-HUNjustforHAN-
-Present-
.
.
.
Desire
.
Chapter 5
.
.
.
Pagi berembun. Titik basahnya menempel di kaca tebal kamar Sehun hingga apapun yang berada diluar menebarkan aroma misterius yang khas. Sehun mematut diri di depan cermin tinggi, tubuhnya di bungkus menjadi sebegitu kaya bersama setelan resmi abu-abu tua dan cekikan dasi bersimpul dileher. Rambut hitam pekat itu dibiarkan berlabuh menutupi sebagian dahi berliannya, memberikan kesan sedikit baik hati yang dibuat-buat seolah Sehun adalah pria kaya muda yang selalu mencium punggung tangan orang tuanya ketika berjumpa.
Haha.
Sehun tertawa kecil melihat penampilannya sendiri. Bagaimana bisa bajingan seperti dirinya terlahir begitu mengagumkan ? Apa Tuhan tidak salah cetak ?
Diusapnya rahang yang menjadi salah satu alasan kenapa para wanita sudi mengantri hanya demi menjadi pelacurnya. Sehun memperhatikan bias wajah di cermin tersebut lalu menemukan sesuatu yang coba ia sembunyikan nampak begitu mengganggu.
Mendapatkan kantung mata bergelayut berat bukanlah hal asing bagi seorang pembisnis, Sehun sudah sering mendapatkannya hampir setiap hari secara gratis. Namun kali ini ada yang berbeda, kantung matanya terasa lebih buruk, bahkan lebih buruk dari perjalan bisnis ke Jepang yang mengharuskan ia terjaga lebih dari 48 jam.
Hah..
Helaan napas terdengar menyesal keluar dari bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Semua ini karena pembangkang itu. Sehun sadar seseorang telah mengontrolnya diluar kendali.
Luhan. Iya, sang wanita pembangkang, selalu berhasil mengaduk emosi Sehun, mengelupas amarah, memotong batas kesal dan melumat semuanya dalam satu adonan. Mata rusa sendu memberontak Luhan meretas logika egois Sehun hingga rasanya Sehun telah kehilangan diri sendiri tanpa sadar.
Sejak kapan aku jadi penakut ?
ARGH!
Ditendangnya kaki kursi bernasib sial sebelah kanan hingga patah lalu mengerang frustasi. Sehun tidak pernah jadi setolol ini dalam menghadapi berbagai jenis wanita yang telah telanjang bugil diranjangnya, tapi dengan Luhan… Sehun bingung entah kenapa setelah keluar dari kamar Luhan yang diperkosanya kemarin siang, Sehun tidak bisa melangkah kemana-mana. Tangannya yang kasar seperti egoisme dikepalanya beberapa kali menjabat knop pintu; sangat berminat untuk menjenguk isak telanjang Luhan akibat ulah bejatnya namun terhenti ketika rasa aneh menohok tepat di ulu hati. Sehun begitu mendamba pelukan Luhan demi menenangkan wanita itu tapi ada gejolak tersendiri yang menahan langkahnya terjebak di depan pintu.
Sehun ingin sekali melakukannya namun logika kelelakian penguasanya tidak mau bekerjasama. Dan sebagai hasil, Sehun merasa kepalanya berdenyut nyeri pagi ini. Luhan pasti membencinya setelah ini, Luhan pasti akan semakin takut dan tidak menutup kemungkinan jiwanya bisa saja tertekan. Jika benar, maka apa masih ada harapan bagi Sehun untuk mendapatkan gairah Luhan dalam posisi sadar ?
Ah, entahlah. Wanita itu lebih rumit daripada rumus fisika yang mengharuskan menghitung percepatan dan kecepatan roda bergulir. Pikiran Luhan seperti pertanyaan tak berformula dan mengaharuskan Sehun mengerang marah demi mendapatkan jawaban.
Ya Tuhan.
Kenapa harus wanita keras kepala itu ?
Sepertinya Sehun harus segera mendapatkan segelas air putih, mencicipi sarapan bernutrisi lalu menjernihkan pikiran bersama tumpukan dokumen yang bersimpuh mengiba di meja kantornya. Ravi semakin kurus semenjak Sehun mengenal Luhan. Dia selalu menjadi korban amukan para klien.
.
.
.
Trolley makanan bergulir seperti biasa, wanita dengan pita hitam putih berlipat itu menghembuskan napas setengah kesal begitu mendapati daun pintu putih yang ia ketuk tiga kali berdiri menyebalkan. Nona keras kepala sekapan majikannya sangatlah tidak mau mendengarkan kata orang lain. Kepala batu Luhan tidak menerima masukan dari para pelayan yang membujuknya agar berhenti melawan Sehun atau dia akan dipaksa lebih jauh. Bukan hanya Luhan, tapi semua orang juga mendapat imbasnya.
Luhan sekarang pasti sedang berbaring diranjang dengan tubuh terkulai lemah, memperlihatkan bibir kering yang gengsi dikasihani dan mengusir kedatangan siapapun. Lalu setiap pelayan yang keluar dari kamar ini dengan trolley penuh makanan seperti sedia kala akan mendapatkan lemparan gelas kaca dari Sehun.
Menyeramkan.
Memang, tapi itulah Oh Sehun. Setidaknya sebulan gaji disini setara dengan setengah tahun gaji dirumah majikan lama mereka.
Pelayan tersebut memutar knop pintu, bersiap menemui penyebab ajalnya mendekat lebih cepat dan…
"Selamat pagi Nona. Sarapan an—"
"Bisa kau bawa kembali sarapanku ? Aku ingin makan dibawah. Kamarku kotor."
"T-tapi.. Tuan Oh Sehun melarang anda un—"
"Tutup mulutmu!"
.
.
.
Sehun sedang melapisi roti bakarnya dengan slai coklat ketika siluet pipi gembul Xiumin tidak sengaja melintas. Dengan topi putih tinggi dan dua toples kecil berwarna hijau kelabus di tangan kanan kiri, bibir Xiumin mengkerucut sembari mata bulatnya mengamati toples bergantian. Dia sedang terkena dilema diantara dua toples rempah. Entahlah, Sehun tidak tau apa itu karena dalam ilmu bisnis tidak pernah diajarkan mengenal seluk beluk keluarga rempah. Ia hanya diajarkan bagaimana cara menghasilkan uang yang banyak hingga telapak tangan melepuh menghitungnya.
