"Kau yakin tidak berpacaran dengan nya?"
Tegukan Yunhyeong pada gelas nya terhenti. Matanya yang sedang memandang atap kantin itu mengkerut, merasa pertanyaan tadi di arahkan padanya. Ia memasukan lagi air yang sudah berada di dalam mulutnya ke dalam gelas. Persetan dengan jorok, yang terpenting saat ini adalah dua pria menyebalkan yang sedang membulatkan mata antusias pada dirinya.
Yunhyeong berdeham sengaja.
"Tidak."
Hanya untuk menjawab satu kata tersebut.
Yunhyeong pun kembali meminum teh miliknya, meskipun rasanya aneh tapi pertanyaan tadi jauh lebih aneh. Apa lagi Kim Hanbin. Ia bahkan mengeryitkan matanya pada Yunhyeong, seakan mengatakan 'Apa kau semacam pendusta?'
Yang di pandangi seperti itu tentu saja tidak terima.
"Apa?"
Tanya nya judes.
Sumpah, demi Song Mino yang kulitnya hitam, Yunhyeong bertanya pada Hanbin. Tapi entah kenapa yang mejawab pertanyaan nya bukan yang ditanya, melainkan Jiwon. Si gigi kelinci yang duduk di sebelah Hanbin.
"Serius tidak berpacaran?"
Kan brengsek?!
"Sudah ku bilang tidak." Yunhyeong menggenggam sumpitnya dan mengarahkanya pada mata Hanbin juga Jiwon bergantian. Bibirnya mengerucut kecil, dan matanya membentuk sebuah lekukan jengkel. Yang lucu, ia sempat mengambil sepotong daging dari nampan milik Hanbin dan mengunyahnya –serta menghabiskan nya sebelum ia menatap bengis dua orang di depanya."Tanya sekali lagi, kupotong lidah kalian."
Jiwon meringis ngeri. Ia bungkam dengan segera. Rasanya memilih mengunyah daging cantik di piring nya lebih menyenangkan daripada memikirkan seseorang akan memotong lidahnya.
"Tapi tadi kalian saling bertatapan!" ujar Hanbin tak mau kalah. Ia menatap Jiwon di sebelahnya meminta bantuan suara. "Benar, kan?"
Jiwon mengangguk. Pikirnya, lidahnya tidak akan di potong hanya karena mengangguk... kan?
Yunhyeong tersedak.
Ia bahkan sempat lupa tentang kejadian di atap pagi tadi. Bagaimana ia bisa saling berpandangan dengan Koo Junhoe tadi, ia sendiri tak bisa habis pikir. Ia khilaf, bisa jadi ia gila untuk sesaat. Yang jelas ia tidak sudi di katai berpacaran dengan alien pembuat masalah itu.
"Apa? Maksud kalian aku dan dia?" Yunhyeong menunjuk dirinya dan udara di belakangnya. Lantas mengedarkan pandangan nya jengkel. Ia kesal, sungguh. Penghinaan macam apa lagi ini. "Kalian juga saling berpandangan tadi! Apa kalian berpacaran?"
Krik.
Krik.
Jiwon memandang Hanbin dan Yunhyeong bergantian dengan datar. "Kau tidak waras, Song?"
"Kenapa jadi kami?" kali ini Hanbin yang menatap Jiwon tak suka. Lalu berubah sinis ketika matanya melihat wajah Yunhyeong. Juga membatin kebingungan memikirkan kemana perginya potongan demi potongan daging miliknya.
Yunhyeong tertawa. Ia menang.
"Kalian juga tidak suka kan di perlakukan seperti ini?"
Yang baru saja bicara sekarang meminum tehnya, masih tersenyum.
"Jadi, serius tidak ada hubungan apa-apa?"
Yunhyeong facepalm.
"Kalian sepertinya sangat dekat. Tidak mungkin kalau hanya sebatas sunbae-hoobae." Ucap Kim Hanbin sambil menyesap susu kotakan miliknya. Kali ini matanya memandang sekitar, mencari sesuatu kelihatanya. "Yakin tidak ada hubungan apa-apa?"
Serius, kalau saja membunuh orang itu di perbolehkan.
"Kau tidak menjawab, jadi lebih mencurigakan, tahu!"
TRANG
Mungkin karena jengah, Yunhyeong menaruh sumpitnya hingga mengenai nampan nya dan menimbulkan bunyi alat besi yang bertubrukan. Ia menatap kedua orang yang mereka sebut diri mereka adalah, teman, itu jengkel.
"Aku. Tidak. Punya. Hubungan. Apapun. Dengan. Koo. Junhoe!" Yunhyeong menghela nafas setelah akhir kalimat putus-putusnya. "Puas?"
Yang terakhir itu membuahkan senyuman canggung dari kedua Kim yang duduk tepat di depan siswa Song itu.
"Hey, kau tidak perlu marah-marah seperti itu."
Jiwon. Kim Jiwon. Ingin sekali rasanya Yunhyeong melempar pria itu ke luar angkasa dan menguncinya di bulan agar batang hidung nya tidak akan terlihat di depan matanya lagi. Satu pertanyaan saja. Memang nya siapa coba yang mendesak Yunhyeong untuk menjawab pertanyaan bodoh tadi itu?
