-HUNHAN APRIL PASSION—

.

.

.

Luhan melirik kabur pada Yifan, lelaki itu mengerang hingga urat-urat lehernya menegang hampir putus. Tubuh laki-laki itu roboh, terkulai lumpuh. Yifan menangis keras. Dia menyaksikan adik kandung yang paling berharga dalam hidupnya diperkosa keji didepan matanya. Dan semua itu, karena kesalahan yang ia ciptakan.

Yifan mengingkari janjinya lagi. Ingkar atas janji untuk tidak melukai Luhan hanya demi wanita itu. Luhan akan membencinya seumur hidup jika saja Luhan tau semua hal yang terjadi padanya adalah karena Yifan ingin menyelamatkan Selvi. Kekasihnya.

.

.

.

-HUNjustforHAN-

-Present-

.

.

.

-DESIRE-

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

Sehun menggeram nyaring penuh rasa nikmat sebelum jatuh menimpa tubuh binasa Luhan. Ia tidak lagi peduli pada airmata si cantik yang terus saja mengalir selama percintaan mereka. Luhan disetubuhi, tidak, lebih dari itu, ia diperkosa dengan biadab.

Ini orgasme kedua mereka. Orgasme yang Sehun damba dan orgasme yang sangat dipaksakan oleh Luhan. Luhan juga tidak mengerti kenapa dia bisa menembus puncak kenikmatan itu saat batinnya tersiksa, tapi ada waktu dimana Sehun membelai tubuh penasarannya penuh kelembutan yang membuaikan, menyeret Luhan hanyut perlahan lalu menghentaknya keras dan mereka menyemburkan lender-lendir cinta bercampur kepuasan sepihak secara bersamaan.

Yifan sudah dipindahkan ke ruang lain, ruang yang Luhan sendiri tidak dapat menebak dimana. Atau mungkin saja Sehun telah menyuruh para pengawal bertubuh kekarnya itu untuk melempar Yifan ke rumah mereka. Rumah kedamaian. Setidaknya Sehun masih memiliki sifat kemanusiaan yang kecil jika tidak membunuh Yifan.

Ada rasa perih mengingat bagaimana Yifan memberontak hebat ingin mencekik Sehun yang baru saja menyelesaikan orgasme pertama setelah melaksanakan kehendak bejatnya pada Luhan, namun sebaliknya, Yifan-lah yang harus tersungkur keluar darah menerima pukulan-pukulan bengis pengawal Sehun.

Tentu saja Luhan berteriak agar pukulan itu dihentikan, namun ia tidak bisa kemana-mana selain memegang selimut yang sudah baik hati Sehun lapisi pada tubuh polos mereka. Jika Luhan ingin berlari memeluk Yifan, maka Luhan harus menerima konsekuensi berupa telanjang didepan 6 pasang mata laki-laki.

Tidak! Cukup untuk telanjang bugil di depan Sehun.

Sehun berbisik dibelakangnya dengan kejam. "Jika kau ingin pukulan di tubuh dan wajah kakakmu berhenti, kau bisa melakukannya sayang." Luhan melirik kebelakang pundaknya segera. Ada aura hitam menyelubungi mata coklat kelabus milik Sehun yang penuh akal licik. "Berikan aku orgasme kedua, ketiga, dan selanjutnya hingga aku puas."

"Kau biadab!"

ARRGGHHH!

"GEGE!"

"Satu perlawanan darimu sama dengan satu tingkat pukulan untuk Yifan. Kau suka melihat kakakmu berdarah seperti itu ?" Sehun memainkan rambut kusut Luhan, memutar helai-helainya pada jari telunjuk seperti sebuah peringatan. "Atau.. Mengangkanglah untukku. Dengan begitu Yifan bisa tidur tenang di rumah kalian malam ini."

Sehun memang bajingan, berotak biadap dan berhati binatang. Ia memanfaatkan wanita berserta kelemahannya hanya untuk dijadikan pemuas nafsu belaka. Luhan sangat membenci lelaki seperti itu. Benci hingga ke saraf pusat.

.

.

Sehun melempar tubuhnya kesamping, terlentang. Sedang Luhan langsung berbalik memunggunginya, meringis kala rasa sakit menyergap selangkangan dengan tajam. Bau sperma Sehun menguar dan Luhan mengutuk karena harus menciumnya; sperma itu bercampur bau amis darah perawannya yang dibobol Sehun dengan tindakan tidak terpuji.

"Luhan.." panggil Sehun dalam nada suara rendah. "Mulai sekarang, kamar ini milikmu." Luhan tebelalak sempurna namun tetap bertingkah tidak peduli. Setiap kata yang Sehun ucapkan selalu terdengar seperti hinaan baginya.

"Kalau begitu musnahkan kamar ini! Aku tidak sudi!"

"Tidak masalah." Sehun ikut menyampingkan tubuh menghadap punggung belakang polos Luhan."Setidaknya aku masih punya puluhan kamar untukmu. Namun maaf jika kamar yang lain tidak semewah disini."

"Kau menyiapkan kamar untuk para pelacurmu ?"

"Tidak. Aku tidak pernah menyetubuhi mereka dirumah." Sehun menjalari pinggang Luhan dengan lengan kekarnya. "Mereka wanita murahan, tidak pantas untuk tidur dirumahku."

"Lalu bagaimana denganku ? Kenapa kau memperkosaku disini ?"

"Ku pikir kau tidak mau disamakan dengan wanita murahan."

Luhan bungkam. Ia sudah sangat lemah dan tidak punya kekuatan lagi untuk menerjang Sehun dengan berbagai pukulan. Tapi selama mulut mungilnya masih bisa membantah setiap ucapan Sehun, Luhan akan berusaha mengumpatkan kata-kata kasar untuk membalas tindakan tidak bermoral Sehun padanya.

Luhan menahan napas ketika merasa jari-jari kokoh Sehun mulai merambat menuju buah dadanya yang terbuka. Tidak lagi! Luhan tidak mau disetubuhi lagi! Ia lelah. Sangat lelah dengan keretakan hati parah. "Aku ingin pulang!" Pintanya penuh nada memaksa lalu menyingkirkan telapak tangan Sehun yang telah berhasil menangkup payudaranya.

"Pulang kemana, sayang ?"

"Rumahku!"

"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu"

"Terserah!Aku tidak memerlukan izin darimu!" Luhan menggebu marah, beranjak sesekali meringis saat rasa perih menyerang selangkangannya lagi. Tapi Luhan harus berhati keras jika tidak ingin dijadikan kelinci pemuas hawa nafsu. Jadi dengan menggigit bibirnya yang tercetak nada merah kering diujung (akibat tampara Sehun) dan menahan rasa pedih, Luhan menggapai-gapai hampa pakaiannya yang tidak lagi berbentuk dilantai marmer dingin istana Sehun.

Luhan berhasil meraih kemeja putihnya. "Kau tidak akan kemana-mana." Suara tenang beraroma tegas dibelakangnya membuat Luhan tertegun sejenak. Sehun mengatakan sesuatu yang membuat Luhan terlihat seperti seorang budak miskin; budak yang harus menjilat debu disepatu majikan mereka kala kotor.