"Xiumin." Panggilnya tanpa intonasi. Xiumin terkesiap sejenak sebelum menyahut 'Ya Tuan' dan mendekat.
"Apa menu sarapan Luhan pagi ini ?"
"Saya memasak bubur ayam dengan tambahan air kaldu berempah untuk nona Luhan."
"Hanya bubur ?"
"Ya. Karena nona Luhan tidak makan apapun selama tiga hari belakangan jadi saya—"
"Cukup. Kembali ke dapurmu."
Keparat jahanam! Xiumin mengumpat dalam hati lalu berbalik meninggalkan Sehun yang meraih tangkai cangkir kopi di jemarinya. Ia sesap rasa pahit dari bibir cangkir sambil menikmati rasa gelisah yang terus menyanyikan lagu-lagu ballad bersenandung dalam hati. Ah sial! Sehun menghempaskan cangkir kopinya nyaris marah. Bahkan suara langkah tumit high heel Luhan mengejarnya sampai kesini. Kenapa wanita itu suka sekali merusak usaha Sehun yang letih mencoba menampik bahwa Luhan bisa mengemudikannya lebih jauh?
"Boleh aku duduk disini ?"
Apa ini yang dinamakan frustasi ?
Ludah yang Sehun teguk sangkut ditenggorokan sesaat sebelum ia membuka kelopak mata menyerah. Apa rasa bersalah yang membuat halusi terdengar begitu nyata?
"Oh Sehun."
Apa ? Siapa yang berani memanggil Sehun dengan cara tidak patuh begitu ? Apa dia benar-benar ingin bertemu makhluk menyeramkan di pintu neraka ?
Sehun mendongak, menggelengkan kepala pelan –mengusir halusinasi—dan hampir terlonjak kala menemukan wanita putih berbalut dress selutut berbelahan dada rendah ketat disertai lipstick merah menggoda diatas bibir keringnya sedang berdiri menunggu.
"L-Luhan."
Kursi ditarik dan Luhan menyesakkan pantatnya bertata krama -walaupun masih terlihat tangkai tangannya bergetar lemas-, tidak memperdulikan Sehun yang masih lumpuh dalam ketertegunan tak berlogika.
"Kamarku kotor, ada yang pecah dan tumpah kemarin siang jadi kurasa aku tidak bisa makan dengan nyaman disana."
"…."
"Kau keberatan ?"
Ada apa ini ? Kenapa Luhan jadi aneh ? Tidakkah seharusnya sekarang dia meringkuk ketakutan dan muak melihat wajah Sehun ? Lalu siapa yang sedang duduk dengan mata berkilau menantang di hadapan Sehun sekarang?
"Ikut aku!"
"Bagaimana dengan sarapanku ?"
"Kau bisa menghabiskannya nanti."
"Aku tidak yakin selera makanku bertahan dalam waktu yang lama."
Shit! Wanita ini!
Sehun mengerang lagi dalam diam, perlahan tapi pasti ia lepaskan juga tangan Luhan dari cekatan tangannya. Benar-benar ada yang salah. Sehun merasa Luhan telah mengendalikan sebagian dirinya dengan kekuatan tanpa bantahan. Terlalu jauh.
"Cepat habiskan makananmu lalu temui aku di ruang kerja."
.
.
.
"Apa yang kau inginkan ?"
"Sesuatu yang kau inginkan pula, Oh Sehun."
Luhan menyilangkan kakinya, membiarkan ujung dress putih itu jatuh lembut di sofa hitam lalu memainkan jari-jarinya dilengan sofa –berusaha menarik perhatian Sehun dengan cara paling menyebalkan-. Wanita itu tersenyum setengah menarik bibir begitu sadar ada gumpalan bergerak gelisah di leher jenjang Sehun. Gumpalan gairah,kah ?
Sehun menarik dasinya keluar simpulan, berserak basah sakit sebelum bersandar di kursi rajanya. Menatap lekat bibir merah ranum mungil milik Luhan ternyata mampu memanggang tubuh nyaris terkapar. Kepala Sehun semakin berdenyut dan ia harus menambahkan sedikit pijatan di pelipis hanya demi meremas pikiran yang terus bergumam agar menggusak habis lipstick merah Luhan dengan ciuman basah sampai dada Luhan mengempis kekurangan oksigen.
Argh!
"Katakan Luhan."
"Biasanya para lelaki lebih suka menebak."
"Jangan bermain-main denganku."
"Bukankah kau yang mengundangku untuk bermain bersama ?"
"Aku tidak punya banyak waktu." Sehun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, berpura bahwa waktu benar-benar mahal. "Jangan berbelit-belit dan katakan sekarang."
"Kau tidak punya banyak waktu?" Luhan mengernyit bersama gelayutan kantung mata hitam, "Baiklah. Kau bisa pergi kalau begitu."
"Luhan!"
"…."
Luhan, jangan bergetar. Jangan takut. Jangan menangis. Hanya katakan apa yang seharusnya kau katakan. Pemberontakan adalah larangan untukmu sekarang.
Mengaku saja Luhan. Turuti Sehun. Lelaki itu bahkan tidak peduli jika kau berdusta.
Hanya katakan. Iya, hanya katakan.
"Tidak ada lagi yang ku pertaruhkan di dunia ini karena kau telah merusak segalanya. Yifan menjualku dan kau telah menyetubuhiku berkali-kali dengan cara sebejat binatang. Aku tidak lagi memiliki harga."
"Apa yang kau bicarakan ?!"
"Aku ingin mati, tapi terlalu takut jika setelah kematianku orang-orang yang membuat hidupku berantakan seperti ini malah hidup bahagia. Aku tidak bisa mati sebelum melihat-nya tersiksa. " Luhan merunduk, berusaha menyembunyikan bibirnya yang bergetar sedih tiba-tiba."Aku tidak ingin tersiksa dan mati sendirian." Lanjutnya sengal nyaris terisak.
Inilah akhir pertahan Luhan dari rasa muak, pikir Sehun begitu.
Sehun beranjak, memulai langkah berirama tegasnya menyusul tubuh putus asa Luhan dan berakhir setengah bertengger di meja kaca tepat di hadapan Luhan. Diperhatikannya secara seksama jemari resah wanita itu lalu mengapit dagunya, membawa mata mereka bertarung sendu.
Ada setetes jatuh yang tidak sanggup lagi Luhan simpan.
