-HUNjustforHAN-

-Present-

.

.

.

.

-Desire-

.

Chapter 6

.

.

.

.

Ada beberapa hal yang sulit Sehun pahami, salah satunya adalah tentang bagaimana ia merasa egoismenya yang berkuasa kalah hanya karena isakan tangis sesak seorang wanita. Sehun bukanlah lelaki polos yang tidak pernah melalui titik-titik cinta, ia pernah.

Irene.

Jadikan saja wanita cantik bertubuh langsing itu sebagai salah satu bukti bahwa Sehun pernah tau apa arti kata tak logis yang disebut cinta.

Irene.

Satu-satunya nama wanita yang Sehun biarkan terekam dalam memori briliannya dengan selang waktu yang lama. Wanita yang pernah mendetakkan jantung Sehun bekerja dua kali lebih cepat, wanita yang berhasil mengucurkan peluh usaha dipelipis hitam arogan Sehun karena mencintainya. Dan Irene pulalah yang menjadi alasan mengapa sisi gelap dari seorang Oh Sehun menguar seperti uap air panas.

Sehun tidak pernah berpikir bahwa kembali pada sisi lembut dari dirinya bisa terulang untuk kedua kali, Sehun bahkan sempat yakin jika pilihan hidup untuk menjadikan wanita hanya sebagai objek pelampiasan pelepas nafsu birahi adalah sesuatu yang sangat tepat. Wanita cantik dan berharga mahal di negeri ini berbondong-bondong datang bersama lipstick merah menyengat, robekan gaun dipaha dan belahan payudara yang hampir nampak puting, memohon pada Sehun untuk dipuaskan akan permainan dominannya yang terkenal memuaskan.

Sehun tidak suka memaksa seseorang tidur dalam ketidakrelaan diranjangnya, ia tidak suka menjadi lelaki berharga diri rendah hanya demi menanamkan diri dalam tubuh seorang hawa. Sehun bahkan hampir mendapat masalah ketika menolak menyetubuhi anak perdana menteri yang telah telanjang bugil di kamar suite hotel bintang lima hanya karena wanita itu memalingkan wajah saat Sehun menciumnya.

Tapi..

Ada yang salah dan Sehun benci mengakui ada pengecualian disini.

Luhan.

Astaga. Sehun nyaris murka karena harus mengakui hal ini. Sehun murka mengakui bahwa harga dirinya yang tinggi sebagai lelaki dominan juga tengah dipertaruhkan ketika mempermainkan harga diri Luhan dibawah kendali gairahnya. Sehun terlihat sangat kehausan hasrat akan tubuh mulus putih berlekuk Luhan.

Pagi ini, dengan setelan hitam berkemeja biru, tatanan rambut naik keatas dan juga bibir merah tipis yang tidak pernah disengajanya jadi menggoda seperti itu, Sehun tidak sabar menemui Luhan-NYA dan menginginkan wanita itu masih terlelap dalam tidur. Sehun menyukai mulut Luhan yang membuka sebesar jari kelingking.

.

.

.

.

Bumi menghangat. Dia, wanita mungil yang masih bergelung selimut tebal bergerak gelisah. Ujung kakinya masih baik-baik saja, tidak mengkerut ataupun menggigil, tapi rasa dingin itu menggelitik seperti ada angin bertiup disana yang membuatnya semakin memasukkan diri lebih erat dalam gulungan hangat, lalu diujung kegelisahannya yang mulai membaik, dia memekik kecil—refleks menarik kaki dan bersandar di kepala ranjang—berkespresi kaget sekaligus takut. Ada rasa perih mencubit permukaan kakinya mendadak. Dia terperangah.

"Apa aku menyakitimu ?"

Pertanyaan pertama di awal pagi.

Layaknya orang kebingungan, dia harus mengerjab beberapa kali dulu sebelum bertambah kaget. Ada seseorang duduk diujung, disisi ranjang bersama dengan surai hitam legam mempesona.

Pria berkemeja biru tua.

"A-apa.. yang kau lakukan dikamarku ?"

Si kemeja tua mengendikkan bahu, acuh pada pertanyaan tapi gerak tangannya membuat si gadis bangun tidur terkesiap. Tangan kekar berisi jemari mengesankan itu meraih pergelangan kaki yang bersembunyi dibalik selimut. Si pemilik kaki tidak mengizinkannya begitu saja, perlu sedikit paksaan seperti biasa ataupun sekedar tautan mata saling menantang, menunggu hingga salah satu dari mereka kalah, maupun terpaksa mengalah.

"Kemarikan kakimu."

"Tidak!" kepala mungil menggeleng, menunjuk botol cair yang terkulai lemah disamping paha si kemeja biru. "Selama disisimu masih ada benda itu, jangan pernah berani menyentuh kakiku." Ancamnya yang terdengar seperti batuk berdahak ayam betina.

Pria itu menoleh kesamping; tempat dimana tunjuk si mungil menginterupsi dan dipaksakan harus puas menghela napas dalam diam. "Aku oleskan sedikit saja."

"Tidak!"

" Kau mau lukamu infeksi ?"

"Kau sudah berjanji tidak akan memberi lukaku alkohol lagi, Oh Sehun!"

"Luhan, hanya sedikit dan tidak akan sesakit semalam."

"Kau pikir aku percaya ?"

"Hanya sedikit!"

"Tidak Oh Sehun!"

Oh Tuhan! Wanita ini membentakku. Memang ada berapa nyawanya !

"Luhan, berikan kakimu."

"Sudah kubilang tidak. Aku akan mengobatinya sendiri ."

"Dan kau pikir aku akan membiarkan wanita ceroboh sepertimu mengobatinya ?"

"Apa ? Wanita ceroboh ?!"

"Kau bisa saja menggunting kakimu sendiri."

Sehun berujar sangat santai, tidak pernah memikirkan betapa besar mata Luhan membulat karena dikatai wanita ceroboh. Luhan memang sering melakukan kesalahan konyol dalam banyak hal, seperti mengeritingkan rambutnya hampir hangus ataupun menumpahkan coklat kental pada sepatu baru Kyungsoo, tapi dia tidak seceroboh itu, maksudku dia tidak seceroboh apa yang Sehun ucapkan. Karena baginya saat mendengar Oh Sehun mengatakan hal tersebut, Luhan benar-benar merasa parah.

"Lalu apa masalahmu ?! kaki ini milikku jadi aku akan mengurus dan memperlakukannya sesuka hati. Kau tidak perlu membuang waktu berhargamu hanya demi mengolesi kakiku dengan cairan keparat itu karena aku tidak akan ma-AWW!" Luhan menyentuh keningnya.

Sehun meletakkan sebuah sentilan yang sebenarnya tidak seburuk pekikan Luhan.

"Kau bisa diam sekarang ?"

