SIGNAL

.

.

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Author – Maji D'Tenshi

.

.

OOC, TYPO, BAD EYD and etc.

AU

.

.

.


Hari ini cuasa sangat cerah jika kalian tak ingin bilang terik, langit tanpa mendung yang menampilkan betapa cerahnya cahaya sang mentari.

Kaki jenjang ku asik mengayuh sepada berwarna hitam mengkilat berlogo kuda lumping milik bapak kos ku, sebut saja Kyoshi Teppei.

Harusnya aku tidak begini sekarang, harusnya aku asik nonton anime Hotaru No Imouto atau Initial D dikamar ku, namun apa daya, aku tak kuasa…

Semua dimulai saat negara api menyerang –salah maksud ku semua dimulai saat pagi menjelang.

Aku ingat waktu itu masih pukul 8 tepat, aku sudah ganteng setelah merapikan rambut ku, aku juga sudah sikat gigi dan ganti baju, intinya aku sudah 100% siap untuk bertempur didepan layar PC dengan bersenjatakan camilan dan segelas besar milk shake.

Ya, harusnya sih begitu jika saja Kyoshi Teppei sebagai bapak kos ku tidak mengetuk –mengedor pintu kamar ku dengan kekuatan super sambil berteriak dengan segenap kekuatannya.

Demi Tuhan! Terkutuklah kau demam yang telah menyerang seongok(?) Furihata Kouki hingga dia jatuh sakit dan aku harus jadi tumbal untuk membelikannya obat di apotik.

Andai saja aku melarang Ogiwara-kun untuk main kerumah temannya dengan menawarinya video baru High Sch**l DxD yang baru kemarin ku sewa, andai saja aku ikut Kyoshi Makoto belanja di mall –walau harus berakhir dengan jadi babunya, andai saja aku ikut senam bersama di lapangan kota, andai saja….andai saja….

"Hosh…hosh…hosh…" nafas ku sudah satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh putus –salah. Pokoknya paru-paru ku sesak dan rasanya mau meledak.

Dapat kuliht dari ekor mata ku sebuah mobil bewarna merah menyala yang berhenti tepat disamping sepeda ku.

"Tetsuya?" panggil seekor(?) pria yang sering diilustrasikan dengan singa setelah dia menurunkan kaca mobilnya.

Kami…cobaan apa lagi ini…

.

.

AUTHOR POV ON

"Jadi?" tanya pria berkemeja kotak-kotak berwarna merah tua sambil menaikkan alis, sementara yang ditanya tak menjawab dan memilih untuk menyeruput vanila shakenya "Aku bertanya pada mu Tetsuya," tegasnya kala tak mendapat balasan apapun dari surai baby blue.

Yang bermata biru muda mendesah lelah sebelum bibirnya terbuka untuk berkata,"Aku lelah Akashi-san, aku lelah. Di Tokyo semua jahat-jahat, aku mau mudik saja." iris Akashi melebar saat mendengar perkataan pemuda pucat itu.

"A-apa maksud mu Tetsuya!" bentak Akashi sambil menguncang-guncang tubuh Kuroko dengan bringas.

Puluhan pasang mata yang melihat mereka dari jauh tampak menyeryitkan dahi kala melihat pria dewasa sedang menguncang-guncang tubuh seorang pemuda munggil.

"Jawab aku Tetsuya! Jawab!" bentak Akashi lebih kencang sambil semakin menguncang tubuh Kuroko.

"S-sakit, Akashi-san…"ujar Kuroko pelan dengan kepala berputar. "Ah, maaf." Akashi melepaskan tangannya dari bahu Kuroko sebelum akhirnya dia duduk kembali dikursinya.

Meja putih berisi makanan itu terlihat agak kotor karena bercak dari vanilla shake milik Kuroko yang berceceran akibat guncangan Tuan Akashi yang –katanya terhormat.

"Bisa kau katakan pada ku, apa maksud mu dengan kau mau mu-dik?" tanya Akashi penuh intimidasi.

"Hah~ Jepang bukan tempat ku Akashi-san," tutur Kuroko nelangsa. Akashi memang agak sanksi jika Kuroko merupakan produksi asli dalam negeri Jepang namun Akashi tak pernah sedikit pun berfikir jika Kuroko merupakan orang luar, melihat bagaimana fasihnya dia dalam sastra klasik Jepang tentu saja Akashi berfikir jika dia produk blasteran.