"Hm..." Hanbin mengunyah makanan nya. Membuat Yunhyeong bingung dehaman itu ditujukan untuk pernyataan nya barusan atau karena ia merasa makanan nya sangat enak? "Jadi, kalian sungguh tidak ada hubungan apa-apa?
Bunuh saja Yunhyeong, ya Tuhan.
"Kim Hanbin?"
"Ya?"
"Mau kupotong lidahmu?"
"Around"
.
.
.
Song Yunhyeong – Koo Junhoe
.
.
.
Chapter 3
Wafflekid Present
.
.
Junhoe membasuh wajahnya pada wastafle kamar mandi lantai dua. Ia baru saja turun dari atap. Setelah di tinggal Song Yunhyeong yang berlari begitu saja setelah melihat kedua temanya. Ia mengusak wajahnya seiring dengan air yang mengalir. Sebelum melihat pantulan wajahnya pada cermin.
Ia sedikit menyunggingkan senyuman. Plester itu masih melekat di wajahnya. Ia menyentuhnya sesekali. Seakan tidak ingin membuat benda kecil itu rusak. Jari telunjuk kanan nya menekan plester itu agar tetap melekat tanpa celah sedikitpun.
Merasa sudah cukup, ia melangkah mundur sambil tersenyum kecil. Jangan tanya mengapa ia sampai tersenyum ketika ada luka di sudut bibirnya. Karena Junhoe juga tidak bisa mengerti mengapa ia melakukanya. Junhoe berputar, hendak keluar.
"Kalian akan mati jika aku mengatakan ini pada appa!"
Tepat saat pintu bercat coklat itu Junhoe buka, pemandangan menggemaskan hadir membuat nya mendengus jengkel. Di sana, di depan toilet yang sepi, ia dapat melihat seorang pria yang berpakaian serupa dengan mereka dengan wajah lebam, tengah di kelilingi oleh empat pria lain dengan tubuh yang lebih besar dan tidak asing.
"Hm, ayahmu yah?" ucap si pria yang berkulit paling gelap di sana. Pria itu mencengkram dagu anak di depanya dengan kilatan mata yang marah. "Ku pikir hanya ayahnya yang pengecut, ternyata anak nya juga?"
Mata anak berponi itu terkesiap, bahunya bergetar. Tapi dua orang lain nya malah tertawa.
"K-kau? Mau apa?" cicit pria itu saat si kulit gelap mengangkat kerah seragamnya, ketakutan mengelilingi binar pandangnya.
"Mau apa lagi? Tentu saja-"
"Oy!"
Ketiga, ralat, keempat pria yang awalnya tidak menyadari kehadiran Junhoe kini menoleh padanya dengan pandangan beragam. Pandangan kosong dari anak yang sedang di cengkram dagunya oleh Song Mino, pandangan mengejek dari pria Song itu sendiri, juga pandangan bosan dari dua orang lain nya.
Setidaknya, cengkraman tangan Mino terlepas. Pria yang se angkatan dengan ketua kesiswaan mereka itu, berjalan menghampiri Junhoe hingga keduanya saling berhadapan.
"Oh, apa ini Koo Junhoe?" tanya nya yang lebih terdengan seperti sebuah ejekan.
Junhoe mengerjap sekali.
"Apa terlalu sering berkelahi membuatmu hilang ingatan?"
Mino mengangkat bahu. Ia berlagak menghapus debu dari kemeja Junhoe.
"Itu karena kau terlalu lama menjadi anak baik, Junhoe -ya." Pria itu meludah ke samping kanan nya. Lalu membentuk kontak mata dengan orang di depanya. "Kami jadi bosan."
Kali ini gantian Koo Junhoe yang tersenyum. Pria itu juga bersikap semakin menjengkelkan di mata Mino karena ia seakan mengulang kejadian barusan, Junhoe menghapus debu yang tidak terlihat pada kemeja Mino.
"Berhentilah, hyung. Jika kau terus seperti ini, mereka bisa memanggil ibu mu ke sekolah."
Tapi yang aneh, pandangan Mino yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi dingin. Pria itu menoleh pada dua orang di belakang nya dan menunjuk Junhoe dengan dagu nya.
Junhoe lega, setidaknya pria yang masih ketakutan di belakang sana bisa selamat.
.
.
.
~oOo0oOo~
.
.
.
"Kenapa sih, kepala sekolah selalu mencarimu? Kau juga siswa, dan tugas mu belajar." Hanbin terus menggerutu sendirian sepanjang koridor. Mempermasalahkan kepala sekolah mereka yang terus menerus memanggil Yunhyeong. "Memang nya kau petugas sekolah yang di beri upah, apa?"
Hanbin masih menggerutu mengenai masalah orang lain. Jiwon sedang berjalan dengan mata pandang lurus, dan Yunhyeong menggosok hidungnya dengan tangan kanan. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegang kotak susu pisang yang sedang ia minum.
"Kim Hanbin." Jiwon yang juga sedang meminum susu yang sama seperti Yunhyeong mengintrupsi Hanbin hingga anak itu berhenti menggerutu tidak jelas. Hanbin menoleh pada Jiwon, pria bergigi kelinci itu menarik lendir dari hidungnya. "Berhenti mengomel seperti ibu-ibu."
