SIGNAL

.

.

.

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Author – Maji D'Tenshi

.

.

.

OOC, TYPO, BAD EYD and etc.

AU

.

.

.


Kuroko : Un, halo semua *berojigi* Selamat datang. Jika kalian sedang membaca fic ini berarti mungkin Anda semua sedang tersesat dan tak tau arah jalan pulang. *flat face* jika itu terjadi harap segera mencari tombol BACK.

Ehem begini… karena keberuntungan yang sangat baik mungkin karena sedang imlek dan menurut beberapa kepercayaan itu artinya banyak berkah jadi author kami memutuskan untuk melanjutkan fic ini. Dikarenakan kemarin terdapat keterbatasan ide dan dana juga jadi fic ini terpaksa harus di 'fin'kan dengan terhormat.

Ya walau hampir semua ficnya cuma OneShoot sih ya, jadi harap maklum.

Akashi : Yang masalah dana tak harus kau beri tau juga kan Tetsuya *sweetdrop*

Ah ngomong-ngomong soal dana, kami akan sangat berterima kasih jika pembaca semua mau menyumbang suara *smile* ada filusuf yang menyatakan sebesar apapun perbuatan tak ada yang mampu mengalahkan satu ucapan baik yang terlontar dari bibir manusia.

Kuroko : Kita seolah jadi peminta-minta Akashi-kun.

Akashi : Eh benarkah? Tapi kan… SEORANG AKASHI BUKAN PENGEMIS CINTA NANODAYO~ *pundung*

Kuroko : Maaf Akashi-kun sedang sakit otaknya jadi mohon dimaklumi. *lirik Akashi*

Akashi : Apa maksut mu!

Lagi pula untuk apa sebenarnya kita bicara ngalor-ngidul begini sih? Kita tidak dibayar untuk ini!

Kuroko : Sebenarnya kita bahkan tidak dibayar sepeserpun Akashi-kun dan mungkin ini semacam intermezzo karena authornya sedang bermalas-malasan.

Akashi : *melirik auhor yang sedang asik makan kripik*

Author : Aku takkan pernah membaginya dengan mu! *siap-siap golok*

Akashi : *sweetdrop*

Kuroko : Sebaiknya kita beri tau mereka tentang fic ini Akashi-kun.

Akashi : Eh kenapa?

Koroko : Aku takut mereka salah paham. Fic ini –katanya- tentang kita tapi isinya tidak menceritakan tentang kita *mewek*

Akashi : Kau harus tabah Tetsuya, ini adalah cobaan yang dibuat oleh author untuk membuktikan kuatnya cinta kita. *peluk Kuroko*

Furihata : *masuk panggung* TUNGGU DULU!

Apa-apaan ini! Jangan karena aku datangnya belakangan dalam hidup Akashi-san, Akashi-san jadi berbuat begitu pada ku *mata memerah menahan tangis* *memisahkan Akashi dan Kuroko*

Kuroko : Akashi-kun~ *tangan terulur pada Akashi*

Akashi : Tetsuya~ *tangan terulur pada Kuroko namun dengan cepat ditarik Furihata dan dikalungkan ke lehernya*

Furihata : Kau sudah punya aku Akashi-san. Tolong jangan lihat yang lain. *menatap Akashi dengan mata yang berkaca-kaca*

Akashi : Ta-tapi… *Furihata meletakkan telunjuknya dibibir Akashi*

Furihata : Tak ada 'tapi' Akashi-san, hanya ada Akashi-san dan aku saja.

Kuroko : Fantastic! *tepuk tangan sambil menyeka air mata dengan tisu*

Furihata : Te-he~

Akashi : *pundung* jadi semuanya hanya hiburan semata. Tak ada yang namanya aku diperebutkan seperti disinetron-sinetron Indonesia itu? Kejam! *mewek*

Hyuga :Bisakah kalian segera mulai saja ficnya? Kalian memotong terlalu lama untuk intermezzo fic gak jelas ini! DURASI WOI! DURASI! *pegang kapak*

AkaKuroFuri : KABORRRR~


.

.

.


