-HUNjustforHAN-

-Present-

.

.

.

.

DESIRE

.

.

.

.

.

Luhan tidak menjawab, namun tepisan tangan yang Yifan rasakan cukup untuk memberitahu bahwa Luhan berada dibatas muak. Wajah Luhan basah dan itu adalah hal yang selalu Yifan kutuk sejak mereka kecil. Tapi mengapa sekarang harus ia yang menjadi alasan Luhan menangis ?

"Luhan.."

"Bukankah kau sudah mendengarnya, Wu Yi Fan ? Luhan tidak menginginkanmu lagi."

Siapa ?

Itu bukan sahutan suara Luhan.

Saat Yifan dan Luhan memutar kepala mereka kesamping, aura hitam itu telah datang.

"Dia milikku."

"Oh Sehun."

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

"Serahkan Luhan padaku, Yifan. Dia milikku."

"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan Luhan padamu Oh Sehun!"

"Berikan Luhan secara baik-baik, atau…" Dengan kedua tangan bersembunyi di saku celananya, Sehun mendekat dua langkah. "Akan ku rampas secara paksa."

"Tidak Oh Sehun! Tidak akan pernah! Aku tidak akan memberikan adikku padamu!"

"Kau bercanda ?" Sehun terkekeh geli beberapa saat sebelum mengubah raut wajahnya menjadi kelam seperti biasa. "Ingat Wu Yi Fan, kau bukan hanya telah memberikan Luhan padaku, namun kau juga telah menjualnya. Kau menjual Luhan seharga ratusan juta won."

"Hentikan brengsek!"

"Kenapa ? Kau takut?

"Keparat kau Oh Sehun!"

Geraman marah keluar menyakitkan dari tenggorokan Yifan sebelum melayangkan sebuah pukulan telak di rahang tegas Sehun hingga tubuh lelaki itu oleng kebelakang. Sehun memegang sudut bibirnya dan berdecih mengejek saat merasakan ada rasa asin bercampur perih mengalir dengan begitu menjijikkan. Sial! Berani-beraninya kau Wu Yi Fan!

Inilah hal yang paling Luhan benci. Melihat dua orang saling berserang pukulan kasar berdentam hingga barang-barang jatuh berserakan mengingatkannya kembali pada memori buruk masa kecil. Luhan sangat tidak suka, seharusnya Yifan dan Sehun tau.

"HENTIKAN!"

Terlambat. Yifan sudah tersungkur ke lantai tanpa sisa daya. Bibir kedua laki-laki itu pecah, wajah mereka membiru namun Yifan nampak lebih banyak menerima lebam. Sehun benar-benar bukan seseorang yang bisa berbaik hati saat emosinya terbakar, ia akan kehilangan kendali pada dirinya sendiri.

Sehun melepas cengkraman tangannya dari kerah kemeja yang mencekik leher Yifan. Ada batuk-batuk berdahak darah keluar berbintik dari mulut Yifan ketika Sehun menghempaskan bahunya ke lantai yang dingin. Sehun berdiri, menyentuh sesuatu yang merah disudut bibirnya lalu meludah; cukup baik karena tidak meludah tepat pada wajah Yifan yang berada dibawah.

"A-pa yang kalian lakukan ?" Oh, getar suara itu. Sehun menilik kebelakang pundaknya. "Kalian menakutkan."

Tidak! Jangan takut sayang! Kau tidak boleh takut pada lelakimu.

Membetulkan letak jas hitam pekatnya yang kusut, Sehun bersiap beranjak demi menggapai wajah pucat pasi Luhan. Wanita itu terlihat begitu ketakutan dengan biji-biji peluh gembul mengalir dari dahi hingga pelipisnya. Sehun ingin menepis ekspresi tidak menyenangkan itu dari wajah Luhan, mengatakan bahwa jika Luhan berada disampingnya maka ia sanggup menciptakan sebuah kenyaman dan kemewahan sesuai dengan apa yang otak kecil Luhan pikirkan. Sehun dapat mengabulkannya. Percayalah.

"Luhan.."

"J-ja..ngan.."

Hah. Wu Yi Fan, Kau masih punya kekuatan untuk merintih dan mengemis di kaki Oh Sehun ?

"J-jangan.. L-Lu.. Han.."

"Lalu siapa ? Selvi ? Pelacurmu itu ?" Sehun berdecih mual, tidak peduli jika betisnya bisa saja remuk oleh jari-jari panjang kekar Yifan. "Tidak , Yifan. Aku tidak tertarik padanya bahkan jika ia memamerkan lubang vaginanya didepan mataku. Aku hanya ingin adikmu. Hanya Luhan."

Argh.

Yifan rasa sebentar lagi paru-parunya akan tercabut lalu robek benanah kala Sehun menepis cengkramannya kasar lalu meninggalkan sedikit injakan didadanya. Yifan terbatuk perih lagi. Rasanya ada suatu gumpalan bulat keras menghambat aliran darah menuju jantungnya hingga beberapa kali ia harus mengkerutkan paru-paru hanya demi menghirup oksigen.

Sakit.

Luhan. Bibir wanita itu masih pucat dan peluhnya beku mendingin. Luhan sadar jika Sehun mulai mendekat dengan bunyi suara langkah berdecak penuh kekejaman, namun otot-otot ditubuhnya terasa sangat tegang hingga untuk melangkah mundur saja Luhan tidak sanggup. Ia tersekap ditempat.

"Kenapa kau lari dariku, sayang ?"

"…."

Karena kau melukaiku.

"Kenapa kau meninggalkanku tanpa izin?"

"…."

Karena kau tidak menginginkanku.

"Kenapa kau selalu melawanku, Luhan ?"

"…."

Karena itu satu-satunya cara agar aku tidak jatuh.

Hhh..

Sehun berhenti tepat didepan Luhan yang bergetar. Lelaki itu mengulurkan sebelah tangannya, membelai dagu runcing Luhan dengan telunjuk ekor kalajengking beracun. Tidak mungkin bagi Sehun memberikan lubang tikus kepada orang yang telah membangkang kekuasaannya, Sehun tidak bisa dibantah. Tidak juga dengan pembantahan kepala batu Luhan.

Luhan telah menebak semua dengan benar saat Sehun mengapit dagunya kasar dan menakutinya hanya dengan bola mata kelabus berseteru.

"Kau harus menerima hukumanmu…"

Tidak!

"Sayang."

.

.

.

