You're Just Fine
By: AquaIta
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T (for now)
Warning: Older-younger relationship (Naruto 22 thn, Sasuke 11 thn), mental disorder in children, abnormal love infatuation, OOC, IC, mention of abuse, typos (maybe), maaf jika ada sebutan kasar penyakit tertentu, slow build, dll.
Pairing: SasuNaruSasu
Don't like, Don't read!
Summary: Naruto, seorang ANBU. Sasuke, anak kecil yang selamat dari insiden pembantaian Uchiha. Siapa sangka, melihat pembunuhan massal di depan matanya akan membuat Uchiha muda yang awalnya jenius itu menjadi… keterbelakangan mental? "Dia menjadi labil, tidak mau bicara, dan terlihat seperti orang idiot—bukan idiot sepertimu, Naruto—maksudku, benar-benar idiot." Dan Naruto harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normalnya karena Sasuke menjadi terobsesi padanya.
.
.
.
Normalnya, orang akan terdiam dan mengalami syok saat mendengar seseorang yang mereka kenal telah tiada.
Tapi Naruto hanya terkekeh.
Awalnya hanya sebatas dengusan belaka, namun tak lama dia berakhir berguling-guling di lantai, mencengkram perutnya yang mendadak kram.
Uchiha Sasuke tidak mungkin mati.
Karena dia mengenal darah terkutuk Uchiha. Mereka tidak akan mati semudah itu.
Terlebih Sasuke berada di tangan Tsunade, for The God sake. Wanita itu bahkan bisa menyadarkan orang koma hanya dengan menamparnya.
Karena itu, ketika Sai datang—lagi—dan mengatakan bahwa Sasuke telah tiada, Naruto berpikir bahwa mendapat satu dua lelucon selama masa persembunyiannya tidaklah terlalu buruk.
"Sudah puas kau tertawa?"
Menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya, Naruto terkikik sekali lagi sebelum benar-benar bangun. Dengan wajah terhibur dia menepuk bahu Sai dan menggelengkan kepala.
"Katakan pada mereka," Naruto kesulitan mengatur napasnya. Sudah lama dia tidak tertawa seheboh itu. "Jika mereka benar-benar lebih pintar, tentu mereka sadar bahwa lelucon seperti ini tidak akan membuatku menemui Sasuke."
Naruto kembali tergelak, namun Sai tetap diam.
"Kau yakin?" tanyanya datar. "Kenapa tidak kau pastikan saja, apakah bocah Uchiha itu benar-benar mati atau ini—" Sai melambaikan tangannya malas. "—hanya sebuah lelucon, seperti dugaanmu."
Tawa Naruto lenyap seketika. Dengan mata tersipit curiga, dia menatap Sai sengit.
"Dia sakit jiwa, bukan terkena penyakit mematikan," desis Naruto diantara giginya. "Dia tidak akan mati karena itu."
Sai mendesah lelah. "Oh, astaga." Bola matanya berputar dan kedua tangannya terlipat defensif. "Aku tahu kau itu idiot, tapi tidak aku sangka sampai seperti ini. Tidak pernah terpikir mungkin saja bocah itu menelan kunai dan membunuh dirinya sendiri? Atau mungkin tanpa sadar melompat dari lantai empat?"
"Jangan konyol," sahut Naruto, melambaikan tangannya malas. "Dia dirawat di lantai dua. Dan ada teralis tinggi di balkon—dia tidak akan bisa jatuh."
Kedua alis Sai terangkat tinggi.
"Kau tahu?"
Langkah Naruto terhenti.
"Kau tahu dia dirawat di lantai dua?" Tanya Sai curiga. "Tapi Tsunade-sama bilang kau tidak pernah berkunjung," dahi Sai berkerut dalam. "Atau bertanya, atau apapun."
Naruto masih belum membalikkan badannya, namun Sai dapat melihat punggungnya yang tiba-tiba menjadi terlalu tegak.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu?"
Sunyi sejenak memeluk mereka. Sai yang menunggu Naruto, dan si pirang yang tidak tahu harus menatap kemana.
Pada akhirnya Naruto mendesah panjang.
"Sejak awal dia memang dirawat di lantai dua. Kau ingat, aku yang membawanya ke ruang gawat darurat—"
"Awalnya dia dirawat di lantai satu, karena hanya dalam mimpimu ada ruang gawat darurat di lantai dua. Seriously Naruto, kalau mau mengelak, pakailah sedikit otakmu."
Naruto membalik badannya dan menarik kerah baju Sai. "Jangan mencampuri urusanku lebih dari yang aku tolerir," desis Naruto dengan gigi terkatup rapat. "Apa yang aku lakukan sama sekali bukan urusanmu."
"Ah, jadi kau memang melakukan sesuatu," ucap Sai penuh kemenangan. Tidak dihiraukannya cengkraman tangan Naruto yang mengerat di kerahnya. "Seharusnya aku tahu, kau tidak mungkin membiarkannya begitu saja."
Seringai Sai membuat Naruto seakan melihat warna merah di berbagai tempat.
Senyum Sai begitu menjijikkan di matanya, memandangnya seolah mengatakan 'Aha, aku tahu harga dirimu hanya terlalu tinggi untuk mengatakan kau peduli. My, my kau benar-benar menggemaskan.'
Dan muka Naruto merah padam menahan amarah. Rasa panas seakan naik ke ubun-ubunnya. Menggelegak, bergemuruh riuh hingga ke telinganya. Beraninya Sai… beraninya dia berkata seolah-olah dia tahu semuanya. Hanya karena ia membiarkan Sai mendekatinya sebentar, pemuda ini berpikir bahwa dia spesial.
Naruto menatap senyuman tipis yang terukir di wajah Sai, dan merasakan telinganya berdenging. Hanya butuh satu tekanan kuat saja maka leher pucat di tangannya ini akan membuat senyum menjijikkan itu luntur dalam sekejap. Sangat mudah, hanya butuh satu gerakan saja maka mulut brengsek itu akan terdiam, mata hitamnya akan terbelalak ngeri ketika menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Kyuu—
Naruto terkesiap. Dengan panik dia melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Sai dan beringsut menjauh.
"Pergi."
Tangan kiri Naruto bergetar hebat ketika ia mengenggam tangan kanannya yang sudah meruncing kukunya itu dengan sekuat tenaga.
"PERGI."
Naruto menggigit bibirnya kuat, terengah kecil. Rasa panas seakan menjalar hingga ke ujung jarinya. Dia tidak bisa mendengar apapun, hanya suara gemuruh di telinganya dan dentuman jantung yang seakan ingin keluar dari dadanya.
Dan tentu saja, si bodoh itu tidak bergeming. Mata hitam Sai mengamati sosok Naruto yang masih berusaha mengatur napasnya.
Sai menelan ludah. Jika boleh mencoreng harga dirinya sedikit, sejujurnya dia merasa takut. Dalam sepersekian detik, ketika tadi jarak mereka hanya terpaut satu hembusan napas, dia dapat melihat mata Naruto berubah menjadi merah.
Dalam diam Sai mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Terkadang dia lupa kapan dia harus berhenti— Naruto begitu terlihat normal sampai kadang dia lupa bahwa sesosok monster berada dalam tubuh pemuda itu—
Kedua mata Sai membulat.
Oh. Oh.
"Jangan katakan—" Sai menelan ludahnya, mencoba untuk mengambil risiko dan kembali melanjutkan. "—kau meninggalkan Uchiha, karena ini? Karena kau tahu Kyuubi akan—"
"DIAM!" teriak Naruto, matanya bergerak liar.
"Naru—"
"Kau ingin aku membunuhmu?" jeritnya histeris, mencengkram dadanya yang terasa semakin menyempit. "Kau lupa kalau aku bisa menyakitimu tanpa sadar? Kau mau mati?!"
Sai melangkah mundur. Naruto terlihat tidak bisa mengontrol dirinya, berulang kali menarik napas tajam dan mengigit bibirnya sendiri. Bola matanya bergerak tidak terkendali, keringat dingin mengucur dari dahinya, dan matanya…
Astaga. Matanya.
"Tenanglah, Naruto. Tenanglah." Menggunakan suara terbaik yang dia punya, Sai mengambil satu langkah mendekat. "Kau bisa melakukannya, tenangkan dirimu—"
Suara geraman binatang yang keluar tanpa sadar dari mulut Naruto mengejutkan keduanya. Mata Naruto membulat ngeri, refleks menutup mulutnya.
"Tinggalkan aku—sebentar saja. A-aku butuh waktu sendiri."
Kedua alis Sai menukik tajam, sejenak melupakan rasa takutnya. "Dan membiarkanmu melewati semua ini sendiri? Kau pikir aku sama dengan para Uchiha itu?"
Dan seketika Sai ingin menampar mukanya sendiri. Bagus, itu adalah hal paling idiot yang bisa diucapkan dalam situasi seperti ini. Uchiha. Bahkan nama mereka bisa membuat ekor Kyuubi yang awalnya hanya muncul ujungnya langsung keluar sempurna dengan cepat.
Sekarang dia mengerti kenapa orang sangat membencinya jika dia berbicara.
"Oke, my bad. Lupakan ucapanku tadi. Jangan pikirkan mereka, jangan pikirkan bagaimana hidupmu dulu. Itu adalah masa lalu, oke? Kau disini sekarang. Kau tetap hidup, tapi mereka sudah mati."
