You're Just Fine
By: AquaIta
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T+ (for now)
Warning: Older-younger relationship (Naruto 22 thn, Sasuke 11 thn), mental disorder in children, abnormal love infatuation, OOC, IC, mention of abuse, typos (maybe), maaf jika ada sebutan kasar penyakit tertentu, slow build, dll.
Pairing: SasuNaruSasu
Don't like, Don't read!
Summary: Naruto, seorang ANBU. Sasuke, anak kecil yang selamat dari insiden pembantaian Uchiha. Siapa sangka, melihat pembunuhan massal di depan matanya akan membuat Uchiha muda yang awalnya jenius itu menjadi… keterbelakangan mental? "Dia menjadi labil, tidak mau bicara, dan terlihat seperti orang idiot—bukan idiot sepertimu, Naruto—maksudku, benar-benar idiot." Dan Naruto harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normalnya karena Sasuke menjadi terobsesi padanya.
.
.
.
Naruto terus menghitung.
Sehari, dua hari.
Ini hari ketiga.
Dan kewarasannya—secara ajaib—masih utuh sampai sekarang.
"Umm…"
Dahi Naruto berkedut.
"Umm, N-Narrh—"
Cipratan ludah mulai berhamburan. Beberapa mengenai karpet.
"N-Na-Naarrrhhuu—Uhuk!"
"Ya Tuhan, Sasuke!" jerit Naruto frustasi. Dengan kesal dilemparnya seplastik tisu hingga mengenai wajah Sasuke. "Berhenti berusaha menyebut namaku sambil meludah!"
Namun sang objek pelemparan malah terbatuk heboh, sebelum kemudian tiba-tiba termenung sendiri. Mungkin stres karena tidak bisa mengucapkan nama si pemuda pirang dengan benar.
Yup, tadi pagi, Sasuke sepertinya baru menyadari bahwa Naruto mempunyai nama yang jantan dan bukannya 'Na', membuat Naruto bertanya-tanya apakah Sasuke memang idiotnya keterlaluan atau kupingnya sudah hang.
Dan sekarang, dia berusaha menyebutkan nama Naruto dengan benar. Sejak 5 jam yang lalu.
"Sudahlah, menyerah saja," bisik Naruto tak acuh, kembali menonton televisi dan mengunyah keripiknya. "Lebih baik kau tidur daripada merusuh disini."
Sasuke menatap Naruto yang berleha-leha di depan televisi dengan tubuh menyamping dan kepala disangga tangan, persis ibu-ibu rumah tangga. Sesekali pemuda itu cekikikan dan menggerayangi kantung keripiknya penuh nafsu.
Sama sekali tidak memedulikan Sasuke yang terduduk tak jauh darinya.
"Hahaha! Oh ya ampun orang itu idiot sekali! HAHAHA—EEP!"
Sasuke, yang akhirnya gerah sendiri dijadikan kacang, akhirnya memutuskan untuk menendang punggung Naruto dan… mendudukinya.
"Gah! Turun kau! Apa yang kau lakukan, hah?! Turun!"
"TIDAK! TIDAK!" Loncat-loncat.
"Ugh!" Naruto langsung tersedak liurnya sendiri. Berat badan Sasuke tidak seringan kelihatannya, tahu.
"Dengar, dengar!" cicit Sasuke girang, menarik kedua telinga Naruto dengan lalimnya.
"DENGAR!"
Naruto menjerit.
"AKKHH! JANGAN TELINGAKU!"
Karena telinganya lebih sensitif daripada apapun.
Sasuke terkikik senang melihat telinga Naruto yang memerah padam. Dengan gerakan halus, dia menempelkan bibirnya ke daun telinga Naruto dan berbisik.
"Dengar yaaa…" bisiknya seraya tertawa, geli sendiri melihat Naruto yang terkapar tak berdaya. "N-Naa…"
Oh, Tuhan.
"—rrhuuu…"
Telinganya seperti terbakar.
"Na-Na-rhrhuuu?" Sasuke tiba-tiba blank."Umm… Tan? Ko?"
Syuuu~
Naruto mulai menggigil.
"Na… rhuuu… Na-Na—umm—rhuu…"
Naruto tidak tahu apa dosanya, apa yang ia buat di kehidupannya di masa lalu hingga ia bisa memiliki telinga laknat seperti ini. Mungkin dia seorang pembunuh, mungkin dia seorang pengkhianat negara. Tapi telungkup dan membiarkan bocah autis mengusilinya adalah suatu penghinaan yang ia yakin seorang kriminal paling keji pun tak pantas untuk men—
"HACHIIMM!"
Ngiingg…
"KUBUNUH KAU UCHIHAAA!"
.
.
.
Tinggal bersama dengan Sasuke selama 4 hari, membuat Naruto mengetahui dua hal.
Pertama, bocah sialan itu senang sekali melihat telinganya yang memerah dan sampai sekarang terus menatap bagian tubuhnya itu dengan muka ingin.
Dan yang kedua.
Bocah itu suka sekali menonton sinetron.
Perkenalan Sasuke dengan televisi terjadi tepat dua hari setelah dia pindah ke rumahnya yang baru. Kala itu Naruto mendapati Sasuke men-deathglare sengit televisi yang ditempatkan di atas meja kayu kesukaannya.
Yang dimaksud 'kesukaannya' disini adalah hobinya yang menggesek-gesekkan permukaan mejanya dengan koin; entah kenapa Sasuke suka sekali melihat serbuk kayu jatuh ke lantai.
Dan Naruto, yang mendapati Sasuke berusaha mencakar layar televisi entah untuk keberapa kalinya, memutuskan untuk melakukan sesuatu sebelum televisi pemberian Tsunade rusak dan kepalanya yang dijadikan pengganti.
"Ini," ucap Naruto saat itu, menekan tombol 'power' dan mendengus ketika Sasuke melompat kaget. "Namanya televisi."
Sasuke berkedip.
"Televisi." Ulang Naruto, lebih keras. Sasuke menatapnya bingung.
"Teli."
"Bukan," Naruto melambaikan tangannya. "Televisi."
"Tipi."
Ugh.
Naruto mengacak rambutnya. Kenapa dia jadi mengajarkan anak ini mengeja?
Pemuda itu baru saja membuka mulutnya untuk mencela Sasuke sebelum dia teringat sesuatu.
Sasuke entah kenapa sangat suka dekat-dekat dengannya, mengekorinya ketika berjalan kemanapun dan sering menatapnya tanpa berkedip. Naruto masih ingat bagaimana anak itu berusaha mengikutinya ke kamar mandi dan dia harus menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mengikat Sasuke di depan pintu toilet agar bocah itu tidak menerobos masuk.
Ide buruk, karena Sasuke kemudian mencakar-cakar pintu kamar mandi yang sialnya terbuat dari aluminium dan menimbulkan suara yang membuat gigi Naruto ngilu.
Dan televisi ini mungkin bisa menjadi penyelamatnya.