Apa-apaan lelaki ini menyentil dahiku sesuka hati, batin Luhan berteriak. Tapi pada kenyataannya apa yang bisa Luhan lakukan hanyalah menggembungkan pipinya yang mulai gembul dan tidak pernah tau jika dengan berbuat seperti itu malah mengkontaminasi kesabaran Sehun untuk menggigit semuanya.

Luhan, berhenti bersikap menggemaskan!

"Kakimu, sekarang."

"Oh Sehuuuun..."

"Oke.. Oke.. Kau menang." Sehun meraih botol alkohol disampingnya lalu dengan gerakan seorang ahli dia melempar tepat kedalam tong sampah kecil samping nakas dan mempersembahkan raut wajah 'Kau puas ? Aku sudah membuangnya' pada Luhan.

Luhan bertingkah dengan mengerjabkan matanya tanpa dosa, sesuatu yang selalu sukses membuat Sehun merintih akan keinginan memojokkan Luhan kesudut ruangan lalu diberi sedikit tindakan biadap. Menarik baju Luhan atau pun meremas payudaranya, mungkin ?

"Sekarang aku bebas alkohol, jadi tidak ada alasan lagi."

Kaki Luhan seolah punya keegoisme'annya sendiri, masih merekat bertahan, ragu untuk menyerahkannya dalam raihan jemari gemilang Sehun.

"Hanya mengganti plasternya dan itu tidak akan sakit." Bujuk Sehun tercurah tanpa sadar. Tapi Luhan –bersama batu dikepalanya- masih tidak bergeming, menaruh perhatian penuh penyelidikan terhadap Sehun. Sehun membalas tatapannya dengan pesan berisi 'Ada apa lagi ?' dan cukup menyenangkan saat Luhan mengerti.

"Kau yakin hanya ingin mengganti plasternya ?"

"Hm."

"Atau kau memiliki tujuan tertentu ?"

"Maksudmu ?"

Luhan mengisyaratkan pendekatan wajah, ciri khas suatu perbisikan dimulai.

"Kuberitahukan padamu, OH SEHUN, bahwa aku telah mengganti celana dalamku. Jika kau hanya ingin mengintip celana dalam seorang wanita, maka kau tidak akan mendapatkannya pagi ini!"

Laki-laki itu menyempilkan senyum kecil menyebalkan.

"Tenang saja." Sehun membalas bisikan Luhan. "Jika hanya demi melihat celana dalammu, aku tidak harus melakukan hal ini. Ingat Luhan, kau terlalu lemah untuk melawanku." Sehun menarik kepala menjauh namun senyum miring bergairah masih dan makin terbesit diujung bibirnya. Bulu Luhan bergidik setiap kali menerjemahkan senyuman tersebut.

"Aku tidak selemah itu Oh Sehun."

"Kau yakin ?"

"Tentu saja."

"Bagaimana kalau kita uji seberapa kuat dirimu ?"

"Siapa takut ?"

"Kalau begitu bersiaplah."

"Memangnya kau akan menguji seperti apa ?"

"Yang jelas kau harus bersiap."

"Bersiap untuk ?"

Sehun mendekat, menyelinap di atas pundak sempit Luhan yang harum.

"Bersiaplah mempertahankan celana dalammu karena sekarang aku berniat menelanjangi seseorang."

"Oh Sehun, K-Kau.. Bercanda,kan ?"

"Menurutmu ?"

"...AAAAAAA! BERHENTI!"

.

.

.

.

Sarapan menyebalkan. Sehun yang merasa bodoh karena tidak bisa mengontrol diri untuk menyimpan senyum terbaiknya dan Luhan yang manyun sepanjang sarapan. Konyol sekali. Sehun menertawakan diri sendiri ketika ingat kejadian setengah jam lalu. Apa yang sebenarnya sedang merasuki otak briliannya hingga dengan tidak tau malu ia mencoba berebut celana dalam di pinggang Luhan dan merasa puas bukan main saat melayang-layangkan segitiga sutera itu keudara. Beribu sumpah Luhan kutuk untuk Sehun yang telah membuatnya harus menyembunyikan ketelanjangannya dibalik selimut.

Ini bahkan terlalu pagi untuk berbuat yang tidak-tidak.

Walaupun titik intim belum memasuki apa yang orang-orang sebut dengan morning sex dan Sehun tidak menyetubuhinya dengan keras seperti malam-malam lalu, tapi tetap saja kenyataan tadi pagi bahwa Sehun berhasil menanggalkan celana dalamnya membuat pancake coklat buatan tangan paris Xiumin melekat tepat ditengah tenggorokan Luhan. Baru kali ini Luhan percaya jika coklat benar-benar pahit. Sialnya lagi, lelaki itu memaksanya untuk sarapan berdua.

Hal yang membuat Luhan memutar bola mata jengah adalah tidak ada penolakan dalam kamus seorang Oh Sehun.

Benar-benar sial!

"Cepat habiskan pancakemu."

Luhan menoleh sekilas, merasa lebih baik dengan permainan pisau mentega diatas rotinya daripada melihat wajah penuh selera milik Sehun.

Bahagia sekali si keparat.

"Bibirmu bisa saja memanjang jika terus mengkerucut seperti itu."

"Bagaimana bisa kau makan dengan begitu lahap setelah melakukan pelecehan terhadap seorang wanita ?"

Sehun tersedak, meraih goblet berkaki tinggi disamping kanan lalu meneguk setengah air mineral. Kata 'Pelecehan' menggerayang ditenggorokan hingga rasanya Sehun bisa terkena panas dalam setelah ini.

"Kau bilang apa? Pelecehan ?"

"Ya, pelecehan! Menarik paksa celana dalam seorang wanita itu termasuk pelecehan."

"Lalu membuatmu mendesah dan orgasme juga termasuk pelecehan ?"

"Yak! Bagaimana bisa kau membawa topik seperti itu ketika sarapan ?"

"Kau yang memulai, Luhan."

Mulut Luhan terkatup, mengkerucut kesal lagi karena ia kalah. Hal yang sungguh menyebalkan ketika kalah berdebat dengan Oh Sehun.

Diteguknya teh hangat dalam cangkir bening berukir rekah bunga mawar dengan cepat dan menghabiskannya tanpa etika.

Sehun memperhatikan Luhan dan dia mengernyit setelah Luhan menyelesaikan secangkir teh. Minuman yang selalu Sehun temui ketika mereka berdua sarapan, dan cangkir bening itu berada dipihak Luhan.

"Jangan terlalu banyak minum teh. Walaupun bagus, tapi Teh juga mengandung kafein yang dapat merangsang kontraksi pada rahim. Itu bisa menyebabkan keguguran."

Luhan tercengang beberapa detik. Memang siapa yang hamil ? Nenekmu ?! lalu demi mengaburkan kegugupannya dia melirik cangkir putih pucat disisi kanan Sehun, tepat disamping goblet berkaki tinggi semampai.

