You're Just Fine

By: AquaIta

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: T+ (for now)

Warning: Older-younger relationship (Naruto 22 thn, Sasuke 11 thn), mental disorder in children, abnormal love infatuation, OOC, IC, mention of abuse, typos (maybe), maaf jika ada sebutan kasar penyakit tertentu, slow build, dll.

Pairing: SasuNaruSasu

Don't like, Don't read!

Summary: Naruto, seorang ANBU. Sasuke, anak kecil yang selamat dari insiden pembantaian Uchiha. Siapa sangka, melihat pembunuhan massal di depan matanya akan membuat Uchiha muda yang awalnya jenius itu menjadi… keterbelakangan mental? "Dia menjadi labil, tidak mau bicara, dan terlihat seperti orang idiot—bukan idiot sepertimu, Naruto—maksudku, benar-benar idiot." Dan Naruto harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normalnya karena Sasuke menjadi terobsesi padanya.

.

.

.

Naruto tidak pernah menyangka akan datang hari dimana dia begitu senang saat mendapati rumahnya kosong.

Tidak ada seorang bocah yang membuat bahunya terasa berat saat akan membuka pintu. Tidak ada Sasuke yang akan merusuh di ruang tamu dan mencabuti semua hiasan bunga plastik yang ada. Tidak ada Sasuke yang selalu menatapnya tanpa berkedip.

Rumahnya sangat tenang.

Tidak mampu menahan perasaan lega yang membuncah, Naruto melempar dirinya sendiri ke tempat tidur, membiarkan tubuhnya terpental beberapa kali sebelum memeluk bantal dan menekan wajahnya begitu dalam hingga ia sulit bernapas.

Naruto semakin menenggelamkan wajahnya.

Setidaknya dengan ini dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa sesak yang mencekiknya bukan karena Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Hal yang pertama Sasuke lihat adalah, langit-langit kamar yang terlalu terang untuk matanya.

Seingatnya, langit-langit rumahnya tidak secerah ini. Langit-langit yang selalu berada di atas kepalanya bewarna kusam dan sangat tinggi, terlalu tinggi untuk lehernya yang masih pendek sehingga dia sering merasa sakit jika terlalu lama mendongak keatas. Na sering mendorong belakang kepalanya agar ia kembali melihat ke bawah, tapi di atas banyak sarang laba-laba yang menggantung, terlihat sangat halus dan dia ingin sekali kesana untuk menyentuh benda tipis itu dan merasakannya di ujung jarisehinggadiabisabermaindenganbanyakbenang-benangyangtipis—

"SASUKE!"

Seseorang memanggil namanya, tapi nada suara itu terlalu keras untuk telinganya. Dan terlalu melengking, padahal dia lebih suka suara yang berat—ngomong-ngomong dia melihat jaring laba-laba lain di sudut sebelah kanan—

"SASUKE!"

-tapi benang halus itu terlalu jauh, mungkin Na bisa membantu mengambilnya…

"Na?"

Sasuke bersiap mendengar decakan tajam atau desisan yang biasa dia dengar jika nama itu meluncur dari bibirnya. Terkadang Na hanya menatapnya dengan bola mata yang menonjol. Sasuke terkikik, mata biru itu terlihat jauh lebih cantik ketika Na seperti ingin mengeluarkan bola matanya.

Tapi dia tidak mendengar apapun. Apa mungkin ini karena jaring laba-laba itu? Apakah Na juga sedang melihatnya sehingga tidak mendengar Sasuke?

Atau mungkin Na sedang sibuk.

Sasuke merasakan matanya mulai berair. Dia ingin bertemu dengan Na.

Tapi kalau Na sedang sibuk, pintu kamarnya selalu tertutup.

Dan tidak pernah terbuka walau dia menangis keras sekalipun.

.

.

.

Punggung Sasuke yang kurus membelakanginya dan melekuk kedalam, menunjukkan tonjolan tulang bahu yang kentara. Bocah itu telah kehilangan berat badan secara drastis sejak 1 minggu terakhir, namun baru-baru ini adalah yang terparah. Dia sama sekali tidak mau makan, hanya minum saat bibirnya sudah terkelupas dan tenggorokannya terlalu kering. Pasokan nutrisinya terpaksa dilakukan melalui selang yang dipasang sekali sehari.