"Kau bisa melihat gambar-gambar yang bergerak disini," jelas Naruto, tersenyum dalam hati begitu melihat kedua mata Sasuke berbinar takjub. Oh yeah, mungkin benda kotak ini benar-benar dapat mengalihkan perhatian Sasuke darinya.
"Kau bisa menonton berita," klik, Naruto mengganti siaran menjadi Chanel 4. Sasuke menatap bapak-bapak berkumis lebat dengan pakaian parlente membacakan berita.
Dahi bocah itu langsung berkedut tak suka.
"Cih." Sasuke melempar balok kayu. Tepat kena ke kumisnya.
Naruto cepat-cepat mengganti siaran. "Atau ini. Mungkin lebih cocok untukmu." Klik.
'Ciaatt!' Seorang kunoichi melempar shuriken berkelap-kelip kearah monster jelek di seberang jalan. 'Menyerahlah, Shun! Kembalilah seperti dirimu yang dulu!'
Naruto menaikkan alisnya.
Monster jahanam itu—yang entah kenapa memiliki nama keren yang tidak cocok dengan mukanya— terkekeh menggelegar. 'Semua sudah terlambat! Aku tidak akan kembali menjadi lemah seperti dulu! Aku akan membalaskan dendamku kepada Raja Setan!'
Jadi bosnya disini raja setan. Lumayan.
Naruto mulai duduk di depan televisi.
'Ti-tidak...' Kunoichi yang disinyalir kedapatan peran utama mulai terisak. 'Kumohon, Shun, jangan seperti ini. Kau sahabatku, aku tidak mampu menyakitimu.'
'Omong kosong!' Si monster mulai emosi sepertinya. 'Terimalah seranganku, Fukutsu no Ultimate Attack!'
"Whoaaa..." Naruto melongo takjub. Efek ledakannya oke, sound effectnya juga mantap. Tanpa sadar Naruto menggeser pantatnya ke depan, ingin membesarkan volu-
Klik.
"Wha— Kau!" Jerit Naruto kesal. Sasuke masih memencet remote dengan muka masam. "Tukar ke yang tadi!"
Klik.
Berhasil. Naruto mengenggam remotenya posesif. Matanya kembali jelalatan ke monster vs. kunoichi season 2.
"Cuih!" Sasuke meludah, tepat kena di muka kunoichi itu. "Tidak mau! Tidak mau!"
Naruto melongo mengikuti aliran ludah yang mulai memanjang di layar.
"Tidak mau! Tukar! TUKARRR!"
Sasuke menendang-nendang beringas.
Naruto menahan nafsunya untuk melempar remote ke kepala Sasuke. Kalau kena terus anak itu jadi lebih idiot lagi bukan tidak mungkin Tsunade akan membunuhnya seratus kali.
Klik.
'Shion, aku... Aku—mencintaimu.' Entah bagaimana adegan tiba-tiba masuk klimaks begini.
'Hidate, aku juga... mencintaimu. Tapi...'
Pegangan tangan. Air mata buaya mengalir.
Kali ini Naruto yang merengut jijik. Terlebih lagi dua pemeran di televisi mulai saling berlomba siapa yang ceritanya paling sedih.
Cih.
Naruto tidak suka sinetron. Terlalu berlebihan dan panjang episodenya sampai beberapa season, membuat Naruto gerah sendiri. Adegannya 5 menit tapi iklannya hampir setengah jam. Bugger.
Tukar saja, tidak layak dikonsumsi anak-anak.
Klik.
"TIDAAAKKK!" Sasuke menjerit, histeris. Naruto sampai melompat kaget.
"Yang tadi! Yang tadi!" Seru Sasuke, merangkak mendekati Naruto dan menarik-narik bajunya beringas. "Yang tadi! Mau yang tadiii!"
"Itu bukan tontonan yang bagus untukmu, tidak layak konsumsi dan aku bahkan tidak yakin kalau ratenya masuk parent guide." Ujar Naruto sabar. Bukannya dia peduli bocah itu mau menonton rating yang mana, hell—bukan urusannya untuk mengurus Sasuke sampai segitunya— tapi pertarungan antara kunoichi dengan pisau kelap-kelip vs. monster jelek terlalu seru untuk dilewatkan.
Sasuke yang mendengar ocehan Naruto terdiam, menatapnya dengan pandangan blank.
Naruto nyaris menepuk jidatnya. "Err, kau mengerti? Kau paham apa maksudku?"
Sasuke masih termenung.
Melihat ekpresi Sasuke yang tidak tahu harus berpikir apa, untuk pertama kalinya, Naruto merasa sedikit kasihan pada anak itu.
Klik.
"Menontonlah sesukamu," Naruto menukar channel kembali ke sinetron aneh itu dan bangkit berdiri. "Dan jangan ganggu aku"
Tanpa menatap Sasuke lagi dia pergi meninggalkan Sasuke dan memasuki kamarnya.
Tak lama terdengar suara melengking dan cicitan tidak jelas Sasuke yang mencakar pintu kamarnya. Naruto mengerenyit dalam. Dia tidak yakin bisa mengartikan gumaman Sasuke saat ini.
"Tinggalkan aku, aku... sedang sibuk. Yeah, sibuk."
Seketika suara decitan ngilu itu berhenti. Jika ada satu kata yang Sasuke pelajari selama tinggal bersamanya, itu adalah kata 'sibuk'.
Yang berarti Naruto tidak akan membukakan pintu kamarnya apapun yang Sasuke lakukan, atau tidak akan berbicara dengannya dalam waktu yang lama.
Sehingga Sasuke berhenti mencakar, mengintip di lubang pintu untuk terakhir kalinya, dan merangkak menjauh.
Sasuke mungkin mengerti arti kata 'sibuk'. Namun yang tidak akan ia mengerti adalah, bahwa Naruto selalu melakukannya setiap kali pemuda itu menatap mata Sasuke.
.
.
.
Well, by the way, Sasuke keranjingan sinetron mulai saat itu.
.
.
.
Naruto mengusap wajahnya lelah. Kakinya mengetuk-ngetuk tak sabar, jengah menunggu intruksi masuk dari Tsunade. Sejak diberlakukannya peraturan 'dilarang masuk ke kantor Hokage melalui jendela', Naruto harus merasakan pahitnya mengantri giliran membawa laporan misi bersama shinobi yang lain.
Dan ketika Naruto mengetahui bahwa peraturan itu hanya berlaku untuknya dan Kakashi, Naruto langsung tahu bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk mempraktekkan pidato kesetaraan hak yang ditontonnya—sekilas—di televisi.
Yang berakhir dengan Tsunade gelap mata dan nyaris mencopot kepala Naruto, mengatakan bahwa shinobi yang cukup kurang ajar untuk menerobos jendela Hokage hanyalah Kakashi dan dirinya saja.
Well, bukan salahnya kalau shinobi sekarang sangat tidak kreatif.