Sehun dapat melihat amarah Luhan membara lagi lewat genggaman tangan yang meremas kemeja putih itu hingga mengusut parah. "Kau bukan Tuhan yang bisa mengaturku!" Lihatkan, Luhan tidak pernah lelah melawan.

Si cantik memungut pakaian yang bisa ia jangkau, tidak peduli dibelakangnya Sehun memperhatikan perlawanan kecut Luhan dengan mata sinis. Tidak ada yang bisa melawannya, tidak juga dengan Luhan.

"Lepaskan baju itu!" Sehun memperingatkan, tegas, penuh nada memerintah.

Luhan sama sekali tidak menanggapi alarm peringatan yang telah digetarkan Sehun, dalam otaknya telah penuh rasa ingin pergi dari kamar ini, rumah ini atau segala hal yang berbaur nama Sehun didalamnya. Aku tidak akan tunduk pada iblis! teriaknya dalam hati.

"Luhan! Kau tidak mendengarku!"

Luhan sudah siap dengan tangan berisi kemeja tanpa kancingnya dan juga hotpants menggulung celana dalam yang di pelorotkan Sehun. Malam ini, bahkan sekarang, Luhan sangat sangat ingin pulang lalu mengguyur diri dibawah shower dingin agar dosa-dosa Sehun yang menempel pada tubuhnya luntur dan tidak akan pernah kembali lagi.

"Luhan!"

"…."

"BUANG BAJU ITU ATAU AKU AKAN MEMPERKOSAMU LAGI! SEKARANG!"

Sial!

Tiba-tiba Luhan merasa pertahanannya tidak akan berbuah, kekuasaan Sehun membuat tubuhnya bergetar hebat, meloloskan sebuah isakan yang ia sendiri tidak tau kenapa jadi cengeng begini setiap kali Sehun memaksakan kehendaknya.

"A-aku.." Luhan terbata karena napasnya terasa sengal. "Aku hanya ingin pulang."

"Kau tidak akan pulang kemana-mana."

"Apa yang sebenarnya kau inginkan ?"

"Aku menginginkanmu." Sejak pertama kau telah membuat tubuhku terbakar. Jauh dari itu, aku sendiri tidak tau kenapa rasa ingin memilikimu menguasai pikiran dan hatiku hingga rasanya aku bisa membunuh siapapun yang akan membawamu pergi.

"Tidak! Kau tidak menginginkanku! Kau hanya menjadikanku alat balas dendam! Kau kejam!"

"Aku ? Kau yakin aku yang paling kejam ?" Sehun membuang napas mencela. "Bukan. Bukan aku sayang. Tapi kakakmu."

"Jangan melemparkan kesalahanmu pada orang lain! Bajingan!"

Sehun tersinggung akan umpatan Luhan, di cengkramnya dagu lancip itu cukup kuat hingga Luhan merasa rahangnya bisa saja retak bahkan patah jika Sehun tidak melepaskannya dalam waktu lama. "Sebenarnya aku tidak mau menyakitimu dengan berkata jujur. Tapi kau memancingku untuk melukaimu, sayang."

Luhan menepis tangan Sehun, namun lelaki itu terlalu kuat mencengkram dagunya hingga usaha Luhan tidak berarti apapun. "Kakakmu! Dia menjualmu padaku seharga satu bilik kamar apartement termewah di kawasan Gangnam!" Sehun berujar nyaring bersama dengan nada puas dan bangga didalamnya. Bangga sekali menyebutkan bahwa ia telah membeli Luhan dengan uangnya yang bertimbun seperti harta karun.

Luhan menggeleng keras; sangat tidak percaya. "Tidak! Kakakku bukalah iblis sepertimu!" Yifan tidak mungkin setega itu padanya. Sehun pasti hanya sedang menghasut.

"Kau gadis keras kepala." Sehun bergerak cepat membuka laci kedua yang menyatu dengan meja nakas, meraih secarik kertas dan langsung melemparkannya tepat pada wajah Luhan. "Kau punya mata untuk membaca, kan ?"

Luhan meraup kertas itu dalam apitan jari, menelusuri tulisan dengan angka nol berjejer rapi panjang. Slip Bank. Ada banyak angka nol bergandengan, sekitar enam buah dan semuanya dihitung dalam USD. Luhan tidak sanggup untuk mengalikan semuanya kedalam Won. Pening. Matanya menjelajah lagi dan lima detik kemudian, Luhan terperangah hebat.

Ada nama Ravi tersebut sebagai pengirim dan Wu Yi Fan sebagai pihak penerima.

Benarkah ?

Lalu siapa Ravi ? Apa lelaki yang menjadi kepala geng dari pengawal-pengawal yang menggiring Yifan keluar tadi ?

"Gege.." Gumam Luhan sambil menggeleng tidak percaya. "Gege tidak mungkin melakukan ini padaku! Kau pasti hanya menjebak!"

"Kau gadis bodoh! Tidak, kau bukan gadis lagi," Sehun tersenyum berkuasa. "Kau wanitaku sekarang." Ucapnya penuh nada kepuasan.

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjadi milikmu!" Luhan merasa benar-benar muak akan pengakuan kepemilikan Sehun atas dirinya. "Kembalikan aku pada kakakku!"

"Kau mau kembali pada lelaki itu ?" Sehun berdecih mengejek, diraihnya satu lembar kertas lagi dalam laci yang sama dan melemparkannya pada wajah Luhan juga dengan cara yang sama. Merendahkan. "Bacalah dengan lantang."

Pusing dikepala Luhan bertambah. Kenapa ia harus memegang kertas-kertas ini ? Apa lagi yang terdapat disana ? Apakah Sehun mau memamerkan uang-uangnya yang membuat otak Luhan berputar-putar saat menghitung jumlah 'nol'nya ?

Ia sangat tidak mengerti ilmu ekonomi.

Luhan membuka kertas itu perlahan karena merasakan ada debaran hebat penuh rasa ragu berbisik ditelinganya untuk jangan pernah membuka kertas tersebut apalagi membaca setiap kata-kata yang tercantum.

Keras kepala.

Beberapa kali Yifan mengatakan julukan itu pada Luhan, dan sekarang terbukti. Luhan akan menyesali sifat keras kepala yang menggodanya untuk membuka kertas tersebut.

'Pihak pertama akan menerima uang dengan jumlah seperti yang tertera di poin ketiga dari pihak kedua, dan pihak pertama akan menjadikan pihak ketiga bernama 'Wu Lu Han' sebagai jaminan atas pinjaman terhadap pihak kedua. Selama pihak pertama belum mengembalikan pinjaman tersebut, maka pihak ketiga masih menjadi milik pihak kedua seutuhnya."

Yang bertanda tangan, WU YI FAN.'

Tuhan!

Apalagi sekarang ?

Luhan menangkup mulutnya yang terbuka lebar tidak percaya. Tidak mungkin orang itu Wu Yi Fan; kakak yang selalu ia banggakan, kakak yang selalu berkorban apapun deminya, kakak yang rela melakukan apapun hanya untuknya. Yifan tidak sebejat itu!

