"Anak-anak, kalian sedang apa?"

Suara halus yang mengalun seperti melody yang mengantarkan siapapun menuju kematian. Yunhyeong salah satunya. Pria manis itu sontak menemukan kembali kekuatan nya yang sempat hilang entah kemana untuk beberapa saat. Tanganya dengan tidak berperikemanusiaan mendorong Junhoe hingga yang menjadi korban tersungkur di lantai. Malang sekali.

"Eomma!" tidak ada maksud sama sekali, semua hanya gerakan tiba-tiba lidahnya yang menyebut panggilan itu. Mungkin faktor kebiasaan. Mungkin juga karena terkejut. Mungkin juga dua duanya.

Jika kalian Bayangkan wajah terkejut seorang Song Yunhyeong, maka Junhoe tampak lebih terkejut. Mungkin fikiranya yang beberapa saat lalu sempat tak terkendali, kini sudah kembali berfungsi.

"Anyeonghaseyo." Ujar Junhoe setelah berdiri. Tentu saja ia juga sedikit membungkuk hormat. Karena dirinya masih di ajari sopan santun.

Jika dalam benak Junhoe sudah terbayang wajah menyeramkan ibunda dari kakak kelas manisnya itu. Maka kini realita seakan mengejeknya karena yang tampak hanyalah senyuman tulus wanita paruh baya itu. "Kau pasti teman nya Yunhyeong, ya?"

Hening beberapa saat.

Sampai suara Yunhyeong menyahut.

"Ya! Dia teman ku, eomma."

Siapa yang di tanya, dan siapa yang menjawab. Itulah kondisi yang sedang di alami saat ini. Junhoe hanya terdiam sesaat tak di beri kesempatan untuk bicara. Tapi setidaknya, kan? Mimpi apa Goo Junhoe bisa jadi teman nya Song Yunhyeong dalam waktu semalam. Hahaha.

Lamunan sekilas dalam benak pria Goo itu lenyap ketika satu-satunya wanita di sana mengusap pipinya. Hal itu sontak saja membuat Junhoe terkesiap awalnya. "Aigoo, bagaimana mungkin kau bisa tumbuh sebaik ini?" ujarnya penuh siratan kekaguman.

Junhoe tersentak, hanya sesaat. Sebelum bibirnya ikut membentuk sebuah senyuman kecil.

Jujur, ini pertama kalinya sejak ia masih seorang bocah. Seseorang mengusap pipinya dan memujinya. Biasanya, orang lain hanya akan mengejeknya atau memandanginya takut. Hitung juga tak jarang yang mengajaknya berkelahi. Karena itu, hanya usapan kecil di pipinya entah kenapa membuatnya merasa sedikit bahagia. Juga Hangat.

"Aigoo, orang tuamu pasti membesarkan mu dengan baik-"

"Eomma!" Yunhyeong mengintrupsi. Ibunya awalnya tidak mengerti mengapa sang anak memotong ucapanya seperti itu.

Junhoe tersenyum kecil, meski canggung dan suara gumaman ia berkata. "Aku tidak punya orang tua." Kemudian tersenyum lagi. Namun yang awalnya hanya gumaman bagi Junhoe sepertinya dapat di dengar oleh dua orang lain nya di sana.

Karena setelah ia mengucapkanya, raut khawatir dan simpati tersirat di wajah wanita yang masih tampak muda itu.

"Benarkah? Hm, kalau begitu... kau pasti sangat tangguh karena bisa tumbuh sebaik ini sendiri." Suara ibunya Yunhyeong yang lebih terdengar seperti menghibur. Meski begitu, hal itu tidak menghilangkan senyum di wajah Junhoe. Siapapun pasti senang saat di puji.

"Terimakasih, ahjumma."

Yunhyeong menautkan alisnya bingung dengan wajah Junhoe yang terlihat jauh lebih mengerikan saat ini. Oh, serius ada warna kemerahan pada pipi anak itu. Membuat Yunhyeong jadi geli sendiri.

"Permisi, apa sudah selesai basa basi nya?"

Yang baru saja bersuara melipat tangan nya di dada. Memandang risih orang yang ia panggil ibu dan orang yang selalu menyusahkanya di sekolah masih dengan adegan menjijikan yang dilakukan live di depan Yunhyeong. Menyebalkan. Tapi mau tahu yang lebih menyebalkan? Ibu nya tanpa menghiraukan ucapannya menarik tangan Junhoe dan memandang anak itu berbinar. "Mau makan malam bersama?"

Uh Oh, Yunhyeong ingin mengadu pada ayah saja kalau begini.


"Bad Boy Good Boy"

.

.

.

Song Yunhyeong – Goo Junhoe

.

.

wafflekid present

chapter 2


"Jadi, kau suka berkelahi?"