"Kupikir aku salah lihat, ternyata benar-benar kau." suara sok akrab menyapa telinganya. Naruto memutar kepala, dan seketika menyesalinya begitu melihat tampang Sai.
"Kuberi kau dua pilihan," gumam Naruto mengalihkan pandangannya. "Hilang dari jarak pandangku atau kutendang pantatmu disini?"
Sai menatapnya dengan pandangan terhibur. Mata hitamnya yang keji berkilat-kilat.
"Jangan begitu. Aku hanya... khawatir dengan keadaanmu." Bisik Sai dengan nada konspirasional, seakan yang mereka bicarakan suatu hal yang memalukan.
'Tepat,' batin Naruto miris. 'That kid is a shame.'
Sai sepertinya bisa melihat perubahan raut wajah Naruto. Dengan tangan yang terlalu lembut dia menyentuh pundak Naruto dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu dia tidak memilih menjadi seperti itu." Bisik Sai, jauh lebih rendah dari yang tadi.
Naruto menaikkan sebelah alisnya skeptis. "Kupikir kau brengsek."
"I am," seringai Sai kembali full force. "Hatiku hanya sedikit lebih besar dari milikmu."
"Dan kau tidak pernah menggunakannya sebelum ini. Apa yang membuatmu berpikir untuk memulainya sekarang?"
Seringai itu terlihat terlalu menyebalkan sekarang. Naruto cepat-cepat menghitung antrian di depannya. Satu, dua, tiga, em— hell, apa antrian harus sepanjang ini?
Naruto mulai berpikir untuk menerobos lewat jendela saja. Satu dua tulang yang patah terdengar lebih baik daripada terjebak dengan Sai yang sedang membicarakan Sasuke.
"Melihat dia seperti melihatmu, kau tahu," ucap Sai lagi, tanpa sadar langsung melepaskan genggaman tangannya dari pundak Naruto begitu melihat wajah tan itu merah padam. "Hei, akuilah, kalian memiliki banyak kesamaan."
Naruto tidak menyangka dia akan merasa terhina seperti ini. Mereka tidak sama, Sasuke dan dia— Naruto menolak kenyataan bahwa mereka mengalami hal yang sama. Orang tuanya bukan orang yang keji, darahnya tidak tercemari keserakahan dan keangkuhan seperti bocah itu.
Dia tidak terima.
"Dengar, Sai..." Bisik Naruto di telinga Sai, sangat dekat hingga bibirnya menempel di telinga pemuda sialan itu dan menuai lirikan dari shinobi yang lain. "Aku hanya menjalankan misi, dan aku tidak peduli pada anak itu. Terserah wanita tua itu menyuruhmu melakukan pendekatan emosional padaku, tapi jangan pernah kau menyamakan aku dengan Uchiha." Desis Naruto keras, sebelum mendorong Sai hingga menghantam dinding.
Melihat pupil Sai yang melebar, Naruto menahan diri untuk tidak menyumpah. Wanita tua itu terkadang tidak tahu kapan dia harus berhenti.
Mendecih, Naruto berbalik dan berjalan menjauhi Sai yang masih menatapnya. Masa bodoh dengan tatapan mencela shinobi lain yang terarah padanya, dia tidak peduli.
Persetan dengan mereka.
"Hei!" Sebuah tangan pucat melingkari bahunya. Naruto menggeram kesal dan bersiap mendamprat Sai sebelum dia menyadari tangan lain memegangi pinggulnya.
"Bisa kau simpan tanganmu untuk dirimu sendiri? Orang-orang melihat kita." Bisik Naruto malas. Sai tersenyum kecil.
"Kau tahu," lirih pemuda pucat itu di telinganya. Lutut Naruto tiba-tiba lemas. "Kau benar, Hokage-sama menyuruhku mendekatimu dan mencoba—ah, meluluhkan hatimu."
Naruto mendengus mencela. "Nenek itu sudah terlalu tua untuk berpikir ternyata, jika dia menganggap kau orang yang tepat untuk itu."
Bukannya tersinggung, Sai malah terkekeh kecil. Tepat di telinganya. "Awalnya dia berpikir untuk menyuruh Iruka—" Sai mengenggam bahu Naruto lebih kuat saat pemuda itu mengeraskan rahangnya. "—yup, inilah alasan kenapa dia mengurungkan niatnya. Kau akan mengamuk."
"Pintar," desis Naruto diantara giginya. "Kalian tidak akan mau tahu apa yang akan terjadi jika jinchuuriki marah, hm?"
"Oh yeah?" Naruto bisa merasakan seringai itu mengembang lagi di bibir Sai. "Dan apa yang akan kau lakukan?"
Kalimat itu dibisikkan tepat di lubang telinganya. Kaki Naruto bergetar samar, dan tangan Sai di pinggulnya sama sekali tidak membantu.
"Tergantung," jawab Naruto dengan suara serak. Tangan kecokelatannya mengenggam bagian belakang kepala Sai dan menariknya ke depan hingga dahi mereka bersentuhan. "Tentang Sasuke— you're in my side or not?"
Tawa kecil yang meluncur dari bibir Sai mengejutkannya. Memindahkan kedua tangan ke pinggul Naruto, Sai berbisik lirih.
"Uchiha tidak meninggalkan kesan yang baik untukku, jika itu yang kau tanyakan."
"Bahkan Uchiha kecil yang tidak bersalah seperti Sasuke?"
"Oh, kau tahu dia tidak bersalah," kali ini suara Sai terdengar terhibur. "Dan kau tetap membencinya. Impressive."
Naruto sadar bahwa sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian. Dua orang shinobi yang bak kucing dan anjing kini berada dalam posisi yang seduktif, cukup membuat antrian yang awalnya penuh kebosanan kini menjadi sarang penggosip.
"Apa yang telah kulakukan padamu?" Tanya Naruto tiba-tiba, membuat Sai mengedipkan matanya tidak mengerti. "Aku bisa dikatakan tidak melakukan apapun padamu, tapi kau membenciku."
Tawa kecil tadi kembali lagi. "Oh my, aku tidak membencimu. Aku hanya senang melihatmu menderita."
"Tepat," ucap Naruto. "Aku tidak melakukan apapun padamu, tapi kau tetap ingin mempermainkanku. Truly, Sai, kalau manusia bisa mengontrol apa yang mereka rasakan, perang tidak akan terjadi."
"I got your point," desah Sai berlebihan. "Kau membencinya karena dia Uchiha, itu saja. Cukup hanya menjadi Uchiha maka kucing pun bisa menjadi musuhmu. Oke."
Naruto menahan senyum.
"Namun," Senyum Naruto luntur. "Kau adalah orang yang lunak, Naruto. Kau tidak membenci anak itu sebesar yang kau kira."
Dia sudah beratus kali mendengar hal itu. Bukan salahnya kalau hatinya seperti Cinderella.