"Aku anak tunggal, jadi aku tidak pernah tau bagaimana rasanya memiliki saudara. Tapi satu hal yang bisa ku pastikan, jika aku memiliki adik perempuan aku tidak akan pernah menjualnya kepada siapapun hanya karena ingin menyelamatkan ketelanjangan kekasihku." Sehun berdecih mengejek, " Yifan menjualmu demi seorang pelacur."

Luhan belum sempat menambal sobekan dihatinya dan Sehun mengatakan hal yang semakin membuatnya sulit bernapas. Ia menggeleng beberapa kali hingga bulir-bulir air matanya terbang tak berarah.

"Apa maksudmu ?! Yifan tidak mungkin melakukan hal tersebut! Yifan telah berjanji padaku dan dia tidak pernah mengingkari janjinya!"

"Lalu kau pikir untuk apa dia datang ke perusahaanku ?" Sehun menarik pergelangan tangan Luhan dan melihat bibir mungil terluka Luhan bergetar menolak kebenaran. "Wanita Korea-Jerman itu dikontrak bugil dan kakakmu yang sok pahlawan itu ingin menyelamatkan kekasihnya. Membayar denda dengan meminjam uang kepadaku dan menjadikan KAU sebagai alat pembayarnya! Dia menjualmu, Luhan! Yifan menjualmu demi menyelamatkan KEKASIHNYA!"

Penghasut!

Luhan tau kata tersebut telah terngiang dalam otaknya, namun mendapati kemungkinan bahwa Yifan menjualnya untuk di perkosa oleh Sehun hanya karena ingin menyelamatkan Selvi dari ketelanjangan, Luhan merasa hampa bukan main.

Selvi pelacur yang sudah ditiduri banyak laki-laki, untuk apa Yifan menyelamatkan wanita yang dengan senang hati melepas bajunya telanjang bugil hanya demi setumpuk uang.

Luhan tidak sadar meremas tumpukan pakaian ditangannya lalu menghempaskan mereka penuh amarah. Sehun tersenyum tipis; licik, karena berhasil membuat Luhan menggeram berbara panas. Luhan akan membenci Yifan, terlebih Selvi, jadi Sehun akan bertingkah seperti seorang penolong dengan menyediakan rumah beserta seluruh keperluan lengkap dengan pelayan hanya untuk Luhan.

Gadis pembakar gairahnya.

Gairah Oh Sehun.

"Kau bisa membalas pelacur itu." Sehun berkata santai, tidak khawatir dengan mata Luhan yang berapi-api. "Aku bisa melakukan apapun yang kau inginkan demi menghancurkannya. Hancur lebih dari apa yang kau rasakan." Lelaki itu merayunya, Luhan sadar, namun entah mengapa Luhan tetap tertarik untuk mendengar kelanjutannya.

Luhan terlalu geram ingin melumat habis tubuh Selvi dalam kunyahan lapar, memotong satu persatu tubuhnya tanpa membunuh pelacur itu terlebih dahulu lalu melihat wanita tersebut meraik seperti anjing yang diseret lehernya sebelum dicambuk malaikat hingga bernanah di neraka.

"Pelacur seperti dia, aku bisa menyumbat vaginanya dengan lembar-lembar dolar lalu melempar tubuhnya kembali ke daratan Jerman dan terkubur disana. Aku bisa membuatnya tidak kembali pada kakakmu, Luhan. Bukankah itu yang kau inginkan ?"

Luhan terdiam seribu basa, namun Sehun yakin wanita tersebut sedang memikirkan tawaran yang ia olah semenarik mungkin.

"Aku bisa melakukan semuanya untukmu, asalkan…" Perhatian Luhan teralih pada senyum miring Sehun sepenuhnya. "Kau menjadi milikku. Menjadi wanitaku. Dan menjadi gairahku."

Jangan membantah dan tidurlah malam ini..

Hari-hari panjang akan menyambutmu mulai esok..

Bersiaplah..

Gairahku..

.

.

.

.

Luhan mengerjab tidak yakin kala terdengar suara rintih tarikan kait gorden yang tersibak, cahaya silau membangunkannya. Luhan menarik tubuh bersandar seiring mata sipitnya terkuap-kuap tidak yakin. Tubuhnya tetap polos dengan selimut yang terus ia apit didada, tidak ingin mempertunjukkan kepada siapapun lagi bentuk payudara yang Sehun kulum tadi malam.

Luhan meringis ketika nyeri itu datang lagi diselangkangannya yang tidak lagi perawan. Ada suara cekikikan kecil dan Luhan menemui dua orang pelayan wanita sedang berbicara lewat telepati. Mereka pasti mengira aku pelacur, kesalnya dalam hati.

Mendadak Luhan menginginkan seseorang untuk membelanya, Yifan selalu begitu, membela Luhan untuk hal-hal yang benar ataupun netral. Tapi Luhan sadar, Yifan tidak akan pernah seperti itu lagi. Dia telah berubah. Lebih tepatnya diubah oleh seorang rubah wanita yang Luhan ingin cabik mulut lamisnya.

Jadi sekarang siapa yang bisa membela Luhan ?

Tidak tau kenapa Luhan melirik sisi disamping kanannya, penuh rasa berharap bahwa tubuh Sehun masih tergolek lelah disana dan memberikan tatapan membunuh pada pelayan muda tersebut hingga bulu diseluruh tubuh mereka meremang ngeri.

Tapi..

Iblis itu telah hilang..

Luhan terbiasa dibela saat mendesak seperti ini, terkadang Yifan, Kyungsoo atau oleh pelayan yang bekerja di toko kue mereka. Ia tidak biasa diperlakukan kasar seperti apa yang Sehun lakukan padanya.

"Selamat pagi, Nyonya. Pakaian anda sudah kami siapkan, air hangat anda juga telah kami siapkan, dan Tuan Oh Sehun menunggu anda untuk sarapan dibawah."

"Oh Sehun ?"

"Ya. Tuan Besar menunggu anda di meja makan 15 menit lagi."

"Katakan padanya aku jiik makan satu meja dengan penzinah!"

"T-tapi—"

"Bisakah kalian keluar dari kamarku sekarang ?"

Kamarku ?

Astaga! Kenapa aku jadi sensitif seperti ini?

Luhan beranjak dari ranjang bulu-bulu angsa yang disediakan Sehun, membawa ikut serta selimut tebalnya menjadi juntaian panjang mengekor. Saat didepan pintu kamar mandi Luhan menghela napas panjang. Ia lepas selimut tebal tersebut dari tubuhnya dramatis, menyerap serpihan rasa dingin menyengat kulit sebelum melangkah menuju kolam susu dengan tubuh telanjang.

.

.

.

Hampir seluruh kamar mandi tersebut dilapis oleh kaca tebal, jadi saat Luhan meninggalkan pemandian ratunya, semua berembun menguap; kabut.

