-HUNjustforHAN-

-Present-

.

.

.

-Desire-

.

Chapter 3

.

.

.

.

.

Embun-embun mencair sebagai pembuka hari. Luhan mengerjab terganggu kala bias-bias cahaya silau mengetuk kelopak mata sembabnya. Sudah pagi dan ia merasa sedikit pusing beserta rasa pegal menyelimuti seluruh sendi.

Luhan meriang, apalagi menyadari bahwa pagi ini ia kembali bangun dalam keadaan polos dibalik selimut putih tebal milik Sehun membuat kepalanya berdenyut nyeri. Mendadak Luhan menoleh kesamping; berharap bahwa wajah Sehun masih terlelap disana dan Luhan bisa mencakarnya hingga berdarah. Tidak, sebenarnya tidak ada pemikiran seperti itu. Luhan hanya malu untuk mengakui bahwa semalam ia membalas sentuhan Sehun dengan tindakan sedikit berlebihan. Luhan tidak mau mengakui bahwa semalam yang bercinta penuh kehangatan dengan Oh Sehun adalah dirinya.

Memalukan. Bisa-bisanya Luhan terbuai oleh sihir lelaki penzinah itu.

Ah! Untung saja Sehun sudah pergi. Ada perasaan lega yang aneh saat Luhan mendapati sisi kosong hampa disampingnya. Seperti…. Entahlah. Aku juga tidak tau. Tapi setidaknya Luhan bisa bernapas normal pagi ini.

"Jangan menyesalinya."

Oh Tuhan! Suara itu!

Jangan katakan…

"Aku tidak suka melihat wajahmu mengatakan bahwa kau jijik dengan percintaan kita semalam." Luhan menemukannya, Sehun, duduk dengan tungkai panjang bersilang arogan. "Kau menikmatinya, Luhan. Jangan munafik."

Luhan terdiam namun mata beningnya berisi aura menyeramkan yang membuat Sehun tertarik untuk menantangnya lebih jauh. Luhan menarik tubuh untuk duduk bersandar di kepala ranjang, tetap mempertahankan letak selimut yang melindungi payudara kenyalnya. Payudara yang selalu membuat jakun kelelakian Sehun bergerak gelisah.

Luhan membuka mulut bersiap membantah; namun saat sadar jika pikirannya sangat kosong, ia menutup mulutnya kembali dengan rapat.

SHIT! Luhan benci saat Sehun menyeringai penuh kemenangan!

"Patuhlah padaku, maka aku tidak akan menyakitimu."

"Kau sudah menyakitiku sejak awal."

"Kau pasti tidak ingin terus ku sakiti sampai akhir, bukan ? Jadi, menurutlah. Jangan terus keras kepala seperti itu." Sehun beranjak dari kursinya lalu mendekat kearah Luhan yang refleks meringkuk berjaga.

"Berhenti! Jangan mendekatiku lagi!"

"Ku pikir kita sudah berdamai semalam."

"Oh Sehun! Berhenti! Jika kau tidak berhenti maka…."

"Apa ?" Sehun duduk disisi Luhan yang bermata nanar lalu mengangkat dagu sombong. Mengejek Luhan. " Apa yang akan kau lakukan ? Menamparku ? Memukulku ? Atau meludahiku seperti waktu itu ?" Sehun tertawa penuh penghinaan. "Lakukan saja, Luhan ! Lakukan!" geramnya marah lalu mencengkram dagu runcing Luhan yang mengagumkan. "Dan kemudian.. Aku bisa menyetubuhimu dilantai."

BAJINGAN!

Luhan mengayunkan tangan lembab penuh butir emosi, siap memanaskan dan meninggalkan jejak merah bertapak di pipi Sehun beserta bibirnya yang kotor. Tapi Sial! Kenapa Luhan harus menjadi wanita disaat seperti ini. Ia benci bahwa cengkraman lelaki yang memborgol tangannya bisa lebih kuat dari perlawan yang coba ia lakukan.

"Ingin menamparku lagi ?" Sehun melepas tangan Luhan saat ia rasa wanita itu sudah melemah. "Jangan mencari masalah, Luhan. Jangan melukai dirimu sendiri. Kau selalu membuatku tampak jahat dan tidak berhati."

Itulah dirimu yang sebenarnya.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan ?" Luhan bertanya dengan nada bergetar jelas; selalu ada kesedihan yang Luhan simpan saat menerima kekuasaan Sehun yang tidak bisa dibantah. Sehun mendesah bersalah. Bagaimana ia bisa begitu kejam pada wanita yang dianggapnya setingkat lebih istimewa dibandingkan wanita-wanita yang pernah mendesah suka rela diatas ranjangnya ?

"Aku menginginkanmu. Bukankah aku sudah mengatakannya ?"

"Apakah menyakitiku adalah salah satu hal yang paling kau inginkan ?"

"Tidak. Aku tidak pernah menginginkan kau untuk merasa sakit ataupun terluka. Aku hanya ingin kau menyerah, tidak membantah dan memuaskanku hingga gairah kita tuntas." Sehun menggapai wajah Luhan dan sesuatu yang tidak menyenangkan adalah Luhan selalu memalingkan wajah menjauh. "Kau tau,aku tidak ingin menyakitimu tapi kau yang mencari rasa sakit itu sendiri," Sehun menarik dagunya lagi, lebih keras. "Dengan cara melawanku."

"Kau tidak menginginkanku, Sehun. Tidak pernah! Kau hanya menginginkan aku untuk memuaskan gairahmu. Kau hanya menginginkanku untuk disetubuhi. Tidak lebih!"

"Otak kecilmu terkadang berpikir terlalu sensitif." Sehun berdiri, merogoh ponsel hitam dari saku celananya karena jujur saja ia sedang tidak ingin emosinya terpancing dan menyetubuhi tubuh telanjang Luhan pagi ini."Aku harus pergi ke Jeju. Berikan nomor ponselmu."