Hanbin memukul kepala Jiwon dengan tangan kanan nya. Wajah sang ketua kelas itu sempat jengkel. Tentu saja karena di panggil dengan sebutan ibu-ibu. Akhirnya, tak ada yang bisa menghentikan sedikit keributan yang terjadi di sana.
Melihat orang bertengkar seperti itu, Yunhyeong sendiri jadi ingin buang air di buatnya.
"Hey, kawan." Interupsinya. Tepat sekali, kedua orang yang tengah bertikai sebelumnya itu berhenti sesaat hanya untuk menoleh pada si sumber suara. "Tunda dulu ribut nya, antar aku ke toilet dulu."
Sejak tadi mempeributkan hal-hal yang tidak jelas. Keduanya tidak dapat sependapat sama sekali. Di saat seperti ini saja, baru Hanbin dan Jiwon menjadi sepihak.
"Pergi saja sendiri."
Sial bagi Yunhyeong. Punya teman tapi menyebalkan.
"Cih." Yunhyeong memandang datar kedua teman nya itu. Tapi tak ada respon apapun. Sang ketua kesiswaan itupun berusaha memasang wajah sedih minta di antar, tapi masih tak ada respon baik. Jiwon hanya diam minta di tendang. Hanbin lebih parah. Anak itu memandang Yunhyeong seakan mengusirnya. "Okay, aku pergi sendiri dasar kalian teman yang jahat."
Rajukan nya gagal. Baru dua langkah ia berjalan, ia kembali memundurkan langkah kaki berbalut sepatunya. Kembali ke posisi sebelumnya. Yunhyeong tersenyum,
"Lanjutkan bertengkarnya."
Sebelum kembali beranjak.
Masalahnya, bukan nya Yunhyeong terlalu cinta atau bagaimana dengan dua orang tadi. Pasalnya, hampir setiap orang tahu bahwa kamar mandi di lantai dua ini sedikit mengerikan. Karena sepi, selalu ada kabar burung mengenai penghuni tempat itu. Ia tentu saja tidak percaya, tapi waspada itu memang harus, kan?
Yunhyeong berjalan sendirian di koridor yang amat sangat sepi itu. Bahkan langkah kakinya menjadi satu-satunya yang terdengar. Kelas-kelas yang ada di sekitar koridor sudah di ubah fungsi menjadi gudang sejak lama. Mangkanya tempat ini sedikit mengerikan untuk di lewati.
Untung saja, pintu kamar mandinya sudah terbuka.
Yunhyeong pun tanpa basa-basi memasuki salah satu bilik yang ada. Setelah menyalurkan hasrat panggilan alam nya, ia segera membuka pintu biliknya dan kembali menutupnya setelah ia berada di luar. Pertama-tama, ia memastikan dulu bahwa seleting celana nya tertutup sempurna.
Pria manis itu bercermin barang sebentar sebelum keluar. Memandangi wajah nya sendiri sambil tersenyum. Entah apa maksudnya.
Uhuk!
Suara batuk itu menghilangkan senyuman nya dalam sekejap. Ia memandang sekelilingnya yang hanya berupa angin. Pori-pori tubuhnya mulai membesar karena rasa takut. Meskipun pria, tapi rasa takut itu wajar, kan?
"S-siapa?" tanya nya takut-takut.
Uhuk!
Yunhyeong mengambil ancang-ancang dengan mengepalkan tanganya. Ia, sempat belajar taekwondo saat sekolah dasar dulu. Untung saja.
Pria itu melangkah menuju bilik yang pintunya tertutup dengan langkah pelan-pelan. Kepalanya semakin mengerat. Tangan kanan nya pun mulai menyentuh gagang pintu.
BRUKK
Namun tak ada apapun dan siapapun di sana ketika ia membukanya.
Ia melewati bilik kedua yang barusan ia masuki, kini ia berada di depan pintu bilik yang ketiga. Mengambil ancang-ancang dengan bogeman mentah yang akan ia layangkan pada siapapun yang akan menganggunya, jika ada. Keringat nya mulai keluar. Nafasnya memburu. Ia mendekatkan tanga nya pada gagang pintu bilik untuk-
BRUKK
-Tentu saja, membuka nya.
Tapi...
Setelah pintu nya terbuka, nafas yang awalnya memburu kini menjadi tertahan. Kepalan yang awalnya mengeras mulai menguar, pori-pori nya masih membesar. Tapi rasa khawatirnya kini malah jauh lebih besar.
"Koo Junhoe..." Yunhyeong tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia membeku. Junhoe terlihat sedang menduduki closet dengan wajah yang lebam –dan lebih parah, mungkin sangat parah. Darah dari mulutnya, juga seragam yang lusuh dan kotor. "Kau baik?"
Tentu saja tidak.
Junhoe dengan perlahan dan tampak kesakitan, bangkit dari duduknya. Pria tinggi itu berdiri di depan Yunhyeong dan memandangnya dengan mata bengkak. Yunhyeong ingin bertanya, tapi
TUK
Saat kepala anak itu mendarat di bahunya, semua pertanyaan nya menguar begitu saja.
"J-Junhoe –ya..."
Tak ada jawaban.
"Koo Junhoe?" Yunhyeong menyentuh bahu anak itu. Ia mengguncang nya perlahan. Tapi yang ada beban di bahunya semakin bertambah berat. "Kau baik-baik saja?"