Luhan tidak memakai jubah mandi karena kecerobohan tangannya yang melepas jubah tesebut pada lantai basah. Ia merutuki diri sendiri kala melihat hanya handuk putih sebatas setengah paha yang mampu melindungi tubuhnya.

"Kau mencari masalah." Luhan teperanjat, menemukan tungkai seseorang duduk bersila di salah satu kursi santai bermeja bulat disudut kamar. Sehun disana. "Bukankah sudah kusiapkan jubah mandi untukmu ?" Sehun menatap dingin beserta tungkai-tungkai panjangnya yang bersilang sombong.

Luhan merunduk, refleks memeluk dadanya sendiri sebagai sebuah perlindungan. "A-aku menjatuhkannya."

Kau pembakar gairah sial! Masih terlalu pagi Sehun! Jangan terbangun! Tenanglah disana dan jadi anak baik!

Lelaki itu mendesah tersiksa. "Cepat habiskan sarapanmu." Ia menunjuk roti lapis dan segelas susu di meja dengan dagu. Dagu runcing itu tampak lebih berfungsi daripada jari telunjuk. "Hari pertama dan kau sudah membantahku."

"Aku tidak suka diperintah."

"Jangan membuatku kesal, Luhan!" Napas Sehun memanas, Luhan merasakannya. "Aku bukanlah orang yang sabar dipagi hari!"

"Aku bukan budakmu!"

"Duduklah dan habiskan sarapanmu." Oh Ya Tuhan. Aku tidak pernah menahan kesabaran hanya demi seorang wanita.

"Aku tidak mau!"

"Luhan! Ku peringatkan sekali lagi untuk tidak menyulut emosiku!"

"Pergi kau, bajingan!"

Bajingan ?

Gadis kecil keparat!

Sehun bangkit dari duduknya dengan wajah marah; tersinggung akan kata 'bajingan' yang terlontar dari bibir manis Luhan. Sedangkan Luhan harus mundur beberapa langkah demi mengimbangi rasa takut akan sosok Sehun, apalagi saat Sehun melangkah tergesa dan terlihat ingin menggigitnya hidup-hidup seperti anjing menggigit tulang.

Arrgghh!

Luhan meringis, sebuah hasil dari sikap pembangkangnya. Tubuh mungil itu terhempas di dinding luar kamar mandi yang dingin, kedua lengannya dicengkram naik hanya oleh sebelah tangan Sehun. Selipan handuk didadanya hampir terlepas; Luhan panik akan ancaman untuk telanjang lagi.

"Sudah ku katakan untuk jangan melawanku! Kau milikku sekarang! Dan aku bebas melakukan apapun terhadapmu!

"Aku bukan pelacur!"

"JANGAN MELAWANKU, LUHAN!"

"AARGH! Sehun..Sakit.. " Luhan meringis perih. "Lepas.." ia memohon dengan nada lemah.

Saat itu juga Sehun sadar jika cengkramannya menguat saat emosinya bertambah naik. Ia melukai Luhan.

Napas lelaki itu berantakan khawatir, "Maaf.." ujarnya kalah tanpa sadar lalu membiarkan pergelangan tangan kemerahan Luhan terkulai lemah.

Setetes airmata Luhan tumpahkan lagi pagi ini, hari pertama. Wanita itu berubah sendu secara mendadak; tidak ada lagi bintik-bintik melawan dimatanya. "Aku hanya ingin memakai pakaianku." Ia menghapus biji air terhina yang jatuh dipipi. "Bolehkah?" memohon dengan nada belas kasihan.

Sehun tertegun diam. Batin Luhan seperti sangat tertekan saat berada disisinya. Apa Sehun sangat menakutkan ?

"Tunggulah. Ada pelayan yang akan membantumu."

.

.

.

Luhan berdiri dibalkon kamar, meremas besi bulat yang menjadi pembatas agar tidak melangkah lebih jauh atau tubuhnya bisa remuk terhempas kebawah. Luhan mengamati keadaan sekeliling, matanya redup begitu mendapati fakta bahwa tidak ada sedikitpun celah yang bisa meloloskannya pergi. Istana Sehun bagaikan penjara yang dijaga oleh ribuan gurita bertentakel panjang.

Sampai kapan aku akan menjadi pelacur Sehun disini ?

Satu jam yang lalu Luhan sudah dipersiapkan. Kemeja putih lengan panjang tipisnya dibungkus rok merah setengah paha; ketat dan sangat menyiksa. Rambutnya digelung tidak rapi keatas oleh hairstyle professional membentuk sarang burung yang menawan. Ia sendiri sempat berpikir apakah Sehun punya salon pribadi dirumahnya ?

Ah, Luhan jadi ingat laki-laki itu.

Saat ia selesai dengan dandanan separuh formal ala selir pejabat, Sehun sudah tidak berada disana. Lay –sang hairstyle—dengan gaya genit memberitahu bahwa Sehun telah berangkat ke kantor 30 menit yang lalu.

Dunia terasa lebih aman dan layak huni ketika tidak ada Sehun dalam cakupan matanya.

.

.

.

Pukul 12 siang. Luhan bersandar di kepala ranjang diikuti wajah cantik yang termenung putus asa. Saat pintu kamarnya diketuk mendadak Luhan mengernyit sebelum berkata, "masuk." Nyaris tidak bersuara.

Pintu terbuka, salah satu dari pelayan yang mengemaskan kamarnya tadi pagi masuk, berdiri tertunduk dengan jarak lima langkah dari pintu. "Mohon maaf mengganggu waktu anda, Nyonya. Makan siang sudah dipersiapkan dan Tuan Besar meminta anda untuk segera menikmatinya."

"Sehun ?" Luhan berdegub tidak nyaman lalu menuruni ranjang terburu. "Apa dia ada disini ?"

"Maaf, tapi Tuan Besar sedang tidak berada dirumah."

Terima kasih Tuhan.

.

.

Apa ini yang Sehun makan setiap hari ? Dimana ia meletakkan semua makanan itu dalam perutnya yang tipis berotot ?

Seorang lelaki diawal usia empat puluhan lengkap dengan topi putih tinggi membungkus rambut pirangnya berdiri disisi Luhan. Bahasa yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas, seperti ada gumpalan rambut melilit-litit pita suaranya.

Chicken Mango Asparagus Roulade, Slow Cooked Corned Beef, Baked Blue Marlin, Twice Cooked Sesame Pork Belly, Palawan Chasew and Herb Crusted Sole Fillet, dan masih beberapa nama lagi Luhan sambut dengan mata bulat. Apa itu nama makanan ?

Dari namanya saja sudah terdengar sangat mahal.

Dasar! Lelaki pemboros!

Setengah perjalanan dari makannya yang sangat tidak bernafsu, Luhan dikagetkan dengan suara gemuruh barang-barang pecah rusak dari lantar dua, lantai dimana kamar yang Sehun berikan padanya berdiri tegak. Sendok ditangannya gugur dengan suara dentingan tidak bersahabat ketika Luhan dengan langkah tergesa-gesanya pergi memburu anak tangga menuju lantai dua.