Oh, ku mohon sayang. Simpan airmatamu. Jangan menangis dihadapanku.
"Apa yang bisa kulakukan ?"
"…."
"Hm ?"
"…."
"Luhan ?"
"Hancurkan Han Selvi."
Wow! Akhirnya, kepala batu melunak. Permulaan baik.
"Hanya itu ?"
"Jangan pernah lagi mengizinkan napasnya berhembus di Korea."
"Lalu, apa yang akan kudapatkan ? Sebagai pembisnis aku selalu mengarapkan timbal balik yang menghasilkan untung besar."
"Aku akan menandatangi perjanjiannya."
"Perjanjian ?"
" Tidakkah isi dalam perjanjian tersebut memberimu untung besar ?"
"Untung ? Keuntungan seperti apa ?"
"Kau bisa meniduriku beberapa kali."
"Ku rasa kau pintar bernegosiasi." Sehun menarik tangannya, tersenyum miring puas dan menyembunyikan sebelah tangan kedalam saku celana. "Bisa kita buat perjanjiannya sekarang ?"
"Tapi ada beberapa hal yang ingin ku cantumkan dalam perjanjian tersebut."
"Katakan. Akan ku tulis jika aku menyetujuinya."
"Jika kau menyetujuinya ? Tidakkah kau terdengar terlalu egois "
"Egois adalah Oh Sehun. Kau tidak akan bertemu denganku jika tidak mengenal apa itu egois."
Luhan berdecih, memutar mata jengah yang sanggup membuat otak Oh Sehun berpikir, bagaimana ada seorang wanita yang berani memutar bola mata dengan cara begitu penuh rasa muak di hadapanku ? Tapi sialnya dia tetap cantik dengan cara seperti itu.
"Pertama."
"…."
"Setiap kali bercinta, maka hutang Yifan akan dikurangi sepuluh persen."
"Bukankah itu penawaranku ?"
"Aku hanya mengingatkan kembali."
"Terserah. Lanjutkan."
Luhan menghela napas, menyelipkan jatuhan rambut kebalik telinganya yang tiba-tiba memerah. Udara tiba-tiba mengandung banyak karbondioksida. Tema percintaan yang dibahas terlalu lantang seolah mereka sedang membahas menu makan siang.
"Kedua. Percintaan dimulai ketika kedua belah pihak menginginkannya."
"Bagaimana jika kau kembali membangkang ?"
"Aku berjanji, akan ku tolak secara halus jika tubuhku benar-benar tidak siap."
"Bagaimana kau akan bertanggungjawab jika gairahku benar-benar terbakar ? Kau tau, sulit bagi laki-laki mengontrol pikirannya jika sedang bergairah."
"Yang kutau kau adalah penidur wanita paling handal. Bukankah tidak sulit menggoda wanita malas menjadi pendesah diranjangmu ?"
"Apa itu artinya kau membolehkan percumbuan ?"
"Selama tidak terselip kekerasan didalamnya, kurasa baik-baik saja."
"Jangan menyesal karena membolehkannya."
"Jangan membuatku berpikir dua kali Oh Sehun."
Sehun terkekeh semangat. Tidak pernah menyangka bahwa kekehan yang menyembunyikan gigi taringnya itu mampu mendesirkan jantung Luhan lepas kendali. Ia menaruh fokus lagi pada Luhan.
"Ada tambahan lainnya ?"
"Ya."
"…."
"Aku tidak sudi menerima penyakit, maka dari itu tidak untuk berbagi."
"Maksudmu ?"
"Selama perjanjian tersebut berjalan, hanya bercinta denganku, tidak dengan wanita lain apapun alasannya."
"Apa?!"
"Kau tidak setuju ?"
Sehun berdecih geli, kalaupun ia bercinta dengan pelacur toh Luhan tidak akan pernah tau. Sama sekali bukan masalah.
"Jangan berpikir kau bisa membodohiku Oh Sehun. Aku hanya mengandalkan firasat, jika firasatku mengatakan ada wanita lain yang mendesah karenamu maka—"
"Maka ?"
"Kau juga mempekerjakan banyak lelaki dirumah ini. Aku bisa menarik salah satu dari mereka."
"Kau ingin melihatku membunuh ?"
"Maka berhati-hatilah dengan firasatku."
"Mengancamku ?"
"Tidak. Hanya bernegosiasi dengan cara yang baik."
Oh, sejak kapan berbicara dengan Luhan menjadi sesuatu yang menarik seperti ini ? Sehun dibuat menahan senyum berminat.
Seharusnya tidak merugikan sedikitpun jika Luhan tidur dengan lelaki lain, toh Luhan bukan istrinya. Tapi Hey!
Kenapa aku tidak bisa menerimanya ?! Sial!
"Kurasa permintaan yang ketiga lebih menguntungkanku."
"Maksudmu ?"
"Kau yang mengatakan sendiri bahwa aku adalah penidur wanita yang handal, kau juga tau seberapa besar gairahku, bukan ?"
"…."
"Jika aku tidak boleh menuntaskannya dengan wanita lain, maka kau harus mempersiapkan energi lebih banyak. Kau adalah tumpuan gairahku sekarang, bersiap-siaplah. Luhan."
"Kembali ke permintaan kedua Oh Sehun, percintaan dimulai jika kedua belah pihak menginginkannya."
"Ya, aku tau. Dan akan ku buat kau menginginkannya."
"Kau hanya memiliki sisa 9 percintaan, kau ingat ?"
"…."
"Maka berhematlah."
Ya Tuhan. Kapan wanita ini belajar membalas ucapan dengan cara licik yang cantik ? Benar-benar menggelitik gairah.
"Ya, mungkin kau benar. Aku harus berhemat. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak lahir."
"Sombong."
"Memujiku ?"
"Kau suka pujian seperti itu ?"
"Karena keluar dari bibirmu maka aku menyukainya."
"Beginikah caramu merayu wanita hingga mereka dengan senang hati melacurkan diri ?"
"Tidak perlu mengeluarkan rayuan pun mereka akan mengemis sentuhan padaku. Hanya kau saja, wanita bodoh yang menolaknya."
"Kau—!"
"Terakhir, katakan permintaanmu."