"Memang kau mau mudik kemana?" Kuroko tak menjawab selama beberapa menit sebelum akhirnya berkata, "Amerika, aku mau mudik kesana saja."

Plak

"Huweee~ sakit Akashi-san," rengek Kuroko saat kepalanya digeplak dengan sangat absolut oleh Akashi.

"Jangan ladur bocah!" sergah Akashi dengan nada jengkel, sementara yang bersangkutan hanya diam sambil bertehe-tehe ria dengan memegangi kepalanya sok polos.

"Kadang aku berfikir jika otak mu sekrupnya sudah usang Tetsuya, ganti sana," sembur Akashi jengkel.

"Oh, begitu? Yakin? Sebaiknya Akashi-san lihat dulu diri Akashi-san sendiri. Orang yang terlalu memaksakan kehendaknya pada orang lain itu yang harusnya mengganti seluruh sekrup, baut dan kabel otaknya." Akashi tersenyum, kouhainya ini memang istimewa. Diulurkannya tangannya untuk mengacak surai baby blue didepannya. "Ya, kau benar Tetsuya," ujar Akashi agak sendu.

"Kau baik Senpai?" tanya Kuroko khawatir kala melihat wajah pria didepannya terlihat melankolis.

Akashi kembali tersenyum dengan agak lebih baik "Hanya masalah hati, bukan perkara susah."

"Bukan susah berarti tidak gampang. Benar? Mau coba cerita?" tawaran Kuroko berbuah elusan kembali dikepalanya.

Kuroko memang pemuda yang beranjak menjadi pria namun bukan berarti dia sudah sepenuhnya matang menjadi dewasa. Senyum kecil dia lemparkan pada pemuda yang menatapnya.

"Hanya karena aku masih muda, tak lantas membuat ku tak punya pengalaman apapun dalam bercinta. Aku sudah pernah tidur dengan wanita, banyak wanita malah," sumbar Kuroko dengan bangga, membuat berapa pengunjung restoran itu menjauhkan anak-anak mereka.

"Ya, namun sangat disayangakan mereka semua hanya figure 2D yang cuma bisa kau tiduri dengan PC sebagai penghubung." Dan perkataan Akashi itu pun mampu membuat Kuroko pundung seketika.

"Nah, sekarang aku tanya. Kau mau kemana? Padahal cuaca sedang sepanas ini," tanya Akashi sembari mulai meminum colanya.

"Mau beli obat."

"Siapa yang sakit? Kau sakit lagi? Kukira kau sudah sembuh."

Kuroko mendegus sebelum berujar, "Furihata-kun yang sakit."

"Apa? Sakit? Sakit apa? Tanya Akashi dengan suara yang cukup kencang.

Kuroko sedikit menaikkan alis kala mendengar suara Akashi, namun dia (berusaha) tidak perduli.

"Demam."

"Kau sudah belikan obat?" tanya Akashi terlihat khawatir.

"Belum, aku tidak tau Apotiknya dimana. Sedari tadi aku hanya berputar-putar di kota terus."

"Apa? Belum? Ya, ampun Tetsuya, Furihata-kun sakit dan kau masih bisa setenang ini menyeruput vanilla sahke mu?" geram Akashi.

"Aku capek Akashi-san, jadi aku mau istirahat sebentar. GPS ku mati jadi aku tidak tau lokasi Apotik dimata," bela Kuroko dengan intonasi yang ditinggikan.

"Tch, biar kubelikan. Kau pulang saja," putus Akashi sambil berlalu.

'Dia itu…kenapa sih?' tanya Kuroko dalam hati setengah jengkel sambil memandang punggung Akashi yang menjauh.

AUTHOR POV OFF

.

.

Aku masih asik didalam Majibu sembari menikmati makanan dan minuman ku dengan riang gembira. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak melakukannya mengingat jika Akashi-san sudah menghendel semuanya untuk ku….tidak untuk Furihata-kun.

Ah, kalian belum aku ceritakan ya jika kami satu kos. Ya, mohon maklum saja, dia baru pindah beberapa minggu lalu, lagi pula dia hanya figuran yang numpang lewat saja kan. Jangan terlalu dipermasalahkan.

Ku nikmati cairan putih yang mengalir ditenggorokan ku dengan tenang sebelum iris ku membulat dengan sempurna.

"Kita duduk dimana nih? Semua penuh" yang remang bertanya dengan dahi berkerut.