Nyonya Song rela menghentikan makan malamnya bahkan menyimpan dulu sendok nya hanya untuk mendengarkan cerita anak yang baru di kenalnya beberapa saat yang lalu itu. Anehnya, saat mendengar kata berkelahi bukan nya marah, wajahnya malah terlihat semakin takjub.

"Appa nya Yunhyeong juga suka berkelahi waktu sekolah! Ah, ahjumma tahu kau itu keren Junhoe –ya, tapi bisa kah kau tidak se keren itu?"

Rahang Yunhyeong jatuh sempurna. Ia Speechless stadium kronis. Rasa sup rumput laut dalam masakan ibunya tiba-tiba tidak berasa apa-apa. Yunhyeong menghela nafasnya frustasi. Ia ingin menjengguti rambutnya sendiri. Ini masalah besar jika ibunya malah menjadi dekat dengan Goo menyebalkan Junhoe itu.

"Keren? Apakah berkelahi di sebut keren? Eomma, jangan gila!" Yunhyeong bahkan tidak sadar bahwa ia terbawa nafsu sendiri.

TUK

"Aw! Kenapa eomma memukul kepalaku?!"

Di pandanginya sendok yang menjadi barang bukti penyebab berdenyutnya sesuatu di balik kepala Yunhyeong dan sang ibu bergantian.

"Kau saja, yang benar-benar kuno!"

Tahu tidak rasanya saat kau di katai kuno oleh wanita yang melahirkan mu sendiri? Yunhyeong mendengus karena ia tahu bagaimana rasanya saat ini. Lebih menyebalkan daripada saat kau ingin menggaruk bagian tubuhmu yang gatal, tapi kau tak tahu dimana tepatnya!

"Benar bi, Yunhyeong memang kuno."

Mata pria manis itu bahkan kini nyaris keluar ketika suara itu ikut memojokanya. Ia tidak terima di sudutkan disini! Ia yang selalu belajar, ia yang selalu berprestasi, dan ia yang selalu kelelahan sampai rasanya ingin bolos ketika mengerjakan tanggung jawabnya di sekolah. Tapi, masa ia juga yang dikatai kuno?! Yang benar saja!

"Kau mau mati?" anggap saja itu reflek.

TUK

"Aigoo, aku menyekolahkan mu bukan untuk membuat seseorang mati!"

Yunhyeong menendang meja.

"Kenapa eomma selalu memukul kepalaku?!" keluhnya tidak bisa terima lebih jauh. Ia merasa di anak tirikan saat ini!

Ini rumahnya. Wanita yang duduk di hadapan Junhoe adalah ibunya. Tapi kenapa rasanya ia hanyalah pajangan ruang makan saat ini? Ini benar-benar memuakan. Goo Junhoe, anak itu! Yunhyeong menyesal sekali memberikan bantuan pada nya. Harusnya sejak awal, Yunhyeong tidak usah berlagak prihatin dengan memeluknya segala.

"Cih. Kau ini, benar benar di kasih hati, minta jantung, ya?" Yunhyeong menoleh hanya sekedar untuk menatap sengit Junhoe yang sedang membalas tatapanya menantang.

"Manhi mogo, Junhoe –ah~" (Makanlah yang banyak)

Yunhyeong menganga saat ibunya memasukan beberapa potong daging ke dalam mangkuk Goo Junhoe, Yunhyeong mendelik tajam pada Goo Junhoe yang terima-terima saja di perlakukan seperti itu. Dasar tidak tahu diri! –batin Yunhyeong nelangsa.

"omo, nugushijyeo ahjumanim? Anak mu yang baru?" (Yaampun, Siapa dia, bibi?)

Yunhyeong mencoba menyindir ibunya dengan memberikan dengusan andalanya. Ibunya itu benar-benar menyebalkan! Setelah di sindir beliau malah tertawa dan mencibir Yunhyeong. "Benar sekali, bukan kah dia tampan dan baik? Tidak seperti seseorang." Cibir Nyonya Song yang tentu saja membuat Yunhyeong naik pitam. Untung saja, ini sudah malam. Tenaganya sudah banyak terpakai.

Yunhyeong mendengus. Ia mendelik pada Goo Junhoe yang sedang tersenyum miring padanya, seakan mengejeknya habis-habisan. Sial! Bahkan Goo Junhoe memperlakukanya seperti ini di rumahnya sendiri!

"Mati kau." Bisik Yunhyeong tanpa suara pada Junhoe yang mengangkat bahunya mengejek.

"Ahjumma, ini enak sekali. Ah, bagaimana kalau kau benar-benar jadi ibuku saja? Ne?" Sungguh candaan Junhoe itu tidak lucu. Apalagi balasan ibunya yang mengelus kepala Junhoe sayang meskipun seumur-umur Yunhyeong tidak pernah diperlakukan seperti itu.