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Luhan kaget. Ada segerombolan lelaki paruh baya sedang memegang berbagai alat besi mengerikan dikamarnya, lebih terkejut lagi kala meja hias tempat ia mematut diri telah hancur berantakan. Tidak hanya itu, lemari, pintu balkon, wadrobe dan beberapa fasilitas lain juga telah dirusak. "Kenapa kalian merusak kamar ini?!"

"Bukankah kau yang menginginkannya ?"

Setengah terengah karena marah, Luhan bergidik ketika mendengar suara berat tersebut dari arah belakang. Ia melirik cepat dan mundur beberapa langkah kala mendapati Sehun berjalan pelan menapaki tangga terakhir. Sebelah tangan Sehun masukkan kedalam saku celana hitamnya yang mahal, jelas sekali gaya lelaki ini berbalut kesombongan yang elegan.

"Aku ?"

"Siapa yang berkata tidak sudi menerima kamar ini dan ingin memusnahkannya ?" Sehun sudah berdiri dihadapan Luhan yang bergetar. Mata laki-laki ini sangat tajam dengan tatapan kejam yang khas. "Aku mengabulkan permintaanmu."

"Berhenti! Tolong berhenti!" teriak Luhan berusaha mencegah orang-orang bersama alat besi pemusnah mereka. Kenangan buruk masa kecil tentang barang-barang hancur yang dilemparkan ayahnya untuk menyakiti sang ibu memberi luka tersendiri di memori Luhan. "Ku mohon berhenti!"

"Lanjutkan!"

"Berhenti! Jangan memukul apapun lagi!"

"Ikuti perintahku! Musnahkan kamar ini!"

"Sehun jangan!"

"Jangan berhenti sedikipun! Hancurkan semu—LUHAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Wanita ini! Selalu berhasil membuat Sehun khawatir akan sikap penentangnya. Luhan pikir apa yang akan dia dapatkan dengan berdiri didepan meja rias yang siap dihancurkan tersebut. Membuka tangan sebagai penghalang lalu menunggu para pekerja itu untuk menghancurkan tubuh kecilnya ? Bodoh!

"Ku bilang hentikan." Suara Luhan tenang putus asa, namun ada nada memaksa didalamnya yang membuat Sehun berdecih. Berani-beraninya wanita ini memaksa seorang Oh Sehun.

"Ikut denganku!"

"Tidak sebelum kau menghentikan mereka!" Luhan menepis tangan Sehun yang hendak menariknya, membiarkan lelaki itu berkacak pinggang tanda kesal dengan wajah mengeras.

"Oke!" Sial! Batin Sehun mengumpat saat sadar ia menyetujui untuk diperintah gadis mungil ini. Ia melirik pada para pekerja besi yang terdiam kaku melihat pertengkaran mereka, bingung memutuskan kehendak pihak mana yang akan mereka jadikan pedoman. "Hentikan dan ganti seluruh perabot yang rusak." Sehun menatap Luhan lagi. "Sekarang kau ikut denganku!"

Wanita itu tidak berkata apapun saat Sehun membawa tubuhnya entah kemana, ia hanya melawan dengan gerakan tubuh yang terasa berat dan lekat untuk Sehun tarik; nyata sekali jika pemaksaan bukanlah cara yang Luhan sukai.

.

.

Pintu terbuka lalu tertutup dengan dentam bergema. Luhan merasa pundaknya bisa saja retak saat Sehun mendorongnya ke sudut ruangan, ruang putih dengan ranjang besar berwarna putih dan sedikit campuran emas. Ini kamar, cukup mewah namun memang tidak semewah kamar yang ia huni malam kemarin.

"Kau! Apa bisa sekali saja tidak melawanku!"

Luhan terfokus lagi pada wajah Sehun. wajah keras dan mata tajam adalah hal yang selalu ia dapati dari lelaki ini. Menakutkan. Sehun mencengkram dagunya sedangkan sebelah tangan yang lain memenjara disamping pundaknya.

Yifan tidak pernah memperlakukan Luhan seperti ini.

"Jika kau menuruti semua keinginanku, mungkin saja aku akan bersikap lebih baik."

"Menjadikanku seorang pelacur kau bilang itu sikap yang lebih baik ?"

"Kau yang menganggap dirimu sendiri sebagai pelacur. Bukan aku."

Luhan kaku.

Benar. Ia sendirilah yang memposisikan dirinya sebagai pelacur.

Luhan ingin menangis menyadari hal tersebut namun ia menahannya; tidak ingin terlihat lemah didepan Sehun atau lelaki itu akan semakin memaksakan kehendaknya sesuka hati.

"Beritahu padaku." pinta Luhan bergetar menahan tangis.

"Apa yang ingin kau ketahui ?"

"Jumlah semuanya." Sehun mengernyit. "Jumlah uang yang Yifan pinjam darimu."

Sejenak hening melanda, dan detik-detik berikutnya suara tawa gelegar Sehunlah yang terdengar. Luhan tidak suka melihat gigi taring itu tertawa bahagia setengah menghina. Sehun tidak seharusnya melakukan hal tersebut dan membuat Luhan tersinggung.

"Kenapa ? Kau mau melunasinya ? Dengan apa ?"

"Biarkan aku bekerja dan akan ku cicil hingga lunas."

"Aku tidak mudah mempercayai seseorang."

"Kau punya ribuan orang yang bisa kau perintahkan untuk mengawasiku."

"Berapa tahun yang kau perlukan untuk melunasi hutangnya ?"

"Katakan terlebih dahulu jumlah uang yang Yifan pinjam dan aku akan memperkirakan waktunya."

Sehun tersenyum licik lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan. Berbisik tentang apa yang ingin Luhan ketahui, dan….

DEWA MALAPETAKA!

Yifan benar-benar mengambil keuntungan besar dari lubang vagina perawan adiknya!

"Jadi, berapa tahun yang kau perlukan ? Atau…" Sehun menghembuskan napas ditelinga Luhan, "Seumur hidup ?"

Seketika Luhan memucat. Harapan untuk terlepas dari Sehun seolah mengudara liar dan pecah dilangit ketujuh. Memiliki uang sebanyak itupun tidak pernah terbayangkan oleh Luhan, apalagi harus melunasi hutang yang diciptakan Yifan untuk melindungi orang yang paling ia benci diseluruh jagat raya ini.

"Kau bisa melunasinya, sayang.." Sehun berbisik lagi, suaranya rendah menggoda. "Dengan tubuhmu."

KEPARAT!

"Aku akan memberikan penawaran." Lelaki itu menarik mundur tubuhnya dan mendapati mata Luhan merah menyala. Pasti wanita itu merasa terhina hingga Sehun bisa merasakan ubun-ubun Luhan berdenyut nyeri. "Setiap kau menyerah dibawahku dengan suka rela dan memberikanku kepuasaan, sama berarti kau menyicil 10% dari hutang kakakmu."

"K-kau.."

"Jangan menatapku dengan mata jijik seperti itu, sudah berbaik hati." Sehun membelai rahang Luhan lembut. "Lebih baik daripada aku memperkosamu setiap hari, bukan ?."