"Jadi? Kau menyarankan aku untuk membencinya lebih dari ini? Ide bagus, akan kupertimbangkan." Tukasnya jutek, menepis kasar lengan Sai yang menggelayutinya bak kukang dan pergi dengan langkah menghentak.
"Ah, kau merajuk." Sai mengekorinya. "Oke, aku minta maaf. Mau jalan-jalan? Sebagai permintaan maaf?"
Langkah Naruto mendadak berhenti. Bak makan buah simalakama. Kalau dia menolak berarti dia harus pulang dan bertemu Sasuke, jika dia menerima berarti dia harus melihat muka Sai lebih lama dari yang bisa dia tolerir.
Antara Sai dan Sasuke, yang mana yang akan dia pilih?
Ha, Orochimaru bahkan terdengar lebih baik dari mereka berdua.
Tapi...
Naruto kemudian teringat sosok Sasuke yang mengikutinya sepanjang hari, memanggil-manggil namanya hingga dia merasa jengah dengan namanya sendiri, dan mata yang terlalu besar itu saat melihatnya.
"Baiklah, aku ikut. Dan..." Naruto terdiam, berusaha menepis sisi baik dirinya yang melarangnya untuk meninggalkan anak autis di dalam rumah sendirian.
Naruto menggelengkan kepalanya. Sasuke masih tidur sejak semalam—anak itu mengalami night terror saban hari, itu artinya dia dicecoki obat bius setiap malam— dan obat bius itu bekerja dalam waktu yang lama. Sasuke biasanya baru terbangun saat hari sudah habis siangnya.
Yang kemudian diterima Naruto dengan sujud penuh syukur. Setidaknya dia tidak harus meladeni anak itu selama yang ia kira.
"Hm?"
Naruto tersadar dari lamunannya. Mengulas senyum manis, Naruto berjalan mendahului Sai.
"Nothing. Shall we go?"
.
.
.
Sepanjang hari itu, Naruto benar-benar melupakan Sasuke.
Dan dia tidak tahu hal itu akan terasa begitu menyenangkan.
Selama 4 hari ini dia merasa tertekan. Dia terus saja harus menahan perasaannya saat melihat Sasuke, dan dia tinggal bersama anak itu. Bukan maunya merasa dendam, bukan ingin dia menyalahkan anak itu terhadap hal yang bahkan tidak ia ketahui— tapi seperti yang ia katakan, jika manusia bisa mengatur apa yang mereka rasakan, perang tidak akan terjadi.
Melihat Sasuke seperti melihat mimpi buruk.
Anak itu sangat Uchiha. Rambut hitam dengan mata yang lebih hitam lagi, kulit yang putihnya nyaris tidak terlihat manusiawi. Melihatnya seperti menatap kembali sosok-sosok jangkung yang menatap rendah dirinya dulu, dengan mata hitam yang persis sama dengan milik Sasuke.
Naruto menganggap wajar saja dirinya merasakan emosi negatif jika berdekatan dengan Sasuke.
Iruka menyebutnya trauma, tapi dia lebih memilih untuk menyebutnya sensitif.
Sehingga berada jauh dari Sasuke dalam waktu lama membuatnya sedikit tenang. Bahkan keberadaan Sai tidak terasa seburuk itu. Well, memang ada sedikit insiden cakar-cakaran dan banting-bantingan sedikit tadi, tapi overall, tidak ada dari mereka yang saling membunuh selama perjalanan tadi.
"Kau mau mengunjungi air terjun setelah ini? Aku tahu spot yang bagus untuk melihat pemandangan dari atas." Ajak Sai.
Naruto tersenyum miring.
"Tidak takut aku mendorongmu ke dalam air terjun?"
Kekehan Sai terdengar nyaring hingga beberapa orang yang lewat meliriknya aneh. Naruto langsung pura-pura tidak kenal.
"Oh my, itu—pfttt, benar-benar lucu." Sai cekikikan. Naruto memutar bola matanya malas.
"Kau tidak per—"
Naruto terdiam. Merinding.
Oh, tidak.
Sasuke sudah bangun.
Naruto langsung merasakannya. Jutsu itu, yang membantunya membangunkan Sasuke saat ia mengalami night terror, telah aktif. Naruto bisa merasakan cakra lemah Sasuke di dalam tubuhnya sendiri.
Dan setiap kali dia mengalaminya, mau tidak mau dia merasa mual. Merasakan cakra seorang Uchiha sedekat ini... setelah apa yang mereka lakukan padanya...
"—ruto?"
Naruto mengedip cepat. Sai menatapnya seakan ia memiliki dua kepala.
"Kau tidak apa-apa? Perlu kita sudahi saja sampai disini?"
"Tidak," sahut Naruto cepat. "Aku baik-baik saja. Tapi..."
Oh ayolah, apa yang akan terjadi kalaupun ia meninggalkan anak itu 10 menit saja.
"Tidak ada. Sebaiknya kita bergegas, aku baru ingat kalau aku belum menyerahkan laporanku." Sahut Naruto agak tergesa, menyambar tangan Sai dan menariknya pergi sebelum dia berubah pikiran.
.
.
.
Ajaibnya, tadi benar-benar menyenangkan.
Sai tanpa disangka dapat menjadi host yang baik jika dia mau. Dan spot yang dipilih Sai benar-benar bagus. Dia bisa melihat semuanya, bahkan kilauan yang terbias akibat percikan air.
Namun entah kenapa, selama berleha-leha tadi, dia merasa telah melupakan sesuatu.
Perasaannya mengatakan hal itu tidak begitu penting, namun di saat yang sama dia merasa keselamatannya akan terancam jika melupakan sesuatu tersebut.
Dan barulah saat ia melihat pagar rumahnya, dia mengerti apa.
"SASUKE!"
Naruto menghempas pintu.
Yang pertama kali menyambutnya adalah suara isakan kecil. Samar. Tapi terdengar menyakitkan.
"SASUKE?! DIMANA KAU?" Teriak Naruto panik. Tsunade akan mencabut kepalanya dan menjadikannya sebagai hiasan ruang Hokage jika terjadi apa-apa pada Sasuke!
"Huuu..."
Naruto memucat. Dapur.
Oh my. Siapapun tahu bahwa semua benda jahat dan berbahaya ada di dalam dapur.
"Sasuke?!" Seru Naruto gusar. Menyibak tirai biji-bijian yang menghalangi pandangannya, Naruto mencari seperti orang gila dan menemukan Sasuke meringkuk di bawah kompor.
Firasat Naruto langsung tidak enak.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Naruto dengan suara tinggi, membalik tubuh kurus Sasuke dengan kasar dan— my Gosh.
"APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!" teriak Naruto geram. Tangannya menyentak tangan Sasuke dan langsung melepasnya kembali begitu Sasuke mengeluarkan pekik kesakitan.
Lengan bocah itu merah. Melepuh. Membuat warna putih gading menjadi merah menjijikkan. Kulitnya berkerut dan terdapat bintik merah di beberapa tempat.
