You're Just Fine
By: AquaIta
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T+ (for now)
Warning: Older-younger relationship (Naruto 22 thn, Sasuke 11 thn), mental disorder in children, abnormal love infatuation, OOC, IC, mention of abuse, typos (maybe), maaf jika ada sebutan kasar penyakit tertentu, slow build, dll.
Pairing: SasuNaruSasu
Don't like, Don't read!
Summary: Naruto, seorang ANBU. Sasuke, anak kecil yang selamat dari insiden pembantaian Uchiha. Siapa sangka, melihat pembunuhan massal di depan matanya akan membuat Uchiha muda yang awalnya jenius itu menjadi… keterbelakangan mental? "Dia menjadi labil, tidak mau bicara, dan terlihat seperti orang idiot—bukan idiot sepertimu, Naruto—maksudku, benar-benar idiot." Dan Naruto harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normalnya karena Sasuke menjadi terobsesi padanya.
.
.
.
Karena suatu hari nanti, kau akan bertanya padaku, kenapa aku mau menerimamu.
Lalu aku akan tertawa.
Mungkin aku tidak lagi kesal saat melihatmu. Mungkin nanti aku sudah mampu mengusap kepalamu, dan mengatakan itu hanya masa lalu. Bahkan mungkin aku tidak akan lagi membencimu.
Namun percayalah–aku ingat.
Dan selama itu pula, aku tidak akan pernah bisa menerimamu.
.
.
.
Naruto tidak pernah menyangka akan datang hari dimana Iruka– sosok yang amat berharga baginya– akan menatapnya dengan pandangan seperti itu.
Menyipit, tajam, dan... kecewa.
Blimey, bukannya dia ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah mengecewakan pria itu. Sering sekali malah. Nilai ujian yang lebih jongkok dari trenggiling dan keonaran yang terkadang keterlaluan, mana mungkin dia tidak pernah membuat Iruka sekali dua kali menghela napas lelah.
Tapi tidak pernah seperti ini.
Iruka memandangnya seolah-olah pria itu tidak mengenalnya.
"Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, Naruto?" Iruka bertanya dengan nada yang membuatnya berjengit Dia tidak mengenal suara itu. Terlalu pelan. Terlalu jauh.
"Ya," gumam Naruto, gigi nyaris terkatup rapat. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, Sensei?"
Naruto tahu seharusnya dia tidak melawan, tapi dia tidak bisa menyalahkan rasa kesal yang mulai naik ke permukaan.
Dia tidak pantas menerima tatapan itu hanya karena dia lebih memilih hidup tenangnya dibandingkan dengan bocah Uchiha pesakitan itu.
Kedua mata Iruka menyipit sejenak, dan Naruto tetap bergeming. Begitu untuk beberapa lama, hingga pada akhirnya Iruka menyadari bahwa dua orang keras kepala jika disatukan tidak akan bisa mencapai mufakat apapun.
"Duduklah," ajak Iruka. Naruto dapat melihat mata itu melunak. "Kita bicara pelan-pelan."
Naruto mengangguk, agak sangsi. Naruto tahu bahwa mereka akan melakukannya; memanggil Iruka untuk membujuknya agar ia mau mengurus Uchiha.
Namun tidak. Tidak. Jika mereka membangkitkan kembali orang tuanya pun, Naruto tetap akan menolak.
Tapi... ini Iruka. Iruka yang telah menjadi segala baginya.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Sensei." gumam Naruto, menyandarkan kepalanya di bahu Iruka dan menarik napas lelah. "Aku tidak mau."
Naruto bisa merasakan pundak Iruka menegang di bawah kepalanya, membuat pemuda itu tersenyum tipis. Bagaimana mungkin masih ada orang sejujur Iruka? Yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri dan terlihat seperti buku yang terbuka lebar.
Karena menjadi ninja berarti menjadi pendusta, tapi Iruka mampu menjadi ninja tanpa merubah dirinya sendiri.
Naruto tersenyum kecil.
"Jangan egois, Naruto..." ucap Iruka, refleks membelai kepalanya. Naruto menggerung keenakan. "Kau harus mengerti, Sasuke membutuhkanmu."
"Tapi aku tidak, Sensei." gumam Naruto, tanpa sadar menggerutukkan giginya. "Aku tidak mau terlibat dengan Uchiha lagi. Sudah cukup."
"Naru–"
"Kumohon, Sensei..." Iruka bisa merasakan genggaman tangan Naruto menguat, kukunya memutih. "Jangan paksa aku. Kumohon."
Naruto menunggu, namun Iruka diam.
"Mereka tahu aku tidak akan bisa menolakmu," bisik Naruto. Marah. "Mereka tahu aku mencintaimu, dan aku akan melakukan apapun."
Naruto bisa mendengar napas Iruka yang diambil terlalu tajam, tangan di kepalanya berhenti bergerak.
"Selama ini kau yang merawatku. Kau tahu apa yang mereka lakukan padaku. Dan sekarang kau ingin aku merawat keturunan mereka?"
Iruka masih menghentikan napasnya.
"Aku minta maaf, Sensei. Tapi aku–" Naruto mengumpulkan segala ketegasan yang dia punya. "–tidak bisa."
Naruto memejamkan matanya.
Dia masih ingat. Dia masih bisa merasakan sakitnya, sangat intens sampai dia bisa merasakan rasa nyeri itu dibawah lidahnya. Berdenyut, menggelegak di bawah kulitnya.
Dan mereka hanya diam, mengamatinya seperti binatang percobaan yang tidak butuh dikasihani.
Dia masih ingat bagaimana dia mengemis, memohon agar mereka berhenti sementara Kyuubi meraung murka dalam tubuhnya. Dia masih ingat–dengan sangat jelas– bahwa mereka semua memutuskan untuk tuli begitu dia akan membuka mulutnya.
Dia memang bukan pendendam, namun dia juga bukan malaikat.