Jemari ranting kurus pucat Luhan menggelenyar gelisah, napasnya tersengal-sengal walau tidak bicara dan hanya duduk disamping Sehun yang fokus pada stir mobil. Tapi ini sungguh menguras tenaga. Sejak Sehun menyeret paksa tubuhnya meninggalkan tubuh setengah mayat Yifan di vila tua itu, Sehun tidak memulai kata-kata berapinya. Luhan sudah berantisipasi, namun cara diam jahat Sehun seperti ini terasa lebih mengerikan daripada tidur diliang kuburan berlintah. Luhan sulit menemukan oksigen yang bersih.

Sehun menemui cara pelampiasan amarahnya sendiri, di injaknya pedal gas hingga posisi hampir roboh dan semakin benci saat tidak menemukan kepuasaan melihat Luhan ketakutan seperti itu. Biasaya Sehun sangat suka melukai kekasih-kekasih erotisnya hingga mereka jera, namun untuk Luhan, Sehun mendiktekan pada dirinya sendiri bahwa ada yang salah disini. Luhan bukanlah sebuah kerasionalan.

Wanita ini Irasional.

Laju mobil Sehun diatas rata-rata dan ia meletakkan fokus penuh pada jalan lurus dihadapannya, tidak peduli jika pantat-pantat mobil kecil disana bisa saja bercucuran darah jika ia tidak mengendalikan stir dengan pikiran stabil. Sehun meninggalkan mereka; mobil-mobil yang mengekor, yang dikejar ataupun yang berselisih garis putih tengah jalan. Semua ia tinggalkan sampai tidak ada seorangpun yang berani mengganggu keseriusan seorang Oh Sehun.

Tapi saat penyesalan merayunya untuk melirik sedetik saja kesamping, Sehun kehilangan saraf pusat yang mengendalikan logikanya. Ia kehilangan akal, kehilangan fokus dan kehilangan kendali.

Luhan memekik hebat, tidak sempat lagi menyematkan doa dalam tautan jemari dinginnya ketika mobil berputar-putar dan Sehun yang mengumpat menyelamatkan stir mobil mereka dengan ketegangan tidak kalah buruk. Decitan nyilu terdengar meraung diluar disertai bau hangus saat mereka kembali berputar beberapa lingkaran sebelum berhenti melintang tepat ditengah garis batas kanan dan kiri. Luhan pikir bahwa tubuhnya akan remuk terhempas lalu pecah berdarah, tapi tidak, tidak sakit terlalu banyak. Tidak seperti dugaannya tentang seberapa sakit seseorang menjelang mati. Tidak terasa luluh lantak kala sebuah lengan kokoh memayungi kepalanya.

Apakah iblis itu?

Luhan kehilangan pita suara pembangkangnya dan Sehun kehilangan mata kelabus kejamnya untuk beberapa saat. Mereka saling membeku, mengkoreksi nyawa masing-masing, menilai apa masih ada udara yang sanggup bertukar didalam alveolus atau semuanya telah berhenti beberapa detik lalu.

Cukup lama menghirup bau hangus dari gesekan pahit ban mobil yang menato jalan, Sehun terkesiap sadar kala terdengar suara pekikan-pekikan tidak bermoral mobil yang melintas. Orang-orang memperingati mereka, memperingati untuk tidak lama-lama berada pada posisi melintang ditengah jalan atau sesuatu yang besar dan buta bisa saja langsung menggiling mereka menjadi busukan kotoran.

Sehun melompat dari ketertegunan. Bukan sepenuhnya akibat dari klakson peringatan mobil yang melintas, tapi…..

Sesegukan hampir mati seseorang…

Dalam pelukannya..

Luhan.

"Tidak apa-apa.. Tidak apa-apa Luhan. Aku disini. Semuanya baik-baik saja." Bibir Sehun mengucurkan kata-kata itu berulang-ulang, memaksa keinginan egoisnya untuk membuat Luhan tenang sampai terkabul. Sehun merasa sial setengah mati karena tidak mengenal dirinya sendiri akibat wanita ini, hanya karena sesegukan Luhan dan ia bahkan merasa sulit bernapas. Ditepuknya pundak Luhan separo ragu; asing atas tindakan yang tidak pernah ia tujukan pada wanita manapun. Luhan berhasil mendapatkannya, kekhawatiran seorang Oh Sehun.

"Tenanglah.."

.

.

.

Selamat datang kembali.

Sehun bergumam bangga pada dirinya sendiri saat melihat kelopak mawar dimata Luhan –yang biasanya terbuka hanya untuk membangkang- kini tertutup lelah dan menyerah dalam rengkuhan tangannya. Ia tersenyum miring, sesuatu yang jahat atau apapunlah itu bergelantung manja pada ujung bibirnya yang terangkat sebelah. Sehun bukan seseorang yang mudah melupakan kesalahan orang lain dan Luhan adalah seseorang yang selalu menyalahi Sehun dengan menerobos batas toleransi lelaki itu.

Knop pintu terbuka, tirai putih gorden menyambut kedatangan terlelap Luhan dengan tarian-tarian angin pantai bergemulai. Mereka menyambut nyonya pembangkang yang berusaha sang majikan pelihara senormal mungkin.

Ranjang berayun saat tubuh Luhan direbahkan begitu istimewa. Tidak pernah rasanya Sehun memperlakukan para pelacurnya selembut ini. Sehun lebih suka melempar tubuh-tubuh pelacurnya kasar hingga mereka menjerit dicekik gairah menyakitkan. Sehun pemain yang menyakitimu dengan kenikmatan. Tapi Luhan, Arrgghhh! Sehun merasa sebentar lagi ia harus mencari pskiater atau Luhan benar-benar bisa membuatnya masuk rumah sakit jiwa.

Sial!

Lelaki itu berdiri, menonton tubuh kusut kotor Luhan dan mengernyit. Sejak kapan aku meniduri gadis bertubuh menjijikkan lengket seperti ini ?

Ia menghela napas kalah, beranjak menuju lemari lalu tanpa banyak berpikir menarik gaun tidur tipis yang tergantung bergairah. Tali-tali spaghetti juga belaian kain sutera yang halusnya memabukkan, ah, Sehun suka merobeknya ditubuh Luhan. Tapi tidak, Luhan butuh istirahat. Luhan harus istirahat.

Apa ? Dan sejak kapan aku memikirkan waktu istirahat seseorang ?