Aku menatap pria didepan ku sungkan. Semenjak acara berdebatan kami yang ditayangkan secara live action diseluruh dunia via MakTube oleh salah satu teman kuliah ku, aku jadi lebih banyak menghindarinya. Dan harusnya saat ini pun sama jika saja tadi aku tidak terpeleset oleh kulit pisang punya Gorilla-sensei dari anime sebelah.

Tangan kanan ku bergetar sementara tangan kiri ku tengah asik memegang sesuatu yang besar.

Pria bermata belang itu menatap ku tajam penuh intimidasi seolah mengatakan "lakukan tugas mu dengan baik atau kau akan mendapatkan azab yang pedih!' aku mengangguk singkat.

Tangan kanan ku segera menyentuh sebuah tombol, dengan takut-takut segera ku bidik kamera mini ku kesasaran.

Rambut biru dan merah yang berada cukup jauh dari ku adalah targetnya.

.

.

.

"Bagus-bagus~ semuanya sesuai dengan harapan ku. Kau memang yang terbaik Tetsuya-kun."

Senyum manisnya tak terasa manis dimata ku. Aku hanya diam saat dia memuji ku.

Mata biru muda ku melirik kearah tumpukkan foto yang baru saja selesai dicetak tadi. Tampak dua orang pemuda bertubuh bongsor disana sedang saling adu mulut memperebutkan makanan.

Yang satu berambt biru tua dan berkulit dim sementara yang satunya berambut ombre merah-hitam dan berkulit putih kemerahan yang cerah dan bersinar seperti janji p0n'5.

"Untuk apa semua ini Sensei/Senpai?" inginnya sih aku bertanya begitu namun ku urungkan karena aku tak mau terlihat perduli.

"Mereka itu harta karun Tetsuya-kun. Mereka adalah inspirasi bagi ku." Matanya terlihat bercahaya sehingga aku harus menutup kedua mata ku sejenak karena silau. Ehem bercanda, dia bukan guru Gay maupun Saitama. Ia Cuma Akashi Seijurou yang kilauan giginya bisa membuat mu menyipitkan mata. Baik, yang itu aku juga bercanda.

Jika ku lihat semua karyanya sih memang benar, semuanya seolah mencontoh dari kehidupan nyata. Awalnya aku memujanya tapi sekarang rasa itu agak luntur. Terutama melihat dia yang terlalu terobsesi menyatukan mereka. Dua orang mahasiswa tahun pertama seperti ku yang terlihat mirip dengan chara Aho-Baka namun diversi nyata.

Sekarang aku tau mengapa dia sangat suka menghukum mereka bersama. Agar bumbu-bumbu cinta diantara mereka dapat tercipta. Aku sedikit merinding memikirkannya.

Aku mencintai hobi ku sepenuh hati. Namun aku merasa aku tak segila itu untuk mengorbankan mereka dan menjadikan mereka objek fantasi ku. Mungkin karena aku tak punya wewenang sepertinya. Hem…mungkin~

"Sensei-"

"Senpai saja Tetsuya-kun, jika sedang tidak kegiatan belajar atau Akashi-san? Itu terdengar bagus namun aku akan lebih menghargai jika kau mau menaggil ku Onii-chan! Itu tampak sangat imut aku yakin itu!" koarnya bahagia.

"Bodoh!"

Tubuh ku dirangkulnya sambil surai ku diacaknya singkat.

"Senang kau kembali seperti semula." Aku diam nampaknya aku tau maksudnya.

.

.

.

Aku menyikat kamar mandi tempat kost ku tanpa tenaga. Ya energy kehidupan ku sudah habis diambil malaikat maut bernama AKASHI SEIJUROU yang katanya terhormat dan blablablabla dan pasti membuat kepala pening jika dijabarkan satu-satu.

Tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin dimajibu. Dua sosok tubuh yang sangat ku kenal tengah saling adu mulut dalam kecepatan super untuk menghabiskan gunungan burger didepannya.

Biji mata ku yang besar menatap mereka kagum. Ku akui perbuatan Akashi-san yang cenderung memaksakan keinginannya memang salah tapi tak ada salahnya jika aku juga menikmati bukan.

Aku berharap yang duduk disebelahnya adalah aku. Maksud ku pasti sangat menyenangkan jika kami saling berbagi burger. Bisa kubayangkan saat aku menyeruput vanilla shake ku dia dengan wajah tak rela namun perhatian memberi ku satu bungkus burgernya.