Sai merasa bahwa dia telah mengucapkan hal yang kejam, tapi masa bodoh, nyawanya dan Naruto dipertaruhkan disini.
Naruto masih menatapnya nyalang.
"Tenanglah, Naruto, hei…" dua langkah ke depan. "Semua akan baik-baik saja, oke? Kau tidak menyakiti siapapun disini—"
"AKU MEMBUNUH BOCAH ITU!"
"Tadi kau tidak percaya dia mati, sekarang kau mengakui kalau kau membunuhnya. Sebenarnya mana yang benar? Kau sangat plin-plan."
Naruto meraung ganas. Sekarang kuku kedua tangannya yang meruncing.
Kutuklah. Mulutnya. Yang. Tidak. Tahu. Situasi.
Atau otaknya, terserah.
"Naruto, hei Naru…" panggil Sai lembut, kali ini memutuskan untuk berpikir lebih lama sebelum bersuara. "Ini bukan salahmu. Jika kau mampu mengontrol apa yang kau rasakan, perang tidak akan terjadi, remember?" Ucap Sai lirih, tanpa sadar menyeret langkah mundur mendengar geraman animalistik Naruto. "Dan dia mati bukan karena kau menyakitinya."
Really? Sebuah suara menyahut dalam kepala Sai. Kau pandai sekali menghibur orang, Sai.
Sai menggelengkan kepalanya keras. "Anyway, kau harus tenang. Jangan biarkan Kyuubi menguasaimu, Naruto."
Mata merah Naruto masih seakan mau keluar dari soketnya.
Sai mulai kehabisan ide. Dia bukan orang terbaik ketika dia membuka mulutnya, dan tentu saja bukan orang yang tepat untuk menenangkan orang lain. Tapi kemudian ia menatap Naruto, dan melihat kembali seorang anak kecil berambut pirang dengan bahu terkulai lemah dan kaki terseret, tengah mengenggam ujung baju Iruka yang terlihat akan menangis kapan saja.
Dan hanya dengan itu, dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Hei, Naruto…" Sai mendekat dengan langkah sepelan mungkin, dengan suara selembut yang dia bisa. Perlahan dia berjongkok, melepas semua kunai yang dilirik Naruto waspada dan melemparnya jauh-jauh.
Sai menunggu sebentar.
"Bagaimana kabar Iruka-sensei, Naruto?" Tanya Sai, mengeluarkan senyuman yang lelah dilatihnya selama bertahun-tahun, yang kata orang adalah satu-satunya senyuman yang tahan dilihat lebih dari semenit.
Efeknya luar biasa. Mata Naruto yang awalnya merah menyala, mengedip cepat. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan dan geraman berhenti dari bibirnya.
"Kemarin aku melihatnya belanja di supermarket," lanjut Sai lagi, menahan kontak matanya dengan Naruto. "Dia membeli ramen yang banyak sekali, dengan banyak sayuran. Kurasa dia ingin memaksamu untuk memakan semua itu."
Sai memaksakan diri untuk terkekeh, seakan dia membicarakan hal yang menghibur sementara jantungnya berdegup waspada.
"Aku yakin itu hukuman untukmu karena kabur tanpa kabar selama beberapa hari ini—memaksamu memakan ramen yang penuh dengan sayuran. Membuatmu tersiksa karena harus membenci makanan yang kau suka, hm? Dengan wajah polos seperti itu, dia cukup sadis juga."
Dan Sai terus berbicara, bercerita pada Naruto bagaimana Iruka mengejar pakaian dalam yang terbang tertiup angin, tentang Iruka yang membeli pakaian baru dan tidak bisa mengunci ruang ganti, tentang semua hal konyol atas nama Iruka. Sebagian besar adalah kebohongan, tentu, tapi dia tidak bisa menahan diri ketika melihat Naruto yang semakin tenang, perlahan warna biru di matanya kembali dan ekor menyusahkan itu kembali masuk dalam tubuhnya.
Sampai pada akhirnya Naruto terduduk, baru Sai menghentikan ceritanya. Ditatapnya penuh minat Naruto yang masih kesulitan mengatur napasnya.
"Tarik napasmu, perlahan—tidak, kau seperti kena asma—pelan saja, jangan hiraukan nyeri di dadamu. Breath in… and out. Breath in…"
Sebenarnya dia merasa seperti menuntun wanita yang tengah melahirkan, tapi—oh well.
Naruto mengikuti sarannya. Dia bernapas pendek, lalu mengeluarkannya kembali perlahan. Semakin lama napas yang diambilnya semakin panjang, dada yang awalnya terlihat kaku itu kini mulai tampak naik-turunnya.
"Sudah lebih baik?"
Naruto tidak menjawab, tapi dia melambaikan tangannya lemas seolah mengusir Sai.
"You're welcome," dengus Sai. "Seharusnya aku tidak berharap banyak."
Untuk sementara yang terdengar hanya suara Naruto yang sesekali tersedak liurnya sendiri dan napasnya yang masih terdengar kasar. Mata pemuda itu sudah kembali pada warna asalnya, namun keringatnya masih juga belum berhenti mengucur.
"Sudah boleh aku bica—"
Acungan jari tengah Naruto cukup untuk membuatnya terdiam.
Sepertinya Sai harus menunggu beberapa saat lagi sebelum dia bisa mendapatkan penjelasan.
.
.
.
Iruka yakin jika dia bertemu dengan Naruto, dia akan mampu membentak pemuda itu, mendiamkannya seharian dan membiarkan Naruto tahu bahwa dia sangat kecewa. Meninggalkan seorang anak kecil yang bergantung sepenuhnya pada dirinya dan tidak pernah menjenguk sekalipun itu sangat keterlaluan.
Namun ketika malam itu ketukan pintu di apartemennya membuatnya mengerenyit dalam—melirik jam, masih pukul 3 malam—Iruka sama sekali tidak menyangka bahwa yang berada di balik pintu adalah Naruto.
Bukannya tidak biasa, namun mengingat pemuda yang kini berdiri canggung di hadapannya adalah orang yang sama yang diburu Hokage selama berhari-hari dan berhasil bertahan hidup, bukan berlebihan jika Iruka menganggap situasi ini cukup surreal.
"Kalau kau ingin memukulku, setidaknya lakukan di dalam, Sensei."
Mengedip cepat, Iruka membuka pintunya lebih lebar dan menggeser badannya, tidak menawarkan senyum sedikitpun.
Naruto menghela napas panjang dan mengacak rambutnya frustasi. Dengan bahu yang tampak lemas dia berjalan masuk dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Iruka, sementara sang pemilik rumah kembali menutup pintu dengan gerakan yang terlalu lambat.
Kemudian sunyi.
Mereka saling menunggu satu sama lain untuk berbicara duluan, namun tidak ada satupun dari mereka yang mempunyai cukup nyali untuk mematahkan keheningan singkat diantara keduanya.
Naruto tidak bisa untuk tidak menelan ludahnya. Berjinjit-jinjit dan berulang kali mengusap tengkuknya. Kecanggungan di ruangan ini begitu pekat hingga membuatnya ingin berteriak frustasi dan meninju tembok di depannya.
Atau menghancurkan tembok kantor Hokage. Terdengar lebih menarik.
Iruka tidak memarahinya, tidak melemparkan tatapan mencela padanya. Tapi mendiamkannya seperti ini—sudah lebih dari cukup.
Kenapa? Apa karena dia sebagai pihak yang lebih tua maka dia harus mengalah pada Sasuke?
Walau itu artinya akan menghancurkan anak itu hingga serpih tulangnya pun tidak akan tersisa?
Naruto tahu dia tidak bisa. Kyuubi terlalu membenci Uchiha. Bahkan sekarang dia bisa merasakan jeruji di dalam tubuhnya bergetar mengancam setiap kali dia berpikir tentang Sasuke. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup liar setiap kali melihat mata anak itu.
Mereka berdua terlalu membenci Uchiha.
Dan dia lebih memilih membuat Sasuke gila selamanya daripada harus mencabut nyawa anak itu.
.
.
.
"Kumohon, berbicaralah padaku, Sensei."
Iruka menggigit bagian dalam pipinya. Tidak, tidak, jangan suara penuh harap itu. Dia lemah terhadap Naruto, dan anak sialan ini tahu benar bagaimana cara memanfaatkannya.
"Sensei?"
Iruka memejamkan matanya, tahu benar jika dia melihat Naruto dan melihat ekspresi seperti anak kucing terbuang dia akan langsung menghambur memeluk Naruto dan menimangnya.
Lelaki itu terus mengeraskan hati dan kepalanya untuk tidak merespon apapun yang Naruto lakukan, sampai akhirnya desah kekalahan terdengar dari pemuda di depannya dan bunyi derit tempat tidur yang kehilangan beban menarik perhatiannya.
"Sensei," suara Naruto mengalun, paling lembut dari yang pernah di dengarnya. "Aku tahu kau kecewa—hell, kau bahkan tidak mau melihatku dan ini adalah yang pertama kali sejak aku nyaris membakar diriku sendiri saat aku bermain dengan kompor dulu."
Shit—Iruka nyaris tersenyum. Kenangan itu terlalu menghibur.