"Naruto..." bisik Iruka, membuyarkan pikirannya. Naruto menengadah, dan melihat pria yang sangat disayanginya itu tersenyum kecil. "Jangan dipikirkan lagi."
Naruto mengedipkan matanya. Sekali. Dua kali. Lalu dia tidak bisa menghentikannya– senyum yang sangat lebar muncul begitu saja di bibirnya.
Karena Iruka selalu mengerti.
"Tidurlah, kita bicarakan hal ini lagi setelah kau bangun nanti." ucap Iruka, dan Naruto merasakan belaian itu lagi.
Naruto menggeleng. Tidak, pembicaraan ini sudah selesai.
"Tidurlah," bisik Iruka, kini terdengar agak memaksa. "Kau membutuhkannya. Sekarang."
Karena Naruto tahu dia tidak pernah bisa menolak Iruka.
Sehingga dia membiarkan saja kelopak matanya tertutup, dan membiarkan kegelapan mengambil alih untuk sementara.
.
.
.
"Aku gagal."
Tsunade tidak sadar kalau alisnya terangkat begitu tinggi dan tinta sudah menggenang di perkamen yang hendak ia tulis.
"Maaf?"
Shizune nyaris mengambil langkah mundur.
Karena Tsunade tidak akan mau meminta maaf walau dia telah membumi hanguskan Konoha sekalipun.
Oke, itu berlebihan. Tapi tetap saja.
"Naruto tetap menolak."
"Kau bisa me–"
"Itu haknya," tukas Iruka, tidak gentar sedikitpun memotong ucapan Hokage. "Aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Dia menolak. Aku menghargai keputusannya."
'Terlalu tenang,' batin Shizune panik. Iruka seharusnya tidak terlihat setenang itu menghadapi Tsunade yang biasa, apalagi Tsunade yang kini sudah mematahkan kuas di genggaman tangannya.
"Aku tahu kau bisa melakukan lebih dari itu!" seru Tsunade. Meja Hokagenya yang entah keberapa bergetar mengancam remuk dibawah telapak tangannya.
"Anda ingin saya memaksakan kehendak Anda padanya?" sahut Iruka pelan, amat pelan hingga membuat Shizune menelan ludah. "Apakah dia tidak diberi kesempatan untuk bicara disini?"
Tsunade mendelikkan mata. Lama, namun tidak menjawab.
Dan Iruka, secara mengejutkan, tetap bergeming di tempatnya. Mata cokelat yang biasanya lembut itu mengeras, sementara bibirnya hanya berupa segaris tipis.
Lalu entah karena akhirnya gerah dengan mainan tatap-pelotot atau karena matanya sudah gatal ingin berkedip dari tadi, Tsunade akhirnya membuka suara. "Kau tidak seperti ini, Iruka."
Karena siapapun tahu kalau yang berkedip duluan yang kalah.
Kali ini Shizune bisa melihat tatapan Iruka melunak, sebelum sebuah senyum canggung yang amat tipis muncul. Akhirnya.
"Aku selalu terlalu protektif kepada Naruto. Maaf atas ketidaksopananku sebelumnya. Aku– hanya tidak berpikir."
'Tentu saja,' Shizune menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya. 'Mother hen.'
Tsunade diam sejenak. Sepertinya Iruka pun bukan berada dalam kubunya. Awalnya ia mengira bahwa pria yang terkenal lembut luar-dalam itu akan tergugah melihat keadaan Sasuke dan memaksa Naruto untuk mengurusnya.
Dan betapa terkejutnya ia begitu Iruka menggelengkan kepala.
Seakan bisa membaca pikiran Tsunade, Iruka memberikan senyuman tipis dan menggaruk belakang kepalanya.
"Bukannya aku tidak mau menolong, Tsunade-sama. Aku ingin, sungguh. Uchiha Sasuke muridku juga tapi aku–" Iruka entah kenapa terdiam sejenak, sebelum melanjutkan. "Aku hanya tidak mau melihat Naruto harus membuang hidupnya lagi."
Pemilihan kata yang ambigu, dan membuat Tsunade mengangkat sebelah alis menunggu.
"Anda tidak akan mengerti, Hokage-sama," desah Iruka, menahan keinginan untuk mengusap wajahnya. "Anda tidak tahu bagaimana hidup anak itu. Dan–" suara Iruka tercekat. "–kukira sudah cukup. Jangan lagi membuat hidupnya semakin buruk."
"Aku memang tidak mengerti. Tapi tolong, kau melihat sendiri bagaimana keadaan Sasuke."
Wajah Iruka berkerut, jelas sekali tidak menyukai bagaimana Tsunade tidak mempertimbangkan Naruto dalam pembicaraan ini
"Apa Anda tahu apa yang sudah ia lalui hingga saat ini? Apa yang Uchiha lakukan padanya?" lanjut Iruka lagi.
"Itu masa lalu, Iruka. Dan Sasuke bahkan tidak ada hubungannya dengan perlakuan Uchiha pada Naruto."
"Anda tidak tahu," Iruka berucap di sela-sela giginya. "Akulah yang melihat luka-luka di perutnya. Aku yang mengobatinya. Aku yang berusaha menulikan telingaku saat dia menjerit. Aku, aku tempat dia berlari ketika tidak ada seorang pun yang peduli."
"Lalu kau berharap aku akan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang bisa membuatnya teringat kembali? Jangan bercanda."
Dan Tsunade, tidak pernah melihat Iruka semarah iru.
"Dia tidak setegar yang kau pikirkan, Nona Tsunade."
Kemudian yang menyusul setelahnya hanya kesunyian. Baik Iruka maupun Tsunade tidak ada yang mengangkat suara lagi, hanya saling menatap tajam satu sama lain. Dan apabila Tsunade mengatakan dia terkejut, itu understatement. Dia tidak akan pernah menyangka seorang Iruka yang lembut bisa menjulang di depannya, menatap tajam seorang Hokage demi Naruto.
Entah dia harus merasa bahagia atau kesal, dia tidak tahu.