Anak ini... membakar dirinya sendiri?
"Apa kau gila?" Desis Naruto. "Kau tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak mengerti bagaimana cara menggunakan otakmu?"
Kesal. Emosi. Anak ini begitu bodoh sampai dia tidak sanggup melihatnya.
Dan Naruto lah yang harus menanggung semua.
Naruto hendak membentaknya, mengatakan bahwa dia anak yang menyusahkan dan suka mencari masalah. Namun mata Sasuke, yang menatapnya dengan sorot penuh ketakutan dan Naruto bersumpah— dia yakin bahwa dirinya sendiri tidak pernah merasa setakut itu.
Naruto melihat bagaimana tubuh kecil itu bergetar. Mukanya menjadi jelek dengan warna merah yang tidak terlihat sehat. Mata bengkak, yang menangis terlalu banyak itu, menyorot takut.
Dan Naruto merasa menjadi orang paling jahat sedunia.
"He-hei..." Naruto merendahkan suaranya, mencoba melunakkan tatapannya sedikit. Tubuh Sasuke menegang.
Naruto yang melihat reaksi itu menghela napas. Membuang mukanya ke samping, tanpa sengaja dia melihat satu cup mie ramen yang telah terbuka dengan air menggenangi lantai di sekitarnya.
Kedua mata laut Naruto membulat.
"Kau..." Menelan ganjalan yang entah kenapa muncul di kerongkongannya, Naruto berusaha berucap. "Kau—lapar?"
Sasuke mengedip beberapa kali, melihat Naruto yang berbicara dengan kepala tertunduk.
"Kau," ulang Naruto lagi, dengan lemas meraih cup ramen yang tergeletak di lantai dan menunjukkannya pada Sasuke. "Tanganmu melepuh—karena kau lapar?"
Mata Sasuke yang berbinar begitu melihat cup ramen di tangannya, membuat Naruto merasa ingin menampar dirinya sendiri.
Bagaimana ia bisa lupa? Sasuke yang tertidur sampai siang hari, dan belum memakan apapun sejak semalam, pasti akan berusaha untuk mencari sesuatu untuk dimakan.
Dan...
Naruto melihat sekeliling dan menemukan teko air tak jauh dari Sasuke. Terbalik dan menumpahkan air kemana-mana.
"Aku brengsek, huh..." Gumam Naruto. Sasuke— yang merasakan perubahan perasaan Naruto, perlahan menyeret pantatnya mendekat.
Bocah itu menatap Naruto sejenak, takut-takut. Lalu merasa bahwa Naruto tidak akan berteriak lagi, dengan ragu dia menarik ujung celana Naruto.
"N-Na?"
Naruto menundukkan kepalanya. Dan tercekat.
Mata itu, yang terlalu hitam, terlalu terang, menatapnya khawatir. Genggaman di ujung celananya menguat, sebelum kemudian sepasang lengan memeluk kakinya.
"Hiks..." Sasuke mulai terisak. Naruto mematung.
"Uuu... Hiks, hiks... Ja— jangan..." Tangis Sasuke semakin keras. Pelukan di kakinya makin erat. "Jaaangaann..."
Lalu tiba-tiba Sasuke berteriak, menjeritkan berbagai kata yang tidak jelas.
Kemudian dia menangis semakin kencang.
"Jaangan..." Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu dia berteriak lagi, seakan menyumpah, dan selang beberapa detik kemudian menangis lagi.
Naruto menelan ludah.
Dia paham. Sangat paham.
Jangan berteriak padaku lagi.
Perlahan, Naruto merendahkan tubuhnya, meraih tangan Sasuke dengan lembut, dan menariknya dengan hati-hati.
"Kita obati lukamu dulu, lalu kita makan." Ucap Naruto pelan, nyaris berupa bisikan. Sasuke mendongak, menatap tangannya yang digenggam Naruto, dan langsung berhenti menangis.
Anak itu masih menatap tangannya yang hilang di balik tangan besar Naruto dengan pandangan takjub. Naruto bisa merasakan jemari Sasuke bergerak di dalam genggamannya, mencoba mengelus telapak Naruto yang kasar.
Lalu Sasuke tersenyum begitu lebar, dengan ingus masih meleleh hingga ke mulutnya dan mata yang membengkak mengerikan.
Senyum itu bukan senyum yang indah, tapi Naruto menemukan dirinya menatap senyum itu terlalu lama.
"Ayo," Menyentak halus tangan kecil itu, Naruto menarik Sasuke keluar dapur. Mereka melewati sebuah jendela besar di ruang tamu, dan saat itulah Naruto sadar.
Dia mengenggam tangan Uchiha Sasuke, dan mendadak dia merasa jijik.
Dia ingin melepaskan kontak mereka, tapi melihat senyum jelek itu di wajah Sasuke, Naruto menahan dirinya.
Naruto kira dia orang brengsek.
Tapi dia salah.
Dia adalah orang paling brengsek di dunia.
.
.
.
Karena dia tahu, berpura-pura peduli dan berbuat baik karena perasaan bersalah sementara di dalam diri sibuk menyerapah, adalah hal yang sangat jahat.
Bahkan untuk seorang Uchiha sekalipun.
.
.
.
Sejak saat itu, Naruto mengamati bahwa Sasuke selalu melirik tangannya.
Tidak menyentuh, karena sehari setelah kejadian itu Sasuke berusaha mengenggam tangannya lagi, dan Naruto refleks menyentak tangannya sedikit terlalu kasar.
Tapi anak itu selalu menatap tangannya dengan mata berbinar, dan tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Na!" Seru Sasuke suatu hari, berlari menyongsongnya dengan wajah memerah antusias dan gigi yang mulai menguning karena jarang sikat gigi.
Oh my, Naruto lupa mengatakan bahwa Sasuke itu alergi air.
Butuh usaha yang luar biasa untuk menyeretnya mandi. Apalagi sikat gigi. Dan jika kata 'luar biasa' keluar dari seorang Anbu elit semacam Naruto, maka Sasuke patut diberi apresiasi.
Naruto masih ingat dia nyaris menggunakan Sannin mode untuk meminjam kesabaran dari alam.
"Uhuk!" Suara Sasuke membuyarkan lamunannya. Naruto menaikkan satu alis. Sasuke mulai terbatuk-batuk heboh
Alis Naruto naik semakin tinggi begitu Sasuke tidak kunjung berhenti. Lalu Naruto teringat kalau Sasuke mendengarnya berdehem kemarin, dan apabila dilihat dari ekspresi kekaguman Sasuke saat dia melakukannya, sepertinya anak itu menganggapnya keren.
Dan sepertinya Naruto harus menjelaskan kalau berdehem berbeda dengan bengek.
"Cukup sekali saja," Naruto memutar bola matanya malas. Sasuke menatapnya dengan mata membulat lucu.
"Sekali?" Tanya Sasuke, mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Naruto. Ekspresinya serius. "Sekali?"