Sehun mendekat lagi, melempar gaun tidur biru shappire itu disisi kosong samping kepala Luhan lalu kembali terdiam sejenak. Memalukan! Tidak pernah Sehun memaki otak cerdasnya karena merasa bingung hanya disebabkan sebuah masalah mengenai bagaimana seharusnya ia memperlakukan Luhan agar mimpi dalam tidur lelahnya tidak terganggu. Sehun tidak biasa, ia sungguh tidak tau cara yang benar. Ia tidak pernah bertemu wanita sebenar Luhan.

Untuk kedua kalinya menghela napas kalah, Sehun meyakinkan diri sendiri. Duduk disisi ranjang lalu bersama jari-jari menyeringai ia mulai mencari posisi kancing-kancing mungil kemeja Luhan. Jakun Sehun bergerak gelisah, tenggorakannya terasa kering dan perih saat melepas satu-persatu kancing itu lalu menemukan kulit putih mulus Luhan terhampar lagi dihadapannya.

Brengsek! Malaikat! Jangan pernah berani menggambar tubuh Luhan dalam buku catatan dosaku!

Serak basah Sehun keluarkan kala lehernya benar-benar terbakar oleh sesuatu yang menyebalkan. Sehun tau jika ia bisa saja menunjuk para pelayan wanita untuk mengganti pakaian Luhan, tapi keinginan bodoh seorang Oh Sehun adalah merasa begitu terobsesi pada liuk-liuk manja ditubuh sanderaannya. Ia ingin mengganti sendiri pakaian kotor lengket Luhan. Tapi ketika menarik hotpants Luhan turun hingga lepas dari kedua ujung telapak kakinya, Sehun berada diambang batas rasa nyilu memuakkan.

Langit! Dewi gairahku!

Kepala Sehun menggeleng-geleng tolol, merasa sangat memalukan jika ia mencapai puncak hanya karena melihat tubuh seorang wanita. Hey! Sehun penzinah yang hebat!

Ia meraba paha Luhan keatas, melintasi perut ramping teriknya dan rasa penasaran menarik tangan Sehun untuk menuju punggung belakang Luhan. Ceraikan kaitan bra-nya! Cepat! Ya Tuhan, darimana suara memerintah itu berasal ?

Sehun memisah kaitan bra Luhan dan saat itu pula matanya berkedip tidak sopan, terkesiap begitu teriakan kaget Luhan terdengar mengejutkan. Wanita itu terbangun dalam waktu yang tidak Sehun ketahui. Mata Luhan terbelalak, refleks menutupi puting susunya yang menjadi perhatian penuh gairah Sehun.

"Apa yang kau lakukan?!" sergapnya marah.

"A-ku hanya ingin mengganti pakaianmu."

"Apa ?"

"Kau tuli ? Aku hanya ingin mengganti pakaianmu."

"Tidak! Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri."

"Biarkan aku."

"Tidak!"

"Luhan!"

"…."

"Ku mohon.. Kau tau aku bukan lelaki yang memiliki banyak toleransi."

Tungkai ramping panjang Luhan meringkuk penuh curiga, mencegah Sehun berbuat sesuatu yang bejat pada pusat segitiganya. "Tidak! Aku tidak mau!". Luhan sangat tidak jera melawan walaupun ia sendiri tau bahwa setiap kali melawan maka sesuatu yang jauh lebih menyakitkan selalu datang mendekapnya.

"Luhan, aku sudah memintamu secara baik-baik. Jangan membuatku menjadi seorang pemaksa."

"Kau memang terlahir sebagai pemaksa Oh Sehun! Kau selalu memaksakan kehendakmu! Kau bejat!"

"DIAM ATAU KUSETUBUHI KAU SEKARANG!"

Ya, Sehun mengancamnya lagi.

.

.

.

Suara anak kunci berdecak terdengar dua kali namun Luhan tidak menaruh minat sedikitpun. Ia lebih memilih bersandar di kepala ranjang emas, menaruh kaki lurusnya pada hamparan sprai putih hasil penyiksaan ulat sutera. Mata bening sayu Luhan terfokus pada tirai-tirai putih jendela yang kini tidak lagi ramah melambai, Sehun bahkan mengunci mati kaca jendelanya hingga Luhan rasa tidak ada lagi butir-butir uap yang bersih untuk dihirup. Sudah dua hari dan Sehun kembali menunjukkan kekuasaan bengisnya dengan menutup semua akses keluar dari kamar ini. Luhan benar-benar berada di sangkar emas.

Seperti biasa, dua wanita berpakaian hitam putih dengan kembangan lipat-lipat dibagian bawah dan kain berenda di kepala mereka masuk dengan trolley berisi penuh makanan-makanan sehat menggiurkan. Mereka selalu datang tepat waktu, tidak melewatkan satu detikpun untuk terlambat atau kaisar kaya angkuh itu akan menjambak rambut mereka hingga kulit kepala mereka merekah berdarah.

Wanita-wanita itu selalu datang dengan wajah khawatir dan pulang berbibir pucat saat Luhan tidak menyentuh sedikitpun makanannya sebagai sebuah penghormatan. Mereka mencoba memaksa dengan berbagai cara dan langsung terdiam ketika tanpa kedipan Luhan meluruskan pandangan muaknya tepat pada penglihatan mereka. Tidak ada gadis baik dan penurut lagi dikamar ini.

"Selamat siang Nyonya—"

"Keluarlah."

"T-tapi—"

"Jangan katakan jika kalian meminta kebaikan hatiku untuk terhindar dari amukan Oh Sehun, aku tidak bisa. Terserah jika kalian berpikir aku adalah orang yang tidak punya hati nurani, tapi kita berada di posisi yang sama."

"…."

"Aku juga tersiksa disini. Kita tidak bisa saling membantu, bukan ?"

"…."

"Keluarlah.."

.

.

Sehun menghela napas lemah, "Dia menolak makanannya lagi ?" tanyanya pada Ravi lalu bersandar setengah kesal tertahan di sandaran kursi uangnya. "Dasar keras kepala."

Ravi—laki-laki yang berdiri didepan meja kerja kayu jati Sehun—menundukkan kepala. Luhan bukan hanya masalah untuk Sehun, tapi semua orang juga menyayangkan sikap pembangkang wanita itu karena jika Sehun bermasalah maka amarahnya akan menyerap kesegala penjuru, dan Ravi, adalah pihak yang harus mengganti semua perabot rusak akibat tendangan marah atasan tertingginya.

"Batalkan rapat pukul 1 siang nanti." Sehun berdiri, menarik ujung jasnya lalu mengaitkan kancing tengah pada lubang kecil disana. "Aku harus pulang dan mengurus makhluk kecil itu."