"…." Sekali lagi Luhan meneguk ludah, jika Sehun mulai mendatarkan seluruh otot-otot bagian wajahnya menjadi bekuan batu es, Luhan akan kehilangan kepercayaan diri. Otak kecilnya sibuk mencari sesuatu yang lebih penting untuk di pikirkan daripada mengagumi seberapa tampan wajah itu walau tanpa ekspresi.
Ya Tuhan.
"Luhan ?"
"Jika hutang Yifan sudah lunas,-" Apa ?Apa kata-kata selanjutnya yang harus ku katakan ? Ayolah otak, bekerja untuk saat ini. Bantu aku.
"Jika lunas ?"
"…." Oh, Cepatlah berpikir Luhan! Kau tidak punya waktu!
"Apa yang kau inginkan ?"
"…." Apa yang ku inginkan ? Aku tidak tau Oh Sehun! Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak bisa berpikir jernih karena mata sialmu!
"Luhan ?"
"I-izinkan aku pergi."
"Apa ?"
"P-pergi." Pergi kemana Luhan ? Kau sendiri saja tidak memiliki tempat lain didunia ini selain Sehun.
"Kemana ?"
"Yang jelas pergi dari sini." Oh, oke. Aku tau ada tanda 'Tidak Setuju' besar terpampang di dahimu Oh Sehun.
Sehun memiringkan kepala, mengkerutkan dahi lalu mengasah mata sipitnya mengiris apa yang tersembunyi di balik manik mata berpencar Luhan.
"Kalau begitu aku juga akan mengajukan persyaratan tambahan." Katanya berhasil mengembalikan fokus Luhan.
"Persyaratan apalagi ?"
"Jika kau berusaha kabur untuk yang kesekian kali, maka perjanjian kita 'Batal'."
"Apa ?! Itu tidak adil!"
"Persetan dengan keadilan, aku bukan hakim."
"Tapi—"
"Jangan pernah membangkang, atau semua akses keluarmu akan ku tutup."
"Oh Sehun! Kau tidak bisa seperti ini!" Oh, baru saja Sehun mengumandangkan larangan membangkang namun Luhan sudah berani berdiri dengan mata menyala lebar dihadapannya.
"Yaakkk! Oh Sehun! Lepaskan tanganmu!" Wanita ini benar-benar. Seharusnya yang Luhan lakukan adalah bersujud sukur karena di rengkuh setengah lingkaran tangan oleh si tampan kaya Oh Sehun, tapi kenapa ia malah berubah menjadi rubah bawel begini ?
"Aku harus pergi ke kantor sekarang."
"Pergi saja."
"Luhaaan."
"Apalagi ?"
Hah..
Perlu kesabaran Oh Sehun..
"Simpulkan dasiku."
.
.
.
Ini diluar perkiraan, sangat jauh malah. Baru kemarin Luhan berpikir bahwa kematian lebih baik daripada hidup bersama Sehun, tapi tadi pagi, apa yang ia lakukan ? Menyimpulkan dasi dileher Sehun dengan posisi ditengah rengkuhan lengan pemaksa laki-kaki itu. Oh, dunia benar-benar licik.
Ya, baru kemarin Luhan diperkosa seperti anjing betina oleh Sehun hingga rasanya muntahan adalah sesuatu yang sangat baik untuk disinggahkan diwajah keparat itu. Semalaman Luhan tidak bisa tidur, mempertahankan isak tangis yang membuat hidungnya tersumbat parah. Hatinya terus saja mengutuk sumpah serapah terhadap tiga manusia, Han Selvi, Wu Yifan dan Oh Sehun. Relung hati Luhan remuk renyah mengingat betapa menyedihkan dan kotor dirinya sekarang.
Semua ini karena Han Selvi. Karena perjumpaan wanita itu dengan Wu Yifan. Karena kebutaan mata Yifan yang telah menyingkirkan posisi Luhan hanya demi wanita jalang.
Otak Luhan nyeri, saat ia menghentikan napasnya lalu membuka mata, saat itu pula Luhan memikirkan sesuatu yang Gila.
Menyerah pada Sehun.
Luhan memakan sumpahnya sendiri. Karena dendam dan sakit hati yang terpendam terlalu besar untuk ditutup, Luhan rela menjilat lendir ludahnya yang pernah bergumam bahwa tunduk dibawah telunjuk Sehun tidak lebih baik daripada mati. Semua ini tidak bisa dilakukan sendiri, Luhan hanya punya secuil kekuatan dan tidak punya siapa-siapa lagi sebagai pendukungnya. Jadi hanya ada satu pilihan, Menyerah. Dan itu pada Oh Sehun.
Ya, tidak apa-apa. Meskipun rasa muak pada laki-laki itu tak kalah hebat dari kotoran hewan, namun hanya Sehun satu-satunya bajingan yang bisa ia andalkan sekarang. Sehun bisa melakukan apapun hanya dengan satu jentikan jari, lalu keinginan Luhan agar Selvi terpanggang derita akan terwujud sekejab mata. Setelah Selvi di lempar hina dari daratan Korea Selatan ataupun membusuk dijalanan Jerman, maka Luhan sudah mempersiapkan serpihan kaca bekas pecahan keramik makanan dibalik tempat tidurnya.
Mati.
Tidak akan semudah itu sayang.
.
.
.
Sehun telah kembali, meskipun tidak seluruhnya namun delapan puluh persen dirinya yang lama sudah dapat diidentifikasi. Ravi menghela napas lega, menemukan sosok Sehun duduk di kursi kepala ruang meeting kedap suara ini lebih membahagiakan dibanding mendapatkan voucher gratis berlibur ke Dubai, karena ia tidak perlu lagi mendengar berbagai umpatan dari hampir seluruh klien atas pembatalan janji meeting mendadak. Beberapa waktu lalu memang masa tersulit untuk Ravi.
"Ya, aku setuju."
Hanya tiga kata pelit, Sehun mengisi kembali pundi-pundi emasnya yang tercecer beberapa senti akibat ulah otak kecil nakal Luhan. Jangankan ujung pulpen berlapis titanium miliknya, bahkan gelembung uap air yang berhembus dari napas Sehun sanggup pecah menjadi butiran-butiran berlian. Dialah si kaya. Bahkan kata Kaya terlalu biasa bagi Sehun. Sejak dalam kandungan ia tidak pernah bisa mengeja apa itu kata 'Miskin'. Sehun tidak pernah mengenalnya.
'Tok.. Tok.. Tok..'
"Masuk."