Yunhyeong memutar bola matanya malas, ia melihat tempat air di sisi kanan adiknya. "Heol, baiklah ahjumma. Bisa tolong ambilkan air untuk anak tiri ini?" Ucapnya asal dengan dagu yang menunjuk tempat air yang sedikit jauh dari jangkauanya. Sialnya, malah ada di dekat ibunya. Yang paling menyebalkan adalah, Goo Junhoe malah menertawakanya. Untung ibunya masih tidak tega untuk tidak mengambilkanya.

Yunhyeong mencoba untuk tidak perduli. Ia menuangkan air di gelasnya. Namun, sebelum ia meminumnya Goo Junhoe lebih dulu mengambilnya lantas meminumnya. "YA!" Junhoe tersenyum manis dengan air dalam mulutnya.

Yunhyeong mendecak sebal. Bunuh saja Yunhyeong tuhan! Eh, salah. Lebih baik Kau bunuh Goo Junhoe tuhan –harap Yunhyeong. Yunhyeong memasukan rumput laut dalam mangkuk ke dalam mulutnya dengan bringas.

"Omong-omong..." Suara ibu. "Apa kalian berkencan?"

Uhuk! Uhuk!

Junhoe segera menggeser gelasnya sedikit kedepan agar Yunhyeong dapat meminumnya. Sial, ia tersedak potongan rumput laut yang baru saja ia telan. Yunhyeong menghabiskan air dalam gelas itu lalu menghembuskan nafas lega.

"Aku hidup."

Yunhyeong menatap Junhoe sebentar, Junhoe juga menatap datar Song Yunhyeong dan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala penasaran Nyonya Song.

"Eomma ini bicara apa!"

"Eomma kan hanya bertanya!"

Nyonya Song yang menyadari suasana mulai terasa canggung, mencoba untuk mencairkanya kembali. "Hm, Junhoe –ah, habiskan supnya! Yunhyeong kau juga."

Setelah terdiam sedikit lama dalam keheningan di sana, Yunhyeong berdiri. Ia mengelap bagian mulut nya sebentar. "Eomma,Junhoe harus pulang. Bis terakhir mungkin akan lewat."

"Eoh? Junhoe belum menghabiskan supnya, Yunhyeong –ah." Sela wanita berumur namun masih terlihat muda itu.

Yunhyeong segera menggeser kursinya lalu berjalan menjauh dari meja makan. Ia merasa aneh saat dikiranya tak ada yang mengikuti langkahnya. Ia menoleh, dan mengutuk pelan. "Hey, Goo Junhoe! Kau sedang apa?"

Junhoe segera menyimpan sumpitnya dan menyampirkan tas gendongnya. Ia berdiri dan membungkuk pada Nyonya Song. "Ahjumma, makanan ini sangat enak. Aku janji jika aku memakanya lain kali aku akan menghabiskanya. Khamsahabnida!"

Yunhyeong mencibir. Berjanji dalam hati tak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.

Song ahjumma mengangguk kaget "ye? Ah, ye. Datang lagi lain waktu Junhoe –ah." Nyonya Song melambaikan tangan pada keduanya. "Hati-hati di jalan! Ingat janjimu untuk datang lagi!"

Yunhyeong mencoba mengabaikan yang terakhir itu. Sedang kan anak bernama Goo sialan Junhoe itu malah terlihat mengangguk senang menjawab seruan Nyonya Song.

Ingatkan Yunhyeong untuk menguliti anak ini, nanti!

Terlalu lama, Yunhyeong menarik tangan Junhoe untuk segera keluar dari rumahnya segera. Keduanya beranjak dari gerbang kediaman keluarga Song dan Yunhyeong segera melepaskan genggaman tanganya. Yunhyeong menatap Junhoe sinis dengan sudut bibir terangkat. "Jangan datang lagi kesini."

Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju halte bus yang tidak jauh letaknya. Yunhyeong sedikit terkejut saat menyadari jalanan sudah terang dengan lampu jalan yang sudah di perbaiki. Pegawai jaman sekarang memang bisa di andalkan.

"Ya, eomma-mu itu baik sekali ya? Cantik lagi!" Sedikit tersentak, suara Junhoe adalah satu-satunya yang mengisi keheningan kala itu. Tapi sungguh, bukanya senang ibunya di puji Yunhyeong malah lebih merasa jengkel.

"Lalu? Lalu apa? Kau ingin mengencaninya? Kau ingin menjadi ayah tiri ku, begitu?"

"Kau ini, sensi sekali." Junhoe terkekeh setelahnya. Entah apa yang sedang pria itu fikirkan. Yunhyeong meliriknya sedikit. Tidak ada yang berbeda dari Goo Junhoe beberapa hari ini. Wajah lebam yang selalu Yunhyeong temui setiap hari, kemeja acak-acakan, dan rambut yang tidak di tata. Benar-benar style seorang Goo Jun-

"Tapi aku tetap lebih suka putranya, kok."