"…."

Wanita keras kepala.

"Luhaaan."

"Jika dari awal aku memegang ponsel maka rumahmu sudah di kepung polisi."

"Kau tidak membawa ponsel ?" Sehun mengernyit, menatap Luhan yang memalingkan wajah malas. "Bagaimana aku bisa menghubungimu ?"

"Untuk apa kau menghubungiku ?"

"Untuk memastikan bahwa kau masih berada dirumah."

"Aku bahkan tidak menemukan celah untuk bernapas, bagaimana caranya aku bisa kabur ?"

"Terkadang aku suka dengan jawaban menantangmu."

Luhan melirik Sehun sekilas dengan sangat tidak berselera. Lelaki itu sudah begitu rapi dengan setelan kemeja abu-abu dicekik dasi hitam membungkus tubuhnya sempurna. Rambut hitam berpengeras Sehun dinaikkan keatas hingga dahi bening pintarnya pamer kesegala penjuru. Sombong sekali.

"Pakai ponselku."

"Apa ?"

Sehun menggoyang kecil ponsel yang ia julurkan di hadapan Luhan namun terkadang otak Luhan cukup sulit merespon cepat, jadi Sehun melempar ponselnya keatas pangkuan lurus Luhan yang terselubung selimut putih.

"Aku akan pulang besok."

"Bagaimana kau akan menghubungi klien-mu ?"

"Ravi bisa menghubungi mereka."

"Kau tidak perlu melakukan ini. Kau bisa menghubungiku lewat telpon rumah." Kenapa juga Luhan harus sudi dihubungi oleh Sehun ?

"Dan aku yakin seratus persen jika kau punya seribu alasan untuk membantah panggilanku."

"T-tapi…"

Sial! Jangan mengecup keningku Oh Sehun! A-aku merasa bahwa… pipiku menghangat.

Ini tidak benar Luhan!

"Aku pergi." Sehun beranjak, meninggalkan usakan dipucuk kepala Luhan yang berhasil membuat wanita itu mematung. Sehun meraih jas hitamnya yang tersampir mesra di punggung kursi lalu memakainya sambil berjalan mendekati pintu.

Knop berputar, begitu juga dengan penglihatan Luhan yang berputar mengikuti tubuh Sehun. laki-laki itu berhenti setelah berhasil membuat celah empat puluh lima derajat lalu kepalanya memutar separo kebelakang, mengintip Luhan.

"Aku menidurimu dua kali, Luhan. Dan aku masih menginginkan tidur yang selanjutnya.."

Blam!

.

.

.

Sehun mencuri pandang gumpalan-gumpalan putih mengambang diudara luar. Gumpalan awan tebal membuat pesawat yang ia tumpangi berguncang kecil menyebalkan. Ravi, lelaki berkemeja biru tua itu duduk disamping Sehun dan nampak sangat sibuk mengecek tumpukan jadwal sang Tuan Besar.

Biasanya mereka akan melakukan rapat kecil setiap kali duduk di kursi kelas bisnis, menyusun segala keperluan rapat ataupun tukar menukar buah pikiran brilian dari otak sempurna keduanya. Sehun termasuk workaholic; hal yang membuat Ravi harus singgah ke apotik setiap pulang kerja dan mengasihani rangka-rangka tulangnya yang retak.

Tapi kini ada yang berbeda. Ravi mengernyit kala Sehun melemparkan tablet berisi kotak-kotak jadwal padatnya kedalam pangkuan Ravi. Laki-laki itu menoleh ke jendela samping sambil mengusap dagunya dan tersenyum tipis, senyum yang mampu membutakan mata bidadari untuk menjatuhkan diri mereka dari tangga pelangi yang damai. Ada kilatan kepuasan yang Ravi temui dikornea mata Sehun.

"Ravi."

"Ya, Tuan."

"Kapan meeting di Jeju akan berakhir ?"

"Jika semua berjalan sesuai rencana, kita bisa pulang ke Seoul pukul empat sore."

"Tidak bisakah dipercepat ?"

"Saya tidak yakin akan hal tersebut, Tuan. Meeting besok termasuk salah satu meeting terbesar kita tahun ini."

Ya. Sehun tau itu meeting besar. Butuh tiga hari Sehun mempersiapkan semuanya dan kehilangan waktu berharga demi menemukan Luhan yang selalu marah-marah siang hari dirumahnya.

Lelaki itu mendesah pasrah. Ravi juga mendengar ada decihan sangat tidak bersemangat yang jarang sekali keluar dari bibir tipis sang Tuan Besar. "Anda sepertinya tidak bersemangat menyambut meeting besok."

"Kau benar. Untuk pertama kalinya aku tidak berminat dengan meeting yang menghasilkan miliyaran won."

"Apa ada masalah, Tuan ?"

"Harusnya aku membawa Luhan ikut serta." Sehun mendesah lemas lagi. "Apa itu termasuk masalah ?."

"Apa tuan mengkhawatirkan Nona Luhan ?" Ravi menutup map hitam ditangannya. "Anda bisa tenang Tuan, karena saya sudah memerintahkan seluruh penjaga rumah untuk—"

"Tidak. Aku tau Luhan tidak akan bisa kabur. Aku hanya…"

"…."

"Ingin melihatnya."

Apa bosnya sedang mabuk ? Sejak kapan Sehun bisa merindukan seseorang ?

Ravi tersenyum kecil melihat dahi Sehun berkerut serius. Memikirkan Luhan sepertinya lebih menyakiti otak pintar lelaki itu dibandingkan kehilangan seratus unit kamar apartementnya.

"Sepertinya anda sangat tertarik dengan nona Luhan."

"Apa ? Aku ?"

"Iya, Tuan. Selama saya menjadi assistant anda, saya tidak pernah melihat anda seperti ini."

"Seperti apa maksudmu ?"

