-HUNjustforHAN-
.
.
.
Present
.
.
.
Desire
.
.
Chapter 7
.
.
.
Mungkin Luhan memang sudah gila. Segila apa yang baru saja dikatakannya beberapa saat lalu. Langit masih berderai dan seharusnya dia tetap menangis ataupun sesegukan demi membuktikan bahwa melihat Yifan bersama dengan Selvi berbagi tatapan merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Tapi tidak begitu, Luhan kehilangan logikanya sebagai wanita bermartabat tinggi kala kecupan-kecupan hangat itu menyapa dari pucak kepala hingga batas bahunya yang terbuka.
Sehun mungkin bukan satu-satunya lelaki brengsek di dunia, tapi Luhan baru pernah bertemu lelaki seperti Sehun yang bisa membuatnya berdarah ataupun bergairah dalam hitungan dua detik. Seperti apa yang selalu dikatakannya, Luhan sulit menebak siapa Sehun setiap kali lelaki itu menghampirinya di kamar, di dapur, atau dimanapun Luhan berada.
Luhan seharusnya merintih, bukannya tergeletak pasrah menikmati dingin ditubuhnya bergerak perlahan menjadi sesuatu yang hangat hingga bisa saja Luhan dibuat meriang karenanya. Sehun terlalu ahli, dan benar apa yang dikatakan lelaki itu bahwa Luhan terlalu bodoh. Bodoh saja saat dia berharap Sehun tidak memanfaatkannya hanya sebatas pemuas hasrat ataupun gairah seorang lelaki haus. Luhan mulai berdoa bahwa dia bisa menjadi setitik kecil berarti, dia mengharap walau sangat sulit mengakuinya lewat lisan.
Mereka mulai menggulat satu sama lain dan Sehun sangat suka bermain dominan. Dia tidak memberikan Luhan kesempatan untuk mendorong dadanya dan malah suka menekan pergelangan tangan Luhan disisi kepala wanita itu, Luhan terlihat lebih cantik saat mata beningnya penuh kepasrahan dan pengharapan yang membingungkan.
"Sebenarnya kau siapa ?" Luhan bertanya saat ada celah diantara mata mereka dan juga sedikit napas.
"Kurasa aku telah memperkenalkan diriku padamu, Luhan."
"Aku tau namamu Oh Sehun. Tapi….kau tetap membuatku bingung."
Sehun tersenyum licik diatasnya. "Aku pemilikmu."
"Terdengar seperti aku adalah hewan peliharaan."
"Aku tidak suka memelihara hewan peliharaan. Aku menyukai sesuatu yang bernilai tinggi."
"Maksudmu mahal ?"
"Seharusnya kau mengerti mengapa kau yang berada dibawah tubuhku sekarang, bukannya seekor kucing ataupun anjing betina."
Keterdiaman memegang leher mereka sesaat, memusatkan perhatian penuh dimata masing-masing sebelum Sehun memecahnya.
"Tapi terkadang aku lebih suka berinteraksi dengan otak binatang daripada otak wanita untuk masalah kepekaan." Karena kau terlalu bodoh untuk sekedar berpikir kemana arah pembicaraan ini, Luhan!
Luhan mengerjab cepat dua kali dan membiarkan Sehun mulai lagi dicelah lehernya.
"Diluar masih hujan."
Dia mengalihkan pembicaraan dan Sehun tidak menghiraukannya.
"Sehun."
"Berhentilah bicara, Luhan!"
Lelaki itu membentak karena gairahnya di ganggu dan Luhan cukup bergetar untuk itu.
Satu tetes jatuh disudut matanya yang Luhan sendiri juga tidak tau mengapa bisa begitu. Tetesnya mengalir lalu menemui Sehun yang sedang mencumbu, Sehun sadar karena dia menarik diri. Kemudian sesuatu yang buruk adalah sifat Sehun untuk mudah sekali tersinggung.
Demi perut bumi, Luhan sama sekali tidak bermaksud memperolok belaian Sehun dengan tetes air mata. Air matanya jatuh begitu saja.
"Kau menangis ?"
Luhan menggeleng, menahan hidung merahnya agar tidak berkata jujur pada Sehun.
"Apa yang kau tangiskan ?"
Dia menggeleng lagi, takut akan sesuatu yang hitam dimata Sehun dan getar rendah suara lelaki itu.
"Apa kau menangisi tubuhmu yang ku sentuh ?"
"T-tidak.."
"Apa kau merasa jijik bercumbu denganku ?"
"S-sehun.."
"Apa seterpaksa itu bercinta denganku ?! Apa aku ini binatang ?!"
Satu pukulan keras di sofa samping kepalanya membuat Luhan terlonjak, napas Sehun memburu yang berarti keadaan bisa berubah menjadi buruk dalam beberapa detik lagi. Luhan ingat bahwa jika amarah Sehun sudah tersinggung maka dia akan kehilangan hati nurani lalu memperlakukannya seperti budak pemuas nafsu. Luhan benci kenyataan itu.
Dan wanita itu melepas sesegukannya. "S-sehun."
"Jangan terlalu sering menyinggungku dengan cara menangis, Luhan! Apa kau lupa seberapa menakutkannya aku saat marah ?!"
"Aku ingat!" Teriaknya melawan lelaki itu walau Luhan tau jika suaranya jelas bergetar. Dia hanya ingin Sehun bisa mengendalikan emosi sebagaimana ahlinya dia mengendalikan batang-batang saham atau mengurangi sedikit saja kadar tempramen yang sudah mengalir dalam tubuhnya sejak lahir. Sehun pewaris tahta, dan memilliki sifat-sifat buruk tersebut tidak pernah dipermasalahkan oleh keluarganya yang terlalu kenyang dimakan harta.
Sehun menatap Luhan nanar, mungkin bisa lebih parah daripada ini andai saja Luhan tidak mempertaruhkan sisa keberanian di ubun-ubun kepalanya untuk menggenggam darah pemanas Sehun dengan cara merangkak bangun lalu memasukkan diri dalam pelukan lelaki itu. Luhan telah bersiap diri terlempar jika Sehun menolaknya.
Tubuh mereka bertemu. Sehun menahan napas saat merasa dadanya basah sesaat setelah Luhan bersandar disana. Wanita itu terisak. Rasa takutnya terlalu berlebihan.
Kuku-kuku tumpul buta Luhan terasa mencakar punggung belakangnya.
"Jangan seperti itu lagi.. Kau menakutkanku.."
"…."
"Aku hanya terlalu kedinginan sehingga air mataku tidak bisa ditahan."
"…."
"Bukan untuk menyinggungmu."
"…."
"Maafkan aku."
"…."
Alasan yang terlalu konyol untuk dipercaya karena siapapun akan tau jika Luhan tidak bagus dalam hal berbohong. Namun disini posisi Sehun benar-benar sebagai seorang lelaki jenius tak berotak, tidak peduli jika Luhan berbohong tepat didepan wajahnya dan dengan gilanya,dia tetap suka bagaimana cara wanita itu membohonginya.
Saat Luhan yang jelas sekali separuh yakin akan keberanian menyentuh rahang menggeram Sehun, ataupun dia yang mencoba menggapai bibir lelaki itu untuk pertama kali dan Sehun yang kehilangan pikiran dalam otaknya, semua punya cerita masing-masing. Mereka menceritakannya dalam hangatnya kedinginan dalam terangnya digelap malam.
.
.
.
Setiap kali Sehun masuk, maka Luhan akan menyerah. Seberapa besar ia menolak, membantah dan mengingkar, kenyataan yang datang adalah Sehun selalu menang atas gairah dipuncak kepala mereka. Luhan seolah ditakdirkan hanya untuk berada dibawah lelaki itu dan mencakar pundaknya hingga berdarah saat Sehun menggiring tubuh menyatu mereka dalam suatu irama pasti, yang setiap detiknya membunyikan suara-suara merdu sampai mereka tidak bisa lepas dari kehanyutan.