Yunhyeong terkejut. "Hah?!"

Song Yunhyeong, pria itu yakin bahwa tadi Goo Junhoe mengatakan bahwa ia lebih menyukai... putranya? Apa maksudnya? Apa ini tentang ibunya dan ia?

"Kau bicara apa tadi?" Sungguh, Yunhyeong ingin Junhoe mengulangnya. Entah karena penasaran, atau karena hal lain. Entahlah, hanya Yunhyeong yang tau. Yang pasti saat itu Junhoe hanya menjawab.

"Bukan apa-apa."

Yang membuat mood Yunhyeong jadi merosot.

Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka tanpa percakapan lebih lanjut. Yunhyeong yang memang tidak berminat mengeuarkan suara atau membentuk sebuah percakapan dan Junhoe yang memang terjebak dalam keheningan yang nyaman membuat tak ada satupun dari mereka yang ingin mengisi jeda yang tercipta.

Seperti yang Junhoe katakan, keheningan terlalu nyaman untuk di rusak dengan argumen kecil yang pasti akan di balas ketus oleh yang paling manis.

"Ekhem, besok kau... ke sekolah?"

Tapi sepertinya tidak bagi Yunhyeong. Mungkin pria itu lebih suka mengisi keheningan ini dengan sebuah percakapan. Sekalipun ia harus menahan gengsinya karena memulai.

Junhoe memandang langit dulu sebelum menjawab. Kebiasaan.

"Mungkin."

Mungkin. Merasa kesal karena hanya di jawab satu kata saja, Yunhyeong tidak berani bertanya lagi. Melainkan kali ini Junhoe yang menyadarinya. Ia tersenyum lain. Tiba-tiba pikiran untuk menggoda kakak kelas –manis nya itu muncul di kepalanya –atau otaknya? "Kenapa? Kau takut besok aku tidak ke sekolah? Takut merindukanku?"

Yunhyeong menatap si tinggi itu horror. "Kau gila? Ada dirimu sehari saja aku sulit bernafas! Bagaimana mungkin aku merindukanmu, bodoh!"

Junhoe mencibir. Tapi kembali menggodanya.

"Sulit bernafas? Kode agar ku berikan nafas buatan, ya?" ucapnya sengaja membuat yang satu lagi panas. "Tahu tidak, wajahmu itu manis kalau sedang berbohong!"

Yunhyeong tak bisa berkata-kata.

"Sial, aku bicara dengan orang gila!"

Tapi nyatanya ia masih berkata. Walau nadanya kesal setengah mati.

Ia berjalan sedikit cepat sehingga meninggalkan Junhoe di belakangnya. Ia tidak mau terlihat aneh karena wajahnya yang memanas. Memanas ya? Ya, dan sialnya Yunhyeong tidak tahu kenapa debaran jantungnya terdengar berlomba begini. Ia mencoba menghilangkan fikiran anehnya yang-

BRUKK

Tapi memang dasarnya sedang sial, ia malah terjatuh. Tersandung tali sepatunya sendiri. Bodoh. Padahal ia adalah siswa dengan nilai akademik terbaik di sekolah.

"Ck, sial." Gerutunya marah entah pada siapa.

Ia mencoba untuk bangkit. Tak mau memikirkan apa alasan ia sampai terjatuh dengan begitu tidak elitnya di hadapan adik kelas menyebalkan yang berada dua tahun di bawahnya. Ia meruntuki kebodohanya diam-diam. Meski mencoba tidak perduli, tapi rasa malunya tetap tidak mau pergi.

Diam.

Langkahnya terhenti.

Ia hanya bisa terpaku di tempat saja ketika orang yang ia kutuk sedari tadi kini sudah berada di hadapanya. Kemudian tak lama berlutut di hadapanya.

Tali-tali sepatunya mulai bergerak-gerak terusik karena di mainkan seseorang. Yunhyeong memandangi orang yang sedang menalikan sepatunya itu dalam diam. Tak mau dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.

Meski diam, ia dapat merasakan sesuatu menggelitiki perutnya.

"Harusnya kau mengikatnya dengan benar."

Suara yang di keluarkanya itu bahkan seakan mengejeknya. Tanganya masih dengan lihai menalikan tali putih pada sepatu hitam itu agar rapat satu sama lain dan membentuk sebuah pita di akhir. Tak lama setelah yang kanan selesai, tangan itu berpindah pada bagian sepatunya yang kiri. Mengikatnya sama rapi.

"Atau kau sengaja melakukanya agar aku mengikatkanya untukmu?" candanya.

Tapi dia bercanda di saat yang tidak tepat. Yunhyeong menggerakan kakinya –nyaris menendang ketika pita sudah terbentuk di sepatu bagian kirinya. Yunhyeong tidak suka pernyataan terakhir itu.

"Jangan bicara lagi padaku!"