Ravi tidak merespon apa-apa, Sehun meninggalkan beberapa tepukan pada bahunya dan Ravi baru bisa menelan ludah kasar ketika pintu dibelakangnya tertutup. Sehun sangat kacau belakangan ini, ratusan juta won-nya telah melayang dan ia benar-benar tidak peduli. Mengurus makan wanita pembangkangnya lebih penting daripada rapat bulanan perusahaan mereka.

Oh Sial! Ravi harus menghandle hasil dari keegoisan Sehun sendiri lagi.

.

.

.

"Selamat Siang Tuan."

"Dimana Luhan ?"

"Nona Luhan sedang berada dikamarnya." Tentu saja Luhan berada dikamar. Bukankah kau sedang mengurungnya Oh Sehun ?

"Apa dia menolak makan siangnya lagi."

"Y-Ya Tuan."

"Siapkan lagi makanannya dan bawa ke kamar dalam waktu 15 menit."

"Baik Tuan."

Kepala koki itu merunduk, mundur dan menghilang menuju dapur marmer Sehun. Semua orang yang bertugas di ruang rempah tau jika bibir melekuk kepala koki mereka menguap-nguap seperti ikan nila kelaparan maka berarti ada sesuatu yang tidak beres. Memasak ulang semua menu dalam waktu 15 menit mungkin salah satunya. Sehun tidak pernah peduli pada kemustahilan.

Sehun menapaki anak-anak tangga dengan gaya seperti biasa, kedinginan berbalut pesona membunuh hingga putri pasifik rela menguras seluruh air di samudera hanya demi sebuah kecupan basah. Oh, keparat ini benar-benar.

Sehun tidak pernah peduli pada sebuah ketukan pintu sebagai tanda etika ketika seseorang yang terkurung didalamnya adalah Luhan. Wanita itu sudah mengenal ciri khas ketukannya dan Sehun tidak suka jika saat masuk Luhan sudah dalam posisi siap membangkang, ia lebih suka melihat Luhan terkejut lalu kelagapan mencari bala bantuan.

Anak kunci beraksi, knop pintu berputar, daun pintu bergeser dan Luhan bersandar. Disana, di ranjang bidadarinya.

Butuh beberapa detik bagi Sehun agar perhatian Luhan tertarik untuk menemukan dirinya, dan saat Luhan menoleh, Sehun selalu suka mata hitam mengagumkan Luhan menusuknya dengan tatapan menantang. Tidak ada wanita yang berani menatap Oh Sehun dengan sesuatu yang nampak sangat memuakkan seperti ini. Luhan adalah yang pertama, juga satu-satunya.

"Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri ?"

Satu hal lagi, Luhan juga wanita pertama yang memalingkan wajah bosan saat Sehun berbicara fokus padanya.

"Jangan keras kepala."

"…."

"Kau mau mati?"

"Ah, akhirnya tebakanmu benar." Senyum mengejek itu, kenapa tetap cantik saat berada di bibir mungilmu ?

"Luhan! Jangan pernah bermain-main denganku."

"Bukan aku, kau yang telah mempermainkanku."

Sehun membuang napas, mendekat lalu duduk disisi kosong ranjang tepat disamping paha Luhan. Ia tidak melakukan apa-apa selain menatap lurus tirai sepi jendela yang juga menjadi tujuan mata Luhan. Ada suara menelan gelisah yang menggelitik rasa ketertarikan Luhan untuk menoleh pada Sehun, lalu saat ia menangkap setengah tubuh atas lelaki itu dari samping, Luhan menahan oksigennya tetap bertahan. Jakun Sehun menelan sesuatu yang perih. Sangat menarik dan…

Menggoda.

Oh Tidak! Jangan Luhan! Jangan!

"Dengar Luhan."

Kenapa selalu aku yang harus mendengarkan ? Kenapa tidak kau saja ?

"Semakin kau mengolah banyak tingkah, maka semakin banyak orang yang akan menderita. Kau membuat satu persatu orang miskin kehilangan pekerjaan berharga mereka."

Apa ? Kenapa aku ? Kau yang memecatnya!

"Aku tidak akan memecat mereka jika saja kau tidak membantah setiap ucapanku." Sehun melirik Luhan memojokkan. "Mereka tersiksa karenamu."

"Apa aku harus memikirkan mereka ?"

Hah ? Apa yang baru saja Luhan katakan ? Apa Sehun tidak salah dengar ? Kemana perginya gadis manja baik hati itu ?

"Kau—"

"Apa mereka memikirkanku ?"

"…."

"Mereka tidak bisa menyelamatkanku dan karena itu pula aku tidak akan menyelamatkan mereka."

"Aku tidak pernah tau jika wanita beretika sepertimu memiliki pemikiran egois juga."

Menunduk lagi. Luhan terlalu banyak menunduk dan menyembunyikan mata beningnya yang Sehun puja. Surai-surai hitam Luhan jatuh menutupi separo wajahnya, hal yang membuat Sehun menggeram marah dalam diam karena merasa tidak ada kebahagiaan yang Luhan tunjukkan demi menghargai hal bodoh yang selama ini telah Sehun lakukan untuknya. Hanya ada kesedihan dimata cantik wanita itu.

"Kau terlihat sangat tersiksa berada disini."

"Lebih tersiksa saat kau berada dihadapanku."

"Kau sangat pelawan."

"Dan kau sangat pemaksa."

"Kau tidak takut melawanku ? Aku bisa saja mencekik lehermu hingga mati dan membuang mayatmu dalam kubangan kotoran anjing."

"Terdengar sangat menggiurkan."

"Luhan! Kau—"

Buih-buih panas dalam otak Sehun hampir saja menyembur ditubuh Luhan andai saja pelayan pengantar makanan tidak datang tepat waktu. Oh sungguh, jika saja Luhan adalah pecalur mahalnya maka Sehun tidak pernah segan-segan untuk menyulut bibir pelawan itu dengan nyala punting rokok. Bibir Luhan akan melepuh lecet dan Sehun sangat sudi menghisap hangusan bernanahnya hanya untuk memberitahu Luhan jika seorang Oh Sehun tidak pernah main-main dengan kosakata .

"Masuk." Perintahnya malas, mengyilangkan kaki dan menyerah untuk menarik napas lebih dalam.