Sasuke akan membunuh dirinya sendiri jika ia tidak berhenti.

Satu-satunya yang menghibur Sasuke adalah suara langkah kaki yang terkadang menuju kamarnya. Mata hitam itu akan lebih terang, menatap penuh harap pintu yang akan terbuka. Dan saat itu, hanya disaat itu, Tsunade dapat melihat masa depan cerah yang pernah dimiliki oleh Sasuke, melihat masa kejayaannya sebagai seorang Uchiha dulu.

Tapi kemudian Sasuke akan tersedak ludahnya sendiri, mata gelap itu akan mulai berair, ketika pintu terbuka dan tidak ada mata biru laut yang menemuinya.

Tidak sama sekali.

Naruto benar-benar memutuskan untuk menghapus Sasuke dalam hidupnya. Tidak pernah sekalipun dia menjenguk Sasuke, bahkan untuk sekedar menanyakan kabarnya saja tidak. Pemuda sial itu menghindari orang-orang yang berurusan dengan Sasuke sampai sekarang, bahkan dia tidak menghiraukan panggilan misi Tsunade dengan kurang ajarnya.

Wanita itu tidak menyangka Naruto sepengecut ini.

Tsunade kembali mengamati Sasuke yang kini tengah bernyanyi. Anak itu memeluk kedua lututnya sendiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Matanya tersembunyi di balik poni yang sudah memanjang, bibirnya yang kering bergumam tanpa henti.

Tsunade menutup kedua matanya.

Anak itu benar-benar rusak.

Dan Naruto—telah menghancurkannya hingga berkeping-keping.

.

.

.

Sai tidak menyukai keadaan ini.

Tidak sama sekali.

"Sampai kapan kau mau main kucing-kucingan begini?" desah Sai dengan kedua bola mata berputar, membuat wajahnya yang menyebalkan naik tingkat menjadi menjijikkan di mata Naruto.

"Untuk seseorang yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, kau cukup tidak tahu malu untuk mencampuri urusanku." Balas Naruto, mendecih keras.

Di antara semua orang, semua orang yang hidup dan bisa berjalan di Konoha, hanya Sai yang menemukannya bersembunyi di balik air terjun. Bahkan Iruka—yang ia ketahui dari Sai telah memburunya selama dua hari berturut-turut dan Kakashi yang terobsesi mempersembahkan kepalanya di depan patung Hokage—tidak bisa menemukannya.

Naruto jadi bertanya-tanya sendiri apa yang telah dilakukannya di masa lalu sampai takdir sebenci ini padanya.

"Kau semakin jahat," nada sedih yang melankolis. "Menutup diri pada orang yang peduli padamu dan bersembunyi seorang diri—apa ini aliran masokis sekte baru?"

Naruto ternganga sejenak. Apa katanya tadi?

Menahan sumpah serapah yang sudah berada di ujung lidah, Naruto memutar kepala dengan kecepatan yang hanya dimiliki seorang Anbu dan memberikan tatapan paling jahat yang bisa dilakukannya.

"Satu-satunya hal masokis yang kulakukan adalah mengenalmu dan tidak membunuhmu di saat itu juga."

Gelak tawa Sai teredam dalam riuh air terjun yang mengalir deras.

"So?" Sai melemparkan pantat sialnya di samping Naruto dan bersender di bahunya. "Berminat curhat padaku?"

Naruto menatap Sai skeptis.

"Dan apa yang akan kau lakukan?"

Tatapan Sai penuh konspirasi sekarang. Insting Naruto menyuruhnya untuk menjauh.

"Hm… Let's see," Sai mengerenyitkan dahi, mencari ide. Sepertinya gagal. "Menurutmu bagusnya bagaimana?"

Naruto menatap Sai tak percaya. Apa monyet ini baru saja bertanya padanya apa yang harus dilakukan setelah dia sampai kemari?

"Bagaimana kalau kupeluk?"

Naruto menggertakkan gigi. "Bagaimana kalau menjauh dariku untuk selamanya?"

Sai menggeleng tidak setuju. "Tidak bisa, diluar kemampuanku," dan sebelum Naruto sempat bertanya apa maksudnya, Sai melanjutkan. "Bagaimana kalau kucium?"