"Seperti ada bayangan nona Luhan yang selalu menyembur marah di kepala anda."

Sehun terkekeh geli dengan cara yang khas. "Ya. Kau benar." Aku Sehun dan Ravi menemukan cahaya berbeda di mata kelabus itu. "Dia wanita pertama yang berani meludahi wajahku."

.

.

.

Luhan dilanda ragu. Langkah kecil rapuhnya mondar-mandir di depan pintu balkon kamar bersama tangan basah licin penuh keringat. Ponsel hitam ditangannya berembun hangat.

Apa Sehun sedang menjebak Luhan dengan meminjamkan wanita ini ponsel ?

Satu jam lalu sejak kepergian Sehun, sempat terpikir oleh Luhan untuk menghubungi polisi demi membantunya memanjat pagar rumah Sehun yang terlapis kaca tajam di sepanjang ujungnya. Namun pikirannya tiba-tiba sadar tentang surat perjanjian tersebut; perjanjian jual beli yang ditandatangani Yifan,juga seberapa dermawannya seorang Oh Sehun yang tidak akan mempermasalahkan ratusan pundi emasnya menyumpal mulut berliur najis para polisi disana hingga mereka tidak bisa bicara lagi selain apa yang ingin Sehun dengar. Usaha Luhan akan sia-sia dan pada akhirnya ia akan tetap dilempar kerumah ini.

Tapi kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang ? Kapan lagi Luhan akan menggenggam sesuatu yang bisa menghubungkannya pada orang-orang luar ? Luhan harus memanfaatkan keadaan langka dengan sangat baik.

Jadi setelah berperang melawan batin selama tiga jam, Luhan memutuskan pilihan bersama deru napas setengah yakin bercampur rasa tegang. Diliriknya digit-digit angka dilayar licin ponsel terebut lalu menekannya satu-persatu.

Ia menghubungi seseorang..

"Hallo.."

"Gege.."

.

.

.

Sebuah kebiasaan sulit untuk di ubah dalam waktu cepat. Begitu pula dengan Sehun. beginilah kehidupannya sejak beberapa tahun lalu, duduk di sofa tengah kamar president suite hotel bintang lima dan bibir berpagut mesra dengan wanita penghibur yang ia bayar lebih dari setengah harga sewa kamar.

Mahal.

Gelas tinggi bening terlepas dari apitan jari wanita itu, menggelinding di lantai dengan cairan pekat mengalir erotis menandingi gerak pinggulnya yang mencoba menggoda gairah Sehun. wanita itu menarik jepit hitam kecil di gulungan rambutnya, menggoyangkan kepala pelan demi melerai surai-surai ikal berwarna coklat kemerahannya menjadi bulir geraian penggoda. Ia merebahkan diri tanpa diperintah, mengangkang suka rela dan siap dimasuki sepuas hati.

Sehun mengamati si rambut ikal teliti, mengakui bahwa wanita ini memilik bentuk tubuh sempurna dan begitu panas dengan bibir merah menyala. Gaun yang ia kenakan berbelah dada rendah, sangat sesak, bahkan puting payudaranya beberapa kali mulai mengintip penasaran.

Sehun menyesak wanita itu dengan ciuman menuntut, melumat bibirnya semangat dan mendapat balasan profesional berupa belaian lidah. Wanita ini pandai bersetubuh. Terbukti dari tubuh agresifnya yang bergerak memulai permainan.

Astaga! Seandainya Luhan liar seperti ini!

Luhan..

ARGGHHH!

"Ada apa, sayang ?" Si rambut ikal bertanya setengah mendesah kala Sehun melepas lumatan panas mereka. Lelaki itu kembali duduk tegak dan mengusak rambut keras, frustasi sekali.

"Keluar."

"Apa ?"

"Aku bilang keluar."

"T-tapi.."

"Uangmu sudah ku transfer. Jadi sekarang cepat tinggalkan tempat ini."

"Kita baru mulai dan aku belum—"

"Keluar sebelum pecahan botol masuk kedalam vaginamu!"

Bibir merah ranum itu bergetar, tergesa meraih blazer bulu binatangnya yang tergeletak di sofa single lalu melangkah terburu tanpa etika lagi. Mata Sehun terlihat ingin membunuh hingga pelacur cantiknya lebih memilih menenteng high heel hitam keluar dibandingkan mengemis sedikit saja waktu dari laki-laki itu untuk berbaik hati membiarkannya meloloskan tali high heel. Payudara adalah aset paling berharga, jadi si rambut ikal tidak akan membiarkan Sehun memecahkan mesin pencetak uang miliknya.

Lelaki kaya yang menyeramkan!

.

.

"Sial!" botol-botol alkohol gugur retak dilantai saat dengan erangan marah Sehun menendang meja kaca tebal didepannya. Ia menjilat bibir dan sadar jelas napasnya memburu marah.

Kenapa Sehun jadi begini ?

Kenapa gairahnya padam seketika saat bayang-bayang Luhan melintas tanpa izin ?.

Wanita yang penuh letupan marah penantang itu membuat leher Sehun kering hingga perih. Mata rusa sayu pelawan Luhan mampu mengendalikannya sampai dibatas dimana Sehun merasa bahwa Luhan benar-benar berbahaya. Baru beberapa hari mengintip tidur Luhan ditengah malam dan melihat bibir kenyalnya terbuka sebesar jari kelingking, kontrol diri Sehun pecah berantakan. Tanpa melakukan hal-hal penggoda pun Luhan telah berhasil merubah sisi kecil dalam dirinya.

Tidak bisa dibiarkan!

Napas Sehun masih tidak seimbang saat bel pintu kamar berbunyi berkali-kali. Sangat mengganggu. Sehun hampir saja meledak jika saja bukan wajah gelisah Ravi yang tersaji dibalik daun pintu coklat tua itu. "Tuan.."