Dan selanjutnya bisa di bayangkan. Setelah Song Yunhyeong dengan kekesalanya yang ia bawa.

"Kau ke halte saja sendiri! Aku mau pulang."

Pria Song itu tanpa mengatakan lebih banyak lagi lantas berbalik. Ia berjalan dengan langkah samar kaki yang di hentakan. Sesekali tanganya terlihat memukul kepalanya sendiri, entah apa maksudnya. Junhoe yang melihatnya dari belakang tidak bisa melakukan apa-apa selain terkekeh.

Itu lah gaya merajuk Song Yunhyeong. Benar benar manis kan?

.

.

.

~oOoOo*0*oOoOo~

.

.

.

Hari ini adalah pagi yang cukup menyenangkan. Yunhyeong tersenyum sesaat setelah menyadari hal itu ketika pemuda itu melihat pemandangan pada kaca bus.

Cahaya sang raja siang baru muncul sepenggal hanya untuk sekedar menyinari. Beberapa burung yang terlihat kecil dari jauh beriringan menari-nari dari satu pohon ke atas pohon lain. Awan juga terlihat sedikit indah hari ini. Yunhyeong bersyukur ia masih bisa merasakan keindahan pagi ini.

Langkah kakinya, lengkap dengan sepatu dengan talinya yang sudah terikat rapi itu membawanya keluar dari dalam bus menuju halte dekat sekolahnya berada.

Senyuman itu mulai hadir ketika gerbang sekolah sudah tampak tertangkap di lensa matanya. Seperti sebuah hari yang benar-benar sempurna-

Senyuman itu lenyap perlahan

-sempurna jika saja tubuh tinggi yang berada tak jauh di depan itu tertangkap pandanganya. Pria itu muncul dari tikungan yang berada beberapa meter di depan Yunhyeong. Menghancurkan segala keindahan yang sedang Yunhyeong rasakan.

Mencoba tak mengubrisnya, Yunhyeong melanjutkan langkah santai. Toh, pria tinggi itu juga tak menyadari kehadiran nya. Sampai situ, semua baik-baik saja.

Mata itu sedikit memicing ketika melihat si tinggi di depanya yang awalnya sedang mengunyah roti dalam bungkusan plastik, sekarang menghentikan langkahnya. Tepat di sebelah seorang anak kecil berpakaian kumuh yang berdiri satu meter dekat gerbang sekolah.

Hal hal negatif sudah singgah di kepalanya, seperti Junhoe akan menghajar bocah itu, barangkali. Tapi ia tercengang yang ada ketika pria tinggi itu melempar roti miliknya yang masih lumayan besar kepada bocah pinggiran tersebut setelah mengeluarkan kata 'Yach!'

Saat itu, untuk pertama kalinya Yunhyeong tersenyum geli –meski mendecih.

Meski kasar, ternyata anak itu baik hati juga.

Bayangan Junhoe sudah hilang di telan tikungan setelah ia berbelok memasuki gerbang sekolah. Yunhyeong menarik tali pada tas gendong hitamnya, usil.

"Yach!"

Yunhyeong berteriak. "Aish."

Ia melanjutkan langkah nya tanpa memperdulikan manusia kelebihan kalsium yang baru saja mengejutkanya di belokan tadi. Ia kesal. Pagi-pagi sudah bertindak menyebalkan. Siang nanti pasti membuat ulah lagi, dan menyusahkan. Hidupnya benar-benar tidak ada manfaatnya!

"Wajah terkejutmu boleh juga."

Yunhyeong memutar bola matanya malas ketika pemuda yang lebih muda berbalik dan kini berjalan mundur di depanya. Membuat mereka saling berhadapan. Yunhyeong doa-kan semoga dia membentur tihang dan jatuh terjerembab.

Haha, lucu juga.

Yunhyeong memandang sekilas pria yang juga sedang memandanginya tersebut.

BRUKK

Sialnya, bukan Junhoe yang membentur. Tapi ia yang menabrak seseorang. Ya, mangkanya Yunhyeong bilang sial. Bertemu anak ini membuat hidupnya jadi banyak tertimpa kesialan.

"Ah, maafkan aku."

Baru tersadar ketika ia menabrak seseorang hingga menjatuhkan buku-buku orang itu. Dengan cepat Yunhyeong membantu merapikan buku berserakan itu. Hanya lima buku, tapi tebalnya bukan main.

Saat merapikan buku terakhir, Yunhyeong memandang orang tadi dan tersenyum singkat. Merasa bersalah. "Maaf, ya?"

Itu wajah adik kelasnya. Yunhyeong tahu karena ia mengenal seluruh siswa yang se angkatan denganya. Tentu, karena ia juga seorang ketua kesiswaan. Jangan lupakan fakta yang satu itu.

"Tidak apa-apa sunbae." Ujarnya balas tersenyum pula.