"Mau dibunuh?"

Sai tersenyum kecil, mendekat, mengalungkan lengan di pinggang Naruto dan berbisik. "Hanya kita berdua disini, kau tahu? Kita bisa, ah—meredakan rasa frustasimu sedikit."

"Hanya karena aku membiarkanmu dekat denganku sekali," Pikiran Naruto melayang ke skandal di kantor hokage dan merinding. "Bukan berarti aku ingin melakukannya dua kali."

"Kau berkata seperti itu," gumam Sai. Mata berkilat usil. "Tapi kau tidak"—dia mengeratkan lengannya di pinggang Naruto. "—tampak keberatan sama sekali."

Naruto benar-benar serius ingin melempar Sai ke dalam air terjun sekarang.

Tapi tidak, dia hanya diam. Karena entah mengapa, memiliki seseorang sebegini dekat, hingga ia bisa merasakan panas yang menguar dari kulit Sai, merasakan hembusan napas di kepalanya—

—yang kemudian membuatnya tersentak dan menjauhkan diri dari Sai. Tidak mungkin dia bisa melakukan yang tidak-tidak sementara Sasuke entah bagaimana kabarnya di luar sana. Dia tidak sekampret itu.

"Pergi."

Sai menaikkan sebelah alis, jelas terhibur melihat bagaimana Naruto bisa bergerak menjauh darinya dengan begitu cepat.

"Kau bukan seorang pengecut," ucap Sai lambat-lambat, menikmati setiap kata yang bergulir dari lidahnya. "Tapi kenapa kau lari?"

Naruto tersenyum miring.

"Aku melarikan diri karena aku masih punya hati—"

"—Yang kecil, jelek, dan mengerut seperti kacang polong. Seriously, Uzumaki."

Naruto tersenyum miring, menyandarkan kepalanya di bahu Sai dan mendesah panjang. "Karena terkadang—" Naruto menyamankan posisi kepalanya. "—seorang monster pun butuh sandaran, walaupun itu didapat dari orang yang kau benci sekalipun."

Sai menatapnya. Lama.

"Aku tidak menyangka bocah itu akan membuatmu sampai seperti ini." Ucapnya perlahan. "Naruto yang kukenal adalah seorang idiot. Kau begitu idiot sampai kau tidak tahu bahwa kau harus jatuh apabila beban yang terlalu berat menimpamu—" tangannya tanpa sadar mengelus helaian kuning halus di pundaknya. "—walau kau punya hak untuk itu."

Naruto tertawa kecil, rendah.

"Apa yang terjadi disini?" kekehnya terhibur. Hidungnya menyentuh dagu Sai ketika dia tergelak. "Apa kau baru saja menghiburku?"

Sai tersenyum tipis.

"Tidurlah," bisiknya. "Setelah kau bangun aku akan kembali menganggumu. Tapi untuk kali ini—" Sai menggeser posisinya dan memaksa kepala kuning itu untuk merebah di pahanya.

"—Biarkan aku menjadi orang baik untukmu. Hanya kali ini saja."

.

.

.

"Makanlah, Sasuke."

Kalimat yang sama terucap berulang-ulang, tapi anak itu sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa dia mendengar.

"Aku mempunyai daging sapi yang enak disini. Aku tahu kau suka daging, jadi makanlah."

Shizune menunggu, berharap pada segala dewa bahwa Sasuke akan memberikan respon. Tapi tidak, bocah pesakitan itu hanya duduk diam, dan menggoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai.

Wanita itu berusaha menahan air mata yang nyaris tumpah.

"Ayolah, makan Sasuke. Kau tidak harus makan melalui selang lagi jika kau memakan ini. Tenggorokanmu sakit, kan, jika ditanam selang sepanjang hari. Ayo, makanlah."

Shizune menyodorkan sendok ke bibir Sasuke yang pucat, berharap mulut itu akan terbuka, atau minimal Sasuke akan menjauhkan kepalanya dan menggelengkan kepala. Apapun, respon apapun akan diterimanya dengan senang hati.

Tapi Sasuke hanya diam, tidak bergerak kecuali kedua kakinya yang seakan bergerak ke depan dan ke belakang otomatis. Bahkan pupil matanya pun tidak berkontraksi sama sekali.