Luhan hanya bermain sebagai pengiring bersama kaki mengangkang dan itu sudah cukup membuat luar biasa lelah. Keadaan sempit harus membuat tungkai kakinya mengalung dipinggang Sehun, menguntungkan lelaki itu karena dia bisa mempermainkan keperkasaannya di dalam pusat kenikmatan Luhan sesuka hati.
Desahan dari bibir mungil Luhan merecoki diri dalam Sehun agar bermain lebih hebat atau dia akan ditertawakan oleh titik getar Luhan karena gagal membuat Luhan menggelinjang. Sangat memalukan jika semua itu menjelma sebagai kenyataan. Jadi tanpa pikir panjang, Sehun menekan dirinya lebih dalam, lebih keras dan lebih dahsyat hingga tubuh Luhan harus melengkung menahan sodokan batang kekarnya.
Hujan diluar tidak lagi sanggup mendinginkan gairah mereka yang terlanjur terbakar. Sudah berapa hari Sehun tidak menjamah Luhan. Dia merindukan kehangatan saat berada didalam tubuh wanita itu dan sekarang, Sehun benar-benar dibuat gila karena jepitan Luhan terasa mempertaruhkan setengah nyawanya.
Wanita ini berbahaya. Sehun sadar sejak awal dan dia tetap tidak bisa menolak Luhan dari dalam pikiran. Sehun menantang ketersesatan hanya demi wanita itu.
Tapi sepadan. Luhan juga merasa hal demikian. Martabat seorang wanita miliknya telah hanyut terkikis begitu membiarkan Sehun melakukan apapun pada tubuh telanjangnya sampai lelaki itu menempuh kecepatan tertinggi dan tanpa pikir panjang menumpahkan segalanya pada diri dalamnya. Kehangatan itu dan kepala Sehun yang jatuh diatas payudaranya, keringat lengket yang menarik kulit masing-masing juga deru napas nyaris habis. Semua itu membuat Luhan mengantuk.
.
.
.
.
.
Tidur yang nyenyak. Setidaknya untuk 5 jam. Dan pagi ini, tubuh Luhan menggeliat pegal. Berat menghambat matanya, lalu ketika kelopak mata itu tersingkap, sinar terlalu menyilaukan juga pusing memukul kepalanya berputar-putar.
"Masih pagi. Tidur saja."
Suara itu melenyapkan pusing Luhan. Dia menoleh ke samping kanan dan menemukan sosok tegap berbalut kemeja hitam sedang menyanggaikan tungkai bersilang di atas kursi tunggal tepat disebelah ranjang. Dia selalu suka mengubah tata letak kursi di kamar Luhan hanya demi mencari posisi yang nyaman untuk membaca Koran lalu meletakkan secangkir kopi.
"Sehun."
Luhan terkejut, tentu saja. Namun tidak separah beberapa minggu lalu. Pagi ini dia hanya menarik selimut didadanya dan mengeluh dengan helaan napas ketika sadar malam tadi dia tidur telanjang lagi akibat percintaan di mobil tadi malam. Memang wajar jika Luhan terbangun dalam keadaan berantakan dan polos seperti ini. Ah, jika saja kemarin Luhan tidak menghujani diri sendiri, mungkin sekarang dia masih merenung di tepi sungai dan…..
"Kapan kau membawaku pulang ?"
"Beberapa menit setelah 'Dark making love' kita."
Luhan mengernyit jijik mendengarnya dan Sehun masih sibuk membaca surat kabar property.
"Kau menggendongku dalam keadaan polos seperti ini ?"
"Menurutmu ?"
"Kau … "
"Apa ?"
"Itu berarti kau membiarkan penjaga rumah melihatku telanjang ?!"
Sehun menjauhkan pendengarannya dari Luhan, menutup lembar-lembar gedung pencakar langit, menambahkan sedikit sesapan pada pinggir cangkirnya lalu menoleh pada mata Luhan yang melebar.
"Memangnya kenapa ?"
"Oh Sehun! Bagaimana kau bisa melakukan hal itu padaku ?!"
"Lalu apa masalahnya jika aku melakukan itu padamu ?"
"Setidaknya kau harus menutupi tubuhku karena aku-!"
"Karena kau siapa ?"
Karena aku wanita yang kau tiduri!
Luhan terdiam, berhenti berpikir dan dia sangat membenci otaknya yang membeku. Dalam lima detik yang bisa dilakukan wanita itu hanya menggeram kesal, menenggelamkan wajahnya pada bantal demi meredam raung tangis.
Sehun berkali-kali menyuruhnya berhenti, namun Luhan hanya menggeleng dan tidak bisa. Dia merasa malu bukan main dan kesal setengah mati.
"Diamlah, Luhan!"
Itu peringatan terakhir sebelum Luhan merasakan sesuatu mencengkram lalu menarik dagunya ke atas.
"Hentikan."
"Bagaimana bisa aku berhenti menangis setelah kau membiarkan orang melihatku telanjang ?!"
"Siapapun akan mati jika mereka berani melihat tubuh telanjangmu selain aku ! walau tidak sengaja sekalipun! Kau harus ingat itu!"
"…." Jadi, dia….
"Sekarang berhentilah meraung lalu minum obatmu."
"…."
"Aku tidak punya waktu banyak untuk mengurus kepala meriang seseorang."
"…."
Luhan masih tidak berkata apa-apa saat Sehun melemparkan sesuatu di sisinya, sesuatu berwarna keemasan dengan layar kaca bersih.
"Jangan menyimpan kontak siapapun selain nomor ponselku. Jangan menghubungi siapapun tanpa seizinku. Kau mengerti ?"
"…."
Cih.
Sehun berdecih, menunggu respon Luhan yang sungguh teramat lama. Wanita ini sama sekali tidak peka.
"Aku pulang larut. Ada beberapa meeting penting menumpuk hari ini karena kau mengacaukan jadwalku kemarin."
Sehun meraih jas hitamnya disandaran kursi lalu tanpa menoleh kebelakang (ke arah Luhan yang masih bodoh) dia menggapai gagang pintu. "Aku akan memeriksa obatmu hari ini. Jangan pernah berpikir untuk membuangnya dalam tong sampah." Katanya dan berlalu.
.
.
.
.
Sesuai perkataannya, Sehun benar-benar menghubungi Luhan saat dia baru saja ingin menolak menu makan siang dari pelayan rumah. Pelayan itu meninggalkan trolley makanan di meja samping dinding kaca (tempat dimana Sehun mengganggu tidur Luhan dengan menyibak tirai gorden) dan Luhan sedang duduk disana.
Dia tidak ingin menjawab panggilan dari Sehun, tapi apa jadinya jika dia benar-benar berani melakukan hal tersebut ? Mungkin Sehun akan meleceti tubuhnya seperti apa yang pernah Xiumin katakan. Jadi, Luhan memilih menempelkan ponsel emas itu di telinga kirinya daripada berjalan merangkak dikemudian hari.
"Apa ?"
"Habiskan makan siangmu."
"Em."
"Beserta obatnya."
"Aku sudah meminum obat yang kau siapkan tadi pagi."
"Ada vitamin di samping mangkuk soupmu."
Luhan melirik menu makan siangnya, lebih tepat ke arah yang dituju Sehun. Samping mangkuk soup dan dia menemukan benda itu. Butir-butir kecil yang disebut Sehun sebagai vitamin.
"Aku sehat. Kau tidak perlu meminta pelayan untuk menyiapkannya."
"Tidakkah apa yang seharusnya ku terima adalah ucapan terima kasih ?"
Luhan membuang napas.