"Iruka," Tsunade bicara lambat-lambat, menimbang setiap kata sebelum menggulirkannya. "Aku juga menyayangi Naruto."
Tsunade bisa melihat api yang ada di mata Iruka mulai padam begitu mendengar kata-katanya, dan dia tahu bahwa dia melakukan hal yang benar.
"Tapi Sasuke juga yatim-piatu, Iruka... Sama seperti kau dan Naruto. Ketika kalian berdua mampu mengurus dan melindungi diri kalian sendiri, Sasuke bahkan tidak bisa menyebut nama lengkapnya sendiri dengan benar."
Kedua mata Iruka meredup.
"Apa kau pikir dia bisa bertahan hidup dengan kondisinya yang seperti itu, Iruka?" tanya Tsunade lembut. "Bisakah kau bayangkan apa yang akan dilakukan ninja luar jika mereka mengetahui kondisi pemilik terakhir Sharingan?"
Iruka masih diam, sehingga Tsunade melanjutkan. "Dia hanya punya dua pilihan, Iruka. Naruto, atau asylum. Dan kau tahu bagaimana asylum Konoha itu bukan, Iruka?"
Tentu saja, Iruka membatin. Rumor tentang asylum itu sangat buruk, namun kenyataannya bahkan jauh lebih buruk. Asylum Konoha adalah tempat rehabilitasi bagi para ninja yang mengalami gangguan mental, baik karena trauma akibat misi atau injuri saraf otak yang irreversible. Tidak banyak yang mendiami tempat itu, namun itu berarti pengawasan 24 jam penuh.
Dan ketika kau hidup di dunia dimana orang lain bisa melihat alam bawah sadar, merasuki badan seseorang, bahkan menciptakan ilusi, coba bayangkan saja bagaimana perawatan untuk orang sakit jiwa.
Iruka menghela napas lelah. Jemarinya menyisiri rambutnya dengan kasar. Terkadang dia benci dengan sifatnya yang begitu memikirkan orang lain.
Pemuda itu kemudian berjalan mendekati Tsunade, menegakkan punggungnya dan berucap.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengurus Sasuke."
Dan saraf terakhir yang memblokir amarah Tsunade pun terputus.
"KAU TIDAK MENGERTI!" Seru Tsunade murka. Meja yang sedari tadi masih bisa mempertahankan diri kini ambruk sudah. "SASUKE TIDAK MENERIMA ORANG LAIN SELAIN NARUTO!"
"Lalu kemudian apa, Hokage-sama?" Suara Iruka meninggi. Sekelebat bocah berambut pirang yang memeluk perutnya sendiri di sudut kamar memenuhi kepalanya. "Katakanlah Naruto akan mengambil Sasuke. Lalu?"
Segel di perutnya seakan terbakar. Panas sekali. Dan Naruto mengigit bibir menahan tangis.
'Aku tidak mau lagi, Sensei...'
"Lalu apa?" Suara Iruka bergetar. "Apa yang Anda ingin dia lakukan? Mengurus Sasuke? Menyayanginya?"
Iruka menggeleng pelan. Tatapannya tidak bisa diartikan. "Itu tidak mungkin, Hokage-sama."
Kesunyian sejenak memeluk ruangan. Tsunade masih berdiri, menatap pria di depannya dengan dahi berkerut. Jantungnya berdegup kencang, karena dia tahu bahwa Iruka benar.
Setelah Naruto mengambil Sasuke, lalu apa yang akan terjadi? Sasuke membutuhkan pengobatan dan orang yang benar-benar peduli padanya, yang mau mengurus bocah yang bahkan tidak mengerti bahwa manusia bergerak dengan kaki dan tidak berguling seperti barrel minyak.
Bukan seperti Naruto, yang bahkan tidak bisa menahan kenyataan bahwa dia bernapas dengan udara yang sama dengan Sasuke.
"Biar aku saja, Tsunade-sama. Mungkin Sasuke belum bisa menerima kehadiranku tapi–" Iruka menggigit bibir. "Menurutku itu lebih baik daripada dia bersama Naruto. Mereka tidak akan bisa hidup dalam satu atap, Hokage-sama."
Dia benar. Batin Tsunade, bahunya turun. Tidak akan bisa.
Tapi...
Kemudian Tsunade teringat laporan yang Inoichi berikan padanya, tepat setelah dia memeriksa alam bawah sadar Sasuke dan memperlihatkannya pada Tsunade.
Dan dia mengeraskan hatinya.
"Apakah kau keberatan jika aku menunjukkan sesuatu padamu, Iruka?"
Iruka menarik napas tajam. Mata Tsunade berkilat-kilat berbahaya. Keras. Mata yang tidak akan pernah mundur dan tidak akan menerima penolakan.
"Hokage-sama, Anda tahu bahwa hal ini tidak akan–"
"Akan kutunjukkan padamu," potong Tsunade, menatap dalam Iruka. "Dan apabila setelah itu pun kau tetap menolak, aku tidak akan ikut campur lagi."
Iruka tahu bahwa dia harus menurut. Tsunade tidak akan melepaskannya sebelum dia mengikuti kemauan wanita itu. Dan Iruka hanya harus mengatakan tidak setelah apapun-itu yang ingin Hokage tunjukkan padanya.
"Baiklah, Hokage-sama."
.
.
.
Nanti, Iruka akan mendapati dirinya berada di ruangan Sasuke, dengan seorang pria bermarga Yamanaka di sebelah kiri dan Hokage di kanannya.
Nanti, dia akan meletakkan tangannya di atas dahi anak kecil itu.
Dan nanti, dia bersumpah akan menutup mata terhadap apapun yang akan dilihatnya.
Tapi nanti, dia akan mendorong Tsunade dan berlari seperti orang gila ke apartemen Naruto, dan bersumpah akan melakukan apapun agar Naruto bersedia merengkuh Sasuke.
.
.
.
Tsunade tidak pernah tahu, jika wajah Iruka bisa sepucat itu.