Yunhyeong yakin, sangat yakin. Saat itu, Junhoe menenggelamkan wajahnya semakin dalam di lehernya.
.
.
.
~oOo0oOo~
.
.
.
Yunhyeong masih sibuk dengan darah di telapak tangan nya yang menyentuh bahu Junhoe. Ia sedikit khawatir mengapa bahu anak itu mengeluarkan darah.
"Kalian berkelahi?"
Tanya seorang wanita cantik, perawat yang beroprasi di ruang kesehatan sekolah ini sesaat setelah wanita itu selesai menjahit luka di bahu Junhoe yang masih terbaring di atas ranjang.
"Aku tidak." Yunhyeong melambai-lambai kan tanganya tanda bahwa ia menolak pertanyaan tadi. Tentu saja, mau di taruh dimana wajah nya jika ada rumor bahwa ia berkelahi? Pria itu memandang Junhoe yang masih terpejam. "Tapi mungkin dia iya."
Wanita cantik itu melirik Yunhyeong barang sebentar dan tersenyum. Ia merapikan peralatan yang awalnya menyebar di meja nakas.
"Kalau begitu, kau menyelamatkan nya?"
"Huh?" Yunhyeong mengingat sekali lagi kejadian beberapa saat yang lalu ketika ia melihat wajah Junhoe yang seperti tengah sekarat. Jadi, apa ia menyelamatkan pria itu? "Mungkin." Balas Yunhyeong terkekeh.
Wanita cantik dan berkulit putih itu menjinjing tas koper yang berisi peralatan benda tajam tadi. Ia berjalan mendekati Yunhyeong dan tersenyum menenangkan.
"Bagus sekali, kau menyelamatkan nya saat syaraf nya masih bekerja."
Wanita itu menepuk bahu Yunhyeong membuat yang di beri tepukan itu jadi besar kepala karena berfikir telah menyelamatkan nyawa seseorang.
"Tapi, apa dia baik-baik saja? Ku fikir jika sampai ada jahitan sepertinya parah?"
Wanita cantik itu menggeleng pelan.
"Sudah ada jahitan di sana sebelumnya, seperti nya sesuatu mengenai bahunya hingga jahitan itu terbuka. Selain itu, tangan nya sedikit cedera." Jelasnya dengan suara lembut dan tenang. Seperti dokter pada umumnya. "Tapi sepertinya tidak ada masalah besar lain nya."
Yunhyeong mengangguk. Menghela nafas lega karena anak pembuat masalah itu tidak terluka parah.
"Kalau begitu, bisa kau bantu aku mengobati luka luar nya? Aku ada keperluan penting sebenarnya. Bisa... kah?"
Anehnya, Yunhyeong terserang cegukan tiba-tiba.
Dia tidak mau, sungguh. Berurusan dengan Koo Junhoe secara tidak sengaja saja sudah membuat nya sial dengan tertinggal pelajaran lagi kali ini. Masa ia harus dengan rela mengobatinya segala?
"Y-ya. Tentu."
Tapi sialnya, ia selalu tidak tega.
Setelah menunjukan letak kotak obat, wanita itu segera pergi beranjak dari ruang kesehatan. Yunhyeong sendiri berjalan menuju tempat yang di katakan dokter barusan. Ia mencari kotak obat nya di sekitar sana.
"Aish, dimana sebenarnya benda itu?"
Bagaimana pun juga, ini terasa seperti deja'vu.
Tak butuh waktu lama, hingga kotak obat itu menyapa pandanganya. Ia segera menariknya dan membawanya berjalan menuju ke tempat si anak pembuat masalah itu masih terbaring.
Yunhyeong menduduki kursi di samping kasur dan menghela nafas berat.
"Kenapa kau selalu terlibat masalah, sih?" tanya Yunhyeong entah pada siapa. Jika ada seekor cicak lewat, mungkin hewan itu akan menertawainya karena bicara sendiri seperti orang gila.
Sang ketua kesiswaan itu pun membuka kotak obatnya dan mencari salep yang sekiranya dapat ia gunakan. Setelah menemukanya, ia membukanya dan mengolesinya pada luka di wajah Junhoe. Dari dahi, pelipis, pipi, hidung, bibir, bahkan sudut mata pun terluka. Lengkap sudah.
"Sebenarnya apa yang baru saja kau lakukan, huh?"
Ia mulai berbiara sendiri lagi.
"Kau bahkan bukan berjuang untuk negaramu atau apa."
Kali ini Yunhyeong menempelkan plester berwarna kuning di dahi dan hidung anak itu.
"Bahkan plester lamanya belum terlepas, dia sudah membuat luka baru." Gumamnya seraya mengusap plester itu agar melekat. "Kau suka sekali membuat seni di wajahmu."
Lagi, ia bermonolog. Sepertinya sejak hari ini Yunhyeong punya hobi baru. Koo Junhoe ternyata mendatangkan banyak hobi tidak berguna bagi Yunhyeong.
"Apa kau fikir wajahmu ini kanvas?"
Cih, dia bicara sendiri lagi. Mungkin jika seekor cicak dapat bicara, ia akan mengatakan bahwa Yunhyeong terlihat tidak waras saat ini.
