia mencoba memperbaikinya. Tapi keryitan di dahi adalah satu-satunya yang ia tampakan.

Ia melihat kotak obat di sana.

"Apa ini yang kau cari?"

Junhoe mengangkat kotak obat tersebut hingga Yunhyeong dapat melihatnya. Pria yang lebih tua dua tahun darinya itu menghela nafas lega dan menghampiri Junhoe setelahnya. Lalu menempatkan dirinya di samping Junhoe.

"Di mana kau mendapatkanya, huh?" Gerutunya saat ia mencoba membuka kotak obat tersebut.

"Di bawah meja."

Ia mengambil obat merah serta plester dari dalam sana. Membuat Junhoe bingung sendiri ketika kedua benda itu di berikan padanya.

"Obati wajahmu." Ucap pria Song itu.

Junhoe menatap obat merah dan plester dalam genggamanya. Kemudian tersenyum setelahnya. "Kau tidak mau mengobatinya untuk ku?"

Yunhyeong sendiri masih memilah-milah plester yang ada dalam kotak obat. "Kenapa harus aku? Kau kan bisa sendiri."

Air wajah Junhoe sedikit berubah. "Jika aku bisa sendiri untuk apa aku meminta bantuanmu?"

Hening.

Junhoe sudah menyerahkan obat serta plesternya itu ke hadapan Yunhyeong. Meski belum diterima, tadi ia yakin kakak kelasnya itu akan membantunya.

"Arasseo. Kau ini memang menyusahkan, ya."

Tak ada lagi percakapan setelah munculnya cengiran di wajah menyebalkan Junhoe –menurut Yunhyeong. Yang lebih tua sedang fokus menabuhkan obat merah di dahi, lalu di pangkal hidung dan terakhir di ujung bibir yang satunya.

"Wajahmu juga terluka." Seru Junhoe. Yang di ajak bicara tidak bergeming. Seakan menyatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Junhoe sendiri sedang memperhatikan wajah kakak kelasnya itu. Mata miliknya yang sedikit membulat. Terkadang pria manis itu meringis pelan ketika menabuh obat di wajah Junhoe. Dan ketika sang kakak kelas itu memasang wajah hati-hatinya, entah kenapa terlihat sangat lucu di mata Junhoe. Ingin rasanya ia terkekeh jika saja Yunhyeong tidak sedang menabuh obat merah di sudut bibirnya.

"Apa mereka sering memukulimu?'

"Siapa?"

Kini tangan Yunhyeong sedang memasangkan plester di tengah hidung Junhoe. Mencoba memakaikanya sepelan mungkin agar tidak terasa sakit. Wajah mereka terlampau dekat, mungkin hanya Junhoe satu-satunya yang menyadari itu. Jarak yang minim itu membuat Junhoe hanya dapat meneguk air liur nya seraya mengerjap.

"Anak-anak itu."

Junhoe tidak bergeming. Sadar akan hal itu, Yunhyeong mencoba menatap mata orang di hadapanya itu. Tapi Yunhyeong baru sadar, bahwa mereka terlalu dekat.

Sial!

Tiba-tiba pipinya memanas. Kenapa Goo Junhoe saat di lihat sedekat ini terlihat lebih tampan? Yunhyeong menggeleng menolak pemikiranya barusan. Cepat-cepat ia berdiri dari duduknya untuk menghindari pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

Tapi matanya mungkin hampir saja keluar ketika merasa tangan Junhoe menahanya. Suara debaran kentara yang entah milik siapa mulai terdengar di tengah keheningan. Yunhyeong semakin terkejut –bukan main ketika tangan yang awalnya menahanya itu tiba-tiba menariknya hingga terduduk lagi.

"Yunhyeong." Mendengar suara berat Junhoe menyebabkan Yunhyeong kembali mendongak. Mengeryit saat tak paham kenapa Junhoe semakin mendekat ke arahnya. Segala macam fikiran aneh mulai menginvasi otak si pemilik rumah tersebut. Yunhyeong tidak mengerti kenapa Junhoe mulai memajukan wajahnya dan berbisik. "Kenapa tadi kau menolongku?"

Bulu kuduknya tentu saja mulai meremang. Ada rasa sedikit geli di perutnya karena jarak sedekat itu. Seumur hidupnya, baru anak ini yang berani berbisik padanya. Yunhyeong memundurkan wajahnya, merasa semakin terpojok. Tapi batasan sofa menghalanginya untuk semakin mundur membuat ia semakin putus asa.

"Y-yach, apa harus sedekat ini?"

Junhoe sendiri tidak mengerti apa yang dilakukanya. Tapi yang ia sadari, hatinya yang mengendalikanya saat ini. Jangan tanya anak ini karena dirinya sendiri pun tidak mengerti!

Sayangnya, saat keduanya masih dalam posisi aneh itu... sebuah suara menginterupsi.

"Anak-anak, kalian sedang apa?"

.

.

.


TBC


.

.

.

Loh ini apa pula? (jedotin diri sendiri ke dada june) hm, aku pengen coba bikin chaptered meski hanya dengan konflik ringan ceritanya... gatau lagi ke sambet apa. MAAF ini bad banget T.T maklumi saja diri ini yang kesambet ingin buat fic karena tergoda wajah manis yoyo(?) hehehe.

Last, Review?=)