.
.
.
Naruto masih bisa mencium bau kapuk bantalnya ketika Iruka menepuk pipinya kasar dan membuka matanya paksa.
"Sensei? Ada apa?" ucap Naruto dengan suara diseret. Matanya masih setengah terbuka.
"Kau harus mengambil Sasuke."
Mata Naruto yang biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk terbuka kini terbelalak lebar.
"Sorry?"
Iruka menatapnya dengan gusar. Bola matanya berlarian ke kanan-kiri. Naruto yang sangat mengenal Iruka seperti dia mengenal telapak tangannya sendiri sontak mengerutkan dahi.
"Apa yang mereka katakan padamu?" tanya Naruto pelan, sepelan sebuah kalimat bisa terucap. Dia bisa merasakan bagian bawah kulitnya berdenyut akibat amarah yang mulai muncul ke permukaan.
Naruto masih oke jika mereka menganggunya, tapi tidak dengan Iruka.
Iruka menghela napas tajam. Matanya terpaku pada Naruto, menggenggamnya lebih erat daripada tangan yang kini mencengkram bahunya.
"Kumohon..." lirih Iruka dengan suara pelan. "Kumohon kumohon kumohon, ambil anak itu, Naruto..."
Naruto menyipitkan matanya tidak suka. Menahan keinginan untuk mendobrak ruang Hokage dan merasengan semua dokumen Tsunade, Naruto mengulum senyum paksa.
"Sensei", sahut Naruto, lembut. "Kau tahu itu sama saja dengan membunuhku."
Iruka memejamkan matanya.
"Sampai seperti itu?" bisiknya. "Separah itu?"
Naruto terkekeh geli. Pertanyaan itu begitu konyol sampai-sampai dia tidak sanggup untuk tertawa.
"You have no idea."
Cengkraman Iruka di bahunya menguat, menyakitkan. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang paling dibencinya; kasihan.
"Kumohon, Sensei... Jangan paksa aku lagi," ucap Naruto lirih. Giginya bergemerutuk nyaring.
Kau tahu kau akan berhasil, kau tahu kau adalah segalanya.
Iruka menggigit bibir bawahnya. Dia sangat mencintai Naruto, pemuda itu adalah adiknya, anaknya, dan temannya. Naruto sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama sekali hingga ia tidak ingat lagi kapan dia pernah berdiri tanpa pemuda itu.
Kebahagiaan Naruto berada dalam puncak prioritasnya. Hidup Naruto berada diatas hidupnya.
Tapi...
Kemudian Iruka mengingat apa yang ia lihat di dalam pikiran Sasuke.
Dan dia membulatkan hatinya.
"Kau tahu, Naruto?" ucap Iruka halus. Naruto memandangnya dengan keras kepala. "Sasuke dan kau itu sama."
Penghinaan tercetak jelas di wajah Naruto yang merah padam.
"Jangan kau–"
"Keluarganya membuatmu menderita kan, Naruto?" potong Iruka, menghindari mata Naruto. "Kau membenci Sasuke karena keluarganya menyakitimu, hm?"
Iruka mengeraskan hatinya demi kalimat yang ia tahu, akan menyakiti Naruto lebih dari yang Uchiha lakukan padanya.
"Kyuubi membunuh kedua orang tuaku, Naruto."
Iruka menggigit bagian dalam pipinya saat melihat muka Naruto yang memucat. "Kalian sama-sama dibenci untuk hal yang tidak kalian lakukan. Tapi kau–" Iruka menyentuh puncak kepala Naruto. "Kau bisa mengurus dirimu sendiri. Kau bisa berbicara dengan benar. Kau tahu apa yang baik dan apa yang tidak. Tapi Sasuke?" Iruka menggelengkan kepalanya sedih, menolak menatap Naruto yang entah memasang wajah seperti apa sekarang.
"Mengabaikannya seperti ini–adilkah, Naruto?"
Naruto tidak mampu bersuara.
"Membiarkannya sendiri–hanya bersama dengan petugas medis di asylum–adilkah Naruto? Sementara kau memiliki orang yang peduli padamu, walau hanya satu diantara sejuta?"
"Cu-cu... kup..."
Iruka bisa merasakan tubuh Naruto gemetar halus. Pria itu refleks memeluk Naruto.
"Seharusnya aku membencimu, Naruto, sama seperti yang lain. Tapi nyatanya, kau adalah yang paling berharga bagiku." bisik Iruka lirih, berharap dapat meredakan getaran menyedihkan di tubuh Naruto. Sungguh dadanya terasa nyeri melihat Naruto seperti ini, dan rasa nyeri itu semakin menjadi karena dia tahu bahwa dialah penyebab Naruto tertunduk.
"Karena aku tahu bahwa itu semua bukan salahmu, bahwa bukan kau yang memilih takdirmu," lirih Iruka lagi, mengusap kepala Naruto lembut. "Karena aku tahu kau membutuhkanku, dan aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendiri begitu saja."
Dan ketika Naruto mengusap wajahnya dan membuang muka, Iruka tahu, bahwa itu adalah kalimat terakhir yang ia butuhkan.
.
.
.
"Baiklah, aku akan menjelaskan tentang kondisi Sasuke padamu."
"Tidak perlu."
Tsunade menatap garang pemuda berambut kuning menyala yang tengah membolak-balik gulungan jutsu di tangannya dengan raut bosan.
"Kau harus mengetahui bagaimana mental statenya saat ini, Naruto. Kau membutuhkan informasi yang akurat untuk mengurusnya." ucap Tsunade, menelan kekesalannya bulat-bulat. Disini dia yang butuh Naruto, bukan sebaliknya.
"No sense. Aku hanya perlu memberinya makan dan memastikan dia tidak menelan sendok dan membunuh dirinya sendiri." gumam Naruto, penuh venom.
Tsunade mengurut batang hidungnya. Apa mungkin Sasuke akan baik-baik saja di tangan Naruto?