"Hm. Terimakasih." Katanya dan tersenyum kecil. "Kau sudah makan ?"
"Aku menundanya. Ada meeting penting beberapa menit lagi."
"Apa meeting lebih penting daripada makan ?"
"Karena dari meeting aku bisa makan."
"Dan karena dari makan meetingmu akan berjalan lancar."
"Mulai mengaturku ?"
"Hanya sekedar mencoba. Suatu kebanggaan jika seorang Oh Sehun bisa ku atur."
Luhan mendengar Sehun mengetukkan jari dan dia sendiri mulai menyuap soup ayam perawan buatan Xiumin.
"Aku akan makan setelah meeting selesai."
"Berapa lama meetingnya ?"
"Sekitar dua sampai tiga jam."
"Berikan aku nomor ponsel Ravi."
"Untuk ?"
"Menyuruhnya membeli nasi dalam waktu lima menit."
"Kau berani melakukannya ?"
"Tentu saja—"
"…."
" Tidak."
Luhan terkekeh tanpa sadar, begitu pula Sehun. Mereka mudah sekali lupa tentang kejadian-kejadian kemarin.
"Lakukan saja."
"Tidak. Aku tidak berani. Wajah Ravi terlalu menyeramkan."
"Dia tidak akan pernah berani melawanmu selama aku masih hidup."
"Benarkah ? Boleh aku mencobanya ?"
"Tentu."
.
.
.
Pria itu sedang sibuk memilah kertas bertumpuk dimejanya saat tiba-tiba sesuatu bergetar di dalam saku jasnya.
"Selamat siang."
"Ravi, ini aku, Luhan."
"Ya, nona. Ada yang bisa saya bantu ?"
"Bisa kau belikan Sehun makanan sekarang ? Dia belum makan siang."
"Apa ?!"
"Kau tidak mendengarku ?"
"Tapi tuan Sehun harus menghadiri meeting dalam dua puluh menit lagi."
"Apa itu masalahku ?"
"B-bukan nona."
"Bagus."
Oh Astaga! SIAL! Sejak kapan mereka berdua jadi kompak seperti ini ?!
Ravi, kemalangan akan menghampiri duniamu.
Bersabarlah teman.
.
.
.
.
Sudah pukul 11 malam dan Sehun belum juga menerobos pintu kamarnya. Luhan memutuskan untuk bersandar di kepala ranjang dan memutar-mutar ponsel baru (yang dilemparkan Sehun padanya tadi pagi) tentu saja dengan wajah memberenggut.
Apa yang lebih membosankan daripada ini ? Ditinggal Xiumin yang sehabis menyiapkan makan siang untuknya langsung berkata bahwa dia ingin menghabiskan beberapa lembar dollar demi mendapatkan cup-cup ice cream. Luhan sudah berniat ikut, dia bahkan sudah memakai dress coklat muda berlapis coat hitam selutut ketika di ujung tangga Xiumin berteriak padanya.
"Tidak! Tidak Lu! Kau tidak boleh ikut denganku!"
"Kenapa ?" raut wajah Luhan membuat Xiumin mendesah.
"Maafkan aku, Luhan. Tapi kau benar-benar tidak bisa."
"Xiu, aku bisa saja mati karena rasa bosan di rumah."
Xiumin tetap menggeleng lalu mendekati Luhan bersama raut wajahnya yang menyedihkan.
"Aku akan meminta izin pada Sehun." Luhan memohon lagi namun Xiumin tetap menggeleng.
"Sehun tidak mengizinkanmu."
"Aku belum memberitahunya, Xiu. Bagaimana kau bisa sebegitu yakin ?"
"Aku sudah meminta izin padanya dan dia berkata bahwa aku tidak boleh membawamu keluar."
"Dia selalu begitu. Mengurungku seperti burung cacat."
"Hey.. Bukan seperti itu" Xiumin membelai rambut Luhan yang terurai. "Sehun tidak mengizinkanmu karena tubuhmu sedang tidak sehat. Kau demam."
"Aku sehat Xiu, aku sehat. Demamku sudah turun."
Luhan kira Xiumin akan luluh saat mempertunjukkan senyum di bibir tipisnya. Namun ternyata salah, Xiumin tetap menggiringnya ke kamar dan mengancam akan menelpon Sehun jika Luhan tetap keras kepala. Padahal air liur Luhan sudah mengembang ingin mencicipi ice cream green tea dengan taburan coklat batangan ataupun buah strawberry yang dibelah dua.
Luhan tetap menginginkan ice cream itu sampai sekarang. Xiumin pulang dengan tidak membawa satu cup pun ice cream untuk dirinya yang tengah dilanda selera. Luhan hampir saja menangis karena tidak bisa mengontrol lidahnya yang ingin mencicipi ice cream green tea dengan segera. Dia merasa sesuatu yang menyebalkan merecoki hatinya untuk merasa sedih berlebihan dan Luhan kehilangan cara untuk mengaturnya kembali.
Ice cream green tea. Luhan sangat menginginkannya, sungguh.
Beberapa kali berpikir dan juga beberapa kali gagal untuk tidur, Luhan menyerah lalu menghidupkan ponselnya. Dia menggigit bibir sambil mengetik beberapa kalimat disana. Satu menit kemudian seseorang menghubunginya. Dia bahkan tidak memberi kesempatan seseorang diseberang sana untuk mengucapkan 'selamat malam' sebagai sebuah penghormatan. Oh sungguh, Luhan tidak punya banyak waktu lagi untuk berbasa basi
"Ravi. Apa kau bisa ? Ku mohon. Satu cup saja dan itu sudah cukup bagiku." Luhan bicara terlalu antusias. "Aku tidak tau kenapa sangat ingin mencicipi ice cram green tea sekarang dan aku tidak bisa mengontrolnya. Aku tidak bisa tidur sebelum mendapatkan itu. Apa kau bisa membantuku ? Ku mohon," Luhan benar-benar memelas kali ini. "Maaf jika aku merepotkanmu, tapi bisakah kau tidak memberitahukan hal ini pada Sehun ? Dia tidak akan mengizinkanku."
"Ya. Aku tidak akan mengizinkanmu."
"Apa ? Ravi k-kau….. bukan. Sehun?"
"Kenapa menghubungi pria lain tanpa seizinku ?"
"I-itu.."
"Kenapa tidak menghubungiku langsung?"
"A-aku.."
"Aku akan menghubungimu."
Sambungan terputus. Sebelum Luhan menghela napas, Sehun sudah menghubunginya lagi (dengan nomor pribadinya sendiri) dan Luhan merutuk sebelum menjawab.
"H-hallo"
"Apa aku sudah memberitahumu tentang peraturan penggunaan ponsel tadi pagi ?"
"em."
"Bisa kau ulangi aturannya ?"
"Aku tidak boleh menyimpan nomor ponsel siapun selain nomor ponselmu dan aku tidak boleh menghubungi siapun tanpa seizinmu."
"Tidakkah apa yang kau lakukan beberapa detik lalu merupakan sebuah pelanggaran?"
"Bukankah kau yang memberikanku nomor ponsel Ravi tadi siang ?"
"Aku tidak menyuruhmu untuk menyimpannya, bukan ?"
"T-tapi…"
"Ice cream green tea ? Kau meminta lelaki lain membelikanmu ice cream green tea tengah malam begini ?"
"Sehun, dengarkan dulu!"
Bola mata Luhan berputar lesu menghadapi Sehun yang tiba-tiba berubah jadi lebih cerewet. Mungkin Sehun salah mengkonsumsi makan beberapa hari belakangan.
"Seharusnya kau meminta langsung padaku, bukan dengan orang lain."
"Oke. Baiklah." Luhan membuang napas. "Bisakah kau membelikanku satu cup ice cream green tea ? Aku sangat menginginkannya sekarang."