Ah benar-benar romantic rasanya.

Namun itu hanya hayalan ku saja. pada akhirnya Kagami-kun dan Aomine-kun pergi dari Majibu setelah acara lomba makan mereka berakhir seri. Dan hayalan ku hanya akan jadi mimpi disiang bolong yang ku harap dapat terwujud.

Kagami Taiga adalah seorang mahasiswa juga seperti ku dan satu angkatan dengan ku. Masih smester satu di Universitas Tokyo dia mengambil jurusan Kuliner, mungkin karena hobi makannya.

Lahir dan besar di Negara Adidaya, berkuliah di Jepang karena mendapat Beasiswa. Dari yang ku dengar dia sering memenangkan perlombaan masak-memasak sekala Nasional maupun Internasional. Mulai dari makanan pembuka, penutup sampai kue ulang tahun bisa dibuatnya. Bahasa Jepangnya sangat buruk dan bahasa Inggris –formal-nya hanya rata-rata. Hobinya adalah berselancar. Mirip dengan character kesukaan ku, bedanya rambut Bakagami-ku tidak ombre namun berwarna merah maroon dan alisnya tidak bercabang selain itu Bakagami-ku dulunya tinggal di Jepang lalu ke Amerika saat SMA.

Beda lagi dengan Aomine-kun, dia asli orang Jepang walau kulitnya tidak meyakinkan. Sampai sini cukup mirip dengan Ahomine-kun namun sikapnya yang seperti penjahat kelamin itu beda jauh dengan Ahomine-kun. Selain itu Ahomine-kun tidak segosong itu dan rambutnya Ahomine-kun berwarna biru bukan biru tua.

Aku mendesah kecewa saat sadar mengapa bukan aku yang menjadi orang pertama yang mengenal Kagami-kun mengapa harus Aomine-kun.

Andai saja itu aku.

Kami bertemu dilapangan basket saat ku lihat dia sedang bermain sendirian, kemudian dengan percaya diri ku tantang dia bertanding walau aku tau aku akan kalah. Saat itulah aku bicara jika aku ingin dekat uhuk maksut ku ingin menjadi bayangannya.

Ah~

Itu pasti sangat romantic sekali.

Ku tutupi wajah ku yang tiba-tiba memanas. Kagami-kun maupun Bakagami-ku sama saja. Selalu bisa membuat ku merona.

"A-ano…Ku...roko?"

Ku dengar sebuah suara bernada khawatir memanggil ku.

Segera saja ku turunkan tangan ku dari wajah. Dapat ku lihat Ogiwara-kun yang menatap ku dengan tatapan tidak percaya. Wajah putihnya yang biasanya terlihat tersenyum cerah sekarang tampak horror. Bibir yang sering bicara tanpa henti itu terdiam dan bergetar.

Aku yang tak mengerti hanya diam sambil menatap Ogiwara-kun intens. Bukan karena aku berharap dia akan berlari kearah ku sambil memelukku erat diiringi tabuhan gendang dan music India. Hanya saja aku merasa jika ada yang janggal.

Lama tak mendengar suaranya aku pun berinisiatif bertanya, "Ada apa Ogiwara-kun?" dan itulah awal dari teriakkan super memekakkan telinga miliknya dimulai.

.

.

.

"Kau sedang sakit Tetsuya-kun? Mengapa tidak memberi tau ku? Aku bisa menjengkuk mu sambil membawa beberapa buah-buahan atau mengizinkan mu agar tidak kuliah hari ini."

aku hanya diam ditanya oleh Akashi-sensei –ingat jika kami sedang dalam kegiatan belajar-mengajar harus bersikap formal- kepala ku terasa pening. Jam dikantin sudah menunjukkan pukul 12 siang, dan kepala ku semakin sakit. Mungkin harusnya aku tadi pergi ke perpustakaan saja bukan ke kantin.

Kami duduk saling membelakangi. Dapat ku rasakan dipunggung ku adanya hawa panas yang menggelora. Dari mana lagi jika bukan berasal dari punggung Akashi Seijurou yang –masih- terhormat –katanya-.