Tangan Luhan terangkat marah, siap menampar pipi putih Sehun jika saja lelaki itu tidak bertindak cepat dengan mencengkram pergelangan tangannya.

"Kau ingin menamparku dan menghapus penawaran terbaik yang telah kuberikan ?" Luhan meronta namun Sehun tetap tidak melepaskannya. "Kau harus ingat Luhan, siapa yang menjadi penyebab kau terjebak disini bersamaku."

"…."

"Han Selvi."

"Jangan sebut namanya didepanku!"

"Kau terlihat sangat membencinya."

"Sama seperti aku membencimu!"

"Kau ingin menghancurkan wanita itu ?"

"Sama seperti aku ingin menghancurkanmu!"

Lagi-lagi senyum licik memuakkan Sehun tunjukkan pada Luhan yang sudah membara panas. "Membenciku adalah hal yang sia-sia jika kau lakukan. Menghancurkanku sama saja membuatmu gila. Kau tidak akan pernah bisa menghancurkanku sedikitpun, kau sadar hal itu bukan ?"

Ya. Tentu saja Luhan sadar jika ia tidak akan pernah punya kesempatan untuk mencekik leher Sehun hingga mati. Lelaki itu punya ribuan prajurit yang menjaganya seperti ular cobra bertanduk mahkota berlian. Sehun terlalu banyak memiliki pundi-pundi harta karun yang membuat Luhan merinding memikirkan bagaimana cara untuk balas dendam terhadap lelaki ini.

Sehun melanjutkan lagi, "Selvi. Dia pembohong cantik yang cukup pintar. Model sexy dan cukup terkenal dikalangan para lelaki hidung belang." Ia menghela napas tidak berminat. "Maaf harus mengatakan hal ini tentang calon kakak iparmu, tapi kau harus tau Luhan jika Selvi hanyalah simpanan dari pemilik agensi tempat ia bernaung. Dia pelacur!"

"Aku tau dan ku mohon jangan pernah memanggilnya dengan julukan calon kakak iparku. Sampai kiamat pun dia tidak akan pernah bergabung bersama keluarga kami."

Sehun mengumbar senyum tipis. Luhan sudah terhanyut emosi dan ia hanya perlu pancingan sedikit saja agar wanita itu meledak. "Dia hanya memanfaatkan Yifan untuk kesenangannya semata dan kakakmu terlalu bodoh karena rela menjualmu hanya demi makhluk kotor wanita penghibur itu"

"Dia wanita terkotor yang pernah kutemui!"

"Kau ingin membalasnya ?"

"Lebih dari apapun, aku ingin mengulitinya hidup-hidup!"

"Kau bisa melakukannya." Ah, Sehun suka melihat mata penasaran Luhan yang berpijar panas dan mudah dikelabui.

"Apa maksudmu ?"

"Selvi, aku bisa menghancurkannya jika kau mau. Kau bisa membuat siksaan hingga batas maksimal dan aku akan selalu berada dibelakangmu. Dia akan menderita seperti apa yang kau rasakan. Dia akan hancur berserakan sedih seperti gelas kaca yang kau lempar ke lantai."

Luhan terhipnotis.

"Bagaimana, Luhan ?"

.

.

.

Mobil Yifan membelok lalu parkir lurus di basement sebuah apartement. Lelaki tubuh tinggi berkaca mata hitam, sobekan diujung bibir dan lebam di pipi itu turun sedikit tergesa menyembunyikan masuk, langsung menuju lift dan terbang ke lantai 15.

1513.

Yifan menekan bel dan tak lama sosok Selvi keluar dengan wajah terkejut. Wanita itu membelai wajah Yifan hingga laki-laki itu meringis sakit. mereka tidak berbicara apa-apa sampai pada saat Selvi memeluknya hangat dan erat, tidak peduli jika mungkin saja tulang-tulang Yifan ada yang patah didalam sana.

Mereka terlalu lengah.

Kalian seharusnya ingat, setelah berurusan dengan iblis bernama Oh Sehun pengintai selalu berkeliaran dimanapun sampai hingga kau tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi.

.

.

.

Sudah empat hari Luhan bernaung dibawah atap yang sama dengan Sehun. hari-hari berjalan normal, hanya saja waktu terasa semakin lambat saat Sehun tidak berada dirumah. Tidak ada rival untuk berdebat membuat Luhan bosan dan terus saja mencari kesalahan agar ada topik yang bisa mereka pertengkarkan.

Namun empat hari belakangan juga Sehun jarang terlihat. Hanya dua kali saat sarapan dan satu kali pula ketika lelaki itu pulang larut dan langsung menuju kamarnya. Luhan tidak tau kenapa ia selalu menanti mata tajam nan kelam milik Sehun menatapnya disetiap waktu. Mungkin ingin mencungkil mata hitam sialnya yang sipit itu.

Tidak ada yang bisa Luhan lakukan selain berbaring diranjang empuk nista ini dan mengurai tetes tangis setiap kali ingat bagaimana Sehun memperkosanya. Setengah impian Luhan melayang. Ia sudah berkeliling seharian hanya untuk menemukan celah pagar raksasa rumah Sehun yang tidak berpenjaga, tapi… Astaga! Ini penjara! Bukan rumah manusia!

Seberapa lama lagi Luhan harus disekap dalam rumah ini dan terus menerus dihantui rasa waspada ? Sehun bisa saja memaksakan gairahnya lagi dan menyetubuhinya seperti binatang. Menjijikkan.

'Clek'

"Kau sudah tidur?"

Suara itu!

Luhan membuka mata cepat dan langsung terduduk begitu menemukan sosok yang ia benci muncul; memancarkan sinar penuh antisipasi yang sangat jelas kentara penuh rasa takut. Sehun disana, dengan kemeja putih santai yang lengannya digulung sebatas siku serta celana kain hitam elegan. Laki-laki itu mendekat dan berakhir duduk disisi ranjang, mengkontaminasi pikiran Luhan untuk berpikir bahwa seberapa besarpun ia menghujat lelaki ini, namun tetap saja ada titik dimana Luhan tenggelam dalam pesona kelabu milik Sehun.

Berbahaya.

Luhan tidak mampu mengerjab untuk beberapa detik saat Sehun menatapnya dalam, kejam namun penuh kehangatan yang tidak tau berasal darimana. Atau, hanya perasaan Luhan saja ?

Baru ketika ia mampu menggerakan kelopak matanya agar menutup sejenak untuk yang pertama kali, Luhan menyadari kantong hitam bergelayut iba dimata Sehun seolah melukiskan telah banyak masalah yang ia serap dan membuang semuanya pada kantong mata tak bersalah itu.

Menjadi orang kaya tidak semudah yang terlihat.

"Luhan.."

"…." Jangan menjawab laki-laki ini Luhan! Jangan!

Hah..

"Demi Tuhan! Aku merindukanmu!"

Hentikan Oh Sehun!