Menarik napas tajam, menelan kembali rasa kasihannya bulat-bulat, Shizune meletakkan mangkuk yang hanya berubah bentuk isinya sedikit ke meja dan berlutut di hadapan Sasuke.

"Apa yang kau inginkan?" ucapnya dengan nada selembut mungkin. Sungguh ajaib Sasuke membiarkannya berada dalam jarak sedekat ini dengannya, jika mengingat dulu anak ini nyaris mencabut setengah rambut kepalanya saat pertama kali mereka bertemu.

"Apa yang kau inginkan, hmm? Aku bisa membelikannya jika kau menginginkan sesuatu."

Awalnya Sasuke tidak merespon, namun Shizune dapat melihat kilatan kecil di kedua mata yang bewarna mati itu. Lalu perlahan, sangat perlahan, Sasuke mengangkat kepalanya.

"—aa…"

Dada Shizune seakan disumpalkan kapas sepenuh-penuhnya. Napasnya nyaris sesak karena rasa antusias yang terpendam selama berhari-hari. Akhirnya, akhirnya, setelah 3 hari, Sasuke kembali menggerakkan bibirnya untuk pertama kali.

"Ya? Ya? Apa yang kau inginkan? Katakan saja! Aku akan mengusahakannya!"

Butuh waktu lama bagi Shizune untuk menangkap gumaman Sasuke. Namun ketika dia akhirnya mendengar dengan jelas, tanpa sadar Shizune mengepalkan tangannya.

"Maaf, kalau itu aku tidak bisa. Dia… tidak bisa kesini."

Kelopak mata Sasuke berkedip lambat, perlahan dia mengangkat kepalanya dan menunjukkan kepada Shizune bahwa sepasang mata, ternyata dapat menyorot setakut itu.

"Ka… pan…" suara Sasuke terdengar seperti decitan kursi dengan lantai, menyakitkan. Setiap silabel seakan menggesek kerongkongannya yang kering dan membuatnya terlihat seperti akan muntah kapan saja.

"Kaa…pan… N-Na pu…lang?"

Suara yang mengerikan itu terdengar lirih, namun harapan yang begitu besar seakan diteriakkan di penjuru ruangan.

Shizune tak kuasa menahan isak kecil meluncur dari bibirnya. Dengan tangan bergetar, dia mengenggam tangan Sasuke yang dingin.

"Naruto," Shizune memaksa dirinya menatap mata Sasuke, dan menangis kala melihat mata hitam yang bersinar begitu mendengar nama pemuda itu disebut.

"Naruto… dia tidak akan pulang lagi."

Dan apabila Shizune menganggap bahwa mata Sasuke yang semakin tertutup adalah hal paling mengerikan yang terjadi hari ini, maka tangan Sasuke yang mendingin adalah hal yang membuatnya berteriak kesetanan seperti orang gila.

.

.

.

.

.

.

Pagi itu, adalah hari yang kesebelas.

Dan Naruto, mendapat kabar bahwa Uchiha Sasuke telah mati.

.

.

.

TBC

Oke, Ita akui ini singkaaatt banget. Ini lebih ke filler sih. Tapi Ita udah ga sanggup lagi ngegantungin para readers lebih lama. Jujur, Ita awalnya penuh dengan ide saat pertama kali buat fic ini, tapi setelah skripsi menyerang… Fokus Ita seakan ga bisa lepas dari tugas akademik. Derita mahasiswa semester 5… (TmT)

Ita ga akan ninggalin fic ini, tapi untuk update yang cepet, Ita ga bisa janji. Utk sekarang Ita cuma berani janji paling gak sebulan sekali update, tapi kalau lebih cepat… *korek-korek pasir

Dan untuk para reviewer! Tau ga kalo kadang Ita suka liat lagi review kalian pas lagi down? Rasanya seneng banget, ada yang ngasih semangat untuk sesuatu yang Ita lakukan. Terima kasiihh banyak, Ita selalu baca dan kadang cekikikan sendiri liat review para reader. Dan maaf kalau Ita updatenya terlalu lama. Untuk review chap kemarin, Ita belum sempat balas, tapi di chap depan akan Ita balas kok.

Ugh, ini apaan ya ada sesi curhatnya. -_-

Mind read and review?