"Tapi aku tahu kau tidak seperti mereka," Naruto memberanikan diri menyentuh tangan Iruka dan mengenggamnya ragu-ragu. Kedua tangan mereka berkeringat dan Naruto bahkan tidak tahu siapa yang lebih pucat saat ini. "Kau akan mendengar alasanku. Kau akan mengerti."
Dengan napas tertahan Naruto menangkupkan wajah Iruka dalam kedua tangannya yang besar, lebih besar dari tangan Iruka sendiri dan pria berambut cokelat itu bahkan tidak tahu kapan Naruto tumbuh sebesar ini.
"Lihat aku, Sensei. Buka matamu dan dengarkan aku. Setelah itu, kau bisa memutuskan apakah tindakanku ini salah atau tidak."
Naruto benar-benar tahu cara untuk meluluhkannya. Iruka menemukan dirinya membuka mata bahkan sebelum dia menyadarinya.
Senyum lebar yang mengembang di wajah Naruto membuat dadanya berat karena rasa bersalah. Tidak seharusnya dia bersikap seperti ini, tidak jika Naruto menganggapnya lebih berarti dari siapapun.
Tidak seperti yang orang lain pikirkan—yang mengira Iruka begitu polos hingga tidak menyadari hal yang paling jelas sekalipun seperti ini—dia tahu.
Dia tahu Naruto memujanya. Menganggap dirinya lebih berarti jauh, jauh diatas Hokage.
Dia memiliki pengaruh terbesar dalam hidup Naruto sejak dulu. Iruka bahkan tahu bahwa sipitan matanya akan menghantui Naruto sepanjang hari.
Dan mendiamkannya seperti ini? Iruka terkejut Naruto tidak menghancurkan hutan seberang demi rasa frustasinya.
"Duduklah," Iruka berbicara dengan suara tercekik. Perasaan berat di dadanya kini menjalar ke tenggorokannya. "Aku akan mendengarmu."
.
.
.
Lalu Naruto memulai kisahnya. Bagaimana dia merasa ingin menginjak Sasuke ketika anak itu berguling di lantai rumahnya, bagaimana dia menahan diri mati-matian untuk tidak mencekik Sasuke yang tertidur pulas di ranjangnya.
Dan dia bercerita bagaimana dia selalu mengurung dirinya ketika mata hitam Sasuke selalu ingin membuatnya mengoyak tubuh Sasuke dengan kuku panjangnya.
.
.
.
.
Naruto mengulum senyum kecut, menenggelamkan wajahnya sendiri dalam telapak tangan.
"Apakah kau masih berpikir keputusanku ini salah, Sensei?"
Iruka diam. Matanya belum juga mengecil sedari tadi.
Sang pemuda pirang yang melihat ekspresi Iruka tersenyum kecil, menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan menatap Iruka terhibur.
"Baru menyadari kalau aku tidak sepenuhnya jinak, eh?"
Iruka masih belum mampu membuka mulutnya, tapi matanya yang berkaca-kaca sudah lebih dari cukup.
Naruto masih memandang pria itu dengan wajah apatis, tapi dalam dadanya bergemuruh ketika perlahan Iruka mengusap kepalanya.
"Kau—tidak pernah mengatakan apapun."
Suara Iruka penuh dengan emosi yang menggelegak, menggetarkan bibir dan matanya.
"Aku tidak ingin kau khawatir."
"Tapi itu membuatku memikirkan hal negatif tentangmu. Kau tidak memberikan penjelasan apapun dan dengan berita kematian Sasuke, kupikir kau—"
"Tunggu," sambar Naruto tajam. Entah kenapa perutnya terasa dingin. "Apa maksudmu? Sasuke, dia—itu cuma akal-akalannya Tsunade-sama, bukan? Dia tidak benar-benar—"
Tangan Iruka yang menjauh dari kepalanya dengan begitu cepat membuat rasa dingin di perut Naruto menjalar sampai kerongkongannya.
"Aku… tidak tahu."
"Tapi kau terlihat sangat yakin bahwa dia mati!"
"Kau tidak melihat bagaimana dia setelah kau tinggalkan, Naruto!" Iruka nyaris berteriak. Sungguh dia tidak ingin menyalahkan Naruto, dia paham bahwa Naruto meninggalkan Sasuke demi kebaikannya sendiri, tapi—dia tidak tahu apa yang harus dia pikirkan tentang Naruto dan itu membuatnya sangat frustasi!
Tangan Naruto yang hendak menyentuh pundak Iruka menggantung di udara. Rasa nyeri berdenyut di dadanya, sensasi dingin bahkan telah menjalar hingga ke lengannya. Kenapa… kenapa semua bisa seperti ini? Naruto hanya ingin hidupnya kembali normal, dia hanya ingin kepingan hidupnya yang telah susah payah dia pungut tidak berserakan di tangan Sasuke.
Tapi kenapa?
Naruto perlahan bangkit. Dia tidak yakin mampu menahan diri jika dia tinggal disini lebih lama. Dia tahu Iruka sedang bingung—seperti apakah seharusnya dia menilai tindakan Naruto. Di sisi lain Naruto yakin Iruka menganggap keputusannya meninggalkan Sasuke adalah hal yang benar, tapi pilihannya untuk tidak menjenguk Sasuke, membuangnya begitu saja dan mencuci bersih tangannya—Naruto bahkan tidak yakin pada dirinya sendiri.
Naruto melalui Iruka, mengeraskan rahangnya dan berjalan cepat menuju pintu.
Tapi tepat sebelum Naruto keluar dari rumahnya, suara lirih Iruka membuatnya berpaling.
"Temui Ibiki," ucapnya lirih. "Kupikir… sudah saatnya kau tahu."
.
.
.
Ibiki tidak tahu apa yang merasuki kepalanya ketika dia mendapati Uzumaki Naruto mendobrak kamarnya dan tidak menghajar pemuda itu.
Mungkin karena dia tahu bahwa cepat atau lambat Naruto akan menemuinya. Tapi tidak jam 4 subuh seperti ini juga.
Namun mata Naruto yang berkilat nyalang membuatnya terdiam.
Ah… pemuda ini adalah seorang Jinchuuriki. Tidak seharusnya dia melupakan hal itu.
"Apa yang membuatmu menganggu tidurku subuh-subuh begini, hm, Uzumaki?"
Naruto menutup pintu kamarnya kasar.
"Apa benar Sasuke telah mati?"
Sebelah alis Ibiki yang terangkat mendidihkan amarah Naruto nyaris sampai ubun-ubun. Dia tidak punya waktu untuk meladeni sarkasme atau pembicaraan yang berbelit-belit.
"Ya."
Naruto tertegun.
"Apa?" kilatan buas di matanya hilang. "Kau tidak—"
"Ya."
Naruto yakin selama sepersekian detik jantungnya tidak berdetak. Matanya bergulir liar ke muka Ibiki, berharap menemukan kebohongan dan merasakan kakinya nyaris merosot saat dia tidak menemukan satupun disana.
"Apakah hanya itu?" Ibiki bertanya dingin. "Kalau iya, cepat keluar dari rumahku—kita bicarakan kembali besok."
Naruto tidak mampu mendengar semuanya—telinganya bergemuruh selaras dengan detak jantungnya yang berdegup liar. Tidak… tidak mungkin. Sasuke tidak—
"—dia tidak boleh mati."
Kemudian Naruto mengangkat kepalanya, membuat Ibiki tertegun sejenak.
Awalnya dia mengira akan menemukan ekspresi kekalutan disana, akan melihat wajah orang-orang yang tenggelam dalam rasa bersalah. Namun Naruto, bukan penyesalan yang mendominasi mukanya, tapi—
—takut.
Dan Ibiki langsung mengerti kenapa.
"Kau kesini karena Iruka mengatakan sesuatu padamu, kan? Baiklah, akan kutunjukkan. Tapi jawab satu pertanyaanku." Ucap Ibiki, masih dengan nada dingin yang sama. Mungkin lebih.
Naruto bergeming.
"Kau tidak merasa bersalah," desis Ibiki. "Mendengar Uchiha mati—bukan rasa bersalah yang membawamu kemari, bukan?"
Ekspresi Naruto yang berubah menjadi dingin dengan cepat membuat Ibiki menaikkan alisnya.
"Ya."
"Lalu apa yang membawamu kemari? Keluar dari tempat persembunyianmu dan memastikan apakah Uchiha benar-benar mati atau tidak?"
Naruto diam.
Ibiki menunggunya untuk berbicara, namun Naruto tidak menunjukkan tanda akan menjawab. Pemuda itu hanya menatapnya dengan mata yang keras—namun penuh emosi yang menggelegak.
Ibiki menghela napas.
"Kau takut akan disalahkan atas kematian Sasuke, hm?" ujarnya, mengamati setiap reaksi Naruto dengan kalkulatif. "Kau takut orang-orang akan membencimu, takut jika tetua menyalahkanmu dan merenggut semua usahamu untuk mendapatkan kehidupan yang layak."
Ibiki menyadari tetesan darah mengalir dari kepalan tangan Naruto.
"Kau takut semuanya akan kembali seperti dulu."
"Kau membuatku terdengar sangat egois," suara Naruto nyaris berupa geraman. "Aku merasa bersalah."