"Padahal, ku fikir-fikir jika tidak ada luka, wajah mu ini lumayan juga." Yunhyeong menaikan satu kakinya di atas lutut kakinya yang lain. Ia memandangi wajah penuh luka itu dengan saksama. "Kau ini lumayan tampan, loh."
Ha?
Tampan?
Yunhyeong segera menggelengkan kepalanya kembali sadar. Oh tidak, bahkan bayangan nya akan cicak yang tadi menertawakan nya dan mengatainya tidak waras tadi seakan mengejeknya.
"Sialan, aku bicara apa sih?!"
"Hm, aku juga tidak tahu kau bicara apa."
"AAAH!"
Yunhyeong nyaris saja terjungkal ketika mendengar suara yang tidak asing itu. Ia menoleh dan menemukan Koo Junhoe telah membuka mata nya. Yunhyeong menahan nafas.
Junhoe... tidak mendengar ucapan nya tadi, kan?
"Sejak kapan bangun?" Yang di tanya pun mengangkat bahu. Sedetik kemudian mengaduh merasa kesakitan di bahunya. Lalu ia menyentuh bahunya dengan tangan kanan. Detik berikutnya, ia mengaduh kesakitan karena tangan nya. Bodoh. Yunhyeong segera melihat bahunya dengan mengusap nya pelan. Bekas jahitan dua kali pasti sangat menyakitkan. "Sebenarnya, apa saja yang kau lakukan, bodoh?"
Junhoe terdiam. Mata bengkak nya bahkan tak bisa berbicara. Anak itu terlihat menyedihkan dengan banyak luka seperti ini.
"Tidak ada."
Yunhyeong mencibir. Mana mungkin tidak ada yang ia lakukan tapi tiba-tiba tubuh nya babak belur begitu, pikirnya.
"Kau benar-benar tahu cara menyulitkan orang lain." Rasanya, Yunhyeong ingin mencolok mata anak itu ketika ia malah menggunakan mulut terluka nya untuk terkekeh. "Jangan tertawa!"
Sungguh, selain menyusahkan ia juga menyebalkan. Tolong ingat itu.
"Apa kau sedang khawatir padaku saat ini?"
Yunhyeong facepalm.
"Mau ku gunting mulutmu?"
.
.
.
~oOo0oOo~
.
.
.
"Jadi, apa dia akan di bawa ke rumah sakit?"
Sambil memasukan buku terakhir nya ke dalam tas, Yunhyeong mengangkat bahu.
"Ku fikir luka nya terlalu ringan untuk di bawa ke sana."
Hanbin yang baru saja selesai membereskan buku nya menghadap ke arah Yunhyeong sepenuhnya. Mengabaikan Jiwon yang saat ini sedang sibuk mencatat karena tadi ia tertidur saat jam pelajaran.
"Kau akan menjenguknya?"
Yunhyeong memutar bola matanya malas untuk dua alasan. Satu, si bodoh Jiwon yang sangat lama dalam mencatat buku miliknya. Dua, si menyebalkan Hanbin yang menanyainya pertanyaan bodoh.
"Kenapa aku harus? Apa aku ibunya?"
"Kau kekasihnya."
Bagus, sekarang alis mata Yunhyeong bertaut sempurna karena pernyataan palsu menyebalkan yang entah mengapa bisa sama-sama di keluarkan mulut Hanbin dan Jiwon dalam waktu yang bersamaan.
"Apa kalian gila?" Yunhyeong menarik buku di meja Jiwon dengan tidak berperikemanusiaan. Ia sedang jengkel pada anak bergigi kelinci itu. Perduli setan jika pria itu merengek padanya minta di pinjamkan buku. Sialnya, pandangan yang sama masih di arahkan padanya. "Sungguh, aku tidak ada apa-apa denganya."
Pandangan tidak percaya dan mengejek ia dapatkan.
"Hey, apa kalian ingin jangka ku mencungkil mata kalian?"
"Hanbin, aku pinjam catatanmu." Jiwon mengalihkan pandangan nya secepat kilat. Begitu pula Hanbin, pria pecinta mickey mouse itu mengalihkan perhatian nya pada Jiwon. Ia mengangguk cepat dan mengeluarkan catatan nya untuk di berikan pada Jiwon. "Ini."
Begitulah, cerita bagaimana Yunhyeong diabaikan.
Setelah di abaikan oleh dua orang yang mengaku teman nya itu, Yunhyeong berjalan sendirian untuk pulang. Beginilah takdir memiliki teman yang tidak tahu diri.
"Aku hanya lewat, oke. Hanya lewat."
Yunhyeong memantapkan diri nya sendiri bahwa ia hanya akan melewati ruang kesehatan tanpa berkunjung bahkan hanya menoleh sedikitpun tidak akan.
"Aku tidak khawatir."
Gumam nya ketika ruang kesehatan hanya tinggal beberapa langkah lagi di depan nya. Ia terus melangkah dengan tatapan lurus kedepan. Ia sudah bertekad, dan ia tidak akan menghianati tekadnya.
"Lurus, Song Yunhyeong, lurus."
Ia benar-benar ingin melirik orang itu, bukan khawatir tapi hanya penasaran. Tapi, yang ia lihat malah adik kelas yang di kenalnya baru saja keluar dari sana dan sedang berlari ke arahnya. Adik kelas?
"Yunhyeong Sunbae!"
Yunhyeong terpaksa menoleh, ia juga tersenyum kecil.