"Tidak. Suhu tubuhmu bisa saja kembali naik jika mengkonsumsinya."
"See?"
"Apa ?"
"Alasan kenapa aku tidak memintanya langsung kepadamu. Kau tidak akan mengizinkanku dan semua permintaanku akan menjadi sia-sia."
"Luhan. Kau demam dan—"
"Bisa kau tutup telponnya ? Aku mengantuk."
"Luhan!"
"Kalau begitu aku yang tutup."
Bersama raut wajah tidak bersahabat Luhan menenggelamkan diri dalam selimut hangatnya. Sehun menghubungi lagi dan Luhan lebih memilih mengatur profil ponsel menjadi Silent, yang berarti tidak ada suara apapun terdengar dari sana. Luhan benar-benar kesal.
.
.
.
.
"Tidak. Kau tidak perlu datang. Aku sedang ingin sendiri."
Dia melepas ponselnya begitu saja, tergeletak di samping sepatu sejenis pantofel hitam bertali tiga yang sedikit kusam dikakinya. Dia merebahkan diri di badan sofa ruang tengah sambil memijit tepi kepalanya yang terasa berdenyut.
Dia—Yifan— tidak mengkonsumsi apapun hari ini selain dua gelas air putih dan selembar roti polos. Nafsu makannya benar-benar buruk. Dia meninggalkan Kyungsoo bekerja sendiri di toko dan tidak menghubunginya sama sekali walau sekedar menanyakan apakah roti mereka terjual atau malah harus dibuang.
Yifan teringat Luhan—adik kesayangannya—yang kemarin berlari tanpa sempat Yifan melihat bola matanya, apalagi menjelaskan tentang alasan keberadaan ia dan Selvi ditempat itu.
Seharusnya Yifan bisa lebih cepat mengejar Luhan, meraih jemari mungilnya lalu membawa gadis kecil itu masuk kedalam pelukan yang hangat. Yifan terlalu merindukan Luhan hingga sekarang dia tidak bisa berpikir dengan baik.
Selvi tidak Yifan izinkan datang ke rumahnya karena dia takut jika kedatangan Selvi semakin membuat pikirannya berserabut. Yifan benar-benar hanya ingin fokus memikirkan Luhan sekarang.
Dia melirik lemah pada lemari setengah tiang di ujung sebelah kanan. Dari sudut temaram saja Yifan masih bisa menemukan dia sedang mencium kening Luhan, berdiri dalam kotak pigura yang cantik. Oh Tuhan! Yifan sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya.
Luhan..
Tunggu gege sayang..
.
.
.
.
Pintunya diterobos, namun Luhan sudah tidak mengharapkan hal itu lagi. Seseorang masuk dan decak langkahnya sudah ia hapal diluar kepala. Langkah kaki arogan si pemaksa.
Luhan masih diam ditempat, bersembunyi dibalik selimut tebalnya walaupun dia tau jika Sehun sudah berdiri dibalik punggungnya.
"Aku tau kau belum tidur."
"…."
"Cepat bangun. Aku ingin bicara."
"…."
"Luhaaan."
Sehun menarik selimutnya dan Luhan sama sekali tidak melawan. Tapi setelah itu, tidak ada yang bicara. Begitu pula Sehun. Padahal dari perjalanan dia sudah bersiap mencekcoki wanita itu karena berani menutup telpon terlebih dahulu.
Semuanya kandas, Sehun tidak sanggup berbuat apa-apa lagi jika yang ia dapati sekarang adalah hidung merah Luhan dan juga bibirnya yang bergetar lalu setetes jatuh disudut matanya.
Bagaimana ia bisa marah ?
Ssshh..
Sehun mengacak rambutnya frustasi dan mendesis seperti ular. Itu adalah apa yang beberapa kali dia lakukan saat tidak bisa berbuat lebih banyak. Seperti sekarang.
"Luhan."
"…."
"Bangun."
"…."
"Luhaaaan."
"Aku hanya meminta Ravi membelikanku satu cup ice cream greentea. Apa itu keterlaluan ? Aku tidak memintanya padamu karena kau terlalu sibuk dan aku tidak ingin menambah kesibukanmu lebih banyak. Apa aku benar-benar bersalah ?"
"Lu—" Ah, dia menangis.
"Aku hanya ingin satu cup ice cream greentea. Tapi kenapa kau memarahiku ?" dan merengek.
Ya Tuhan. Sehun merasa seperti kakek-kakek tua yang mencabuli cucunya sendiri. Dia tidak pernah bertemu wanita menggairahkan yang semanja ini sebelumnya. Sehun tidak tau bagaimana cara menangani seorang bayi yang menangis. Tangisan Luhan bahkan terdengar lebih buruk daripada raungan anjing.
"Kau keras kepala." Ujar Sehun dan mendesah sekali lagi. Dia menyerah, memilih belajar menekan emosinya sendiri setenang mungkin. "Berjanjilah padaku untuk meminum obatmu setelah kau mendapatkannya."
Tubuh Luhan berputar kebelakang, lelehan dimatanya yang berlekuk seperti ekor bebek juga ikut memutar menemui Sehun.
"Bangun." Ujar lelaki itu, mengiring lengan Luhan untuk duduk dan berdecih saat mendengar masih ada sesegukan menyangkut di leher Luhan. Si perengek mengamatinya dengan mata sembab.
Sekuat itukah dia menangis ?
Luhan masih menunggu episode selanjutnya. Sehun yang marah ataukah….
Sehun yang memberinya sesuatu ?
"Kau hanya dapat satu cup kecil."
"K-kau, membelinya ?"
"Untuk pertama kali dalam hidup, aku harus memutari kota di tengah malam hanya demi mendapatkan satu cup benda yang berharga tidak lebih dari 2 dollar."
Ini tidak bisa dipercaya. Bahkan Luhan sendiri sulit mempercayai bahwa dia mendapatkan apa yang tidak ingin diberikan Sehun padanya. Dia menggigit lidah, menyembunyikan senyum gemilang yang berseru dengan mata sembab dan hidung memerah. Memalsukan usianya yang sudah lebih dari duapuluh tahun.
"Sehun-ah.."
"Em ?"
Lompatan indah memeluk tubuh Sehun. "Terimakasih." Dan dia tersenyum tanpa sadar akibat tingkah wanita itu.
.
.
.
Dua puluh menit Sehun meninggalkannya untuk memperoleh mandi, dan saat kembali Luhan masih bergelut dengan satu cup ice cream nyaris cair beserta kental-kental berwarna hijau khas melepoti sekitar bibirnya. Sehun menggeleng melihat betapa kekanakkan kelakuan wanita itu.
Dengan segelas air putih di tambah butir-butir obat yang ia taruh di telapak tangan, Sehun sukses membuat Luhan memberenggut.
"Kau sudah berjanji."
"Ya, aku tau. Tidak perlu mengingatkanku."
"Cepat habiskan ice creammu."
Suapan terakhir dan Luhan menghabiskannya dengan ganas. Ada tong sampah di samping meja nakas, namun untuk lebih menjaga keamanan tidurnya malam ini, Luhan lebih memilih berlari ke kamar mandi dan membuang sisa cup greentea kesayangannya itu pada tempat sampah yang lain. Dia juga mencuci tangan dan wajahnya yang bernoda atau jika tidak maka semut-semut kecil akan menciumi bibirnya sepanjang malam.
Begitu Luhan keluar dari kamar mandi, langkahnya melemah karena seseorang telah duduk di sisi ranjang; menantinya.
"Obat yang ketiga. Aku bisa saja overdosis."
"Tidak akan."
"Aku tidak demam lagi , Sehuuun."
Ranjang bergoyang saat Luhan menghempaskan tubuh disamping Sehun.
"Jangan membantah."