"Disana saja, dekat jendela," Jawab yang berkulit kemerahan sembari menunjuk tempat disamping ku.

"Ok," sahut semangat yang berambut biru tua.

Aku diam.

Tak bergerak seinchi pun dari tempat ku berada.

Mata ku membulat, melotot dan dapat kurasakan seolah hampir keluar dari rongganya.

'Kyaaaaaahhhhh~ Kagami-kyuuuunnnnn~' teriak ku dalam hati saat ku lihat dari ekor mata ku Aomine dan Kagami-ku berjalan melewati ku –begitu saja.

Dapat ku cium wangi parfum beraroma apel dari tubuhnya.

'Oh-god! He smell is so damt sext!' jerit ku kembali dalam hati.

Ah~ melumer diri ini bang~

Ku lirik takut-takut Kagami-ku.

'Kyaaaaaaaa~ senyumnya~' dan aku pun kehabisan darah ditempat.

Catatan Kuroko Tetsuya : Majibu memang selalu indah namun akan tampak lebih menakjubkan jika ada 'Kagami-ku' dan 'senyumannya' yang menawan.

.

.

"Aku pulang." Teriak ku dengan semangat membara setelah mendapat asupan yang bergizi tinggi.

"Oh kau sudah pu- huwaaaaaaahhh~ Tetsuya? Ka-ka-kau kenapa? Hidung itu kenapa?" Kyoshi Makato segera menghampiri ku sebelum kemudian tangan ku ditariknya dengan kekuatan penuh kearah dapur.

"Duduk disana, akan ku obati kau," ujarnya.

"Aku baik-baik saja Makato-san," ujar ku, mencoba menenangkan wanita berambut hitam sepunggung dengan alis unik tersebut.

"Tidak apa-apa? Bagaimana bisa huh? Coba lihat hidung mu! disumpal tisu dua-duanya, dan kau bilang kau baik-baik saja? lelucon macam apa itu!" sentaknya sebelum mulai mengeluarkan banyak obat dari dalam lemari P3K.

Ah, ah~

Aku akan terjebak disini dulu sebelum kembali ke kamar ku.

Aku akan menunggu lagi untuk melihat kaset sewaan ku. Menyebalkan…

.

.

"Oh, kau sudah pulang. Sudah selesai beristirahatnya?" tanya sebuah suara gaib pada ku saat tangan putih mulus tanpa cacat milik ku hendak memutar knop pintu kos ku.

"Ya," sahut ku singkat sembari memutar knop pintu kamar ku, sebelum akhirnya aku masuk kedalam kamar ku.

"Tidak sopan sekali kau Tetsuya," sentaknya ikut masuk kekamar ku.

"Kau itu kenapa sih Akashi-san? Dari tadi emosi mulu! Sudah deh, mood ku sedang baik-baiknya sekarang," sergah ku lelah sembari mencolokkan ponsel pintar ku pada carger.

"Kau itu yang kenapa! Teman mu sakit dan kau santai saja, sok innocent," Makinya pada ku.

Aku memutar mata jengah, siapa dia, siapa aku coba? Sok sekali makhluk didepan ku ini.

"Oh, coba lihat. Ada pahlawan kesiangan yang mencoba sok seperti S*itama-sensei yang budiman, padahal dia adalah seorang pencerca yang handal dikelas," balasku padanya dengan sengit. Dapat kulihat jika dia agak kaget aku bicara begitu padanya, namun tak lama kemudian dia diam dan duduk diatas kasur ku.

Aku memilih untuk berjalan kearah kursi belajar ku, mengambil sketh book dan mulai mengambar Aomine-kun dan Kagami-ku yang yang tadi berdiri didepan count makan saat mereka kebinggungan mencari tempat duduk tadi.

"Kau mengabaikan ku, Tetsuya?" tanyanya sendu.

"Kau ingin diperhatikan yang bagaimana Akashi-san?" tak ada balasan darinya.

Aku mendesah lelah sebelum aku menghentikan kegiatan ku dalam menggambar dan berujar, "Jika kau mau, kemarilah, duduk dipangkuan ku." Aku memutar kurisku kemudian menepuk-nepuk paha ku sambil menatapnya.

Buag

"Apa yang kau lakukan!" sentak ku setelah aku ditimpuk dengan bantal.