"Oh, ada apa, Donghyuk –ah?"
Donghyuk tersenyum balik padanya.
"Guru Kang mencarimu."
Yunhyeong menghela nafas, ia bahkan enggan memikirkan nya. Apa maksudnya ia harus kembali ke lantai dua untuk bertemu guru Kang di ruang guru? Sungguh, demi mata sipit Kim Jiwon itu sangat melelahkan! Bahkan sekolah ini tidak punya lift.
"Aku mengerti, terimakasih."
Yunhyeong berbalik, hendak bergegas. Tapi Donghyuk menahan nya.
"Ada apa?"
Donghyuk tertawa kecil.
"Guru Kang ada di ruang kesehatan, sunbae."
Oh Tuhan, terimakasih. Yunhyeong bersorak dalam hati.
Yunhyeong segera berputar dan melangkah menuju ruang kesehatan yang tepat berada beberapa langkah di depan nya. Ia membuka perlahan pintu coklat itu dan menemukan Guru Kang di sana.
"Anyeonghaseyo!" Yunhyeong melangkah masuk, ia melihat guru Kang berputar ke arahnya. Guru cantik dan tinggi itu tersenyum pada sang siswa kebanggaan. "Kau mencariku, saem?"
Guru penuh pesona itu lagi-lagi tersenyum. Ia mendekati Yunhyeong dan menepuk bahu sang ketua kesiswaan.
"Yunhyeong –ah, apa kau bisa membantuku mengantarnya pulang?"
Yang di tanya mengeryitkan dahinya. Ia menoleh ke arah yang di maksud oleh Guru Kang. Oh yeah, Koo Junhoe yang sedang berbaring.
Lagi-lagi Koo Junhoe.
Selalu Koo Junhoe.
.
.
.
~oOo0oOo~
.
.
.
"Singkirkan tanganmu atau kupatahkan agar seperti yang satunya."
Junhoe menarik tangan kirinya dari bahu Yunhyeong. Sial, galak sekali dia. Dalam hatinya ia meruntuk tidak terima. Ia sedang sakit, masih saja kena ancaman kejam seperti itu.
"Aku kan sedang sakit." Junhoe mencibir. "Apa kau tidak bisa lembut sedikit pada orang yang sedang sakit?"
Yunhyeong malah menyinisinya.
"Permisi, yang sakit itu tangan mu, bukan kakimu. Kurasa kau bisa berjalan dengan baik."
Yunhyeong pun melangkah lebih maju mendahuluinya.
"Sekarang yang sakit adalah hatiku, kau tahu?" gerutunya pelan. Seperti seorang anak kecil.
Kedua nya pun berjalan beriringan hingga halte bus terdekat sudah mulai terlihat. Yunhyeong yang berjalan di depan kembali menoleh karena orang di belakang nya sangat lambat. "Apa kau siput?"
Junhoe tidak terima.
"Aku bisa jatuh jika cepat-cepat, aku bahkan tidak sempat menalikan tali sepatuku!"
Yunhyeong menyilangkan tangan nya di dada. Ia menghela nafas berat. Jarak mereka yang lumayan jauh mulai berkurang karena Yunhyeong masih tidak bergeming. Menunggu si siput Junhoe, mungkin?
Setelah jarak keduanya sudah mulai dekat, barulah Yunhyeong membuat gerakan pertama nya dengan melangkah lebih maju menghampiri pria Koo itu. Ia memandang nya barang sejenak. "Kau sangat ahli menyusahkan orang." Hanya untuk mengejeknya.
Setelahnya, Tinggi badan keduanya yang memang kontras menjadi semakin jauh karena Yunhyeong memilih untuk membungkuk. Apa ini de'javu? Tali-tali panjang yang menjuntai pada sepatu hitam seorang Koo Junhoe pun mulai menari. Membentuk lilitan kesana dan kemari dan akhirnya menghasilkan sebuah simpul yang err... sedikit random dan tidak jelas. Tapi masih bisa di bilang sebuah pita, untungnya.
"Ckck, kau bahkan tidak dapat menalikan nya dengan benar."
Bahkan setelah kerja keras itu, hanya sebuah ejekan yang Yunhyeong terima. Terkadang, ia rasa ia perlu meninju anak itu agar sedikit tahu diri.
"Aku tidak pandai mengikat tali sepatu." Yunhyeong memiringkan wajahnya bingung akan simpul pada sepatu kiri jauh berbeda dengan yang kanan. Tapi masih menghasilkan sebuah lipatan pita di akhir. "Yak, apa kau fikir aku belajar selama ini hanya untuk mengikat tali sepatu dengan rapi?"
Junhoe tersenyum kecil. Ia tidak bisa menahan lengkungan pada wajahnya ketika melihat yang lebih tua menggerutu tidak jelas. Tentu ia akan tersenyum lebih lebar, jika saja ia tidak sedang terluka.
"Apa menginkatnya dengan rapi adalah sebuah kewajiban?!" Yunhyeong lantas berdiri sesaat setelah selesai menyimpul kedua tali sepatu tersebut. Bibirnya maju beberapa senti tanpa di ketahui siapapun, entah apa alasan nya. Ia menatap Junhoe seperti ingin melubangi wajah anak itu. "Seharusnya kau berterimakasih, bocah!"