"Sungguh. Aku sudah sehat. Percaya padaku."
"Ini obatmu."
"Sehuuuun."
Sesuatu menggetarkan saku Sehun dan menjadikannya alasan untuk mengacuhkan Luhan.
"Hm. Biarkan saja, tapi jangan sampai dia lepas lebih jauh."
Itu isi pembicaraan Sehun dan spontan saat lelaki itu mematikan ponsel, Luhan bertanya.
"Siapa ?"
"Bukan siapa-siapa."
"Simpananmu ?"
"Kau menyebut dirimu sendiri ?"
"Apa?! Aku ?!"
"Sudah. Lupakan."
Luhan mencibir. Tentu saja ia penasaran tentang seseorang itu, tapi merasa dia tidak memiliki hak untuk bertanya lebih dan Sehun tidak punya kewajiban untuk menjawab.
"Sehun.."
"Hm?"
"Sehuun."
"Apa?"
"Sehuuun."
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu menang kali ini."
"Sekali ini saja. Ayolah."
"Minum obatmu."
"Sehuuuun."
Ah, Sial! Mata dan hidungnya memerah lagi. Kenapa Luhan jadi sangat cengeng ? tapi tidak! Aku tidak boleh kalah untuk kesekian kalinya hanya karena rengekan wanita ini. Tangisannya berbahaya!
"Buka mulutmu." Sehun mengapit rahang Luhan, mencoba melempar satu pil putih kedalam rongga mulutnya yang lembab. Sehun memiliki bakat melempar cukup baik. Namun berlaku untuk semua benda selain Luhan.
Sehun gagal. Pencapaian terburuknya dalam melempar.
Kepala Luhan menggeleng dan itu menjadi alasan kenapa lantailah yang akan sembuh setelah ini. Obatnya dijatuhkan.
Lalu lima detik terhitung, tubuh Luhan terhempas kebelakang namun mulutnya tidak bisa berkata apa-apa, hanya saja mata Luhan yang membulat mengatakan bahwa dia terkejut. Sehun mendorongnya tiba-tiba dan Luhan dibuat melintang di tengah ranjang.
Sesuatu yang tidak baik mulai Luhan curigai saat seseorang mulai mencoba duduk di
atas selangkangannya. Lelaki itu, Oh Sehun, meringkuk yang berarti mengikis jarak antara denyutan dada mereka dan Luhan dibuat tidak bernafas lepas karenanya.
"Bagaimana jika aku menagih hutang sekarang ?"
Ujung bibir Sehun terangkat dan Luhan selalu bingung menentukan apakah itu sebuah senyuman atau hanya tanda penghinaan semata.
"I-itu…"
"Apa ?"
"I-itu berarti, hutangku berkurang 10%."
"Aku tidak peduli." Karena pada akhir nanti kau tetap akan bersamaku. Disini!
Wanita itu bergetar. Bujur-bujur kokoh menelusuri setiap celah jarinya, menggenggam kuat lalu membawanya berserah di samping kepala dan Luhan lemah sekujur tubuh. Tulangnya mencair. Luhan dibuat menatap sekaligus menunggu.
Sebuah ciuman menuntut memulai tengah malam mereka, manis dan hangat seperti secangkir cappuccino dengan tambahan cream dua kali lipat. Ternyata pembicaraan orang-orang selama ini bukan hanya sebatas opini dan sekarang Luhan mengerti mengapa para wanita begitu mendamba sebuah ciuman dari Sehun. Oh Tuhan… Dia pencium beralkohol. Ciuman Sehun lebih memabukkan dari sebotol wisky.
Gairah mulai mencari tempat baru, menjalar dengan cara mengendus, sesekali mengecup ataupun menjilat perut datarnya yang membuat Luhan menggigit bibir agar desah erotis tidak mempermalukan dirinya di depan Sehun.
Sampai pada di pusat dirinya yang masih terbungkus, Luhan melirik ke bawah dan menemukan mata Sehun berhitung sesuatu yang terlihat sangat membuatnya penasaran.
Apa ?
BRAK!
"LUHAN!"
HHHH!
Akhirnya… Dia datang.
"Ge.."
"LEPASKAN!"
Sehun menarik diri, turun dari ranjang dengan membawa Luhan dalam tarikan lengannya agar melakukan hal yang sama. Hah, jika saja Sehun tidak mendapat bocoran tentang kedatangan Wu Yifan, mungkin sekarang dia telah mengambil samurai lalu memotong satu persatu kepala pengawalnya. Ya, bisa saja, karena tidak menutup kemungkinan Luhan sedang telanjang dibawah gairahnya saat Yifan menerjang pintu.
Tidak satupun manusia berkelakian yang boleh menikmati tubuh polos Luhan! TITIK!
"Luhan!"
"Ge.."
"Aku kagum dengan nyalimu."
"Diam kau keparat! Lepaskan adikku! Lepaskan Luhan!"
Mata Luhan sembab dan saat menerjang pintu, Yifan melihat Sehun sedang bermain di depan kewanitaan adiknya; hal yang membuat Yifan yakin bahwa Luhan menangis karena dilecehkan oleh bajingan itu. Yifan bersumpah akan memukul Sehun hingga patah jika saja tidak ada pengawal yang sedang menahan tubuhnya terjebak di tengah pintu.
Hal menyebalkan berikutnya ada senyum mengejek Sehun.
"Kau ingin membawa Luhan pulang ?"
"Ya! Kembalikan Luhan padaku!"
Luhan membeku ditempat. Bibirnya pucat dan mata sembabnya berair lagi. Sehun benci melihat Luhan yang seolah masih berharap pada Yifan.
Hey! Ada aku disini, Luhan!
"Luhan."
Jawaban kosong. Hanya ada tatapan mata berkabut yang Sehun dapati dari wanita itu.
"Kau ingin pulang ?"
"…."
"Wu Yifan telah menjemputmu."
"…."
"Pulanglah jika itu yang kau mau."
Dua tangan Sehun masukkan ke dalam saku celananya. Dengan mata tanpa cerita, dia memberikan penawaran yang membuat Yifan tersenyum karenanya.
"S-Sehun.. K-kau.."
"Aku serius. Pulanglah jika kau menginginkannya."
"H-hun.."
"Luhan! Ayo sayang, kita pulang!"
Masih ada terselip rindu dibalik kornea Luhan yang Yifan sangat yakin benar, apalagi ketika perlahan langkah-langkah mungil adik kesayangannya itu mendekat, Yifan melepas senyum tanpa kendali.
Luhan sudah dihadapan Yifan dan Sehun mengangkat lima jari; pertanda agar para pengawal melepaskan Yifan.
"Luhan.. Kau baik-baik saja ? Apa ada yang luka ? Apa ada yang sakit sayang ?" Dia tidak berubah, masih panik akan si rusa mungil.
Luhan menjawab Yifan dengan gelengan dan lelaki itu langsung menyimpan kepala Luhan di depan dada bidangnya. Ah, akhirnya Yifan bisa mengecup kening Luhan lagi.
"Gege sangat merindukanmu, Lu. Sangat rindu hingga rasanya hampir gila." Yifan berceloteh di pundaknya. "Ayo kita pulang. Gege akan masak makanan kesukaanmu. Kita akan pergi kepantai atau kemanapun kau mau. Gege janji."
"Peluk aku, Ge.." Hanya itu balasan Luhan dan Yifan menanggapinya dengan anggukan kacau beberapa kali sambil berkata "Ya. Gege akan memelukmu! Gege akan memelukmu, Luhan."
Lima belas detik berjalan dan Luhan berkata lirih. "Ku berikan waktu lima belas detik lagi untuk gege memelukku."
"Luhan, apa yang—"
"Akan ku hitung mundur."
"Lu!"
"15.. 14.. 13.."
"Jangan bercanda!"