Luhan mengangkat dagu. "Apa menurutmu kopi bagus untuk kesehatan ? Kandungan kafeinnya bisa meningkatkan detak jantung. Berhati-hatilah, kau bisa saja mati mendadak karena terkena serangan jantung."

Kau mengutukku ?

.

.

.

.

Ravi, laki-laki yang memperbaharui penampilannya dengan kacamata bening berbingkai hitam dan rambut coklat tua diberi kilas samping kiri, sedang berdiri berhadapan dengan Sehun yang duduk di kursi kantornya membaca beberapa laporan terpenting.

Ada beberapa tumpukan laporan dan Sehun hanya memilih yang terpenting. Salah satu yang terpenting adalah membaca ulang kontrak jual beli diri Luhan yang telah ditandatangani Wu Yifan.

"Pertama, aku ingin mendengar tentang Selvi." Ujarnya masih berkutat diatas laporan.

"Semua kontrak yang telah ditandatangani maupun yang menanti nona Selvi sudah saya bereskan dan semua pihak yang berhubungan dengan pekerjaannya telah mengundurkan diri satu persatu. Kita telah memblokir seluruh mata pencaharian nona Selvi, dan dengan hidup mewah sebagai seorang model, tabungannya tidak akan cukup untuk menghidupinya kurang dari enam bulan."

"Pastikan dia tidak mendapatkan pekerjaan apapun selama setahun. Bayar semua denda untuk pembatalan kontrak."

"Baik, Tuan."

"Lalu bagaimana dengan Wu Yifan ?"

"Tuan Wu Yifan masih menjalankan bisnis toko rotinya namun lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Tidak jarang saya mendapati Tuan Wu Yifan menginap di apartement nona Selvi."

Sehun tertawa mengejek. "Si bodoh itu, dia benar-benar telah dibutakan seorang pelacur."

"Tapi Tuan.."

"lanjutkan."

"Walaupun kita telah memblokir seluruh pundi uang noa Selvi, namun saya mendapati fakta bahwa tuan Wu Yifanlah yang menghidupi nona Selvi selama seluruh kontraknya dibatalkan. Bahkan beberapa kali saya melihat nona Selvi berkunjung kerumah pribadi tuan Wu Yifan."

Sehun melepas laporan dokumen ditangannya setengah marah. "Jadi maksudmu Wu Yifan yang memberikan Selvi uang ?"

"Ya, benar Tuan."

"Aku tidak tau jika Wu Yifan masih bisa sesombong itu." Sehun mempersembahkan tawa bernada mengolok lagi. "Tapi cukup bagus. Apa yang akan terjadi jika aku memberitahukan tentang kesombongan kakak kebanggannya itu kepada Luhan ?."

"Apakah anda akan memberitahu nona Luhan mengenai masalah ini, tuan ?"

"Bukankah jika Luhan tau maka keadaan bertambah menarik ? Dengan begitu dia akan berpikir bahwa tidak ada lagi tempat didunia ini yang bisa dituju selain, Aku."

Ravi bernapas cepat, menahan keringat dingin akibat terlalu bingung menempatkan Sehun pada posisi baik ataupun jahat. Sehun nampak sangat terobsesi pada Luhan dan hal tersebut cukup menakutkan bagi Ravi. Sehun tidak pernah setertarik ini pada wanita dan Ravi menaruh curiga jika Sehun tidak akan melepaskan Luhan bagaimanapun keadaannya..

"Ravi.."

"Ya ?"

"Apakah aku ada jadwal meeting siang ini ?" Sehun mengkoreksi jam di pergelangan tangannya yang penuh wibawa.

"Ya, tuan. Anda memiliki pertemuan dengan klien Jepang pukul 2 sore nanti."

"Batalkan. Aku punya jadwal lain yang lebih penting."

"Jadwal lain ?"

"Menemui Luhan."

"T-tapi.."

"Siapkan mobil. Aku akan pulang sekarang."

"Tuan, klien kita—"

"Aku percaya kemampuanmu. Kau bisa mengatasinya." Sehun tersenyum diatas peluh dingin Ravi. "Oh ya, handphone baru Luhan, apa kau membawanya ?"

"Sudah saya letakkan dimobil anda."

"Bagus."

Hah..

Oh Sehun yang menyebalkan kembali lagi, keluh ravi dalam hati.

.

.

.

.

Ada decak tawa gembira bergema di salah satu ruang silver istana Sehun. Laki-laki itu baru datang, berwajah ceria namun tetap menjaga kedinginan menyelimuti wajahnya yang ia pikir itu adalah salah satu poin ketampanan.

Sehun berhenti dilangkah ke tujuh dari pintu, renyah tawa itu terdengar lagi dan membuat telinganya menajam seperti kelelawar tengah malam. Sehun mengikuti alur langkah yang membawanya pergi,mencari, melacak dan mendekati suara bahagia yang tercakup dalam lintas dengar.

"Aku ingin menambahkan ice cream greentea diatasnya, oh tidak, aku harus melapisinya dulu dengan coklat."

"Hati-hati, Luhan. Coklatnya baru saja dipanaskan. Jangan sampai kau melepuhkan tangan centilmu itu."

"Aku tau, pipi gembul. Aku tidak seceroboh itu."

"Berhentilah memanggilku pipi gembul, rusa bodoh. Aku lelaki tampan."

Lelaki tampan ?

"Ya, teruslah berbohong, Xiu."

"Luhan, apa kau pernah dicium oleh pantat panci ?!"

"Apa ciuman pantat panci lebih panas dari ciuman Sehun ?"

"Apa kau sedang pamer padaku bahwa kau selalu dicium panas olehnya ?"

"Tidak masuk akal untuk memamerkan hal itu. Hal yang baru bangga ku pamerkan adalah saat berhasil menjepit kepala Sehun dalam ketiak!"

"Kau gila ?! Jika Sehun mendengar ucapanmu sekarang kupastikan dia akan membuatmu lecet."

"Apa maksudmu dengan lecet ?"

"Ya, maksudku dia akan memasukkan sesuatu yang besar kedalam selangkanganmu hingga lecet. Dan kau harus tau, itu sangat perih walau hanya sekedar untuk melepaskan keperkasaan diri Sehun dalam dirimu."

Luhan bergidik, separuh membelalakkan mata dan meneguk salivanya yang terasa jadi lebih kental. "Kau mengerikan, Xiu." Katanya kemudian langsung ingat betapa sakit dan keras Sehun memasukinya pertama kali sukses membuat Luhan merinding. Keringat dingin tiba-tiba berkontraksi ditelapak tangan dan hati kecil Luhan berkata bahwa ada firasat buruk dari semua ini.

Luhan benar, tapi dia hanya kurang tau jika,

Sehun mengendap tanpa merunduk, hanya meringankan langkahnya seperti udara dan membiarkan rasa penasaran memuntunnya lebih cepat.

Siapa yang sedang berbicara dengan Luhan ?