"Masuk." Wajah cemas Ravi meloloskan diri masuk lalu menutup pintunya kembali.

"Katakan."

"Nona Luhan.."

"Ada apa dengan Luhan ?!" Luhan. Ku harap kau tidak merangkai masalah.

"Kepala pelayan mengatakan jika nona Luhan terus merintih sakit pada perutnya."

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya ?!"

"Saya kurang tau, Tuan. Tapi sepertinya nona Luhan alergi terhadap beberapa makanan."

"Cepat panggil dokter Kim!"

"Dokter Kim masih dalam perjalanan dari luar kota. Butuh waktu setengah jam baginya un—"

"Hubungi kepala pelayan rumah! Sekarang!"

Ravi meraih ponselnya bergetar, terkejut saat tangan egois Sehun merampasnya mendadak. Ada yang berbeda. Sehun tidak pernah terlihat sekhawatir ini bahkan ketika perusahaan mereka rugi bermiliyar won. Tapi mendengar Luhan kesakitan, Ravi merasakan telapak tangan Sehun mendinging ekstrim dan juga bibirnya memucat penuh hanya dalam beberapa detik.

"-Selamat ma-"

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! BAWA LUHAN KE RUMAH SAKIT! SEKARANG!"

.

.

.

Ini gila! Siang nanti adalah meeting besar seharga miliyaran won dan Sehun bersama tangan bergetar gelisahnya sedang berada didalam pesawat penerbangan paling pagi. Sehun duduk sendiri, meninggalkan Ravi bergelut kekalutan bukan main mendapat titah untuk menghandle meeting sendirian.

Otak pintar Sehun tidak bermain lagi sejak beberapa jam lalu. Luhan membuyarkan semuanya dalam sekejab. Yang tertinggal sekarang adalah lelaki bodoh yang merasa khawatir setengah mati terhadap wanita sekapannya. Sehun terus berhalusinasi tentang rintihan sakit Luhan hingga ia merasa tidak ada lagi sisa kesabaran dalam tubuhnya.

Bagaimana keadaan Luhan ? Apa dia baik-baik saja ?

Ya Tuhan! Tidak pernah rasanya Sehun merasa pesawat sangat lambat seperti sekarang.

Luhan. Apa yang telah kau lakukan padaku ?

.

Kaki jenjangnya baru saja menginjak lantai putih licin bandara dan Sehun langsung melejit keluar, mencari Pak Han –supir pribadinya- lalu menemukan lelaki tua itu sedang berdiri tegap di samping pintu mobil. Sehun tidak lagi sempat membalas sapaan pak Han, tubuhnya melesat cepat kedalam mobil dan setengah berteriak agar pak Han mengemudi mobil secepat mungkin.

"Bagaimana keadaan Luhan ?"

"Nona Luhan sudah dibawa ke rumah sakit, Tuan."

"Kita kesana sekarang."

"Baik."

Sehun mengetukkan jari cemas, mulut dan batinnya kompak mengutuk lampu merah yang terpajang bodoh di perempatan jalan. Oh ini masih terlalu pagi untuk macet keparat! Menyingkirlah!

Kekhawatiran berlebih seorang Oh Sehun sedang terusik. Pak Han tidak berani berbasa basi santai jika iris mata Sehun mulai berubah kelabus, seperti ular cobra yang siap mematuk siapa saja dengan bisa racun mematikan.

Tak lama ponsel Sehun berdering merintih. Bulu tengkuknya merinding tiba-tiba dan Sehun mulai berpikir hal buruk akan terjadi dalam waktu dekat. Ia terlihat seperti peramal bodoh tanpa kartu tarot, dan semua itu hasil perbuatan sang wanita penentang. Sial!

"Ada apa ?!"

-Tuan! Nona Luhan!-

"Ada apa dengan Luhan ?! Apa keadaannya memburuk ?!"

"Tidak, Tuan. T-tapi…"

"BERBICARALAH DENGAN JELAS KEPARAT!"

"N-nona Luhan.. melarikan diri."

"APA?!" Buku-buku baja tangan pembinasa Sehun mengepal. Urat matanya menegang dan napasnya berdesis panas. "APA KALIAN INGIN KU BUNUH?!"

-Maaf Tuan. Tapi Nona Luhan melarikan diri bersama kakaknya."

"Kakaknya ?"

Wu Yi Fan. Wu Yi Fan. Wu Yi Fan. Wu…Yi…Fan!

"BAJINGAN KAU WU YI FAN!"

.

.

.

Luhan meremas otot-otot menonjol lengan Yifan, sadar jika remasan tangannya bergetar jelas penuh ketakutan. Mobil mereka berhenti di tengah jalan kecil sepi dengan pohon-pohon tinggi redup menjadi teman pagar pembatas dari curang mengenaskan. Tidak ada suara lain yang masuk dalam pendengaran Luhan kecuali deru mesin mobil, bising-bising teriakan burung pagi dan juga isakannya sendiri. Bahkan isakan Luhan terlalu keras.

Dada bidang Yifan menyambutnya lagi dalam sebuah pelukan, hangat diselingi aroma peluh menenangkan. Yifan mengusap punggung belakang Luhan saat ia rasa pundak adiknya malah semakin berguncang hebat.

"Tenanglah, Lu. Tidak apa-apa. Gege disini."

"G-ge.."

"Iya sayang. Kita sudah aman."

"A-aku takut."

"Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi. Mereka sudah kehilangan jejak."

Hah.

Yifan bernapas lega, sangat lega hingga rasanya sebuah paru-paru baru disematkan dalam rongga dadanya. Luhan telah kembali. Adik kesayangannya telah berada dalam pelukannya lagi. Terimakasih Tuhan.

Isakan Luhan mulai mereda walau pundaknya masih berdenyut tipis, Yifan merenggangkan pelukan mereka lalu mengulurkan ibu jari dan menyapu bulir-bulir air mata Luhan. Penuh kesungguhan, Yifan tidak pernah ingin melihat mereka jatuh sembarangan mengotori pipi adiknya lgi.