"Tapi rasa bersalahmu tidak cukup untuk membuatmu kemari. Aku yakin, seandainya kematian Sasuke tidak mengancam kehidupanmu, kau tidak akan kembali ke Konoha meski kau tahu dia benar-benar mati."
"…"
Naruto mendengus. "Aku benar-benar brengsek, huh."
Ibiki menatapnya untuk beberapa saat, berpikir sebenarnya siapa yang diperlakukan tidak adil—Sasuke, atau Naruto?
Tanpa sadar dia mendecih keras. Membulatkan tekadnya, Ibiki berjalan mendekati Naruto dan mendudukkannya ke tepi tempat tidur.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Kosongkan pikiranmu, dan jangan menolak ketika aku memasukkan cakraku dalam kepalamu."
Naruto mendongak menatap Ibiki yang menjulang di depannya. "Apa semua ini agar aku merasa bersalah dan menangisi kebodohanku?"
Mencengkram kepala Naruto lebih kuat dari yang seharusnya, Ibiki menggeram. "Semua ini agar kau berhenti menyusahkan orang-orang di sekelilingmu."
.
.
.
.
.
.
Naruto mengecap rasa besi di mulutnya. Lagi.
Dengan jijik dia meludah, mencipratkan darah ke lantai porselen di bawahnya. Beberapa terpercik ke darah lain yang telah mengering, yang dia buang ke lantai dengan cara yang sama beberapa hari yang lalu.
Mengangkat sudut bibirnya, Naruto senang dengan perasaan puas yang masih bisa dirasakannya setelah bertahun-tahun menjalani hal ini—setidaknya membersihkan darah itu akan menyusahkan mereka.
Tapi perasaan menyenangkan itu tidak bertahan lama ketika nyeri menghantam perutnya bak palu yang dijatuhkan dari tempat tinggi. Menjerit tertahan, Naruto mengenggam perutnya hingga tubuhnya melengkung dan jatuh terjembab dari tempat tidur.
Belum reda rasa nyeri yang seakan merebut udara dari paru-parunya, rasa perih membakar menyerang seluruh tubuhnya dengan cepat. Rasa sakitnya seperti dicabik, seperti seseorang mencerabut otot tubuhnya satu persatu.
Naruto bahkan tidak mampu menjerit. Tubuhnya mengejang bak tengah dicabut ruh dari mulutnya. Rasanya sakit, sakit sekali dan dia tidak tahu kenapa dia belum mati karenanya.
"A-AAAAA!"
Naruto melempar dirinya ke samping. Kyuubi… Kyuubi melolong nyaring dan mencakar perutnya, mengais otot-otot yang ada di dalam sana dan membakarnya. Kedua mata Naruto nyaris keluar dari rongganya dan mulutnya tidak bisa tertutup lagi—berteriak tanpa ada suara yang keluar.
Air mata tanpa sadar berjatuhan ke pipinya. Kukunya yang rusak mengais lantai, sementara tubuhnya terus melempar dirinya sendiri. Wajahnya memutih, tangannya mulai mendingin. Paru-parunya sudah lama tidak mampu menarik udara dan titik-titik hitam mulai bermunculan di matanya—
Sebelum kemudian dia menyadari bahwa mungkin ini adalah saat dimana dia akan mati. Dan untuk pertama kalinya, pertama kalinya, dia berharap rasa sakit ini terus bertambah sampai nyawanya benar-benar tercabut.
Dia berharap bahwa ini akan menjadi yang terakhir kali.
.
.
.
Keesokan harinya, Naruto menangis keras karena dia tetap hidup.
Dia melempar semua barang yang ada, menyaksikan bagaimana semua itu rusak berbenturan dengan dinding sebelum mengambil serpihan yang tersisa dan menghancurkannya dengan tangannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?!"
Naruto baru saja akan memecahkan kaca lemari di penjaranya ketika seseorang berambut hitam—hitam, hitam, hitam. Semua bajingan itu memiliki warna yang sama—muncul begitu saja di kamarnya dengan kepulan asap dan menahannya di lantai seketika.
"Lepaskan aku! LEPAS—UKH!"
Naruto mulai terbatuk-batuk hebat. Dada dan kerongkongannya seperti terbakar. Dengan lemah dia menggeliat berusaha membebaskan diri dari cengkraman Uchiha yang menahannya.
"Jangan banyak bergerak. Kondisimu akan semakin parah. Aku akan mengangkatmu ke tempat tidur sekarang, jadi jangan melawan."
Tanpa sadar Naruto mengangguk. Batuk yang menyerangnya nyaris membuat ia tidak mampu bergerak. Perutnya melilit, matanya mengabur. Tulang rusuknya seakan bergeser setiap kali dia mencoba menarik napas—sakit sekali.
"Aku akan panggilkan dokter. Kau tunggu disini dan jangan lakukan hal yang konyol."
Seandainya ia bisa, ia akan mendengus. Memang apa yang bisa dia lakukan dengan kondisi seperti ini? Dan kalau pun dia bisa melakukan sesuatu, mereka akan tahu.
Naruto sudah terlalu lama menjadi mainan Uchiha untuk berpikir senaif itu.
Dengan pandangan kosong dia menatap langit-langit tanpa sadar. Situasinya bukanlah seperti negeri dongeng, dimana dia diperlakukan dengan tidak manusiawi hingga tidak diberi makan minum. Dia juga tidak dirantai atau disiksa tanpa sebab. Para Uchiha tidak seperti karakter antagonis yang akan meludahi wajahnya atau tertawa ketika mereka menyiksanya.
Mereka hanya tidak peduli.
Naruto ditempatkan dalam kamar khusus yang lebih baik dari apartemennya di pinggiran Konoha. Mereka juga hanya mengurungnya paling lama 2 minggu. Dia boleh melakukan apapun di kamar khususnya ini. Dia boleh menonton televisi—ya, mereka bahkan memberikan televisi disini—lalu dia akan diberi makan tiga kali sehari, dan terkadang mereka akan membiarkannya membuka jendela walau harus diawasi. Benar-benar tidak seperti cerita klasik tentang si malang yang tertindas.
Tapi setiap kali mereka melakukan apa yang mereka inginkan, rasanya lebih menyakitkan daripada mati.
Naruto akan dibawa ke sebuah lapangan yang luas. Lapangan itu berupa padang rumput yang kusam, dengan beberapa tempat yang bolong tidak ditumbuhi rumput yang menguning. Tanah disana nyaris kering dan angin yang berhembus terlalu lemah untuk bisa dirasakan.
Disana, dia akan menemukan lebih banyak rambut hitam yang ia benci. Lebih banyak wajah-wajah datar yang menatapnya tidak acuh. Mereka akan segera membentuk lingkaran ketika dia datang, tangan-tangan durjana itu bergetar gatal ingin segera mengais kekuatan yang akan mereka dapat dengan mempermainkannya.
Satu per satu, mereka akan mengaktifkan mata terkutuk itu. Lalu Kyuubi akan meraung, mengibas ganas, menolak untuk dikendalikan secara paksa. Mengoyak perut dan tubuhnya, menyiksanya dengan rasa panas yang membara namun tidak membakarnya hingga dia bisa mati.
Biasanya akan ada 3-5 orang yang akan berlatih per hari. Dan jika hanya dengan sekali coba Naruto sudah mengejang bak ikan sekarat di tanah, bayangkanlah apa yang terjadi pada tubuhnya jika mereka semua mengaktifkan Mangenkyou Sharingan satu per satu.
Tapi seperti yang telah dia katakan—mereka tidak pernah peduli.
Jika dia pingsan, kipasi wajahnya dan berikan sedikit cakra.
Jika organnya terluka parah—hell, apa gunanya ninja medis.
Jika dia sekarat—rawat secara intensif, tunggu beberapa hari sampai dia cukup kuat untuk berdiri, dan mulai lagi.
Hal itu terus berulang selama bertahun-tahun, cukup lama hingga Naruto menyadari bahwa tidak ada kesempatan baginya untuk mati karena ini.
Mereka akan membiarkannya hidup. Demi klan mereka.
.
.
.
Naruto tumbuh di kamar itu.
Dengan kebencian yang merasuk ke pori-pori kulitnya melalui udara yang ia bagi bersama para Uchiha. Melalui lantai dimana dia bisa mendengar hentakan kaki mereka yang berlalu lalang. Melalui nasi empuk yang bisa ia cium bau bangsat tangan-tangan porselen itu.
Naruto tumbuh di kamar itu, dengan pertanyaan kapan semua ini akan berakhir, dan kebencian yang berdenyut lebih cepat dari jantungnya sendiri.
Sampai suatu hari, dia datang.
Malam itu dia berbaring kaku di tempat tidur. Tubuhnya gatal ingin bergerak ke samping, tapi terlalu lemah untuk bisa menggeser pantat sedikit saja. Malam itu dia kira akan berakhir seperti biasa, dengan matanya yang menatap langit-langit tanpa maksud dan nanti akan terpejam begitu saja.
Lalu dia mendengar suara lonceng yang berdenting mendekati kamarnya.
Membulatkan matanya ngeri, Naruto melirik ke arah pintu. Selama setahun dia berada disini, tidak pernah sekalipun ada suara selain hentakan kaki angkuh atau suara bisikan terburu-buru yang bisa didengarnya dari kamar ini.