"Aku tambahkan coklatnya sekarang."

"Ku peringatkan sekali lagi bahwa itu panas."

"Ku katakan sekali lagi bahwa aku tau. Tenang saja dan percaya padaku."

"Dasar rusa bodoh."

Renyah tawa Luhan terdengar lagi dan Sehun sangat tidak sabar untuk berdiri dibalik pintu dapur.

"Luhan! Jangan terlalu banyak menyiram coklatnya!"

"Ya ampun, Xiu. Aku tidak sengaja." Ada nada cemas disuara Luhan. "Ya Tuhan, hanya beberapa minggu tidak menyentuh tepung membuatku sangat buruk. Bagaimana ini ?"

"Apalagi yang bisa ku katakan ?" Xiumin berkacak pinggang dan menghela pasrah. "Aku hanya bisa memberikanmu komentar jika-,Oh Sungguh, ini kue tart Luhan, bukan kotoran sapi." Ujarnya dengan nada berlebihan.

Ah, kali ini tawa Luhan lebih bersemangat dari tadi, dia benar-benar terdengar bahagia.

"Xiu, apa kau tidak penasaran ?"

"Tentang ?"

"Apa reaksi Sehun jika aku melemparkan tart kotoran sapi ini tepat pada wajahnya ?"

"Cukup Luhan, jangan mulai lagi. Apa otak gilamu sedang bercanda ?!"

"Menurutmu ?"

"Sepertinya kau sangat berminat melecetkan tubuh dibawah hentakan Sehun."

"Xiu, hentikan. Itu tidak akan terjadi, Sehun dan kepala mesumnya itu sedang mencari nafkah diluar dan telinganya tidak setajam itu untuk mendengar pembicaraan bermutu kita."

"Tetap saja Luhan, untuk yang satu ini aku tidak ingin mengambil resiko."

"Kenapa kalian takut sekali pada Sehun ?"

"Alasan logis dan manusiawi," Xiumin menjetikkan jari diudara, "Karena dia punya uang terlalu banyak."

Mata Xiumin—koki pipi gembul—membulat besar ketika menyebutkan bahwa Sehun memiliki uang terlalu banyak, seolah kekayaan lelaki itu tidak cukup jika hanya di ucapkan melalui kata-kata.

"Lalu kau ?!"

Luhan terperanjat saat Xiumin menunjuknya tepat di hidung.

"Apa ?"

"Apa kau tidak takut pada tuan Sehun "

"Aku ?"

"Bukan kau. Tapi si pembuat tart kotoran sapi! Tentu saja kau, Luhan."

Luhan menyelingi pembicaraan mereka dengan tawa ringan (lagi).

"Aku ? Takut pada Sehun ? Tidak mungkin.."

"Tidak mungkin ? Berarti kau..." kepala Xiumin menggeleng kagum sebelum mendesah, "Wow.. apa kau benar-benar tidak memiliki rasa takut terhadapnya ?"

"Tidak mungkin... Ya, tentu saja tidak mungkin!" Nafas Luhan menurun sebelum melanjutkan, "Tidak mungkin aku tidak takut padanya. Dia itu serigala berwajah mesum dan sangat besar hingga membuatku sesak."

"Uhuukkk" Xiumin tersedak teh yang baru ia seduh. Melap bibirnya yang basah dengan sehelai tisu sebelum mengangkat alis dan tersenyum penuh arti pada Luhan. "Besar ? Apa dia sangat besar ?"

"Iya, dia sangat besar untuk ukuran tubuh mungil sepertiku."

"Bukankah yang besar lebih memuaskan ?"

"Iya, lelaki yang besar adalah pujaan setiap wanita, tapi dia terlalu besar."

"Dia atau adiknya ?"

"Maksudmu ?"

Xiumin menjeling menggoda pada Luhan, mencolek pinggangnya hingga Luhan bingung dan berpikir ulang atas apa yang ia ucapkan.

"Oh Tidak, Xiu! Aku salah bicara! Jangan membayangkan sesuatu yang menyimpang. Maksudku Sehun itu tinggi, bukan besar."

"Oke, anggap saja aku percaya jika kau salah bicara."

"Xiu, Oh Tidak! Ini memalukan! Sungguh Xiu, aku—"

"Apanya yang memalukan ?"

Suara berat..

.

Rendah..

.

Telapak kaki dan bayangan hitam tinggi..

Jelas itu bukan Xiumin. Lalu,

Jangan katakan jika...

"Mengakui jika milikku benar-benar besar ?"

Oh Sehun!

Mati kau Luhan!

Tamat riwayatmu!

Ajalmu tiba!

"Ku tunggu di kamar. Seseorang harus menjelaskan sesuatu padaku."

Xiumin, tolong..

Jangan katakan jika besok aku akan benar-benar lecet..

.

.

.

.

"A-apa yang ingin kau bicarakan ?"

Laki-laki itu tidak langsung menjawab, setelah menghimpit Luhan dibalik pintu yang baru saja tertutup dengan sebelah tangan mengekang sisi kanan Luhan, Sehun bermain-main dengan tatapan redup.

Luhan memalingkan wajah ke kiri, tidak punya cukup kepercayadirian demi menantang iris hitam Sehun seperti apa yang selama ini selalu ia lakukan. Sekarang, jangankan iris mata hitam jahatnya, ritme nafas Sehun yang tidak bersuara saja mampu Luhan cakup dalam radius beberapa meter, seolah ia telah mengenal Oh Sehun sebegitu kental dengan takaran pas.

Si iris hitam jahat menambah kedekatan jarak mereka hingga Luhan refleks menjinjit tanpa sepatu balet.

"S-stop Sehun. J-jangan."

Napas Sehun berada dilehernya, terjebak disana. Tubuh Luhan meremang .

"Kenapa harus jangan ? Aku ingin menyesap lehermu sekarang, lalu bagaimana ?"

"J-jangan.."

"Kau punya lima detik untuk memberi alasan."

"..."

"Satu."

Jangan..

"Dua."

Oh Tidak..

"Tiga."

Ini gawat..

"Empat."

Oh Sehun, aku tidak punya alasan..

"Li—"

"Jangan mendekatkan tubuhmu lebih dekat padaku. Aku sedang memakai apron yang penuh noda coklat, pakaianmu bisa kotor."

Sehun kehilangan konsentrasi beberapa detik, memperhatikan apron bercak coklat Luhan yang dibandingkan dengan pakaian kantor rapi bersihnya, sayang untuk menyentuh noda.

Ia menghela napas, bernada kecewa yang membuat Luhan menyusun napas lega. Dia pikir kali ini menyenangkan karena bisa terlepas dari Oh Sehun, tapi saat kedua lengan Sehun mengitari pinggang rampingnya lalu meraih sebuah pita yang tersimpul dibelakang, Luhan menarik napas.

Hipotesisnya salah.