"Ya, sekali saja."
"Sekali?" Ulang Sasuke lagi, menatap jari telunjuknya sendiri penuh tanya.
Dahi Naruto berkedut.
"Iya."
"Apanya?"
Naruto headbang.
"Bunuh aku. Bunuh."
Mata hitam Sasuke membulat ngeri. "JANGAN!" Teriaknya panik, meraih bagian depan baju Naruto dan menarik-nariknya beringas. "Jangan! Jangan!"
Naruto mendorong pelan bahu Sasuke. "Aku bercanda. Sudah hentikan."
Sasuke menghela napas lega.
"Na tidak... jadi..." Sasuke tampak kehilangan kata-kata, tidak tahu harus berucap apa. Lalu tiba-tiba dia seperti mendapat ide.
Sasuke mundur selangkah, lalu mencekik dirinya sendiri. Mengguncang-guncangkan lehernya pelan dan mengeluarkan suara seperti sekarat.
"Ukhh... Aaaagghh. Uhuk!"
Kemudian dia menjatuhkan dirinya sendiri dengan dramatis.
Naruto mengerenyitkan dahi.
Selang beberapa detik kemudian Sasuke bangkit kembali, menelengkan kepalanya. "Tidak jadi?"
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali. "Tidak jadi mati, maksudmu?"
"YA!" Sasuke bertepuk tangan senang. Mata hitamnya berkilauan.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Dia yakin para Uchiha pasti sudah berguling-guling di kuburan mereka melihat tingkah keturunan mereka sepeti ini.
"So? That's it?" Gerutu Naruto bosan. "Kau tidak membutuhkan apapun? Karena aku mau ke kamar dan tidur."
Baru saja Naruto akan bangkit, Sasuke cepat-cepat merogoh sesuatu di dalam celananya
"Nih." Sasuke menyodorkan sesuatu padanya. Bertanah dan... bewarna.
Naruto tidak mengambilnya. "Untuk apa kau memberiku bunga?"
Sasuke mengerenyitkan dahi, mencoba mencerna kalimat Naruto. Awalnya dia hanya menggigit bibirnya, tapi kemudian dia tersenyum lebar.
"Kirei," jawabnya malu-malu, melirik Naruto melalui bulu matanya. Tapi begitu dia menyadari Naruto hanya menatapnya skeptis, Sasuke kembali melihat bunga di tangannya.
Masih banyak tanah.
Buru-buru Sasuke membersihkan tanah yang masih menempel dengan tangannya, membuat karpet menjadi kotor dan Naruto ingin membentak.
Tapi tanpa sengaja dia melihat telapak tangan Sasuke yang memerah akibat tersiram air panas, dan seketika perasaan bersalah mengalahkan kesalnya.
"Biar aku saja," ucap Naruto pelan, meraih bunga liar di tangan Sasuke. Bunga itu bunga yang sering dia lihat di pinggir jalan, tipe bunga yang tidak akan dilirik dua kali bahkan walau berada di pelupuk mata.
Sasuke tertawa senang, bertepuk tangan antusias dengan wajah merona merah. Mata hitamnya berkilauan melihat Naruto membersihkan noda tanah yang menempel di tangkai bunganya.
Naruto melirik Sasuke diam-diam. Anak itu tersenyum bodoh, sesekali menggaruk pantatnya sembari terus memperhatikan Naruto. Tanpa sadar Naruto tersenyum kecil.
"Kau tahu, semua orang berpikir bahwa aku orang yang tidak mempunyai hati— karena aku tidak luluh dengan anak sepertimu," gumam Naruto, terkekeh miris. Bunga itu sudah bersih, namun tetap jelek di matanya.
"Kau sama seperti bunga ini," Sasuke membulatkan mulutnya, mencoba meraih bunga yang ada di tangan Naruto. "Walaupun kau bersih dari dosa para Uchiha, aku tetap menghujatmu. Hanya karena kau Uchiha."
Naruto menyelipkan bunga itu ke sakunya.
"Aku merasa bersalah atas apa yang terjadi pada tanganmu," Naruto melirik telapak tangan Sasuke yang masih merah, bahkan kini ditambah goresan baru. "Tapi aku tidak bisa meminta maaf— tidak jika kau yang meminta sendiri untuk tinggal bersamaku."
Sasuke menelengkan kepalanya, gagal paham. Naruto berbicara terlalu cepat untuk telinganya, dan dia bahkan tidak mengerti maksudnya apa
Jadi dia melakukan apa yang dia bisa.
Sasuke melambaikan tangannya, menuntut perhatian Naruto. Kemudian begitu Naruto menatap matanya, Sasuke merangkak cepat ke bawah meja dan memeluk kaki meja itu dengan mata berkilau jenaka.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu," gerutu Naruto. "Aku sibuk."
Sasuke langsung tertunduk lesu. Sibuk. Itu artinya Naruto tidak akan menemuinya sepanjang hari.
Naruto bahkan tidak meliriknya dua kali, melewati Sasuke yang menatapnya dari bawah meja dengan langkah cepat.
Lalu mata birunya menangkap sebuah tong sampah di dekat kamar mandi, dan mendadak sakunya terasa janggal.
Jadi dia meraih bunga layu yang ada di dalam dan membuangnya ke tempat sampah.
.
.
.
Malamnya, Sasuke kembali mengalami night terror.
Namun kali ini terlihat lebih intens dari biasanya. Anak itu tidak menghempaskan dirinya ke ranjang, tidak pula berteriak kencang seperti sebelumnya.
Tapi wajahnya membiru.
Naruto tidak pernah merasa sepanik ini seumur hidupnya. Tanpa banyak berpikir dia menggendong Sasuke dan membawanya ke tempat tinggal Tsunade, mendobrak pintunya dan membuat penjaga kelabakan menghadapi seorang Anbu yang sedang panik seperti dirinya.
"Sudah berapa lama mukanya berubah?" desak Tsunade seraya mengguyur nadi Sasuke dengan cairan infus. Alat bantu nafas dicolokkan ke dalam saluran napasnya karena paru-paru anak itu tidak bisa berkontraksi.
Naruto menggigit bagian dalam pipinya. "Sekitar 2-3 menit. Aku merasakan cakranya meraung ganas dan begitu aku menemuinya, wajahnya sudah membiru."
Tsunade menggigiti kukunya. Denyut jantung Sasuke memang sudah normal, namun napasnya masih sulit. Jujur saja dia tidak pernah melihat night terror separah ini sebelumnya. Sasuke memang menderita cacat psikosomatik, namun dia tidak menyangka organ dalamnya juga ikut terkena.
"Apa dia mengalami pengalaman yang buruk? Atau sesuatu yang mengingatkan dirinya pada keluarganya?"
Kali ini Naruto terdiam lama.
"Tidak," gumam Naruto agak tidak yakin. "Dia baik-baik saja sore harinya."