Pikiran Naruto yang sudah terlatih untuk berpikir yang terburuk segera memberikan beberapa prasangka padanya. Mungkin itu adalah suara anak kecil yang bermain diluar—tapi itu tidak mungkin. Uchiha sangat keras, mereka melarang anak mereka keluar setelah petang—atau bisa jadi itu adalah penjaga baru yang terobsesi pada lonceng.
Atau mungkin mereka akan mempermainkannya lagi, jika mereka merasa bahwa latihan beberapa kali seminggu pada pagi hari tidak cukup—
Naruto menelan tangis—tidak mungkin mereka juga akan mengambil waktu dimana dia bisa beristirahat sedikit saja…
"Apa kau sudah tidur?"
Naruto mengerjapkan matanya cepat, membuat bulir gemuk air mata membasahi pipinya. Apa… yang sedang terjadi?
"Kau tidak akan bisa tidur tenang dengan luka seperti itu. Jadi aku yakin kau diam karena tidak ingin menjawab pertanyaanku."
Suaranya berbeda. Terlalu muda, jauh lebih ringan daripada suara berat yang biasa di dengarnya.
Seperti dirinya.
Kedua mata Naruto membulat penuh pemahaman. Dia masih anak-anak.
"Kali ini aku yang akan menjadi penjaga. Kau mau aku memperkenalkan diri?"
Astaga. Astaga. Apa yang mereka pikirkan sampai menempatkan anak kecil untuk menjaga seorang jinchuuriki yang tidak stabil seperti dirinya?
Naruto membuka mulutnya untuk menjawab, sebelum dia memutuskan untuk menutupnya kembali. Uchiha tidak pernah bicara padanya selain untuk memastikan dia tetap hidup. Dan selama ini Naruto juga tidak pernah bicara pada mereka—tidak setelah dia menyadari bahwa apapun yang ia katakan, mereka tidak akan mendengar.
Jadi tidak ada alasan baginya untuk mendekati mereka. Tidak ada alasan baginya untuk percaya.
"Kau benar-benar tidak akan menjawab pertanyaanku, hm? Tidak apa-apa, aku mengerti."
Naruto nyaris mendengus mendengarnya. Tentu saja dia mengerti. Orang gila pun akan mengerti kenapa dia bisa jadi seperti ini.
"Namaku Uchiha Itachi. Kita seumuran—ah, kurasa aku lebih tua 2 tahun darimu."
Naruto memutar kedua bola matanya. Entah kenapa sekarang dia lebih memilih penjaga yang biasanya berbisik ribut di balik pintu daripada bocah pesakitan ini.
"Aku tidak terlalu kuat, jadi aku harap kau tidak memanfaatkan kesempatan ini."
Bagus. Selain masih bocah, anak itu juga bodoh. Menggeser pantat saja dia tidak bisa bagaimana ceritanya dia bisa kabur. Duh.
Naruto mengutuk nasibnya. Tidak cukupkah dia meladeni Uchiha pada siang hari, malam pun dia tidak bisa lepas dari mereka. Bahkan kali ini dia mendapat penjaga yang tidak tahu kapan dia harus menutup mulut.
Seandainya dia punya cukup tenaga, Naruto pasti akan menepuk dahinya sendiri. Jika dia berpikir hidupnya tidak bisa lebih buruk—well, para Uchiha selalu punya cara untuk menghancurkan pikiran positifnya.
.
.
.
"Aku membawa makanan untukmu."
Naruto melotot gemas. Tidak bisakah anak itu mendorong saja makanan melalui lubang di dinding dan diam seperti yang lain? Apa dia berpikir Naruto akan mau bicara padanya jika dia membawa makanan?
Cih, sekarang mereka menganggapnya seperti binatang peliharaan.
Tapi setidaknya anak itu cukup tahu diri untuk tidak menunggu jawabannya. Tanpa banyak bicara lagi dia mendorong piring cukup jauh hingga mencapai kaki tempat tidur Naruto.
Mendengus pelan, Naruto menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang akan ia makan hari ini. Uchiha selalu memberinya makanan yang… terlalu sehat. Sayur, daging tanpa lemak, dan buah-buahan. Semuanya terasa hambar seperti tidak diberi garam. Naruto mengerti kalau mereka membutuhkannya tetap sehat agar mereka bisa menyakitinya tanpa harus mati, tapi tidak begitu juga kan.
Dan bayangkan betapa terkejutnya dia saat melihat nampan yang harusnya dipenuhi dengan warna hijau berganti dengan berbagai macam plastik yang bewarna warni.
Naruto memicingkan matanya dalam kegelapan, berusaha mengamati lebih jauh. Apa-apaan ini—keripik kentang, stik keju, puding kemasan, cokelat butir, cup ramen instan, dan—cola?
Mata Naruto membola. Air liurnya mulai menetes tidak etis.
Tanpa berpikir Naruto menyambar nampan tersebut secepat kilat, tidak teringat dengan tangannya yang terluka parah dan refleks hal itu membuatnya menjerit, jemarinya bergetar menahan nyeri namun ajaibnya genggaman tangannya pada nampan tersebut tetap kokoh.
Meringis kecil, Naruto membuka tutup cup ramen dan bersyukur atas kehidupan yang masih diberikan padanya begitu melihat asap panas mengepul dari dalam cup itu. Dengan hati-hati, dia meraih garpu plastik dan menyeruput isinya.
Ramen itu bukan ramen yang enak. Mienya kembang dan airnya terlalu banyak. Rasanya terlalu asin seakan-akan si pembuat baru menyadari air yang dia masukkan melebihi garis di cup dan menambahkan garam tanpa pikir panjang.
Benar-benar tipikal seorang Uchiha yang—ia yakin—baru pertama kali membuat ramen instan.
Senyum kecil merekah di bibirnya, sebelum kemudian dia tersadar dan cepat-cepat menggelengkan kepala. Sembari menyeruput mie, sekuat tenaga dia memikirkan kembali hal-hal buruk yang pernah dilakukan Uchiha padanya, ingin mengeluarkan kembali rasa panas yang bergemuruh dalam dadanya setiap kali dia teringat kembali perbuatan mereka.
Dia tidak ingin menjadi lembek hanya karena salah seorang dari mereka menunjukkan perhatian sedikit. Dia tidak ingin seperti tokoh negeri dongeng yang terkena Stockholm Syndrome dan bersimpati pada orang-orang yang telah menyiksanya.
Naruto mendengus keras, memastikan Uchiha kecil itu mendengar dan menyadari bahwa Naruto sama sekali tidak terkesan. Maaf saja, Uzumaki Naruto adalah pria yang berpendirian teguh dan tidak mudah oleng hanya karena satu dua perhatian.
Pikir Naruto, sembari meletakkan cup ramen yang sudah kosong dan meraih keripik kentang di sampingnya.
.
.
.
Sejak saat itu, Naruto selalu menemukan junk food terselip di bawah makanan sehatnya. Kentang goreng penuh minyak, jelly yang antara rasa dan warnanya tidak sinkron—seriously, Naruto pernah mendapat jelly bewarna ungu dengan rasa melon—manisan, bahkan es krim. Bocah Uchiha itu benar-benar niat ingin menjinakkannya, ternyata.
Kasihan, karena Naruto tidak akan terpengaruh.
Malam itu Naruto memandangi langit-langit kamarnya sembari mengunyah permen yang lengket sampai ke gusinya—bagaimana seorang elit Uchiha dapat menemukan makanan seperti ini, dia tidak habis pikir—dan menunggu Itachi datang untuk mengacaukan malamnya.
Mengacaukan sebenarnya agak terlalu berlebihan. Anak itu hanya duduk menyandar di pintunya dan diam sepanjang malam, entah karena tertidur atau dia menyadari bahwa Naruto sama sekali tidak berminat untuk bercakap-cakap. Hal yang pernah Itachi ucapkan padanya hanya 'aku membawakanmu makanan' dan basa-basi singkat saat pertama kali dia menjaga Naruto.
Kali ini matanya berpindah ke jam besar di atas cermin. Biasanya jam segini bocah itu sudah datang, kalaupun telat hanya sepuluh atau lima belas menit. Tapi ini—
Naruto terkesiap. Sejak kapan dia menandai waktu Itachi akan datang?
Tidak, dia tidak mengharapkan kedatangan Itachi. Dia tidak baru saja membiarkan anak itu mendekati dirinya.
Dia tidak ingin menjadi sosok lemah yang akan menerima keberadaan orang yang telah menghancurkan hidupnya hanya karena sedikit perhatian.
Dia tidak semenyedihkan itu.
.
.
.
Kemudian setelahnya, Itachi tidak pernah datang lagi.
Dan sekeras apapun Naruto mencoba mengeraskan hatinya, dia tetap bisa menghitung bahwa malam ini adalah malam yang keempat.
,
,
,
"ARGGGHHH!"
Naruto jatuh terjembab, mukanya terlebih dahulu menghantam tanah. Perutnya berdenyut, menggelegak panas dan mendorong isi lambungnya keluar. Cairan asam mengenai hidungnya yang kalap menarik udara bercampur debu tanah di bawahnya.
"Sepertinya kita hentikan sampai disini saja."
"Bukankah lebih baik kalau kita teruskan sedikit lagi? Aku sudah bisa merasakan kontrol Kyuubi semakin menipis."