"Istirahatlah. Perjalanan kita masih jauh."

"Kita akan kemana, ge ?"

"Kau tidak perlu tau. Yang jelas kita akan pergi ketempat terpencil."

"T-tap—"

"Sssttt. Jangan banyak tanya dan tidurlah. Gege akan membangunkanmu jika sudah sampai."

Inilah yang Luhan rindukan dari sosok tinggi dihadapannya. Saat dengan telaten Kris menuntun Luhan merebahkan diri, melapiskan sweater biru dongker pada tubuh si mungil lalu meninggalkan kecupan sayang yang selalu berhasil mengantarkan Luhan pada mimpi indah.

Tapi ini sudah terlalu pagi untuk tidur.

.

.

.

Luhan menilik sebentar sebelum membuka mata penuh. Sebenarnya tidak ada wanita yang tertidur nyenyak seperti apa yang dipikirkan Yifan, adik keras kepalanya itu hanya mendengkur palsu demi meyakinkan wajah penuh peluh khawatir Yifan bahwa ia tidak apa-apa. Luhan baik-baik saja.

Bodoh! Memangnya siapa yang bisa terlelap dan menuai mimpi indah saat hidup terasa sengal di kejar iblis.

"Kita dimana, ge ?"

"Vila."

"Villa ? Villa siapa?"

"Ayo masuk. Kau harus banyak istirahat."

Yifan mengabaikan pertanyaannya dan Luhan merasa ada aroma mencurigakan.

Yifan tidak berniat menjualnya pada orang yang lebih kaya lagi kan ?

"Ini villa temanku. Jangan menatap gege dengan pandangan curiga begitu, Lu."

Luhan memalingkan wajah, merutuki tatapan fokusnya pada Yifan dan membuat sang kakak tampan mendesah bersalah.

Yifan adalah satu-satunya hal yang Luhan punya di dunia. Luhan telah berpikir bahwa rentang waktu berapa minggu belakangan adalah sesuatu yang harus mereka lupakan. Ia akan membicarakan ini pada Yifan besok. Luhan akan menghapus segala tentang Oh Sehun dan begitu pula Yifan, tidak ada lagi nama Selvi. Hanya itu dan Luhan bersumpah akan memaafkan Yifan atas semua tindakan keterlaluannya.

Luhan mengingkan kehidupan mereka kembali. Kehidupan sebelum muncul nama Selvi dan Sehun yang membawa keadaan jadi buruk. Yifan hanya perlu mengatakan bahwa ia telah melepas Selvi dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi.

Lakukanlah ge.. Demi aku..

.

.

.

Vila ini jarang berpenghuni. Itu adalah pikiran pertama Luhan ketika langkah kecil ragunya melintas di pintu utama. Udara sangat pengap dan seluruh perabotnya nampak berdebu. Tidak ada udara pagi segar yang melintas masuk.

Yifan menekan saklar lampu lalu menepis pelan debu kelabu yang hinggap diujung jari telunjuknya. Suasana redup karena hanya ada sebagian lampu yang dapat menyala. Bulu kuduk Luhan berdiri tegang, perasaan takutnya kembali teruji apalagi saat Yifan meminta izin untuk keluar kamar sebentar.

"Jangan lama-lama, ge."

"Tidak akan."

Luhan mendekatkan diri pada ranjang queen berseprai putih, mengebas titik-titik debunya sebentar sebelum duduk di sisi ujung dan kembali menjelajahi keheranannya sendiri akan rupa kamar ini. Jauh berbeda sekali dengan kamar super megah milik Sehun. Luhan bahkan tidak pernah menemukan sebutir debu pun yang berani menempel di istana lelaki itu. Makhluk mati saja takut pada Sehun, apalagi manusia.

Dan Ya Tuhan! Sehun!

Apa dia sudah tau jika aku melarikan diri ? Para pengawalnya pasti sedang berkeliaran penuh keringat darah mengejarku dan menyelamatkan kepala mereka masing-masing dari penggalan pedang Sehun. tapi haruskah aku menjadi tumbal lagi ?

Tidak, Lu! Bertindaklah egois dan lepas dari rasa bersalah karena meninggalkan Sehun. Dia sedang berada di Jeju dan tidak mungkin pulang dalam waktu cepat. Dia orang sibuk, jadi setidaknya aku bisa aman dari otak cerdas penuh kelicikan Sehun.

Clek!

"Ge!" Astaga. Luhan terkejut setengah mati hingga refleks melompat dari duduknya. Kebiasaan Yifan yang malas sekali mengetuk pintu.

"Kenapa kau sangat terkejut ?"

"Ku kira gege…."

"Hantu ?"

"Gege! Jangan menyebutnya saat kita berada disini! Kau mau aku pingsan ?"

Yifan terkekeh kecil. Mendekati sang adik yang sedang menekuk wajah kesal. Oh sungguh! Yifan sangat merindukan sikap manja Luhan yang terkadang membuatnya menggeram kesal.

Bayi rusa ini.

"Gege darimana ?"

"Mobil." Yifan mengendikkan bahu lebarnya, mengangkat kecil kantong putih lumayan besar di kungkungan jarinya. "Disini akan sulit mencari makanan, jadi aku membawanya dari rumah."

"Gege akan memberiku makan snack dan ramyeon berhari-hari ? Kau mau tubuhku jadi keriting ?"

"Apa kau mau makanan yang lain ? Kau mau makan apa ?" Yifan meletakkan kantong putihnya dikaki ranjang. "Gege akan mencarinya."

"Apa yang ada dijual disini ?"

"Seingatku ada penjual bibimbab di ujung sana."

"Seberapa jauh ?"

"Sekitar 15km dari sini."

"Apa?!"