Tersentak bukanlah hal yang tabu bagi Luhan saat Sehun menciumnya mendadak dan penuh keahlian, melumat bibirnya rakus dengan jilatan-jilatan yang entah bagaimana bisa terasa semakin manis jika Sehun semakin menekan bibirnya. Astaga! Ciuman dari Sehun tidak pantas untuk dinikmati!

Sehun menahan tengkuk Luhan agar wanita itu tidak bisa menghindar kemanapun, rambut hitam Luhan mengusut liat tak beraturan dan disetiap helainya yang keluar rotasi mampu membuat napas Sehun menderu lapar.

Ya Tuhan! Bagaimana bisa wanita penentang ini menjadi pembakar gairah dengan begitu hebat!

Luhan membelalak marah. Bibirnya dilumat oleh keparat yang pantas di gantung hidup-hidup lalu mayatnya diberikan pada anjing kelaparan.

Sehun sedang mempermainkannya lagi.

PLAKK!

Napas Luhan terengah, "Aku bukan pemuas nafsumu Oh Sehun!" marahnya tepat di depan mata Sehun yang berkilat. Sehun menyentuh pipinya yang terasa panas karena sentuhan emosi dari telapak tangan Luhan, menggerakkan bibir tipisnya pelan dan mencoba menetralisir darah tempramen yang sudah tertanam dalam tubuhnya agar tidak menggelar keluar lalu mencari Luhan untuk melampiaskan semua.

"Aku lelah dan kau menyambutku dengan sebuah tamparan. Kau memang pandai mencari masalah."

"Kau yang memulai masalah ini!"

Sehun menghela napas tidak berminat. Entahlah, ia hanya sedang tidak ingin berdebat dengan Luhan lalu melakukan pemaksaan dan kekerasan tanpa sadar seperti hari-hari lalu. Sehun hanya merindukan Luhan, merindukan tubuh pembakar gairah itu hingga terasa nyeri. Tapi Luhan menolak ciumannya bahkan sebelum Sehun bertindak lebih jauh.

"Luhan dengar. Aku ingin bercinta denganmu."

"Aku bukan pelacur!"

"Kau memang bukan pelacur, tapi kau wanitaku."

"Aku bukan milikmu!"

"Suaramu terlalu nyaring. Pelankan sedikit jika kau tidak ingin ku telanjangi."

Sial! Kenapa Sehun selalu berhasil membuat Luhan bungkam dengan ancaman keji andalannya!

Sehun membelai surai hitam Luhan dan menyelipkannya dibalik telinga. "Aku tidak ingin menyakitimu, jadi cobalah berhenti melawan. Apa kau tidak lelah ?" Sehun beralih pada dagu Luhan yang ia jepit cantik. "Perlawananmu hanya akan membuatmu semakin terluka. Jika kau tidak ingin menderita lebih jauh, nikmati saja. Belajarlah menikmatinya."

Apa ? Menikmatinya ? Bagaimana bisa Luhan menikmati sentuhan dari orang yang telah merenggut kesuciannya tanpa rasa kemanusiaan ?

"Nikmati Luhan.."

"…." Hentikan…

"Kau tau seberapa nikmat percintaan kita.."

"…." Hentikan….

"Nikmat Sayang…"

Bisikan itu..

Sihir.

Tuhan.. Selamatkan aku dari sihir yang terucap dari bibirnya. Jangan membuatku merasa bahwa aku juga menginginkan kenikmatan itu..

Tolong..

Sehun menghela napas rendah didepan bibir Luhan yang terdiam . Luhan nampak sedang memikirkan sesuatu dalam otak kosong.

Hah! Wanita ini mudah sekali dipengaruhi.

Sehun tersenyum puas karena merasa Luhan telah mabuk walau tanpa alkohol. Wanita ini sangat tidak berpengalaman dalam hal persetubuhan, rasa penasaran besar tersembunyi dalam kepolosan yang sanggup membuat Sehun mengerang. Jangan dipaksa, Luhan hanya perlu dituntun dan biarkan ia menemukan sendiri rasa menggelenyar membakar tubuh hingga kepalanya pening dan menginginkan Sehun memasukinya lagi.. lagi.. dan lagi..

Bagaimana rasanya bersetubuh tanpa penolakan dari Luhan ? OH SHIT! Sehun mengeras karena pikiran kotornya sendiri.

Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bibir merah ranum itu terbuka menggoda.

Luhan tidak mampu membalas ciuman ganas Sehun, hanya membiarkan Sehun melumat bibirnya kenyal dan merasa bahwa sesuatu yang membuatnya gelisah beberapa hari belakang mulai menyurut disetiap lumatan yang Sehun berikan. Apa benar Luhan merindukan Sehun ? Tidak mungkin!

Entah sejak kapan Sehun telah berpindah mengangkang dipaha Luhan yang terbujur dibalik selimut, ciuman mereka terus menempel hingga Luhan harus meremas kemeja dipinggang tinggi Sehun sebagai tanda ia butuh oksigen untuk tetap hidup. Sehun mengerti, ia melepas ciuman panasnya setengah menggeram, pertanda bahwa ciuman sepanas tadi belumlah cukup untuk menembus batas maksimal. Sehun masih kurang.

Bibir mereka basah oleh sesuatu yang bening. Sehun tersenyum puas kala Luhan menghirup napas tergesa-gesa dengan juntaian air liur disudut bibirnya. Ciuman mereka tadi benar-benar penuh percikan gairah meletup-letup.

"Luhan.."

"…."Seseorang. Tolong lepaskan aku dari sekap hipnotis ini.

"Biarkan aku masuk, sayang.."

"…." Ah…

"Buka tubuhmu untukku.."

"…." Jangan…..

Dia melenyapkan seluruh pikiranku.. Bagaimana ini ? Gairahnya menyentuh pusat wanitaku keras. Sangat keras menonjol dan membuat tubuhku meriang penasaran tentang seberapa hebat ia bisa menghentak tubuhku hingga menggelinjang.

Aku penasaran..

Tolong..

Sehun nampak sangat kuat dari erangan suara berat yang tertahan, Luhan seperti bisa merasakan bagaimana rasa nyeri saat gairah kelelakian itu tidak bisa tersalurkan dengan tepat. Menyiksa.

"Luhan.." Sehun memanggilnya lagi, bernada memohon yang amat sangat menggugah hati. Disaat ambang batas ragunya menggelenyar, Luhan menemukan alasan lain untuk mengizinkan Sehun. Alasan bahwa ia bisa mengurangi 10% hutang Yifan jika memuaskan Sehun dan itu berarti hanya perlu 10 kali bersetubuh dengan iblis ini, memberinya kepuasan hingga pening dan Luhan akan terbebas.

Ya, alasan yang sangat bagus untuk menerima Sehun ditubuhnya. Alasan logis dibalik alasan tidak masuk akal yang terus Luhan pungkiri bahwa sesungguhnya…..

Ia juga sudah terbakar oleh gairah.

Luhan menatap Sehun dengan pandangan sayu sebelum menundukkan wajah kebawah.

Menyerah.