"Kalau kau berpikir merawat Sasuke sama seperti merawat binatang peliharaan, lebih baik dia hidup di asylum. Setidaknya mereka tahu bahwa mereka merawat manusia."
"—Yang tidak waras," tambah Naruto, murah hati. "Kalau sedari awal kau menganggap asylum itu sebuah pilihan, kau tidak akan memaksaku melakukan ini."
Tsunade terdiam.
'Naruto memang bodoh, tapi sekali dia menjadi pintar, dia akan sangat menyusahkan.' batin wanita itu gondok. Keningnya berkerut-kerut.
"Terserah kau jika dia mulai mengalami night terror dan meledakkan rumahmu, aku tidak mau menerima keluhan."
"Huh?" alis Naruto terangkat tinggi. "Kau yakin anak sependek itu bisa menghancurkan sesuatu selain kepalanya sendiri?"
Mereka saling melempar deathglare.
"Sudahlah," desah Tsunade, mengalah. Bertengkar Naruto tidak akan ada habisnya. Jika dia tidak mengalah bukan tidak mungkin satu-dua kepala akan patah. "Aku serius. Dengarkan aku."
Naruto menatapnya dengan pandangan tak minat, tapi Tsunade tahu dia mulai melunak sedikit.
"Sasuke mengalami yang biasa disebut Traumatic Disorder, gangguan kejiwaan yang dipicu oleh kejadian ekstrim dan menyebabkan disorientasi mental pengidapnya." Terang Tsunade dengan nada yang sering digunakan seorang professor dari dunia lain.
Atau itu yang dipikirkan Naruto.
Kedua belah bibir pemuda itu terbuka sedikit. Dahinya berkerut terlalu dalam dari seharusnya, dan Tsunade hampir dapat mendengar suara otak Naruto yang sedang berpikir keras.
Almost literally.
Menahan gelak tawa yang nyaris keluar, Tsunade menatap Naruto dengan pandangan terhibur. "Artinya, Naruto, mentalnya terganggu akibat insiden pembantaian Uchiha itu. Dia tidak seperti ini dulunya—jika kau berpikir seperti itu."
Akhirnya Tsunade mendapat perhatian penuh Naruto. Pemuda itu memiliki garis keterkejutan di wajahnya. Hanya beberapa memang, tapi cukup untuk membuat Tsunade tersenyum tipis.
"Apa Itachi melakukan sesuatu padanya?" tanya Naruto tanpa sadar, sebelum menutup mulutnya secepat dia bernapas. Apa yang ia katakan tadi?
"Sasuke melihat semuanya. Itachi membunuh kedua orang tua mereka di depan mata Sasuke dan—seperti yang bisa kau duga—dia tidak begitu bisa menerima apa yang ia lihat. Traumatic disorder adalah gangguan yang acak. Seseorang bisa mengalami traumatic disorder dalam bentuk lain, seperti insomnia atau night terror. Orang lain bisa mengalami paranoia, beberapa menderita personality split."
"Tolong berbicara dengan bahasa Jepang, kumohon." Pinta Naruto kesal. Dia bahkan tidak mengerti arti dari kalimat pertama, damn it!
"Intinya," Tsunade melambaikan tangan tak sabar. "Mental Sasuke terganggu. Sangat sedikit dilaporkan penderita traumatic disorder menjadi autis, tapi Sasuke mengalaminya. Dia sangat, sangat membutuhkan support dari orang di sekitarnya, dan itulah tugasmu saat ini."
Naruto menatap Tsunade dengan pandangan tidak percaya.
"Kau tidak benar-benar berpikir aku akan membesarkannya dengan kasih sayang, kan?" tanya Naruto pelan, berusaha menganggap perkataan Tsunade hanya lelucon semata. Tapi ketika Tsunade tidak tertawa, amarah Naruto mulai melecut. "Aku tidak akan bisa melakukannya, kau tahu itu. Memikirkan bahwa aku akan seatap dengannya saja sudah membuatku ingin melakukan hal yang buruk padamu," desis Naruto penuh venom. "Kau benar-benar membuatku marah."
"Jaga bicaramu, Bocah."
"Aku akan menjaga mulutku jika kau sadar bahwa mengusik kehidupan orang lain bukan hakmu sebagai Hokage."
Itu sakit. Tsunade tidak pernah tahu kalau dadanya bisa senyeri ini.
Naruto yang melihat perubahan raut muka Tsunade menghela napas lelah. Dengan gemas ia mengusap wajahnya, membuang muka ke samping.
"Maaf," bisiknya. "Aku tidak bermaksud…"
"Tak apa," potong Tsunade cepat. "Tidak usah diungkit lagi."
Kemudian keduanya terdiam, terlalu canggung untuk berbicara. Yang satu karena dia tahu akan mengeluarkan kalimat lain yang lebih menyakitkan jika dia membuka mulut, yang satu lagi karena merasa bersalah dan sakit hati.
"Dengar," Tsunade akhirnya berbicara, gerah melihat Naruto yang berdiri kikuk di depannya. "Aku akan menjelaskan situasinya padamu. Secepat mungkin. Aku tahu kau perlu menenangkan dirimu sebelum bertemu dengan Sasuke—" Naruto berjengit. "—dan mau tidak mau, kau harus mengerti situasinya. Kau bisa menjatuhkan mental Sasuke lebih dari yang Itachi lakukan padanya jika kau tidak peduli."
Ingin sekali Naruto mendengus mendengarnya. "And may you tell me, apa yang mungkin orang asing sepertiku bisa lakukan untuk menghancurkan hati kaca Uchiha?" cibirnya sarkastik, sebelum tidak bisa menahan lagi dan benar-benar mendengus.
Tsunade mau tidak mau teringat apa yang Inoichi tunjukkan padanya, dan berjengit.
"Kau tidak akan mau mengetahuinya."
.
.
.