"Apa susahnya melepas apron-mu ? Jangan terlalu banyak alasan ketika kukatakan aku ingin berciuman."

Luhan tercengang, hilang pikiran dan membiarkan Sehun membuang apron ceceran coklatnya jatuh begitu saja kelantai.

"Apa ada alasan lain lagi sekarang ?"

Sehun menatap Luhan dalam, hal yang membuat Luhan tanpa sadar menggelengkan kepala dua kali. Tidak ingin terlihat mudah namun baru saja ia melakukannya.

"Berikan lehermu."

"Apa ?"

"Aku ingin mulai darisana."

Luhan terlalu lama dan Sehun tidak pernah bisa mentoleransi hasratnya dalam hal keinginan menyesap Luhan, jadi tanpa mengenal apa itu sebuah izin dia langsung menyelinap dicelah leher Luhan dan mulai menyesap, menggigit lalu menjilat. Setiap detik yang mendesirkan organ dalam Luhan.

Luhan ingin meraih Sehun, mungkin menahan dadanya sebagai sebuah penolakan untuk mempertahankan harga diri –yang sebenarnya tidak pernah berfungsi dalam hal ini—dari cumbuan Sehun, namun entah itu bagus untuk menjadi sebuah alasan atau malah buruk karena Luhan benar-benar merasa kehilangan harga diri disebabkan kedua tangan kotor penuh butiran tepungnya hingga menahan Sehun adalah hal yang separuh ia syukuri tidak bisa dilakukannya.

Dia membiarkan Sehun yang mulai menggerayang. Dengan tangan kotor terkulai dibawah, yang hanya sanggup meremas lalu mengepal tanpa tenaga, Luhan menahan napas cukup lama. Sehun masih berkutat di lehernya dengan arah tujuan semakin bawah dan ketika merasa dadanya mulai sesak, Luhan bernapas cepat. Memburu nafsu yang sedang digantung Sehun.

Sehun berhenti ditengah leher bawah dagu Luhan, dimana jika Luhan seorang laki-laki tulen maka akan ada jakun yang bergerak gelisah disana, dan Sehun menarik perhatian Luhan melalui tatapan matanya yang selalu berkilat gairah. Sesuatu yang mengundang Luhan masuk kedalam permainan lebih basah dan lebih berkeringat.

Luhan tau jika sekarang Sehun sedang mengincar pundaknya, mengincar tali selebar dua jari yang menjadi tumpuan dress sutera hijau greentea lattenya agar tidak luruh (selain tali kecil melingkar di pinggang.) Tangan Sehun mulai datang, meraba sisi tepi tali dua jari tersebut, melirik mata Luhan yang terengah dan mulai menarik jatuh apa yang sedang ia apit.

Luhan, bersama degup jantung parah dan tangan meremas terkulai tanpa daya, membiarkan Sehun tersenyum tergoda atas dress greentea latte suteranya yang licin jatuh kebawah sebatas pinggang. Sekarang yang tertinggal diatas hanya tumpukan kenyal hitam ganda dengan renda-renda menggemaskan berwarna pink cerah.

Sehun menarik pinggang Luhan. Luhan terperanjat karena tangan Sehun terasa begitu dingin seolah Sehun adalah makhluk mati yang tidak memiliki peredaran darah. Lalu satu tangan dingin lainnya menjalar lurus kearah belakang, naik dengan jari telunjuk menjadi pena arah dan tersangkut di sebuah kaitan.

Oh tidak! Kaitan bra-ku!

"Akan ku lepas." Begitu kata Sehun yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang meminta izin. Dia memang tidak perlu apa itu kata 'iya' yang sama artinya dengan 'aku mengizinkanmu' dari Luhan karena diizinkan ataupun tidak, semuanya tidak berguna. Sehun akan tetap membejati Luhan walaupun dia mengerang.

Dan Sehun benar-benar melepaskannya. Berhasil menahan napas Luhan sekali lagi. Luhan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Sehun menarik dan melempar jatuh busa hitam ganda berenda pink itu kesembarang arah, Luhan hanya bisa memalingkan wajah kesamping. Tidak sanggup melihat payudaranya yang tergantung bebas dalam mata bergairah Sehun.

Sebelah payudaranya telah di cakup oleh telapak Sehun, darah Luhan berdesir hebat seolah dia belum pernah merasakan sensasi ini walau fakta berkata bahwa hubungan tubuh mereka lebih jauh dari sebatas mengulum puting payudara.

Sehun menjepit dagu Luhan dengan sebelah tangan yang tidak ia gunakan untuk mencakup payudara, dia mengarahkan Luhan untuk membuat suatu tatapan berarti, tapi Luhan menghindar. Bagaimana mungkin Luhan bisa bertatapan dengan lelaki yang sedang menyimpan payudaranya dalam sebuah telapak tangan ? Luhan masih punya rasa malu.

Namun seonggok kesialan adalah ketika Sehun tidak pernah peduli mengenai masalah urat malu seseorang. Jadi dia menarik dagu Luhan sekali lagi dan menahannya disana.

"Lihat aku." Perintahnya menahan Luhan.

Dengan napas yang mulai sulit diatur, Luhan mengizinkan Sehun membuat tali tatapan dalam diantara mata mereka. Luhan terpesona beberapa saat sebelum tersentak nyaris mendesah saat Sehun mulai meremas payudaranya dengan keras. Sehun tersenyum begitu puas melihat Luhan terengah dan hampir kehilangan napas setiap kali ia melakukan remasan.

Sehun menghampiri payudara di sisi lain lalu melakukan hal yang sama, hal yang melengkungkan tubuh Luhan beberapa derajat kedepan. Dia suka momen ini, momen dimana mulut Luhan terbuka karena napasnya tersengal dan seolah meminta pertolongan pada Sehun. Apalagi ketika dengan nakal, Sehun memainkan puting payudara Luhan semau hati dan menikmati desahan tertahan Luhan serta putih bibirnya yang digigit.

Luhan benar-benar tersiksa dalam memendam gairah dan Sehun ingin tau seberapa kuat wanita ini sanggup menahannya. Maka dari itu, Sehun dorong bahu Luhan membentur dinding dan langsung menyimpan puting kanan Luhan kedalam mulutnya yang basah dan mempermainkannya dengan sepakan lidah.

Wanita itu masih bertahan walau bibirnya bisa saja berdarah karena terlalu kuat digigit. Sehun geram karena kekeras kepalaan Luhan yang terus menyangkal akan gairahnya sendiri, maka dari itu dengan kesengajaan penuh Sehun menghisap payudaranya teramat kuat hingga tanpa sadar Luhan mengangkat tangannya dan memeluk kepala Sehun lebih dalam. Tidak lagi terpikir jika tepung-tepung di jemarinya akan memutihkan surai legam mengagumkan Sehun.