"Dasar mesum! Harusnya aku yang bilang begitu! Aku lebih tua dari mu ingat!" aku memutar bola mata ku sebelum memngamankan bantal ku dan kembali melanjutkan acara menggambar ku.

"Lagi pula, aku sama sekali tidak tertarik dengan milik orang."

"Ya, andai saja kau lebih tua," ujarnya dengan nada lelah.

Dapat kudengar dia menidurkan tubuhnya diranjang ku.

Huft, aku harus ganti seprai. Bau minyak wanginya akan membekas dan aku tak suka. Terlalu laki untuk ukuran seorang 'uke'.

Kenapa? Kalian tak percaya?

Ya mengingat bertapa sadisnya dia, tentu saja banyak orang yang mengira dia 'seme', namun percayalah readers jika Author dan aku 100% yakin jika dia 'uke'.

Walau belum ada bukti yang otentik di fic ini.

"Percintaan orang dewasa itu rumit Tetsuya."

Aku diam, tangan ku berhenti bergerak. Ah, aku menshading terlalu gelap dibagian yang sebelah kiri.

"Tetsuya, aku sedang cerita! Dengerin kek!"

"Iya-ia aku dengar," sahut ku sembari mencari penghapus ku.

Aduh, jatuh dimana pula itu ½ nyawa ku.

"Tch, kau menyebalkan seperti Hiro."

Ah?

Yatta akhirnya ketemu.

"Hiro? Pahlawan yang mana itu?"

"Dia bukan pahlawan, dia… mantan ku."

Ctak

Yabe~ pensil ku patah.

"Oh, mantan. Gagal move on ya," cela ku tanpa sadar.

Buag

"Aku gak gagal move on bodoh! Aku cuma belum move on!" kali ini aku terselamatkan dari lemparan guling berkat penyerut ku yang ku taruh dilaci paling bawah.

"Aaaaarhhhh…menyebalkan!" makinya frustasi.

"Bilang saja tidak bisa move on," sengak ku.

"Aku cuma berfikir jika aku belum butuh move on saja Tetsuya," geramnya pada ku.

Aku tertawa sebelum berujar padanya, "Kau hanya tak tau harus mulai dari mana Senpai."

Tak ada sahutan, dan aku tak perduli.

Beberapa menit setelahnya gambaran ku pun selesai.

"Fyuh~ tinggal di scan lalu di beri warna dan siap dipublikasikan," gumam ku pada diri sendiri.

Ku tengok seonggok tubuh yang tengah tidur terlentang diatas kasur ku. Ku dekati tubuh itu sebelum ku benahi posisinya dan menyelimutinya.

Ku atur pendingin ruangan hingga suhunya pas.

Yosh, aku siap untuk-

Kuroko Tetsuya, darou?

Sebuah suara familiar membuat ku melompat kearah ponsel ku dengan bringas.

'Kyaaaaaaaaaa~ itu suara Kagami-kuuuuuuu~'

Pik

"Halo?"

"Yo, Imouto, lama sekali kau mengangkat telfonnya~ aku kan kangen~" ujar pria disebrang lautan sana.

Mayuzumi Cihihiro, mahasiswa S2 yang menempuh pendidikannya di negri sejuta kincir, Belanda. Kakak sepupu ku.

"Maaf Nii-san, tadi agak sibuk," ujar ku sambil ngupil –salah itu bukan gaya ku! Maksud ku ujar ku sambil kembali ke meja belajar ku.

"Ada apa? " tanya ku.

"Tak ada aku hanya rindu pada Adik ku." Aku mendengus kala mendengarnya bicara begitu.

"Enak ya, jadi Nii-san. Cuma WajahBukuan sama mainan ponsel aja dibayar," gerutu ku sembari mengerucutkan bibir.

"Huh? Mana mungkin lah Imouto, aku kerja ya kerja. Hanya sebuah kebetulan jika aku mendapat cukup waktu luang."

"Cukup apanya? Kau selalu punya waktu luang." Balas ku, dan dia tertawa agak lama.

"Memang kau fikir aku cuma senang-senang tidak nyikat toilet apa?"

"Memang kau bisa nyikat toilet? Setahu ku Nii-san hanya bisa mengotorinya saja."

"Baik-baik kau menang." Aku tak membelas dan lebih memilih untuk fokus pada monitor didepan ku.

"Hey, kau mau oleh-oleh?" tanyanya.

"Keju Belanda jika tak keberatan," sahut ku.