Oh! Demi nyanyian burung hantu, Luhan tidak mau hidup di dunia terpencil ini dalam waktu lama!

"Kau mau ?"

"Tidak. Tidak. Aku tidak lapar."

.

.

.

Sebenarnya ada yang aneh dengan sarapan pagi ini. Luhan juga tidak tau kenapa ia dan Yifan jadi saling fokus pada mangkuk ramyeon mereka masing-masing, tidak berbicara apapun dan keadaan menjadi canggung seketika. Oh ayolah, Luhan sudah berusaha memaafkan Yifan. Jika sunyi seperti ini malah mengingatkan Luhan pada kesalahan yang telah kakaknya lakukan.

"Apa ramyeonnya tidak enak ?" Bagus. Yifan bersuara terlebih dulu. "Maaf. Gege tidak tau cara memasak ramyeon yang benar."

"Kenapa tidak membiarkan aku memasaknya ? Rasanya tidak akan jadi aneh seperti ini."

"Gege anggap itu sebuah pujian, Luhan."

Kekehan kecil tersampir di bibir keduanya. Bibir mungil merah ranum dan bibir tebal sensual.

Luhan menyetir keritingan ramyeon berkuah dalam mangkuknya, rasa tidak berselera bukanlah berasal dari ramyeon buatan Yifan; tidak ada yang salah dengan ramyeon ini. Yang menjadi penghambat suapan-suapan lezat Luhan adalah rasa cemas yang masih bergelantung erat dalam hati beserta pikirannya.

Jujur saja Yifan juga memaksakan kunyahannya yang terdengar begitu nikmat, berusaha memancing Luhan agar sang adik juga ikut mengisi perut ber-angin mereka. Luhan tidak boleh kelaparan, apalagi sampai jatuh sakit.

"Ge.."

"Hm ?"

Yifan mendongak tepat pada wajah sendu Luhan dihadapannya. Pasti ada yang ingin rusa besar itu bicarakan. Ia melepas kayu bambu bulat kecil dari tangannya lalu menatap fokus pada wajah cantik Luhan.

"Ada yang ingin ku tanyakan."

Hah…

"Em. Tanyakan saja." Oh tidak. Aku berdebar.

"Irene.."

"…."

" Siapa dia ?"

Luhan merasa tebakannya benar bahwa ada sesuatu yang penting dibalik nama Irene. Nama yang Luhan syukuri masih melekat dalam memorinya dan dapat ia pertanyakan kenapa Sehun menyebutkan nama itu saat ia diperkosa pertama kali. Urgh, Luhan benci bagian itu.

Fokus Yifan merayap terbang lalu menghilang, kornea matanya berputar-putar dari atas kebawah; mencari sesuatu yang tidak akan membantunya sedikitpun.

"Ge.. Jangan mencari alasan untuk membohongiku."

"…."

"Gege—"

"Dia kekasih Sehun sewaktu kami di sekolah tingkat atas yang sama." Yifan menyerakkan suara palsu dari tenggorokannya sebelum membuka kembali lembar masa lalu dan memulai dongeng paginya.

.

.

Decitan merintih engsel berkarat yang dipaksa bergesek terdengar begitu perih saat Luhan membuka daun jendela. Pandangannya berburu keluar lalu mendapati fakta bahwa mereka berada didataran cukup tinggi hingga Luhan dapat melihat atap-atap sederhana yang berjarak cukup jauh satu sama lain. Mereka benar-benar tersesat didaerah terpencil.

Menarik napas dalam, Luhan langsung menghelanya lagi saat merasa udara di kamar ini sangat pengap penuh debu. Lalu tanpa diperintahkan otaknya bekerja sendiri mengingat cerita sekilas tentang lelaki itu, lelaki kejamnya.

Oh Sehun.

Jauh didalam hatinya Luhan sangat membantah saat Yifan mengatakan bahwa Sehun tidaklah seperti itu sewaktu mereka sekolah. Sehun memang berasal dari keluarga yang sangat kaya, namun dia bukanlah seorang pemaksa ataupun iblis kejam walau Tuan Oh –ayah Sehun—adalah pemegang saham terbesar di sekolah mereka. Sehun pria yang berwibawa.

Benarkah ? Mustahil. Mana mungkin iblis seperti Sehun pernah berbuat baik seumur hidupnya.

Dan Irene. Wanita itu.

Tanpa sadar Luhan menghela napas malas sekali lagi. Rasanya ada gumpalan kerikil menyumbat tenggorokannya hingga menimbulkan rasa mual.

Irene. Dia kekasih idaman Sehun, wanita yang sangat di agung-agungkan oleh iblis itu dan wanita yang Sehun pertaruhkan setengah mati. Sehun melindungi Irene dari ketidaksetujuan orangtuanya yang mengatakan keluarga Irene terlalu berantakan untuk menjadi bagian dari keluarga 'Oh'. Ayahnya menikah lagi dan ibunya memiliki sebuah bar, sesuatu yang tidak bisa ditoleransi oleh Tuan Oh yang terhormat.

Dam kebetulan yang tidak menyenangkan adalah Irene tidak membalas perasaan Sehun sepenuh hati. Mereka memang sepasang kekasih, namun Irene terlihat menyimpan rasa berlebih pada Yifan. Irene terus mendekati Yifan dan tidak peduli jika Yifan telah memberikan penolakan dengan berbagai cara.

Sampai dihari itu, hari dimana kedua orang tua Sehun mendapat kecelakaan dan meninggal dunia, Irene sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya. Irene tidak berbelas kasihan pada diri Sehun yang terluka namun semakin menaburi hati koyak Sehun dengan pecahan kaca. Wanita itu mengirimkan pesan bahwa ia ingin mengakhiri hubungan mereka, melepaskan diri dari kasih sayang tulus Sehun secara utuh.