Luhan tidak bisa bertahan lagi dan dia menyerah untuk menahan desahan. Dia tidak sekuat itu, jadi dengan pikiran 'tidak apa-apa Luhan, Tuhan akan memaklumi desahanmu' yang sedikit konyol, Luhan mendesah keras, sekeras dan sekuat apa yang ia rasakan pada puting payudaranya.

.

.

.

.

Sehun hanya mengatakan "Ikut aku." dan tidak peduli Luhan menggerutu dibelakang karena langkah Sehun terlalu besar untuk disetarai. Mereka berjalan separuh tergesa bagi Sehun dan sangat tergesa bagi Luhan, menuntuti mobil hitam pekat –yang sumpah demi langit dan bumi—tidak akan bisa terbang kemanapun, jadi seharusnya terburu seperti ini hal konyol untuk dilakukan.

Luhan tidak tau saja jika sekarang Sehun sedang mengumpat serapah dalam hatinya. Dia belum tenang dan kelelakiannya masih berdiri tegak. Rasa lembut dan tegang puting Luhan bahkan masih membias di dalam mulut Sehun. Maksudku Sehun tidak akan segeram ini jika saja Ravi tidak menelponnya saat ia sudah berhasil menindih tubuh telanjang Luhan diranjang dan wanita itu sudah begitu pasrah. Mereka seharusnya sedang mengulum satu sama lain sekarang jika saja Ravi tidak mengatakan sebuah kesempatan bagus atau mungkin lain kali Sehun tidak akan menjawab panggilannya saja.

Oh, sungguh! Sehun ingin menyetubuhi Luhan dengan keras sekarang!

"Oh Sehun! Bisakah kau berjalan lebih pelan?!"

"Kau yang harus mempercepat langkahmu."

Luhan bisa saja berhenti dan berbalik arah lalu meninggalkan Sehun jika saja pergelangan tangannya tidak berada dalam kuasa laki-laki itu. Sehun menggiringnya ke mobil, membuka pintu lalu mendesak Luhan masuk.

"Katakan padaku kemana kita akan pergi." Sergap Luhan sesaat setelah Sehun menyusul dibalik stir dan menghidupkan mesinnya.

"Diamlah."

"Aku tidak bisa diam sebelum kau menjawab kema—"

"Mungkin ketempat dimana aku bisa menyetubuhi seminggu penuh tanpa henti bahkan untuk minum sekalipun kau tidak kuberi kesempatan. Kau mau ?"

"Kau gila ?!"

"Pasang sabuk pengamanmu."

"Dimana otakmu, Oh Sehun ?"

Clek!

Terlalu lama menunggu Luhan memasang sendiri sabuk pengamannya.

"Sehun, jawab aku!"

"Diamlah atau aku benar-benar akan mencari tempat itu."

Yap. Aku kalah lagi. Game over untukmu Luhan.

.

.

.

.

Wu Yifan, yang tidak tau mengapa ia duduk disini, termenung di sofa tunggu merah dalam sebuah kotak kaca besar berisi pakaian-pakaian luar biasa. Ini boutique wanita dan tidak mungkin Yifan datang kesini untuk membeli pakaian bagi dirinya sendiri jika ia masih suka disebut lelaki tulen atau Yifan akan kehilangan gelar mantan kapten basket terbaik di sekolahnya hanya karena mencoba gaun pink berlipat rumit dibawah yang dipajang dibalik kaca etalase, disampingnya.

Itu mengerikan, sungguh.

Mata Yifan berkeliling, memperhatikan setiap sudut ruang yang berkilau. Ada banyak sekali permata menempel dilangit-langit ataupun yang bergantung diatas kepalanya dan bila Luhan melihat semua ini Yifan pastikan gadis mungilnya itu akan melompat kegirangan.

Yifan jadi ingat dulu, ketika tahun pertama Luhan masuk senior high middle school ia harus merelakan makan siangnya dan menyimpan uang itu hanya demi membelikan Luhan sehelai dress buatan boutique. Yifan juga ingat kala Luhan melompat-lompat kegirangan, melupakan lecet dikakinya bekas terjatuh dari sepeda sepulang sekolah dan langsung mencoba dress barunya sampai ia terlelap tidur.

Yifan sadar bahwa dulu hidup mereka begitu sulit, Luhan hanya memiliki sepasang high heel selama dua tahun dan karena hal tersebut Yifan bersumpah jika ia memiliki uang yang banyak maka akan ada satu lemari penuh berisi high heel untuk di simpan dikamar Luhan.

Jadi untuk wanita yang dicintainya, Yifan tidak akan pernah menolak untuk menghabiskan separuh uangnya demi membeli pakaian ataupun high heel. Apalagi untuk Luhan, bahkan Yifan berani menjual ginjalnya jika memang uang yang ia punya tidak cukup untuk membeli pakaian yang Luhan inginkan.

Luhan itu adik kesayangan Yifan.

Astaga!

Yifan menenggelamkan wajahnya kedalam telapak tangan. Betapa berdosa ia sekarang. Bagaimana bisa dia membiarkan Luhan ketakutan sendiri di dalam sekapan Sehun sedangkan dia sedang menemani seseorang disini. Seharusnya Yifan tidak membuang waktu dengan percuma dan segera menemukan cara agar bisa membawa pulang Luhan kerumah mereka.

Yifan sangat rindu menyuapi Luhan dipagi hari, mencium keningnya lalu memeluknya seperti balita lima tahun. Yifan juga rindu tidur dikamar Luhan dan mengusap pucuk kepalanya hingga dia tertidur bersama dengan mulut kecilnya yang membuka.

Luhan...

"Sayang.. Bagaimana dengan yang ini ? Aku menyukainya, apa menurutmu bagus ?"
Yifan mendongak lalu menemukan Selvi dengan gaun merah ketat yang baru dicobanya sedang berputar-putar di depan kaca tinggi, menanti persetujuan Yifan untuk membawa gaun ini ke kasir ataupun menanggung malu karena harus mengembalikannya ke patung.

Selvi tidak pernah suka opsi kedua. Jadi bagaimanapun caranya, Yifan harus memenuhi opsi pertama.

Titik!

Yifan tersenyum gusar. Suaranya serak dan lemah saat menjawab "Ya" lalau beranjak mendekati kasir. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan Selvi harus dipaksa pulang atau mereka akan bermalam disini. Bukan karena Yifan tidak mau membelikannya pakaian lagi, tapi Yifan rasa jika sekarang dia harus pulang dan menentramkan pikiran. Yifan benar-benar ingin membawa Luhan pulang.

Yifan masih dalam ketermenungan saat Selvi memanggil namanya dalam balutan suara cemas. Yifan begitu pucat.

"Yifan.." Ulang wanita itu ditambah guncangan sedikit pada lengannya. Yifan menoleh malas, malah merasa sedikit jengah. Dia berniat mengacuhkan Selvi untuk kali ini saja agar pusing dikepalanya tidak bertambah, tapi ketika Yifan menoleh lalu menemukan mata Selvi melukiskan senyuman yang telah lama ia cari dalam keputus asaan, untuk kesekian kalinya Yifan hilang.