Rasa ngeri menjalar sampai ke leher Naruto, membuatnya terbatuk hebat dan mengigit bagian dalam pipinya kuat-kuat. Jika mereka teruskan… jika lebih dari ini…
"Tapi jika kita teruskan, kondisi Jinchuuriki akan terlalu lemah untuk gelombang kedua besok."
"Ayolah, tinggal sedikit lagi dan minimal kita bisa mengontrol pergerakan satu ekor Kyuubi—"
"ARGGGGHHH!"
Dia bisa merasakannya, dia bisa merasakannya! Cakra Kyuubi meraung ganas, menyelimuti kulitnya dengan hawa panas yang menusuk bahkan sampai tulang belakangnya. Dengan sekuat tenaga Naruto mencakar tanah, menolak menjatuhkan air mata yang nyaris tumpah—
"Maaf menganggu latihan kalian, tapi kalian dipanggil ayahku ke ruang rapat. Sekarang."
Naruto tidak sadar jika dia refleks menahan napasnya, sebelum kemudian dia terbatuk dan mengeluarkan darah hitam dari mulutnya. Dadanya mengeluarkan suara berdecit nyaring, telinganya bergemuruh, dan matanya mengabur.
Tapi dia bisa melihat sosok anak itu, jauh lebih jelas dari yang ia duga.
"Itachi-san," sebuah suara menyahut tenang. Naruto memejamkan mata kuat-kuat, menahan setengah mati jeritan yang mengancam keluar kala perutnya berputar hebat. "Terima kasih atas infonya, tapi kami akan kesana setelah membawa Jinchuuriki ke ruang medis sebentar."
"Ayahku mengatakan 'sekarang'," suara Itachi nyaris terdengar seperti desisan. "Kalian bisa meminta bantuan yang lain untuk mengantarnya kesana."
Sang lawan bicara menatap Naruto penuh pertimbangan, keragu-raguan terpancar jelas dari mata hitamnya. Kondisi Jinchuuriki ini sudah sangat lemah, tapi dia yakin kalau mereka meneruskan latihan sedikit saja—
"Baiklah, akan kukatakan pada ayahku—" Itachi membungkuk pamit dan membalik badan. "—dan para tetua serta petinggi Konoha. Aku yakin alasan keterlambatan kalian akan… dimaklumi. Selamat siang."
Naruto menahan seringainya—bibirnya lecet dan dia tidak mau memperparah lukanya, oke—tapi suara langkah kaki Uchiha yang biasanya berderap sok kini nyaris berlari panik membuatnya geli.
Lalu dia memuntahkan darah lagi. Oh, dia sedang terluka. Cih.
"Apa kau baik-baik saja?"
Naruto mengangkat mukanya, berharap bahwa mata yang dimiliki Itachi tidak bewarna hitam. Karena jika iya, jika kulitnya seputih porselen, jika rambutnya juga bewarna gelap seperti yang lain…
Jika Itachi yang selama ini meracuninya dengan junk food benar-benar seorang Uchiha—klan brengsek sama seperti yang lain…
"Kau bisa mendengarku? Naruto?"
Mata Naruto yang kabur langsung terang kembali begitu mendengar namanya disebut. Dan sialnya, hal itu membuatnya menyadari bahwa Itachi adalah tipikal Uchiha—rambut dan mata yang gelap, kulit putih seolah tidak pernah mendapat sinar matahari, dan wajah datar yang menolak untuk membuka satu pun emosi.
Oh, crap.
"Aku akan membawamu ke ruang medis—pegangan yang erat."
Jika Naruto menganggap kenyataan bahwa dia tidak membenci Itachi seperti Uchiha yang lain adalah hal yang sangat menyedihkan, maka Itachi yang tengah mengangkatnya ala bridal dan tersenyum simpatik padanya adalah alasan yang cukup untuk bunuh diri di tempat.
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Pergi."
"Pfftt…"
Kepala Naruto menukik tajam, matanya menatap garang ke arah pintu.
"APA?!"
Kekehan geli itu masih terdengar pelan. Naruto tidak bisa membayangkan seorang Uchiha terkikik malam-malam di depan kamarnya—image seperti itu benar-benar merusak mental Naruto.
"Tidak, hanya saja ini adalah pertama kalinya kau berbicara padaku."
Oh. Oh.
Shit. That bugger.
.
.
.
Ini adalah malam yang kedelapan.
Dan Itachi, telah memutuskan bahwa sudah saatnya dia menunjukkan bahwa dia adalah bocah paling brengsek yang pernah Naruto kenal.
"Boleh aku masuk?"
Kedua bola mata Naruto membulat horror.
"Tidak."
"Ini rumahku, jika kau lupa—"
"Kubilang tidak."
"Aku bisa memasuki kamarmu sekarang juga—memang apa yang bisa kau lakukan?"
Naruto menyumpah. Dia benar, tubuhnya yang sekarang bahkan terlalu lemah untuk sekedar membalik badan.
"Aku hanya ingin memastikan apakah rumor yang mengatakan kau masih mengompol itu benar."
"Listen, you little shit—"
Krieeett…
Serapah Naruto tertahan di ujung lidah.
.
.
.
"Aku membawakanmu ramen."
Naruto membuang muka. "Ramenmu bahkan tidak terasa seperti ramen."
Sudut bibir Itachi naik sedikit. "Akuilah, rasanya tidak seburuk itu."
Bocah berambut pirang itu menaikkan alisnya setinggi mungkin, berharap kesan sarkastis bisa maksimal terpampang di wajahnya yang lecet.
"Kau menuang air sampai tumpah dari wadahnya."
Itachi mengangkat bahu. "Kau masih bisa menambahkan garam."
"Kau selalu memberi garam terlalu banyak."
Kali ini giliran Itachi yang mengangkat alis. "Bisa dinetralisir dengan gula."
Naruto menepuk jidatnya. "Sebenarnya kau mau membuat apa?"
.
.
.
Malam itu, Itachi datang terlambat.
Bukannya dia menunggu kedatangan anak itu—tidak, terima kasih. Tapi setelah beberapa malam terbiasa dengan keberadaan Itachi dan hapal bagaimana anak itu selalu tepat waktu, sulit untuk tidak—tunggu sebentar.
Sejak kapan dia…
Naruto tertegun, matanya terpaku pada jam dinding.
.
.
.
Ketika pintu terbuka malam itu, Naruto tidak membalikkan badannya.
Punggungnya terasa dingin saat angin masuk dari pintu, ruangan yang awalnya gelap gulita kini tampak remang-remang. Tanpa menoleh pun Naruto dapat menyadari bayangan Itachi yang memanjang di lantai kamarnya, semakin lama semakin mendekat hingga Naruto bisa merasakan sosok Itachi tepat di belakang punggungnya.
Itachi membiarkan pintunya terbuka.
"Maaf aku baru datang sekarang. Ada… beberapa hal yang harus aku lakukan."
Naruto mengatupkan bibirnya semakin rapat. Dia ingin sekali
.
.
Naruto menyusuri kain yang menyelimuti Sasuke dengan jarinya. Tangannya bergetar samar, jantungnya berdegup semakin kencang ketika sensasi halus selimut nyaris menutupi seluruh telapak tangannya. Ini pertama kalinya dia melihat bayi dari dekat, pertama kalinya ada orang yang cukup mempercayainya untuk melihat bayi mereka dari jarak sekecil ini…
"Peganglah dia."
Naruto refleks menjauh seakan selimut lembut itu membakar tangannya. Matanya melebar, menatap panik Itachi dan Sasuke bergantian.
"Kau tidak bersungguh-sungguh."
Karena tidak ada, tidak pernah ada yang akan menyerahkan seorang bayi ke tangan pendosa seperti miliknya, tangan yang sama yang telah menghancurkan desanya sendiri beberapa tahun yang lalu—
"Kau tidak tahu caranya?"
"BUKAN ITU YANG HARUSNYA KAU KHAWATIRKAN!" jerit Naruto—Sasuke tersentak pelan dan Naruto mengatupkan kedua rahangnya begitu keras hingga kepalanya pusing— "Aku seorang Jinchuuriki! Aku akan menyakiti adikmu!"
Mendengarnya Itachi hanya menghela napas. Satu-satunya hal yang mencegahnya untuk memutar bola mata adalah darah Uchihanya yang menolak untuk bertingkah konyol lebih dari ini.
"Kau hanya akan menggendongnya, Naruto. Aku akan memastikan kau tidak menjatuhkannya—lagipula kau sedang duduk di tengah tempat tidur."
"Kau tidak mengerti!" seru Naruto diantara giginya, menatap Sasuke panik seakan takut membangunkannya. "Kau tidak tahu apa yang akan aku lakukan dengannya—aku seorang monster dan kau tahu aku tidak perlu melakukan apapun untuk membunuh seorang bayi!"
Napas Naruto tersengal. Matanya masih bergerak liar, mengamati tubuhnya sendiri dan Sasuke berulang kali. Bayi itu belum terluka, tubuhnya masih belum melakukan apapun, Sasuke masih baik-baik saja—
-jika ia pergi sekarang juga.
Naruto yakin bahkan menghirup udara yang sama dengannya akan menyakiti bayi itu.