"12.. 11 .."
"Luhan!"
"10..9..8"
"Apa yang kau lakukan?!"
"7.. 6"
"Ayo pulang, Lu.."
"5..4..3"
"Pulang kerumah kita dan gege berjanji ak—"
"Waktumu habis." Luhan melepaskan pelukannya walau tidak dapat menutupi mata sembab merahnya.. "Sekarang, mari hidup masing-masing." Yifan lumpuh ditempat, nyaris tidak bernapas. "Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkanku"
"Luhan.. Lihat gege sayang .. Lihat gege! Apa kau diancam ?! Katakan pada gege!, katakan!"
Luhan menoleh kesekitar, bukan Yifan, tapi manusia-manusia catur hitam seragam disekelilingnya.
"Aku dan Sehun ingin beristirahat. Kalian mengerti."
…
"LUHAN!"
…
BLAM!
.
.
.
.
Dua tangannya yang penguasa diselipkan ke dalam saku celana panjang abu-abu berbahan penyenyak tidur sedang tungkai kakinya yang luar biasa; berotot dan tidak berlebihan isi, menopang tubuh professional dambaan wanita-wanita mahal.
Seseorang mengepak pintu kamar lumayan keras lalu menunduk. Pikirannya terbelah dan gerak kalut di ujung jari-jarinya yang menggeluti ujung piyama merah selututnya menggambarkan bahwa sebenarnya orang itu tidak terlalu banyak memiliki kepercayaan diri. Dia terlalu cantik untuk bergumul dengan pikiran rumit.
Luhan, si wanita tidak berkepercayaan diri tinggi itu termenung namun masih berpikiran setengah kosong; menunggu pintu modern yang terasa berusia renta karena suasana itu dengan setianya di dalam pandangan Sehun.
Bibir mungil merah ranumnya bergumam gelisah tanpa suara jelas. Kening berpola pikir kaya Sehun mengkerut hanya karena mendengarkan suara halus Luhan; yang memprovokasi otaknya untuk menarik saja pita suara Luhan dari pangkal tenggorokan wanita itu jika saja dia masih tidak bisa mendengar desis suara lemah Luhan. Untung saja dengan nafas nyaris habisnya, Luhan sanggup bergumam sedikit lebih keras; memanggilnya.
"H-hun.."
Hidung dan mata sembabnya yang hampir sembuh kini kembali teransang, memerah dan basah dengan cara mengagumkan tersendiri. Sehun berdiam, menunda menanggapi Luhan karena saat dia ingin melakukannya, Luhan telah berada di luar arah. Matanya tidak fokus lagi dan itu membuat Sehun takut.
"Luhan."
Dia kehilangan konsentrasi.
"Luhan."
Kehilangan fokus.
"Luhan!"
dan Sehun tidak bisa membiarkannya.
Luhan tersentak, sadar dan raut wajah yang ia dongakkan pada Sehun sungguh mengganggu. Bukankah Sehun sudah pernah berkata bahwa dia sangat tidak suka Luhan terlihat begitu menyedihkan dan tersiksa saat bersamanya ?
Saat retina Luhan menjadi liar dan seolah tidak mengenal satupun benda yang ia lihat, bersama keegoisan yang telah bersarang dikepalanya Sehun menangkap penglihatan wanita itu dan sama sekali mengosongkan kesempatan Luhan untuk berlari. Memalui matanya, Sehun memaksa Luhan meneroboskan diri pada kenyataan bahwa semua ini bukan masalah besar.
Tidak hanya ada Yifan di dunia.
Masih ada orang yang lain, di depanmu.
Aku.
"H-hun.."
Jelas sekali dia sangat ragu namun lebih baik daripada tidak sama sekali. Lalu satu tetes yang sangat di kutuk oleh Sehun kembali menitik di tulang pipi Luhan yang tinggi. Diri dalam Sehun menggeram; sangat tidak terima ada nyawa lain selain dirinya yang berani membuat wanita itu menangis.
"Tetap disana!" Teriaknya dari jarak sepuluh langkah dan bergegas; menuntuti Luhan yang dengan bodohnya mencoba melangkah di antara langkah oleng. Dia terlihat seperti manusia tanpa tulang dan tiupan angin dari telapak tangan saja bisa merobohkan seluruh bagian dari dirinya mengucur di lantai.
Luhan berpikir dia tidak memiliki banyak tenaga lagi walau hanya sebatas berdiri tegak. Pening dikepalanya semakin menjadi dan bertambah sesak saat dengan susah payahnya dia mencoba menutup saluran napas agar suara tangisnya tidak terdengar sangat buruk ditelinga Sehun.
Kulit disetiap ujung kuku Luhan mulai membiru kekurangan oksigen, dadanya mulai mengkerut dan paru-parunya tercekik. Dia nyaris mati jika saja Sehun tidak menyimpan kepalanya di dalam sebuah pelukan.
"Bernapas!" Teriak laki-laki itu geram. "Bernapas sekarang!"
Luhan kesulitan.
"Bernapas sebelum aku menamparmu!"
Kalimatnya menakutkan, namun itu adalah satu-satunya mantra yang membuat Luhan memutuskan mengambil napasnya lagi yang sudah separuh terbang di udara. Luhan bernapas, tersengal-sengal, menggigil dan pada akhinya, dia menangis.
Ya Tuhan..
Dia terselamatkan.
Ada sesuatu yang jatuh, basah, dingin dan berguncang menyentuh dada Sehun. Luhan begitu lemah. Sebagai lelaki yang separuh hidup suksesnya sudah terbiasa bermain dominan; yang tidak suka berkenalan dengan seorang wanita lebih dari sebatas rasa penasaran atas rasa vaginanya; Sehun merasa kaku bukan main ketika membelai belakang surai legam hitam panjang berantakan Luhan. Helainya yang halus melukai jemari Sehun; terluka, dan dia merasa bingung saat tidak menemui setetes darahpun ditelapak tangannya.
Oh Gila! Sehun mulai berhalusinasi yang tidak-tidak hanya karena membelai surai lembut Luhan. Menyeramkan.
"Berani-beraninya kau berhenti bernapas tanpa seizinku." Sehun menghibur kelemahannya. "Jangan lakukan lagi jika kau tetap ingin hidup dan memiliki kepala."
"H-hun… "
Jangan merintih seperti itu ku mohon..
"Hun-ah.."
kau membuka lagi kelemahanku..
"A-aku.. Aku kehilangan Yifan."
Jangan tersedu untuk keparat itu Luhan!
"A-aku..—"
"Apa kau buta?! Gunakan otakmu dan berpikir!"
"…."
"Dunia tidak hanya berisi kepala keparat itu Luhan!"
Sesungguhnya kau masih memilikiku. Dan aku akan menjadi satu-satunya yang kau miliki.
Buka matamu!
.
.
.
.
.
Lebih dari 250.000 detik Sehun memberikan waktu pada Luhan untuk menyendiri setelah pertempuran sedikit tidak menyenangkan beberapa malam lalu akibat kebodohan Yifan. Kebetulan laporan-laporan di meja kantornya hampir putus asa dan sudah siap menjadi lembaran usang, seusang kertas pembungkus gorengan perut ayam dipinggiran jalan. Padahal dengan satu tanda tangan saja diatasnya itu sudah lebih dari cukup menghidupi makan Sehun tanpa kekurangan daging panggang seharipun. Dia pengusaha bidang property kelas dunia.