Setelahnya, pria itu beranjak meninggalkan Yunhyeong yang baru saja kembali berdiri dengan tegap. Ya, baru saja berdiri ia sudah berhadapan lagi dengan wajah menyebalkan Goo Junhoe. Ia sempat lupa, Junhoe yang menyebabkan ia menabrak orang.

"Yach! Kenapa, sih wajahmu ada di mana-mana?" gerutu Yunhyeong tanpa fikir panjang.

Ia kembali melanjutkan jalanya. Beriringan dengan Junhoe yang juga ikut berjalan –kali ini dengan normal. Tidak lama dari ucapan Yunhyeong sebelumnya, Junhoe memiringkan wajahnya menatap yang lebih tua. "Wajahku ada di mana-mana, ya? Apa dalam fikiran mu juga?"

Yunhyeong menggunakan telunjuk tangan kanan nya untuk menyingkirkan wajah itu dengan cara mendorong dahi anak itu. "Ish. Dalam mimpimu!"

Junhoe terkikik melihat wajah Yunhyeong yang seperti tidak terima tapi terlihat manis. Ia ingin melihat wajah itu lebih lama lagi, tapi masalah nyata nya, koridor menjadi pemisah. Kelas Yunhyeong di lantai atas menaiki tangga sedang kan kelasnya ada di sepanjang koridor lantai satu.

"Yah, kita berpisah." Seru Junhoe. "Jangan memikirkanku sepanjang pelajaran ya, kakak kelas!"

Yunhyeong menantang nya dengan menunjukan wajah ingin muntah.

"Belajar yang benar, sana!"

Junhoe tertawa.

"Kau mengkhawatirkanku, rupanya!"

Yunhyeong berbelok buru-buru. Sebelum Junhoe melihat wajah sedikit –ekhem meronanya ekhem- dan pria manis itu meghilang seiring berkeloknya tangga.

Mungkin sekarang, menggoda Song Yunhyeong menjadi hobi baru seorang Goo Junhoe.

.

.

.

~oOoo*0*ooOo~

.

.

.

"Song Yunhyeong, kau tidak di panggil guru Kang hari ini?"

Entah kenapa, suara Jiwon siang itu terdengar sedang mengejeknya. Anak dengan gigi depan yang besar itu mendudukan bokongnya di atas meja Yunhyeong.

"Jangan memancing emosiku, Kim Jiwon."

Yunhyeong saking malasnya membahas dengan hal-hal seputar kewajiban lain nya di sekolah itu kini menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tanganya di atas meja. "Kenapa duduk di kursi sendiri saja rasanya sulit sekali."

Baru beberapa detik ia berkata, Hanbin yang duduk tepat di depan nya berbalik menghadap ke arahnya.

"Aku sudah bilang belum kau di panggil kepala sekolah?" Yunhyeong bangkit. Duduk dengan tegap. Menatap Hanbin bertanya kebenaran.

"Kapan?"

Hanbin. Ketua kelas itu menutup mulutnya sendiri. "Maaf, aku lupa. Tadi saat aku ke toilet kepala sekolah berpesan untuk memanggilmu ke ruanganya."

Yunhyeong speechless untuk beberapa saat. Ia bahkan tidak sadar menggerutu kecil, membuat Hanbin semakin merasa bersalah. Yunhyeong yang lebih menyadari itu tersenyum kecil.

"Terimakasih ya, infonya." Ujarnya.

Sebelum ia berlari pergi meninggalkan kelas yang memang sedang jam kosong itu.

Memang, ia sudah tingkat akhir. Tapi, untuk mengganti posisi ketua kesiswaan sekolah itu butuh waktu kira-kira sampai lima bulan sebelum pemilihan ketua yang baru. Di sekolah ini, guru kelas mengurus nilai. Guru kesiswaan mengawasi dan mendisiplinkan siswa. Tapi, dalam hal mengurus hukuman siswa adalah sepenuhnya tugas ketua kesiswaan. Seperti itulah hidup Yunhyeong berjalan.

Ia dengan langkah cepat-cepat menuruni tangga. Takut kepala sekolah benar-benar menunggunya. Tunggu,

Apa ini kasus Goo Junhoe lagi?

Diam-diam Yunhyeong mendengus kasar mengingat anak itu. Entah kenapa kebiasaan berulahnya itu sangat sulit untuk di ubah.

Pintu kelas Goo Junhoe sudah terlihat. Yunhyeong dalam hati, sudah menyiapkan kata-kata yang akan ia lontarkan pada anak keras kepala itu. Tapi ia membeku di depan kelas Junhoe. Ia memandang ke dalam lewat jendela. Pandangan nya yang salah, atau memang Junhoe sedang duduk manis di kursinya?

Tidak, Yunhyeong tidak salah jam. Ia yakin pada jam begini biasanya anak itu akan berulah dan berakhir di ruang kesiswaan.

"Kalau bukan dia lalu..."