Sehun sedang meneliti satu persatu tumpukan berkas di meja ketika tubuh Ravi menyelinap dicelah pintu. Lingkaran hitam nampak jelas dimatanya namun laki-laki berkemeja merah itu memasang senyum yang begitu cerah.
"Selamat Malam, Tuan."
"Ya, Selamat malam. Apa kau datang untuk membacakan jadwalku besok ?"
"Maaf, tapi….."
Sehun melepas fokus pada kertasnya, berhenti sejenak lalu menghirup aroma pahit panas tersampir tiba-tiba di meja.
"Kopi ?"
"Ya."
"Kurasa aku tidak memintamu …"
"Memang tidak, tapi saya rasa anda memerlukannya untuk menemani anda menyelesaikan masalah dengan tumpukan dokumen itu. Mereka nampak sangat tidak bersahabat."
Tawa sengal Sehun begitu ceria. Ravi mengernyit dan otaknya langsung berbisik bahwa semua ini pasti ulah Luhan. Hanya Luhan yang berani mengontrol Sehun menjadi sosok yang sulit ditebak.
"Apa kau akan menemaniku lembur ?"
"Seperti biasanya, saya akan lembur setidaknya sampai pukul satu malam. Jika saja saya belum menikah dan tidak memiliki anak istri yang menunggu dirumah, bisa saya pastikan saya tidak akan pulang sebelum anda pulang, tuan."
"Kau patut bersyukur telah menikahi wanita yang benar, jika tidak maka kau akan membusuk tua menemaniku lembur disini."
"Ya, saya terkadang bersyukur."
"Terkadang ? Terdengar seperti kau adalah suami yang tertekan."
"Sedikit. Andai saja anda tau bagaimana menghadapi amukan seorang istri beserta kecemburuannya, maka banyak lelaki berpikir bahwa membusuk di depan monitor komputer lebih baik."
"Apa istrimu kejam seperti itu ?"
"Sangat, dan bertambah parah ketika masa kehamilannya. Saya sudah puas tidur di sofa selama tiga bulan ketika dia hamil."
"Apa ?"
Ravi mengangguk dengan wajah berot ketika Sehun memberikan intonasi penuh rasa ketidakpercayaan yang menakjubkan. Suasana hati Sehun sedang baik, jadi tidak masalah jika Ravi membahas topik-topik santai selain jadwal meeting mereka yang berlomba. Jarang sekali menemukan sisi ramah seorang Oh Sehun.
"Lalu apa yang kau lakukan ?"
"Maksud anda ?"
"Maksudku, aku banyak mendengar jika wanita memang sangat menyebalkan ketika hamil, mereka bertansformasi menjadi singa betina berperut buncit."
"Tepat sekali." Ravi terkekeh geli setengah hati sebelum menyesap kopi hangat di apitan jemari tangannya. Jujur saja ia kurang setuju akan perumpamaan 'Singa Betina Berperut Buncit' yang dilontarkan Sehun. Hey! Istrinya tidak sejelek itu ketika hamil. Astaga! Andai saja kau bukan atasanku!.
"Tidak pernahkah kau berpikir untuk meninggalkannya sementara waktu dan tidur lebih nyaman dihotel bersama seorang gadis ?"
Pikiran laki-laki ini masih belum berubah. Wanita, paha, payudara, vagina. Wanita, paha, payudara, vagina.
"Tidak ada gadis yang mau tidur bersama suami orang kecuali—"
"Pelacur. Ya, maksudku pelacur. Kurasa gajimu sangat cukup untuk menyewa tubuh mereka beberapa malam dalam seminggu."
Ravi menyimpan senyum geli. Sehun melepas penanya, menyandarkan tubuh di sandaran kursi dan tampak sangat berminat dengan perbincangan laki-laki mereka.
"Anda bisa berpikir demikian karena anda belum menikah. Maaf saya lancang mengatakan ini, Tapi ketika anda sudah mengikat seorang wanita melingkar dijari manis, hanya pria pengecut tanpa otak yang akan mendesah bersama wanita jalang disaat istri mereka sedang mengandung."
"Wow.."
"Seberapapun menyebalkannya seorang 'Singa betina berperut buncit', namun hanya melihat senyum diwajahnya dan juga perut buncitnya mampu merontokkan seluruh amarah. Saya sarankan anda harus mencobanya, tuan."
"Maksudmu menikah ?"
"Mungkin."
"Tidak.. Tidak.. Terlalu cepat. Sangat cepat." Oh, kilah Sehun sangat gelagapan. "Tapi.."
"Tapi ?"
"Terdengar… "
"…."
"Menarik."
Menarik ? Menarik.. Menarik..
Wah! Apa yang baru saja Sehun katakan ? Menarik ? Menikahi seorang wanita mulai menarik baginya ? Oh Tuhan.. Sehun dulu bahkan pernah berkata bahwa jika tidak menemukan wanita yang tepat, maka ia bisa hidup seorang diri sampai mati. Tapi sekarang ?
Menikah ? Menarik ?
Luhan!
Apa wanita itu punya kekuatan supranatural hingga bisa mengendalikan Sehun seperti avatar mengendalikan empat elemen bumi ?
"Ravi.."
"Ya, Tuan."
"Pulanglah. Anak dan istrimu sedang menunggu dirumah."
"Pu..lang ?"
"Terimakasih untuk Coffeenya. Akan ku minum dijalan."
.
.
.
Pukul 11 malam, Sehun tiba dengan roda mobil nampak tergesa. Biasanya ketika pulang Sehun akan memarkir mobil dengan rapi, menyusun roda-roda empat itu berjejer seperti cupcake di took roti Luhan. Tapi sekarang ia bahkan menelantarkan mobilnya begitu saja di singgahan depan pintu rumah seolah jika ada burung yang lewat dan membuang kotoran di mobilnya maka Sehun akan langsung membuang mobil itu.
Dia kaya, kalian ingatkan ?
Ada paperbag dalam genggaman Sehun ketika ia turun dari mobil. Kaki panjang itu juga melangkah lebih cepat seolah burung hantu sedang mengejarnya dibelakang. Sejak Luhan tinggal disini, lantai dua sisi barat adalah tempat pertama yang Sehun datangi setiap pulang.