Trolley makanan masuk, rodanya bergulir-gulir sederhana sebelum singgah dihadapan Sehun. aroma daging panggang bercampur dengan crab corn soup menyebar lincah diseluruh ruangan, salah satu alasan Sehun menculik kepala koki berpipi gembul dari belakang restaurant diperempatan salah satu jalan Paris.

Xiumin, dikaruani tangan luar biasa berbakat dalam memutar daging berbumbu diwajan panas. Lelaki berbau tubuh rempah itu harus rela meninggalkan restaurant sederhananya karena lembar-lembar yang ditawarkan si kaya Sehun tiga kali lipat dari penghasilan perminggu selama di paris. Lagi pula semua bahan di lemari dapur Sehun sangat sempurna, mata Xiumin langsung berbinar-binar waktu pertama kali menemukan ruangan 20x20 meter persegi sebagai tempat kerja barunya.

Ah, tapi tetap saja mengesalkan ketika Xiumin ingat ia tidak sempat meletakkan hiasan makanan ditepi piringnya karena waktu 10 menit yang Sehun berikan untuk menyajikan Oxtail berselera tinggi terasa sangat mencakar lubang pantat.

"Selamat siang tuan. Makan siang Nona Luhan—"

"Keluarlah. Aku yang akan mengurus sisanya."

"Baik. Saya permisi."

.

.

Adakah wanita lebih keras kepala dari Luhan ? Sehun bahkan tidak pernah berpikir dalam hidupnya ia harus mengurus kepala batu orang lain selain kepala batunya sendiri. Sudah sepuluh menit dan wanita itu sama sekali tidak bergerak. Sehun menaruh nampan diatas paha bujur Luhan sejak sepuluh menit lalu dan Luhan tidak terlihat berminat walau hanya satu suapan tanpa selera sebagai tanda berterimakasih atas kebaikan hati Sehun yang langka.

"Makanlah.." Jangan membantahku terlalu lama Luhan.

"…."

"Luhan.." Aku bukan lelaki penyabar.

"…."

"Kau benar-benar tidak mau ?" Aku sudah memperingatkanmu.

"…."

"Ku peringatkan sekali lagi, makan makananmu atau—"

"Atau apa ? Kau akan menelanjangiku lagi ? Kau akan menyetubuhiku lagi ?"

Oh, Ku mohon jangan! Jangan meneteskan air mata itu dihadapanku. Jangan menangis dan memberiku cermin tentang seberapa kejam diriku sendiri. Aku tau dan kau tidak perlu susah payah mengingatkanku dengan sebuah tangisan. Jangan menguji kelemahanku, mengontrolku terlalu jauh, dan aku tidak bisa membiarkannya!

"Aku tidak mau." Wajah Luhan berpaling, menghindari sesuatu yang mengerikan dibalik kornea penglihatan Sehun.

Lelaki itu tersulut panas hanya karena sebuah penolakan. Karena dalam prinsip hidup kayanya tidak ada yang boleh menolak Oh Sehun, tidak ada yang boleh ingkar atas keinginannya. Tidak ada.

"Luhan."

Gawat. Nyali Luhan mengkerut sesak napas, nada suara Sehun terlalu rendah dan penuh aura misterius menjebak. Ada sesuatu yang buruk jika mata kelabus Sehun mulai berdesis seperti ular petarung jantan dan Luhan selalu tau bahwa dari berjuta mahluk didunia ini, Sehun hanya akan mematuknya, mengalirkan bisa beracun lalu melilit tubuhnya hingga lumat becek tak bernapas.

Sehun berlagak seperti dia adalah utusan termulia Tuhan yang ditugaskan secara pribadi meremukkan Luhan dalam telapak tangannya. Menindih tubuh wanita itu hingga pipih lalu keluar peluh-peluh gairah disetiap pori kulitnya. Luhan mengerti jika disetiap helai rambut Sehun mengalir listrik-listrik penyengat yang akan menyambar tumpukan geloranya penuh bergelenyar mesra sekaligus menyiksa. Setiap kali Luhan menghitung surai hitam legam mengangumkan Sehun demi menghalau hari membosankannya yang penuh pertengkaran, Luhan kecut mengakui bahwa sebenarnya pesona Sehun telah meresap dan merambah masuk kedalam lapisan kulitnya.

Tapi,..'

Tidak! Luhan tidak bisa! Luhan tidak bisa menerima lelaki pemerkosa menjadi dewa harapan penarik perahu hidupnya dimasa depan. Luhan tidak sudi menjadi anjing betina pemuas nafsu yang dipaksa mengangkang telanjang setiap hari.

Sehun tidak boleh memperlakukannya lebih hina dari ini. Sehun tidak boleh mendebarkan jantungnya lebih keras.

"Luhan— "

PRANG!

"Kau!"

Menakjubkan. Wanita ini sungguh menakjubkan. Mungkin saja Luhan merasa bangga dengan lemparan nampan makanannya yang mendarat terluka di lantai, tapi ia tidak akan sanggup menghapus takut yang tercetak jelas menggigil pucat dibibirnya. Sehun tidak akan berbaik, seharusnya luhan sudah hapal.

Sehun refleks berdiri, memandang bergantian bola mata menantang separo takut milik Luhan dan bilah-bilah keramik yang berderai rintih. Cairan kental dari pecahan mangkuk crap corn soup dan potongan-potongan sayur mengampar jijik kental dilantai. Tumpah ruah dan sangat mengganggu ketenangan jiwa Sehun. Aroma nikmat semakin menyesak penciuman namun keadaan sudah merubahnya menjadi bau bangkai anjing berulat. Sehun mulai berdesis penuh racun.

"Kau mencoba melawanku?" tanyanya terlalu dingin.

"…."

"Kau pikir dirimu cukup berharga untuk melawanku ?"

"…."

"JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU LUHAN!"

AAAAKKKHH!

Semuanya memanas lagi. Keadaan memasuki tahap buruk menakutkan. Sehun menendang trolley makanan menabrak dinding hingga Luhan memekik tanpa sadar. Langit berkunang-kunang mabuk dan Luhan merintih begitu jemari pemaksa Sehun mengapit dagu lancipnya keras seolah semua emosi lelaki itu terkumpul disetiap ujung jari-jarinya.

Aura kejam menguar disetiap lubang pori-pori Sehun; hal yang selalu berhasil menyudutkan Luhan dalam keterdiaman pengecut. Lidah Luhan terasa mati rasa, dan tidak memiliki keberanian lagi untuk mengumpat di wajah Sehun adalah hal paling menyebalkan. Lelaki itu terlalu dominan.