"Sepertinya kau benar-benar sakit Tetsuya-kun, sebaiknya kau pulang saja nanti biar aku izinkan." Dapat ku rasakan dia berdiri dari kursinya untuk kemudian berjalan menjauh.

Aku masih diam dikursi ku sambil menatap novel dimeja ku. Biasanya aku selalu bersemangat namun sekarang? Ah sudah lah~

Mungkin benar kata Akashi-sensei lebih baik aku pulang.

.

.

.

Perjalanan pulang ku tak seindah biasanya, aku tak tau mengapa dan rasanya tak ingin tau mengapa. Kepala ku terasa berputar dan semua yang ku lihat seolah ilusi yang hilang-nampak dimata ku.

Untung saja aku dapat pulang ke tempat kost ku dengan selamat jaya sentosa.

Dan sekarang aku sudah tertidur cantik diatas kasur ku dengan harapan besar pangeran Bakagami-ku akan datang pada ku dengan menaiki kuda poni. Kenapa harus kuda poni? Karena itu lucu. Bagi ku.

Ku raih ponsel ku diatas nakas. Dengan perlahan segera ku pencet beberapa kombinasi tombol untuk memainkan ponsel ku.

Yang pertama ku jelajah adalah akun sosmed ku sebelum beralih keakun lain yang bejibun.

Ya aku suka menggambar dan memfoto. Dulu semasa SMA aku pernah mengikuti ekstra kulikuler Photografi dan Drawing-panel selain itu aku cukup pandai dalam mengedit dan bermain warna, karena aku juga pernah mengikuti kursus Painting Simulator beberapa bulan walau akhirnya harus putus ditengah jalan karena kesibukkan yang tak terbendung.

Seingat ku tadi pagi aku sedang membersihkan toilet sambil mencari ilham untuk karya ku berikutnya. Ya, beberapa orang diluar sana menyatakan jika kamar mandi adalah tempat yang paling memungkinkan untuk mencari ide-ide yang brilliant. Selain itu kamar mandi dikatakan dapat membantu mu mengingat sesuatu, ku harap apapun itu bukan kenangan mantan.

Akhir-akhir ini memang tugas ku cukup padat dan hampir dikejar deadline, sebut saja menjadi translator. Ok itu bukanlah tugas kuliah, namun itu adalah tugas yang dapat membuat angka '0' direkening ku bertambah.

Menjadi mahasiwa tidak seindah diTV-TV kawan. Tak ada namanya habis datang terus kau bisa langsung pergi kecuali kau mau mendapat point –bad point- atau kau tiba-tiba menabrak seorang gadis cantik nan sempurna yang ternyata idola sekolah dan menyelamatkannya saat dia akan jatuh kemudian dia jatuh cinta pada mu.

Ini dunia nyata bung! Dunia dimana jika kau makan direstoran hal pertama yang kau kritik adalah harga makanannya dan bukannya pelayanannya.

Aku mendesah kecewa saat tak melihat apapun yang baru dari ponsel ku. Mungkin aku harus bersafari saat malam minggu saja.

Kau pernah dengar? Sebuah kata bijak yang tak bijak juga sih yang mengatakan 'Malming adalah masanya pada JONES berkreasi' walau ada beberapa yang memutuskan untuk tidur lebih awal setelah memasang status 'berkencan' padahal tidak. Agar dianggap tidak sendirian mungkin.

Hey kenapa harus malu sendiri? Yang harusnya malu kan mereka yang berdua-duaan sampai akhirnya membuat seorang gadis jadi berbadan dua. Benarkan?

Ya itu hal lain dan mari jangan bahas itu kepala ku jadi tambah pusing karenanya.

'Kuroko!'

Kembali ku ambil ponsel ku saat kudengar suara Bakagami-ku yang ku pasang khusus sebagai pengingat pesan berbunyi. Dijaman yang serbah canggih seperti ini apa sih yang tidak mungkin. Dengan sedikit sampel suara dari Yuuki Ono aku dapat membuat berbagai suara Bakagami-ku. Mulai dari memanggil ku sampai mendesah dibawah ku. Ok yang ini mungkin tidak, tapi percayalah suaranya sangat sexy bagi ku. Tapi tak akan ku komersialkan, tentu saja!