"Ah, menyebalkan. Ku fikir kau akan terkejut," dia mendegus dan aku membanting mouse.

Shit! Salah pencet!

Aku pundung mendadak.

"Halo? Imouto kau masih disitu?"

"Yeah, I'm still alive" sahut ku agak sebal.

"Aku akan tinggal di tempat mu saat pulang," ujarnya enteng sementara aku melotot tak percaya.

Salah pencet lagi!

Mungkin sudah waktunya ganti mouse.

"Hei? Ayolah jangan acuhkan aku!"

"Maaf Nii-san aku sedang mengerjakan tugas disini," sahutku dengan nada sedih.

Aku salah klik lagi hingga gambar ku jadi terhapus.

"Oh, begitu kah? Baiklah, aku tutup saja. sampai jumpa besok."

Tut…tutt…tut…

"Ah, akhirnya normal lagi ini mouse," kata ku sebelum akhirnya ku letakkan ponsel ku dan mulai fokus pada tugas tidak terlalu mulia ku.

Eh? Tunggu…sepertinya ada yang aku lewatkan

…..

…..

…..

…..

….

"APHAAAAAA? BESOKKKKKKKKKKKKK?" teriak ku dengan wajah horor.

Kami…cobaan macam apa lagi ini….

.

.

Hari ini bukan hari minggu. Aku tidak kuliah karena aku tidak ada jam.

"Ya, ampun Imouto~ kau kok datar begitu~ padahal aku sudah jauh-jauh datang dari negeri Belanda ke Jepang hanya untuk bertemu dengan mu," raugnya dengan wajah seolah-olah tengah bersedih.

Aku mendengus.

"Coba beri aku alasan, mengapa kau memilih untuk numpang di tempat ku padahal nominal direkening mu sangat cukup untuk menyewa sebuah hotel bintang-bintang selama setahun lebih," ujar ku.

Dia tertawa dan aku tak terlalu suka. Kamar kos ku jadi sempit saat ada makhluk lain yang menetap agak permanen disini.

Mengurangi pasokan oksigen baik ku saja, sih!

"Yang jadi masalah adalah disana tak ada kau Imouto, tak kan menyenangkan." Aku diam tak membalas, aku lebih memilih kembali fokus pada novel ku dari pada makhluk didepan ku.

"Oh, ayolah Imouto. Aku kan kangen pada mu," katanya dengan wajah melas. Ini nih yang tak ku suka darinya. Dia selalu manjadi begini jika didepan ku.

"Jangan berlebihan Nii-san. Ingat umur deh," ingat ku padanya.

"Hahahahaaha~ kau ini." Surai ku diacak singkat sebelum akhirnya dia berkata, "Padahal kau dulu sangat manja loh dengan ku." Dan aku pun menggerutu.

Kami duduk bersebelahan diatas kasur ku, jendela yang ku buka membuat semilir angin dapat masuk dan memainkan anak rambut kami.

"Kau punya futon? Aku akan tidur dibawah saja jika kau tak mau tidur dengan ku."

Aku mendecak sebal dalam hati sebelum aku berkata, "Dilihat saja nanti malam."

Mungkin nanti aku akan bertanya pada Makoto-san apa dia punya futon untuk dipinjam.

"Jadi…"

"Jadi?" tanya ku dengan kening berkerut.

"Apa kau sudah punya pacar?"

"Belum," balas ku singkat.

"Apa? Bagaimana bisa?" dia memandang ku tak percaya.

"Ya, bisalah. Tidak ada yang tak mungkin didunia ini,"lanjut ku kalem.

"Padahal kau manis," ujarnya sembari tiduran dipaha ku.

"Aku pria Nii-san. Aku macho bukan manis. Sadis sih mungkin," sambar ku agak ketus.

Dia tertawa.

"Mau mencoba dengan ku?" tawarnya.

Bruk

"Bodoh," maki ku setelah kepalanya ku pukul dengan novel ku.

"Ya, ampun Imouto~ padahal aku kan macho. Aku janji akan pelan-pelan, menggunakan pengaman dan lube saat melakukan itu," tandasnya sembari memegangi wajahnya.

Bruk

Ku tendang dia dari kasur ku.

"Mati saja sana," kata ku sebelum aku kembali membaca novel ku dengan damai.