Kehilangan yang membuatnya gila.

Yifan menyentuh pipi Selvi dan dadanya bergemuruh hebat. Dia kembali, dia kembali, jeritnya dalam hati entah pada siapa lalu menyimpan Selvi dalam dekapannya tanpa pernah peduli jika wanita itu menggerutu karena rambut merah marunnya mengusut.

"Kau kembali. Jangan pergi lagi.." Gumam Yifan berupa bisikan yang Selvi tanggapi tidak lebih dari memutar mata jenuh.

Selalu saja mengatakan aku telah kembali. Kau pikir aku sudah mati ! Sebenarnya siapa yang kau lihat ? Sebenarnya siapa dalam diriku hingga kau terus mengatakan 'jangan pergi lagi'. Oh sungguh, lelaki ini membuatku gila!

"Aku tidak akan pergi." Selvi melepas kontak mereka dengan senyum palsu di bibirnya karena sangat benci menjadi drama queen dalam pelukan Yifan. Oh tidak, dia bukanlah Julliete yang rela berpura-pura mati hanya karena mencintai Romeo. Selvi wanita metropolitan, logikanya lebih bermain daripada perasaan.

Selvi menggelantung di lengan Yifan, menunggu Yifan mengeluarkan kartu kreditnya agar dengan segera dia bisa membawa pulang paperbag di meja kasir itu dan mencoba dress ketatnya membaur dalam kegelapan bar malam ini.

Senyuman Selvi menguar begitu sempurna kala Yifan membuka dompet. Hidupnya bergantung dari seberapa mahal dan berisinya dompet Yifan, jadi dia mengintip, sebenarnya hanya ingin tau seberapa lama lagi Yifan mampu menduitinya atau jika lelaki itu sudah tidak mampu, dia bisa kembali pada om-om tua di bar yang memiliki dompet lebih tebal. Hidup sedang tidak beruntung sekarang. Tapi lebih dari tujuannya, Selvi menemukan sesuatu yang membuat matanya tergugah. Penasaran mungkin ?

Sebenarnya tidak ada yang istimewa, Selvi tau itu foto Luhan karena mereka pernah bertemu beberapa kali dan wanita bermata rusa itu tampak jelas tidak menyukainya. Selvi tidak pernah peduli.

Yifan sedang mencium pipi Luhan disitu, ada rasa sayang yang tergambar jelas diantara mereka dan tidak ada yang lebih dari batas tali persaudaraan. Selvi tidak pernah cemburu. Dia tidak pernah komplain saat angka nomor satu di ponsel Yifan adalah nama Luhan ataupun di dompet Yifan adalah foto Luhan, bukan dirinya. Toh Selvi hanya ingin Yifan mampu memenuhi apa yang dia inginkan seperti wanita-wanita potret lainnya.

Bukan foto Luhan di dompet Yifan yang dijadikan objek penasaran oleh Selvi, tapi lebih mengarah pada sesuatu yang terselip dibelakangnya. Ada sebuah lembaran usang dengan kaki seorang gadis duduk berbalut pantofel lusuh dikakinya.

Siapa ?

Apakah ibu Yifan ?

Ataukah foto masa kecil Luhan ?

Sungguh mati Selvi penasaran tanpa tau alasannya, yang jelas dia ingin menarik gambar di dompet Yifan dan mendapatkan penjelasan mengapa hatinya terus berkata sesuatu yang aneh. Jemari berkutik hijau tua Selvi sudah mengudara saat dengan tiba-tiba Yifan berteriak, meninggalkannya begitu saja dan mengejar seseorang yang tidak jelas. Tapi Selvi tau siapa yang dikejar oleh Yifan walau wajahnya tidak terlihat, karena Yifan meneriakkan namanya.

Nama..

"LUHAN!"

.

.

Dia menyebrang jalan tanpa menoleh kebelakang walaupun beberapa kali Yifan meneriaki namanya begitu keras hingga orang-orang sekitar menoleh. Tapi dia, bersama kepada tertunduknya memilih masuk ke dalam sebuah mobil langsung menghilang sebelum Yifan sempat menyelesaikan langkah terakhir di penyebrangan.

Yifan berseru lebih keras lagi.

"LUHAAAANN!"

.

.

"Jadi ?"

"Bawa aku pergi."

"Kemana ?"

"Itu urusanmu."

"Kemanapun ?"

"Kemanapun meski ketempat dimana aku akan disetubuhi hingga mati olehmu."

Bagus sayang..

Aku menyukai jawabanmu..

.

.

.

Mereka berhenti setelah lebih dari satu jam Sehun membawanya ketempat sepi dimana hanya ada pohon-pohon besar beserta semak di sepanjang jalan. Mereka di tetepian, menghadap arus sungai kecil yang suara derunya seolah sedang menceritakan sesuatu.

Luhan tidak tau dimana ia berada sekarang. Dalam pikirannya, Sehun hanya akan membawanya ke sebuah hotel berbintang untuk disetubuhi lebih keras tanpa henti –mungkin hingga berdarah—sesuai dengan apa yang lelaki itu katakan. Namun sekarang yang Luhan dapati adalah sebuah keadaan yang sangat tenang dimana tidak ada seorangpun yang melintas, hanya ada sebuah kedai kecil seratus meter di kiri seberang sungai yang tidak memiliki pembeli di meja-meja lusuhnya. Ini terlalu sore dan sangat mendung.

Sejak dalam perjalanan Luhan hanya diam, tidak berpikir apapun dan membiarkan kekosongan benar-benar menghantui dirinya. Dia bahkan tidak menangis selama masa diam dan Sehun tidak mengusik sama sekali selain dari suara gas yang diinjaknya semau hati.

"Jangan ditahan. Menangislah, itu tidak terlalu buruk." Sehun melepas sabuk pengamannya. "Aku akan membiarkanmu kali ini." ujarnya lalu memilih keluar dari mobil dan menyebrangi jembatan kecil menuju kedai. Entah apa yang dicarinya disana.

.

.

.

Luhan benci jadi cengeng. Saat Sehun meninggalkannya sendirian, Luhan merasakan kesepian yang luar biasa mencekam juga menakutkan. Dia ingin menahan Sehun dan berkata bahwa pelukan serta dada bidang lelaki itu adalah apa yang dia butuhkan sekarang. Tapi Luhan terlalu malu untuk meraih tangan Sehun. Jadi sekarang dia menangis seorang diri, berjongkok ditepian sungai dengan wajah tenggelam dalam kedua telapak tangannya.

Mendung mulai bicara dan Luhan masih tuli. Dia tidak berpindah sedikitpun walau titik-titik basah itu mulai menyentuhnya dan semakin lama semakin membesar. Luhan merasa lebih baik ketika dingin mulai merasuki tubuh dan membuat bibirnya menggigil. dia memeluk dirinya sendiri dan tidak mampu membuka mata karena tetes hujan benar-benar pedih mengenai matanya.