Sebenarnya itu hanya pekerjaan pokok yang ia geluti karena bakat dan hobi. Dia tidak mungkin sekaya ini jika hanya mengandalkan satu pekerjaan. Karena bagi Sehun, menaruh restaurant makanan Perancis, Jepang dan Italia di pulai jeju dan Incheon, puluhan cabang coffee shop diseluruh korea selatan, dua buah hotel bintang lima juga secuil saham sebesar 5% disalah satu Rumah Sakit terbesar di Seoul merupakan pekerjaan sampingan. Pekerjaan berdasarkan hobi adalah yang paling utama walaupun pada kenyataannya pekerjaan yang ia anggap sampingan lebih menjamin hidupnya. Ada orang-orang yang Sehun percaya untuk mengatur seluruh pekerjaan sampingan dalam artian sederhananya. Mungkin sebentar lagi Ravi patut diberi hadiah berupa salah satu coffee shop di pinggiran kota Seoul.
Lelaki itu sudah sangat banyak membantu dan Sehun tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan hadiah. Dia memang hanya memberikan satu, namun itu berarti seluruh dari satu bagian itu, yang berarti pemindahan nama pemilik.
Untuk Ravi saja Sehun bisa mengeluarkan begitu banyak, apalagi untuk Luhan ?
Sehun sama sekali tidak perlu memikirkan apapun jika tiba-tiba Luhan merengek ingin mengendarai mobil pintu bersayap dua yang harganya tidak kurang dari $5juta USD. Tidak masalah juga jika keesokan harinya Luhan meminta mobil yang lain sesuai warna favoritnya. Sehun benar tidak akan ambil pusing.
Tapi kenapa pula dia harus memberikannya pada wanita itu ?
Memangnya siapa Luhan ?
.
.
.
.
Pagi ke empat. Jas hitamnya tersanggai dilengan dan dia terlalu malas menyimpulkan dasi dileher. Sehun pikir dia tidak akan menggunakan dasi hari ini, tapi untuk berjaga-jaga ada meeting mendadak yang terkadang tidak terlalu dia sukai terjadi merusak harinya, maka ia berbekal juga; menimpakannya bersama jas hitam dilengan.
Tungkai kakinya yang panjang menyusuri anak tangga penuh perhitungan. Sudah empat hari dia menggunakan tangga disebelah timur dan dihari pertama dia murka karena tangannya terkena debu di pegangan tangga.
Biasanya sebelum memulai hari maka ia akan mengatur langkah cepat menyusuri kamar diujung barat dan membukanya tanpa pernah mengetuk pintu; tidak peduli jika Luhan sedang telanjang ataupun menungging didalamnya. Tapi empat hari dengan hari ini, Sehun melewatkannya.
Wajah Luhan sangat buruk saat dua malam lalu Sehun menjenguk tidurnya dan wanita itu masih menangis dalam tidur. Dia tidak akan mendapatkan mimpi selain mimpi buruk.
Sehun mual melihat Luhan menangis untuk orang lain. Terutama untuk Yifan. Jadi dia meninggalkan wanita itu beberapa hari dan dihari kelima; besok, Luhan sudah harus menyelesaikan masa berkabungnya atau jika tidak dia akan melihat murka menyembur pada wajahnya yang secantik dewi kedamaian.
Sarapan ala makanan Perancis bukanlah kesukaan Sehun. Dia hanya mengincar secangkir putih yang hitam; yang Luhan katakan dia bisa terkena serangan jantung dan mati jika terlalu banyak mengkonsumsinya.
Langkah Sehun berjalan tanpa perlu melihat. Ini rumahnya dan tentu saja dia tau tata letak semua benda.
Sehun membetulkan letak jam tangan berkrystal hitam miliknya dan menaruh perhatian penuh. Dia menyelesaikan permasalahan di pergelangan tangannya bersamaan dengan menemukan kursi sarapan pagi yang berada di puncak meja makan persegi panjang.
Sehun mengulurkan tangan kanannya kesamping dan seseorang langsung menyambutnya, mengambil alih tata letak jas hitam berserta dasinya menuju tempat yang lebih aman. Di tiang gantung baju sebelah kanan belakang; yang terasa aneh berada di ruang makan namun Sehun tidak pernah peduli selagi dia pikir barang tersebut dibutuhkan.
Sebelah kanan adalah tata letak kopi paginya sejak beberapa tahun lalu dan siapapun tau hal itu. Sudah belasan orang kehilangan pekerjaan hanya karena memilih sisi sebelah kiri. Itu menyulitkan Sehun saat meraihnya dan dia sangat tidak suka dipersulit.
Dan sepertinya dia harus memecat satu orang lagi pagi ini.
Sisi sebelah kanannya kosong. Tidak mungkin Xiumin lupa karena dipagi mendung seperti ini, aroma adonan kopinya telah menangkap penciuman Sehun dan dia yakin seseorang telah meletakkan kopinya disisi yang salah.
Dia melirik rendah, ke sebelah kiri dan,
Benar.
Diberkati benar hidup orang itu.
Sehun sudah mengetukkan jari menghitung emosi, namun ketukan kelima dia baru menyadari sesuatu. Ada jari lain dimeja ini selain jarinya. Berkuku merah. Sebelah kiri.
"Apa aku salah meletakkannya ?"
.
.
.
.
Itu adalah awal dari penyebab Luhan berada dilantai 25. Segala sesuatu yang hitam membungkus tubuhnya seperti orang akan berkabung namun ini terlalu menggoda jika datang ketempat orang mati dengan belahan rok menggores setengah paha. Mayat akan terbangun. Yakinlah.
Bibir mungil sensualnya dilingkup lipstick semerah buah cherry plastik. Rambut hitam legam lurus panjangnya di kucir kuda dengan pita hitam mengunci pangkal kucirnya. Highheel hitam polos 15cm adalah poin utama yang menjadikan tungkai kakinya bergerak sexy dan bergema erotis.
Dari luar loby sampai menginjak gedung lantai 25 dan duduk disalah satu sisi sofa
hitamnya, dia jengah terus mendapat perhatian.
Apa yang salah ?
Sungguh Luhan telah mengubah penampilannya semirip mungkin dengan pelamar pekerjaan yang akan diwawancara sehingga tidak ada seorangpun yang peduli akan kehadirannya. Tapi dia terlalu lupa dengan mobil siapa yang ia gunakan dan angka berapa yang ia ketikkan di papan lift.
Hanya ada satu ruang di lantai teratas dan kebanyakan dari orang disini lebih memilih meminum racun tikus daripada dipanggil kesana.
"Kenapa kau memanggilku kesini ?"
Lelaki itu masih menyilangkan tungkai dikursi balik meja kerjanya. Mengusap-usap dagu yang tidak ada satu helai rambut menjijikkan pun disana dan diam-diam menilai seberapa lama lagi dia mampu bertahan untuk membiarkan lipstick Luhan tetap merona.
"Aku punya waktu 30 menit siang ini."
"Lalu ?"
"Apa kau sudah keluar dari masa berkabungmu ?"
"Memangnya siapa yang mati ?"
Sehun berdecih. Suka dengan jawaban berani Luhan. Ini de ja vu. Luhan juga pernah bersikap seperti ini sebelumnya dan itu poin yang bagus dalam hitungan Sehun.
"Aku langsung saja."Katanya berdiri meraih jas yang memeluk kursi. "Sepupuku baru datang dari Sydney dan karena dia memiliki tiga buah hotel bintang lima disana, setidaknya aku harus menyambut kedatangannya."
"Kalian sepupu dan kau masih melihat dia berdasarkan latarbelakang ?"
"Tentu. Jika kau meminta sebuah alasan, maka 'Bisnis Keluarga' adalah jawaban yang bisa ku berikan. Aku hanya menemui orang-orang yang membawa keuntungan."
Gila!
.
.
.
Luhan menyumpah serapah. Tidakkah dengan pakaian super formalnya ini dia berusaha semaksimal mungkin agar orang-orang tidak akan tau ada hubungan antara ia dan Sehun. Dan Luhan tidak suka jika orang-orang bertepuk tangan kagum atas dirinya yang terpilih jadi pelacur lelaki itu.