Kenapa Sehun selalu suka menggenangkan tetes-tetes basah di pipi tinggi Luhan ?

Bukan! Aku tidak pernah menginginkan hal tersebut. Aku tidak pernah suka melihatmu begitu tersiksa ketika berada disampingku. Tapi kau tau Luhan, aku lelaki yang tidak memiliki kantong cadangan demi menyimpan amarahku untuk tetap terkurung didalam. Kau yang selalu memancing sisi burukku.

Ah, Luhan sudah bisa menebak apa selanjutnya. Ciuman basah penuh pemaksaan Sehun akan selalu menghiasi hidupnya setiap hari. Luhan merasa bibirnya bukan lagi sesuatu yang bernilai tinggi untuk dijaga, Sehun telah menyesapnya terlalu sering dengan cara kurang ajar. Sehun menggilirkan bibir atas dan bawahnya sesuai keinginan dan mengakhiri setiap hisapannya dengan gigitan kecil.

Luhan meringis kala Sehun mendorong bahunya menabrak kepala ranjang, lelaki itu nampak sangat bernafsu melumat bibirnya dan masa bodo dengan mata mereka yang saling bertatapan. Sehun acuh. Dicengkramnya dagu Luhan lebih kuat hingga mulut Luhan terbuka, menyelinapkan daging kenyal masuk dan menggoda milik Luhan.

Luhan tau Sehun senang melakukannya, lelaki itu bangga bisa menguasai seluruh mulutnya sepuas hati dan menunjukkan kepada dunia mahkota penguasanya lewat tatapan mata meremehkan. Ada perasaan berdesir parah dalam hati Luhan begitu menyadari mereka menangkap mata masing-masing dalam keadaan Sehun membelitkan lidah membuai Luhan penuh gairah didalam mulut wanita itu.

Desir yang menggairahkan.

Tapi..

Sehun melepaskan lidah mereka terlalu cepat, Luhan bahkan belum terengah karenanya. Ini bukan seperti Sehun yang akan menunggu para kekasihnya sekarat kehabisan napas sebelum melepaskan ciuman. Kenapa?

Kenapa dan kenapa. Kata tanya tersebut terus menggelitik rasa penasaran Luhan hingga tanpa sadar dahinya mengernyit. Bibir Sehun basah dan membuat Luhan juga yakin jika bibirnya tidak jauh berbeda, bahkan mungkin lebih parah.

Lalu ketika Sehun melepas dasi yang mencekik lehernya tanpa berkedip sekalipun, Luhan tersadar otomatis. Ada yang tidak baik disini. Mata kelabus berkilat jahat Sehun membuat kepala Luhan menggeleng cemas. Selalu ada yang tidak baik saat bintik-bintik gairah dan bara-bara amarah Sehun berkombinasi. Dugaan Luhan juga bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

"Jangan Sehun…! Jangan..!"

"Kau tau akan hukumanmu."

"Kumohon jangan!"

"Terlambat Luhan."

Tidak! Jangan menyetubuhiku dengan emosi lagi!

Tubuh Luhan tertahan, sesuatu yang kenyal mencubit-cubit ceruk lehernya liar lalu berakhir dengan goresan taring tumpul setengah tertanam di dagunya. Luhan mengelak bersama rontaan berisikan penolakan hebat kala Sehun mengacuhkan leher penuh nodanya dan memulai membasahi rahang lancipnya dengan lender-lendir basah. Lidah Sehun bermain disana, menari-nari lembab dipinggir dagu palung Luhan sedikit curang karena ia tidak memberikan sedetik kesempatanpun bagi Luhan menghindar.

Wanita ini pembakar gairah. Sehun selalu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri seperti bumi kehilangan rotasi saat kulit putih bersih Luhan mengolok dirinya sebagai seorang penakut. Setiap bersetubuh dengan pelacur, Sehun selalu mengantongi spermanya dalam karet pembungkus kelamin karena merasa spermanya terlalu mewah untuk singgah berludah di ovarium wanita-wanita jalang. Tapi ketika membenamkan diri dalam tubuh panas luar biasa Luhan, Sehun mengerang parah hanya karena disulut keinginan meledakkan diri dalam vagina wanita itu dan membiarkan sperma mahalnya berenang erotis disana.

Sehun ingin kepala-kepala ulat sperma berekor yang ia ledakkan mampu mengerubungi bagian terdalam Luhan hingga menyatu dengan wanita tersebut. Sehun benar-benar menginginkan sebuah kekuasaan penuh atas diri Luhan.

Gairahnya memerintah.

Tapi terbalik dengan imajinasi kotor Sehun, Luhan menghempaskan semua kenikmatan yang didamba Sehun dengan teriakan-terikan siksa tidak rela. Seharusnya Luhan tau, Sehun hanya ingin mendengar desahan nikmat dan laki-laki itu telah berjanji bahwa ada kelembutan beserta kemewahan yang akan menanti Luhan jika saja Luhan mengerang penuh timbal balik memuaskan dibawah kuasanya.

Sehun berusaha, memaksa Luhan dengan cumbuan-cumbuan kasar bersama pengharapan bahwa Luhan lambat laun akan terbuai sendirinya lalu merasa gila seperti apa yang Sehun rasakan. Namun, Sehun terlalu jauh, Sehun terlalu egois akan nafsu.

Ia mencumbu dengan gila.

Perasaan terhina diperlakukan secara murahan memberi Luhan kekuatan lebih untuk menyingkirkan Sehun. Luhan melompat, berlari, sebenarnya bingung akan arah yang benar. Namun ketika melihat pintu kamar, kesadaran menyentaknya jika daun kamar itu tidak terkunci. Itu satu-satu nya jalan keluar walaupun Luhan mengerti jika harapan untuk lepas dari sangkar emas Sehun seperti mencari sehelai bulu domba di samudera pasifik. Penuh kemustahilan.

Napas Luhan terengah bersama bibir masih terselip liur menjijikkan Sehun diujungnya. Luhan baru menghitung berapa besar kamar ini karena dua puluh langkah belum menghantarkannya pada pintu pengharapan itu. Luhan berdoa akan kebaikan hati Tuhan disetiap langkah terburunya agar menyelipkan setitik kecil hati nurani dalam jantung Oh Sehun. lelaki itu terlalu mempesona untuk menjadi makhuk penghuni neraka.