From : Akashi-san

Hei bagaimana keadaan mu? Sudah mendingan? Aku ingin menjenguk mu sebenarnya, namun apa daya aku ada pekerjaan yang tak dapat ku tunda maupun ku serahkan pada orang lain.

Kau tau disaat-saat seperti ini aku berharap bisa jadi seorang 'pengangguran' seperti yang biasa kau katakan pada ku.

Semoga cepat sembuh

Aku terkikik najis melihat pesan darinya, antara senang karena sebagai seorang Sensei yang kejamnya sama bahkan lebih parah dari Hitler dia masih mau tau kabar ku dan miris karena akhirnya dia sadar jika dia lebih pantas jadi pengangguran. Kenapa bukan dari dulu saja.

Ku abaikan pesan darinya. Peduli setan dia khawatir disana. Itu akan lebih baik biar dia tidak focus saat menyetir lalu kecelakaan dan mati deh.

Err~ itu terlihat kejam. Baik aku ganti agar dia cepat pulang lalu beristirahat saja lah.

Ku tutup mata ku perlahan sambil memeluk dakimakura Bakagami-ku yang terlihat menggoda. Kyaaaaa~ aku pasti akan mimpi indah dan jika beruntung mungkin akan mengalami Lucid Dream.


.

.

.

TBC

.

.

.


Akashi : Ehem! Thor? Kenapa chap kali ini sedikit sekali?

Author : Eto~

Kuroko : Eto itu petinggi Aogiri kan? *bicara sambil membaca manga TG*

Author : Bukan yang itu!

Akashi : Lalu yang mana? Coba jelaskan dan jangan membentak Tetsuya! Aku saja tak pernah membentaknya! Kau pikir kau siapa huh? *todongin gunting*

Author : Elak bang maapin daku tadi cuma canda ko bang canda *mewek* jangan lah diambil hati namun jika berkenan bolehlah jika saya diambil istri #eak~

Akashi : *muntah pelangi*

Kuroko : Jadi kenapa chap ini pendek sekali Author-san?

Author : Karena sekarang Imlek jadi ya~ gitu deh~

AkaKuro : *gubrak*

Akashi : Itu bukan alasan untuk mu membuat fic yang bahkan wordnya gak ada 1k!

Author : Mungkin kau benar tapi mugkin juga kau salah! Kalian terlalu menyia-nyiakan durasi diawal untuk drama gak jelas! Dan maaf saja jika hanya ini yang dapat dihasilkan otak minimalis ku *mewek*

AkaKuro : *diam*

Kuroko : Baik untuk masalah itu kami mohon maaf namun ada apa dengan judulnya? Kenapa diganti? dari 'Blue And Red Sign' menjadi 'Signal'?

Author : Ya… arena saya memutuskan jika fic ini akan berkutat pada keseharian Kuroko-kun sebagai Fudanshi yang harus hidup ditengah globalisasi dan moderenisasi yang semakin hari semakin terasa basi. *flat face*

Akashi :Wow amazing~ tak ku sangka kau bisa mengatakan hal seperti itu *tepuk tangan*

Author : Terima kasih *nangis bahagia*

Kuroko : Lalu bagaimana dengan sudut pandang fic ini thor? Kenapa hanya menggunakan sudut pandang tokoh utama pelaku utama dan bukan orang ketiga tau segalanya atau mungkin menggabungkan keduanya.

Author : Aku ingin mencoba hal yang berbeda. Apa itu masalah?

Akashi : Tidak sih hanya saja aku merasa jika aku tak dapat ikut bercerita! Aku juga mau ikutan! *ngancam author pakai gunting taman*

Author : Ahahahah etto~ *sweetdrop* jika membuat dari sudut pandang Akashi-kun yang tercipta adalah fic bergenre gore.

Akashi : *pundung*

Kuroko : Hem…benar juga sih *bertopang dagu*

Author : Ya~ semuanya harap nikmati saja apa yang ada dan seadanya ini *mewek* btw SELAMAT TAHUN BARU CHINA~

Kuroko : Dan jangan lupa kami masih kekurangan dana jadi harap beri kami dukungan dengan meninggalkan jejak.

Akashi : *bangkit dari pundung* Sampai jumpa di chap berikutnya~

Jika kami dapat cukup dana dan yang pasti ide *lirik author*

Author : *pundung*