Terdapat dua tangga besar ditengah ruang polos lantai dasar, dulu Sehun selalu memilih lantai dua sebelah timur karena memang disana kamar rajanya berdiri, ia bahkan jarang sekali menengok arah barat walau hanya sekedar memeriksa apakah ada debu yang berani menempel di pegangan tangganya. Namun sekarang pergerakan Sehun seperti menunjukkan bahwa tangga sebelah timur tidak pernah dirancang, tidak pernah dibangun dan pantang dilewati.
Setiap tapak kaki dibawah sepatu pantofel hitamnya semakin mendebarkan. Sambil melonggarkan dasinya Sehun mengumpat dalam hati karena untuk pertama kali dalam hidup ia takut mendengar suara jejak kakinya sendiri.
Oh, memalukan sekali seorang lelaki tangguh tersengal hanya karena menapaki duapuluh anak tangga.
'Clek!'
"Luhan—!"
"…."
"Lu.."
"…."
Kosong. Kenapa kosong ? Sial!
"Luhan!"
Kemana Luhan ?
Wanita itu, berani-beraninya membuat saliva Sehun berduri.
Nama Luhan bergema ketika Sehun mengitari seluruh isi kamar, tenggorokannya kering dan bertambah kering kala mendapati ruangan tersebut benar-benar tak berpenghuni.
Tidak! Luhan tidak akan bisa kabur dari rumah ini! Tapi… ARGH! Dimana wanita pembangkang itu ?!
Hey, ada apa dengan dirimu Sehun ? Menjadi gila hanya karena tidak menemukan seorang wanita dalam kamar bukanlah hal berharga yang harus kau khawatirkan. Oh Sehun tidak pernah seperti ini!
"Sial!"
Sehun meninggalkan dentuman pintu sebelum berlari keluar. Rambut hitamnya melayang dan terasa sangat menyebalkan ketika pelipisnya terasa basah karena keringat dingin. Sangat memalukan.
Lantai dasar sunyi senyap, tidak ada tanda kehidupan terjadi yang membuat Sehun ingin menambah kadar cemasnya. Sehun menebar gelisah disetiap langkah, lalu ketika berada di celah lemari kaca tebal berisi keramik mahal yang menjadi batas antara loby istananya dan dapur, geraman marah terdengar lagi.
Sehun tidak suka dipermainkan.
Rambut hitamnya sejenak mengudara saat Sehun mengibas coklat tua ditangannya mengkerut kusut menerima perlakuan kasar dari telapak tangan basah Sehun. Lalu tanpa aba-aba Sehun melepas amarahnya hilang kendali.
PRAAAAANG!
"AAAAAAAAA!"
Luluh lantak. Paperbagnya yang nampak berisi dilempar menyinggung keramik, menjatuhkan beberapa dan tidak pernah peduli seberapa mahal setiap pecahannya. Sehun juga tidak peduli jika keramik tersebut ia dapatkan dari menghamburkan uang puluhan juta won hingga wanita simpanan salah satu jenderal tinggi di Negara ini menangis malu akibat kalah dari persaingan harga tidak sebanding yang ia lontarkan. Tidak ada yang berharga di dunia ini selama amarahnya terpuaskan.
Suara pecah terlalu keras berhambur, bergema di tengah luas udara dan membangunkan beberapa orang. Terdengar langkah cemas kepala pelayan dan dua orang disekitarnya berlari mendekat, namun mendapati apa yang terjadi, langkah mereka menyurut, berhenti lalu mundur perlahan, menghilang dan tidak kembali lagi.
Bukan karena Sehun yang berdiri di sekitar serpihan kaca ataupun teriakan marahnya, tapi arah pandangan Sehun, mata lurus itu, menghadap seseorang. Seseorang yang bergetar dibelakangnya dengan hal serupa, dengan tumpahan air dan serpihan kaca kecil berserakan.
Luhan; berwajah pucat hampir mati, yang menjatuhkan gelas berderai, yang tidak mengerti mengapa Sehun terlihat sangat menyeramkan, yang merasa hidupnya benar-benar berada ditangan Sehun, bahkan tidak berani meluruskan keinginan tenggorokannya untuk berserak. Menebak Sehun bukanlah hal mudah karena lelaki itu selalu datang dalam porsi yang berbeda-beda. Sama seperti kali ini, baru saja Sehun membuat Luhan berdebar menyenangkan tadi pagi dan tiba-tiba dia datang memecahkan keramik dengan keras.
"M-ma.. maaf.."
"…."
"A-aku.. men..j-jatuhkan—"
"DIAM!"
Luhan menelan ludah berat.
"A-akan.. ku bereskan."
"JANGAN BERGERAK ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Luhan yang setengah merunduk kaku bukan main. Sehun selalu mengancam dengan cara kasar dan licik. Tidak jarang lelaki itu membenarkan apa yang telah diucapkannya; tidak terkecuali menghabisi Luhan, dan Luhan masih belum sudi mati sekarang. Selvi belum tersiksa.
Pikiran Luhan rusak, ia benci mendengar pecahan benda yang dilempar karena itu akan membawa memorinya masuk ke dalam masa kecilnya bersama sang ayah. Luhan lumpuh seketika, membeku. Namun diantara kebekuannya Luhan masih bisa mendengar langkah tegas memburu seolah menginginkan nyawanya sebagai makanan. Sangat berselera dan menakutkan.
Kelopak mata Luhan tertutup putus asa dan saat itu pula, ia merasa tubuhnya melayang.
Apa ini yang dinamakan mati ?
"Apa kau bodoh ? Mencoba memungut serpicahan kaca, kau pikir kau hebat? Kakimu sudah terluka, kau ingin melukai tubuhmu yang lain ?!"
Oh Sehun…
"Tidak ada seorangpun yang boleh melukaimu selain aku! Tidak dengan serpihan kaca, bahkan tidak pula dengan dirimu sendiri!"
.
.
.
"A-aku.. aku bisa melakukannya sendiri."
"…."
"Sehun, aku bisa mengobati kakiku sen—"
Sorot mata pemilik dan cengkraman tegas dikakinya bisa dibaca oleh Luhan sebagai isyarat untuk berhenti menahan Sehun. Dia bukanlah lelaki yang suka dicegah. Luhan tau dan membuatnya terpaku.
Masih terngiang dikepala Luhan bagaimana pikirannya mengarah pada kematian sedangkan kenyataan membawanya didalam rengkuhan Sehun, menapaki tangga dengan lengan melingkar di lehernya dan merasa canggung setengah mati kala Sehun merebahkan tubuhnya duduk disisi ranjang. Mata Sehun memang tajam, tapi Luhan menemui kelembutan terselip setiap kali tatapan mereka bertemu.