Sehun menggila. Dan karena kesalahpahaman, nama Yifan terseret masuk. Dua hari setelah kematian orang tuanya yang mengenaskan, Sehun mendapati Yifan keluar dari bilik kamar hotel atas nama Irene. Ia menggeram marah namun masih belum menjadi dirinya yang kelam seperti sekarang. Karena itu Sehun lebih memilih pergi melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, sekaligus mengobati hati mudanya yang tertusuk parah tanpa pernah mau mendengarkan penjelasan yang selalu Yifan coba lerai.

"Kau meniduri Irene ?" adalah pertanyaan yang sudah Yifan tebak akan mengudara dari bibir mungil Luhan.

Tidak. Yifan tidak pernah sekalipun meniduri Irene. Ia tidak memiliki perasaan secuil kerikil pun pada wanita itu, Yifan sudah memiliki yang lain. Ya, sosok yang lain. Sosok rahasia.

Pada malam itu Yifan hanya tidak tau harus bertindak seperti apa saat ponselnya bordering ditengah kesunyian malam lalu seseorang diseberang memintanya untuk menjemput orang mabuk. Irene mabuk berat. Yifan tidak tau alamat rumah Irene dan wanita itu tidak sadarkan diri dalam pelukannya.

Membawa tubuh setengah telanjang (karena gaun ketat pendek) Irene kerumah mereka dan bertemu sang ibu ? Hah! Kalau begitu besok pagi Yifan harus mencari kupingnya dalam tong sampah.

Dan empat tahun lalu Sehun kembali bersama sosok baru yang merasuki tubuhnya. Ia bukan lagi Sehun yang meninggalkan masalah untuk menenangkan diri, namun telah menjadi Sehun yang akan memenggal setiap kepala yang menganggu kesenanangannya. Iblis hitam.

Oh tidak. Mengingat bagaimana iris hitam Sehun diselimuti kornea mata kelabus mengerikan membuat Luhan bergidik tanpa sadar. Bagaimana jika Sehun berhasil menemukan persembunyiannya disini ? Apa Sehun akan melemparkan tubuhnya ke rel kereta api untuk digilas hingga hancur lebur ?

Luhan menggelengkan kepala, membuang suara serak yang tiba-tiba mengganggu tenggorokannya lalu beranjak meninggalkan jendela itu. Ia duduk disisi ranjang karena otaknya saja tidak tau hal apa yang harus Luhan lakukan. Tapi saat mata Luhan mengacung kebawah pada kakinya jenjangnya yang terkulai, ia menemukan sesuatu menganjal di saku hotpantsnya. Luhan mengernyit.

Ponsel Sehun.

Kenapa Luhan sampai lupa jika dari kemarin ponsel tersebut terus menyerahkan diri pada saku celananya. Ia hanya memandangi benda persegi hitam itu saat keinginan untuk menekan tombol power terhalang oleh rasa ragu.

Apa yang ingin kau cari Luhan ?

Entahlah. Luhan juga bingung apa yang sebenarnya ingin ia dapati di dalam ponsel tersebut. Tapi rasa membuncah penasaran beserta bisikan-bisikan halus terus menggelitik hatinya dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting bersembunyi dalam memori hitam itu.

Dan yeah! Wanita memang selalu mengandalkan perasaan saat bertindak.

Layar ponsel digenggamannya menyala dan saat itu pula Luhan menghembuskan napas beserta uap-uap kecil yang mengangkut rasa penyesalannya terbuang. Luhan tidak pernah sadar jika perasaan yang selalu menuntun hatinya kerap kali membawa ia kedepan pintu kebenaran yang membuatnya merintih agar Tuhan memutar waktu dan membiarkannya sekali saja apatis terhadap sesuatu yang berhubungan dengan perasaan.

Luhan membukanya, gallery ponsel Sehun. kotak-kotak itu bermunculan dan….

Napas Luhan tersangkut. Paru-parunya terasa diremas oleh kuku-kuku tajam hingga sobek. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Luhan kembali terhempas ke dasar muntahan bumi yang mendidih panas, hanya dengan jejeran ratusan foto berisi sosok Yifan dan Selvi dibeberapa tempat cukup membakar hangus semua lembar kepercayaan yang baru saja Luhan bangun untuk lelaki itu.

Pikiran Luhan melayang-layang pasrah. Jadi, selama ini ?

Yifan tidak pernah melepaskan Selvi.

Yifan masih mempertahankan wanita itu.

Yifan rela melihat Luhan diperkosa hanya demi Selvi.

Apalagi ini ? Kenapa dunia sangat tega kepada makhluk lemah seperti Luhan ?

Clek!

"Luhan .. Gege punya coklat. Kau mau ?"

Kau datang disaat yang tidak tepat,Yifan.

"…."Jangan mendekatiku, Ge.

"Luhan.."

"…." Ku mohon, jangan mendekatiku.

"Sayang, gege bawa coklat kesukaanmu."

"…." Jangan sekarang.

"Lu.. Ada apa ?"

"…." Jangan menyentuh pipiku.

"Hey… Bicara pada gege, ada apa ?"

"…." Jangan berpura-pura khawatir padaku! Aku muak!

"Lu.. Kena—"

PLAAKKKKK!

Ada apa ?

Yifan menyentuh pipinya yang berdenyut panas, ada kebingungan menyelimuti seluruh raut wajah lelaki itu ketika mendapati pipi tinggi Luhan basah oleh sesuatu yang hangat.

"Jangan menyentuhku." Katanya terdengar begitu penuh aroma kebencian.

"Luhan.. Ada apa ? Jangan seperti ini. Bicara pada gege—"

"KAU BAJINGAN! KAU BUKAN KAKAKKU!"

"Luhan! Apa yang kau bicarakan?!"

"JANGAN MENYENTUHKU!"

"Lu! Tenanglah!"

"LEPASKAN AKU!"

Ya Tuhan! Kenapa Luhan meronta keras seperti ini ? Apa yang sebenarnya terjadi ?