Yunhyeong bergulat dengan fikiranya sendiri. Mungkin karena memang nya ia yang terlalu larut, sentakan dari guru Yang di dalam kelas membuatnya terperanjat sendiri. Guru matematika itu berteriak meminta siswa yang tidak membawa bukunya untuk ke luar.

"Ooh... tumben anak itu membawa buku." Puji nya pada pria Goo yang baru saja mengeluarkan buku dari kolong mejanya.

Tapi selanjutnya yang terjadi. Yunhyeong menautkan kedua alisnya ketika mendapati siswi yang nyaris menangis –terlihat wajahnya memucat. Seperti nya dia lupa membawa buku. Itu artinya gadis itu harus bersiap-siap untuk keluar kelas-

BUK

-Dan sebuah buku tebal bersampul matematika mendarat di atas mejanya. Pelaku –sialan, Goo Junhoe yang baru saja memberikan bukunya pada orang lain itu dengan santainya berjalan ke depan kelas sebelum anak itu membungkuk dan keluar dari kelas.

Yunhyeong sendiri tersentak. Pasalnya, semua terjadi terlalu cepat. Tidak secepat bagaimana otak Yunhyeong merekamnya.

"Sedang apa kau di sini?"

Yunhyeong sudah bilang belum, kalau dirinya tersentak?

"A-aku? Apa?" Yunhyeong tidak tahu sejak kapan ia menderita penyakit kegagapan seperti saat ini. Yang pasti, semua kosakata dalam kamus otaknya mendadak lenyap. "Aku..."

"Kau?"

"Aku..."

Junhoe tersenyum. Sepertinya, ini saat yang tepat untuk melancarkan hobi barunya itu. "Merindukan ku, ya?"

Sialan.

Yunhyeong mendengus. Lagi-lagi, anak sialan ini penyakit menyebalkanya kambuh.

"Kau punya syndrome erotomania, ya?" Yang ditanya mengeryit bingung. Haha, Yunhyeong tebak. Anak yang sukanya berkelahi seperti Junhoe mana tahu penyakit seperti itu?

"Aku bukanya terlalu percaya diri. Aku hanya bercanda tadi."

Tuturnya sambil mengangkat bahunya sebelum meninggalkan Yunhyeong di koridor sendirian. Lagi. Lagi. Otaknya memproses kejadian dengan begitu lambat.

Telinganya yang bermasalah, atau Junhoe memang bilang bahwa...

"Darimana dia belajar hal yang semacam itu?" gumam Yunhyeong.

Yunhyeong berlari untuk mengikuti langkah besar pria tinggi itu. Entah kemana arah jalan nya anak itu, yang pasti Yunhyeong harus menanyakan sesuatu padanya. Terakhir Goo Junhoe terlihat saat ia berbelok ke arah tangga atap sekolah. Buru-buru, Yunhyeong ikut beranjak menuju ke atap.

Setelah pintu di tutup, Yunhyeong menemukan anak itu sedang berbaring di atas meja kayu panjang dengan mata yang menutup untuk menghindari serangan langsung cahaya matahari.

Yunhyeong melangkah hingga ia berhenti tepat di sebelah meja kayu itu, menghalangi cahaya yang menyerang wajah Junhoe. Yang di halangi cahaya nya itu sadar, dan membuka matanya.

"Sedang apa kau?" Tanya yang lebih tua.

Junhoe diam sebentar. Entah berfikir, atau hanya memberi jeda.

"Berfotosintesis."

Jangan paksa Yunhyeong untuk tertawa.

Junhoe bangun dari tidurnya. Menyisakan tempat di sebelah kanan nya agar Yunhyeong bisa ikut duduk di sisinya. Dan niat itu tersalur dengan baik karena sisa tempat itu benar-benar Yunhyeong isi.

"Kau bolos?"

"Aku di usir."

Ah, di sana Yunhyeong baru ingat. Bahwa ia ingin menanyakan mengapa Junhoe memberikan buku miliknya untuk orang lain. Sedangkan yang harus keluar adalah dirinya. Mengapa harus melakukan hal semacam itu.

"Aku tidak suka matematika."

Yunhyeong menautkan alisnya –tidak paham. Ketua kesiswaan itu gagal faham mengapa orang-orang begitu membenci pelajaran yang amat sangat ia gemari itu.

"Kenapa? Matematika kan mudah." Yunhyeong ingat. Bisa di hitung jumlahnya anak di kelasnya sendiri yang tingkat kesadaranya normal ketika pelajaran yang dominan nya angka itu berlangsung. "Setiap masalah selalu ada jalan keluarnya."

Junhoe mencibir.

"Taruhan, kau pasti suka pelajaran neraka itu." Gantian Yunhyeong yang mencibir. Neraka katanya? Sungguh, menyelesaikan angka-angka tidaklah sesulit itu!