Dia menginginkan Sehun walaupun hanya untuk memarahinya agar tidak menangis ataupun membentaknya dengan berbagai umpatan dan mengatainya bodoh seperti biasa.

Luhan basah menyeluruh, bahkan hampir sama basah dengan sungai didepannya. Lalu dengan tiba-tiba, hujan diatas kepalanya mereda.

"Dasar bodoh! Aku menyuruhmu menangis didalam, bukannya menggigil diluar!" Sehun meraih pergelangan tangan Luhan dan menyeretnya. "Masuk dan selesaikan tangisanmu disini." Ujarnya sambil mendorong Luhan masuk ke bagian tengah mobil.

Sehun ikut masuk, duduk disamping Luhan dan menyerap basah wajah sang wanita dalam kelima jemarinya yang dingin. Luhan masih terseguk, sulit mengakhiri tangisnya yang pecah saat Sehun tinggalkan.

"Tunggu disini, jangan kemana-mana. Kau mengerti ?"

Sehun ingin pergi lagi dan entah kemana. Luhan sangat ingin mencegahnya namun ia terlalu menggigil walau hanya untuk mengatakan 'tetap disini. Aku kedinginan. Tidakkah kau lihat ?'

Sebelum benar-benar keluar dan mengepakkan kembali payungnya, Sehun berbalik dan menatap curiga wanita menggigil itu. "Aku tidak percaya kau akan tetap berada di dalam mobil. Kau dan kepala batumu itu sangat suka membangkangku." Ujarnya lagi lalu mulai berpikir tentang sesuatu yang akan membuat Luhan stuck di tempat. Dan sejenius otaknya, Sehun menemukan caranya dalam lima detik.

Sehun mendekati Luhan dan wanita itu hanya mendongak padanya dengan bibir bergetar kedinginan. Sesungguhnya Sehun tidak tega melakukan ini tapi semua hanya cara tercepat yang ia temukan demi menyekap Luhan yang liar. Dan dengan sekali helaan napas pendek, Sehun menarik dada baju Luhan dan merobeknya sampai Luhan tersentak kaget.

"Apa yang kau lakukan?!" Tanyanya refleks dengan suara putus-putus.

"Kau tidak akan bisa pergi kemanapun dengan dada terbuka seperti itu."

.

.

.

"Kau mau pulang sekarang ?"

Luhan yang ada dalam pelukannya menggeleng.

"Tidak. Bisa kita tetap disini untuk beberapa saat?"

Mengeratkan pelukan lengannya di bawah payudara Luhan, Sehun mengangguk sekaligus membenarkan posisi Luhan di pangkuannya. Luhan polos, berkat kelihaian sifat penguasa Sehun yang menanggalkan setiap benang ditubuhnya dengan alasan Luhan bisa saja mati membeku karena kedinginan dan Sehun berkata dia tidak sudi mengurus mayat Luhan disini lalu memaksa Luhan untuk tetap hidup. Hanya saja cara yang Sehun berikan adalah meminta Luhan membiarkan ia menelanjangi tubuhnya (Luhan) dari kedinginan.

Luhan berada dalam pangkuan Sehun dengan hanya sebuah jas laki-laki itu sebagai penutup tubuhnya. Dia kedinginan namun merasa sangat hangat ketika Sehun merengkuhnya lebih erat ataupun mengecup pundaknya mesra, seperti ada sesuatu yang membakar gairah dalam tubuhnya menyala.

"Tidurlah.."

Luhan menggeleng, tidak sadar jika dia bersandar lebih nyaman pada dada bidang Sehun. "Aku mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur."

"Kalau begitu jangan." Balas Sehun lalu mengecup telinga Luhan. "Mungkin kau ingin menceritakan sesuatu."

"Apa kau punya waktu untuk mendengarnya ?"

"Sebenarnya tidak, hanya saja jika tidak dialihkan dengan pembicaraan aku takut melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu disini."

"Memangnya apa yang ingin kau lakukan padaku ?"

"Membuangmu ke sungai, mungkin ?"

"Kalau begitu buang aku sekarang."

"Tidak."

"Bukankah kau sangat ingin membuangku ?"

"Walaupun aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa ?"

"Karena saat melihatmu hanyut, akan ku pastikan jika aku juga akan ikut terjun ke dalamnya. Jadi kurasa semua itu hanya sia-sia."

Luhan tersenyum samar, menyentuh lengan Sehun di atas perutnya.

"Ku rasa aku sudah gila."

"dan bodoh."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai readersku tersayang semuanya :* :* Apa kabar kalian ? Masih mengenalku ? Iya, aku.. bidadari dari langit ketujuh (syalalalala).

Eh tunggu, jangan esmosi dulu plisss! Jangan colok lobang pantat gue pake bambu runcing plisss, gue bidadari ya bukannya kebo -..-

Eh, gue update lebih cepetkan ? pasti pada seneng. Wuahaha

Gue pernah bilang kan kalo gue bakalan update desire chapter 6 waktu lebaran ? Lu semua masih pada ingetkan ? dan itu maksudnya lebaran haji nanti, bukan lebaran idul fitri. Wuahahaha

Tp karena bidadari punya banyak rasa untuk harimu, makanya ff ini lebih cepet gue update tanpa menunggu Luhan tumbuh payudara -..-.

Gue mau curhat sedikit tentang Ospek gue tahun ini (cieeee gue jadi maba cieeee). Tau gak, gue ada naksir abang senior yang jadi panitia ospek. Rambutnya pake poni miring ala-ala artis korea gagal debut gitu, trus badannya kurus kek tulang selangkangan Sehun trus dia baik banget kayak Luhan. Gue udah demen banget tuh sama dia. Tapi terkadang impian tak sesuai kenyataan. Gue terpuruk jatuh dari kayangan dan kecelup di laut nyi roro kidul yang lagi benerin kemban dan sialnya gue gak tau berenang (loh loh kan), gue kit ati men saat tau ternyata dia SI TAMPAN YANG SETENGAH JADI (?). Apa gak kena gempa bumi 10sr tuh hati gue T.T

.

.

Dan satu hal disini, gue Cuma mau mewanti-wanti kalian para HHS tercinta, jika salah satu author terbaik hunhan sepanjang masa kita sepertinya sudah mulai memilih jalan yang lebih baik (?). dan waktu sadar tuh gue rasanya keinjek nenek landak trus keselek buah durian. Gue berak rasanya ngeluarin pupuk kompos T.T gue takut bakalan terpengaruh buat hiatus juga dan pindah kelain hati T.T

Gue tetep selalu dukung elu kok, walopun gue berharap lu bakalan balik ke HH lagi. T.T

AI LOP YU :* :* :*