"LEPAS!"

"Lu! Gege mohon! Tenanglah!"

"LEPASKAN AKU WU YI FAN!"

"LUHAN!".

Wanita itu terpaku diam, begitu juga Yifan yang menyesal bagaimana bisa ia mendorong jatuh tubuh Luhan keras ke ranjang disertai bentakan menakutkan. Sesuatu yang salah terjadi mendadak tanpa sempat Yifan menebak apa itu. Ia masuk kekamar ini dengan niat ingin merajut kembali kedekatannya yang sempat rusak bersama Luhan, namun tiba-tiba saja Luhan sudah meledak tidak terkendali dan menyemburkan percikan bara-bara emosi. Keadaan terasa semakin sulit dan membingungkan.

Dengan jari-jari bergetar pengecut, Yifan mencoba meraih tubuh Luhan. Tapi tidak, adiknya bahkan beringsut takut; menghindar dari sentuhan tangannya seolah disana terdapat bara api yang menyala-nyala.

"Lu.."

"Kau.." Suara Luhan tidak stabil, Yifan tau. "Seberapa berartinya wanita itu hingga mampu membutakan matamu seperti ini ?"

"…."

"Kau bodoh Yifan! Kau bodoh! Kau mengorbankanku hanya demi PELACUR itu!"

"Luhan! Jaga bicaramu!"

"Kenapa ? Kau ingin membelanya ? Kau ingin menyangkal apa yang ku katakan ?"

"Lu, ayo kita bicarakan baik-baik."

"Semuanya tidak bisa dibicarakan baik-baik lagi. Kau merusak parah kepercayaanku, Yifan. Kau merusak segalanya! Kau merusakku!"

"Dengarkan aku."

"Tidak! Aku tidak mau mendengar apapun!"

"Luhan!"

"Aku menyesal Wu Yi Fan! Aku menyesal! Aku sangat menyesal ikut bersamamu! "

Luhan melempar sesuatu yang keras tepat pada dada bidang Yifan. Saat meraihnya, Yifan baru menyadari akar dari pertengkaran mendadak mereka.

Ini pasti ulah Oh Sehun. Lelaki itu menguntit setiap gerak gerik Yifan dengan kamera pengintai dari para pesuruhnya. Yifan terkesiap kala mendengar suara dentaman pintu lalu sosok Luhan telah lenyap dalam kornea matanya.

"LUHAN!"

Oh, jangan menghilang lagi, Lu. Jangan memuat Yifan membuang sisa-sisa malamnya hanya untuk terjaga memikirkanmu. Yifan sangat menyayangimu, siapapun tau itu. Jangan berlari keluar, kau harus tetap didalam karena mungkin saja lebah-lebah budak Oh Sehun mengintai dimanapun. Kau harus mengurung diri jika tidak ingin iblis hitam itu menangkapmu lalu menjadikanmu seorang sandera di istananya.

.

"Luhan! Berhenti!"

Suara langkah-langkah terburu Yifan terdengar menelusuri anak tangga, Luhan menoleh sekilas tanpa memperlambat sedikitpun langkah demi meraih pintu utama. Gagang putih perak tersebut sudah didalam genggaman ketika pergelangan tangan kirinya ditarik paksa. Seberapa besar langkah Yifan hingga ia bisa meraih Luhan dalam waktu cepat.

"Lu.. Gege akan menjelaskan semuanya."

"Jangan mengatakan apapun lagi!"

"Kau salah paham."

"Dengar Wu Yi Fan! Aku membencimu lebih dari aku membenci Oh Sehun!"

"Luhan.. Gege Mohon."

Luhan tidak menjawab, namun tepisan tangan yang Yifan rasakan cukup untuk memberitahu bahwa Luhan berada dibatas muak. Wajah Luhan basah dan itu adalah hal yang selalu Yifan kutuk sejak mereka kecil. Tapi mengapa sekarang harus ia yang menjadi alasan Luhan menangis ?

"Luhan.."

"Bukankah kau sudah mendengarnya, Wu Yi Fan ? Luhan tidak menginginkanmu lagi."

Siapa ?

Itu bukan sahutan suara Luhan.

Saat Yifan dan Luhan memutar kepala mereka kesamping, aura hitam itu telah datang.

"Dia milikku."

"Oh Sehun."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

YAAAKKIIIINNN DAAAHHHH READERS PASTI PADA NGAMUK ADA TBC DISONO. WUAHAHAHA

Gue gak sengaja nyimpen tiga kata itu disana, tapi yah, apa daya. Ini takdir :D

Disini gue mau minta maaf banget kalau update-nya semakin lama. Berhubung kuota menipis dan ada gejolak hati (?) membuat ide-ide yang berserakan dalam otak gue buyar. Padahal dari awal post gue udah bikin janji sendiri buat update FF ini seminggu sekali, tapi kayaknya gak bisa. Mungkin dua minggu sekali gak masalah ya ? Ayolah, gak masalah kan para readers ku tercinta :*

Dan sebenernya, gue mau masukin adegan ehem-ehem di chapter ini, tapi biar para readers dilatih jadi orang sabar, jadi ya gue tunda. Mungkin di chapter depan. Gue baik kan ? wuahahaha

Di chapter ini gak ada adegan intim, sengaja biar FF gue gak disangka FF mesum semata (?). Pokoknya buat semua readers yang udah dukung, gue ngucapin BANYAK TERIMAKASIH.

AI LOP YU.

ECLAIRE OH!

GUE TAU FF HUNHAN LU BANYAK BEB! KAPAN LU BAKALAN BERSEDEKAH LAGI SAMA KITA ? PARA READERS, BANTU GUE NYERBU ECLAIRE OH PLISS BIAR FF HUNHAN DIA YANG MENUMPUK (gue pernah liat daftarnya :D) DI POST!

WUAHAHAHA