Kapas, alkohol, plaster dan kotak putih belambang tambah merah besar menguarkan aroma tidak menyenangkan. Sehun berada diantaranya, duduk bersila dengan memangku sebelah kaki Luhan.
Dari gelas kaca yang ia jatuhkan, Luhan mendapat goresan sebesar satu senti pada permukaan kakinya, mengotori celana abu-abu mahal Sehun dengan noda merah darah berbau amis; hal yang membuat Luhan beberapa kali menarik kakinya mundur namun selalu ditepis oleh Sehun.
"Akh!" Luhan meringis ketika Sehun melewati lukanya dengan kapas. Laki-laki itu berhenti.
"Sakit ?"
"Em.." jawab Luhan bernada setengah ragu dan sedikit lama.
"Tahanlah. Ini akan sedikit perih."
"Tunggu! Tunggu! Apa itu ?"
Sehun membaca sekilas botol yang baru saja ia raih. "Ini ?" tanyanya ulang pada Luhan. "Kurasa kau tau apa ini."
"Jangan katakan itu alkohol. Kau tidak berniat memberik lukaku alkohol,kan ?"
"Agar tida infeksi."
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Itu sakit Oh Sehun! Aku pernah merasakannya waktu kecil dan itu— AAAAAAKH! OH SEHUN KAU BODOH! AAAAAKH!"
Sehun terbelalak, untuk pertama kali dalam hidup, seorang wanita meneriakinya dengan kata 'bodoh' begitu lantang, tepat menyembur wajahnya.
Iya, Sehun tau jika pertemuan antara luka dan alkohol tidak pernah membahagiakan. Tapi haruskah Luhan berteriak kesetanan, menangis seperti bayi kucing lalu menerjang dada Sehun hingga tubuh lelaki itu mundur kebelakang ? Sehun rasa Luhan terlalu berlebihan dalam mengekspresikan rasa sakitnya.
Cukup lima belas detik Sehun memberi toleransi masa histeris pada Luhan, dan ketika waktunya berakhir, Luhan menjadi sedikit jinak. Luhan menunduk, masih dengan isakan yang benar-benar terdengar penuh luka. Sehun mengintip wajahnya, lalu ketika mendapati wajah Luhan benar basah, Sehun menyadari bahwa Luhan tidak berbohong. Dia benar-benar merasa sakit.
Tidak tau, ini bukanlah rencana Sehun mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi insting yang menuntun Sehun mendekap kepala Luhan agar bersandar didada bidangnya dan tersedu sepuas hati disana. Surai hitam lebat Luhan di usap halus dan disesap wanginya oleh Sehun.
"Apa masih perih?" Setengah berbisik, Sehun bertanya dibelakang kepala Luhan dan mendapatkan anggukan sebagai jawaban.
"Apa aku harus membunuh perihnya agar kau tidak menangis lagi ?"
"Lalu setelah itu giliranmu yang akan kubunuh Oh Sehun."
Sehun terkekeh dalam diam.
Lihatlah wanita pembangkang ini, sempat-sempatnya dia berbicara seperti itu.
"Tunggu sebentar lagi, perihnya akan hilang."
"Jika kau berani memberi lukaku alkohol lagi, akan ku cukur seluruh rambutmu!"
"Mengancamku ?"
"Iya! Anggaplah itu ancaman yang paling menakutkan. Karena ketampananmu akan hilang jika kepalamu botak."
"Jadi selama ini kau mengakui ketampananku dalam diam ?"
"Oh Sehun, kau membuat lukaku semakin perih."
Ada senyum lagi yang merekah dibibir Sehun, namun ketika Luhan melepaskan dekapan mereka ia menyimpan senyumannya menjadi ekspresi biasa-biasa saja.
Sehun kembali pada aksi pengobatan kaki sang pasien spesial, melabuhkan beberapa benda lain sebelum melilitkan perban yang membuat Luhan kembali meringis.
"Hun.."
"Hm?"
"Kurasa sudah cukup."
Sehun tidak menjawab,hanya mendongakkan kepalanya sebagai sebuah jawaban balik bertanya.
Luhan sangat tidak suka harus menjadi gagap setiap kali ditatap oleh makhuk ini. "A-aku bisa melilitkan perbannya sendiri. Kau bisa kembali ke kamarmu, beristirahat dan—"
"Membiarkanmu melakukan hal bodoh lagi ?"
"Apa?!"
"Aku tidak mempercayaimu, kau terlalu ceroboh dalam segala hal. Kau bisa saja memotong kakimu sendiri saat menggunting perbannya."
"Dan itu kakiku, jadi bukan masalah untukmu."
"Tentu saja itu masalah." Sehun menggunting perbannya lalu merekatkan sisi terakhir dengan plaster. "Harus kau ingat Luhan, kita masih teringat kontrak, jadi jika kau melukai dirimu sendiri, berarti kau juga melukai aset berhargaku. Dan aku sangat membenci hal tersebut."
Tunggu tunggu! Aset… berharga.
Luhankah ?
Wanita lain mungkin saja melayang mendengar permainan kata dari bibir pendusta Sehun, namun bagi Luhan, kata-kata Sehun seolah menampar pipinya dengan keras. Tersadar.
"Ya, aku hampir saja lupa." Ucapnya pelan, membuat Sehun berpikir apakah ia sudah mengakatakan sesuatu yang salah. "Aku tidak lagi memiliki diriku sendiri seutuhnya. Kau sudah membeliku dengan harga fantastis, aku harus berbagi diriku sendiri padamu."
Jari Sehun yang berada di telapak kaki Luhan—yang sedang berlabuh dipahanya—bergerak sejenak, mencari posisi lebih santai.
"Kau benar, aku wanita yang terlalu ceroboh. Tidak bisa mengurus diri sendiri, selalu menyulitkan orang disekitarku dan selalu bergantung pada orang lain." Luhan mengalihkan bola mata keatas, menahan sesuatu yang tiba-tiba mendesak perih dimatanya. "Sejak kecil aku selalu begitu karena tidak pernah terpikir olehku bahwa hidup sejahat ini. Aku tidak bisa melakukan hal apapun dengan benar sendirian karena itu aku selalu bergantung pada….." Yifan.