Luhan telah mengisyaratkan kepada Sehun sebelum mereka keuar dari lift bahwa dia akan berjalan terlebih dahulu lalu Sehun bisa menggunakan mobil mewahnya yang lain. Dengan demikian Luhan bisa berjalan tegak.
Sehun menurutinya memang. Mereka berjalan dengan jarak sepuluh meter. Ada Ravi berdiri disamping pintu mobil yang terbuka diluar dan Luhan menaruh perhatian penuh untuk segera masuk kedalam sana lalu menarik napas dalam-dalam. Ravi menunduk dan Luhan tersenyum simpul ketika berpikir bahwa dia lepas kali ini. Pikirnya begitu sebelum seseorang mendorong tubuhnya dari belakang dan terkunci di dalam.
"Sehun. Apa yang…."
"Dari awal kau sudah gagal."
"Apa ?"
Mata malas lelaki itu meminta Luhan melirik kesampingnya dan saat itu juga, Luhan lemas.
Puluhan orang berdesakan dipintu loby; mengintipnya yang duduk satu mobil bersama Sehun lalu mendesah.
Jangan mengagumikku karena terpilih menjadi pelacur Sehun. Ku mohon..
.
.
.
Hah! Ini menyebalkan. Duduk disamping Sehun dan berhadapan dengan pemuda berkulit seputih kapas pembalut yang terus memperhatikannya dari napas pertamanya duduk disini.
Dari sendok yang telungkup Luhan berkaca dan tidak ada yang salah dengan wajahnya. Tidak ada ciuman Sehun siang ini jadi Luhan sangat yakin lipsticknya masih baik-baik saja.
"Dia sekretarismu ?"
"Menurutmu ?"
"Aku tidak yakin. Ku rasa selama ini yang menjawab telponku suara laki-laki." Pemuda itu menillik Luhan. "Dia kekasihmu ?"tanyanya lagi.
"Menurutmu ?"
"Aku juga tidak yakin. Selama ini kau tidak pernah memperkenalkan satu wanitapun sebagai kekasihmu."
"Jadi berhentilah bertanya."
"Tapi dia sangat cantik, jika aku boleh berkomentar."
"Seleraku berkualitas tinggi, jika aku boleh menyombongkan diri."
Pemuda itu terkikik, menutup mulut dan gigi bersihnya dengan kepalan tangan; sengaja benar mengolok Sehun.
"Apa ada yang lucu ?"
Dia bertepuk tangan beberapa kali dan wajah disebelah Luhan patah lima belas.
Ada apa dengan lelaki itu ?
Tawanya tersengal-sengal dan dia sama sekali tidak ambil pusing. "Hebat.. Hebat.." katanya geli. Memukul dada beberapa kali; mencoba jadi normal. "Aku sekarang yakin jika dia bukan kekasihmu."
"Maksudmu ?"
"Kau tidak melihat wajahnya ?"
Sehun melirik Luhan dan wanita itu membalasnya dengan arti wajah 'aku tidak melakukan apapun. Sumpah.'
"Wanita lain mungkin akan langsung menciummu dan telanjang seharian saat kau mengatakan jika seleramu berkualitas tinggi. Tapi… tapi…" Dia menunjuk wajah Luhan dan mulai terkikik lagi. "wajah wanita ini malah terlihat jijik."
"Apa aku melakukannya ?" Tanya Luhan sedikit nyaring lalu saat Sehun melotot, dia menyentuh lengan lelakinya dan bergumam 'aku tidak melakukan itu Oh Sehun. Sepupumu saja yang kurang waras.'
"Itu salah satu alasan mengapa dia berada disebelahku sekarang."
"Apa ?" Jin membetulkan letak duduknya. "Jangan katakan jika wanita ini benar-benar….?"
"Bagaimana Australia ? Ku dengar kau akan membuka satu hotel lagi. Kau tidak ingin kembali ke Seoul dan menguasai seluruh hotel disini ?"
"Sebentar. Aku masih penasaran dengan wanita ini."
Ya Tuhan manusia ini. Diberkati benar mulut dan otaknya itu.
"Kau menakutinya."
"Memangnya apa yang kulakukan ?"
"Kau memperhatikannya seperti seorang buronan."
"Benarkah ?"
Sehun melepas satu biji yang mencekik kerah lehernya.
"Bagaimana kabar paman dan bibi ?" tanyanya berbasa basi padahal sama sekali tidak peduli jika mereka lumpuh sekalipun. Ini hanya adat.
"Baik."
"Ku dengar adik perempuanmu ak—"
"Hey cantik, siapa namamu ?"
"A-aku ?"
"Ya, kau. Yang tercantik disini."
"Namaku Luhan."
Laki-laki itu berdiri, lalu dengan gaya pangeran romawi yang membuat dahi Luhan berkerut, dia mengulurkan tangannya, meraih tangan Luhan saat tidak ada balasan dari wanita itu ,"Aku Jin. Kim Seok Jin, sepupu Sehun." Lalu mengecup permukaan tangan milik seseorang.
Apakah Sehun dan lelaki ini benar-benar saudara ? Tidak taukah jin bahwa Sehun memiliki seribu palu dikepalanya ?
Jin orang yang sangat elastis. Dia tipe lelaki yang akan membuat wanita jatuh hati hanya dengan seulas senyum di bibir berisinya yang sexy. Dan sikapnya itu membuat tenggorokan seseorang serak.
Sekali lagi Sehun memperbaiki kerah kemejanya dan Luhan tidak berani berkedip sekali pun.
"Aku tidak suka melakukan ini pada sepupuku. Tapi aku harus memberitahumu sesuatu bahwa beberapa orang nyaris kehilangan nyawa karena wanita ini."
Jin membeku ditempat. "Jangan sampai mayatmu tergantung dipintu masuk."
.
.
.
.
.
Dicontinue
.
.
.
.
.
Eitsss.. Jangan marah dulu..
Coba baca ulang yang diatas..
.
.
Dicontinue = di sambung
Wuahahahaha
.
.
Sambalado sambalado sambalado..
Terasa pedas,, terasa panas..
Tau ah ini apaan, yang jelas gue juga bingung. Gak ada feel dipaksa nulis karena tuntutan update cepat juga pengen kasi hadiah buat para readers di hari ultah gue (cieeee.. gue pamer cieee.. eh beneran, gue pamer ultah disini. Waks waks) .
Sebenernya gue pengen update ni FF tanggal 2 oct (itu hari ultah gue btw *ehh, pamer lagi-_-), tp karena ada beberapa kendala dan gangguan koneksi di kayangan, jadinya gue tunda dulu.
Sebenernya gue bingung mau ngelanjutin FF ini kayak gimana lagi. Mau bikin endingnya juga bingung dan itulah yang menyebabkan FF ini berputar kesitu kesitu aja. Mau nulis NC lagi males. Mau nulis momen romantic lagi gak ada ide. nanya inspirasi sama temen eh malah gue dibilang gila nulis cerita tentang cowok vs cowok. Kan disini Luhan gue ubah jadi cewek ya ? Ngapain juga mereka ngatain gue gila T.T
Oh iya, buat yang kemarin kurang ngerti kenapa yifan bisa dilihat sama luhan, jadi maksudnya tuh gini. Ravi (yang tentu aja disuruh langsung sama sehun) tuh kayak ngirim orang-orang buat ngikutin yifan, dan saat yifan lagi nemenin selvi belanja di boutique (tepi jalan) si ravi nelpon Sehun biar sehun bisa nunjukin sama luhan kalo yifan masih berhubungan sama selvi dan bikin luhan makin kecewa sama yifan. Gue lupa jelasinnya weh. wkwk
I Got That Good Good..
Got it..
Pokoknya,
AI LOP YU :* :* :*