Gagang pintu, Luhan sudah meraihnya dengan tarikan napas mengudara. Ia bersiap melangkah pergi, jika pun tidak bisa keluar dari rumah ini mungkin Luhan lebih baik mencoba melompat dari lantai dua dan membiarkan Sehun melihat tubuhnya remuk bersimbah darah dilantai dasar. Luhan tidak akan mempermasalahkan bagaimana Sehun mengurus mayatnya nanti, apakah lelaki itu akan menguburnya secara manusiawi ataupun langsung membuangnya pada lobang kotoran babi ditengah hutan, Luhan sama sekali tidak peduli. Siapa tau saja dengan menjadi mayat Sehun akan berhenti menyiksanya.

Sehun tidak mungkin memperkosa mayat, kan ?

Daun pintu terbuka, ada sinar dari dunia yang telah Sehun tutupi dari Luhan. Ada oksigen yang lebih layak untuk dihirup. Ada kehidupan yang bisa mengantarkan Luhan pada kematian yang ia pikir lebih baik daripada hidup bersama Sehun. Tapi Luhan juga tidak sadar jika telah ada seseorang yang mengejarnya dibelakang sebelum…

BLAM!

Harapan itu sirna.

Sehun menangkapnya.

Arrkhh!

Sehun menyakiti punggung belakang Luhan dengan rasa dingin tembok keras. Menyegel pundak wanita itu dengan geraman marah berisi rasa tidak menerima pembangkangan lebih lanjut.

"Selama tidak ada kesepakatan yang kau setujui, melangkah dari pintu itu termasuk sesuatu yang haram bagimu."

"…."

"Kau mengerti ?"

"Apa Tuhan tidak memberkatimu sebuah hati, Oh Sehun ?"

"Hati ?" Sehun tertawa bernada penghinaan menyinggung untuk beberapa saat, namun saat ia menukar tawanya dengan mata ular berdesis kelabus, Luhan merasa ngeri bukan main. Sehun tidak memiliki hati sedikitpun. "Berani-beraninya kau mempertanyakan hatiku!"

Luhan memekik serak, kerongkongannya terasa mengelupas perih bernanah. Lebih parah dari itu, Luhan terluka bukan main atas perlakukan Sehun. Sehun kembali buta akan amarah dan gairah yang menggulung kusut dalam pikirannya. Akal sehat dan belas kasihan tidak pernah bermain jika keadaan sudah sulit terkendali.

Ya, Luhan tau kemana semua ini akan berakhir. Ketika Sehun merampas pakaian dari tubuhnya tanpa peringatan, merobek lalu mencecerkannya kelantai seperti barang murahan. Luhan meronta; hal yang selalu disayangkan oleh Sehun karena pada akhirnya semua itu hanya membuat Luhan menerima paksaan lebih jauh. Jika saja Luhan membiarkan Sehun menguasainya, apa yang akan ia dapatkan bukanlah rasa terhina, melainkan gairah penuh aroma kelembutan berbalut kasih sayang. Sehun sudah berpikir ia bisa melakukannya hanya demi wanita pelawan ini.

Astaga! Sehun juga mulai gila.

Sehun menelanjangi Luhan dalam keadaan penuh perlawanan dari wanita yang mempertahankan harga diri. Tapi Luhan telah menyinggung harga diri Sehun dengan penolakan-penolakan yang selalu wanita itu ajukan. Luhan harus menerima hukumannya hingga ia jera dan mengakui bahwa hanya dibawah selimut Sehun-lah tempat paling aman berlindung didunia ini. Hanya Sehun tempat ia bersandar dan hanya Sehun satu-satunya hal yang ia miliki.

Ah, sungguh. Sehun sangat menginginkan hal tersebut menjadi sebuah kenyataan.

Ini lebih buruk. Otak Luhan terus saja menggumamkan hal-hal jahat tanpa ingin mengerti kenapa Sehun terus saja menginginkannya menjadi pelayan penuntas gairah. Banyak wanita sempurna telanjang dengan vagina mengagumkan mereka diluar sana, tapi kenapa Sehun malah menjebak Luhan disini dan nampak sangat terobsesi dengan tubuh Luhan tanpa busana.

Ini bukan lagi sebuah tangisan, Luhan lebih kuat daripada itu. Tubuh Luhan berguncang ketakutan kala Sehun meraih rek sleting cenanya kain hitamnya; mencoba mengeluarkan apa yang selalu berhasil membuat tengkuk Luhan meremang. Sehun tengah sibuk dibagian celana dan dengan tubuh hanya berbalut kain segitiga tipis mengbungkus kewanitaannya, Luhan berlari lagi; mengejar harapan yang hanya akan membuat ia mengenal apa itu putus asa.

Tidak! Semua orang tau jika Luhan tidak akan bisa berlari kemanapun dengan tubuh lebih dari setengah telanjang. Luhan hanya bisa berputar-putar dikamar ini seperti gasing lalu menunggu putarannya berhenti ketika Sehun menginjak kepala gasingnya dibawah ujung sepatu pantofel.

"Berhenti!"

Benar. Hanya dengan bentakan satu kata memerintah, Luhan terjatuh dari pelarian. Suara kejam Sehun seolah menarik kakinya hingga ia tersungkur tanpa tau apa yang ia langgar.

Kekhawatiran Luhan menjadi-jadi saat ia berbalik dan langkah berdetak keras Sehun mulai merasuki retina matanya. Wajah kosong lelaki itu telah mendiktekan bahwa Luhan telah melakukan kesalahan besar.

"Jangan Oh Sehun…! Ku mohon…." Rintih Luhan yang mulai beringsut mundur menggesek lantai. Sehun tetap pada langkahnya yang berdetak seperti tapal kuda liar.

Jangan menulikan pendengaranmu Oh Sehun!

"Ku mohon…!"

Jangan mendekat! Jangan mendekat!

JANGAN!

Luhan meraung dan Sehun menggila. Tanpa belas kasihan ditariknya kain segitiga tipis itu hingga Luhan memejamkan mata kuat. Telanjang bugil. Luhan telanjang bugil dalam posisi tergeletak dilantai dingin seperti sampah.

Bisakah kalian bayangkan bagaimana rontaan Luhan saat ini ? Saat tangannya disimpul berumus oleh dasi hitam penghukum Sehun lalu ditarik seperti anjing betina jalang. Sampai disisi tembok yang cukup luas, Sehun memaksa Luhan berdiri. Luhan terlalu lemah melakukan perlawanan jika tangannya bisa saja patah karena lilitan dasi.