Tentu saja dia tidak akan menceritakan tentang memar merah di tangan Sasuke. Memang dia mau mati?
"Begitu."
Tsunade menyipitkan matanya. Dia dokter dengan pengalaman puluhan tahun, tentu saja dia tahu bahwa Sasuke tidak 'baik-baik saja'. Well, setidaknya itu hanya luka fisik. Dan Tsunade tahu bahwa dari ekspresi panik Naruto begitu membawa Sasuke tadi, pemuda pirang itu sudah belajar dari kesalahannya.
"Pertanyaan terakhir, Naruto," ucap Tsunade was-was. "Sebelum ini, ketika dia mengalami night terror—apa yang kau lakukan?"
"Memberinya sedatif." Sahut Naruto cepat.
Tsunade menelan ludahnya. "Setiap saat? Selama hampir seminggu ini?"
Dari muka Tsunade yang mengerut horror, Naruto tahu dia sedang berada dalam masalah.
"Kau bilang itu satu-satunya pilihan."
"Oh, astaga," lirih Tsunade tak percaya. Tangan bercat warna miliknya mengepal erat. "Oh Naruto—astaga."
Jantung Naruto mulai berdegup liar. Matanya melirik sekilas muka Sasuke yang tidak lagi membiru, lalu kembali ke Tsunade.
"Sedatif itu hanya bisa kau berikan maksimal sekali sehari. Lebih dari itu, Sasuke akan mengalami syok anafilaksis," desis Tsunade diantara giginya yang terkatup rapat. "Dan kau tahu bahwa night terror itu selalu terjadi lebih dari sekali dalam waktu semalam."
Naruto bahkan tidak tahu apa itu syok anafilaksis, tapi dia cukup pintar untuk mengetahui bahwa ini semua adalah kesalahannya.
"Kuberi tahu kau satu hal Naruto, sedikit lebih lama kau membawanya kesini—Sasuke pasti sudah mati."
Jantung Naruto seakan berhenti berdetak.
Membayangkan anak itu terbujur kaku, dengan paru-paru mengerut dan wajah nyaris ungu—Naruto bahkan tidak sanggup untuk berdiri.
Dengan tangan bergetar dia menyangga tubuhnya yang mendadak lemas. Dadanya bertalu-talu, dan pikiran bahwa dada Sasuke nyaris saja tidak akan terdengar lagi detaknya membuat Naruto hampir merosot ke lantai.
"Tolong," bisiknya pelan. Dengan susah payah dia mendongak dan menatap Tsunade. "Kumohon, kumohon, jauhkan aku darinya. Tolong, Hokage-sama, aku mohon padamu."
Mata madu Tsunade membulat. Naruto tidak mengatakan 'jauhkan dia dariku', tapi sebaliknya.
"Aku hanya akan membuat kondisinya semakin buruk. Dan walau aku masih membencinya, setidaknya aku sadar bahkan seorang Uchiha pun tidak layak menerima semua ini."
Naruto menjambak rambutnya berang. Dia benar-benar brengsek, orang paling menjijikkan, manusia paling jahat. Seharusnya dia tahu, seharusnya dia tahu ini semua salahnya…
"Tenanglah Naruto, kau tidak—"
"Jangan kau lanjutkan," Naruto menghentakkan kepalanya dan menatap Tsunade penuh kebencian. "Jangan kau bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa aku hanya tidak sengaja dan besok semuanya akan kembali seperti semula."
Naruto menarik napas tajam. "Kau tahu apa yang kulakukan padanya? Aku mengabaikannya, menganggapnya seperti sampah ketika dia menatapku penuh harap. Aku menepis tangannya ketika dia berusaha menyentuh jariku. Aku mengunci kamarku dan membiarkannya sendiri sepanjang hari. Dan kau tahu apa lagi? Aku meninggalkannya seharian dan tidak memberinya makan hingga tangannya harus melepuh demi sebuah ramen instan!"
Naruto bangkit, menggerakkan matanya liar dan mencengkram bahu Tsunade.
"Tidakkah itu cukup untuk membuka matamu?! Aku tidak bisa!" Naruto melambaikan sebelah tangannya tak tentu arah, sebuah air mata frustasi mengalir. "Semua ini tidak akan terjadi jika aku mampu menenangkannya seperti yang Iruka lakukan padaku. Tapi tidak, aku tidak bisa menahan perasaanku dan sekarang kau lihat apa yang terjadi? Aku nyaris membunuhnya!"
Naruto sadar bahwa Sasuke akan melihatnya jika dia membuang bunga itu, tapi tetap saja—
"Aku hanya akan menyakitinya, Tsunade. Aku… aku berusaha bertingkah seakan aku peduli, aku mencoba menerimanya, namun pada akhirnya aku tetap tidak bisa. Apa kau lihat bagaimana dia menatapku ketika aku membanting pintu kamar di depan mukanya, huh? Apa kau lihat?"
Tsunade menepis tangan Naruto kasar. Bibirnya membentuk sebuah garis tipis dan matanya terlihat seperti berusaha untuk menyembunyikan amarah namun tidak berhasil.
"Kalau benar yang kau katakan, kenapa kau membawanya kemari dengan ekspresi ketakutan seperti itu, hah? Kau terlalu memikirkannya, Naruto. Aku yakin kau mampu menepis perasaanmu dan—"
"Itu karena dia nyaris mati," bisik Naruto dengan suara rendah. "Semua orang juga akan bereaksi sama, Tsunade. Kau melatihku selama bertahun-tahun bukan untuk membuatku menjadi seseorang yang hanya akan diam ketika melihat seorang bocah sekarat."
"Tapi aku yakin kau akan—"
"Tsunade-sama," potong Naruto entah untuk keberapa kalinya. Mukanya menyiratkan lelah yang sangat. "Berhenti melihatku seolah aku adalah malaikat."
Kali ini Tsunade benar-benar terdiam.
Untuk beberapa lama satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi EKG yang monoton setiap detiknya. Atmosfir menjadi begitu berat hingga dua orang dewasa di ruangan itu kesulitan untuk menarik napas. Terdiam dan menatap apapun selain lawan bicaranya.
Tsunade yang akhirnya memecah keheningan.
"Aku mengerti," ucapnya, terdengar agak gusar. Jika Naruto dihadapkan dengan situasi yang berbeda dia pasti sudah mengucapkan selamat pada dirinya sendiri karena berhasil membuat seorang Tsunade tampak seperti anak kecil yang tersesat.
"Sasuke bukan lagi tanggung jawabmu."
Kalimat yang pendek, tidak rumit, namun membasuh tubuh Naruto jauh lebih nikmat dari air sejuk sekalipun. Tanpa sadar dia menghela napas yang sedari tadi ditahannya dan senyum mengembang begitu saja.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih, kau tidak tahu betapa berarti keputusanmu untukku, Tsunade-sama."