"Kumohon, keluarlah. Aku sudah melihat adikmu, dia bayi yang lucu dan akan menjadi kebanggaanmu nanti—jadi tolong, bawa dia pergi dari sini."
Itachi tidak bergerak dari tempatnya, bahkan gerakan tidak nyaman Sasuke tidak mampu mengalihkan matanya yang terpancang pada sosok Naruto.
"Sebenarnya apa yang telah mereka katakan padamu?" tanyanya pelan nyaris berupa desisan. Sasuke bergerak semakin liar dan isakan kecil keluar dari bibirnya.
Naruto mengulum senyum pahit, matanya melirik Sasuke yang kini menangis pelan.
"Mereka mengatakan bahwa aku adalah sebuah kesalahan."
.
.
.
Sejak malam itu, sudah terhitung 4 hari Itachi tidak menemuinya.
Terkadang Naruto heran sendiri kenapa Itachi bisa pergi dan datang sesuka hatinya. Selnya berada di sudut terpencil dan berdiri terisolasi. Dia biasanya dijaga oleh dua orang dan Itachi bisa masuk seenaknya walau Naruto tahu benar orang dewasa saja kesulitan mendapatkan akses ke kamarnya.
Anak itu sudah aneh dari awal, tapi jika dipikirkan lagi ini tidak normal.
Naruto tersenyum kecut. Tidak ada orang normal yang akan menyerahkan adiknya yang masih halus ke tangan seorang monster.
Senyum Naruto menghilang secepat munculnya. Baru pertama kali dia melihat manusia selemah itu. Kepalanya tidak lebih besar dari mangkuk cuci tangan, alisnya entah kemana dan bibirnya terlalu merah. Naruto bahkan tidak perlu merasakan untuk tahu bahwa kulit itu sangat lembut, tidak perlu menyentuh untuk tahu bahwa di balik kepala botak itu ada rambut-rambut kecil yang akan menggelitik tangannya.
Sasuke terlihat begitu rapuh dan indah disaat yang bersamaan.
Naruto menatap telapak tangannya sendiri. Apakah dia dulu juga seperti itu? Terlihat semanis itu? Atau apakah dia sudah terlihat seperti monster?
Dadanya serasa menyempit. Tentu saja, jika dia berwajah selembut Sasuke, tidak akan ada yang membuangnya.
Lalu entah dari mana sebuah perasaan gelap menyerangnya, membuat paru-parunya berat dan giginya mengatup tanpa sadar. Sasuke… dia seorang Uchiha tapi semua orang menyukainya. Dia memiliki darah terkutuk dalam nadinya tapi dia memiliki wajah bak malaikat dan semua orang menyukainya!
Sedangkan dia, dia yang dijadikan sebagai wadah Kyuubi, dia yang dikorbankan demi penduduk desa—bahkan binatang pun diperlakukan lebih baik.
Naruto tidak ingin menangis, tapi perasaan gelap itu menjalar naik ke tenggorokan hingga matanya.
.
.
.
Itachi datang 8 hari setelahnya.
Dan dia masih membawa Sasuke.
"Listen, you little shit," Rahang Naruto tanpa sadar terbuka sedikit—selama dia mengenal Itachi tidak pernah sekalipun dia mendengar anak itu menyumpah. "Aku tidak peduli apa yang mereka katakan padamu—apakah kau sebuah kesalahan atau seekor monyet atau entah apa itu—kau akan menggendong Sasuke. Dan aku tidak menerima penolakan."
Naruto, masih mematung, masih menganga, menatap Itachi dengan mata membola selama beberapa saat. Lalu dia melompati ranjang dan mencengkram kerah Itachi.
"Kau pikir siapa kau?" desisnya geram, tidak peduli hidung mereka nyaris bersentuhan. "Jika kau berpikir aku akan membiarkanmu memerintahku, kau salah besar. Aku seorang monster dan kau tahu aku—"
"You're pretty."
"—yeah, sekarang kau tahu kalau aku—apa?"
Seakan baju Itachi membakarnya, Naruto menarik tangannya secepat kilat dan beringsut menjauh. Matanya memandang konyol Itachi yang balas menatapnya dengan seringai kecil.
"See?" Suara Itachi terdengar sangat puas. "Kau mengatakan dirimu seorang monster? Lihatlah pipimu yang merah padam di cermin dan coba kau sebut lagi dirimu seorang monster."
"Wha—" Kaki Naruto terbelit ketika dia buru-buru mendekati cermin "Aku tidak—"
Dia tidak seperti yang dikatakan Itachi, dia buruk rupa dengan segala luka dan lebam yang menghiasi wajahnya. Anak-anak desa selalu melemparinya dengan batu dan mengatakan wajahnya—pipinya tidak normal. Naruto yakin selama ini Itachi tidak pernah melihat wajahnya, jika anak itu cukup gila untuk menganggap semua abnormalitas yang dia miliki ini cantik—
Naruto terdiam.
Naruto sudah menyerah untuk melihat dirinya sendiri di cermin sejak lama, tidak ingin melihat mata birunya yang merupakan satu-satunya hal indah yang dimilikinya kini kusam akibat ulah para Uchiha—tapi…
"Kau adalah ninja paling menakjubkan yang pernah aku lihat—jika kau menghargai dirimu sendiri sedikit saja."
—matanya berpendar jauh lebih terang dari yang selama ini pernah dilihatnya.
Naruto masih terpaku menatap bayangannya sendiri. Jemarinya menyusuri setiap luka dan bengkak, menghitung memar yang menodai wajahnya.
Dan saat itulah dia sadar.
Dia tidak tampan, tidak juga cantik seperti yang dikatakan Itachi. Bengkak di pipinya membuat sebelah matanya menyipit dan bibirnya terlalu kering untuk disebut seksi. Tapi dia bisa melihatnya, dia bisa melihat sapuan merah di pipinya, kilauan hidup di balik matanya, dan kembang kempis hidungnya ketika dia bernapas.
Dia terlihat manusiawi.
Dan di antara warna-warni cokelat-biru-merah mukanya, di antara kekurangan rupanya, dia bisa melihat dirinya sendiri berdiri tegap, dengan rahang keras dan mata baja, seakan meneriakkan bahwa dia tidak akan mati walau orang membunuhnya seribu kali.
Kemudian suara Itachi menggelitik telinganya. "Masih bisa kau sebut dirimu monster?"
Naruto menggeleng pelan. Jemari kurusnya menyusuri cermin.
"I'm so fucking gorgeous."
.
.
.
"Oke, sekarang kau gendong Sasuke."
"NO FUCKING WAY!"
"Jangan mengumpat di depan adikku."
.
.
.
Naruto terkesiap. Jantungnya berdetak hebat. Matanya menatap nyalang ke sekeliling dan menemukan Ibiki sudah mengangkat tangannya.
"Kurasa sudah cukup sampai disini saja, kau bisa—"
"TIDAK!" tanpa sadar Naruto berteriak. Mendadak tubuhnya menggigil dan dia refleks memeluk tubuhnya sendiri. "Masih ada lagi. Kau tahu bahwa aku mengenal Sasuke lebih dari itu!"
Ibiki terdiam, menatap Naruto dengan pandangan tak terbaca.
Naruto menelan ludah. Pikirannya kembali memutar ingatan tentang sosok mungil Sasuke yang terbungkus selimut dan perasaan takjub yang membayanginya saat itu.
"Apa…" Naruto kembali menelan ludah, tangannya mencengkram lututnya sendiri. "Apa aku menggendongnya?"
Cukup lama Ibiki terdiam, sebelum kemudian hembusan napas lelah mengalun panjang.
"Kau memujanya, Naruto. Begitu memujanya hingga kau nyaris kehilangan akal sehatmu."
.
.
Naruto menggeser pantatnya tidak nyaman. Tangannya bergetar samar.
Dia sedang menggendong Sasuke.
Sementara Itachi—that sodding git—mengawasinya bak elang dari jarak 10 meter. Matanya menjanjikan siksaan pedih jika dia membuat Sasuke bergerak dari tidurnya sedikit saja.
"Kalau kau brother complex, kenapa kau tidak ambil saja Sasuke sekarang? Tatapanmu seakan membuat lubang di badanku."
"Jangan banyak bicara. Sasuke akan bangun."
Naruto menggertakkan giginya. Tidakkah dia mengerti kalau Naruto melakukan ini agar dia tidak terlalu gugup? Sasuke terlalu kecil untuk tangannya! Bayi ini tidak memiliki pertahanan sama sekali dan Naruto bahkan menahan napasnya agar Sasuke tidak terlalu menghirup banyak karbon dioksida!
Sebenarnya apa urusan seorang Jinchuuriki dengan menggendong bayi, by the way?!
"Sudah cukup, ambil dia kembali."
"Tidak."
"Itachi—"
"Kau baru menggendongnya sepuluh detik, Naruto."
"Persetan, idiot. Memang apa gunanya aku belajar cara menggendong bayi?" bisik Naruto menggebu-gebu. "Aku tidak bisa melihat manfaat apapun dari ini."
Itachi terlihat berpikir. "Kau bisa mempraktekkan ilmu ini jika kau punya anak nanti?"
Naruto mendengus. "Yeah, jenius. Memang kita bisa punya anak?"
Itachi terdiam.