Naruto membuka ruangan yang sudah masuk dalam peringkat teratas tempat yang paling tidak-akan-sudi-menginjakkan-kaki-untuk-ketiga-kalinya itu. Kerutan kesal belum juga hilang dari keningnya.
"Aku akan menyesali keputusan ini." gumam Naruto.
"Na?"
Here we go, batin Naruto lelah.
Sasuke bangkit dari posisinya yang bergelung di lantai. Kenapa anak itu memilih untuk berguling-guling di lantai sementara di depan hidungnya ada ranjang empuk, Naruto tidak habis pikir. Namun kemudian teringat bahwa bocah ini tidak waras.
"Um. Hai—well… kau oke? Err, kau tahu, apa punggungmu sakit atau kepalamu pening atau—shit, aku tidak bisa melakukan ini." rutuk Naruto geram. Tidak akan ada gunanya mencoba bersikap ramah—perutnya malah bergejolak kesal.
Sasuke menatapnya seakan dia adalah kembang api yang memercik di malam musim panas. Naruto bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam mata hitam itu—dan tanpa sadar dia mengangkat sebelah alisnya.
"Naa…" Sasuke mengulurkan kedua tangannya ke arah Naruto.
'Apa dia ingin aku menggendongnya?' alis Naruto terangkat semakin tinggi. Sasuke semakin mendekatinya dengan kedua tangan terulur.
'You've gotta be kidding me.'
"Tidak. No, no, no. Kau sudah tua, berjalanlah sendiri dengan kakimu. Dan apa kau pikir aku mau menggendongmu?"
Sampai titan pindah dunia dan menyerang Konoha pun dia tetap tidak akan sudi.
Sasuke yang sadar Naruto tidak menyambut tangannya hanya menelengkan kepala, pandangan bertanya.
'Dia kesulitan memroses kata, baik yang diucapkan atau tertulis. Otomatis itu akan memengaruhi kemampuannya berbicara. Jadi bicaralah dengannya menggunakan bahasa yang sederhana dan lambat. Kalau perlu, gunakan isyarat tangan.'
Naruto mendengus. Bagus, tidak pernah dia mengira akan datang hari dimana dia mengurus orang yang lebih idiot darinya.
"Kaki," Naruto menghentakkan kakinya keras. Sasuke spontan menatap kaki Naruto penuh minat. "Jalan…" pemuda itu melangkahkan kakinya sendiri beberapa saat, kemudian menunjuk kaki Sasuke ogah-ogahan.
Sasuke beralih menatap kaki kecilnya. Menatap penuh tanya Naruto yang mendelik, Sasuke kembali mengamati kaki-kakinya.
"Ja… lan?" tanyanya penasaran, menatap Naruto dengan mata yang terlalu besar.
Naruto memutar bola matanya malas. Dia tidak yakin kesabarannya cukup untuk membuatnya tidak melempar bocah Uchiha itu di hari pertama.
"Kau akan membunuhku pelan-pelan, Bocah." Ucap Naruto lelah. Dengan kasar dia meraih tangan kanan Sasuke dan menyentaknya, memaksa Sasuke berjalan di sampingnya.
"Kemari—jika aku menunggumu sadar bahwa kakimu digunakan untuk berjalan, kau tidak akan pernah pulang."
Sasuke mendongak menatap wajah Naruto yang memandang lurus ke depan, lalu ke tangan mereka. Naruto hanya mengenggam kelingkingnya, membuat kontak mereka hanya seujung jari.
"Na?"
Naruto masih tidak menatapnya. Terlihat sekali bagi orang-orang yang melihat mereka bahwa pemuda itu sangat terpaksa menyentuh Sasuke, jika kedutan di seluruh otot wajahnya mengindikasikan sesuatu.
Sasuke berkedip. Sekali lagi dia melihat kelingkingnya yang terkait dengan Naruto.
"What—"
Naruto nyaris menyentakkan tangannya begitu dia merasakan sebuah tangan kecil mengenggam tangannya penuh-penuh. Sumpah serapah sudah berada di ujung lidahnya, hanya untuk tertelan kembali begitu melihat senyum Sasuke yang lebar.
Terlalu lebar, hingga gigi putihnya yang berderet terlihat jelas.
Naruto menatap dingin bocah di sampingnya beberapa saat, berharap Sasuke akan mengerti isyaratnya dan melepaskan tangannya. Tapi tidak, bocah itu malah tersenyum semakin lebar begitu mata biru Naruto bertemu dengan miliknya.
Mendengus keras, Naruto kembali mengalihkan matanya ke depan.
Dia bisa merasakan senyum Sasuke menghilang, dan kontak tangan mereka yang membuat perutnya bergelenyar mual.
.
.
.
TBC
.
.
.
(Becanda. ^^v)
.
.
.
Naruto mengamati interior rumah barunya dengan pandangan berminat. Rumah ini jelas jauh lebih baik dari kediamannya sebelumnya. Tsunade bersikeras bahwa tempat tinggalnya 'tidak sehat dan membahayakan kesehatan', sehingga dia berinisiatif memberikan rumah baru yang jauh lebih besar, lebih nyaman, dan lebih… bersih.
Ha.
Karena sebenarnya apartemen Naruto tidak seburuk itu, tapi jika melihat celana yang tersangkut di kipas angin dan sampah sudah ditinggali semut, itu lain cerita.
Cepat-cepat Naruto menarik tangannya dari genggaman Sasuke dan melangkah ke ruang tamu.
"Oke, jadi ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu," ujar Naruto, melirik waspada Sasuke yang sudah memasang ancang-ancang untuk menerjangnya. Mau tak mau Naruto menghindar ke samping dan mendudukkan paksa Sasuke di sofa.
"Aku tidak menginginkanmu," Naruto memulai, mengamati ekspresi Sasuke. Bocah itu mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang, bibirnya menggigit-gigit jempolnya sendiri.
Ini akan sulit.