Hal itu membuat Tsunade sedikit merasa risih. Naruto jarang mengucapkan terima kasih, apalagi sampai dua kali. Dan dengan wajah yang sama seperti orang melihat kiamat tidak jadi mendekat, Tsunade berpikir apakah Naruto sudah jatuh terlalu dalam ditarik masa lalunya.
"Aku punya saran," ucap Naruto agak terlalu bersemangat. Tsunade terpaksa menaikkan sebelah alisnya untuk menunjukkan bahwa dia mendengar dan tidak melamunkan hal buruk. "Kau bisa menitipkannya pada Iruka-sensei. Dia orang yang tepat untuk masalah ini. Kau tahu, dia membesarkanku tanpa menjadi gila—itu merupakan hal yang sebenarnya patut kau berikan penghargaan."
Nah ini baru mengejutkan.
"Kau tidak menyarankanku untuk mengirimnya ke asylum?" Tanya Tsunade, dua alis yang terangkat sekarang. "Kupikir dengan kau yang membenci Sasuke, kau akan mengirimnya ke tempat yang paling buruk untuknya."
Agak menghibur sebenarnya, melihat muka Naruto beralih dari cokelat ke merah, lalu putih pucat.
Pemuda itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan namun terbuka seperti buku. Naruto sedang berpikir keras dan dari safirnya yang menggelap, Tsunade tahu bahwa pemuda itu mengetahui jawabannya dan sama sekali tidak senang dengan itu.
Lalu sekilas, sekejap sekali dalam waktu yang sangat singkat, Tsunade dapat melihat kilatan aneh di kedua mata itu.
Dan Tsunade tahu benar apa maksudnya.
"Katakan," ucap Tsunade dengan suara agak tertahan. Naruto langsung melirik dinding seakan dia tidak pernah melihat hal yang lebih indah sebelumnya. "Jawab dengan jujur, sebagai wujud terima kasih karena aku telah membebaskanmu dari Sasuke."
Perlahan kepala itu kembali padanya dan ia bisa melihat raut kusut disana.
"Selama ini, alasanmu bersikeras agar Sasuke terlepas darimu, sebenarnya apa? Kau yang tidak mampu tinggal dengannya atau—"
Tarikan napas cepat diambil Tsunade.
"—kau tahu bahwa kau hanya akan menyakitinya jika dia terus bersamamu?"
.
.
.
Tsunade menyentuh kepala Sasuke, memainkan helaian rambut hitam yang terasa lengket dan kusam sembari memeriksa manual temperaturnya. Vital sign-nya semakin stabil, dalam waktu 2-3 hari dia akan bisa dilepas keluar lagi.
Sebuah senyum kecil yang turun terpoles di bibirnya. Dia kembali mengingat alam bawah sadar Sasuke yang ditunjukkan padanya seminggu lalu, dan mau tidak mau merasa bahwa keputusannya ini adalah yang terburuk yang pernah ia buat.
Tsunade menatap kearah pintu.
Naruto tidak pernah menjawabnya.
Pemuda pirang itu langsung pergi begitu Tsunade selesai bertanya. Membalik badan begitu cepat dan menghilang begitu saja.
Namun Tsunade melihatnya, sebuah senyum pahit yang ada disana hanya satu detik sebelum dia pergi.
Tsunade langsung tahu apa jawabannya.
Kembali menggerakkan tangan, kali ini Tsunade membenarkan kerah baju Sasuke yang melorot.
"Kau terlalu baik, Naruto," bisik Tsunade lelah. "Terlalu baik sehingga kau menjadi orang paling brengsek yang pernah kutemui."
.
.
.
TBC
.
.
.
Jangan bunuh sayaaa! *nutup kepala pakai panci* Salahin laptop Ita yang heng sampe sebulan dan nyikat uang Ita sampe 200 ribuuu! *nunjuk laptop yang tergeletak di lantai*. Gomenasai gomenasai, bukan maksud hati sengaja lama apdet –ecie— tapi laptop Ita overheat trus virusnya udh beranak pinak, makan waktu hampir 3 minggu utk benerinnya. Hiks...
Oh iya soal syok anafilaksis tu emg beneran ada loh, dan terjadi pada orang yang alergi anestesi tertentu. Syok anafilaksis itu reaksi alergi yang paling ekstrim dan termasuk perawatan darurat. Penderitanya bakal ga bisa napas, jantung berdebar, kejang otot, dll. Beberapa menit setelah terserang dan ga diberi tindakan darurat juga, penderita bakal meninggal.
Sebenernya itu utk orang yang alergi aja, tapi demi kebutuhan plot anggaplah Sasuke overdosis sedatif. Hahaa...
Duh jadi banyak bacot nih. Terima kasih yang sudah review, fav, dan follow! Yang login bakal Ita balas lewat PM ya. *btw ita baru tau kalo bisa balas lewat akun utk reviewer yang login -_-
Balasan untuk yang ga login:
InspiritWoohyunl
Ini SasuNaruSasu kok, dan kalo dr persepsi Ita sih ga ada uke dominan tau seme dominan gitu. Jadi tenang aja yaa...
Akara katsuki
Oh ya? Hehee... Ita malah merasa bersalah buat Sasuke jadi alay gitu, tapi syukurlah ada yg menganggap imut. Mudah"an di chap ini bagian mereka udh cukup banyak ya.
jewELF
Makjang, ada jiwa evilnya... -_- Serem duh. Apakah Ita sebegitu kecenya sampe munculin jiwa evil-angel? Muahahaha *ditabok* Ita juga kadang sweatdrop sendiri pas ngetik adegan nista sasuke. Maapkan adek, bang Kishimoto... *nangis buaya*
Aikhazuna117
Aduh, maap maap *bungkuk-bungkuk* banyak kejadian di real life yang jadi prioritas utama. Ita selalu ga enak kalo lama apdet, tp Ita selalu nyicil buat ficnya kok. ;D Flashbacknya ntar ya, ga lama lagi kok.
Makasih jg reviewnyaa
Sukmawindia
Apa yaaaa? *pasang muka nista* Nanti akan dijelaskan di bbrp chap setelahnya, oke? *terbang*
Guest
Iya kan? Iya kan? Ita seneng kalo Sasuke menderita. Muaahaha...
Bukan sih, lebih kayak inner thought gitu. Ita pengennya buat bittersweet ending nih, Sasuke mati trus Naruto menjanda, trus pergi ke dunia lain dan ketemu Itaaaa *dibantai* Ditunggu yaa...
R-chan
Ini udh dilanjut kok. ^^
Narusasu
Ini udh diapdet kok ^^ Maaf lamaaa
Rin rina
Aiyaaa, jangan nangisss *panik* Ini demi kebutuhan plot kok, sebenernya kan ada Ita yang b3rad4 di s4mping N4rvt0 cell4lu *kebentur tembok* Hahaha, tenang Rin, itu kan Cuma masa lalu kok.
Omong-omong Rin itu nama asli Ita, kok bisa sama ya? Hahaha, salam kenaall ^^