"Terimakasih."
Ini memang rasanya sedikit aneh. Saat Junhoe bicara, ia di katai tidak tahu diri. Saat Junhoe diam pria tinggi itu di katai siput. Bahkan saat sudah berterimakasih seperti yang di minta, Yunhyeong masih memandangnya dengan pancaran sinar laser imajiner. Sial, Junhoe salah apa sih pada kakak kelas yang satu itu?
Batin Junhoe nelangsa.
Keduanya terdiam tepat di tempat pemberhentian bus. Menunggu ada satu bus yang berhenti di sana. Tak butuh waktu lama, benda beroda empat itu pun terlihat. Memakirkan diri di hadapan Yunhyeong, Junhoe dan para penumpang lain nya.
Keduanya bersama-sama menaiki bus. Jika biasanya, Yunhyeong hanya akan duduk sendirian di kursi bagian belakang –bukan yang paling belakang, maka kali ini seseorang mengisi kursi kosong di sebelahnya. Jika biasanya Yunhyeong akan duduk diam tanpa bergerak dengan musik yang mangalun terpasang melalui earphone yang menggantung indah di telinganya, maka kali ini sedikit berbeda, ada seseorang yang menarik paksa benda putih panjang itu.
Eh?
"ck, masalah mu itu apasih?"
Junhoe menggenggam earphone milik Yunhyeong di tangan nya, tersenyum menjengkelkan sebelum ia memasukan benda itu ke dalam saku jas sekolahnya. Ia menoleh pada Yunhyeong yang sedang merengut menatap jendela. Yunhyeong tidak mengutuknya, entah kenapa Junhoe malah jadi tersenyum. "Tidak baik mendengarkan eaphone saat seseorang ada di sebelahmu."
Pria Song itu menoleh. Matanya mengitari sekitar, seperti mencari sesuatu. "Aku tidak merasa ada seseorang di sebelahku." Barulah Junhoe faham, Yunhyeong sedang dalam gaya merajuk nya.
"Lalu sekarang kau sedang bicara dengan siapa?"
Yunhyeong mendengus. "Seperti ada yang bicara."
Junhoe terkekeh. Entah mengapa bagian Yunhyeong yang seperti itu terlihat sedikit lucu dan kekanakan untuk ukuran anak seperti dirinya. Tapi setelahnya, keduanya kembali terdiam dalam keheningan yang menjebak. Kali ini dalam waktu yang lumayan lama. Junhoe pun memaksa otaknya untuk berfikir, bagaimana caranya mengajak Yunhyeong bicara. Junhoe menyenggol lengan milik pria Song itu pelan. "Hey, masalah tadi siang-"
"Apakah kau baik-baik saja?" Wow, Junhoe tidak tahu jika Yunhyeong akan menoleh padanya dan memberikan respon secepat itu. Lumayan juga. "Itu, masalah itu, kau tidak melukai orang lain kan? Aku yakin sih tidak, ah sudahlah. Apa lenganmu sudah baik?"
Junhoe tersenyum mendengarnya. "Apa kau mengkhawatirkanku?"
Yunhyeong mengangkat tanganya dan mengeplak belakang kepala Junhoe, membuat yang menjadi korban mengaduh kesakitan. "Tidak bisakah jangan memukul dan hanya menjawabnya?!" catat, Junhoe sedang sakit. Mangkanya ia jadi sedikit sensitif.
"Aku tidak melawan, jadi kurasa tidak ada yang terluka." Tutur Junhoe. Yunhyeong terlihat menghela nafas lega. "Tapi jika aku melawan mereka semua pasti akan mati di tanganku!"
Tatapan masa bodoh dan tidak percaya di tujukan Yunhyeong padanya. Yunhyeong segera menoleh ke jendela dan mengabaikanya lagi. Junhoe pun segera mencari topik baru.
"Oy, Song Yunhyeong!"
"Wae?" Terdengar suara Yunhyeong sedikit melemah. Junhoe mengeryit heran. Ia mencondongkan kepalanya agar ia tahu apa yang sedang Yunhyeong lakukan. Tak butuh waktu lama bagi Junhoe untuk menyadari bahwa pria Song itu nyaris menutup matanya. Junhoe tidak sadar, bahwa saat itu wajahnya sendiri membentuk sebuah lengkung senyuman.
"Yunhyeong?" Junhoe mencoba memastikan apa pria itu masih menjawabnya atau tidak. Tak butuh waktu lama hingga Junhoe sadar akan hembusan nafas yang tenang berasal dari sisi kananya. Junhoe tidak dapat memikirkan hal lain saat itu, selain tersenyum senang dan menyentuh kepala Yunhyeong dan membawa pria itu untuk terlelap di bahunya. Bukan kah dalam drama selalu seperti itu?
Tapi... kan,
"Akh!"
Bukankah bahunya sedang sakit saat ini?
Terkejut. Pria Koo itu hampir saja menjatuhkan kepala Yunhyeong ke belakang. Untung saja, masih untung... punggung nya menahan nya. Junhoe pun hanya bisa terdiam. Ia takut sedikit gerakan saja akan membangunkan Yunhyeong dari tidur manisnya.