"Aku ingin kita membuat beberapa kesepakatan disini. Kau, anggap kalau aku tidak ada dan— apa yang kau lakukan?" desis Naruto kesal. Mata birunya mendelik ke arah Sasuke yang berlari ke tumpukan kain bersih dan menyambar sebuah selimut berbulu dari sana.
"NA!" Sasuke melambai-lambaikan selimut itu kepada Naruto. Matanya berkilauan. "Fluffy!"
Naruto menahan keinginan untuk menampar dirinya sendiri tatkala Sasuke mulai membungkus tubuhnya dengan selimut yang terlalu besar untuk dirinya itu. Kemudian setelah memastikan tubuhnya tertutup semua, dia melompat seperti pocong ke arah Naruto.
"Fluffy!"
"Yeah, yeah, kau dan obsesimu terhadap selimut. Jenius. Sekarang dengarkan aku."
Naruto meraih bahu Sasuke dan mendudukkannya lagi. Kali ini di lantai. Lalu begitu dia menyadari bahwa jarak mereka terlalu dekat, Naruto segera bergeser jauh-jauh.
Sasuke ikut bergeser. Mendekat.
"Wha—kau tetap disana!" seru Naruto gondok, menunjuk tempat pantat Sasuke semula menempel.
Sasuke menatap telunjuknya dengan mata berbinar. "Disana!" beonya, menunjuk lantai yang sama.
"Iya, kau kesana. Aku disini." Terang Naruto, masih sabar. Dengan kakinya dia mendorong tubuh Sasuke jauh-jauh.
"TIDAK!" teriak Sasuke, berguling cepat balik ke arah Naruto. Pemuda pirang itu refleks melompati sofa.
"Oke, oke. Terserah kau. Tapi jangan—jangan terlalu dekat. Simpan beberapa jarak, oke?" gerutu Naruto. Sebenarnya dia ingin sekali membuat pingsan Sasuke dan melemparnya ke tempat tidur, tapi jika ia melakukan itu, besok hal yang sama akan terulang.
Sasuke mengangguk kuat. Hanya matanya yang terlihat dari balik gumpalan bulu selimutnya. Menghela napas, Naruto mencoba merilekskan dirinya dan menatap Sasuke.
"Aku tahu kau mungkin tidak mengerti kata-kata yang rumit, karena itu aku akan mengatakannya dengan sederhana dan cepat," ucap Naruto, masih menjaga kontak mata dengan Sasuke.
Sasuke tersenyum di balik selimutnya. Mata itu memang sangat biru.
"Menjauh dariku."
Sasuke masih tersenyum.
"Bicara padaku hanya jika kau butuh. Selain itu, anggap aku tidak ada, karena aku akan melakukan hal yang sama. Jangan masuk ke kamarku. Jangan duduk di sofa yang sama denganku. Jangan berteriak. Jangan menangis. Kumohon, jangan."
Sasuke mengeluarkan suara pekikan seperti ibu-ibu yang kaget mendengar gossip terbaru, memegangi kedua pipinya.
"Menangis?" tanyanya seraya menepuk-nepuk pipi. Naruto mengangguk. "MENANGIS?"
Naruto kaget ketika Sasuke mulai berteriak. "He-hei…"
Namun terlambat, Sasuke sudah keburu membuang selimutnya dan mulai berjalan mondar-mandir.
"Na nangis, Na nangis, Na nangis…" gumamnya berulang-ulang seraya berjalan bolak-balik seperti orang gila, masih memegangi kedua pipinya sendiri. Naruto yang melihatnya cuma bisa cengo.
Lalu tiba-tiba Sasuke berhenti. Kepalanya berputar begitu cepat hingga Naruto bersumpah mendengar lehernya berderak.
Naruto mengikuti arah pandang Sasuke. Sebuah vas bunga.
Kaki kecil Sasuke tergopoh-gopoh berlari ke seberang ruangan. Tangannya menggapai-gapai sebuah vas bunga kecil di atas meja kopi, dan bergegas kembali pada Naruto.
"Nih!" serunya, menyodorkan si vas bunga ke muka Naruto hingga mengenai hidungnya. Lalu ketika Naruto tak kunjung mengambil pemberiannya, Sasuke menyodok vas bunga ke muka Naruto lebih keras.
Dengan setengah hati Naruto meraih vas bunga itu dan meletakkannya ke samping.
"Sepertinya bicara denganmu jauh lebih sulit daripada berbicara dengan seekor kucing, hm?" gumam Naruto, lelah luar biasa. Dia ingin segera istirahat. Persetan dengan kesepakatan, dia sudah tidak tahan meladeni Sasuke.
"Kita bicara besok saja. Tidurlah, sudah terlalu larut untukmu." Desah Naruto. Telapak tangannya yang besar menutupi mata Sasuke dan mengalirkan sedikit cakra selama beberapa saat hingga Sasuke jatuh terduduk.
.
.
.
'Sasuke mengalami night terror. Kau tahu, sejenis mimpi buruk, hanya saja jauh, jauh lebih intens. Dia selalu mengalaminya, bahkan setelah kami memberi sedatif beberapa jam sebelum dia tidur. Biasanya dia akan berteriak dan tubuhnya kejang-kejang. Terkadang jika night terrornya terlalu parah, dia bisa berhenti bernapas. Jika hal itu terjadi, segera beri pertolongan pertama.'
.
.
.
Naruto mengalami night terror selama 5 tahun.
Dan ia tahu bagaimana rasanya.
Kau akan tenggelam dalam mimpi yang begitu buruk, benar-benar buruk hingga kau tidak akan sanggup mengingatnya ketika kau terbangun. Iruka selalu bercerita bagaimana dia berteriak histeris dan menghempas-hempaskan dirinya sendiri ke tempat tidur, tidak bisa dibangunkan jika tidak disiram air. Bahkan pernah tubuhnya kejang-kejang untuk beberapa lama, sebelum kemudian tak bergerak sama sekali.
Iruka bilang dia berhenti bernapas.