Sehun bukanlah lelaki tidak berpengalaman untuk membaca bahasa tubuh wanita, ia langsung mengerti bahwa Luhan memberikan izin untuk sebuah penjamahan hasrat. Sehun mengerang berat sekali lagi sebelum meraih ujung gaun tidur Luhan dan menyentaknya ke atas tanpa adat ataupun sebuah kesopansantunan. Di peluknya tubuh putih langsing itu dengan cumbuan panas yang langsung tertuju dibibir mungil Luhan, melanjutkan lumatan yang terus menggoda Sehun seumur hidup.

Jemari kokohnya berburu di punggung belakang Luhan; sangat tergesa melepas kait bra yang membungkus payudara sang dewi. Sehun menarik bra-nya membuat tangan Luhan terangkat lalu jatuh tepat pada pundak Sehun.

Mereka bertatapan dalam sebelum Sehun menuntun tubuh Luhan merunduk, jatuh setengah berguncang dan menyerah dibawah kendalinya.

Luhan mendesah hebat merasakan belaian-belaian memabukkan Sehun berjalan santai di seluruh permukaan tubuhnya. Napas Luhan berantakan dan mulutnya terbuka ketika Sehun meniup ujung puting payudaranya, Luhan menginginkan lebih daripada sebatas usapan angin yang lewat. Sehun menggoda batas kesanggupan Luhan untuk bertahan.

Ini gila! Sadar Luhan! Sadar!

Pada akhirnya, Luhan menyerah. Tidak sanggup bertahan lebih lama. Dijambaknya rambut hitam legam Sehun dan menekan bibir lelaki itu untuk mengulum puting payudara merah muda miliknya yang sudah menegang. Luhan mengerang tanpa tau malu mendapati hisapan bibir Sehun yang ia damba benar-benar menyentuh payudaranya.

Oh! Luhan tidak bisa berpikir jernih! Tubuh dan pikirannya menginginkan lebih.

Sehun terkekeh puas kala menemukan tubuh Luhan ikut terbakar gairah bersamanya, wanita itu tanpa sadar telah membuka diri untuk mengakui bahwa persetubuhan mereka akan terasa nikmat jika saling menginginkan. Sehun menggeram tertahan karena pinggul bersih kelaparan nafsu Luhan menyenggol gairahnya yang telah mengeras.

Nyeri.

Sehun tidak bisa menunggu lebih lama atau ia akan meledak.

Laki-laki itu menuruni tubuh Luhan, menyentak g-string hitam yang membingkai separuh pusat kewanitaannya lalu melemparkan benda penghalang tersebut jauh-jauh. Sehun tersenyum lagi melihat Luhan terengah-engah basah dengan peluh bercucuran erotis; menunggu dan siap menerima.

Tubuh bugil Luhan yang selalu Sehun mimpikan setiap malam.

Laki-laki itu melepas pakaiannya dengan gerakan penuh aura kejantanan yang sanggup membuat selangkangan wanita basah dan jadi murah.

Di kecupnya paha dalam Luhan hingga jemari-jemari lentik itu meremas rambutnya kuat, bertambah kuat kala Sehun membelai vaginanya dengan lidah basah. Desahan Luhan semakin merdu membuat Sehun tidak bisa bertahan lama-lama hanya untuk bermain.

Sehun menyiapkan diri, mengangkang dengan kokoh diatas Luhan dengan gairah keras terpampang hingga Luhan memalingkan wajah malu. Besar berurat, otak kecil Luhan berpikir kotor.

Dalam hitungan detik, Luhan merasakan tubuhnya melengkung keatas dengan sendirinya, reaksi atas penerimaan gairah Sehun didalam dirinya.

Astaga! Kenapa kali ini jauh terasa sangat nikmat!

Sehun merunduk, mengecup bibir Luhan sekilas lalu menghipnotis wanita tersebut dengan mata iblis kelabus. "Kalungkan kakimu pada pinggangku, sayang." Sebelah tangannya menuntun paha Luhan. "Kita menginginkan kenikmatan yang sama, bukan?"

Pikiran logis Luhan lenyap.

"Menyerah padaku, Luhan." Sehun mengecup hidung bangirnya. "Serahkan dirimu dan biarkan aku menjadi penguasa." Lelaki itu mulai menggerakkan pinggulnya pelan. "Balas aku semampumu." Pintanya lagi dan menuntun pinggul Luhan bergerak terbalik dengan arah gerakannya.

"Nikmatilah persetubuhan kita."

Luhan mendesah hebat kala Sehun menaikkan permainan dan beberapa kali hampir menyentuh titik pembakar didalam tubuhnya. Lelaki itu mengerang; memerintah tanpa kata-kata agar Luhan bermain lebih liar hingga percintaan mereka mencapai titik kepuasan maksimal.

Kontrol diri Luhan pecah. Untuk pertama kali ia keluar dari jalur dan membalas sentuhan Sehun tak kalah hebat. Luhan menjadi gadis kelaparan gairah yang menginginkan Sehun memberikannya makanan berupa sodokan kenikmatan lebih dalam pada vaginanya.

Oh! Ini nikmat!

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

MWOOO?!

APA INI ?! KENAPA OTAKKU JADI SEPERTI INI ?! AKU MASIH POLOS! TULONG HUWEEEEEE!

Untuk Desire chapter 1, gue sama sekali gak nyangka bakalan dapet respon sangat baik dari readers. Gak nyangka juga banyak readers yang suka dan pengen FF ini lanjut. Tapi secara pribadi, gue mau minta maaf sama panitia yang mengadakan Event "Hunhan April Passion" karena gue masih ngelanjutin FF ini walopun eventnya sudah berakhir. #BOW

Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk seluruh pengurus event "Hunhan April Passion".

.

Dari kebanyakan review, kok readers pada benci sama sehun dan yifan ? mereka jahat banget ya ? padahal gue ngerasa mereka gak jahat kok (?) APa karakter mereka keterlaluan ?

Ada yang bilang juga FF ini angst. Emang angst ya ? Angst nya dimana ? waktu Sehun memperkaos Luhan ? Ya elah, gue malah suka karena yang memperkaos Luhan itu si Sehun. wuahahaha

.

Mohon maaf juga kalo di chapter ini ceritanya gak terlalu komplit, kecepetan, bahasa amburadul, berantakan dan membosankan, gue bingung mau lanjutinnya kayak gimana. Ya jadinya beginian deh. Pasti banyak yang kecewa karena chapter ini gak sebagus chapter awal. Ya dimaklumin aja ya neng, setidaknya gue udah post, daripada enggak sama sekali. Wkwkwkwk

Pokoknya buat semua readers yang udah support FF ini, gue mau bilang AI LOP YU :* :* :* selalu special buat ECLAIRE OH tersayang. Kamu bener beibeh, aku nulis FF ini tergesa-gesa :D . Makasih sarannya sayang :* Hayo kita bekerjasama bikin FF yadong Rate M ++++++ bareng. Tapi hanya untuk dikonsumsi berdua. Wuahahahaha

Maaf juga kalo gak ngebalas review'an kalian satu-satu. Maaf ya

.

Sedekah review juseyo ^^