Lalu sebuah seringai kecil mengembang begitu cepat di bibirnya dan membuat Naruto sadar bahwa pemilihan katanya benar-benar salah.
"Oh?"
"TIDAK!" seru Naruto kencang, wajahnya terasa panas. "Kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu!"
Senyum kecil Itachi tak kunjung hilang hingga dia keluar kamar.
.
.
.
Kali kedua dia menyentuh Sasuke, tangannya bergetar lebih hebat dari biasanya.
Karena dia berpikir kalau dia hanya memiliki satu kesempatan, hanya sekali dia bisa menggendong Sasuke sebelum Itachi menyadari bahwa dia hanya membawa celaka dan menjauhkan Sasuke darinya.
Tapi tidak. Empat hari setelahnya, Itachi kembali dan meletakkan Sasuke di pangkuannya dengan muka tanpa dosa.
Untuk sesaat Naruto membatu. Matanya terpancang pada sosok Sasuke yang menggeliat di pahanya seperti ulat, berusaha menggaruk kepalanya sendiri namun tangannya terlalu pendek untuk itu.
Naruto menelan ludah.
Demi apapun, tidak pernah dia melihat bayi semanis ini sebelumnya.
Itachi yang bersender di ambang pintu mengamati Naruto dengan pandangan tertarik. Naruto masih tidak tahu harus melakukan apa, menatap Sasuke dengan mata lebar dan kedua tangan yang mencengkram seprai, sepertinya tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
Hal itu berlangsung selama beberapa menit sebelum kemudian Sasuke merengek.
Naruto seakan disiram air dingin. Dengan muka panik dia menatap Itachi dan memberi pandangan memelas.
"Gendong dia."
Mata Naruto membulat ngeri.
"Tidak."
"Dia akan mulai menangis kalau kau tidak melakukannya."
"Kalau begitu ambil dia."
"Tidak."
Mata Naruto kini seakan ingin keluar dari soketnya.
Sasuke mulai terisak.
Naruto bersumpah, otaknya bahkan tidak memerintahkan dia untuk melakukannya. Tidak terbersit sedikitpun niat untuk menggendong Sasuke. Dia lebih memilih untuk meninggalkan bayi itu di tempat tidur dan menunggu Itachi mengambil kembali Sasuke.
Namun kemudian dia berkedip sekali, dan menemukan Sasuke menggeliat dalam dekapannya.
"Ah."
Naruto bahkan tidak bisa menoleh ke arah Itachi.
Sasuke melempar kepalanya ke kanan dan ke kiri, tangan pendek yang bulat melambai liar ke segala arah dan kakinya menendan-nendang lengan Naruto. Bayi itu terlihat sangat tidak nyaman—tinggal menunggu waktu saja sampai dia menangis dan membangunkan saudara-saudaranya yang lain.
Bahkan dari ekor matanya Naruto dapat melihat kalau Itachi sudah bergerak gelisah di tempatnya.
Naruto sudah ingin meletakkan kembali Sasuke ke tempat tidur ketika untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan mata Sasuke.
Setiap kali Itachi membawa Sasuke, dia selalu memastikan adik kecilnya itu tengah tidur sehingga Sasuke tidak akan menangis ketika dia membawanya ke kamar Naruto. Kalaupun terbangun paling dia hanya merengek, mengangkat kepala sedikit, lalu tertidur lagi.
Namun kali ini dia bangun. Kelopak matanya berkedip cepat seakan panik dengan kondisi kamar Naruto yang remang-remang. Kakinya semakin menendang beringas dan mulutnya bersiap untuk menjerit.
Tapi kemudian dia melihat Naruto.
Sasuke seketika terdiam.
Naruto menahan napas. Inikah saatnya? Inikah saat dimana Sasuke sadar bahwa dia berada dalam kamar monster dan Itachi menyadari keidiotannya?
Naruto masih tenggelam dalam pikiran paranoidnya ketika Sasuke mendadak bergerak lebih liar dari sebelumnya. Naruto sampai menunduk dan memegang Sasuke lebih erat agar bayi itu tidak terjatuh—tapi itu malah membuat Sasuke menendang lebih beringas.
"Sasuke! Kenapa kau—SASUKE!"
Sasuke melengking kencang, mencoba meraih rambut kuning Naruto dengan tangan mungilnya. Bayi itu terlihat sangat excited, napasnya terengah-engah dan sesekali jeritan kecil yang imut keluar dari bibirnya. Tangannya menggapai-gapai, sangat bernafsu ingin menarik surai terang rambut Naruto dan mengunyahnya—jika mulut Sasuke yang terbuka lebar dan ludahnya yang mengalir kemana-mana menjadi indikasi.
"Itachi! Apa yang terjadi? Kenapa dia—JANGAN MENGGIGIT RAMBUTKU!"
Sasuke menjerit kesenangan.
Itachi tidak bisa menahan senyumnya untuk tetap semili saja. Seringai lebar terkembang di bibirnya, sementara otaknya mulai memikirkan seribu alasan untuk ibunya jika besok Sasuke akan tidur seharian.
"Dan sekarang dia mulai meludah! Itachi!"
Yup. Sasuke tidak akan mau tidur malam ini.
.
.
.
Sejak saat itu, minimal Itachi akan membawa Sasuke ke kamar Naruto seminggu sekali.
Bukan karena dia berinisiatif lebih, tapi setiap sore Sasuke akan berusaha berguling dan menyeret tubuhnya sendiri ke arah pintu keluar, bergumam hingga gelembung liur meledak sampai mengenai hidungnya dan mulai menangis saat menyadari bahwa dia tidak akan bisa keluar rumah hanya dengan menyeret perutnya.
Sasuke bahkan belum bisa merangkak.
Dan sejak saat itu, Itachi menyadari bahwa Sasuke terkadang menatap ikat rambut biru Ibunya sedikit terlalu lama.
.
.
.
Naruto meraung kencang.
Ibiki menatapnya penuh simpati, tapi dia bahkan tidak mempunyai cukup napas untuk membentak laki-laki itu.
Naruto mencengkram lehernya, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memuntahkan kembali sarapan paginya. Perutnya bergejolak nyeri, matanya panas, dan telinganya berdenging. Kepalanya berdenyut ketika bayangan Sasuke seolah memaksa masuk dalam ingatannya.
Dan Naruto tidak bisa menahannya lagi.
Ibiki menyaksikan—dengan hidung berkerut dan mulut turun—Naruto yang muntah di pot bunganya. Pemuda itu seperti tercekik, seperti ingin berteriak namun tertahan oleh muntahannya sendiri.
Ibiki mengusap wajahnya lelah. Lalu dia keluar dengan pintu terbanting keras.
.
.
.
Naruto tidak tahu, mana yang lebih menyakitkan—kerongkongannya yang perih, atau panas matanya yang seakan membakar wajahnya.
.
.
.
To Be Continued
Whoa, udah berapa bulan ga update? Laamaaa bgt pastinya. Tapi Ita kasih chapter super panjang nih! Over 8k word! Wuihhh, pegel tangan ngetiknya. Hahaaha
Kayaknya Ita udah terlalu sering minta maaf krn lambat update ya, jadi ga enak. Mana chapter kemarin parah banget. Udah pendek, buat baper lagi. Muahaaha
Nasib Sasuke akan divonis chap depan #eaaakkk. Sebenernya ada keinginan, gitu, buat sasuke koit. Tapi belum tau jadi apa nggak. Mudah-mudahan nggak. #ini authornya siapa? -_-
Daaannn untuk review! Wiiiiii, Ita seneng banget banyak yang merespon fic ini. Ita seneeenggg banget banyak reader yang antusias dengan cerita Ita, padahal masih banyak kurang disana-sini.
Ita ingat kalau Ita udh janji bakal bales review readers di chap ini (ita kok males bales review dr pm yah, bales satu-satu gitu. Mending satuin sama fic aja yakan :D). tapi Ita pikir kalau pasti bakal banyak makan waktu trus updatenya bakal lebih lama. Lagian udh pada baper kan :D. Jadi rencananya Ita akan publish chap ini dulu, nnt bbrp hari kemudian bakal ita replace chapter dengan yang udh ada balesan reviewnya! Jadi stay tune ya guysss #alay
oh iya, tapi Ita akan bales dua topic review yang mendominasi chap kemaren:
Sasuke beneran mati ga sih? Apa cuma gertakan doang?
Re: Di chap ini Ibiki bilang kalau Sasuke bener-bener koit. Tapi vonis Sasuke kan di chap depan. Tp tenang kok, Ita akan berusaha buat Naruto dan Sasuke bahagia (kalau bahagianya di dunia lain ga papa ya?)
Ini fic genre romance dan humor! Tapi kenapa ada mati-matian segala?
Re: Huwaaaaa! Ampuni Ita kak bang, Ita awalnya mau buat fic ini humor sumvah, liat aja chap satu gimana. Tapi stlah Ita pikir-pikir, enak aja chara fic dapet momen sweet doang, authornya jungkir balik patah-patah ngesot ngerasain asam garam kehidupan. Jadi pengennya nyiksa dulu, gitu, tp uma bentar doang. Konflik ini ga lama lagi kok, jd tenang aja yaaa
Okeeee Minna! Ita pamit dulu! Doain semoga kuliah Ita lancar jadi bisa update cepet! Jangan lupa read and reviewnyaaaaa :*