Hal itu terjadi selama beberapa kali, hingga Iruka tidak sanggup lagi dan akhirnya selalu tidur bersamanya, mengikat cakranya dengan cakra Naruto hingga ia tahu jika Naruto mulai mengalami night terror.
Butuh dua tahun bagi Iruka untuk menyelamatkan Naruto dari pengalaman terkutuk itu, namun butuh setahun bagi Naruto untuk terbiasa tidur tanpa mimpi buruk.
Iruka menghubungkan kedua cakra mereka dengan sebuah jutsu yang apabila salah satu dari mereka tertidur, jutsu itu akan aktif dan membuat shinobi yang meletakkan jutsu itu bisa merasakan perubahan cakra pada sang target yang tengah tidur. Dengan begitu, Iruka akan langsung terbangun jika Naruto mengalami night terror dan bisa langsung membangunkannya.
Karena itulah, ketika ia baru saja akan terlelap dan mendengar suara teriakan dari kamar Sasuke, Naruto menahan napasnya.
Dia tahu… bagaimana rasanya.
Dan penyebab dari semua mimpi buruk itu adalah klan Uchiha, keluarga Sasuke. Darah yang sama mengalir di pembuluh nadi Sasuke, bocah yang kini menjerit kesakitan di balik kamarnya.
Hah, Naruto ingin sekali mendengus. Inikah namanya karma?
Mengangkat sudut bibirnya, Naruto hendak kembali melanjutkan tidurnya, namun tiba-tiba suara Iruka menggema di telinganya.
'—Karena aku tahu itu semua bukan salahmu.'
Menggeram, Naruto menendang selimutnya dan bergegas menuju kamar Sasuke. Dengan cepat dia mengisi air di dalam gelas, menendang pintu kamar Sasuke, dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh kecil itu.
Seluruh badan Sasuke berkeringat dingin. Wajahnya memerah dan napasnya keluar pendek-pendek. Bibirnya menjerit tanpa henti, meneriakkan sesuatu antara 'jangan' dan 'tolong'.
Tanpa berpikir pun, Naruto tahu bahwa dia sedang melihat kembali keluarganya dibunuh.
Napas Sasuke semakin jarang, dan tanpa buang waktu lagi Naruto menyiramkan air ke wajah Sasuke.
"HAH!"
Naruto melihat bagaimana kelopak mata Sasuke terbuka seketika, bergerak-gerak liar dalam cahaya remang-remang kamar.
"N-Na?"
Naruto tidak menjawab. Dia menatap Sasuke yang merintihkan namanya untuk beberapa saat, lalu merogoh sesuatu dalam saku celananya.
"Nenek itu bilang aku punya dua pilihan jika hal ini terjadi," bisiknya pada Sasuke yang langsung lemas mendengar suaranya. Naruto bisa melihat kelegaan membasuh wajah Sasuke dan membuat matanya setengah tertutup, membuat Naruto bertanya-tanya apakah yang ada di pikiran Sasuke begitu mendengar suaranya.
"Pilihan pertama, aku bisa menenangkanmu seperti yang Iruka lakukan padaku. Dan yang kedua," Naruto mengeluarkan sebuah suntikan dan tanpa aba-aba menyuntikkan isinya ke pembuluh darah Sasuke. "Aku bisa memberimu obat penenang dan mengakhiri mimpi burukmu."
Naruto mengamati bagaimana kelopak mata Sasuke memberat dengan sangat cepat. Tangan kecilnya yang menggenggam celana Naruto melemas dan tergeletak di sisi tubuhnya.
"Cara yang kedua tidak akan menghilangkan mimpi buruk ini seperti yang terjadi padaku, namun kita semua tahu; kau tidak harus sembuh untuk tetap hidup."
Lalu perlahan Naruto bangkit, mengamati Sasuke untuk terakhir kali sebelum berjalan keluar dan meraih kenop pintu.
Namun kemudian Naruto teringat vas bunga yang Sasuke berikan padanya tadi siang, dan pintu pun tak jadi menutup.
Menjambaki rambutnya sendiri, Naruto berjalan berang ke arah Sasuke yang kini tak sadarkan diri dan menyentuh pusat cakra di perutnya.
Naruto tidak tahu apa yang merasukinya, namun setelah dia mengikat cakra Sasuke dengan miliknya dan merasakan aliran cakra Sasuke mengalir tenang, Naruto tahu bahwa dia melakukan hal yang benar.
.
.
.
Beneran TBC ^^
.
.
.
Hello… *senyum canggung* Err… updatenya lama ya? Tapi ga lama banget kan? Oke iya, emang lama sih. *nyengir*. Tapi sebagai permintaan maaf Ita, Ita panjangin nih chapternya! 5000 words! Fiuhh, panjang kan?
Tapi, tapi… arggh! Ini sih genrenya drama! Kok jadi mellow gini sih ficnya… TmT. Apa Ita ganti genre aja ya minna? -_-"
Ita mengucapkan banyaaak terima kasih buat yang udh review, fav, dan follow cerita ini. maaf kali ini Ita ga bales reviewnya, karena kalau Ita bales disini takutnya updatenya molor. Ita kalo ngetik itu nyicil sih, jadi agak lama. Hahaha… tapi chapter depan bakal Ita bales kok. ^^
Makasih buat Jasmine DaisynoYuki, sirens27,Aristy,sivanya anggarada, Ivy Bluebell, Ichiro Makoto, Akasuna no Akemi, No Alen, HiNa devilujoshi, Shinkwangyun, roxy fuji, Arum Junnie, Kim Tria, yassir2374, Euishifujoshi, chika kyuchan, Kagaari, 10, zadita uchiha, hanazawa kay, Mami Fate Kamikaze, Zora Fujoshi, KyuSungminnie, Al Kyumin, aikhazuna 117, NS GUES, Guest, , Uzukage Adelora, Nope, , jewELF, sukmawindia, Ara Uchiha, Typeacety95, alta0sapphire, CloudYesungie, anclyne, aqizakura, airahara, 'end, nasusay