Maaf saja aku kayaknya lebih tertarik pada Kagami Taiga, Bakagami-ku dan Nico R*bin dari pada Nii-san. Lagi pula dada Ri*s Gremory masih seindah biasanya, begitu pula dengan wanita impian sejuta pria diluaran sana Hin*ta Hyuuga yang masih tersenyum cantik didinding kos ku.

Aku tak kan mau jadi 'uke' itulah janji pon* eh? Maksud ku itu lah janji ku!

"Tapi aku kan jomblo Imouto~" rengeknya.

"Terus aku berduli begitu?" tanya ku dengan nada main-main.

"Ya, harus dong! Kan kamu sepupu ku."

"Justru karena aku sepupu mu, mangkanya aku tidak berduli." Dan dia pun pundung seketika.

"Lagi pula…aku baru tau jika Nii-san gay," kata ku penuh ketertarikan.

Well, saat dia masih di Jepang aku pernah melihatnya berciuman dengan seorang wanita tinggi berkulit putih dengan rambut hitam sepundak yang berbulu mata super lentik bak iklan mbakcara.

"Sejak dulu aku gay," akunya.

"Hah? Sejak dulu?" tanya ku tak percaya.

"Yup"

"Ta-tapi…aku pernah melihat mu mencium seorang gadis didepan gedung bioskop," ujar ku tak percaya. Novel ku sudah teronggok manis disamping ku.

"Uh? Benarkah? Kapan?"

"Waktu Nii-san kelas 3 SMA," jawab ku.

"Oh itu…dia cowok kok. Namanya Mibuchi Reo," balasnya.

Tu-tunggu…Mibuchi apa tadi…

"Mibu-chi…Reo?" tanya ku setengah ngeblank. Pria yang duduk bersila dilantai itu mengangguk antusias.

Tiba-tiba bayangan seorang Hayama Koutarou yang berlarian dilorong kampus menyeruak dari ingatan ku, beserta teriakkannya yang membahana ketika memanggil seorang wanita –bukan pria cantik bertampang androgini yang saat ini melanjutkan kuliah S2 ditempat yang sama dengan ku.

"Kau tak apa Imouto?" tanya Nii-san ku kala aku memegang kepala ku yang tiba-tiba pening mendadak.

"Bisa tolong ambilkan aku minum Nii-san? Dilantai bawah," pintaku dan dengan segera Nii-san ku langsung tancap keluar kamar.

Jadi kakak kelas yang suka mepet-mepet aku itu dulu ada main dengan kakaknya, pantas saja setiap aku lewat si Reo itu selalu nafsu untuk mengejar-ngejar aku. Untung saja aku pernah berguru pada ninja, jadi aku bisa menghilangkan hawa keberadaan ku jika dalam keadaan bahaya level dewa seperti itu.

Ku dengar pintu kamar ku yang berderit sebelum terbuka.

"Ku bawakan obat sakit kepala sekalian," ujar pria tersebut sebelum duduk kembali diranjang ku.

Aku mulai menegak obat yang dibawahnya sebelum meminum air putih, dapat kurasakan jika keadaan ku sudah mulai membaik.

"Kau yakin tak apa? Mau ku panggilkan dokter?"

"Aku hanya migren," sahut ku sembari memijat pelipis ku.

"Mungkin hangover," sahutnya njeladur.

"Maaf aku bukan anak jalanan," sahut ku dengan sengit sementara dia tertawa.

"Alkohol itu candu Imouto, saat kau 21 tahun kau akan merayakan hari kedewasan, saat itulah kau akan tau jika harta,tahta dan cinta takkan berkutik dihadpan segelas minuman keras."

Aku mendengus.

"Jika kau sudah baikkan bagaimana jika kita pergi ke pub atau klub malam? Mungkin takkan masalah jika kau memesan Bia Saigon."

"Akan lebih baik jika aku pergi ke kombini membeli Bear Brand saja," sahut ku.

Dia tertawa agak terpingkal sebelum mengelus surai ku.

"Kau lucu Imouto, sebentar lagi kau sudah akan cukup umur untuk melakukan banyak hal seperti…"

"Seperti?" ulang ku dnegan alis terangkat.

"Melakukan anu dan it-" perkataannya terputus saat aku menonjok perutnya hingga dia terguling dan jatuh dari kasur ku.

"Kau sangat mengerikan Nii-san," ujar ku dengan nada super dingin.

Ah~

Kamar kos ku akan benar-benar sumpek dengan kedatangan makluk berambut silver keabuan ini.


.

.

.

TBC

.

.

.