Jangan mengingat nama Yifan lagi Luhan. Kau milikku sekarang. Milik Oh Sehun!
"Bergantungah padaku."
Apa yang kau ucapkan Oh Sehun ?
Luhan, dengan gaun tidur hijau kelabus berbahan sutera berdada rendah, meremas ujung renda gaunnya yang setengah pada, sungguh kehilangan fokus pada kosistensi dirinya sebagai wanita yang mengutuk kelahiran lelaki semacam Sehun. Lelaki itu sudah berapa kali membuat Luhan harus menjilat ludahnya sendiri.
Lalu Sehun,
Sungguh, apa yang terucap benar-benar diluar kendali. Sehun bahkan bingung kenapa mulutnya mengeja lebih cepat daripada otak. Tapi yang lebih membingungkan lagi, dimana penyesalan yang Sehun cari-cari ? Kenapa ia tidak menemukan rasa sesal setelah mengucapkan kata yang dilontarkan tanpa kesadaran ?
Malah, kenapa rasa menggelenyar menggelitik hatinya ini yang keluar ? Kenapa Sehun merasa terkontrol ?
Haruskah ia menurutinya ? Kemauan hati untuk..
"Hun-ah.."
Ya Tuhan, suara lemahnya, tolong musnahkan atau aku akan benar-benar kehilangan apa yang dinamakan pikiran. Gairahku, bertahanlah dan control diri kalian. Aku sedan berusaha mengontrol diriku sendiri tapi…..
Sulit..
Mata sendunya, bibir tipis berbelah dan juga untaian rambut hitamnya yang jatuh tergerai.. Oh tidak! Aku kehilangan control!
"Hun.."
Sekali lagi suara Luhan memanggil Sehun nyaris putus, mata mereka bertemu dalam keheningan mengahanyutkan. Bibir Luhan terbuka, ingin menyampaikan sesuatu namun ia kehilangan kalimatnya. Beberapa kali goyah, Luhan mencoba sadar jika Sehun hanyalah memanipulasi perasaan agar ia dengan senang hati menyerahkan diri memuaskan hasrat lelaki itu.
Luhan terkesiap nyaris sadar, namun ketika diambang batas kesadaran dan keterbuaian yang memusingkan, suatu yang kenyal dan basah menyentuh kakinya, mentransfer getir-getir berbahaya yang memaksa dan tidak mengizinkannya untuk sadar.
Lalu ketika Luhan menunduk kebawah, menemukan sebuah ciuman mendarat dipermukaan kakinya yang luka, ia tau bahwa saat itu pula jalan untuk kembali pada kesadarannya telah ditutup sempurna oleh Sehun.
Oh Sehun.. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku ?
Cukup lama ciuman Sehun dipermukaan kakinya baru berakhir, menyekap Luhan dalam ketertegunan begitu jelas. Luhan sendiri merasa rasa yang tidak wajar telah mengotak atik isi dalam perutnya hingga ia merasa mual. Bolehkah Luhan bahagia saat ini ?
Oh ayolah, izinkan Luhan untuk bahagia sebelum…
"Aku suka celana dalammu malam ini. Tipis, membuatku penasaran. Haruskah aku membelikanmu yang lebih tipis lagi ?"
"Apa ?!"
"Celana dalammu."
1..
2..
3..
"YAAAKKK! OH SEHUN! KAU!" MENGINTIP CELANA DALAMKU DARI TADI ?!
.
.
.
.
Plis, ampuni gue plis. Gak tau dah ini nulis apaan. Sebenernya chapter ini udah ditulis, tinggal update doing (dan cerita awalnya gak kayak gini), tapi kesialan menimpa gue. Masa habis nulis lanjutan setengah dari chapter 5 sampe selesai, gue lupa nyimpen file-nya ellaaahhh T.T dan saat mau update gue harus nulis ulang. Begini deh hasilnya, asal nulis dan tanpa di editing. Jadi maaf banget kalo di chapter ini banya banget kesalahannya dan semakin membosankan.
Berhubung ini bulan puasa, jadi gak gue kasi ehem ehemnya. Gue mau tobat dulu sementara boleh ? habis puasa kita lanjut ehem ehem nya pemisah :D
Oh ya, buat reader yang nanya gue suka sama ECLAIRE OH apa enggak, karena tulisan gue rada mirip sama dia, gue Cuma mau bilang:
GUE, ATAS NAMA HUNJUSTFORHAN, MENGATAKAN BAHWA GUE FAN-NYA ECLAIRE OH! DIA ADALAH AUTHOR HUNHAN FAVORIT UTAMA GUE, DIA INSPIRATOR GUE, DIA ADALAH AUTHOR YANG SETIAP FF HUNHAN-NYA SELALU BISA BIKIN GUE ASDFGHJKLASDFGHJKLASDFGHJKLASDFGHJJK!
JIKA LO BILANG TULISAN GUE MIRIP SAMA ECLAIRE OH, LO SALAH MAMEN. TULISAN GUE MASIH BELUM SEKAYA, SEKEREN DAN SEMEGAH (?) TULISAN ECALIRE OH. MASIH JAUUUUUUUUUUHHHHHH/ eh busyet, jauh amat -_-/ KALO EMANG LO BILANG TULISAN GUE MIRIP SAMA ECLAIRE OH, HUAAAAA, GUE CIPOK BIBIR LU AMPE MONYONG DAH GAK LAGI PERAWAN, KARENA ITU SUATU PUJIAN TERHORMAT BAGI AUTHOR KAGAK JELAS KAYAK GUE. HAHAHAHA
/nah loh, capslock jebol :D/
Tapi enggaklah, gue sendiri aja merasa kemampuan menulis gue masih jauh banget dari ECLAIRE OH. Tiap kali baca FF tuh kopel separuh sandal swallow kesayangan, gue selalu berpikir, ini orang makan novel berapa ratus lembar perhari ampe penulisannya bisa seketjeh itu. Wuahaha
Nah loh, kira-kira ada yang mau jadi shipper gue sama Eclaire Oh gak ? Nama kopel kita "SPHADLOR". WUIIHH, KEREN KAN ?
Kepanjangannya = Separuh Beha dan Separuh Kolor.
Wuaahahahahaha
.
Ya udah deh, gue rasa cuap-cuap gue lebih panjang dari FF. wkwk
Buat semua readers yang always sabar menunggu, gue mau bilang, AI LOP YU :*