Keduanya terjebak dalam keheningan yang tidak nyaman –bagi Junhoe tentu saja. Yunhyeong masih memejamkan matanya dengan tenang berserta angin yang entah sejak kapan berhilir membuai mereka dalam ketenangan, dan Junhoe masih memikirkan sesuatu yang entah memikirkan apa. Mungkin apa yang harus ia lakukan jika setelah tanganya, maka punggungnya pun akan cedera karena menahan beban yang lumayan berat dalam waktu yang lumayan lama.
Jika ada yang tak sengaja melihat keduanya, mungkin mereka tidak akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Tapi berfikir bahwa Junhoe adalah orang bodoh yang membiarkan seseorang terlelap di punggungnya.
Waktu berlalu begitu lambat. Tak dapat di pungkiri bahwa selama perjalanan itu Junhoe hampir saja menangis. Bus akan segera berhenti ketika sampai di halte yang letaknya beberapa meter lagi. Junhoe masih membiarkan Yunhyeong tertidur di punggung nya yang membungkuk. Semakin dekat pada tujuan, semakin membuatnya jadi bingung harus bagaimana. Awalnya, Junhoe ingin membangunkan putra tidur ini pelan-pelan, tapi hal yang membuatnya kaget adalah mata terpejam itu sudah lebih dulu terbuka.
"K-kau bangun?"
Junhoe tahu Yunhyeong juga terkejut, hanya anak itu tidak terlalu menunjukanya. Yunhyeong berdeham dan melihat jendela di kanan nya dan segera merapikan pakaian. Pria Song itupun menyandang tas nya dan berlalu dari hadapan Junhoe. Membuat Junhoe yang awalnya sudah berniat ikut bangun, membeku sesaat setelah bokongnya terangkat. Keram dadakan di pinggang nya bahkan kini ikut membunuhnya.
"Sedang apa kau?" posisi Junhoe yang membungkuk aneh di kursi membuahkan pertanyaan tersendiri bagi Yunhyeong. Junhoe pun berakhir dengan memasang wajah ingin menangis.
Yunhyeong turun lebih dulu, diikuti Koo Junhoe di belakangnya. Setelah sampai di pemberhentian bus, besar nya tubuh bus menghalangi keduanya. Setelag beberapa saat dan bus kembali melaju, terlihat mereka sedang terduduk di kursi yang ada.
Junhoe berada di depan Yunhyeong dengan duduk sedikit menyamping, begitu pula Yunhyeong di belakangnya.
"Kenapa pula kau sampai keram segala?" Yunhyeong memukul-mukul punggung Junhoe karena saat di bus tadi, bocah itu bilang ia terkena keram. "Sudah baikan?"
Junhoe menegakan tubuhnya.
"Ya. Sudah tidak sakit."
Yunhyeong menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
"Kau orang pertama yang ku tahu merasa keram ketika akan turun dari bus. Ckck, dasar bodoh."
Selamat Koo Junhoe, selamat menertawakan nasibmu yang memang malang. Orang yang membuatmu keram justru mengataimu bodoh, entah mengapa rasanya sedikit perih.
Keduanya kembali berjalan setelah Junhoe selesai dengan urusan keram pinggang nya. Kali ini mereka berjalan bedampingan. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Itulah mengapa Yunhyeong memasukan tanganya ke dalam saku.
"Omong-omong, kau tidak pernah mengatakan kalau rumah kita searah."
Yunhyeong memecah keheningan. Sebenarnya, sejak awal ada yang janggal di sana. Hanya saja Yunhyeong malas menerka apa itu.
Junhoe berjalan dalam diam. Benar-benar diam kali ini, tidak seperti biasanya. Entah bagaimana sebuah firasat mengatakan ada yang tidak beres di sana.
"Rumah mu ke arah mana?" Yunhyeong bertanya karena satu kali belokan lagi, akan sampai pada rumah keluarga Song. Jadi, ia harus memastikan kemana arah rumah Junhoe. Bagaimanapun, ia sudah berjanji pada guru Kang untuk mengantar anak ini pulang. "Hey, Koo Junhoe!"
Junhoe terkesiap.
"Y-ya?"
Alis Yunhyeong bertaut.
"Ke arah mana rumahmu, bodoh?"
Junhoe membeku lagi. Anak itu menghadap ke arah Yunhyeong dan menggaruk tengkuk nya menggunakan tangan kiri. Bola matanya mengedar ke segala arah. Membuat orang lain jadi bingung.
"Sebenarnya..."
"Sebenarnya?"
"Aku.."
"Kau?"
"Aku tidak.."
"Tidak?"
Junhoe meneguk air liurnya susah payah. Ia memejamkan matanya dan membulatkan tekadnya untuk bicara.
"Aku tidak tinggal di sini! Aku hanya mengikutimu ke sini!"
Anak itu mengintip, membuka matanya, dan memandang takut Yunhyeong yang sedang membeku di hadapanya.
"Itu, rumahku-
Aish, Junhoe meruntuk dalam hati.
-sebenarnya, untuk ke rumahku tidak perlu menaiki bus."
.
.
"Rumahku dekat sekolah."
.
.
.
TBC
.
.
.
HAHAHAHA 1 BULAAAN, i'm sorry for all viewers, also reviewers, honestly i completed this chapter for a long time ago but i have no confidence to post it T.T this chapter so absurd and i lost my feel, sorry. No more words needed.
Last, mind to (still) review... please?
with love.