Luhan berdiri, bukan berdiri normal, namun tubuhnya diputar berbalik dan mencium dinding sejuk itu. Payudaranya terhimpit . Tubuh Sehun menahannya dibelakang, lalu ketika Luhan berhenti bernapas beberapa saat, firasat jahat itu datang lagi. Sangat buruk.

Jangan katakan jika….

Oh Sehun! Tidak!

"AKKKKKHHHHH!"

Sakit!

Iblis Jahanam!

Bagaimana bisa Sehun mendesak kejantanannya masuk saat Luhan tidak siap sedikitpun?. Apa laki-laki itu benar tidak punya hati ?

Tubuh Luhan terbelah dua, tidak, lebih parah dari itu, Luhan merasa seseorang baru saja mengullitinya hidup-hidup. Perih bukan main.

AKKHHHHH!

Sehun benar-benar tidak berpikiran. Ia menggoyangkan gairahnya dan menusuk lubang Luhan yang masih belum menerima secara penuh. Luhan masih menahan perih dan Sehun mulai menyetubuhinya tanpa aturan.

Akh!

Entahlah, yang jelas itu bukan desahan nikmat. Luhan menangis tertahan kala Sehun menghujam keras dibelakang hingga kewanitaan Luhan membentur tembok menyakitkan. Sehun menahan tangan terikat Luhan keatas, lalu sebelah tangannya lagi ia gunakan menahan pinggang Luhan. Kepalanya mendongak biadap mengeluarkan erangan penuh kilatan gairah bernafsu.

Sehun mempercepat, memperdalam dan memperkeras desakan kejantanannya pada lubang vagina Luhan. Tubuh mereka berguncang hebat beserta sengalan napas terdengar begitu kentara. Suara hentakan intim mereka begitu menjijikkan bagi Luhan namun sangat mesra ditelinga Sehun.

Luhan meringis ditengah tangisan berguncang karena disetubuhi.

Kenapa takdirnya harus melewati jalur kehidupan Sehun ?

Kenapa ia sampai berada disini ?

Kenapa ia sampai diperkosa begitu keji seperti ini ?

Apa yang membuatnya tersiksa karena pelecahan seperti sekarang ?

"AARRRGGGHHHH!" Geraman puas serak menggelegar, pertanda bahwa Sehun telah mencapai puncak nafsunya dan menyembur didalam tubuh Luhan. Lelaki itu tersenyum miring, memeluk tubuh lunglai Luhan agar wanita tersebut tidak jatuh terkulai dilantai. Bahu sempit Luhan adalah tempat paling nyaman menitipkan dagu. Sehun suka melakukannya.

"Kau terluka, sayang ?"

Keparat! Berani-beraninya Oh Sehun berbisik seperti itu!

"Aku yakin kau sangat terluka."

"…."

"Sudah ku katakan untuk berhenti melawan. Bukankah telah kujanjikan kelembutan dan kemewahan jiika saja otak kecilmu tidak terlalu berani untuk bersikap keras kepala ?"

"…."

"Kau terlalu pembangkang dan sekarang kau lihat sendiri hasilnya."

"M-mengapa harus a-aku ?" Yeah! Pertanyaan tersengal putus asa yang Sehun tunggu. Mengapa harus aku ?

"Mengapa harus dirimu ?" Sehun mengulangnya dan tertawa tanpa suara. "Kau bisa bertanya kepada kakak TERCINTAmu itu kan ? Kenapa kau berada disini ? Kenapa kau harus diperlakukan seperti ini ? Tanyakan saja pada Wu Yifan, Luhan. Dan jangan lupa untuk bertanya pula apakah hubungannya dengan PELACUR itu telah berakhir."

BAJINGAN!

Satu kecupan dileher dan tubuh Luhan lepas. Sehun menarik sletingnya tanpa dosa seperti sediakala lalu melangkah perkasa dan meninggalkan dentaman pintu sebagai akhir.

Luhan ambruk, menjijikkan karena dalam posisi telanjang bugil bersperma.

Derai tangisnya pecah lagi. Ia meringkuk, menutup telinga dari suara apapun, menutup mata dari cahaya apapun. Tapi semakin gelap dunianya, semakin cepat pula otak Luhan berputar-putar pusing dan tanpa dikehendaki ia menemukan jawaban itu sendiri. Jawaban atas semua pertanyaan lukanya.

Han Selvi.

Lagi-lagi wanita itu.

Dia tersangka utama dalam kasus ini, dia yang membuat Luhan menerima kebiadapan nafsu seorang lelaki.

Han Selvi!

Wu Yifan!

AAARRRGGGHHH!

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Haduh. Sebelumnya gue mau minta maaaaaaafff banget buat semua readers. Janjinya kan ya FF ini di update 2 minggu sekali. Tapi ternyata T.T

Gue punya alasan kok, dengerin ya T.T

Pertama, gue lumayan sibuk soalnya sekarang lagi magang. Kedua, biasanya kan gue pake wifi lewat hp, nah sialnya hp gue jatoh berdentam retak pecah dan mampos -_-. Sekarang aja gue pake hp temen buat update chapter 4. Tapi gak mungkin kan gue pinjem hp temen mulu. /maafkan author yang kere ini readers T.T/ . ketiga, gue udah coba beberapa kali buka FFN pake wifi hp temen, tapi FFNnya gak bisa kebuka. Apa mungkin salah kartu SIM gue yang terlalu murah ? -_- Ini juga entah mimpi apaan gue coba lagi dan ternyata bisa.

Nah, itu kendala gue kenapa FF ini jadi molor binggow.

Trus, ada yang nanya tentang chapter 3 kenapa Sehun bisa nemuin Luhan. Seperti yang udah readers lain tebak, itu karena HP Sehun ada sama Luhan. Gue juga gak ngerti teknologi kayak apa itu, tapi yang pernah gue denger dari hp kan bisa melacak keberadaan seseorang, iya kan ? gue juga gak ngerti. Wkwk

Untuk chapter selanjutnya, gue gak berani janji mau update berapa minggu sekali. Doain aja ide gue lancar trus ada rejeki wifi gratis. Haha

Untuk my Love ECLAIRE OH, PM lo pengen minta serbu nih ? Apa perlu gue ngancem readers FF gue ini gak bakal dilanjut sebelum lo publish FF HunHan baru ? Nah loh, Readers jadi korban. /diperkaos readers. Ahahaha/

Hokeh. Terimakasih banyak untuk semua pihak yang selalu setia dan selalu support FF ini.

AI LOP YU :*