"Kalau kau? Apa ada pelajaran tersendiri yang kau sukai?"

Junhoe memandang ke arah langit.

"Aku suka biologi."

Saat itu, barulah pertanyaan Yunhyeong terjawab. Mengenai dari mana ia tahu bahwa arti dari erotomania adalah 'kepercayaan diri yang berlebihan' dan segala hal tentang itu. Mungkin karena anak itu memang menyukai pelajaran biologi.

"Kau ingin menjadi seorang dokter?"

Junhoe tertawa. Yunhyeong tahu saat itu ada yang berbeda. Tentu saja, karena ia tahu yang di tertawakan anak itu adalah dirinya sendiri.

"Kau bercanda? Aku? Jadi dokter? Mana bisa!"

Yunhyeong tersenyum mendengarnya. Benar juga, anak yang suka nya berkelahi seperti Goo Junhoe menjadi seorang dokter adalah hal yang sedikit mustahil. Luka di wajah sendiri saja selalu datang, bagaimana mungkin mengobati luka orang lain?

"Mungkin saja..."

Yang lebih pendek ikut menatap langit. Namun, saat pandanganya jatuh pada awan- awan yang berubah haluan setiap menitnya itu, saat itu juga pandangan yang satunya jatuh pada dirinya. Bukanya Yunhyeong tidak sadar bahwa ia sedang di pandangi, tapi ia hanya mencoba tidak perduli. Pura-pura.

"Kenapa memandangi ku?" tanpa merubah arah pandang, Yunhyeong bertanya.

Mencairkan suasana, mungkin?

"Apa aku terlalu manis?" Yunhyeong tertawa sendiri mendengar ucapanya. Entah sejak kapan ia tertular penyakit pecaya dirinya Goo Junhoe. Tapi untuk saat ini, entah kenapa Yunhyeong merasa tidak masalah.

Merasa saja.

"Hm." Junhoe mengubah pandanganya menjadi lurus. Menyisakan Yunhyeong yang penasaran dengan artian 'hm' barusan. Tapi, Junhoe memperjelasnya. "Kau memang manis. Tidak tahu?"

Pandangan itu jatuh lagi pada Yunhyeong. Bedanya, kali ini Yunhyeong juga balas menatap nya.

Yunhyeong tahu, anak ini selalu mengejeknya dengan menggodanya. Selalu bertindak seenaknya. Bahkan pernah memintanya menjadi kekasihnya –jika diingat-ingat pertemuan pertama mereka. Anehnya, kali ini saat dia mengatakanya, Yunhyeong tidak merasa kesal.

Meskipun ia sadar wajah nya memanas seperti waktu itu. Meskipun ia sadar jantungnya berdebar seperti waktu itu. Meskipun ia sadar sesuatu menggelitik perutnya, seperti waktu itu. Tapi kali ini ia tidak marah. Ia tidak menolak. Ia menikmatinya...

"Terimakasih."

Goo Junhoe, anak seperti apa dia sebenarnya?

.

.

.

TBC


.

.

.

Hehehe, lama ya update nya? sorry aku ga pegang lappy 3 hari (mewek)

thanks, for reviewers sampai chap kemarin (semoga kita bisa bertemu suatu saat di konser bias/?)

Last, review?

with lav! wafflekid.


Extra appear

Hanbin menghela nafas malas. Kapan sih, Kim Jiwon berhenti bertindak menyebalkan?

"Yach! Kembalikan ponselku!"

Jiwon mana perduli? Anak itu berlari menuju tangga dan cepat-cepat menaikinya –masih sambil membaca riwayat pesan Hanbin dengan orang yang katanya Hanbin sukai. Sesekali terkikik membaca pesan-pesan canggung itu.

"Hey, Hanbin! Kau ini terlalu kaku. Harusnya kau lebih menyerang, tahu!"

Hanbin melepas sepatunya dan melemparnya tepat mengenai kepala Jiwon.

"Mati kau!"

Jiwon tertawa keras sambil terus melangkah cepat di tangga. Pria sipit itu membuka pintu atap lantas berlari.

"KUBUNUH KAU KIM JIWON!"

Hanbin yang baru melangkah masuk melalui pintu atap itu pun membeku.

Sama, Jiwon bahkan sudah membatu sebelum Hanbin.

Ia melihat sahabat mereka, teman sekelas mereka, ketua kesiswaan mereka sedang di sana. Bersama-sama dengan anak pembuat masalah abadi di sekolah.

Anehnya, mereka sedang tersenyum bersama. Saling beradu pandang. Dan itu terlihat sangat sangaat sangaaat aneh.

Hanbin meneguk air liur sebelum bicara.

"Yunhyeong, kau tidak menemui kepala sekolah?"

Terakhir dalam ingatanya, adalah wajah terkejut dan panik Yunhyeong yang bercampur jadi satu.

Sepertinya, dia lupa?